[Ficlet] Hopes

Title: Hopes
Genre: Romance, angst, fluff
Rating: PG-13
Character: Sulli, Taemin, Jino
Pairing: broken Taemin/Sulli, Jino/Sulli

second birthday fic for Sulli 😀 entah kenapa ide ini tiba-tiba lewat waktu ngerjain soal IPA (?). Dan pas gitu sama ultahnya Sulli yang baru 2 hari yang lalu itu hehehe
So here goes the story, selamat menikmati~ *berasa makanan*

“Happy 18th brithday, Choi Jinri!”


Sulli tersenyum simpul –sambil menggosok matanya yang dikelilingi lingkaran hitam samar, tidak bisa tertutup sempurna oleh make-up– dan berterimakasih kepada teman-teman sekelasnya yang menyelamatinya
Hampir semua orang yang ia temui –Victoria, Amber, Luna, Krystal, ahjumma yang biasa membersihkan dorm (yang hari ini datang dengan membawa kue buatan tangan spesial favorit Sulli sebagai hadiah ulang tahunnya), beberapa sunbaenim yang berpapasan dengannya di jalan, sampai petugas security apartemen dan ahjusshi yang bertugas sebagai sopir van f(x), memberinya ucapan selamat ulang tahun.

Tapi ada yang kurang.

Orang itu, makhluk jelek itu, belum mengatakan apapun. Melihat bayangannya lewat saja tidak. Padahal biasanya ia orang pertama yang memberi ucapan selamat pada tahun-tahun sebelumnya, tepat tengah malam.

Itu alasan kenapa kantung mata Sulli menghitam. Ia sengaja begadang sampai tengah malam dengan dalih mengerjakan tugas, padahal sebetulnya menunggu pesan dari orang itu, yang ternyata tidak ada sama sekali. Dan ia hanya bisa kecewa saat tahu posisi spesial itu untuk tahun ini didapat oleh Vic-eomma, bukan DIA.

Tadi pagi saat Sulli sampai di sekolah, tidak ada sosoknya yang biasa menunggu di pintu gerbang dan langsung melambaikan tangan saat ia turun dari van, menarik tangannya dan menemaninya berjalan menyusuri lorong sekolah sampai ke kelas. Tidak ada yang melintasi kelasnya saat jam istirahat lalu menyapa dan mengobrol sampai bel masuk berbunyi. Kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah (sangat) jarang mereka lakukan, dan sekarang tak akan mungkin terjadi lagi karena orang itu sudah pindah sekolah.

Sulli menarik napas kecewa. Toh ia juga tak terlalu mengharapkan ucapan, berhubung pertemanan mereka merenggang setelah orang itu punya ‘kesibukan’ baru

Tepat saat bel berdering, senyum simpul Sulli pelan-pelan berubah menjadi senyum pahit. Dan tiba-tiba ia teringat, Vic umma tadi pagi bilang kalau nanti malam akan ada pesta ulang tahun untuknya –tradisi SM– dan semua artis SM diundang. Berarti…
Mata Sulli berbinar seketika. Harapan terakhirnya hanya ada pada acara tersebut

Semoga dia datang, bisik Sulli, lebih pada dirinya sendiri

***

Saat ini, Sulli yang sedang duduk di sofa di depan TV hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kesibukan eomma grup itu di dapur. Victoria masih asyik (?) memasak untuk makan siang hari ini dengan menu spesial menyambut ulang tahun Sulli. Si birthday girl yang gemas ingin membantu justru dilarang oleh eomma kesayangannya itu.

“Kau hari ini bebas tugas. Nikmati saja sana, tiduran di sofa atau main kemana saja boleh.” tolak Victoria tegas. Sulli hanya pasrah dan akhirnya menghabiskan waktunya dengan tidur-tiduran di sofa sambil membuka beberapa hadiah dari fans

“Eommaaaaa!” panggil Sulli tiba-tiba. “Nanti malam jadi kan?”
“Jadi. Kenapa? Tenang saja, nanti kau boleh berkeliling sendiri. Silakan mengobrol sepuas-puasnya dengan Taemin,” goda Victoria yang buru-buru kembali ke dapur setelah melihat Sulli mengangkat bantal, siap melemparkannya

***

“Saengil chukhahae, Sulli!”
“Saengie, tumbuh terus ya! Pertahankan kharisma Choi Family sebagai pemilik tinggi badan tertinggi! Paling tidak kau harus bisa setinggi eonni!”
“Sulli-ya, neomu yeppeoda!”
“Happy birthday, wish you all the best, have a blast!” *standar twitter&fb*
Sulli –dengan midi-dress off white-nya dan rambut terurai– tersenyum dan sesekali tertawa menanggapi ucapan yang mengalir deras dari sunbae-sunbaenya di SM.
Ia memperhatikan sekelilingnya. Tadi sepertinya SHINee sudah masuk ruangan, tapi kenapa hanya 4 orang yang kelihatan?
Kemana dia? Mana si rambut jamur cokelat muda itu?
Tiba-tiba seseorang mencolek bahunya dari belakang. Sulli menoleh

“Minho-oppa?”
“Happy birthday!” ucapnya sambil mengangsurkan sebuah kado. “Maknae Choi Family sudah 18 tahun… kau sudah besar ya?”
Sulli tertawa kecil. “Gomawo oppa!” ia menaruh kado itu di atas meja yang penuh dengan kado lainnya
“Tapi wajahmu kelihatan lesu, padahal ini harusnya jadi harimu yang paling menyenangkan, kan?” selidik Minho. “Karena Taemin ya?”
“T, tidak oppa! Aku hanya agak capek hehe. Tadi kegiatanku di sekolah banyak sekali,” dalih Sulli sekenanya
“Jangan bohong, sesama Choi tidak boleh menutupi,” canda Minho. “Taemin… dia tadi pergi, dan dia bilang tidak bisa ikut acara ini. Kau tahu sendiri kan maksudku apa?”
Bahu Sulli merosot, tapi ia berusaha tetap tersenyum dan mengangguk kecil. “Aku… mengerti. Oppa sendiri tidak bersama Krystal?”

Minho menepuk dahinya. “Tadinya aku ingin mengambilkan minum untuk Krystal, eh malah mengobrol disini!”
Sulli tergelak. “Cepat ambilkan dia minum dan kembali sana!” katanya sambil mendorong Minho ke arah meja minuman. Minho masih sempat membalikkan badan dan melambai kecil ke arah Sulli, yang dibalas dengan segaris senyum dan anggukan pelan

Setelah punggung Minho benar-benar menghilang, Sulli merasa agak sedikit… kecewa?
Bukan sedikit. Jujur dia benar-benar kecewa dan sedih. Siapa yang tidak merasa seperti itu saat di hari istimewamu kamu tidak bisa bertemu sahabatmu –yang sekaligus orang yang kau sayangi?
Yang ternyata malah sedang sibuk dengan ‘urusan’ lain di luar sana. Yang mengucapkan selamat lewat pesan singkat saja tidak sempat
Sesibuk apa sih dia dengan –ah, sulit mengucapkannya– dengan gadis itu?

Perlahan, Sulli berjalan keluar dari area pesta yang ramai dan menyingkir ke balkon yang sepi dan tenang. Mau seramai dan segila apapun pestanya, ia tetap merasa kesepian.
Ia tak peduli bila nanti kena marah Victoria, yang menganggapnya tidak sopan karena kabur dari acara ulang tahunnya sendiri. Ia benar-benar membutuhkan ketenangan setelah seharian penuh kecewa

“Di luar dingin, apalagi kau hanya memakai pakaian seperti itu.” kata seseorang. Sulli refleks menoleh dan mendapati bayangan seseorang yang tidak terlihat jelas karena gelapnya area balkon
“Siapa itu?” tanyanya, penuh antisipasi. Di satu sisi ia benar-benar berharap itu Taemin –yang secara ajaib datang ke acara ini. Di sisi lainnya, ia tak siap jika harus kecewa lagi
Bukannya menjawab, orang itu malah berjalan mendekati Sulli, berdiri di sebelahnya dan meletakkan sesuatu di bahunya yang terbuka. Jas tebal
“Agar kau tidak terlalu kedinginan,” gumam orang itu. Bukan Taemin. Suaranya berbeda. Tapi entah kenapa Sulli tidak se-kecewa tadi

“Jino-oppa?”
“Ya! Kenapa kau baru mengenaliku sekarang?” kata Jino sambil mencubit pipi Sulli pelan. “Ah ya, ini untukmu,” ia menyerahkan sebuah buket bunga
“Yeppeo,” gumam Sulli pelan. “Gomawo, oppa,”
Jino hanya diam, lalu mengambil satu bunga dari belasan bunga dalam buket itu dan memasangkannya di rambut Sulli
“Neomu yeppeo,” katanya refleks, membuat pipi Sulli memerah
“Maksudku bunganya…” Jino tertawa. Sulli memukul lengannya dan menggembungkan pipinya

“Kenapa kabur?”
“Aku bosan.”
“Karena bosan atau karena tidak ada Taemin?”
Tepat sasaran. Sulli terbatuk, lalu mengangguk kecil
“Kok oppa tahu?”
“Kalau itu sih semua orang SM juga tahu, Choi Jinri…”
Sulli diam, tidak menanggapi. Tangannya memainkan kelopak carnation dalam buket bunga itu

“Kau benar-benar menyukainya ya?”
“Molla…” Sulli sendiri bingung kenapa ia menjawab tidak tahu. Padahal dulu saat ditanya seperti itu, reaksinya mengangguk dengan wajah semerah kepiting rebus
“Kalau misalnya orang lain bagaimana?”
“Hah? Maksud oppa?”
“Kalau misalnya ada orang lain yang menyukaimu, tapi bukan Taemin?”
“… aku tidak tahu, oppa,”

“Kalau aku yang menyukaimu?”
Seketika wajah Sulli memerah. “Oppa jangan bercanda!”
“Aku tidak bercanda,” Jino memalingkan wajah, menutupi warna mukanya yang pasti sudah berubah. Sulli melirik ke arahnya dan tersenyum kecil melihat telinganya yang benar-benar merah
“Mungkin… bisa,” gumam Sulli, senyumnya merekah makin lebar

***

“Di sini dingin, ayo masuk!”
“Tidak mau… di dalam ramai sekali. Aku benci keramaian,”
“Bohong, bilang saja kau masih ingin di sini hanya denganku, kan?”
Sulli memutar matanya menanggapi ke-over-PD-an Jino
“Dalam mimpimu, oppa. Ayo masuk,” Sulli melangkah ke area pesta, tapi Jino menahan tangannya
“Oppa, aku kedinginan!” protes Sulli
“Tidak mungkin kau kedinginan, jasku masih di pundakmu,” Jino menarik jasnya dari pundak Sulli lalu memakainya. Sulli membuka mulutnya, siap memprotes sekali lagi, tapi berhenti karena Jino mencium bibir atasnya sekilas

“Hadiah kedua untukmu,” kata Jino pada Sulli yang masih speechless. Ia melingkarkan lengannya di bahu Sulli dan membawanya masuk ke dalam ruangan, menjauhi balkon itu
Sebelum memasuki ruangan, Jino menggamit tangan Sulli dan kembali mencium bibirnya, kali ini lebih lama

“Happy 18th birthday Choi Jinri, saranghae…” kata Jino. “Hadiah ketiga hari ini. Maaf, aku tak tahu apa yang kau sukai jadi…”
“Oppa, tadi itu first kiss-ku!” wajah Sulli kembali memerah
“Jinjjayo? Aku juga,” Jino memasang evil smile (hasil berguru ke Kyuhyun). Sulli makin salah tingkah
“Ayo masuk oppa!” paksa Sulli, setengah menutupi kesalah tingkahan (?) nya. Jino hanya mengangguk dan menggenggam tangan Sulli, lalu menariknya ke area pesta yang sempat mereka tinggalkan tadi

——————————————

TOEEEETTT *tiup terompet*
Gila… Abal banget endingnya (isinya juga sih)
Jadi bagaimana bagaimana? Ada yang bisa nebak siapa ceweknya Taemin? *nunjuk diri sendiri* *dilempar sendal*
Yang udah (sudi) baca silakan komen, biar ke depannya *ceileehh* ff disini makin bermutu, ㅋㅋㅋ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s