[One-Shot] When the Time Flies by…

Title: When the Time Flies By…
Genre: Angst, friendship
Rating: G
Character: SHINee members

07.00
“Pagi, hyung. Apa kabar?” lelaki tinggi berambut cepak itu meletakkan sebatang bunga.
“Maaf aku jarang berkunjung akhir-akhir ini. Kau tahu? SHINee makin sibuk, tapi semuanya berbeda,” ia tersenyum getir

“Kau masih ingat dengan Yoogeun? Kemarin ia berkunjung ke dorm SHINee. Yoogeun sudah masuk SD. Ia mencarimu — kupikir ia tak mendengar ataupun tahu tentang ‘itu’. Tentang kepergianmu…”
Lelaki itu duduk di atas rerumputan dan menengadahkan kepalanya ke atas. “Kau pasti sedang memperhatikanku — dan kami, dari atas sana kan?”
Ia bangkit, membersihkan celananya, lalu membungkuk dalam-dalam.
“Aku pergi dulu, hyung. Jangan khawatir, nanti memberdeul yang lain akan kesini. Aku–kami merindukanmu. Annyeong,”

08.00
“Hyung, neomu bogoshippeo!” seorang lelaki lain datang dan menaruh sebatang bunga di sebelah bunga yang sudah ada
“Minho sudah datang? Aish, aku kalah lagi dengannya. Dia yang paling sulit bangun pagi ternyata bisa cepat-cepat bangun untuk mengunjungimu.” ia tertawa hambar
“Jadi sekarang apa yang sebaiknya kulakukan?” tangannya memunguti dedaunan kering yang mengotori nisan di depannya. “Ah, aku ingat. Taemin –ya, maknae kita itu– dia lulus ujian masuk Seoul University. Dasar anak pintar” lelaki itu terkekeh
“Minho pasti sudah menceritakan tentang kesibukan SHINee yang bertambah. Kuakui, kami agak kelimpungan. Apalagi karena kau yang biasanya mengatur jadwal…” perkataannya terhenti saat setetes air jatuh dari matanya. “Ah… Mianhae hyung, aku masih cengeng ya? Padahal kau selalu menyuruhku agar mengurangi sifatku ini,” ia mengusap matanya pelan
“Aku tak bisa menjadi leader menggantikanmu, hyung. Aku… Aku…” suaranya terganti isakan halus yang semakin hebat seiring waktu yang terus berjalan…

09.00
“Annyeong, hyung. Minho hyung dan Jonghyun hyung sudah kesini, ya?” kata seorang namja berambut kecokelatan. “Hari ini kuliahku libur, hyung. Kau pasti sudah diberitahu oleh salah satu dari mereka kalau sekarang aku kuliah, kan?”
Ia meletakkan sebatang bunga, persis seperti 2 orang sebelumnya. Lalu ia duduk bersila dan menopang dagunya dengan telapak tangan
“Di hari pertamaku kuliah, tak ada yang membuatkanku telur dadar dan bacon seperti saat hari pertama SMA-ku. Key eomma menawarkan untuk membuatkannya untukku tapi aku menolaknya,” ia menghela napas pelan. “Aku egois ya, hyung? Tapi kalau makanan itu dibuatkan oleh orang lain, rasanya berbeda dengan buatanmu, hyung…”
Tangannya memainkan helaian rumput di sekelilingnya. “Hyung, kadang aku bosan menjadi maknae. Orang-orang selalu melihatku sebagai laki-laki yang cute, dan mereka masih menganggapku anak kecil. Padahal kan aku sudah dewasa,” ia menggembungkan pipinya
“Kau jangan tertawa ya, hyung, mendengar kata-kataku ini!” ia mengancam sambil terkekeh pelan.
Perlahan-lahan ia bangkit, membungkuk ke arah nisan itu, dan berjalan keluar dari areal pemakaman

10.00
“Aku yang terakhir datang?” gerutu seorang namja, lengkap dengan aksen Daegu-nya yang kental. Ia meletakkan seikat kecil carnation di sebelah 3 batang bunga yang ada.
“Kau tahu, hyung? Hanya ada 4 orang itu bukan SHINee namanya. Kita memulai semuanya berlima –dan seharusnya tetap seperti itu. Tapi sepertinya Tuhan sangat menyayangimu jadi kau harus pergi lebih dulu, meninggalkan kami berempat,”
“Kemarin waktu Taemin mulai kuliah, di hari pertama ia mengeluh, katanya ia ingin makan makanan yang dulu kaubuatkan untuknya itu. Ia menolak makanan dariku, katanya itu berbeda dengan buatanmu. Dasar anak manja,” ia tersenyum kecil
“Kadang aku capek karena harus menjadi eomma di grup sendirian. Dulu, kau yang menjadi appa dan selalu membantuku –meski selalu salah. Aku juga jadi tak perlu menjadi pemecah awkward moments karena ke-sangtae-anmu sekarang, kau tahu? Tapi aku merindukannya…”

***

“Yaa, dongsaengdeul bodoh!” kata seseorang –atau sesosok orang — di tengah gelapnya malam. Ia mendekati nisan itu dan mengamati bunga-bunga yang ada disana — ingin menyentuh, tapi ia ingat kalau ia tak akan pernah bisa menyentuh benda itu.

“Gomawo sudah merawat tempatku ini, dan gomawo karena kalian masih mengingatku…”

Akhirnya ia meninggalkan tempat itu, menuju ke tempat orang-orang yang tadi mengunjunginya. Bukan menghantui, tapi hanya ingin memastikan segalanya baik-baik saja

Keadaan dorm itu masih sama saat terakhir kali ia melihatnya, hanya ada sedikit perubahan di beberapa tempat. Berantakan disini dan rapi disana. Foto mereka berlima yang memegang award pertama mereka juga masih tertempel di dinding.

Suasananya benar-benar sepi, para penghuni dorm sudah terlelap. Ia berjalan menuju salah satu pintu kamar yang tertutup (tapi ia tetap bisa melewatinya dengan mudah, ingat?), seingatnya itu dulu kamarnya dengan Key
Ia melangkah masuk dan mendapati tempat tidurnya yang dulu terisi oleh Jonghyun, pasti Key yang memintanya pindah karena ia paling tidak bisa tidur sendirian.
Barang-barang miliknya masih tersimpan rapi, beberapa dimasukkan ke dalam kardus, mungkin sekarang tempatnya digunakan untuk menaruh barang-barang Jonghyun.

Ia mendekati Key yang masih nyenyak tidur dan berbisik, “Maaf, aku meninggalkan kalian berempat… Teruslah berusaha menjadi umma yang baik, arasseo? Kalau kau rindu sangtae-ku, lihat fotoku saja!” ia terkekeh, lalu melakukan hal yang sama ke Jonghyun
“Kau sekarang leader, semangat! Aku tahu kau bisa mengerjakan tugasmu dengan baik. Jangan cengeng! Kau sudah dan harus makin dewasa, Jonghyunnie! Aku titipkan SHINee padamu…”

Key dan Jonghyun bergerak-gerak. Ia khawatir mereka bangun dan melihatnya lalu berteriak histeris (yah, siapa yang tak akan histeris melihat hal seperti itu?) tapi ternyata mereka kembali diam.
Ia tersenyum kecil dan meninggalkan ruangan itu menuju kamar yang satunya. Kamar 2Min

Masih sama. Tumpukan komik Slam Dunk dan One Piece bertebaran dimana-mana. Hanya beberapa diktat kuliah tebal yang menggantikan buku pelajaran SMA di meja — pasti milik Taemin. Seragam yang biasa tergantung di balik pintu juga sudah tidak ada.

“Taeminnie, kau sudah kuliah, kan? Chukhahae karena kau diterima di Seoul University. Jangan telat lulus, jangan suka bolos, jangan manja pada Key dan jaga hyungdeulmu, arasseo?” ia mencoba menyentuh rambut jamur Taemin, tapi gagal. Ia hanya bisa menghela napas pasrah

“Minho-ya, tolong sampaikan salamku pada Yoogeun. Ceritakan padanya saat dia sudah lebih besar nanti kalau aku sudah ‘pergi’,” ia tersenyum miris. “Dan gomawo karena kau rela bangun pagi untuk mengunjungiku. Sekali-kali ajak Yoogeun, ya?”
Minho mengerutkan keningnya dan bergumam, “O…new hyung?” ia menggosok matanya. Onew panik dan buru-buru menghilang karena sepertinya Minho akan bangun, dan ia tak mau dilihat oleh dongsaeng-dongsaengnya
Mata Minho sudah terbuka. Ia memperhatikan ke sekeliling ruangan dan tidak menemukan apa-apa
“Tadi… suara Onew hyung? Atau aku hanya mimpi?”

***

“Pagi hyung…” gumam Taemin sambil menguap, rambutnya acak-acakan. Key sibuk di dapur, Jonghyun di depan TV menyusun jadwal mereka sambil minum dan Minho termangu di kursi makan.
“Minho-hyung, waeyo?” tanya Taemin sambil duduk di sebelah couplenya itu
“Tadi malam aku merasa Onew hyung datang,” gumam Minho setengah sadar. “Aku tak tahu itu mimpi atau bukan tapi rasanya benar-benar nyata.”
Taemin tercenung. Tapi memang ia seperti mendengar suara Onew dalam mimpinya
“Aku… juga merasa seperti itu,” gumam si Maknae pelan.

Key yang dari tadi hanya mendengarkan ikut-ikutan angkat suara, “Yang benar? Aku juga seperti mendengar si sangtae membisikiku!”
Jonghyun tersedak dan batuk-batuk setelah mendengar apa yang sedang dibicarakan di area dapur. Ia segera bergabung dengan 3 orang lainnya.
“Aku-uhuk!-juga-uhuk!”
Key menepuk-nepuk punggung si sub leader agar tidak terbatuk-batuk lagi

“Apa itu betul Onew hyung?” tanya Taemin polos
“Mungkin,” jawab Minho pelan

——————————————-

Aigoooooo apaan iniiii *plak
buat yang bingung, jadi disini ceritanya si dubu udah meninggal. Terus anak SHINee ngunjungin makamnya gitu ._. Ngerti nggak? Ngerti dong plis *maksa

Advertisements