[One-Shot] I’m Sick

Title: I’m Sick
Genre: Romance, Comedy
Rating: PG-13
Character: Cho Kyuhyun, Choi Hyunjoon plus some supporting casts


Ini fanfic kedua yang saya janjiin sama Choi Hyunjoon eonni :p dan karena finishingnya pas mata udah tinggal 5 watt, tolong maklumi typo disana-sini yaaa~

Di beberapa bagian, Hyunjoon (saya rasa) jadi agak mirip sama satu tokoh novel (mirip Kugy, tokoh di novelnya Dewi Lestari/Dee yang Perahu Kertas). Bukan maksud nyama-nyamain, tapi entah kenapa agak kebawa dikit (padahal saya juga udah lama gak baca itu novel sebenernya). Jadi sekali.lagi tolong dimaklumin ya readers ya

Okeh, banyak bacot deh ane. Dicukupin sekian, selamat membaca yeorobun!

—————————————————–

Bel masuk sudah berbunyi dari tadi, tapi kursi di sebelahku masih kosong. Kemana penghuninya?

“Hyunjoon-a, mana Kyuhyun?” tanya Insa yang duduk di depanku. Aku menggeleng, lalu tiba-tiba merasa aneh. Kenapa aku tidak tahu dimana keberadaan namjachinguku sendiri?

“Dia sakit?” tanya Insa lagi.
“Mm, entah…” jawabku sekenanya. Insa mendecak.
“Kau ini kok bisa nggak tahu? Kau kan yeo…” perkataan Insa terputus oleh tanganku yang buru-buru membekap mulutnya.
“Ssh, kau ingin aku dihabisi oleh fansnya makhluk babo itu?” desisku dengan nada mengancam.
“Ups, maaf. Aku kelepasan.” dia nyengir tanpa rasa bersalah sama sekali. Dasar, makhluk ini setali tiga uang dengan Kyuhyun ternyata =_=

“Weekend kemana?” tanya Insa.
“Cuma main game di rumah terus jalan-jalan sebentar.” jawabku sambil melirik ke arah gelang biru laut di tanganku.
“Cieeee, yang punya pacar baru~” Insa menjulurkan lidahnya kepalaku dan kubalas dengan jitakan di kepalanya.

“Eh? Hyunjoon punya pacar baru?” tahu-tahu Soohyeon yang bersebelahan dengan Insa ikut-ikutan. “Siapa?”
Aku melirik Insa dengan pandangan awas-kau-nanti-kuhabisi. Ia hanya terkekeh pelan.

“Siapa, Hyunjoon-a?” desak Soohyeon lagi.
“Ada deeeeeh~” jawabku sekenanya. Soohyeon melengos kesal dan berbalik lagi meneruskan kerjaan nyalin PR-nya.

Aku mengingat-ingat apa yang terjadi saat kami terakhir bertemu. Seingatku kemarin Sabtu setelah kami pulang dari cafe Kyuhyun masih sehat-sehat saja. Cuaca saat itu juga cerah, dan tidak ada hujan sama sekali. Kenapa tahu-tahu ia tidak masuk? Jangan-jangan karena jitakanku setelah dia menemukan PSPnya itu?

“Hayo, kepikiran ya?” suara Insa lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Dia tertawa pelan saat melihatku memasang wajah terjutekku.
“Awas kau, Jung In…”
Pintu terbuka, Kim seonsaengnim masuk ruangan. Aku terpaksa diam dan menghadap ke depan.

Setelah memberi salam, Kim seonsaengnim mulai mengabsen.

“Bae Sueji?”
“Neee~”
“Cho Kyuhyun?”

Sepi. Kim seonsaengnim mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas.
“Cho Kyuhyun?”
Tiba-tiba Minhwan, salah satu namja di kelasku mengangkat tangan. “Kyuhyun sakit, pak! Suratnya belum ada, tadi dia memberitahu saya lewat SMS!”

Kim seonsaengnim mengangguk lalu meneruskan mengabsen. Aku terdiam, kata-kata Minhwan masih terngiang di kepalaku.

Kyuhyun sakit? Kenapa dia nggak bilang?
Aku harus ke rumahnya nanti sepulang sekolah.

“Insa, alamat rumah Kyuhyun dimana?” tanyaku. Insa mengangkat bahu.
“Mana kutahu! Tanyakan sendiri saja padanya!”
“Aku malaaaaas, nanti dia GR!”
Insa menggelengkan kepalanya. “Coba tanya Minhwan atau Changmin, mungkin mereka tahu.” Ia menunjuk ke arah dua namja di pojokan kelas lalu berlalu dari hadapanku. Pasti ke kantin.

Kulangkahkan kakiku ke sana. Minhwan yang melihatku menghampirinya mendongakkan kepala. “Kenapa?”
“Tahu alamat rumahnya Kyuhyun nggak?” tanyaku. Ia menatapku dengan tatapan menyelidik.
“Mau ngapain?”
Otakku berputar cepat mencari alasan. “Itu, Kim seonsaeng menyuruhku mengantar catatan dan tugas hari ini,” jawabku. Tidak sepenuhnya berbohong sih, aku sebenarnya memang berniat meminjaminya catatan.
Minhwan mengangguk-angguk. “Sebentar, aku tuliskan dulu.” ia menyobek secarik kertas dan menuliskan sebaris alamat di sana, lalu mengangsurkannya padaku tanpa mengucap sepatah kata lagi.
“Oke, gomawo!”
“Cheonma,” balasnya, lalu kembali merebahkan kepalanya di meja.

Aku kembali ke bangkuku sambil membaca alamat yang tertera di kertas itu. Yang aku tahu, rumahnya masih sejalan dengan rumahku, di daerah Gangwon-do. Aku segera memasukkan kertas itu ke saku agar tidak hilang.

“Sudah tahu alamatnya?” tanya Insa yang sudah kembali. Ia menaruh sebungkus roti di mejaku. “Kau belum makan kan? Nih, tapi ganti uangku!”
Aku membuka dompet dan menyerahkan beberapa lembar won ke tangannya. “Kembalian?”
“Ongkos jalan!” katanya sambil cengengesan jahil. Aku melengos.

“Jadi nanti siang kau akan ke rumahnya?”
Aku mengangguk sambil menggigit roti. “Rumahnya dekat dengan rumahku. Satu jalur bus.”<br>
Insa menganggukkan kepalanya. "Hooo, nggak bawa sesuatu?"
“Bawa, kok. Catatan hari ini sama tugas.”
Insa menjitak kepalaku. “Bukan yang seperti itu, babo! Kau ini belum pernah menjenguk orang sakit, ya? Bawakan dia buah-buahan atau apa!”
“Halah, paling-paling dia cuma demam, ngapain dikasih buah?”

“Howaaaaaaaaa~”
Aku melongo melihat rumah besar di depanku. Minhwan nggak salah ngasih alamat, nih? Ini betulan rumahnya Kyuhyun?

Sekali lagi aku memastikan nomor rumah yang ada di kertas lecek itu. Betul kok, sama nomornya…

Akhirnya aku memberanikan diri menekan bel rumah itu. Beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintunya. Eommanya Kyuhyun? Wajahnya lumayan mirip dengan makhluk aneh itu.

“Ini… rumah Cho Kyuhyun?” tanyaku bodoh. Wanita itu memandangiku sebentar lalu berhenti setelah mengenali seragamku.

“Ne, teman sekelasnya Kyuhyun, ya?” tanyanya balik. Aku mengangguk. Wanita itu membukakan pintunya lebih lebar.
“Silahkan masuk,” katanya sambil tersenyum. Cara tersenyumnya membuatku yakin kalau beliau memang eomanya Kyuhyun. Aku mengangguk canggung dan melepas sepatuku lalu masuk ke rumah itu.

“Siapa namamu?” tanya eommanya Kyuhyun.
“Choi Hyunjoon, ahjumma,”
“Panggil saja Ahna ahjumma, ne?” kata Ahna ahjumma. “Kau mau menjenguk Kyuhyun, ya? Biar ahjumma antar,”

Aku mengikuti Ahna ahjumma menuju kamar Kyuhyun.
“Kalau boleh tahu, Kyuhyun sakit apa, ahjumma?” tanyaku berusaha sesopan mungkin.
“Dia demam. Mungkin kecapekan, kemarin dia main game seharian penuh,” jelas Ahna ahjumma sambil membuka satu pintu. Di dalamnya terlihat kasur dengan Kyuhyun yang tergeletak di atasnya, tertidur… eh, bukan! Dia duduk bersandar di kasur, main PSP =_=”

“Kyuhyun! Kenapa malah main game?” tegur Ahna ahjumma. “Ini ada temanmu menjenguk!”
Tanpa mengalihkan pandangannya dari PSP, ia berkata, “Siapa, eomma? Disuruh masuk saja!”
Dasar tidak sopan -….-
“Kau masuk saja, ne?” Ahna ahjumma menoleh ke arahku. “Ahjumma tinggal dulu. Tolong jaga Kyuhyun, suruh dia berhenti main game!”

Begitu saja. Aku ditinggal di depan kamar Kyuhyun yang masih tidak tahu kalau yang datang itu aku.
“Kyu, boleh masuk?”
“Ya masuk saja,” jawabnya, masih berkonsentrasi ke layar PSPnya. Sedetik kemudian ia mengangkat kepala dan menatapku dengan pandangan tidak percaya.

“Hyunjoonie?”
Aku berjalan ke arahnya tanpa mempedulikan kata-katanya dan memegang dahinya. “Suhu badanmu masih tinggi. Istirahat, jangan main game terus!”
Aku merebut PSP dari tangannya dan menaruhnya di meja.
“Hei! Itu belum selesai!” protesnya.
“Istirahat dulu, babo! Kau kebanyakan main game, makanya sakit!”
Dia diam saja dan mengerucutkan bibirnya. Aku menarik kursi dan duduk di sebelah kasurnya.
“Ini catatan hari ini.” kataku sambil meletakkan setumpuk buku di meja. “Dan ini tugasnya…”

“Kau datang hanya untuk membawakan buku-buku itu? Jahat sekali…”
“Kalau aku tidak mengkhawatirkanmu, aku pasti tidak akan mau repot-repot meminta alamat rumahmu pada Minhwan dan datang kesini.” selaku. “Kenapa nggak bilang kalau kau sakit?”
“Aku tidak mau kau khawatir,”
“Kalau kau nggak bilang aku malah jadi lebih khawatir, tahu!” aku menyentil dahinya pelan. “Kenapa malah memberi tahu Minhwan? Yeojachingumu itu aku atau dia?”
“Tentu saja Choi Hyunjoon-ku yang galak ini,” katanya sambil mengacak rambutku. “Mian, aku benar-benar tidak ingin kau jadi khawatir.”

Kami diam beberapa saat. Aku memandangi wajahnya, makin pucat saja dia. Tangannya yang dingin menggenggam tanganku erat.
“Jadi bagaimana rasanya sekolah tanpa aku duduk di sebelahmu?”
“Lebih damai, dan tidak ada yang curi-curi main PSP saat pelajaran atau ketiduran sambil mendengarkan lagu,” sindirku. Ia tertawa.
“Nggak kangen?” godanya. Aku menggeleng.
“Ngapain?” balasku.
“Halah, akui sajaaaa~”

“Kenapa kau tiba-tiba sakit?” tanyaku, berusaha mengalihkan topik.
“Nggak tahu, kemarin Minggu sudah agak pusing sih. Tahunya tadi pagi demam.”
“Kata eommamu kau kecapekan main game?”
“Mungkin juga.”
“Kau kurang sayur juga, kan? Makanya gampang sakit.” lanjutku sambil meraba dahinya. Hangat.
“Ya mau bagaimana lagi, aku nggak suka sayur,” elaknya. Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi harus tetap makan, Cho Kyuhyun!”
“Iyaaaaa, nanti aku makan sayur!”
Aku menganggukkan kepalaku puas.

“Sudah minum obat?”
Kyuhyun mengangguk.
“Bisa berhenti menanyaiku pertanyaan seperti itu? Kau jadi mirip eommaku, serius.”
Aku tertawa. “Biar saja, kau sih bikin orang khawatir!”

“Pulang sekolah langsung ke sini, ya?” tanyanya sambil menarik lengan kemeja seragamku. Aku mengangguk, sementara mataku menangkap sekeranjang buah di meja.
“Kau mau makan buah? Jeruk, mau? Banyak vitamin C-nya.” tanyaku sambil mengambil sebutir jeruk dari keranjang itu.
“Kupasiiiiin~” pintanya manja. Aku melengos, mentang-mentang sakit dia bisa seenak hati nyuruh-nyuruh orang.

Tanganku masih sibuk mengupas jeruk saat pintu kamar Kyuhyun terbuka. Ahna ahjumma masuk sambil membawakan semangkuk bubur dan 2 gelas minuman.
“Kyuhyunnie, makan buburnya, ne?” perintah Ahna ahjumma sambil meletakkan mangkuk bubur itu di meja. “Dan Hyunjoon-ssi, ini minumannya… itu jeruk untuk siapa, Hyunjoon-ssi?” tanya beliau saat melihat jeruk setengah terkupas di tanganku.
“Gomawo ahjumma, ini untuk Kyuhyun,” jawabku sambil menyerahkan jeruk yang sudah dikupas ke tangan Kyuhyun.
“Kyuhyunnie, kau manja sekali, mau makan jeruk kenapa harus minta dikupaskan?” tangan Ahna ahjumma mendorong dahi Kyuhyun pelan. “Kau ini seperti meminta tolong ke yeojachingumu saja!”
“Dia memang yeojachinguku, eomma.”

Aku tersedak teh hangat yang disajikan Ahna ahjumma.
Oke, de javu lagi =_= kemarin keripik kentang sekarang teh hangat. Besok apa?

“Jinjjayo?” tanya Ahna ahjumma setengah tidak percaya. “Apa benar, Hyunjoon-ssi?”
Aku masih terbatuk-batuk, hanya mampu mengangguk kecil. Ahna ahjumma menepuk-nepuk punggungku.
“Dari awal aku sudah menduga kalau dia bukan hanya chingu-mu, Kyuhyunnie~” lalu beliau menoleh ke arahku. “Kalau begitu, mulai sekarang panggil eomonim saja, ne? Dan boleh aku memanggilmu Hyunjoonie?”
“Ne, ahju–maksudku, eomonim!” jawabku canggung. Aku melirik Kyuhyun yang menahan tawa di balik punggung Ahna ahjumma dengan tatapan membunuh. Dia memasang senyum innocentnya. Menyebalkan!

“Kalian cocok!” puji Ahna ahjumma. “Baiklah, eomonim tinggal dulu, arasseo? Kyuhyunie, jangan lupa habiskan buburnya. Hyunjoonie, tolong awasi dia, ne?”
Ahna ahjumma menutup pintu kamar. Aku langsung mendelik ke arah Kyuhyun.
“A-pa-mak-sud-mu-ta-di?” kataku dengan penekanan di tiap suku kata.
“Memangnya salah kalau aku mengenalkan yeojachinguku ke eommaku sendiri?” tanyanya sambil menyendok bubur. Aku menghela napas. Memang butuh kesabaran khusus untuk menghadapi makhluk bernama Cho Kyuhyun ini.

“Habiskan buburnya, sayurnya juga,” aku mengambil sayuran yang ada dengan sumpit. “Nih, makan!”
Kyuhyun membuka mulutnya.
“Kunyah, telan!” perintahku. Ia mengunyah sawi dan wortel itu lalu menelannya.
“Enak nggak?” tanyaku. Ia menggeleng.
“Nggak ada rasanya,” jawabnya polos.
“Itu karena lidahmu sendiri, Kyu~” aku kembali menyuapkan sayuran. “Pokoknya harus habis, arasseo?”

Aku menopang daguku sambil menunggu Kyuhyun menghabiskan buburnya.
“Sudah makan?” tanya Kyuhyun.
Aku menggeleng. “Belum, tidak sempat.”
Sejujurnya, jam makan siang tadi kugunakan untuk melengkapi catatan-catatan hari ini agar jadi selengkap mungkin. Aku meminjam catatan beberapa orang dan merangkumnya ke buku catatanku, makanya aku tidak sempat makan.
“Lho? Nanti kalau ganti kau yang sakit bagaimana?” ia meletakkan mangkuk di meja. “Makan dulu, sana!”
“Nggak usah, nanti saja di rumah. Nanti ngerepotin eomonim juga jadinya.” tolakku. “Lagian tujuanku ke sini kan menjengukmu, bukan numpang makan.”
Ia tertawa. “Bilang saja kau ingin lebih lama bersamaku, benar kan?”
Aku mencibir. “PD sekali kau, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun memakan jeruk yang tadi kukupaskan untuknya.
“Mau?” ia menyodorkan separuh bagian jeruk. Aku menggeleng.
“Aku belum makan, nanti sakit perut kalau makan yang asam-asam.” tolakku. “Dan kau lebih membutuhkan vitaminnya daripada aku.”
Ia menghabiskan jeruk itu dalam sekali lahap, dan segera menelannya. Semoga sistem pencernaannya masih bekerja baik ._.
Sementara itu, aku menggerakkan tanganku yang terasa pegal. Lama kelamaan duduk di kursi bikin capek juga ya –“

“Hyunjoona, duduk disini saja!” pinta Kyuhyun sambil menggeser letak duduknya. Aku melongo. Memang kasur Kyuhyun ukurannya cukup besar, tapi kan tetap saja…
“Aku tak akan macam-macam, janji!” tambahnya sambil membentuk huruf V dengan tangan.
“Yaksok?” aku bertanya ragu. Ia mengangguk. Masih agak ragu-ragu, aku berpindah duduk ke sebelahnya.

“Nah, kalau begini kan duduknya lebih enak!” katanya sambil mengisyaratkan agar aku menyelonjorkan kakiku.
Tahu-tahu, kepalanya sudah berada di atas pahaku. Wajahku memerah seketika.

“Hya! Neo…”
“Ssh, orang sakit butuh istirahat.” ia memejamkan matanya. Tanganku sudah gatal ingin memukul kepalanya, tapi aku tak tega ._.
“Berat, Kyu!”
“Halah, kemarin Jumat kamu kuat kan nyangga kepalaku di bahumu?” kilahnya masih dengan mata tertutup.
“Tapi nggak gini juga lah Kyuuuuuuuuuu!” akhirnya kujitak juga kepalanya. Ia duduk lagi di sebelahku sambil mengelus kepalanya. Pusing ditambah jitakan, kombinasi yang bagus, kan?
“Jitakanmu makin lama makin keras, babo!” ia balas mendorong kepalaku. “Nanti kalau aku pingsan gimana? Gegar otak? Amnesia?”
“Mana ada efek jitakan sampai segitunya, Cho Kyuhyun!” aku kembali bersiap menyentil dahinya, tapi ia lebih sigap menarik tanganku dan membuatku kehilangan keseimbangan. Akibatnya…

Yak, bisa ditebak. Aku jatuh hampir di atasnya, diulangi, HAMPIR!
Aku segera bergerak menjauh darinya. Tetapi ia kembali menarikku dan segera melingkarkan tangannya di sekeliling badanku. Gyaaaaaaaaaa~!

“Kyu, apaan sih? Lepasin~” aku berusaha melepaskan tangannya, tapi tidak bisa.
“Orang sakit butuh yang hangat hangat,” gumamnya.
“Selimut noh hangat!”
“Kurang anget!”
“Pegang kompor atau peluk heater, anget banget Kyu!”
Dia tertawa pelan dan mengeratkan pelukannya.
“Angetan yang ini~”
Tak pelak, wajahku memerah mendengarnya. Apalagi saat merasakan pelukannya yang mengerat. Cih, dasar!
“Nanti kalau eommamu tiba-tiba masuk gimana?” aku masih berusaha membujuknya agar melepas pelukannya itu.
“Ya nggak papa, biarin ajee…” katanya cuek. Ya ampun, dosa apa aku punya namjachingu macam dia?

“Kalau aku dekat-dekat denganmu nanti bisa ketularan flu,” kataku lagi.
“Terus kenapa?”
Sepertinya penyakit tidak pekanya sudah sampai stadium akut. Sumpah, namja ini benar-benar membuatku ingin menonjoknya!
“Kau tidak merasa bersalah apa kalau membuat seseorang tertular penyakitmu?”
“Tidak.” jawabnya pendek.
“Bahkan kalau orang itu yeojachingumu sendiri?”
“Tidak.”
“Sumpah. Kau jahat sekali.”

Ia tertawa. “Yah, beginilah aku. Dan kau menyukai namja evil ini, kan?”
Dia membalas kata-kataku saat di rumahku tempo hari, ya?
“Itu kalimatku, Cho Kyuhyun.”
“Jinjjayo? Aku rasa kau belum mematenkannya, nona Choi.”
Ia melepaskan tangannya dan aku langsung bergeser dari tempatku tadi.

Aku memperhatikan sekeliling kamar Kyuhyun. Terbilang lumayan rapi untuk kamar seorang namja. Ada TV yang tersambung dengan PS3, juga ada setumpuk CD game di lantai. Meja belajar tempat aku meletakkan buku-bukuku tadi bisa dibilang kosong, entah dimana buku-buku pelajarannya disimpan. Dindingnya warna biru tua, dan interiornya kebanyaan bernuansa biru.

Melihat warna biru membuatku teringat akan satu hal.

“Mana gelangmu?” tanyaku padanya.
“Gelangku?” ia menunjukkan gelang biru tua yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih belum berubah dari kemarin Sabtu.
Aku mendekatkan tanganku yang memakai gelang ke tangannya.
“Berubah!” teriakku garing. Kyuhyun terdiam sebentar, lalu ngakak sengakak-ngakaknya.
“Kau ini apa-apaan? Mau berubah jadi apa?” katanya di sela-sela tawanya. “Power Rangers? Mermaidman dan Barnacleboy?”
Aku ikut tertawa, garing tentu saja. Yah, setidaknya kegaringanku ini makin mencairkan kecanggungan di antara kami –ralat, kecanggunganku saat berada di dekatnya.

Tawa Kyuhyun hanya tersisa kekehan kecil saja. Aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. Jam 4 sore?
“Eh Kyu, aku sudah 1 jam disini ya?” tanyaku padanya, masih kurang yakin. Ia mengangkat bahu.
“Molla.”
Aku mendecak sebal lalu beranjak dari kasur Kyuhyun, membereskan barang-barangku dan bersiap menyandang tas.

“Kau… sudah mau pulang?” tanya Kyuhyun. Aku.mengangguk.
“Sudah jam 4, eomma pasti menungguku di rumah. Aku juga belum bilang kalau aku menjengukmu.”
Wajahnya menunjukkan kekecewaan, mirip anak kecil yang tidak jadi mendapat mainan yang diidamkannya.
“Hmm, besok kau masuk?” tanyaku, berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Mungkin. Mm, tergantung kondisi juga. Tapi sepertinya ya.” jawabnya. Tanpa sadar aku tersenyum.

“Pulangnya nanti saja, setengah jam lagiiiii~” pintanya. Aku menggeleng.
“Tugas hari ini banyak banget. Dan seperti yang kubilang tadi, eommaku menunggu di rumah. Kasihan eommaku sendirian.” aku mengacak rambutnya pelan. Peran kami untuk sementara terganti, biasanya ialah yang akan mengacak rambutku.
“Andwaeyoooo~” ia menahan tali tasku. “Jangan pulang dulu!”
“Besok kau masuk kan? Besok kan kita ketemu lagi, Kyu…”
Ia menggelengkan kepalanya keras-keras dan mencebikkan bibirnya. Aish =_=

“Hyunjoonie, sini sebentar.” panggilnya. Aku terpaksa menurut, malas kalau ngambeknya makin menjadi.
“Wae?”
Ia diam saja, tapi tangannya memegang lenganku. Perasaanku mulai tidak enak!
“Waeyo Kyu?” tanyaku lagi. Ia masih diam, dan tiba-tiba ia menarik tanganku. Aku kehilangan keseimbangan lagi, tapi ia menahan tubuhku dengan tangannya.
Dan karena aku hampir jatuh tadi, wajahnya jadi hanya berjarak beberapa cm di depanku. Ia menarik kepalaku dan mencium bibirku singkat, lalu melepasnya lagi.

“Katanya mau pulang?” sindirnya saat melihatku masih berdiri speechless di sebelah tempat tidurnya.
“Aaaaaaaah! Alamat aku ketularan beneran ini!” teriakku saat kesadaranku sudah kembali sepenuhnya. Aku menatapnya dengan tatapan membunuh, tapi ia tak tampak takut sama sekali.
“Pulang sana. Kalau besok sakit ya sudah, berarti memang nasibmu.” ia menjulurkan lidahnya. “Oh iya, besok kau kujemput ya?”

Aku tidak mendengarkan kata-katanya lagi. Tanganku langsung menyandang tasku dan aku melangkah keluar kamarnya.
Aku celingukan mencari Ahna ahjumma. Ternyata beliau ada di ruang tengah, sedang membaca majalah entah majalah apa.
“Eomonim…” aku menyapanya sambil tersenyum. Ahna ahjumma menoleh.
“Ah, Hyunjoonie? Sudah mau pulang?” tanya beliau. Aku mengangguk.
“Saya duluan ya eomonim, kamsahamnida~” aku membungkuk ke arah beliau.
“Ah tidak, harusnya eomonim yang berterima kasih padamu karena mau mengawasi Kyuhyun.” Ahna ahjumma terkekeh pelan, dengan cara yang persis dengan Kyuhyun.

Setelah berpamitan, aku berjalan keluar rumah menuju halte bus. Baru saja aku melangkah keluar halaman rumah keluarga Cho saat handphoneku bwrbunyi. Tanpa melihat Caller ID-nya, aku menerima telepon yang masuk.

“Yeoboseyo?”
“Hyunjoonie, kau marah? Kau marah ya?”
Ini si makhluk babo itu? Sialan =_=
“Ani, aku nggak marah. Jinjja.” jawabku cepat dan langsung memutus sambungan telepon. Aku segera mematikan handphoneku dan memasukkannya ke tas.

Biar saja sekali-kali si Kyuhyun itu kelabakan menghadapiku. Balas dendam itu menyenangkan!

Advertisements

15 thoughts on “[One-Shot] I’m Sick”

  1. nggak aneh saeng, judul kan nggak nentuin, yang oenting isinya ^^

    1. apa hyunjoon punya pacar itu berita besar ? kenapa chingu nya sampe nggak percaya hyunjoon bisa punya pacar ?? =..=

    2. suka bagian ini :
    Kami diam beberapa saat. Aku memandangi wajahnya, makin pucat saja dia. Tangannya yang dingin menggenggam tanganku erat.
    “Jadi bagaimana rasanya sekolah tanpa aku duduk di sebelahmu?”
    “Lebih damai, dan tidak ada yang curi-curi main PSP saat pelajaran atau ketiduran sambil mendengarkan lagu,” sindirku. Ia tertawa.
    “Nggak kangen?” godanya. Aku menggeleng.
    “Ngapain?” balasku.
    “Halah, akui sajaaaa~”

    hahaahhaaaa, kesannya onnie tu malu malu kucing =P, keundae …kyu juga maksa sih, hahaahahh ^^

    3. kyu nya mesum banget saeng, hahhhahaha ^^ bayangin mukannya kyu kalo lagi ngerajuk pasti lucu banget =P

    4. Dari awal aku sudah menduga kalau dia bukan hanya chingu-mu, Kyuhyunnie~ -> ntah kenapa, yang ada dibayangan onnie, mama nya kyu kayak pembawa acara gosip, haahahahahaha *ditendangmertuabalikkeindonesia

    5. as usual -> FF dongsaeng mah ringan tapi daebak !! onnie sukaaaaa banget

    gomawo ya saeng~ah ^^

    geotjjimalnya onnie usahain cepet publish lagi =D

    1. saeng cuma agak gak sreg aja sih eonn o.o

      1. ne! itu berita yang amat-sangat-luar-biasa besar dan tak terduga *plakk*
      habisnya kan dari sifatnya hyunjoon yang super cuek itu, yang bikin ibunya aje pesimis dia bakal punya pacar pas sma, temen-temennya juga jadi gak percaya gitu ._.

      2. malu-malu meong sambil nyindir itu asiiiik~ *apadeh

      3. YES! tujuan awal bikin ff ini adalah makin menambah kadar kemesuman kyuhyun di khalayak umum *ditendang keluar bumi*

      4. wehehehehe, mc infotainment ngerangkap cenayang tuh eonn. wkwkwkwkw

      5. uweeeeee~ gomawooooo~ *senyum senyum gaje* ahmasak sih? *ikut malu malu meong*

      ne, cheonmaneyo eonniii~ sip, saya tunggu nuh geotjjimalnya XD

  2. Eeeh, si evil manjanya keluar dah~
    Mereka pacarannya lucu amat sih itu~ ._.
    Aku suka deh fanfic2 Auf, feelnya dapet. 😀

    1. hoo, mentang mentang sakit =______=
      parah lah si iblis kalau udah manja wakakakaka *ditendang neni eonni*
      pacaran di rumah coba, di kamar lagi, bisa terjerumus (???) *kyu: YAAAAA aku nggak seyadong si anchovy sialan itu! | saya: iyadeh, terserah deh, terserah deh | fad: APAAN BAWA-BAWA NAMA HYUKIE HA?*
      makasiiiih xD xD

  3. Iyanih, alhamdulillah saya bukan biasnya Kyu ._.
    Iya tuh, kan remaja zaman sekarang pada labil semua. Bisa terbawa suasana tuh si Kyu ._.
    Anchovy kalo sama saya mah gak napsu-napsu amaaat~ Dia nyium aja kena gampar kok 🙂

    1. untung saya juga bukan kyu .-. hahahaha XD
      makanya, mencurigakan kan? cuma berdua lho, berduaaaa! (?)
      heem, aya-chan sadis ya kalau sama kunyuk ._____. wahahahaha tapi saya acungin jempol 10 soalnya aya-chan berani ngadepin bau kaki kelakuannya hyukjae, wahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s