[One-Shot] One Day as… Babysitters?

Title: One Day as… Babysitters?
Genre: Comedy
Rating: G
Character: -_-

Entah kenapa saya tiba-tiba kepikiran konsep ini. -_____- jadi maap nek rajelas. Biasa. Kekekeke *kabur

Taemin’s Room, 7 a.m.

“Yeobosaeyooo~ Ra-ya, waeeee?”
“MWO? Ke rumahmu? Sekarang?”
“Tapi aku masih ngantuk Ra-yaaaa~”
“Ne, ne… arasseo… tunggu 5 menit lagi… annyeong.”

Taemin menaruh handphonenya di kasur dan bangkit berdiri. Dengan sebelah tangan mengusap matanya yang masih agak lengket, ia berjalan ke kamar mandi dan mencuci mukanya sebentar (istilah Inggrisnya, raup). Lalu ganti baju dan langsung capcus (?) ke rumah Sungra yang hanya sepelemparan batu dari rumahnya.

“Min-ya! Palli!” ternyata Sungra sudah berdiri dengan raut was-was di depan rumahnya.
“Wae Ra-ya?”
“Eomma-appa pergi, aku disuruh menjaga 3 iblis itu! Mana sangguuuuup~” rengek Sungra dengan wajah memelas. 3 iblis? Sudah jelas 3 adik Sungra yang hiperaktif itu.
“MWO? Aku kira… aku kira…” kata-kata Taemin terputus begitu Sungra menyeretnya masuk rumah.

“HYEONG! Ayo main game!” suara teriakan menyambut kedatangan Taemin. Namdongsaeng Sungra, Lee Jiwan, langsung mengajaknya main game begitu melihat sosok namja itu masuk ke ruang tengah yang… err, sudah mirip kapal pecah. Kapal karam, malahan.
“Eh? Game? Game apa?” tanya Taemin semangat. Sungra cemberut. Sepertinya mengajak Taemin ke sini bukan ide yang bagus.
“NFS? Atau WE? Atau PES?” tantang Jiwan. Taemin memilah-milah CD game PS2 di tempatnya, membuat Sungra menekuk wajahnya makin dalam.

“Lee Taemin-ssi, kau ke sini untuk membantuku, bukan main game.” tegur Sungra.
“Ini aku membantumu Ra-ya… membantumu menjaga Jiwan. Hehe.” Taemin nyengir innocent. Sungra menghela napas kesal.
“Jiwan sudah 13 tahun, kau menjaga apa namanya? Bayi besar?”
“Nuna kenapa sih? Biar saja hyeong main game denganku, ya kan hyung?” bela Jiwan sambil mengajak Taemin ber-high five. “Daripada pacaran mulu sama nuna!”

Err. Sungra menggigit bibirnya dan menoyor kepala Jiwan keras, lalu meninggalkan dua namja itu di ruang tengah.
“YA! NUNA APPO!”
“Salahmu sendiri!” balas Sungra dari dapur. Ia lalu menghampiri Hyunchan –yeodongsaengnya, anak nomor tiga, 11 tahun—yang sedang menemani Ahmi –yeodongsaengnya (lagi), anak keempat, 5 tahun—sarapan.

“Hyunchan-a, piringnya sudah dicuci?” tanya Sungra.
“Eh? Belum eonni… Ahmi langsung nyeret aku disuruh nemenin makan, nggak sempat nyuci jadinya.” jawab Hyunchan. “Eonni belum makan kan? Itu di panci masih ada…”

PRANG

Tangan Ahmi tak sengaja menyenggol gelas beling (?) di sebelahnya hingga jatuh dan pecah. Sungra langsung tanggap dan mencari kresek (?) plastik.
“Diam disana Ahmi-a, jangan bergerak, nanti kena pecahannya.” perintah Sungra. “Hyunchan, turunkan Ahmi dari kursi. Gendong saja. Jauhkan dari sini dulu, arasseo?”
Dua adiknya menurut dan Hyunchan segera membawa Ahmi ke ruang tengah, menyusul oppanya yang sibuk main game. Sungra mulai mengumpulkan pecahan-pecahan yang besar ke dalam plastik.

“Sekarang tinggal dilap~” kata Sungra sembari bangkit berdiri.
“Igeo.” suara Taemin menghentikan gerakan Sungra. Ia menoleh dan mendapati namja itu membawa 2 kain lap di tangannya.
“Mwo? Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Sungra sambil mengambil kain lap yang disodorkan Taemin.
“Dari tadi.” jawab Taemin asal. Ia lalu ikut berjongkok di sebelah Sungra dan membantu membersihkan pecahan bercampur air minum tadi.
“Oh, gomapta.” gumam Sungra sambil masih fokus ke pecahan beling.
“Hati-hati, jangan sampai kena yang kecil-kecil…”
“Ne… ah!”
“Mwo? Jangan bilang tanganmu kena!” Taemin langsung meletakkan kain lapnya dan meraih tangan Sungra. “Tuh, kan? Baru juga semenit yang lalu dibilangin!” marahnya sambil menunjuk telunjuk kanan Sungra yang berdarah sedikit.

“Ini kan cuma luka kecil, dijilat juga sembuh.” kilah Sungra yang agak kesal dengan sikap Taemin.
“Geurae?” Taemin memasukkan jari Sungra ke mulutnya.
“Ya! Neo! Apa yang kau lakukaaaaaan?”
“Katanya kalau dijilat nanti sembuh?” jawab Taemin polos. Sungra terdiam dan menunduk,berpura-pura kembali membersihkan lantai dari pecahan gelas tadi padahal sebenarnya ia sedang berusaha menyembunyikan wajahnya yang amat merah.

“Yak, sembuh~” Taemin menekan-nekan ujung telunjuk Sungra, memastikan tidak ada darah yang keluar, lalu mengangkat kepalanya dan menjitak yeoja itu pelan.
“Ya! Appo! Aku pasiennya, kenapa dijitak?”
“Salahmu sendiri!” Taemin menjulurkan lidahnya. Sungra melengos dan balas menjitak Taemin.
“Kau ini membantuku apa ngerusuhin sih? Sana ke ruang tengah lagi!” Sungra mendorong Taemin hingga namja itu terguling. Taemin duduk lagi dan tertawa.

“Membantumu lah!” katanya sambil kembali melap lantai. “Sepertinya sudah bersih.”
“Coba injak.” kata Sungra asal.
“Jahaaaaaaat~” rajuk Taemin. Sungra mendengus menahan tawa lalu bangkit berdiri dengan kantong plastik di tangan kiri dan lap di tangan lainnya. Taemin mengekorinya dari belakang masih dengan setelan wajah merajuk.

Selesai mengurus sampah-sampah itu, Sungra menyeret Taemin ke ruang tengah yang makin berantakan. Jiwan masih stay di depan TV, Hyunchan sibuk sendiri dengan iPod Sungra, dan Ahmi tidur telentang sambil membaca komik.
“Ya! Ini kenapa berantakan begini?” sembur Sungra. “Jiwan! Berhenti main game sekarang!”
“MWO? Enak saja! Aku barusan main nuna!”
“Barusan dari Hongkong? Begitu bangun kau langsung main, sekarang sudah jam berapa, ha? Kau mau minusmu tambah? Dimarahi eomma?”
“Aish…” Jiwan melengos tapi tetap mematikan PS-nya dan membereskan kabel-kabelnya. Sementara itu Sungra memunguti bungkus makanan yang bertebaran di mana-mana sambil menggerutu sendiri.
“Hyunchan-a~ minggir sebentar, di bawahmu ada bungkus makanan. Kenapa nggak sekalian dibuang tadi?”
“Ehehehehe, mian eonni~” Hyunchan bangkit berdiri dan menyingkir dari sofa. Ahmi juga ikut-ikutan menjauh dari eonninya yang baru emosi tingkat tinggi.
“Ra-ya, kau galak sekali, sih?” tegur Taemin begitu melihat reaksi dongsaeng-dongsaeng Sungra.
“Ya mau bagaimana lagi…” jawab Sungra tanpa menatap Taemin, saking sibuknya membereskan ruangan. “Kalau sudah begini dan saat orang tuaku pulang rumah masih berantakan, bisa-bisa aku habis diomeli eomma. Derita anak pertama… kau enak sih, anak terakhir, nggak ada adik.”

“Ahahahahahaha.” Taemin tertawa garing, tangannya menaruh  tumpukan komik di meja. “Tapi efek baiknya, rumahmu jadi ramai. Rumahku? Sepi sekali~ mana Taesun hyung baru wamil. Tinggal aku sendiri di rumah.”
“Mau kupinjamkan dongsaengku satu? Ambil saja si Jiwan.” tawar Sungra.
“Sirheo! Habis kamarku dia acak-acak!”
“Ya! Aku juga tidak mau tinggal di rumah Taemin hyeong!” tiba-tiba Jiwan ikut nyeletuk.
“Yeee, siapa juga yang ingin serumah denganmu? Anak aneh!”

Sungra tertawa saja melihat namdongsaeng dan namjachingunya yang bertengkar tidak jelas. Dasar orang-orang bodoh.
“Eonni, oppa~” terdengar suara Ahmi dari sebelah sofa yang diduduki Sungra. “Aku bosan di rumah~” rengeknya.
“Hmm… terus? Kau mau pergi gitu?” tanya Sungra. Ahmi mengangguk mengiyakan.
“Lalu kalau mau pergi, kita naik apa?” tanya Sungra lagi. Ia sedang malas pergi-pergi, jadi lebih baik mempengaruhi adiknya biar nggak jadi.
“Mobil.”
“Kim ahjusshi mengantar appa, kan? Dan kau kan tahu kalau eonni nggak bisa nyetir?”
“Eonni memang nggak bisa, tapi Taemin oppa bisa kan?”

GLEK. Sungra menelan ludahnya dan langsung memutar otak, berusaha mencari alasan lain.
“Eumm… Mi-ah sudah minta izin eomma-appa?”
“Belum…”
“Sudah tanya Taemin –ehm- oppa, dia mau nggak?”
“Belum…”
“Nah, sekarang Mi-ah tanya Taemin oppa dulu, lalu minta izin, baru bilang sama eonni. Arra?”
“Arra~” dan Ahmi langsung menoleh ke Taemin yang baru leyeh-leyeh di sebelah Sungra.

“Oppa?”
“Oppa mau kok Mi-ah.” jawab namja itu langsung. Krik. Sungra melirik Taemin dengan tatapan ganas yang dibalas dengan senyum innocent.
“Ketimbang mereka berantakin rumah lagi Ra-ya~ mendingan pergi saja.” bisiknya begitu Ahmi beranjak ke telepon rumah untuk menelepon orang tuanya.
“Tapi aku malaaaas”
“Dasar.” Taemin menoyor kepala Sungra pelan. “Kalau nggak mau ikut ya sudah, di rumah sendirian saja.”
“Mwo? Shirheoooooo~”
“Makanya ikut saja ya Ra-ya~ ya, ya?”
Sungra baru akan membantah lagi ketika suara Ahmi menginterupsinya.

“Eonni, appa nih.” kata Ahmi cepat sambil menyodorkan wireless phone ke tangan kakaknya. Sungra mengambilnya dengan wajah masam.
“Yeobosaeyo… ne appa.”
“Nanti Taemin yang menyetir… katanya. Belum tahu mau ke mana.”
“Eh, Taemin? Sebentar.” Sungra ganti menyodorkan teleponnya ke Taemin.
“Igeo. Appa mau bicara.”
Sungra membiarkan Taemin berbicara serius dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengutak-atik iPodnya yang berhasil direbut paksa dari tangan Hyunchan.

“Ganti baju sana.”  perintah Taemin tiba-tiba.
“Heh? Jadi pergi?” padahal dalam hati Sungra sudah berharap ayahnya tidak mengizinkan mereka pergi. Ternyata…
“Iyaaaaa. Sekarang ganti baju Ra-ya~”
“Ke mana dulu?”
“Pokoknya jalan-jalan. Cepetan! Atau mau kugantikan bajumu?”

PLAK
Sungra memukul kepala Taemin keras-keras lalu meninggalkannya di sofa. Taemin hanya bisa pasrah dan mengusap kepalanya yang sakit itu sambil menggerutu pelan.
“Jiwan-a, nunamu itu kenapa anarkis sekali sih?” keluhnya ke Jiwan yang sudah pindah ke PSPnya.
“YA!! LEE TAEMIN! JANGAN MENGIRA AKU TAK DENGAR!” terdengar teriakan Sungra dari kamar, membuat Taemin makin menggerutu.
“Molla. Hyeong juga sih yang mulai.” jawab Jiwan santai, matanya tetap tertuju ke layar PSP. “Ketularan Hyunjoon nuna mungkin.”
Taemin mengangguk-angguk dengan wajah polos, seolah percaya dengan kata-kata Jiwan. Dasar kelewat polos -_-

“Nuna di belakang! Aku mau di depan sama Taemin hyeong!” Jiwan langsung membuka pintu depan dan duduk di jok depan. Sungra yang memang tidak berniat duduk di depan hanya mengangkat bahu, lalu memilih duduk di jok belakang. Alasannya? Biar bisa tiduran dong.
“Jiwan-a, minggir. Di sini tempat duduknya nunamu.” Taemin mendorong Jiwan turun dari bangkunya. Sungra yang merasa disebut langsung menggeleng.
“Biar Jiwan di depan saja. Aku mau di belakang, mau tidur. Masih ngantuk nih.” tolaknya cepat.
“Jadi aku dimana?” tanya Jiwan yang mulai kesal.
“Di belakang. Lee Sungra-ssi, kau duduk di depan.”

Sungra masih bergeming di tempatnya. Sejuta persen ia lebih memilih duduk di tempat itu daripada duduk di depan. Mana bisa merebahkan diri dengan santai kalau duduk di bangku depan? Ada juga ia diganggu Taemin melulu.
“Kau boleh tidur di depan. Ayolah.” Taemin membujuk Sungra. “Ji-a, seret saja nunamu ke depan.”
“Shirheo!” Sungra langsung bangkit berdiri. Alhasil kepalanya terbentur langit-langit mobil yang rendah. Asal tahu saja, cengkeraman tangan Jiwan amat-sangat-sakit-sekali. Apalagi dalam keadaan kuku yang belum dipotong.
Sungra mengusap kepalanya yang agak sakit sambil berjalan keluar dari mobil. Lalu ia masuk lagi lewat pintu depan dan langsung duduk dengan mata menatap lurus ke depan. Taemin mengangkat bahu heran, lalu segera menstarter mobil saat memastikan semuanya sudah masuk.

“Ini mau ke mana sih?” tanya Sungra saat mereka sudah keluar dari daerah perumahan itu.
“Toko buku.”
“Oh.”
Garing sekali sih -_-
“Kudengar komik-komik baru untuk bulan ini sudah keluar, lho.”
“Geurae oppa?” malah Hyunchan yang bereaksi terhadap kata-kata Taemin, membuat namja itu tersenyum masam. Niatnya kan mengajak bicara Sungra, bukan Hyunchan -_-
“Yaaaay! Sudah lama nggak beli komik~” Hyunchan terkekeh senang.
“Memangnya kau bawa uang?” tanya Jiwan, (masih) dengan PSP di tangannya.
“Nanti pinjam eonni dulu… ya eonni ya?”

Sungra mengangguk malas, matanya sudah setengah tertutup. Efek angin sepoi-sepoi dari AC dan lagu slow yang sedang diputar di radio, plus rasa kantuk yang memang tak tertahan. Sayang sekali ia tak sempat benar-benar tidur karena jarak rumahnya dengan toko buku lumayan dekat, jadi baru saja ia akan terlelap Taemin sudah keburu membangunkannya. Terpaksa ia turun dari mobil dengan wajah bersungut-sungut bercampur sembap kurang tidur.
“Tidurnya dilanjut di rumah saja Ra-ya, arasseo?” kata Taemin sambil separo menyeret Sungra masuk ke toko buku, menyusul ketiga dongsaengnya yang sudah masuk lebih dulu.

“Ra-ya! Lihat!” teriak Taemin dengan nada super-excited sambil menunjuk tumpukan komik baru yang langsung menyambut mereka. Surga dunia!
Kantuk Sungra langsung hilang sepenuhnya. Sekarang ganti ia yang menyeret Taemin ke arah ‘surga dunia’ itu dengan langkah cepat. Di sana sudah ada Hyunchan yang sibuk memilih komik incarannya.
“Eonni? Ini sudah punya belum?” tanya Hyunchan sambil menunjukkan komik Kocchimuite, Miiko! nomor 23. Makhluk itu memang maniak Miiko.
“Entah, sepertinya belum.” Sungra menjawab asal. Ia terlalu fokus menyisir judul-judul dan cover-cover komik yang terpampang di depannya. Sebentar saja sudah terkumpul 5 komik di tangannya.
“Mwoya? Banyak banget Ra-ya, kau bawa dompet kan?” komentar Taemin begitu melihat hasil ‘buruan’ Sungra. Dia sendiri baru memilih satu buku, satu judul komik yang tidak disukai Sungra tapi disukai olehnya. Yang disukai mereka berdua? Sudah diborong Sungra semua, jadi menurut hemat Taemin lebih baik ia meminjam punya Sungra saja nanti.

“Aku bawa lah, dasar.” jawab Sungra ketus. Sekarang ia pindah menghinggapi rak novel.
“Cukup nggak nanti buat bayar bukunya 3 dongsaengmu?” kejar Taemin sambil tetap mengikuti yeoja itu.
“Cukup cukup~ omong-omong mereka bertiga di mana ya?” Sungra yang sudah menyadari situasi balik bertanya.
“Hyunchan di sana tuh.” Taemin menunjuk ke bagian komik. “Terus… Jiwan di sana.” lanjutnya, menunjuk bagian majalah.
“Ahmi?” Sungra mulai panik menyadari dongsaeng terkecilnya yang tidak ada.
“Paling sama salah satu dari mereka berdua, tanya aja.” jawab namja di sebelahnya santai. Sungra bergegas menuju bagian majalah –masih sempat menyambar satu novel dari rak–, menghampiri Jiwan yang sibuk membuka-buka lembaran majalah.

“Jiwan-a, mana Ahmi?”
“Lho? Kan dia sama Hyunchan dari tadi, nuna.” Jiwan menggeleng tanda tak tahu pasti. “Omong-omong, hyeong! Lihat ini, game baru! Ayo kita coba, hyeong!”
“Oke, kapan-kapan ya!” jawab Taemin sebelum diseret Sungra ke tempat Hyunchan.

“Hyunchan-a, mana Ahmi?” lagi-lagi Sungra mengulang pertanyaan yang sama.
“Tadi di sebelahku, eonni-ah. Terus dia bilang mau kemana gitu. Kukira ia ke tempat eonni?” Hyunchan ikut panik.
“Mwo? Aaaah, dimana dia? Bagaimana ini? Min-ya aku harus gimanaaaaa~” rengek Sungra panik, tangannya menarik-narik baju Taemin.
“Dia bawa handphone nggak?” tanya Taemin sambil berusaha tetap tenang. Bagaimanapun sudah ada 2 orang yang panik di sini, kalau ditambah lagi nanti bisa-bisa Ahmi nggak ketemu.
“Nggak bawa, dia kan belum punya! Huaaaa eotteokhae Min-ya? Eotteokhaeeeee~”
Kepanikan Sungra memang beralasan. Toko buku ini lumayan besar, mencari Ahmi pasti butuh tenaga ekstra. Apalagi kalau terjadi sesuatu pada anak itu, bisa-bisa Sungra bunuh diri di tempat -_-
“Ayo kita cari dulu Ra-ya~ Hyunchan-a, ajak Jiwan mencari Ahmi, arra? Dia di bagian majalah. Aku dan eonnimu juga akan mencarinya.” perintah Taemin. Hyunchan mengangguk dan segera pergi ke tempat Jiwan.

“Ra-ya, sekarang kau tenang dulu, arasseo?” Taemin menangkupkan tangannya di bawah kepala Sungra. Sungra mengangguk dengan mata yang sudah basah, siap menangis kapan saja.
“Nah. Biasanya kalau dia ke toko buku, dia ke bagian apa saja?”
“Uhm… buku anak-anak, komik, majalah, stationary. Itu saja seingatku.” jawab Sungra cepat.
“Oke, sekarang kita ke bagian buku anak-anak. Kaja.” ajak Taemin sambil menggenggam tangan Sungra dan membawanya ke rak buku anak-anak. Mereka menulusuri tiap rak, tapi masih belum menemukan jejak Ahmi.
“Komik!” kata Sungra begitu mereka selesai menulusuri bagian itu secara detil. Pencarian di tempat kedua juga nihil, tidak ada Ahmi di sana.
“Majalah?”
“Tidak usah, tadi kan kita sudah lewat. Nggak ada di sana.”
“Berarti ke stationary?”
Taemin mengangguk singkat. Bagian stationary ada di pojok, jadi mereka bisa sekalian mencari selama menuju ke sana.

Baru setengah perjalanan ke bagian stationary, tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari speaker yang terpasang di sekeliling ruangan.
“Kepada orang tua dari Lee Ahmi, dimohon segera menuju ke pusat informasi dikarenakan sudah ditunggu oleh yang bersangkutan di tempat. Sekali lagi…”
Taemin dan Sungra berpandangan.
“MWO?”
“Mwa mwo mwa mwo, sekarang yang penting kita ke pusat informasi dulu!”

“Jwesonghamnida, mianhamnida, maaf sudah merepotkan…” Sungra dan Taemin membungkuk dalam-dalam di depan petugas pusat informasi. Ahmi duduk di sana dengan wajah innocent, asyik membaca buku yang memang disediakan di situ.
“Tidak apa-apa, Ahmi-a tidak merepotkan kok. Lain kali tolong jaga dia baik-baik.” kata eomonim yang bertugas di sana. “Tapi apa benar kalian orang tuanya? Kelihatannya kalian terlalu muda sebagai orang tua dari anak umur 7 tahun.”

UHUK. Sungra terbatuk dengan sadis, membuat Taemin refleks menepuk punggungnya dengan senyum terkulum.
“Ani imnida eomonim, kami, uhm… kakaknya.” jawabnya. Si eomonim mengangguk-angguk.
Setelah beberapa perbincangan basa-basi lainnya, ketiga orang itu meninggalkan tempat itu. Sungra cemberut terus setelah meninggalkan pusat informasi itu.
“Waeyo Ra-ya? Kan Ahmi sudah ketemu?” tanya Taemin heran melihat wajah yeoja itu yang tertekuk. Bukannya mengatakan sesuatu, ia malah menjitak kepala Ahmi pelan.
“Eonni-a appooooo!” pekik Ahmi.
“Lain kali jangan diulang lagi.” gumam Sungra sekilas. Sekarang ada 2 orang yang cemberut, si anak pertama dan si anak terakhir.

“Aish, dasar childish.” Taemin mencubit pipi Sungra sekilas lalu berjongkok di depan Ahmi. “Ahmi-a, maksud eonnimu, kau tidak boleh seperti itu. Kalau mau pergi ke satu tempat harus sama salah satu eonni atau sama oppamu. Mengerti?”
“Mengerti…”
“Johta! Anak pintar~” puji Taemin sambil mengacak rambut Ahmi. Lalu ia berdiri lagi dan menoleh ke arah Sungra. “Wajahmu tidak setua itu kok Ra-ya. Serius.”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Apa saja boleh. Sekarang… mana 2 orang itu?”
“He? 2 orang siapa?”
“Dongsaengmu yang lain! Kutarik lagi ucapanku tadi, dasar Halmeoni pikun!”

Setelah membayar semua belanjaan buku hari ini –dan untungnya uang Sungra cukup–, mereka segera keluar dari toko dan masuk ke mobil.
“Sudah, kan? Langsung pulang ya?”
“Nuna, aku lapar.” Jiwan menjawab nggak nyambung.
“Terus, mau makan gitu? Di mana?”
“Fast food aja eonni~” tambah Hyunchan. Sungra menghela napas, mengintip dompetnya, dan baru sadar kalau uangnya sudah hampir habis.
“Tapi…”
“Sudahlah Ra-ya, aku yang bayar nanti.” bisik Taemin sambil tetap konsentrasi menyetir. Kebetulan di dekat situ ada restoran fast food 24 jam yang tidak terlalu ramai.

“Mau drive-thru  atau makan di tempat?” tawar Taemin.
“Makan di tempaaaat!” jawab ketiga dongsaeng Sungra serempak. Taemin mengangguk kecil lalu memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong.
“Yakin kau akan membayarkan makanan mereka? Rugi bandar lho.” bisik Sungra setelah Taemin mengunci mobilnya.
“Geurae? Biar saja, hahahaha. Kan nanti tinggal minta ganti rugi ke ahjusshi~”

Seperti lazimnya anak kecil, begitu masuk ke restoran itu Ahmi langsung menuju play ground yang kosong. Hyunchan mencarikan tempat duduk, dan Jiwan (dengan penuh paksaan) ikut memesankan makanan bersama duo TaeRa.
“Paket nasi-ayam 5.” pesan Sungra.
“Nuna aku mau es krim~”
“Tambah es krim… sebentar, tanyakan yang lain dulu mereka mau es krim apa nggak.” perintah Sungra sambil mendorong Jiwan ke arah meja mereka. Semenit kemudian malah Ahmi yang datang menghampiri mereka.
“Eonni, Jippa sama Hyunnie minta choco sundae, sama aku juga~ terus sama French fries 3 eonni-ah~” kata gadis kecil itu. Sungra menyenggol Taemin.
“Tuh, kan? Kubilang juga apa. Rugi bandar.” desis Sungra. Taemin terkekeh lalu menambahkan pesanan ketiga dongsaeng Sungra itu, ditambah 2 untuk mereka sendiri.

Setelah memesan dan menunggu makanannya jadi (yang ternyata menghabiskan 4 nampan -_-) dua orang itu bergiliran membawakannya ke meja dan langsung disambut hangat (?) oleh 3 orang yang menunggu di sana.
“Sudah cuci tangan?” tanya Sungra sambil duduk di sebelah Ahmi. Taemin sendiri mengambil tempat di depannya.
“Sudaaaah~” jawab 3 dongsaengnya serempak. Err -_-

“Mi-ah bisa makan sendiri, kan? Perlu disuwir (?) nggak ayamnya?” tanya Sungra. Ahmi menggeleng lalu mulai memakan makanannya sendiri.
“Ra-ya mau kentang goreng?” Taemin menyodorkan satu kentang goreng, bermaksud menyuapi yeoja itu. Sungra menggeleng.
“Aku sudah punya Min-ya.” tolaknya dengan tatapan jangan-bertingkah-seperti-sepasang-kekasih-sekarang.
“Aaaaaah, nuna mau kok hyeong!” ledek Jiwan. Sungra mendelik ke arah namdongsaeng kurang ajar-nya itu dengan tatapan mematikan. Sialan-_-

“Ahahahahaha.” Taemin tertawa garing lalu melahap kentang gorengnya sendiri. Lalu setelah memakan entah berapa ia beralih ke nasi ayam (?) di depannya.
“Oppa~ tolong botol sambalnya dong!” Hyunchan meminta tolong. Taemin menggeser letak botol sambal di depannya ke dekat Hyunchan lalu kembali fokus makan lagi.
“Aish, aku merasa seperti babysitter sekarang.” gerutu Taemin. Sungra tertawa.
“Baru sehari Min-ya, aku sudah berkali-kali ~”
“Iya deh iya aku tahu~” balas Taemin sambil tersenyum kecil. Matanya menangkap sesuatu yang menggiurkan (?) di piring Sungra. Kulit ayam~. Tangannya langsung mencomot yang paling besar.
“MWOYA? Jangan dimakaaaaan!” Sungra berteriak histeris. “Aku mau!”
“Lho? Kalau mau kenapa ditaruh di pinggiran piring?” tanya Taemin yang sedang mengunyah kulit ayam itu.
“Soalnya enak, jadi aku makan belakangan! Aaah, mana kau ambil yang paling besar lagi -_-“ gerutu Sungra kesal.
“Ya maaf, kukira kau nggak mau. Nih, mau nggak?” Taemin menawarkan… tulang ayam -_________-
“Nggak usah makasih, aku bukan tempat sampah.”

“Eonniiiii kunci rumahnya mana?” teriak Ahmi dari pintu depan rumah. Sungra buru-buru turun dari mobil sampai hampir terjatuh, lalu mengaduk-aduk tasnya demi mencari sebentuk kunci, dan setelah menemukannya langsung membuka pintu rumah.
“Kami pulang~” teriaknya dan tentu saja tidak ada yang menjawab. Ketiga dongsaengnya mengekor di belakang dan disusul Taemin yang membawa kantong berisi makanan yang tadi tidak habis dimakan di restoran fast food itu.
“Kunci mobilnya ditaruh di mana Ra-ya?” tanya Taemin.
“Di sini saja.” Sungra menunjuk ke atas credenza yang juga berfungsi sebagai tempat menyimpan segala macam kunci di rumah itu. Taemin menurut dan meletakkannya di sana.

“Sekarang…” gumamnya. “Mana komiknya?”
“Dibawa Jiwan… Jiwan-a, mana buku-bukunya?” teriak Sungra sambil berjalan masuk ke ruang tengah. Ketiga dongsaengnya sudah pasang badan di tempat masing-masing dengan buku di tangan. Jiwan melirik ke arah Sungra sekilas, lalu menunjuk tas kain yang berada di depannya. Sungra mengambilnya tanpa mengatakan apapun, dan mengeluarkan seluruh isinya.

“Nih.” ia mengangsurkan satu buku ke tangan Taemin lalu mengambil sisanya dan beranjak pergi.
“Mau ke mana Ra-ya?”
“Kemana aja boleh~”  jawab yeoja itu sekenanya sebelum menghilang di puncak tangga. Taemin menggeleng heran, lalu meletakkan komik dan plastik makanannya di meja. Setelah itu ia membuka 2 bungkus (?) French fries, menuangkan isinya ke mangkok plastik, lalu membawanya bersama satu komik itu menyusul Sungra.
Ia menaiki anak tangga satu per satu dan mencari sosok Sungra. Tidak ada di balkon utama, tidak ada di ruang TV, tidak ada di perpustakaan, jadi pasti di kamarnya.
Namja itu mengetuk pintu yang tertutup rapat itu pelan.
“Nuguseyo?” terdengar suara Sungra dari dalam.
“Aku.”
“Masuk saja.”
Maka Taemin membuka pintu kamar Sungra perlahan. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Lah, kok kosong? Ini gimana ceritanya?
“Aku di balkon Min-ya!” kata Sungra seolah tahu kalau Taemin sedang mencarinya. Taemin terkekeh dan menggaruk kepalanya, lalu berjalan menghampiri Sungra yang sedang duduk bersila di balkon dengan komik-komik tersegel tersebar di sekelilingnya.

“Mau kentang goreng?” tanya Taemin, menyodorkan mangkok isi kentang goreng ke Sungra yang sedang serius membaca.
“Nanti.”
Taemin tak habis akal. Ia mengambil satu French fries di mangkok.
“Buka mulutmu Ra-ya~”
Sungra langsung melahap kentang goreng itu. “Kok nggak pakai saos?” protesnya.
“Yeee, dasar!” si namja mencubit pipinya pelan. “Ambil sendiri Ra-ya!”
Sungra diam saja, membuat Taemin ikut diam dan akhirnya memilih membaca komiknya sendiri.
“Kau cuma beli satu ya?” tanya Sungra tanpa mengalihkan pandangan dari komiknya.
“Mm? Ne~”
“Komik itu kan gambarnya aneh, kok kau bisa suka sih?”
“Molla~ mungkin aku memang menyukai sesuatu yang aneh. Hahahaha.” oceh Taemin tak jelas. Ambigu. “Seperti aku menyukai yeoja aneh di sebelahku ini. Kekekekeke”

Wajah Sungra langsung memerah dan ia memukul kepala Taemin dengan buku di tangannya. “Siapa yang aneh?”
“Neo~”
“Oh begitu? Ya sudah, toh kau juga aneh kok.”
“Kalau begitu kita sama-sama aneh? Enak saja! Aku nggak mau!” kata Taemin. “Kalau 2 orang aneh pacaran mau ngapain coba? Mendingan yang satu aneh, satunya waras! Nah kalau kita, yang waras itu aku, yang aneh kamu!”
“Mwoya? Aku yang waras!”
“Aku! Kau aneh!”

Advertisements

3 thoughts on “[One-Shot] One Day as… Babysitters?”

  1. cieeeeeeeeeeeeee XD
    ada sungra ahjumma sama taemin ahjussi niiiiih X3 Jinho~ ayo main sama Jiwan(?) XD
    waktu ada kata ‘nasi ayam’ yang kebayang malah nasi bungkus padang .__. terus taemin ongkang” kaki makan kayak di warteg #ditendangdariblog
    btw, boleh minta ahmi? <– permintaan macam apa ini?
    aaaah enak yaa.. bisa ngurus adek bareng namjachingu :3
    onnie mah nggak punya ("-__-)
    onnie suka edisi(?) ini saeng X3
    walopun masih ada cekcok(?) nggak penting *plak! tapi kalian bisa melaksanakan tugas dengan baiiiiiikkk *tebar bunga* *tiup terompet* *tabuh bedug*

    eheh, kalian MOS ya? hmm.. :7
    SEMANGAAAAT!! \(^o^)/

    1. eeeeeeh kenapaaaa :p
      ahjumma? YA! kalau aku ahjumma eonni apaan?! *ngamuk
      kenapa gak angkringan sekalian eonn? dia beli sego kucing, minumnya jahe, tambah gorengan 3 sama sate usus 1, jadinya berapa bu? *heh?
      boleh, alamat eonni mana? ntar saeng paketin deh XP
      nah sekarang masalahnya saeng gakpunya namjachingu -_- belom pernah nding hauahahahahahaha
      makanya, ahmi diambil aja eonn biar ada temennya di kosan *dikata kucing*
      cekcok? berasa infotainment banget… hahahaha iyadongg, taera gituuuuu :3

      ne, habis MOS masih ada lagi eonn, huuuu~ capek bangets -_- hahaha
      ne, hwaitiiiiing~

  2. Okee.. Aku ikutan berasa jadi aneh sendiri, soalnya dr tadi ga berenti ngikik.
    Astagaaa~
    Ini sih bukan babysitter, tp belajar jd keluarga baru.

    Set dah, anak 3 gitu yaa..
    Oke aku jg pernah ngalamin yg smacam ini (,–)

    Ahhh tapi ngakak ehh haha inget kata2 ‘Rugi Bandar’ itu ahahaha~ iyalah, anak kecil mah mahal dicemilan dibanding makanan beratnya. Hahaha XD

    Ahhh cari yg lain lagi ff nya XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s