[One-Shot] Past

Title: Past
Genre: Friendship, angst, romance
Rating: G
Characters: tebak-tebak berhadiah *eh

Ini utang fic buat sonya eonni, baru bisa bayar sekarang :p anyway Team 2-5 mungkin bakal saya pending sampai semua urusan sekolah (MOS, GVT, pengumuman kelas aksel dll) selesai. Jeongmal mianhae~ *bow

as a 10th grader

Raena’s POV

Duduk diam di depan ruang kelas matematika ini sambil menunggu anak-anak yang ikut pembinaan matematika pulang sudah jadi kebiasaan bagiku. Sejak kapan? Ehm… seingatku sejak namja evil itu dinyatakan jadi calon peserta olimpiade matematika yang akan datang. Aku jadi sering nongkrong di sini dengan dalih menunggui Hyunjoon yang juga ada di dalam, padahal sebenarnya…

Yah, sekali dayung 2-3 pulau terlampaui, kan?

“Rae-ah belum pulang?” tiba-tiba terdengar suara yang familiar di telingaku. Aku menoleh dan mendapati Sungra berdiri beberapa langkah di sebelah kiriku.
“Hehehe, belum Ra-ah, aku masih menunggu Hyunjoon,” jawabku cepat. Sungra menaikkan sebelah alisnya tanda tak percaya. Pasti habis ini dia mau meledekku lagi.
“Eo? Hyunjoon? Jeongmal?”
Tuh, kan -_-
“Ne, jeongmal.”
“Bukan si…”
“Ya, YA! Shikkeuro!” seruku sebelum ia menyebutkan satu nama keramat yang sangat terlarang disebut di depanku –apalagi di depan umum. Aish, pasti wajahku sudah amat sangat merah menahan malu kalau ia sampai menyebutkannya tadi.

“Iya iya, ampun Rae-ah, aku cuma bercanda~” ia terkekeh garing.
“Kau tidak pulang?” aku balas bertanya, berusaha mengalihkan topik.
“Nanti saja, malas.”
“Nggak pulang sama si itu?”
“Heh? Si itu siapa?”
“Si teman satu sekolah 14 tahun-mu ituuuu~”
“Oh… M-MWO?! Ngapain pulang bareng dia?”
“Siapa tahu~” godaku lagi. Sungra memasang wajah marah tapi kelihatan sekali kalau dia salah tingkah.
“Aaaaah, ngapain juga?” elaknya. Aku tertawa kecil dan langsung mendapat ‘hadiah’ pukulan telak di bahu.
“Ya! Appo!”
“Salahmu sendiri!” Sungra menjulurkan lidahnya dan tersenyum puas. Preman.

Sungra berdiri diam beberapa menit di tempatnya sambil mengutak-atik ponsel. Lalu ekspresinya berubah kesal dan ia memasukkan benda itu ke saku dengan kasar.
“Waeyo?” tanyaku.
“Eomma tak bisa menjemputku, Kim ahjusshi juga nggak bisa. Uh~ aku malas kalau harus pulang naik bus. Eh eomma malah menyuruhku pulang dengan makhluk aneh itu.” gerutu Sungra dengan bibir maju beberapa cm.
“Ya sudah, cari dia terus pulang sana.”
“Mendingan aku pulang naik bus daripada bareng namja itu. Err.”
“Oh. Tapi memangnya kau tahu jalurnya?”
“Tahu lah, gila aja.” ia menjulurkan lidah sambil lagi-lagi merogoh saku kanannya. “Aku juga ada uang buat ong… eh?”
Sungra berhenti, lalu ganti merogoh saku kiri dan kemeja juga jasnya.
“Uangku… kok nggak ada?” ia menepuk-nepuk kantongnya. “Seingatku tadi masih sisa 500 Won!”
“Bukannya tadi saat ada penggalangan dana pentas seni kau memsukkan lembaran 500 Won ke kotak?”
“Mwoya?” ia langsung lemas. “Aaah… bagaimana aku pulang kalau begini caranya?”
“Berarti sudah takdirmu untuk pulang dengaannya, tahu!” tawaku meledak, membuatnya makin manyun.
“Dasar Raena jahat, seorang Kim Raena yang jahat menyukai Cho… hmpft!”
Dasar, cara mengancamnya childish sekali! Terpaksa kubekap mulutnya dengan tangan agar ia tak banyak omong. Bahaya nih, tempat umum, tahu?!
“Jangan macam-macam Lee Sung… AH!”
Sialan, ia menggigit telapak tanganku. Buas!

“Kau itu yang jangan macam-macam, Kim Raena-ssi.” desisnya dengan nada berbahaya. Dasar preman, main fisik melulu.
Kami diam lagi, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sungra yang masih asyik merutuki nasibnya dan aku… yang mencuri pandang ke dalam ruang kelas matematika sekilas, mencari sosok namja iblis itu. Aish~ kenapa susah sekali sih melihat rambut cokelat ikal nggak jelasnya itu?  Apa karena niatku yang nggak benar?

“Aaaaah~ aku ingin pulang~” keluh Sungra beberapa menit setelah kami sibuk sendiri.
“Ya pulang saja, babo.” gumamku agak judes. Tak apalah sesekali aku meninggalkan kesan kalemku itu.
“Pakai apa? Aku pinjam uangmu dulu deh Rae-ah, jebaaal~ yayayaya~” rengeknya dengan intonasi yang (entah sengaja atau tidak) berubah jadi aegyo. Sepertinya ia punya gangguan kepribadian ganda, menurutku. Sebentar mirip preman pasar, detik berikutnya berubah jadi anak kecil.
“Shirheo! Enak saja!” tolakku tegas. Salah sendiri ia menggigit telapak tanganku tadi.
“Aaaaah Rae-ah, masa’ kau tega membiarkanku nggak pulang?” rajuknya. Err, aku jadi merinding, tahu.
“Daripada ngemis begitu, mendingan kau minta Taemin mengantrmu pulang sekarang.”
“Shirheo~”
“Gengsimu itu ketinggian. Anak a…”

“Ya! Mana Sungra?” tahu-tahu terdengar suara seorang namja. Kami berdua langsung menoleh dan mendapati sesosok namja berambut cokelat gelap, baju tidak rapi, dan wajah lebam di beberapa titik. Tipikal preman sekolah, dan itulah Lee Taemin si teman sesekolah 14 tahun Sungra sekaligus teman kecil dan tetangganya. Tuh kan? Mereka itu sepertinya memang sudah dijodohkan oleh alam semesta, keterkaitan mereka saja banyak sekali -_-
“Kenapa?” tanya Sungra ketus. Caranya untuk menutupi salah tingkah, aku tahu persis.
“Ayo pulang. Bareng aku,” kata Taemin, tapi ia langsung menyambungnya lagi. “Eh, maksudku, ayo pulang. Ahjumma menyuruhku mengantarmu pulang. Sekarang.”
Aish, anak ini setali tiga uang dengan Sungra. Cara mereka menyembunyikan salah tingkah terlalu mencolok. Sekalian jadian saja sana.

“Aku tidak mau. Aku pulang naik bus hari ini.” Sungra menggeleng, masih dengan wajah judes.
“Seret saja dia pulang Taemin-a, daripada ia mengemis pinjam uang ke anak-anak di SMA ini atau malah ke kondektur busnya. Memalukan.” cetusku. Sungra menatapku bengis tapi aku mengacuhkannya.
“Ayo pulang, cepat.” Taemin menarik tangan Sungra hingga yeoja itu terpaksa berdiri, lalu membawanya ke area parkir dengan separo menyeret. Masih terlihat Sungra beberapa kali mencoba melepaskan genggaman, eh, cengkeraman tangan Taemin di pergelangan tangannya, tapi namja itu tetap menariknya tanpa melakukan apa-apa. Err itu biar Sungra nggak melarikan diri atau apa? Sepertinya ada alasan lain. Dasar, mencari kesempatan dalam kesempitan -_-

Aku diam lagi begitu kedua orang itu menghilang dari pandanganku. Jelas, mau ngomong sama siapa?
Tanpa sadar aku melipat kakiku ke depan dada dan menumpukan kepalaku di lutut. Uh, bosaaan, ngantuk~
“Maaf, permisi.” terdengar suara nge-bass seorang namjayang membuatku celingukan sampai menemukan si pemilik suara.
“E, eh? Mianhamnida, sunbae!” aku buru-buru menggeser dudukku yang menghalangi akses ke pintu kelas matematika. Dan bukannya masuk kelas, namja berambut cepak dengan tatapan mata tajam yang kupanggil sunbae –karena seingatku dia murid tahun terakhir– itu justru duduk di tempatku tadi. Eh? Apa maksudnya, sih? Kenapa ia nggak masuk kelas?

“Kau… sering duduk di sini, kan?” tanya namja itu, membuyarkan monologku. Aku mengerutkan kening heran.
“Ne sunbae, eung… sunbae nggak masuk?” aku balik bertanya hati-hati. Bagaimanapun penampilannya agak membuatku takut ._.
“Ah, tidak. Omong-omong, Choi Seunghyun imnida. Jangan panggil ‘sunbae’ terus tanpa nama, nggak enak.”
Mwo? Nggak nyambung sekali. Mana ia langsung menyodorkan tangannya, ngajak kenalan nih ceritanya?
Aku hanya diam dan menatap sebelah tangan yang berada di depanku itu agak ragu sebelum kemudian menyambutnya.
“Kim Raena imnida.” gumamku pelan. Si namja-bermata-tajam, eh, Seunghyun sunbae hanya mengangguk sekilas lalu kembali diam. Aku makin bingung, apa maunya, sih? Ngapain juga ngajak kenalan tadi?

Diam terus membuatku bosan. Aku mulai celingukan mencari sesosok namja evil di dalam ruangan itu dari tempat dudukku. Aaaaah, susah sekali –” kalau dari posisi Seunghyun sunbae sih jauh lebih gampang, makanya tadi aku duduk di situ. Sialan –a

“Oh, Cho Kyuhyun, ya?”
Eh?
Aku refleks menoleh ke arahnya, dengan usaha maksimal agar tidak mengalami pemanasan maupun perubahan warna kulit di wajah.
“E, eh, maksud sunbae?” aku balas bertanya dan begitu sadar kalau kata-kataku agak tersendat, aku langsung tahu kalau usaha menutupi salah tingkahku gagal. Oh tidak, tamatlah riwayatku –”

“Aniyo, tidak apa-apa. Aku masuk dulu.” Seunghyun sunbae bangkit berdiri lalu berjalan masuk ke ruangan. Sempat kulihat sudut bibirnya terangkat sedikit sebelum ia berbalik tadi.
Tunggu. Ia… bisa tersenyum?
Raena bodoh! Dia kan manusia, bisa tersenyum lah! Gila saja kalau tidak bisa, memangnya dia apaan?

—————–

Dan hari ini, aku kembali menemukan diriku dengan kebiasaan lamaku, duduk diam di depan ruang pembinaan matematika. Hanya saja sepertinya objek ‘penungguan’ku berubah akhir-akhir ini, yah, lebih tepatnya terbagi ke dua orang, yaitu ke namja iblis dan sunbae bermata tajam itu. Memang aku tahu nama mereka, tapi rasanya terlalu frontal kalau aku sebut nama -_-

Beberapa waktu terakhir ini memang aku jadi sedikit lebih dekat dengan Seunghyun sunbae –yah, akhirnya aku menyebut namanya juga–. Entah kenapa, rasanya kalau aku mengajaknya bicara pasti selalu ‘nyambung’. Dan dia orang kedua setelah Sungra yang tahu ada apa antara aku dan Kyuhyun –ehm, meski sebenarnya ini hanya perasaan satu arah–, dan parahnya lagi, dia tahu sendiri. Aish, apa sikapku selama ini begitu mencolok ya sampai-sampai Seunghyun sunbae bisa tahu? Parah -_____-

Secara tidak langsung, Seunghyun sunbae menjadi mata-mataku di kelas pembinaan matematika. Berhubung aku tidak berkepentingan –kemampuan matematikaku dasar saja, tidak mumpuni seperti Kyuhyun atau Hyunjoon– jadi aku tidak boleh masuk. Jadi pekerjaan Seunghyun sunbae adalah, setelah pulang pembinaan, menceritakan ada apa saja di dalam. Tentu saja yang penting dan berhubungan dengan seorang Cho Kyuhyun. Kabar baik lainnya, ternyata Seunghyun sunbae dan Kyuhyun lumayan dekat. Tak heran kalau akhir-akhir ini kami –aku dan Seunghyun sunbae– sering pulang bersama. Bukan pulang bersama juga sih, hanya berjalan sampai gerbang lalu berpisah di sana karena ia akan pulang sendiri sedangkan aku menunggu jemputan atau naik bus.
Kalau menurut Sungra si partner galau(?)-ku beberapa minggu yang lalu, bisa-bisa nanti aku berpindah hati (?) ke Seunghyun sunbae. Kata-katanya waktu itu hanya kutanggapi dengan suara tawa, sekarang? Molla. Aku saja bingung dengan diriku sendiri. Labil -_-

“Annyeong Raena-ah!”
Aku menoleh. Seunghyun sunbae sudah berdiri di depanku dengan wajah datar, padahal suaranya barusan bernada riang. Ampun~ tak bisakah ia menambahkan sedikit ekspresi ke wajahnya itu? Dia itu sebenarnya tidak menakutkan, tergolong tampan malah apalagi saat tersenyum…
EH?
Ini lagi kebiasaanku setelah kenal dengan Seunghyun sunbae, aku jadi sering memujinya. Jangan-jangan kata-kata Sungra benar dan sudah mulai terasa efeknya padaku?
Tunggu, dia sebenarnya nebak atau nyumpahin sih?

Kenapa pikiranku jadi tidak fokus? -______________-

“Raena-ah, gwaenchanhayo?”
“Ah? Neee, nan gwaenchanha sunbae~ jadi ada apa hari ini?” aku mengalihkan topik. Aneh, wajah Seunghyun sunbae tiba-tiba berubah jadi tidak enak. Kenapa?
“Anu, itu… hari ini berjalan seperti biasa. Ia tetap aneh, seenaknya, dan tekun di kelas. Eung…” ekspresinya makin sulit dijelaskan. Kenapa sih?
“Waeyo sunbae-ah?”
“Aniyooo~” mulut Seunghyun sunbae masih setengah terbuka, menandakan ia masih ingin mengatakan sesuatu lagi tapi ia tampak ragu.
“Seunghyun sunbae?”
“Ah itu~ sebaiknya kita pindah tempat dulu Raena-ah. Kaja!”

Aku hanya melongo heran, tapi tetap mengikuti kemana kakinya melangkah. Akhirnya setelah berjalan tidak jelas ke sana kemari kami berhenti di dekat gudang sekolah yang sangat sepi. Aneh, apa maksudnya? Mau ngomongin apaan sih? Sebegitu pribadinya, ya?
Seunghyun sunbae berbalik, menatapku dari atas ke bawah, lalu menghela napas sebentar.
“Berjanjilah kau akan tetap berekspresi seperti itu setelah aku memberi tahumu sesuatu.” katanya kemudian.
“Eh? Maksud sunbae?”
“Tetap tersenyum seperti itu. Mengerti, kan?”
Aku mengangguk meski masih merasa ada sesuatu yang mengganjal dan aneh. Tiba-tiba saja suasana di sekitar kami berubah tidak enak.

“Ini tentang Kyuhyun…”
Dari nada bicara Seunghyun sunbae sepertinya ada sesuatu yang tidak enak dengan Kyuhyun.
“A…”
“Pertanyaannya nanti.” potong Seunghyun sunbae sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Terpaksa kubungkam lagi mulutku.

“Tadi waktu pembinaan… Kyuhyun keceplosan,” Seunghyun sunbae menggantung kata-katanya. Oke, ini mulai menyebalkan.
“Keceplosan apa?”
“Itu, eh, anu, tentang yeoja.”
“Mwo? Yeoja? Nugu?” jelas saja aku kaget, karena setahuku Kyuhyun jarang membicarakan tentang yeoja. Ani, dia terlalu cuek untuk memikirkan hal seperti itu.
“Kau mengenalnya.” gumamnya pendek. Ya! Ini bukan waktunya main tebak-tebakan! -_____-
“Sunbaeee, jangan main tebak-tebakan sekaraaaang!” paksaku.
“Yah~ pokoknya resiko tanggung sendiri.” Seunghyun sunbae mengangkat bahu dengan raut prihatin tersirat di wajahnya. Aku jadi makin penasaran .____.
“Sudahlah sunbae, kasih tahu saja! Jebaaaal~”
“Oke, oke, baiklah. Tapi tepati janjimu untuk tetap tersenyum!”
Aku mengangguk ragu, agak sedikit tidak yakin.
“Raena-ah, mian… yeoja itu Choi Hyunjoon.”

Eh?

Aku mengerjapkan mataku setengah tidak percaya. “Nugu sunbae-ah?”
“Hyunjoon, Choi Hyunjoon.” ulang Seunghyun sunbae lagi, tapi kali ini ia mulai waspada dengan gerak-gerikku.
“Ahahahaha, sunbae bercanda, kan?” cetusku, dan tiba-tiba saja pipiku sudah basah. Oh sial, aku menangis di depan orang lain. Aku langsung menyusut air mataku tapi tanganku ditahan oleh Seunghyun sunbae.
“Menangis saja, tidak usah ditutup-tutupi. Kau yeoja jadi pantas saja kalau menangis, tahu.” gumamnya, membuat air mataku menderas. Seunghyun sunbae menyeretku duduk bersandar di dinding luar gudang sekolah, lalu duduk di sebelahku dan menunggu hingga aku agak tenang.

“Kan sudah kubilang kau harus tetap tersenyum.” ia membuka pembicaraan setelah aku berhasil menenangkan diri.
“Kalau yang ini mana bisa, sunbae~” kataku dengan suara serak habis menangis.
“Mianhae. Jeongmal mianhae.” katanya cepat sambil menundukkan kepalanya.
“Gwaenchanha sunbae-ah~” aku menggoyangkan telapak tanganku di depannya. “Malah aku yang seharusnya berterima kasih sama sunbae. Kalau sunbae nggak ngasih tahu, aku pasti masih ngarep-arep sampai sekarang.”
“Memang sekarang sudah nggak?”
“Entah… sepertinya sudah nggak. Hehehehe.” aku menggaruk kepalaku canggung. Well, aku berbohong. Nggak mungkin aku nggak sakit hati, dan sepertinya Seunghyun sunbae tahu.
“Kan aku sudah bilang, kalau kau ingin mengeluarkan emosimu, menangislah…”

Pandanganku mengabur dan sekali lagi pipiku terasa basah. Perbincangan hari itu ditutup dengan tangisanku di dekat gudang sekolah.

———————

Obrolan dengan Seunghyun sunbae itu sudah terjadi lama sekali tapi rasanya baru kemarin aku mengalaminya. Sekarang aku jadi malas melakukan apa-apa. Sungra –sebagai partner galauku– juga tahu tentang hal itu, dan menurutnya sekarang aku terlihat seperti zombie. Aku jadi teringat rentetan omelannya tadi pagi,
“Kau ini sudah kurus, masih malas makan, ha? Nggak lihat pipimu jadi cekung? Lingkar matamu itu, aigoo~ mata panda saja kalah! Dan lagi! Tugas-tugasmu nggak ada yang beres sejak saat itu! Nggak bosan dimarahi seonsaengnim? Untung kau ini siswa unggulan jadi mereka tidak terlalu mempermasalahkannya!”
Sikapku kepada Hyunjoon tetap biasa saja. Bagaimanapun ini bukan salahnya, toh aku bukan siapa-siapanya iblis itu, kan? Aku nggak punya hak untuk marah padanya. Apalagi dia itu salah satu sahabatku, nggak asik kan kalau kehilangan sahabat tiba-tiba?

Aku menghela napas sambil mengarahkan pandangan ke dalam ruang pembinaan matematika. Tunggu, kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku masih saja berada di tempat ini bahkan setelah tahu tentang satu fakta itu. Bukan, bukan untuk melihat si namja evil itu lagi, tapi aku menunggu Seunghyun sunbae pulang. Entah kenapa rasanya aneh dan janggal kalau sehari saja tidak mendengar kata-katanya yang selalu menghiburku dan kadang mengomeliku saat melihat seperti apa keadaanku. Yah, namja itu makin lama makin mirip eommaku saja, mengatur ini-itu seenaknya -____-
Aku mengedarkan tatapanku ke sebagian ruangan yang terlihat dari pintu. Ada si evil, dan di sebelahnya… ada Hyunjoon. Sikap mereka biasa saja sih, tapi tetap saja…
Aaaaah, mataku pedas lagi~

“Babo, jangan dilihat!” kata seseorang sambil menutupi kedua mataku dengan telapak tangannya. Seunghyun.
“M-Mwo?” racauku. Sedetik kemudian Seunghyun melepaskan tangannya dari mataku dan sekarang yang bisa kulihat hanya badan namja itu yang menutupi akses pandangan ke ruang pembinaan matematika.
“Kau ini kenapa bodoh sekali?” gerutunya sambil menjitak kepalaku pelan.
“Eh, sunbae bukannya tadi ada di dalam?”
“Aku tadi ke kantin sebentar, pas balik tahu-tahu ada kau yang sudah memasang wajah separo mewek. Ya sudah.” jawabnya asal. Lalu ia memutar badanku hingga membelakangi pintu. “Nah, begitu lebih baik. Tunggu sebentar.”

Aku mendengar derap langkah kaki Seunghyun sunbae memasuki ruang pembinaan matematika. Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di depanku lagi lengkap dengan barang-barang bawaannya dan tas ransel tersampir di pundaknya.
“Lho? Sunbae mau kemana?”
“Ayo pulang!” ajaknya tanpa menjawab pertanyaanku.
“Mwo? Sunbae kan belum selesai!” tolakku cepat, tapi Seunghyun sunbae tetap berkeras mengajakku pulang. Akhirnya aku menyerah dan mengikutinya berjalan menjauhi ruang pembinaan matematika.
“Sunbae-aaaaah, jangan suka membolos!” omelku begitu kami sudah berjalan cukup jauh.
“Aku bolos juga demi kau, tahu.” gumamnya sekilas.
“Eh, apa?”
“Ani, aniyo!” ia menggelengkan kepalanya lalu memberiku isyarat agar mempercepat langkahku. Kami berjalan cukup lama hingga sampai di gerbang sekolah.

“Nih.” Seunghyun sunbae menyerahkan sebuah kertas yang terlipat rapi ke tanganku. Aku sudah akan membukanya tapi ia langsung melarangnya.
“Baca saat aku mengambil motor, arasseo? Sebentar.” ia melambai sekilas lalu berjalan cepat ke arah tempat parkir sepeda motor. Begitu ia menghilang di belokan kesekian, aku langsung membuka kertas kecil di tanganku cepat-cepat dan membaca isinya.

Semua orang di sekitarmu merindukan senyumanmu, tawamu, dan wajah ceriamu yang biasanya. Kata-katamu yang membangkitkan semangat semua orang, keramahanmu yang menyenangkan.
Patah hati bukan berarti kau telah kehilangan segalanya, bukan?
Setidaknya kau masih punya aku di sebelahmu, Raena-ah.

Mwo?

Aku tahu prinsipmu yang menolak memanggil orang lain dengan oppa, kecuali ia kakakmu atau orang yang spesial untukmu.
Jadi, maukah kau memanggilku oppa?

Dan satu lagi… ada gambar hati kecil di bawah kalimat-kalimat itu. A… apa maksudnya?
Sedetik kemudian aku paham maksud Seunghyun. Dan beberapa saat kemudian, aku sudah menemukan keputusanku selanjutnya…

Aku mendengar deru mesin motor dan benar saja, motor namja itu berjalan pelan ke arahku. Ia berhenti tepat di depanku dan membuka penutup helmnya.
“Mau bareng?” tawarnya dengan wajah datar, seolah tidak ada apa-apa. Aku tersenyum selebar-lebarnya.
“Mana helmnya, oppa?”

————————————————–

HUAHAHAHAHA
Miaaaaan ini bener2 pendek, serius deh -____- pendek banget demi apa, mana lama bikinnya *timpuk diri sendiri*
Buat sonya eonni, gimana eonn? ini behind the scene ente sama seung wkwkwkwkwkw XDD sudah puaskah? ada yang kurang? mian kalau jelek T_____T
oh iya, sekali lagi ya, Team 2-5 lanjuuuut setelah ane nerima pengumuman seleksi aksel. doakan yang terbaik njiiiih (soalnya saya sebenernya kepengen gak masuk tapi udah keburu nyaman sama anak2 sesama peserta tes aksel, kekekekekeke) jadi… yah, begitulah *eh *ditimpuk

Oiya, soal sekolah baru… udah mulai kerasan apalagi setelah GVT kemarin :3 sayang banget di SMA I gak ada bahasa korea -____- *sedih* jadi kali ini saya ambil bahasa jepang. Hehehehehehe 😄

Annyeong~ *lambai2 bareng taem*

Advertisements

8 thoughts on “[One-Shot] Past”

  1. hehehe X)
    hehehhehehhehee 😄
    AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!! XDD
    #langsungpelukseung #peluksampesesek #nggakmaulepas
    demi apa ini saya mau teriak baca ini (nggak jadi teriak, ntar dikira gila XD)
    aaaaa gomawogomawogomawoooooo~~ *bowbowbow*(?)

    seung baiiik~ :3
    seung ganteeng~ :3
    seung DAE~~~BAK! *plak! *diusir sungra karena komen geje*

    aigoo~ fic ini bakal di masukin list favorit deh X)
    walapun singkat, tapi pas bagian seung ngomongin soal kyujoon itu sedihnya~ gimana yaa~ yaaah begitula (T^T)
    karakter seung disini
    jadijadijadi, ceritanya seung udah suka sama saya dari dulu? #pedeakut #ditendang

    sukasukasukasukasuka! :’D
    saya terharu dengan kisah iniiii :”)
    aaa gomawo sungra~ gomawo aufaaaaa X’D

    1. baru kumat~ baru kumat~ *crossed-fingers*
      teriak wae eonn? *sok gak tau* *digebuk
      yah kenapa gak teriak aja? pasti seruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu *plakkk
      cheonmaneyo eonni aah~ 😄

      saya bersedia menerima aspirasi eonni kok, mau yang gaje, mau yang random, mau yang aneh, apa aja boyeeeeeh :p

      gomawo eonni-ah nyampe dimasukin list fav :3
      jelas, itu nyesek banget, jleb banget, saeng aja gakbisa bayangin mau ngapain kalau ada di posisi raena -_-
      ehem, gimana yaaaa *senggol seung*

      gomawo eonni 😄
      cheonmaneyo (lagiiiii) 😀

      1. teriak? nggak mauuuu nanti seung nya pergiiiiii(?)

        ahahhahahaa 😄
        ini nih, dialog onnie sama sungra di ff ini 😄
        mulai dari ‘berisik penting’ sampe jadi temen ‘curhat’ eh galau XDD

        iyaaaa.. rasanya gimanaaa gitu ‘~’
        suka laaah sukaaaaaa #maksa

        yuhuuuuu~ gomawo lagiiii 😄

        1. yeee emangnya seung cowok apaan denger orang teriak terus kabur *eh

          wakakakaka, itu penting-gak-penting banget eonn 😛
          maklum, saeng suka ngerandom hehehehe *plak

          sediiiiih TT^TT
          yaudah, tanya seung aja biar lebih spesifik lagi *eaaaaa

          cheonmaneyo lagiiiii 😄

        2. seung cowok baik-baik kok saeng #peluk eh nggak boleh yaa lagi puasa(?) cubit aja deh *plak!

          random kamu onnie suka 😄

          jangan nangiis :’) #salah
          nggak mau ah nanya dia, maluuuu :3

          mm.. gomawo lagi nggak yaaa #sukanggakjelas 😄

        3. hayoooo gak boleh peluk, ppoppo ajaaaa xp *plak *salah

          gomawo eonni, terharu nih ada yang suka random sayaaa 😄

          uuuuh, raena sok malu malu kucing deh :p wkwkwkwwkwkw

          kasih cheonmaneyo lagi gak eaaaaaaaa 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s