Team 2-5 [Part 5.5]

Title: Team 2-5 [Part 5.5]
Genre: Comedy
Rating: PG-13
Character: gampang ditebak 😄

The last part ._____.
Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 5.1 | Part 5.2 | Part 5.3 | Part 5.4

Miho celingak-celinguk sebentar mencari Matsujun yang menghilang begitu mereka keluar dari 4D Theater. Padahal selama di dalam tadi mereka duduk bersebelahan, dan mereka juga keluar bersama. Bagaimana mungkin makhluk itu tiba-tiba menghilang seperti ini?

“Aku disini~” tiba-tiba seseorang merangkul bahu Miho dari belakang, membuat yeoja itu agak tersentak.
“Ya! Kau membuatku bingung, tahu tidak?” protes Miho sambil memukul tangan Matsujun keras.
“Ah! Appo~” rajuk Matsujun.
“Terus?”
“Tanggung jawab~”
Miho menatap Matsujun dengan tatapan tidak tertarik, memaksa namja itu menghentikan aksi merajuknya dan berdiri diam di tempat. Kakinya bergerak-gerak memainkan udara (?) di sekitarnya.

“Aish~ jangan ngambek terus kenapa? Jadi pergi, nggak?”
“Jadiii~”
Sebenarnya yang namja siapa, yang yeoja siapa-____-
“Hoo, ya sudah, kaja!” ajak Miho sambil melambaikan tangannya ke arah Raena dan Seunghyun yang berada nun jauh di sana dan kebetulan sedang melihat ke arah mereka. Setelah itu, ia langsung menggamit tangan Matsujun. Sebenarnya mereka ini sudah jadian atau belum, sih-_-

“Tidak apa-apa kau menggandengku seperti ini? Nanti namjachingumu marah kalau tahu~”
“Kan aku sudah bilang, aku tidak punya namjachingu.” Miho mengerucutkan bibirnya, merasa agak tersindir oleh pertanyaan Matsujun tadi.
“Jeongmal?”
“Jeongmal. Kenapa, sih? Mau jadi namjachinguku apa?”
Matsujun tertawa. “Hooo, entah. Hanya ingin tahu saja…”

—————-

Dua orang itu tidak segila KyuJoon yang mengeksplorasi semua wahana yang ada. Bagi mereka, cukup dengan mencoba atraksi yang menurut hemat Miho ‘aman’ bagi keselamatan jiwa dan perutnya. Sisanya, mereka lebih banyak berjalan-jalan. Dan lagi, berhubung ini hari minggu dan sudah bisa dipastikan kalau Lotte World sedang ramai-ramainya, mereka jadi makin malas mencoba atraksi gara-gara melihat antriannya yang mengular kemana-mana. Tipikal orang yang nggak suka ribet.

“Mau ke mana?” tanya Matsujun, matanya menatap malas ke area bermain yang benar-benar ramai.
“Hmm, terserah. Asal yang tidak ramai saja.” jawaban Miho, sama sekali tak membantu. Malah membuat Matsujun semakin bingung menentukan tempat tujuan mereka.
“Jalan-jalan?”
“Ini kita sedang apa sih Jun-kun kalau bukan jalan-jalan?”
“Maksudku ke satu tempat, bukan muter-muter nggak jelas kayak gini! Ngerti?” Matsujun memberi penekanan di akhir kalimatnya. Miho mengangguk malas.
“Kan aku sudah bilang, terserah kau saja.”

Mereka teruuus saja saling bantah seperti itu sampai kedua orang itu berada entah di mana. Begitu sadar kalau mereka tersesat, Miho langsung berhenti mengeluarkan argumentasinya.
“E-eh, ini di mana Jun-kun?” tanya Miho yang benar-benar buta arah.
“Heeeeh? Kukira kau tahu, makanya aku mengikutimu dari tadi!”
“Aku cuma mengikuti arus yang ada di dekat kita saja tadi~ aduh, kita di mana sih?”
“Sebentar, sebentar… kau bawa peta?”
“Nggak, tadi dibawa Sungra, padahal dia kan sudah hapal letak-letak wahana di Lotte World -_-“

Matsujun memukulkan tangannya ke kepala. “Mati! Eotteokhae?”
“Ya! Jangan lupakan aku!”
Sementara itu, mereka terus saja berjalan (lagi-lagi) mengikuti arus. Tak ada yang sadar atau berusaha mencegahnya, dua orang itu terlanjur larut berdebat. Sampai akhirnya, mereka berhenti di depan Haunted House yang lumayan sepi. Mereka masih saja berdebat dan berjalan masuk ke dalam atraksi itu.
“Silahkan masuk…” petugas yang menyambut (?) mereka di depan pintu wahana itu tersenyum dan mempersilahkan mereka masuk dengan setengah mendorong.
“Hah? Eh? Mwoyaaa?!” Miho langsung bereaksi (telat) begitu petugas tadi mendorong mereka masuk lewat pintu dan menutup pintu itu. Sekarang mereka berada di tengah kegelapan, tidak bisa melihat apa-apa.
“Apa-apaan iniiiiii?” Miho berteriak histeris.
“Aish~” Matsujun mendengus pelan.
“Eotteokhaeyo Jun-kun? Eotteokhae? Aku takut~ huhuhu…” sekarang Miho berubah ke mode merengek. Tangannya menarik lengan baju Matsujun panik. Dia paling anti dengan segala hal yang berbau hantu-hantuan seperti ini. Rumah hantu ada di nomor terakhir list wahana yang ingin didatanginya di Lotte World, bersama dengan Roller Coaster dan atraksi lain yang bikin mual.

“Ssh, Miho-chan, kau mau keluar, kan?” Matsujun berusaha mengendalikan situasi. Ia menurunkan tangan Miho dari lengan bajunya lalu menggenggam sebelah telapaknya erat. Dingin karena ketakutan.
“Kalau mau keluar, mau tak mau kita harus berjalan sampai ke pintu keluarnya. Mengerti?”
“Tapi…”
“Tenang saja, kan ada aku!” Matsujun menepuk dadanya sok berwibawa. Tak urung Miho jadi tertawa, meski agak tertahan karena masih bercampur rasa takut.

“Sekarang, kau bawa senter, tidak?” tanya Matsujun. Miho menggeleng.
“Pakai layar handphone saja Jun-kun, eotte?” tawar Miho sambil mengambil handphone layar lebarnya dan mengaktifkannya. Beruntung sekali nyala LCD layarnya cukup terang kalau digunakan untuk menerangi sekitar mereka. Setidaknya, jarak pandang mereka bertambah jadi kurang-lebih 2 meter.
“Begini lebih baik…” gumam Matsujun. Ia merasakan tangan Miho di genggamannya sudah tidak begitu dingin lagi.
“Kaja Miho-chan!” ajaknya sambil menarik Miho agar yeoja itu mengikutinya. Mereka berjalan dalam diam dan cepat-cepat, tangan Miho benar-benar menggenggam tangan Matsujun erat-erat saking takutnya.
Menit-menit pertama mereka mulai berjalan, tidak ada yang aneh-aneh. Sejauh ini Miho belum mengeluarkan reaksi super histeris, paling banter cuma berteriak kaget saat ada sesuatu yang jatuh dari atas. Selebihnya, ia lebih banyak diam atau sekedar mengeratkan genggaman tangannya.
Tapi jangan salah, bagian yang menyeramkan baru akan dimulai setelah itu *evilsmirk*

“Jun-kun, masih jauh ti… KYAAAAAAAAAA!” Miho refleks memeluk lengan Matsujun saat melihat sesosok hantu nenek-nenek datang menghampiri mereka. Sesuai instingnya untuk melindungi diri, Miho bergeser ke belakang Matsujun dengan masih memeluk lengan namja itu erat-erat.
Hantu nenek-nenek (palsu) itu makin mendekati mereka. 10 meter, 8 meter, 6 meter, 4 meter, 2 meter…

“Annyeong haseyo…” dengan santainya Matsujun justru menyapa hantu nenek-nenek itu, dan dibalas dengan tatapan aneh serta anggukan ragu dari si hantu. Begitu si nenek-nenek menjauhi mereka, Matsujun langsung menyeret Miho agar mulai berjalan lagi ke pintu keluar nun di ujung sana.
“Kalau kau takut, tutup matamu saja, ara?” bisik Matsujun.
“Lebih menyeramkan kalau menutup mata, tahu?” Miho menggeleng keras-keras. Ia bersikeras tetap membuka mata dengan kompensasi lengan Matsujun yang jadi korbannya, tapi Matsujun sama sekali tak keberatan. Ia malah senang karena bisa menjadi tempat bergantung satu-satunya Miho. Yah, setidaknya sampai mereka keluar dari rumah hantu itu, iya, kan?

Tiba-tiba Miho merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tengkuknya, membuat bulu kuduknya merinding seketika. Ia sama sekali tak berani menoleh dan berusaha tetap tenang serta terus berjalan di sebelah Matsujun.
“Chogi, tunggu sebentar…”
Matsujun langsung berbalik dengan Miho yang mengkeret ketakutan di sebelahnya. Di belakang mereka ada seseorang berkostum vampire yang berwajah pucat. Sepertinya ia tadi orang yang memegang tengkuk Miho, mungkin maksudnya ingin memanggilnya.

“Kalian berdua sudah terlalu lama berada di dalam, kata petugas penjaga pintu di depan. Jadi tolong segera keluar…” vampire itu meraba-raba dinding di sebelahnya. “Lewat sini.” lanjutnya sambil mendorong satu bagian dinding hingga terbuka dan menampakkan keadaan di luar Haunted House. Ternyata ada pintu di sana, Miho dan Matsujun mana tahu -_______- coba saja kalau mereka sudah tahu dari tadi, pasti mereka sekarang sudah tenang-tenang saja di depan sana.
Miho dan Matsujun berjalan keluar lewat pintu itu setelah berterima kasih dan meminta maaf kepada si vampire. Begitu sampai di luar, reaksi pertama Miho adalah tawa lega karena sudah lepas dari rumah hantu sialan itu, dan tawa Matsujun saat mengingat ekspresi Miho di dalam tadi.

“Sekarang mau kemana?”
“Makan saja, semua teriakan tadi membuatku lapar, tahu.” Miho memasang wajah super-kelaparan, membuat Matsujun kembali tertawa.
“Arasseo, foodcourt?”
Miho mengangguk setuju. Mereka berdua langsung berjalan meninggalkan TKP (?) ke foodcourt yang berada di dekat mereka.

Satu yang tak berubah, Miho masih memeluk lengan Matsujun seperti saat di dalam rumah hantu tadi.

———

“Sudah kenyang?” tanya Matsujun setelah mereka selesai makan. Miho menggeleng.
“Lah?”
“Kan katanya, ‘berhentilah makan sebelum kenyang’, hehehehe…” Miho tersenyum innocent. Matsujun menggelengkan kepala heran dengan tingkah yeoja itu.
“Oke, terserah saja, deh. Kemana sekarang? Rumah hantu lagi?”
“Ya! Shirheo!” Miho langsung menjitak kepala Matsujun keras. Sudah tahu tadi dia ketakutan setengah mati di sana, kenapa masih diajak? -______-
“Iyaaa, kan aku cuma bercanda! Ke daerah toko-toko itu saja, bagaimana?” Matsujun menawarkan satu opsi yang menurutnya cukup ‘aman’. Bukan atraksi menyeramkan dan bisa dinikmati oleh semua kalangan.

“Hooo, boleh! Tumben kau punya ide bagus!” ledek Miho. Matsujun mendorong dahi Miho dengan telunjuknya pelan, lalu bangkit berdiri dan menunggu hingga Miho ikut berdiri juga.
“Kaja Jun-kun! Aku ingin belanjaaa~”
Ehm, sepertinya pilihan itu agak sedikit salah? ._____.

——–

“Jun-kun, itu Taemin bukan sih?” tanya Miho sambil menunjuk ke arah seorang namja berambut super-light brown acak-acakan yang berada di dalam salah satu toko. Di sebelahnya ada yeoja yang kurang-lebih hanya setinggi dagunya, dan Miho langsung tahu kalau itu Sungra.
“Kurasa iya.” gumam Matsujun tak jelas. Entah kenapa, ia tertarik untuk mengamati dua orang itu.
“Lho? Taeminnya mau kemana? Kok Sungra ditinggal?” tanya Miho heran. Taemin berjalan meninggalkan Sungra yang masih sibuk sendiri dengan barang-barang yang sedang dipilihnya, dan namja itu menuju meja kasir sambil membawa… boneka Keroro?
“Ah! Keroro… Sungra paling suka Keroro!” Miho langsung nyambung. “Itu buat Sungra? Wah, aku juga ingin~”
“Kau ingin boneka Keroro juga?” tanya Matsujun yang masih belum ngeh dengan maksud Miho.
“Bukan~ maksudku aku ingin dibelikan sesuatu yang paling~ aku sukai oleh namjachinguku… kalau aku punya nanti…”

Matsujun membulatkan mulutnya mengerti. Ia langsung tahu tindakan apa yang akan ia lakukan setelah ini.
“Ah, eh, itu, ayo ke toko itu, eotte? Nggak enak nontonin orang terus.” Matsujun membalikkan badan Miho agar menghadap toko yang berada di belakang mereka. Sebelum ikut berbalik, Matsujun masih sempat melihat Sungra yang menahan Taemin dengan bonekanya, dan tak urung membuat namja itu mendengus menahan tawa.
“Apa yang lucu? Ada apa? Ada apa?” tanya Miho semangat dan penasaran.
“Bukan, bukan apa-apa. Ayo, jadi nggak? Ke sana kan?” Matsujun mengalihkan perhatian Miho dan merangkul bahunya, lalu berjalan ke toko itu. Begitu masuk ke dalam, Miho langsung memisahkan diri dari Matsujun dan namja itu sama sekali tidak menyusulnya atau apa. Ia justru menjauh dari Miho dan mengambil handphonenya dari saku, lalu menelepon satu nomor yang sudah ia hapal luar kepala.

“Ada apa?”
Dasar tidak sopan. Matsujun hampir saja mengucapkan itu, tapi langsung berhenti begitu ingat kalau orang yang sedang diteleponnya adalah orang yang memegang kunci keberhasilannya.
“Aya-chan, aku mau menanyakan sesuatu padamu.”
“Kenapa? Tentang Miho?”
“Bisa dibilang iya. Dia suka apa, sih?” tanya Matsujun. Ayako diam sebentar, mungkin dia sedang berpikir.
“Kalau minuman, dia suka sari apel. Hmm, kurasa ia juga suka sesuatu yang ada hiasan bintangnya, semacam itulah.” Jawab Ayako setelah berpikir sekian lama.
“Hoo, begitu? Oke, jangan melakukan yang aneh-aneh dengan Hyukjae, ya!”
“MWO? Maksudmu apa, ha? Dasar…” KLIK. Matsujun langsung memutuskan panggilannya begitu Ayako siap mengomel. Mengerjai Ayako adalah salah satu guilty pleasure favoritnya, dan dia benar-benar menikmatinya.
Sambil masih terkekeh, Matsujun mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari sesuatu yang kira-kira pas dengan kriteria benda kesukaan Miho. Pandangannya jatuh ke couple mug dengan hiasan gambar seorang yeoja di satu mug, dan namja di mug lainnya. Gambarnya simple dan tidak begitu ramai, ditambah lagi, seingatnya warna kesukaan Miho sama dengan warna kedua mug itu. Meski pada akhirnya ia tidak membeli sesuatu yang ada hiasan bintangnya, menurutnya ini jauh lebih bagus dan berguna ketimbang sesuatu yang lain. Kalau aksesoris dan sebangsanya, pasti Miho bisa memilih sendiri, iya, kan?

Jadi Matsujun segera membayar kedua couple mug itu, lalu berjalan mencari Miho yang masih berada di bagian fancy.
“Kau beli apa Jun-kun?” tanya Miho saat melihat tas plastik di tangan Matsujun.
“Ini? Bukan apa-apa kok.” Matsujun menutupi tas plastiknya agar tidak terlihat oleh Miho. bukannya ia tak ingin Miho tahu kalau ia membelikan yeoja itu sesuatu, tapi sepertinya belum waktunya Miho tahu. Nanti saja.

“Sudah selesai memilihnya?” tanya Matsujun. Ia melirik Miho yang sudah membawa berbagai macam barang di tangannya. Sepertinya hasrat belanjanya benar-benar terpenuhi hari ini.
“Sudah kok, ini saja cukup. Aku bayar dulu, ya~” kata Miho sambil berjalan menuju meja kasir. Matsujun membiarkan yeoja itu mengurus urusannya sendiri, dan sambil menunggu ia berpikir kapan sebaiknya ia memberikan couple mug tadi ke Miho.
“Heyaaaa, ngelamun ya? Nggak baik, tahu! Ini masih siang!” acara ayo-berpikir-nya Matsujun terhenti oleh suara dan kibasan tangan Miho di depan wajahnya. Matsujun hanya tersenyum menanggapi gerak-gerik Miho yang agak tidak jelas.

“Keluar, yuk? Sudah semua kan?” ajak Matsujun. Miho mengangguk dan mereka langsung berjalan keluar dari toko itu.
“Ke mana lagi?” tanya Miho.
“Hmm, ke…”
“Miho-aaaaah!” tahu-tahu terdengar suara seorang yeoja yang familiar di telinga Miho. Ia langsung menoleh dan mendapati Raena berdiri di sana dengan Seunghyun di sebelahnya. Ekspresi wajahnya campuran senang dan… lega? Ada apa ini?
“Ne Rae-ah? Wae?”
“Ayo ke Ferris Wheel! Disuruh Hyunjoon, nih!” ajak Raena. Miho memasang wajah malas.
“Ngapain?”
“Nggak tau~ sudah, turuti saja, ketimbang ada ratu iblis ngamuk? Yaaa?”
Sekarang Miho menambahkan raut takut ke wajahnya. “Harus, ya?”
“Sebisa mungkin iya, deh.”
Miho menghela napas, lalu melirik Matsujun. “Kaja Jun-kun!”
Ia langsung menggandeng tangan Matsujun dan berbalik, lalu berjalan meninggalkan Seunghyun dan Raena.
“Miho-ah, memangnya kau tahu dimana Ferris Wheel-nya?” tanya Matsujun penasaran. Miho berhenti.
“Ng, erm, err… tidak.” yeoja itu tersenyum innocent, membuat Matsujun menghela napas gemas.
“Ya sudah, tunggu Seunghyun dan Raena saja…” gumam namja itu. Akhirnya mereka kembali balik badan dan menunggu Seunghyun serta Raena yang masih berada jauh di belakang mereka.

“Lah, kenapa berhenti?” tanya Raena.
“Eh, anu, itu… Ferris Wheel-nya dimana?” tanya Miho. “Aku tidak tahu, nih. Apalagi Matsujun.”
Raena melirik Seunghyun. “Seung-ah, kau tahu tidak? Aku nggak tahu, lho.”
“Eh… tidak Rae-ah.”
Mereka berempat saling berpandangan tak percaya. Bagaimana ini?

———

Akhirnya setelah tanya sana-sini, Matsujun dan Seunghyun mendapat petunjuk jalan ke Ferris Wheel. Keempat orang itu langsung berjalan-cepat ke TKP.
“Itu Ferris Wheelnya!” Raena menunjuk salah satu wahana yang ada agak jauh dari mereka. Mereka langsung mempercepat langkah hingga akhirnya sampai di Ferris Wheel itu dan menemukan 6 orang lainnya di sana.
“Telat.” gerutu Hyunjoon sambil menyodorkan 4 tiket ke depan 4 orang itu. “Naik berdua-berdua. Mengerti?”
“He? Berdua-berdua?” tanya Miho memastikan. Hyunjoon mengangguk malas.
“Ne, kenapa?”
“Ah tidak, tidak, tidak. Kaja!” Miho berusaha menutupi kegugupannya karena harus naik Ferris Wheel dengan Matsujun. Padahal tadi kan mereka sudah skinship banyak sekali, kenapa masih pakai acara gugup sih? -_____-
“Hoo, ya sudah. Ayo ke sana!” perintah Hyunjoon. Mereka bersepuluh segera berjalan ke wahana itu, dan empat orang di antara mereka mash bersikap canggung.

Dan sekarang, Miho dan Matsujun sudah berada di atas wahana itu, hanya berdua. Matsujun masih bingung tentang kapan sebaiknya ia memberikan couple mug tadi ke Miho, dan Miho… sepertinya ia sibuk sendiri dengan kegugupannya .__.
“Miho-chan~” panggil Matsujun. Miho menoleh dan menaikkan alisnya ke arah Matsujun.
“Kau bilang kau ingin dibelikan sesuatu yang kau sukai oleh namjachingumu, kan?” tanya Matsujun. Miho mengangguk. Entah kenapa ia jadi makin salah tingkah kalau begini caranya.

“Igeo.” Matsujun menyodorkan tas plastik berisi couple mug-nya tadi. Miho menerimanya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
“Boleh kubuka?” tanya Miho. Matsujun mengangguk mengizinkan, dan Miho langsung membuka kotak itu.
“Uwaaa~ kyeoptaaa~” katanya langsung begitu melihat isi kotak itu.
“Kau suka?”
“Sekali!”
“Tapi sayangnya kurang satu syarat lagi, iya, kan?” gumam Matsujun.
“Heh? Maksudmu?”
“Yang membelikannya bukan namjachingumu.” Matsujun menunduk, menghindari tatapan mata Miho.
“Eh…”
“Jadi… kalau begitu… aku boleh jadi itu, anu, itu…” sekarang ganti Matsujun yang gugup.
“Boleh, kok.” Miho tersenyum kecil, masih dengan couple mug itu di pangkuannya. Matsujun tersenyum lega, lalu mengacak rambut Miho sekilas dan mencium pipinya agak lama.
“Gomawo Miho-chaaaan~” katanya gembira sambil menarik Miho ke dalam pelukannya.
“Ya! Ya! Hati-hati! Nanti mugnya jatuh!”

————

Akhirnya selesai jugaaaa *sujud syukur*
yang ini tuh sebenernya pendek-pendek, tapi entah kenapa butuh 2 bulan lebih buat nyelesaiin semua ceritanya._.
terus maaf kalau part ini agak gaje, habisnya saya bikinnya bener-bener buru-buru -_-”
oh iyaaa, sekalian, special thanks to:

– Hyunjoon eonni, reader pertama saya :p dan pengkomen gila, sekaligus temen 40-minutes-talk 😄
– Raena eonni, yang rajiiiiin banget komen di sini, saya jadi ngerasa bersalah karena sering telat bales komennya, mian eonniiii T^T
– Ayako, yang jarang nongol dan selalu dikangenin. unyu deh :3
– Bee eonni, gwaenchanha kok eonn kalau taunya telat, hehehehe :p saeng juga udah tau blog eonni dari dulu cuma jarang visit sama komen aja :p

dan juga buat reader-deul *bahasaapaini* lainnyaaaaa *emangnyaada?*

Advertisements

4 thoughts on “Team 2-5 [Part 5.5]”

  1. huwaaaaaaaaaaaaa!!!!!! ternyata kebagian ferris wheel juga… ngimpi apa aku dipasangin ama Matsumoto Jun~ Aaah, dia idola pertama aku.. huwaaaaa nangis terharu banget. makasih saeng, ga nyangka banget aku bisa main di ff (?_?)

    huwaaaaa lagi~ dicium pipi ama matsuJun~ ya ampun, si kisseu-whore itu?? *uups, mian… abis emang itu panggilannya dia.. dia kalo akting ga pernah ga kisseu2 sih..* Jun-nieeeeee…

    Sungra saeeeeng~~~

    Huwaaaa~~~

    *ini orang kelebeannya kelewatan deh. pergiiii!!!!*

    1. *tebar kembang* (?)
      sama sama eonn, maaf kalau tidak bermutu ( _ _)”

      kisseu-whore? aigooooo .______. kayak heechul gitu dong ya? saeng cuma tau mukanya doang kalau si matsujun teh~

      *nontonin

  2. uuuuu unyuuuuu :3
    akhirnya yaa mereka nggak nyasaaar 😄
    eiyyyy waktu di rumah hantuuu.. bee onnie suka yaaa pegang-pegang jun? :3
    dibeliin mug *bayangin* mauuuuuuuu .___.
    naik bianglala :3 #nggakjelasbanget

    ECIEEEEEEEEEEEEEEEE 😄
    bisa banget yaaa Jun mancing obrolan gituuuu 😀
    bener banget tuh! kan Jun belum pacar, jadi harus jadi pacar dulu, jadiiii.. beli hadiah lagi! #semakingakjelas
    JADIAN!
    PEJE! *plak! 😄

    1. alhamdulillah yah gak nyasaaaaar 😄
      hmm, namanya juga skinship coupleeee :p 😄
      saeng juga mauuuuuuuu~ unyu banget pastiiiii :3
      wakakakakak, seungna naik ferris wheel nggak eaaaa 😄

      hmm, namanya juga matsujun :p
      mwo? ye, itu mah nggak hemat -_- cukup sekali sajaaa *eh
      PEJE! PEJE! PEJE! *semangaaaaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s