[One-Shot] Baby, I’m Your Romeo

Title: Baby, I’m Your Romeo
Genre: Romance, comedy (?), friendship, AU
Rating: PG-13
Character: ………………… :p

ane baru ngerandom bikin ginian, gara2 nonton MV Romeo eh Juliette yang japanese version sih :B

Sungra’s POV

“Hei! Sudah liat pengumuman prom di papan pengumuman?”
“Mwo? Sudah ada? Kyaaaa~ aku belum lihat!”
Aku berjalan memasuki kelasku, 3-2, dengan langkah malas. Dari luar sudah terdengar suara ribut-ribut dari dalam, dan sepertinya semua kehebohan ini disebabkan oleh acara promnite yang akan diadakan untuk kelulusan anak kelas 3 minggu depan. Hampir semua haksaeng –terutama yang yeoja— bersemangat membahas acara itu sejak naik ke kelas 3.
Waktu itu, aku berpikir, oh, ayolah~ acaranya kan masih lama, kenapa sudah ribut duluan, sih? Pikirkan ujian kalian dulu kenapa? Memangnya sudah ada jaminan mereka-mereka itu bakal lulus dengan nilai bagus? Belum tentu, kan?
Tunggu, jangan berpikir aku seseorang yang culun, hobi belajar dan sulit bergaul. Sama sekali tidak. For God’s sake, I’m not a nerd. Hanya saja aku agak malas mengurusi hal-hal seperti ini, makanya aku sering sensi duluan kalau ada yang over-excited. Semacam itulah. Mengerti maksudku, kan?

Sambil menghela napas, aku berjalan melewati kumpulan chinguku yang kasak-kusuk sendiri menuju mejaku, dan langsung saja menghempaskan tubuh ke kursi, masih dengan setelan wajah datar.
“Hoo, pagi-pagi sudah bad mood, hmm?”
Aku diam saja, tak menanggapi kata-kata orang yang berada di sebelahku dan (sialnya) teman sebangkuku, Lee Taemin, namja berwajah cute tapi masuk kategori bad boy di sekolahku. Sudah begitu, hobi menggangguku lagi-____-
Makhluk ini suka bolos, sering melanggar peraturan, dan sebagainya. Lihat saja penampilannya pagi ini –seragam berantakan (yah, aku juga sih, kadang-kadang), rambut berwarna light brown (padahal di peraturan jelas-jelas tertulis kalau siswa sekolah dilarang mewarnai rambut), dan cengiran menyebalkan di wajahnya.
Selain itu, dia juga teman masa kecil, teman satu-sekolah-empat-belas-tahun, dan tetanggaku. Err, sepertinya aku terpaksa terjebak di keadaan ini karena konspirasi alam semesta yang terlalu banyak di sekelilingku ._.

“Bisa diam tidak?” balasku dengan nada dingin dan intonasi paling sinis yang aku punya.
“Yeee, dasar tidak punya sense of humor! Omong-omong, pinjam iPod dong~ mau main game~”
Aku menghela napas malas, lalu melotot tajam ke arahnya. Ia malah mengganti cengiran dengan senyum innocent dan menyodorkan tangannya di depanku.
“Ra-ya pinjaaaaam~” pintanya dengan nada aegyo sambil menyebutkan nama panggilanku semasa kecil. Ralat, nama panggilan darinya dulu. Kalau sudah begini…  sulit menolak perintahnya.____.
Dengan amat-sangat terpaksa, aku mengambil iPod dari dalam tas dan memberikannya ke Taemin. Namja itu tersenyum senang dan langsung fokus ke iPodku. Habis manis sepah dibuang-_-
Karena bosan tak ada kerjaan (kami cuma  masuk untuk mengurus beberapa hal, tidak ada pelajaran), akhirnya aku kembali mencari-cari sesuatu di tasku. Earphone. Setelah itu aku langsung menyambungkannya ke handphoneku, tapi baru saja aku akan menekan ikon Music Player

Battery rate: low. Please recharge the phone immediately. Phone will be deactivated automatically…

Mati. Mati. Mati aku! Gila, bisa-bisa aku mati bosan di sekolah kalau begini ceritanya! Awas saja kalau Taemin mengembalikan iPodku dalam keadaan indikator baterai berwarna merah, aku akan langsung me…

Jebal gihyereul jwoyo, nal, boneun nun machi
Neol ango shipeoseo
Andal nan naege jangnanchineun yeo-u gata

Tiba-tiba seseorang menyibakkan rambutku yang menutupi telinga, lalu memasang sebelah earphone di sana hingga aku mendengar lagu yang sedang diputar dari earphone itu. Aku refleks menoleh dan mendapati Taemin dengan sebelah earphonenya di telinga, dan ujungnya tersambung di iPodku.
Well, kalau begini caranya, mungkin aku bisa agak terima kalau baterai iPodku habis gara-gara ini .____.
“Kau bosan, kan?” kata Taemin, padahal aku sama sekali tak mengatakan apa-apa. Aku hanya mengangguk karena sedikit salah tingkah akibat apa yang dilakukannya barusan.
Yah… memangnya salah kalau kau menyukai teman kecil, tetangga, teman satu sekolah dari TK sampai SMA dan teman sebangkumu sendiri? Tidak, kan? Mungkin memang di awal-awal aku seperti menyesal sudah satu sekolah dengannya terus-terusan, tapi sebenarnya tidak kok XD

“Tahu tidak, konsep prom tahun ini Masquerade, lho.” Taemin membuka topik baru, membuatku melupakan monolog singkat tadi.
Tuh, prom lagi -____- apa tidak ada pembicaraan yang lain? Penangkapan koruptor Indonesia, siapa itu namanya? Atau kerusuhan di London? Atau perang di Palestina yang tidak selesai-selesai?
“Terus?” balasku malas.
“Katanya ada ballroom dance juga. Hmm, prom’s queen and king tahun ini diganti jadi Romeo and Juliette of the year. Beda julukan saja, sih.” lanjutnya. Well, aku mulai berminat mendengarkan kata-kata Taemin tentang prom ini, sepertinya.
“Dari mana kau tahu sampai sedetil itu?”
“Nih.” Taemin menyodorkan undangan prom yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya. Aku mengambil benda itu dan mengamatinya sekilas sebelum membaca isinya. Intinya, semua yang datang harus memakai topeng yang (sebisa mungkin) menutupi wajah atau separo wajah. Tidak disebutkan perlu membawa pasangan atau tidak, karena jika disebutkan membawa pasangan, mungkin aku tak akan datang mengingat statusku yang sedang single… yaaaaa, jangan menatapku dengan pandangan meremehkan dulu, single dan jomblo itu berbeda. Kalau single itu prinsip, jomblo itu nasib. Terima saja.

“Nggak ada dresscode?” gumamku. Jujur, susah menentukan mau pakai apa kalau tidak ada dresscode seperti jenis pakaian atau warna tertentu yang harus dipakai.
Your own color, kalau tidak salah begitu.” Jawab Taemin. “Kalau bisa bawa pasangan dan serasi bajunya.”
Krik. Namja ini… apa dia membaca pikiranku tadi?
“Hahahaha. Paling-paling aku datang sendiri.” aku tertawa hambar. Taemin ikut tertawa dengan raut wajah, ehm, lega? Kenapa dia?
“Oh. Aku juga sepertinya.”
Ah, terima kasih untuk infonya-_____-

Kami diam lagi. Hanya terdengar alunan lagu dari sebelah earphone Taemin. Sementara itu, si pemilik earphone sedang sibuk… mengerjakan PR matematika yang dikumpulkan hari ini ==”

“Ra-aaaaaaah! Kau sudah punya ide untuk prom minggu depan?” tiba saja-tiba Hyunjoon, chinguku yang bisa dibilang sahabat dan juga sekelas denganku, sudah berada di depanku. Aku langsung menggeleng satu kali.
“Belum. Malas.” jawabku singkat.
“Aku binguuuung~”seenaknya, ia duduk di kursi entah-milik-siapa yang ada di depan mejaku.
“Lho, kau datang dengan Kyuhyun, kan? Diskusi dengannya saja.” usulku. Kyuhyun itu namjachingu Hyunjoon, omong-omong.
“Kami cuma sepakat soal warna, biru, sisanya… yah, entahlah.” Hyunjoon mengangkat bahu. “Makanya aku bertanya padamu…”
“Kalau untukmu, mungkin cocoknya midi dress yang agak di bawah lutut.” gumamku setelah mengamati Hyunjoon sebentar. “Warna kalian biru, ya? Kalau bisa cari yang aksennya biru muda atau putih sekalian. Model strapless yang ditutupi bolero jacket atau cardigan rajutan mungkin bagus juga. Lalu untuk sepatu… yah, sesukamu.  Sesuaikan saja.”
“Huaaaa~ gomawo Ra-aaaah! Keputusanku bertanya padamu memang tepat!” sebelum beranjak pergi, ia masih sempat mencubit pipiku kencang. Sialan-_-

“Kau sendiri bagaimana?” tanya Taemin begitu Hyunjoon sudah menjauh. Aku mengangkat bahu.
“Baru terbayang warna saja. Sepertinya hijau lemon.” jawabku.
“Hijau lemon? Mm, mungkin bagus juga…”
Aku diam saja, tapi tak urung jadi kepikiran juga. Kenapa makhluk ini mengungkit-ungkit hal seperti itu? Apa urusannya sampai perlu tanya-tanya padaku? Memangnya aku akan pakai baju apa itu penting baginya? Tidak, kan?
Tak ada ide lagi, akhirnya aku mengambil sketchbook dan pensil kesayanganku dari jaman SD, lalu mulai menggambar secara asal. Kebiasaan yang selalu kulakukan kalau tidak juga berhasil memecahkan suatu masalah.

———

Eomma, ini desain gaunnya,” aku meletakkan gambar yang awalnya ada di sketchbook-ku tepat di depan eomma yang juga sedang menghadapi desain-desain baju lainnya. Beberapa hasil gambarku, lainnya buatan eomma atau pekerja di butik.
“Seperti ini? Bagus juga. Cocok untukmu. Kapan promnya? Biar bisa diselesaikan tepat waktu. Desainmu yang kali ini lebih rumit soalnya.” kata eomma setelah mengamati gambar yang kuberikan. “Paling cepat… sekitar 4-5 hari, mungkin?”
“Tidak apa-apa eomma, masih minggu depan, kok. Aku perlu mengukur tidak?” tanyaku sambil duduk di depan eomma dan meraih salah satu kertas. “Untuk korsase yang ada di daerah pinggang, biar aku saja yang mencarinya sendiri. Bagaimana eomma?” aku mengambil pena dan menunjuk ke beberapa aksesoris tambahan yang (rencananya) melekat di gaunku besok.
Eomma menatapku dari atas ke bawah. “Yah, sepertinya kau tidak perlu mengukur lagi. Lalu korsase dan sebagainya biar eomma yang mengurus, kau tinggal mencari aksesoris tambahan yang tidak ada di butik seperti… ah, topeng. Arasseo Ra-ah?”
Aku tersenyum. “Arasseo eomma~”
Eomma ikut tersenyum lalu kembali menekuri desain gaunku. Beliau mencorat-coret di beberapa bagian, menambahkan sedikit detil, mengurangi yang tak perlu, menuliskan beberapa keterangan tambahan. Sebagai desainer merangkap pengajar di salah satu sekolah mode, jelas eomma jauh lebih matang dariku. Aku hanya suka iseng-iseng menggambar saja, dan biasanya hasil gambarku yang bagus diminta oleh eomma untuk desain koleksi pakaian remaja butiknya. Dengan begitu, sedikit-banyak aku sudah membantu eomma, kan? Paling tidak eomma tak perlu menambah pekerja tambahan sebagai desainer pakaian remaja, hahaha.

“Ra-ah, kau ke sana dengan siapa?” eomma tiba-tiba bertanya. Aku mengangkat wajahku.
“Ke sana? Diantar Kim ajusshi seperti biasa, kan?” jawabku sambil menyebut nama sopir yang sudah lama bekerja di rumahku.
“Bukaaan, maksud eomma, ‘dengan’ siapa?” eomma memberi penekanan di kata ‘dengan’ plus membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya.
“Oh, maksud eomma… tidak dengan siapa-siapa, hahaha. Paling-paling dengan chinguku.”
“Siapa? Hyunjoon? Bukannya dia sudah punya namjachingu… siapa itu namanya… Kyuhyun?”
Sebentar, kenapa eommaku tahu hal-hal seperti itu? -_____-
“Ya, memang… eomma kok tahu?”
Nunanya namja itu kan calon desainer yang jadi murid eomma, dia sendiri yang mengatakan pada eomma, makanya eomma tahu.” jawab eomma. Wah, sirkulasi beritanya jauh juga, ya ._.

“Kenapa tidak pergi dengan Taemin saja?”
Uhuk.
Aku langsung mengangkat wajahku kaget. Kalau aku sedang makan atau minum, pasti aku sudah tersedak dan sedang sekarat karena tak bisa mengeluarkan apapun-itu-yang-membuatku-tersedak dari tenggorokan. Pertanyaan eomma tepat sasaran sekali!
“M, Mwo? Dengan Taemin? Lee Taemin?”
“Yah, siapa lagi?” kali ini eomma menatapku dengan pandangan meledek. Ah, aku paling sebal kalau jiwa remaja eomma keluar seperti saat ini -____- memang menyenangkan waktu sesi curhat, tapi kalau sudah begini…

“Atau jangan-jangan Taemin sudah pergi dengan yeoja lain? Hmm?”
Eommaaaaaaaa~” tanpa sadar aku merengek pada eomma, membuat wanita yang paling dekat denganku itu tertawa.
“Hahaha… ya sudah, terserah kau saja Ra-ah. Hmm, ada lagi yang mau ditambahkan untuk gaunmu?” tanya eomma. Aku menggeleng, sepenuhnya lupa dengan masalah mau-pergi-dengan-siapa tadi.
Eomma saja yang menambahkan, hehehe. Kamsahamnida eommaaa~ saranghae~” aku berdiri dan mencium pipi eomma sekilas sebelum beranjak meninggalkan beliau di ruang kerjanya.

———

One week later, The Lees’ House, 6.45 p.m.

Aku memandang bayanganku di cermin. Oke, jujur aku agak tidak percaya kalau bayangan yang ada di depanku itu refleksi dari diriku sendiri. Kurasa aku harus berterima kasih pada make up natural di wajahku dan tata rambut hasil karya eomma!
Lalu aku memperhatikan gaun yang kupakai. Baru kali ini aku memakai hasil desainku sendiri, dan rasanya… menyenangkan. Juga puas. Sedikit-banyak kan ini hasil kerjaku juga, hahahaha.
“Warna hijaunya bagus, kan?” tanya eomma sambil membereskan peralatan make up yang tadi digunakan untuk mendandaniku. “Kesannya fresh, cocok untukmu yang masih remaja. Kainnya juga tidak terlalu tipis.”
Aku mengangguk sambil sekali lagi menatap cermin. Inilah hasil karyaku: gaun panjang warna hijau lemon dengan rok (?) yang menjuntai ke bawah, hiasan korsase bunga warna kuning di pinggang, lengannya pendek. Lengkap dengan wedges pendek (maklum, aku tidak biasa pakai high heels) yang senada dengan gaunku. Geoura geoura I sesange, nuga jeil yeppeunde? gumamku dalam hati sambil tertawa. Tak apalah sesekali narsis begini :p
Eomma menyodorkan cardigan rajutan warna hijau tuaku. Lumayan, penangkal dingin. Lalu aku meraih mini sling bag yang sudah kusiapkan semalam dan memasukkan ponsel, dompet, plus beberapa barang penting lainnya ke dalam tas itu. Untung muat~

“Sudah mau berangkat?” tanya eomma. Aku mengangguk kecil sambil meraih topeng yang akan kugunakan nanti saat prom. Half-face yang sesuai dengan namanya, hanya menutupi separo wajah bagian atas, warnanya hijau dengan detail sequins di sekitar bagian matanya. Lagi-lagi ini hasil karyaku sendiri ._. Yah~ kurasa aku sudah siap berangkat sekarang.
“Aku berangkat sekarang ya eomma, annyeong~” pamitku sambil mencium pipi eomma sekilas. Setelah itu, aku langsung menghambur keluar kamar, turun ke bawah, dan menuju pintu utama. Masih kusempatkan melambai sekilas ke eomma sebelum aku masuk ke mobil.

“Ke sekolah, Ra-ah?” tanya Kim ajusshi yang sudah stand by  di belakang kemudi.
“Ne, ajusshi~” jawabku. Kim ajusshi langsung melajukan mobil keluar dari pekarangan rumahku.
Aku mengecek jam di layar ponselku. Sudah jam 6.50, promnya sendiri dimulai sekitar jam 7 malam. Perjalanan dari rumah ke sekolah kurang-lebih 15 menit. Tak apalah telat sedikit, hahaha .____.
Setelah beberapa menit perjalanan, gedung sekolahku mulai terlihat. Kelihatannya sudah lumayan ramai =_= aku segera memakai topengku saat kami sudah mendekati gerbang sekolah.
“Dijemput?” tanya Kim ajusshi sebelum aku turun dari mobil.
“Tidak tahu, ajusshi. Nanti saja kukabari.” jawabku sopan sambil membuka pintu mobil dan beranjak turun. Aaaah~ jujur, aku agak nervous sekarang. Apa yang harus aku lakukan kalau aku tidak bertemu satu orang pun yang kukenali waktu prom? Mana aku tidak membawa teman, lagi! Masa’ aku harus mati kebosanan, begitu? Enak sajaaa =_=

Dengan langkah pelan (dan agak goyah), aku berjalan memasuki gerbang sekolah yang dihias dengan beberapa buah topeng di sekelilingnya. Kulangkahkan kakiku ke aula tempat prom dilaksanakan. Sepertinya keadaan di dalam gedung itu benar-benar ramai. Oke, kelihatannya aku benar-benar telat -____-
Benar saja, saat aku memasuki aula, aku disambut oleh kerumunan orang di depan pintu. Nun di sana, ada panggung dan sepertinya band sekolah sedang tampil. Aku merasa seperti anak hilang kalau begini ceritanya -_____-
“Ra-aaaah!”
Perasaanku saja atau memang ada yang memanggilku? Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati seorang yeoja yang menyeret namjanya ke arahku. Tunggu, sepertinya aku kenal yeoja itu dan gaun yang dipakainya…
“Hyunjoon-ah?” tanyaku ragu saat si yeoja sudah berada di depanku.
“Ra-ah neomu yeppeoooo~” bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah mencubit pipiku keras. Jelas sekali kalau yeoja ini Hyunjoon =_=

“Sudah memakai topeng pun aura evilmu tetap terasa.” ledekku ke namja yang diseret Hyunjoon tadi. Sudah jelas kan dia siapa? Tentu saja namjachingu seorang Choi Hyunjoon, Cho Kyuhyun.
“Terserah kau saja, babo.” balas Kyuhyun. Dari matanya yang terlihat di balik topeng, terpancar sinar ke-iblis-an (?) yang kuat.
“Kau sendirian, kan? Ayo pergi dengan kami saja!” ajak Hyunjoon, menengahi perang ledek yang sedang berkecamuk di sini.
“Tidak usah.” tolakku. Malas sekali kalau harus bersama dua orang itu, bisa-bisa aku jadi kambing congek karena ditinggal pacaran terus oleh mereka -_- “Aku ke snack bar saja. Di mana sih?”
“Di sana, nona rakus.” lagi-lagi Kyuhyun meledekku. Belum pernah merasakan disumpal kaos kaki, ha?
“Terima kasih untuk infonya, raja iblis.” balasku. “Joon-ah, aku duluan ya?”
Lebih baik segera meninggalkan kedua makhluk itu ketimbang emosiku terkuras habis-habisan karena harus menghadapi si iblis sialan itu. Err -_-
“Neee~ annyeong Ra-ah!” kata Hyunjoon sebelum aku menghilang di balik kerumunan manusia bertopeng lainnya.

Aku mempercepat langkahku menuju snack bar. Lapaaaaar=____= untung saja area itu tidak terlalu ramai. Kerumunan lebih berpusat ke depan panggung dan di tengah ruangan, tempat diadakan ballroom dance.
Di atas meja panjang itu tertata piring-piring dengan kue-kue kecil di atasnya. Lengkap dari donat sampai bitter ballen yang… mm… sepertinya enak :9
Langsung saja aku mengambil piring kecil tempat kue, lalu memilih-milih kue. Dalam sekejap, piringku sudah penuh terisi. Gateau chocolate, cupcake mini, truffle, donat, bitter ballen, dan sebagainya bertumpuk-tumpuk di sana. Kyaaaaaa XD XD XD
Dengan kecepatan kilat kuhabiskan setiap makanan yang ada di atas piringku. Lumayan, paling tidak perutku tidak kosong-kosong amat. Saking sibuknya, aku sama sekali tidak sempat makan malam di rumah tadi ._.
Selesai makan aku bingung mau ke mana lagi -_- akhirnya aku hanya diam di tempat sambil memperhatikan keramaian nun di sana. Jujur, aku malas bergabung kalau cuma sendirian-_- aneh rasanya.

Dance?”
Aku mendongakkan kepala. Seorang namja (jelas) mengulurkan tangannya di depanku. Siapa pula dia?
“M, Mwo?” gumamku, berusaha mengenali siapa kira-kira namja ini dari balik topengnya. Sayang sekali topeng si namja menutupi wajahnya dengan hampir sempurna, susah sekali mengidentifikasinya. Yang terlihat hanya bibirnya… dan sepertinya aku familiar dengan bibir itu.
Err, aku jadi merasa seperti seorang pervert -_-
Namja itu diam di tempatnya dengan tangan yang (masih) terulur. Entah ada setan dari mana, aku menyambut uluran tangan itu dan ia langsung menarikku ke tengah ruangan.
Tidak tahu kenapa, tapi aku langsung merasa tenang saat namja ini menggenggam tanganku.
“Aku… aku tak begitu bisa berdansa.” kataku saat kami sudah hampir sampai di dance floor.
“Tak apa.” gumam si namja. “Aku juga tidak begitu bisa.”
Lah terus kenapa dia mengajakku berdansa -____-

Kami berhenti agak di tengah ruangan. Musik slow sebagai background song mengalun perlahan dari speaker yang tersebar di beberapa titik.
Eotteokhae?” tanyaku dengan wajah bodoh. Ia tersenyum kecil, lalu meraih tanganku dan mengalungkannya di lehernya. Setelah itu tangannya memegang pinggangku erat dan aku langsung salah tingkah pada saat itu juga.
Anehnya, aku sama sekali tidak merasa kalau namja ini kurang ajar. Maksudku, dia kan seorang yang tidak kukenal, harusnya aku merasa risih kalau ia memegang pinggangku, kan? Tapi bukannya risih, aku malah merasa senang karena tindakannya itu. Aneh.
Beberapa menit kemudian, aku sudah menemukan posisi tangan yang nyaman dan langsung menyesuaikan diri. Sementara itu, namja di depanku sudah mulai menghitung beat musik yang sedang dimainkan dengan ketukan kakinya.

“Sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Ikuti saja.” bisiknya. Tunggu, aku rasa suara ini… familiar._.
Nugu…seyeo?” tanyaku ragu. Lagi-lagi ia hanya tersenyum, kali ini senyum misterius.
“Peraturan masquerade party adalah kau tidak boleh membongkar identitasmu ke orang lain, ya, kan?” katanya tanpa menjawab pertanyaanku. Aku terdiam, tapi tetap tidak bisa fokus ke gerakan dansa yang sedang kulakukan. Perhatianku teralihkan sepenuhnya ke aktivitas mengenali namja ini.
Menyerah dengan area wajah, aku beralih ke pakaian yang dikenakannya. Ia memakai kaus sleeveless warna hijau muda dengan aksesoris semacam tali berbahan kain tebal yang membelit tubuhnya, warnanya senada. Celana bermotif dengan dasar hijau, sepatu putih jenis airwalk, dan topeng hijau. Aissh, kenapa mirip denganku? Aku rasa ideku sudah paling orisinal (aku benci tampil mirip dengan orang lain), tapi ternyata…
Ah, sudahlah. Mungkin dia juga mendapat ‘ilham’ yang sama denganku saat memilih baju. Atau… kami berjodoh?
Halah, memangnya siapa namja ini sampai kau mengatakan kalau kalian berjodoh, Lee Sungra?

Setelah beberapa saat mengamati pakaiannya, aku tetap tidak bisa memecahkan misteri siapa-si-namja-sebenarnya, dan akhirnya beralih ke daerah kepalanya kembali. Berusaha mencari satu clue yang bisa membantuku menebak siapa orang ini sebenarnya.
“Kau sebegitu penasarannya denganku?” tanya namja itu tiba-tiba. Aku tersentak dan mengangguk.
“Apa kau tahu siapa aku?” tanyaku langsung.
“Hmm, mungkin…” ia kembali menutup mulut dan menyunggingkan senyum di bibirnya. Aku ikut diam dan melanjutkan kegiatan mengamati makhluk di depanku ini. Wajah… aku sudah menyerah. Bagaimana dengan rambut?
Dari hasil pengamatanku, namja ini berambut light brown dengan style acak-acakan. Yak, aku sepertinya juga familiar dengan rambut itu!
Tanpa sadar aku menggerakkan tanganku ke atas hingga menyentuh ujung topengnya dan bersiap menariknya. Namja itu langsung menahan lenganku dengan sigap dan menggeleng.
Andwae.” katanya sambil menurunkan tanganku ke bahunya lagi. Aku berdecak kesal dan memajukan bibirku saking kesalnya.

“Hei, hei, itu peraturannya!” ternyata ia sadar kalau aku kesal.
“Ayolaaaaah!” bujukku. Kurasa rasa penasaranku sudah mengalahkan segalanya sampai aku rela mengeluarkan jurus aegyo-ku seperti ini!
“Baiklah, akan kuberi tahu sesuatu.” sepertinya dia tidak tega membiarkanku bertanya-tanya. Aku tersenyum senang.
“Aku mendengarkan.”
“Aku…” ia menundukkan kepalanya hingga aku tak perlu mendongak lagi, dan menyejajarkannya dengan kepalaku sendiri.

Baby, I’m your Romeo.” bisiknya tepat di depan telingaku.
Krik. Apa maksudnya? Tak urung aku jadi salah tingkah karena kata-katanya itu >////<
“A… apa maksudmu?” tanyaku. Berani taruhan wajahku pasti sudah sangat merah sekarang. Bayangkan saja, seseorang yang tidak kau kenal tahu-tahu mengatakan hal seperti itu padamu, bagaimana rasanya, coba? Ini secara tidak langsung bisa dibilang ‘nembak’, kan?
Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah berhenti dan menurunkan tanganku dari lehernya lalu menggenggamnya. Sedetik kemudian, ia sudah menyeretku entah ke mana, tanpa meminta izin maupun mendapat persetujuan dariku.
“H-Hya! Mau ke mana?” pekikku kaget karena gerakannya yang tiba-tiba.
“Ikuti saja.” lagi-lagi kata-kata itu.  Aku menghela napas dan akhirnya mengikuti saja ke mana namja itu membawaku. Terserah saja, lah -___-“

Kami berhenti di salah satu balkon yang sepi. Tidak ada orang di sana, dan sepertinya aku tidak akan bisa apa-apa kalau namja ini melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Kuharap tidak, deh._.
Ia diam. Aku juga diam, karena tidak tahu harus berkata. Kami diam saja selama beberapa menit sampai akhirnya ia menghadap ke arahku dan mulai membuka pembicaraan.
“Menurutmu, siapa aku?” tanyanya.
“Entah. Tapi rasanya aku mengenalmu…” kata-kataku terasa menggantung. Ia terkekeh lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kali ini tangannya bertumpu di atas pagar balkon dan ia masih senyum-senyum tidak jelas. Menyebalkan, eh? Seenaknya saja membuat orang penasaran seperti ini!

“Hei, coba sebutkan nama yang melintas di kepalamu saat melihatku.” katanya tiba-tiba. Hmm? Permintaan yang aneh! Mana aku tahu kalau tebakanku benar atau salah?
“Untuk apa?” desisku malas. “Memangnya kau akan memberi tahuku siapa dirimu kalau aku menebaknya?”
“Hmm… bisa dibilang, ya. Itu syarat sebelum kau boleh membuka ini.” lanjutnya sambil menunjuk topengnya sendiri.
“Oh, oke.”

Setelah aku menyetujuinya, namja itu langsung berbalik dan kembali menghadapku, dan sekali lagi ia menatapku langsung di mata. Mata di depanku itu, suara itu, rambut light brown itu…
Rasanya seperti memasangkan keping terakhir sebuah puzzle. Seperti tiba-tiba saja mendapat pencerahan untuk suatu masalah. Namja ini… kurasa aku mengenalinya! Eureka!
“…Min-ya?” gumamku ragu. Tidak tahu ada setan dari mana (padahal sepertinya KyuJoon tidak ada di sekitar kami), aku asal menyebutkan nama panggilan Taemin dulu, saat kami masih kecil.
Ia tidak menjawab, tapi menuntun tanganku ke topengnya, seperti menyuruhku membukanya untuk membuktikan tebakanku benar atau salah. Ia sendiri juga sudah memegang ujung topengku.
Jadi… yah, aku menuruti perintahnya dan menarik lepas topeng itu dari wajahnya, bersamaan dengan ia menarik topengku.

Dan ternyata memang benar, namja itu tak lain dan tak bukan adalah Taemin. Oke, aku shock! Ulangi, SHOCK! Kaget karena tebakanku benar dan kaget karena… karena… kata-katanya tadi saat sesi ballroom dance di dalam >//////<

“Kenapa kau butuh waktu lama sekali untuk mengenaliku?” celetuknya, menghentikan speechless moment-ku sejenak.
“Yaaaaaaaaa! Nappeun!” pekikku begitu kesadaranku kembali sepenuhnya. Ia tertawa keras, sepertinya puas sekali -____-“
“Babo! Baboooooo~ aigo, kita sudah saling kenal selama hampir 18 tahun dan kau tidak bisa mengenaliku saat aku memakai topeng, hmm? Memalukan~” ledeknya. Aku merengut, benci ditertawakan. Issh, maunya apa, sih?

“Kalau kau bercanda, ini sudah keterlaluan!”  marahku. Ia berhenti tertawa, menyisakan kekehannya, dan kembali menghadap ke arahku.
“Mm? Siapa yang bercanda? Tidak ada Ra-ya~” ia menarik lenganku agar lebih mendekat ke arahnya lagi. “I’m your Romeo, Baby…
Wajahku memanas lagi. Aissh, jadi speechless lagi, kaaaan?
“Ra-ya, bagaimana? Aku boleh jadi Romeo-mu tidak?” tanyanya dengan semburat warna merah di pipinya. Lucu sekali, tapi… aku masih perlu mengumpulkan kata-kataku kalau begini ceritanya -_____-
May I be your Juliette?” aku balas bertanya pada akhirnya. Taemin mengangkat alis.
“Tidak kreatif! Tapi… yeah, you can be my Juliette~

——

“Hei, kisah Romeo-Juliette kan berakhir tragis…”
“Mm, lalu?”
“Kau mau, ehm, cerita kita, ehm, berakhir tragis juga?”
“Nggak, lah! Kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Habisnya kau memakai Romeo-Juliette tadi -_-“
Taemin tampak berpikir sebentar. “Hoo, aku hanya ingin membuktikan kalau cerita Romeo-Juliette tidak selalu berakhir tragis. Mengerti?”

Alasan yang agak sulit diterima otak -_-
“Terserahlah~” balasku cuek.

Terdengar suara ribut-ribut dari dalam aula. Aissh~ ada apa lagi?
“Sepertinya di dalam ramai sekali.” gumamku.
“Sudah sampai acara pengumuman Romeo and Juliette of the year, kurasa. Mau masuk?” tawarnya sambil memakaikan topeng di wajahku. Miliknya sendiri sudah terpasang lagi sejak tadi, sepertinya ==
Aku mengangguk. Di sini dingin, cardiganku kan kutitipkan di depan tadi .___. apa Taemin tidak kedinginan? Aaaah~
“Kau tidak kedinginan?” tanyaku. Ia menggeleng.
“Begini sudah hangat, kok!” jawabnya sembari merangkum tanganku dalam genggamannya, lengkap dengan innocent face-nya yang biasa. Kalau masalah aegyo dan bujuk-membujuk, 100% aku akan kalah dengan makhluk ini, berani jamin!

Kami sampai di dalam tepat saat si MC akan mengumumkan pemilik penghargaan Romeo and Juliette of the year. Aku yang pada dasarnya memang tidak tertarik hanya mendengarkannya dengan sikap malas-malasan. Taemin juga, ia malah mengobrol ringan denganku sambil merangkulku dari belakang.
“Ini hasil desainmu, kan?” tanyanya sambil menarik-narik ujung gaunku. Aku mengangguk.
“Tahu dari mana?” aku balas bertanya.
“Coret-coretanmu di sketchbook itu ada yang mirip dengan gaun ini. Kau kira aku tidak melihatnya?”
“Ahahahaha, kukira kau tidak tahu…”
“Aku hebat, kan?” ia menyombongkan diri. Aku mendengus.
“Begitu saja bangga…”
“Bangga, lah! Oh iya, nanti kau pulang denganku saja, arra?” katanya nggak nyambung.
“Heh? Naik motor? Gila sajaaa!” aku menggeleng keras-keras. Sehari-harinya memang Taemin berangkat sekolah naik motor, dan hampir tidak mungkin aku naik motor dalam keadaan pakai dress seperti ini, kan?
“Kata siapa? Hari ini aku bawa mobil, tahu.”
Jeongmal?” aku memasang ekspresi tak percaya.
Jeongmaaaal! Kau meremehkanku, ya? Sialan!”
Aku terkekeh, membuatnya mencubit pipiku kencang. Yaaa, appeu TT^TT

“Wah~ pemenang penghargaan Romeo and Juliette of the year kali ini unik sekali!” kata si MC, menghentikan dialog tak pentingku dengan Taemin. “Kedua orang ini memiliki marga yang sama. Hmm, mungkin memang mereka sudah jodoh?”
“Hoo, paling-paling Kyuhyun dan Hyunjoon.” Taemin asal sebut. Aku menggeleng.
“Marga Hyunjoon kan Choi, kalau Kyuhyun itu Cho…” jelasku.
“Hmm, geurae? Beda sedikit saja.” namja itu masih ngeles. Kudiamkan saja dia sambil fokus ke depan. Entah kenapa aku jadi tertarik dengan acara ini.

“Yaaak! Gelar Romeo and Juliette of the year jatuh kepada…” ehum, aku paling benci kalau ada yang menggantung-gantung pengumuman seperti itu. Bikin malas saja.
“Menurutmu siapa?” tanyaku ke Taemin. Ia mengangkat bahu dan mengganti posisi kedua tangannya hingga setengah memelukku dari belakang.
“Entahlah, terserah saja… aku sih tak tertarik dengan hal-hal seperti ini, tapi…”

“Lee Taemin dan Lee Sungra, tolong maju ke depan!”
Krik. Aku terdiam. Kenapa bisa kami?
“Hei, Ra-ya, ayo!” suara Taemin yang terdengar di antara riuh tepuk tangan (lagi-lagi) membuyarkan speechless moment-ku. Aku langsung tersadar dan melihat ke sekeliling, termasuk melihat ke arahnya yang sudah  meraih tanganku dan membawaku ke depan ruangan, masih dengan kehebohan di sekitar kami. Sempat kulihat KyuJoon yang menatap kami dengan evilstare mereka yang membuatku merinding, dan kemudian mereka malah ber-high five. Dasar -____-

“Chukhahae!” sambut si MC begitu kami sampai di panggung. “Lihat mereka, sepertinya serasi sekali, kan?”
Mau tak mau aku setuju dengan kata-kata MC itu kalau menyangkut pakaian yang kami pakai. Sepertinya ini tujuan Taemin menanyakan tentang warna baju yang akan kupakai minggu lalu ._.
“Apa sudah direncanakan dari jauh hari?” tanya si MC. Aku dan Taemin kompak menggeleng. Anak-anak seangkatan makin ribut.
“Kalau begitu, apa kalian sudah jadian? Sejak kapan?” tanya MC itu lagi. Taemin mengangguk, sementara aku diam saja. Ma to the lu, maluuuuuuu!
“Sudah, sejak setengah jam yang lalu…” jawabnya polos. IGE MWOYAAA? Apa maksudnya? Memalukan! Aku langsung mencubit lengannya dengan wajah merah padam dan pelototan sadis.
“Aku kan hanya berkata jujur, Ra-ya~” kilahnya di antara gemuruh teriakan heboh anak seangkatan. Oh, sial -_-
Kurasa aku harus ‘menyekolahkan’ namja ini agar dia tidak polos-polos amat, mungkin!

‘Aku hanya ingin membuktikan kalau cerita Romeo dan Juliette tidak selalu berakhir tragis. Mungkin cerita kita tak perlu berakhir, malah.’
‘Our story won’t be ended unless the world collides, I promise to you from now on.’

———————————————

Annyeong! *muncul *lambai tangan ala Miss Universe* *bricked
Jadi… gimana? Aneh? Nggak ada komedinya? Garing? Nggak romantis? Atau setelah baca ini, mendadak pada pengen ngelempar telor busuk ke author? *pake helm*
Kalau ada yang nggak berkenan, silakan protes di comment box yang ada di bawah. Insya Allah bakal saya tanggepin protesnya 😛 *eh*
Author nggak maksa untuk komen, but I will appreciate those who give me one or two 😀 berlaku juga buat like dan sebagainya. Pahala menantimu, kakaaaa! *semangat
Sekian dari author, dan… gomawoooooooooooo! *lempar bom asap* *kabuuuurrrrr

Advertisements

9 thoughts on “[One-Shot] Baby, I’m Your Romeo”

  1. awawawawawawawawawaw :3
    CIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE XD
    ROMANTEEEEEEEEEEEEEESSS XDD *plak!
    uuuuuu mau juga dooong ikut pesta kayak gituuuuuu #tariklenganbajuseung :3

    1. …………………. *diem *nontonin eonni heboh dewe*
      CIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE *ikutan* XDD
      ahmasa romantis? wakakakaka alhamdulillaaaaaah~ entah kesambet apa nyampe niat bikin fluff yang bener2 fluff kayak gini *maksudnya?
      hmm, mau? ajak seung dong XP

      1. masa’ heboh sendirian sih, ikut dooong XD
        bilang aja pengeeeen #senggolTaeRa :3
        ajak seung? waktu dan tempat memisahkan kami, tidak ada kesempatan untuk kami bisa bersama, Seung-ah~ #mendramatisir

  2. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. *ini Sehun* a a a a a a a a a a noona neomu yeppeo~~~~ oke ini nggak nyambung-__- huwawhuwaw Kak, Ri njerit di kamar baca ini XD aaaa setuju abis deh Taemin harus sekolah kepolosan XD :B

    1. ada juga yang mau ngomen ff jaman alay ini -_- ehehehehe :3 yang bikin aja sering ‘umumumumu~’ sendiri kok kalau baca mwahahahahahahaha. gomawoooooooooooooooo ^^
      ada yang tau sekolah kepolosan di mana? *eh

  3. AYEEEEEEEEEYYYY!!!!
    Romeo-Juliette modern~~~

    Cieeeeeeeehhhh!
    Ada yee Romeo polos gini. Ada. (–“)
    Duduh..
    Tapi beneran ngebayangin Taemin di sini dewasa banget, lepas dr endingnya sih. Muka pas ending pasti innocent bgt yee.. Hih. *tarikin rambutnya*

    Okeee! Happy ending yee..
    Romeo-Juliette yg udah direvisi XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s