[Ficlet] Another Side

Title: Another Side
Genre: angst… maybe?
Rating: G
Character: Cho Kyuhyun, Choi Hyunjoon, Song Qian

ini afstor-nya ff Hyunjoon eonni yang ini. biar nggak bingung monggo dibaca dulu XD

Kyu’s Side

Aku melangkah keluar dari rumah Qiannie menuju motorku yang berada di pekarangan rumah itu. Baru saja aku mengantarkan yeoja itu pulang setelah tadi ia terluka. Untung lukanya tidak begitu parah, dan dia tidak perlu dibawa ke rumah sakit. Kalau iya, bisa panjang ceritanya ._.
Saat aku sedang bersiap naik, tahu-tahu saja tatapan mataku berhenti di rumah sebelah. Rumah Hyunjoon, eh?
Seingatku, tadi sebelum ada ribut-ribut di luar sekolah, Hyunjoon sedang bersamaku, kan? Sekarang ke mana dia? Apa dia sudah sampai di rumah? Sedang apa dia?
Penasaran, aku tidak jadi naik ke motor, tapi berjalan keluar gerbang rumah keluarga Song. Tanpa ragu kulangkahkan kaki ke depan pintu utama rumah Hyunjoon dan kuketuk pintunya. Aku sempat melihat sepatu Hyunjoon yang tergeletak di depan pintu…pasti dia sudah pulang, kan? Semoga dia tak marah karena aku datang tiba-tiba begini, hahahahaha.

“Yaaa, tunggu sebentar…” terdengar suara Yang ajumma, asisten rumah tangga di rumah ini. Aku menunggu dengan sabar sampai pintu itu terbuka dan kepala Yang ajumma tersembul keluar.
“Nugu…ah, Kyuhyun-a?” Yang ajumma tampak terkejut melihatku. “Ada apa?”
“Hyunjoon sudah pulang?” tanyaku. Yang ajumma langsung menggeleng.
“Belum, dia belum pulang, eh, sudah tapi pergi lagi. Tadi… mm… pamit mengerjakan tugas kelompok di rumah… hmm… rumah temannya!”
Meski merasa ada yang janggal, tak urung aku tetap mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu, ajumma…” kataku sambil membungkuk. Yang ajumma langsung menutup pintu dengan sikap terburu-buru, membuat sesuatu makin mengganjal dalam benakku.
Perlahan aku berbalik dan melangkah menjauhi pintu rumah itu. Pikiranku masih berkecamuk, berusaha memecahkan misteri yang ada di sini. Ayolah Cho Kyuhyun, buktikan kalau kau memang pintar! Segera pecahkan apa yang mengganggu pikiranmu!
Baru selangkah keluar dari pekarangan rumah Hyunjoon, sesuatu seperti bel berdering di otakku, membuatku refleks berhenti karena aku menyadari sesuatu saat itu juga. Ah…
Tugas kelompok? Seingatku kami tidak ada tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok akhir-akhir ini. Tadi Yang ajumma bilang di mana? Rumah temannya? Apa mungkin di rumah Raena? Baiklah, akan kucoba menelepon yeoja itu…

Cepat-cepat aku meraih telepon genggamku dari saku dan menekan kontak Raena di daftar kontakku, lalu aku langsung menempelkan ponselku ke telinga.
“Yeobosaeyo…” terdengar suara Raena dari seberang.
“Yeobosaeyo? Raena?”
Raena diam beberapa saat. “Kyu…hyun?”
“Neee, apa kau sedang bersama Hyunjoon?”
Tidak terdengar suara apapun di sana, tapi kemudian Raena berdehem. “Tidak. Cari saja sendiri. Sudah, kan? Kututup ya, annyeong…”
Raena memutuskan sambungan telepon sebelum aku sempat menanyakan sesuatu lagi. Lagi-lagi aku merasa seperti ada yang ditutupi oleh Raena.
Lebih baik aku menghubungi orang dengan posibilitas kedua tertinggi Hyunjoon sedang berada di rumahnya: Ayako.

“Yeobosaeyo, ada apa Kyuhyun-ah?” suara renyah yeoja Jepang itu langsung menyambutku begitu ia menerima telepon.
“Apa Hyunjoon sedang di rumahmu?” tanyaku to the point.
“Hyunjoon? Ani. Tidak ada.” aneh, nada suara Ayako berubah dingin dan tajam. “Untuk apa kau mencarinya?”
“Ah…eh…tidak. Tidak apa-apa. Terima kasih, maaf sudah mengganggu.” aku langsung memutuskan sambungan telepon. Perasaanku makin tidak enak dan aku langsung menghubungi orang ketiga: Miho. Sebenarnya aku agak malas kalau harus berkomunikasi dengan orang ini, karena selain kami tidak dekat, dia itu kalau bicara suka tak tahu sikon -_-” masa’ dalam situasi darurat dia masih sempat mengulur waktu? Maunya apa, coba?

“Yeobosaeyooo…”
“Yeobosaeyo, Miho-ah? Hyunjoon sedang di rumahmu atau tidak?”
“Hyunjoon? Hyunjoon siapa?”
Tuh, kan -_-
“Choi Hyunjoon!”
“Oh… Hyunjoon tidak ada di sini. Tidak mungkin.” suara Miho terdengar agak mengawang. Sepertinya dia baru bangun tidur.-.
“Geurae? Jeongmal?”
“Jeongmal~”
“Ya sudah. Terima kasih. Maaf kalau aku membangunkanmu.” lagi-lagi aku memutuskan sambungan telepon sambil menghela napas. Berat sekali rasanya.

Sepertinya masih ada orang yang bisa kutanyai… kurasa begitu._. Ah iya, Sungra!
“Aissh, cepat angkat, cepat angkat…” gumamku gusar. Menyebalkan sekali kalau terjebak dalam keadaan seperti ini!
“Halo?”
“Sungra-ah, kau tahu Hyunjoon di mana?”
“Hyunjoon? Mana aku tahu! Memangnya aku siapanya, babysitternya? Bukan, kan?”
Yaaaaaak, bukan semburan kemarahan seperti ini yang kuharapkan!
“Dia tidak berada di rumahmu?”
“Tidak, tentu saja tidak.”
“Kau benar-benar tidak tahu dia ada di mana?”
“Aku…ah, tidak tahu.” suara Sungra mulai terdengar gamang. Kesempatan bagus, sepertinya aku bisa melanjutkan ‘menekan’nya agar mau mengatakan di mana Hyunjoon berada.
“Jeongmal?”
“Ne, jeongmal.”
“Kau berbohong.”
“A, aniyo!”
A-a. Aku kembali mengintimidasinya.
“Kau berbohong Sungra-ah…jebal, beritahu aku dimana Hyunjoon berada!” kupaksa suaraku agar terdengar se-memelas mungkin. Aku mendengar Sungra menghela napas di seberang, pasti yeoja itu sudah tak tega mendengarku bicara seperti ini.

“Aissh, arasseo… Hyunjoon ada di rumahnya, dan ia tak ingin bertemu denganmu. Sekian.”
“Mwo? Tak ingin bertemu denganku? Wae?”
“Entah, pikirkan saja sendiri alasannya. Sudah cukup, kan? Annyeong Cho Kyuhyun-ssi, jangan membuat Hyunjoon menangis lagi!”
KLIK. Sambungan telepon itu diputuskan secara sepihak oleh Sungra, meninggalkanku yang masih shock dan speechless karena kata-kata yeoja itu sebelum ia memutuskan telepon.
Hyunjoon tak ingin bertemu denganku? Kenapa? Dia ngambek lagi? Atau ada alasan lain? Aish…
Lalu… ‘jangan membuat Hyunjoon menangis lagi’… apa artinya tadi Hyunjoon menangis? Karena aku? Kenapa? Kenapa harus aku?
Aku berusaha memutar memoriku ke belakang. Apa ada sikapku yang –mungkin– membuat Hyunjoon marah? Adakah?
Dan tiba-tiba aku tersentak saat tiba di memori tadi siang, di halaman sekolah.

“Apa yang akan kau lakukan?”
“Qiannie terluka. Aku harus membantunya.”
“Aku juga terluka. Kau tahu itu kan?”
“Aku harus membantunya. Aku tidak ingin ia terluka.”

Demi apa… aku sama sekali tidak sadar kalau aku mengatakan hal seperti itu. Entah karena aku panik atau apa, tapi aku benar-benar tidak sadar saat mengatakannya. Hyunjoon-ah…

“Kau ingin ke sana?”
“Ne.”
“Kau tidak ingin Qiannie-mu terluka?”
“Ne.”
“Baik, aku akan melepaskanmu dengan beberapa ‘syarat’.”
“Apa? Ayo cepat katakan.”
“Aku harap, mulai hari ini, kau berhenti memanggilku Hyun-ah. Berhenti mengirimiku pesan sebelum tidur dan saat bangun pagi. Mulai besok aku harap kau tidak perlu duduk di sampingku lagi. Berhenti menjemputku berangkat sekolah dan berhenti pulang bersama denganku untuk pergi ke halte. Mengerti?”
“Hanya itu?”
“Ne, hanya itu. Aku harap setelah aku ‘melepaskan’ lenganmu, kau bisa memenuhi semua syarat dariku.”
“Baiklah. Aku setuju.”

Yang kuingat setelah itu adalah Hyunjoon melepaskan lenganku dari cengkeramannya, dan aku langsung berlari ke arah Qiannie yang berada nun di sana tanpa sempat mencerna kata-kata yeoja itu. Dan sekarang, barulah aku mengerti apa maksud kata-katanya.
Yang dimaksud oleh Hyunjoon adalah… we’re already over, kan?
Aku menghela napas, merutuki kesalahanku sendiri. Menyesal? Sudah tentu. Apalagi karena pada saat itu, aku bertindak mengikuti refleksku yang lebih condong ke arah Qiannie. Di depan yeojachinguku sendiri pula. Bagaimana mungkin dia tidak tersiksa atau menangis? Kalau ia tak menangis, mungkin ia abnormal. Ya, kan?

Perlahan aku berbalik. Tanpa aku sadari, kakiku sudah membawaku ke depan dinding di antara dua rumah itu. Rumah keluarga Song dan keluarga Choi.
Lagi-lagi aku tak bisa mengontrol diriku sendiri. Seharusnya kalau sudah begini, aku kembali ke depan rumah keluarga Choi dan memaksa masuk hingga bertemu Hyunjoon, meminta maaf, lalu berbaikan dengannya lagi, kan? Begitu juga yang diperintahkan otakku. Tapi kakiku terasa sangat berat untuk digerakkan. Seperti sudah disemen kering ke trotoar yang kupijak sekarang. Bingung antara melangkah ke kiri Β atau ke kanan.
Kalau aku meminta maaf ke Hyunjoon, belum tentu yeoja itu akan memaafkan tindakanku yang (menurutku sendiri) termasuk sangat ekstrim. Selain itu… sebenarnya aku mulai terganggu dengan sikap Hyunjoon yang childish, bawel dan terlalu banyak menuntut. Jauh berbeda dengan Qiannie yang dewasa.

Bukannya aku membandingkan kedua orang itu dengan sangat kurang ajar, tapi… dua orang itu memang benar-benar berbeda. Dan tidak dapat kupungkiri kalau aku memang tertarik dengan seorang Song Qian. Apa memang sudah waktunya untuk merubah segalanya?

Advertisements

15 thoughts on “[Ficlet] Another Side”

  1. me : Kyu~
    Kyu : N-ne?
    me : kamu apain anak orang? *pegang PSP* *pegang korek api*
    Kyu : Itu.. anu.. ng..
    me : apa? *mendekatkan korek api dengan PSP*
    Kyu : Aaaa maafkan akuuuuu! *jerit histeris*
    Contoh dialog nggak penting -___-

    di ff Hyunjoon, dia galau.. di ff ini, Kyuhyun galau… haaaaaaah .____.
    Kyuhyun-ssi, tanggung jawab!

    1. wakakakakaka XD
      aduh, kasian kyu… eh kasian PSPnya, sini buat aku ajaaaa XDD *eeeeeh

      kyuhyun galau… endingnya rada jahat… jadi bingung ._.
      ne! tanggung jawab! *ikutan *apaaaaan

  2. Ehmmm hayoo, jahat skalii kyu
    Kalo hyunjoon baca ini, kayany d crita akirny itu dy gak akan trima kyu lagii deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s