[One-Shot] Deciding the Decision

Title: Deciding the Decision
Genre: angst… romance… galau ._.
Rating: PG-13
Character: Kim Raena, Kim Jongwoon, Choi Seunghyun, beberapa figuran *plak!

menindak-lanjuti ‘kerjaan’ saya bikin sonya eonni galau, ini deh hasilnya sebelum yang bersangkutan makin galau .____.
sambungan dari Dilemma-tic, biar nggak bingung monggo lho dibaca xp 

17.30, The Kims’ House

Raena berhasil mengumpulkan keempat temannya di rumah, lebih tepatnya, di kamarnya. Sekarang mereka sedang menggelar konferensi meja bundar rapat darurat terkait SMS urgent dari Raena tadi.
Sungra duduk di sebelah Raena, seperti biasa memasang wajah cuek plus malas sambil sesekali menanggapi kata-kata Raena. Hyunjoon (yang baru tidak keluar tanduk evil-nya) mengobrol dengan Raena, Ayako sibuk dengan ponselnya, sedangkan Miho dengan tumpukan majalah di kamar Raena.

“Sebenarnya ada masalah apa sih Rae-ah?” tanya Sungra tiba-tiba. “Kok tadi SMS kayak gitu?”
Ketiga orang lainnya langsung menoleh ke arah Raena, memusatkan perhatian padanya.
“Ah, ne~ aku sampai lupa! Ada apa?” Hyunjoon ikut bertanya. Ayako dan Miho mengangguk-angguk takzim di belakang, merasa sudah cukup terwakili dengan pertanyaan dua orang itu.
Raena tampak kebingungan, tapi kemudian ia mulai membuka mulut. “Mm… kalian tahu… Jongwoon?”
“Jongwoon?” Ayako berpikir sebentar. “Oh~ anak kelas kita itu? Yang biasanya sama Kyuhyun itu? Yang jago nyanyi? Yang aneh? Yang…”
“Kenapa? Kau menyukainya? Aigoooooooo! Seunghyun dikemanakan?” Miho heboh sendiri.

“Bukan begituuuuuuuuu!” Raena menggoyangkan kedua tangannya di depan badan. “Jadi…”
Raena menceritakan kejadian tadi siang menjelang sore yang terjadi antara ia dan Jongwoon. Reaksi keempat orang di depannya berbeda-beda, tapi intinya tetap sama: kaget dan tidak percaya.
“Lalu… bagaimana?” tanya Sungra setelah Raena selesai bercerita.
“Ya karena bingung itu aku memanggil kalian!” Raena menghela napas kesal. “Eotteokhae?!”
“Terima saja Rae-ah!” celetuk Miho asal. Ayako langsung menjitak kepala Miho dengan sadis.
“Seenaknya! Lalu Seunghyun sunbae bagaimana?” omel yeoja Jepang itu. “Rae-chan, kau sudah memutuskan tindakanmu selanjutnya?” ia ganti melayangkan pertanyaan ke Raena.
“Belum. Aku tidak tahu harus melakukan apa…”
“Apapun pilihanmu, kami akan mendukungnya, kok. Asal itu dari hati nuranimu saja…” tambah Hyunjoon yang tidak biasanya sedang luar biasa bijak. “Coba pikirkan baik-baik. Seperti apa perasaanmu ke Seunghyun sunbae? Lalu ke Jongwoon? Nanti pasti kau bisa menentukannya sendiri, kok.”

“Hyunjoon benar, Rae-ah~ jangan sembarangan memutuskan karena keinginan di satu saat saja, lho. Nanti bisa-bisa kau menyesal. Ambil keputusan sematang-matangnya, ya?” sambung Sungra sambil merangkul Raena.
“Aaaah~” Raena menunduk dan membenamkan kepalanya di kedua telapak tangannya.
“Rae-ah,  kau masih sayang Seunghyun tidak?” tanya Miho. Raena mengangguk.
“Kalau Jongwoon?” lanjut Miho. Raena mengangkat bahu.
“Aku  sendiri tidak tahu apa perasaanku padanya…”
“Kau merasa nyaman saat kemarin bersama dengannya?” kali ini ganti Ayako yang bertanya. Raena mengangguk.
“Lebih nyaman daripada saat bersama sunbae?” kejar Ayako.
“Molla…”
“Aigo~ susah juga kalau begini ceritanya!” Sungra menyandarkan tubuhnya ke belakang. “Bagaimana kalau kau bicarakan dengan Seunghyun?”
“Hyaaaa! Shirheo! Tidak mau! Gila saja aku membicarakannya dengan Seunghyun, lebih baik mati saja!” pekik Raena frustasi.

“Ya sudah. Pokoknya semuanya ada di tanganmu, kok. Putuskan sendiri, kami juga akan membantu di hal-hal yang kami mampu. Tenang saja~” Miho menepuk bahu Raena sambil tersenyum lebar.
“Neeeeeeeee! Semangat Rae-chan! Hwaiting! Kami tunggu keputusanmu!” kata Ayako sambil mengepalkan tangannya ke udara, membuat senyum Raena ikut melebar.

“Ne… aku akan berusaha…” gumam yeoja itu pelan.

—–

Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu. Raena berusaha menjaga jarak dari Jongwoon dan Seunghyun agar ia bisa berpikir dengan lebih jernih dan netral, sambil sesekali meminta saran ke keempat temannya. Seunghyun sendiri sepertinya tak terlalu ambil pusing, karena Raena memakai alasan banyak tugas, sedangkan Jongwoon… masih berusaha mendekati Raena, tapi tidak terlalu frontal. Ala Jongwoon.

“Ssh, Raena~”
Raena menoleh ke arah Lizzy, teman sebangkunya. Ia menyodorkan selembar kertas yang dilipat rapi ke depan Raena.
“Mwo?” gumam Raena heran.
“Jongwoon.” Lizzy berkata pendek, seolah mengerti arti kata ‘mwo’ yang keluar dari mulut Raena barusan. Raena mengangguk ringan dan mengalihkan perhatian pada kertas itu, membukanya, dan membaca tulisan yang tertera di dalamnya.
‘Pulang bareng?’
Yeoja itu tahu wajahnya memerah, terbukti dari pipinya yang terasa panas dan kata-kata Lizzy yang baru saja terdengar.

“Hyaa~ Rae-ah, wajahmu merah sekali! Ada apa hayooo?” kata yeoja itu heboh. Untung saja kelas sedang kosong –tidak ada pelajaran–, seperti biasa._.
“A, anniya!” Raena mengelak. “Tidak ada apa-apa!”
“Kalau begitu, aku boleh lihat isi kertasnya, kan?” tanpa permisi, Lizzy merebut kertas itu dari tangan Raena dan membaca isinya.
“Ya! Andwaeeee!” teriak Raena histeris, tapi sayangnya ia terlambat =_=

“Wow, Jongwoon, eh?” Lizzy menaruh kertas tadi di meja kembali. “Pulang bareng? Cieee~ ada apa di antara kalian berdua?”
“Tidak ada apa-apa~ sudah, jangan dibahas lagi, jebaaal~” Raena memasang wajah memelas. Ia tak sanggup kalau harus salah tingkah melebihi ini -_-
“Arra, arra, tidak kubahas lagi~” Lizzy terkekeh. “Tapi betulan, deh, kau benar-benar beruntung! Jongwoon jarang berinteraksi dengan yeoja, kau tahu? Padahal kan fansnya… menumpuk nggak kalah sama Kyuhyun! Kalau sudah begini, berarti ia benar-benar serius denganmu. Dan kurasa…” Lizzy mengamati wajah Raena. “Kau juga menyukainya…”
Raena tergeragap. “Ah, eh, geurae?”
“Ne, aku yakin sekali. Mataku tak bisa dibohongi Rae-ah~ kekeke~” Lizzy terkekeh, kemudian mengganti ekspresinya menjadi raut serius.
“Kalau terjadi sesuatu, jangan lupa ceritakan padaku, arra?”

Raena mengangguk, tapi tidak fokus ke kata-kata Lizzy barusan. Pikirannya hanya tertuju ke satu masalah yang mengganggunya dari tadi –kenapa hal ini harus datang di saat yang tidak tepat?

——

Raena menghela napas panjang sambil menghempaskan badannya di kasur. Makin hari ia makin kalut, bingung hendak melakukan apa ._.

Tiba-tiba ponsel Raena berdering keras, membuat pemiliknya langsung mengambil benda itu dari meja balajarnya dan membuka pesan masuk yang ada.

From: Seungie :3
Ayo bertemu…

Yeoja itu terdiam. Tak tahu harus melakukan apa lagi. Tangannya bergerak sendiri, mengetikkan sebaris pesan balasan.

To: Seungie :3
Arra. Kapan, di mana Seung-ah?

Tak perlu menunggu lama sampai pesan itu dibalas oleh yang bersangkutan.

From: Seungie :3
Sekarang ke café dulu saja Na-ya, arra? Kutunggu di sini…

Raena menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, dan mulai bersiap-siap untuk bertemu Seunghyun. Mungkin memang ia harus menyelesaikan masalahnya hari ini, tak bisa ditunda-tunda lagi.

—–

Berkali-kali Raena menenangkan diri sebelum melangkah masuk ke dalam café tempat Seunghyun bekerja. Galau.
“Ayolah Kim Raena! Kau pasti bisa mengatasinya! Hwaiting!” Raena mengepalkan tangannya, berusaha menyemangati dirinya sendiri, lalu membuka pintu café dan melangkah masuk. Ia lalu duduk di salah satu bangku yang kosong dan memandang ke sekeliling, mencari sosok Seunghyun di antara belasan waiter yang berlalu-lalang melayani pengunjung. Bukan jam makan, tapi tetap saja café itu ramai. Dan sepertinya, Seunghyun tidak ada di antara orang-orang itu. Aneh, siapa yang mengajak ketemu, coba?

“Na-ya?”
Raena menoleh ke arah sumber suara. Seunghyun berjalan menghampirinya, tidak dengan seragam kerja, tapi dengan penampilan kasualnya yang biasa.
“Lho? Kau… tidak bekerja?” tanya Raena heran.
“Hari ini aku dapat shift malam.” jawab namja itu sambil mengambil tempat di depan Raena.  “Jadi… apa kabar?”
Kelewat canggung untuk Raena. Ia menelan ludah, mengumpulkan kekuatannya. “Baik. Kau?”
“Kurasa… sama. Masih sibuk dengan tugas-tugasmu?”
“Sudah tidak terlalu.” gumam Raena, hampir tidak terdengar. Entah hanya perasaannya atau apa, tapi sepertinya pembicaraan ini lumayan berat.

“Arra~ ayo pergi…” Seunghyun bangkit berdiri, dan mengangsurkan tangannya ke depan Raena. Tak urung Raena menyambutnya meski dengan wajah bertanya-tanya.
“Ke mana?” Raena menyuarakan isi pikirannya.
“Sudahlah, ikuti saja, ya?” jawab Seunghyun singkat sambil mengacak rambut yeoja itu sekilas. Mereka berjalan keluar café menuju tempat parkir, lebih tepatnya ke motor Seunghyun yang terparkir di sana.
“Igeo. Pakai.” Seunghyun menyodorkan helm ke Raena yang menerimanya dan langsung memakainya dengan patuh. Seunghyun sendiri sudah siap di atas motornya, tinggal menunggu Raena naik saja.
“Pegangan. Aku ngebut, lho.” Seunghyun tersenyum sambil melirik Raena lewat spion.
“Mwo? Jangan nge… HYAAAAAAA~!” teriakan Raena tenggelam di antara deru mesin motor Seunghyun, meninggalkan tempat parkir tadi.

—–

Mereka sampai di salah satu taman dekat Han-gang. Seunghyun memarkirkan motornya dan Raena langsung turun, melepas helmnya, dan menyerahkannya ke pemiliknya lagi.
“Kaja!” ajak Seunghyun sambil menarik tangan Raena ke arah salah satu bangku di sana. Yeoja itu hanya menurut dan mengikuti kemana Seunghyun melangkah.
Mereka duduk di bangku itu, diam sebentar, hingga suasana canggung kembali menyelimuti mereka. Raena kelewat sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Seunghyun… sepertinya juga begitu.

“Aku dengar,” Seunghyun memecahkan keheningan. “Ada namja di kelasmu yang menyukaimu, ya?”
“Eh?” saking kagetnya, Raena hanya bisa mengucapkan satu kata itu.
“Yah, yang kudengar dari Kyuhyun sih begitu. Namanya kalau tidak salah Jongwoon…” gumam Seunghyun, suaranya terdengar mengawang.
Raena diam saja, tapi benaknya berputar cepat (?). Kyuhyun? Apa Hyunjoon yang memberi tahunya? Atau dia tahu dari Jongwoon, mengingat dua orang itu lumayan dekat? Tapi atas dasar apa ia berani membeberkannya ke Seunghyun tanpa permisi?

“A, a, aku tidak…” kata-kata Raena terputus oleh omongan Seunghyun.
“Aku mengerti keadaanmu kok Na-ya, tenang saja…” kata Seunghyun sambil terkekeh. Mengerti? Mengerti apa?
“Mengerti keadaanmu~” lanjut Seunghyun seolah bisa membaca pikiran Raena. Raena menghela napas. Ia baru ingat kalau Seunghyun pasti juga sering mengalami hal yang sama dengannya, mengingat seberapa populer namja itu di tempat kerjanya.
“Ah iya, kau belum memberikan jawaban ke namja itu, kan?” gumam Seunghyun.
“Ah, eh? Aku? Belum…”

Mereka diam lagi. Atmosfer di antara dua orang itu sudah terlanjur tidak enak.
“Na-ya, Jongwoon orangnya seperti apa?”
Raena mengerutkan kening. Untuk apa Seunghyun bertanya?
“Kenapa?”
“Yah, hanya ingin tahu saja…”
“Aku tidak terlalu dekat dengannya, jadi aku tidak tahu persis, tapi kata anak-anak dia aneh, agak introvert, suaranya bagus, dan banyak fansnya kayak Kyuhyun.”
“Hoo, geurae?” Seunghyun mengelus dagunya. “Kenapa kalian tidak jadian saja?”

Raena refleks menoleh ke arah Seunghyun. “Mwo, mwoya? Hahahahaha~ kau bercanda kan?” ia tertawa canggung.
“Aku tidak bercanda.” kata Seunghyun dengan nada serius. “Itu Na-ya~ sepertinya… kita perlu break dulu?”
Raena berhenti tertawa. “Maksudmu?”
“Ya itu… masa’ kau tidak mengerti?”
Bukannya tidak mengerti, hanya saja Raena masih shock dengan kata-kata Seunghyun yang tiba-tiba.

“W-wae?” tanya Raena begitu kesadarannya kembali. Seunghyun menghela napas, sepertinya berusaha menyusun kalimat yang tepat agar yeoja di depannya lebih mudah mengerti
“Baiklah, dengarkan dulu Ra-ya, aku sudah memikirkannya sejak beberapa hari yang lalu.” Seunghyun mengawali eksplanasi panjangnya. “Kurasa memang lebih baik kalau kita break dulu. Putus, tapi tidak putus. Apalagi dengan kondisimu, dan Jongwoon. Aku rasa… kau lebih baik bersama Jongwoon.”

Mata yeoja itu mulai memanas, tapi ia berusaha menahannya. “Shirheo. Nan jeongmal shirheoyo.”
“Na-ya… ini demi kebaikanmu, aku tidak apa-apa…”
“Aku tidak mau Seung-ah…”
“Kita… break dulu saja. Mungkin lebih baik kau bersama Jongwoon. Cobalah dulu. Dia pasti lebih bisa melindungimu daripada aku…” kata-kata Seunghyun terputus karena Raena langsung memeluknya erat sekali.
“Aku tidak mau! Kenapa kau hanya memikirkanku? Bagaimana denganmu?” tangisan yeoja itu meledak –hampir. Seunghyun membiarkan Raena menangis dan membelai kepalanya lembut. Tidak ada pelukan (balasan) menenangkan darinya kali ini. Jika ia melakukannya, mungkin yeoja di depannya akan makin sulit berpikir secara jernih.
“Kan aku sudah bilang aku tidak apa-apa. Nan gwaenchanha.”

“Apa kau sudah tidak menyayangiku, makanya kau ingin kita putus? Begitu?” tanya Raena di sela isakannya.
“Masih. Sangat, Na-ya~ karena itulah aku memutuskan hal ini. Demi kebaikanmu. Aku ingin orang yang kusayangi mendapat segala sesuatu yang terbaik. Kau mengerti?”
Raena mengangguk ragu. Kali ini Seunghyun balas memeluknya.
“Mulai detik ini, anggap aku oppamu…”

—–

Sudah lewat beberapa hari sejak kejadian itu. Seunghyun dan Raena memang putus, dan sejak saat itu ia jadi agak tertutup kecuali ke keempat temannya. Empat orang itu pada awalnya juga kaget saat mengetahui apa yang terjadi pada Seunghyun-Raena. Unexpected, kalau kata Ayako.
Seunghyun belum pernah menghubungi Raena sejak mereka bertemu tempo hari. Sedangkan Raena, ia sama sekali tak berusaha mengontak Seunghyun. Hanya tak ingin sakit hati, begitu katanya.
Tapi entah ada angin apa, tahu-tahu hari ini Seunghyun mengirimkan pesan singkat pada Raena.

From: Seung-ah
Nanti jangan pulang dulu, aku akan ke sekolahmu. Mau ketemu Jongwoon. Arra?

Saking bingungnya merangkai kalimat balasan, Raena membalas pesan itu asal-asalan dan semampunya saja.

To: Seung-ah
Arra…

—–

Sudah 5 menit Raena berdiri di depan gerbang, dan baru saja 2 pesan singkat dari 2 orang yang berbeda masuk ke ponselnya. Yang pertama dari Jongwoon yang menanyakan di mana posisi Raena, sedangkan yang satu lagi dari Seunghyun, mengabarkan kalau dia sudah hampir sampai di sekolah Raena. Karena beberapa pertimbangan (termasuk karena pesan itu yang lebih dulu masuk), Raena membalas pesan Jongwoon terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, Jongwoon sudah ada di hadapan Raena.
“Pulang sekarang?” tanya Jonngwoon dengan senyumnya yang biasa.
“Nanti…” jawab Raena, setengah berdesis. Matanya memandang ke jalan di depan sekolah, dan ia menangkap sosok Seunghyun dan motornya dari kejauhan. Tak perlu menunggu lama sampai sosok itu berhenti di depannya. Raena sudah bersiap untuk sakit hati lagi saat Seunghyun akan melepas helmnya…

Tapi ternyata, tidak terlalu sakit.

“Annyeong Raena-ah~” sapa Seunghyun. Raena tersenyum kecil.
“Annyeong oppa…” ia lalu menoleh ke arah Jongwoon yang tampak agak bingung. “Eh, Oppa, ini Jongwoon, teman sekelasku. Jongwoon, ini Seunghyun oppa…”
Raena berhenti. Ia tidak tahu apa ‘kedudukan’ Seunghyun sekarang. Mantan pacar? Memang, tapi tidak enak diucapkan, apalagi di depan Jongwoon.
“…Oppa-nya Raena.” sambung Seunghyun cepat. “Yah, bukan oppa kandung sih, tapi aku menganggapnya yeodongsaengku sendiri, hehehehe.”
Wajah Jongwoon berubah sedikit lebih rileks. “Ne~ bangapseumnida hyung~”

Raena masih bingung tentang tujuan Seunghyun bertemu dengan Jongwoon, tapi saat ia menatap Seunghyun dengan tatapan ‘ada-apa-ini?’ nya yang biasanya, Seunghyun hanya mengibaskan tangan, pertanda tunggu-dan-lihat-saja. Pada akhirnya Seunghyun malah mengobrol dengan Jongwoon, meninggalkan Raena sendirian -____-”

“Nah.” sepertinya mereka sudah hampir selesai mengobrol. “Aku pergi dulu, ya? Hanya ingin mengecek kondisi Raena, kok.” Seunghyun memakai helmnya dan menyalakan motornya.
“Ne, hyung!” jawab Jongwoon. Raena mengangguk malas.
“Ah, satu lagi Jongwoon-ah,” Seunghyun membuka penutup helmnya. “Jaga Raena baik-baik, arra?”

—–

*diem *diem
nggantung ya? ._____. binguuuung
tebak aja deh habis itu gimana, kekekekekeke XD *plak *minta digampar

Advertisements

18 thoughts on “[One-Shot] Deciding the Decision”

  1. *nangisbeneran
    TT^TT
    seung-ah 😥 ottokheyo? jeongmal mianhaeyo seung-ah.. saranghae.. kajimaa.. T^T
    ini… galau… aaa :”(
    onnie suka tapiii :”
    uuu saeng-aaah~ *pelukpelukpeluk

  2. rasanya salah baca, ini ada terusannya ya ? kok tau tau putus ? 😮

    rae onn kenapa ? 
    berantem sama seunghyun oppa ? 
    waeeee ? 
    kok tiba tiba putus kayak gitu :'(((

    itu waktu seunghyun ngerelain 
    sumpeh 
    sedih banget :(((
    tau rasanya jadi seung 
    nggak mau ngelepasin 
    tapi harus ngelepasin :((

    onn balik lagi sama seung oppa
    HARUS BALIK !!!
    nggak mau tau
    nanti Kyu aku sewain (?) ke onn 
    yakin 

    balikan ya ? 😥

        1. jangaaaaan~ bikin taera duluuuu~
          (BGM: berry good berry good imut, berry good enak diemut, berry good chewy di mulut~ berry good, emang bikin good mood!)

  3. aelaaaah, ini putusnya dgn alasan yg ga masuk akal -____- masa gitu sih alasannya? bilang aja udh ga sayang lagi kek, gampang kan? ._.v
    jongwoon…. lu belum dpt jawaban ya? kaciaaaaan :3
    buat lanjutannya dong, bagus nih :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s