[One-Shot] Truths

Title: Truths
Genre: Romance, ‘lil bit o’ angst
Rating: PG-13
Character: Kim Jongwoon, Kim Raena, some side characters, as usual :p

lanjutannya Dilemma-ticDeciding the Decision, sama What If. semoga… yah… semoga berkenan *hasyah

Setelah sesi pengambilan nilai menyanyi itu, seluruh siswa diperbolehkan kembali ke kelas. Raena langsung bangkit berdiri begitu Dongho menghilang (?) dari kursinya, bersiap kembali ke kelas, tapi terhalang oleh gerakan tangan seseorang yang memegangi pergelangan tangannya erat.
“Ige mwoyaaa?” gerutunya kesal sambil berbalik untuk mengomeli pemilik tangan yang sudah lancang menahannya itu. Dan ia terpaksa menelan rentetan omelan yang sudah siap keluar dari mulutnya saat melihat siapa yang menghalanginya kembali ke kelas. Jongwoon, dan ia masih agak salah tingkah karena apa yang dilakukan Jongwoon saat pengambilan nilai tadi.

“Well, kau berhutang cerita padaku.” kata Jongwoon lembut. Raena terdiam. Bukannya ia tidak mau bercerita, sebenarnya ia benar-benar butuh tempat curhat untuk saat ini. Hanya saja… topik ini sepertinya kelewat riskan kalau harus dibicarakan dengan Jongwoon.
“Cerita apa?” tanya Raena, berpura-pura bodoh.
“Yang tadi itu, kenapa kau menangis?” Jongwoon balas bertanya. Raena menelan ludahnya gugup.
“Mm… tidak apa-apa. Aku memang agak sensitif kalau mendengar lagu-lagu yang seperti itu…”
“Jeongmal?” sekarang tatapan Jongwoon berubah agak menyelidik.
“Ne, jeongmal.”
“Arra, kalau begitu…” Jongwoon melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Raena. “Tapi kalau kau ingin bercerita, aku bersedia mendengarkannya kapan saja, kok.”

Raena tersenyum, campuran canggung dan tidak tenang. “Gomawo Jongwoon-ah…”
Jongwoon ikut tersenyum dan mengacak rambut yeoja di depannya sekilas. “Bukan masalah besar, Raena-ah… Oh iya, setelah ini, bisa bertemu sebentar?”
Raena menelan ludah, bingung. “Eh, mungkin?”

—–

End of School Period, 13.00

“Yo, Woon-ah! Noraebang?” tawar Kyuhyun begitu Jongwoon masuk kelas setelah melakukan pembicaraan ‘penting’ dengan Raena. Namja itu mengangkat alisnya, kaget dengan ajakan Kyuhyun yang tiba-tiba –termasuk juga karena ia masih memikirkan pembicaraanya barusan. Namja yang mengajaknya itu sepertinya sudah siap pulang.
“Boleh! Tapi… apa kau tidak mengantar Hyunjoon pulang?” tanya Jongwoon sambil mulai membereskan alat tulisnya. Kyuhyun menggeleng cepat.
“Anniya, dia mau ke rumah Raena dulu, sekalian sama Sungra, Ayako, dan Miho. Makanya aku sekalian mengajak Taemin, Hyukjae, dan Matsujun. Kalau begini kan sewanya lebih murah!”
“Geurae? Baiklah, kalau begini ceritanya aku bisa aman dari amukan yeojamu itu, hehehehe…” Jongwoon tertawa, dan tak urung membuat Kyuhyun ikut tertawa.

“Kapan berangkatnya?” tanya Matsujun yang tahu-tahu sudah berada di belakang Kyuhyun.
“Sebentar lagi. Mana dua orang itu?” tanya Kyuhyun si koordinator. Jelas sekali kalau yang dimaksud olehnya adalah Taemin dan Hyukjae.
“Hyukjae nggak mau ikut, kecuali dia nggak bayar sewa!” lapor Taemin yang baru saja bergabung dengan mereka. Matsujun berdecak kesal.

“Aish~ bocah itu benar-benar…” desis Matsujun sebal dan… berbahaya.
“Sudahlah, ajak saja dia, biar aku yang bayar.” Jongwoon menengahi. “Tidak apa-apa. Kebetulan uangku bulan lalu masih sisa.”
Taemin menatap Jongwoon takjub. “Arra, biar kupanggilkan Hyukjae ke sini.” katanya sebelum berbalik meninggalkan ketiga orang yang sudah siap berangkat itu.

—–

One particular Noraebang, 17.00

Jongwoon duduk di kursi sambil memperhatikan keempat temannya yang sedang menggila di sana. Ia lebih memilih duduk dan mendengarkan daripada ikut-ikutan. Bukan masalah sok jaim atau apa, hanya saja jumlah mikrofon yang ada memang cuma 4 ._____.

“Jongwoon-ah! Gantian!” teriak Kyuhyun dari depan. Jongwoon mengangkat sebelah telapak tangannya sambil menggeleng, menolak dengan tegas.
“Ayolaaaah, kau sedang galau, kan?” ledek Hyukjae sambil menghampiri Jongwoon dan menyeretnya hingga berdiri. “Igeo! Daripada duduk sendirian seperti itu, bisa-bisa kau menenggak racun duluan saking galaunya!”
Jongwoon tersenyum tipis dan mengambil alih controller mesin karaoke, lalu mulai memilih lagu. Pilihannya berhenti di lagu yang tadi dinyanyikan Raena dan Hyunjoon. Good-bye Baby.

“Kyuhyun-ah, duet!” tunjuk Jongwoon cepat. Kyuhyun menyipitkan mata, mengamati judul lagu yang tertera di layar, dan tertawa puas.
“Ayo! Biar aku tahu apa yang ada di pikiran Hyunjoon saat menyanyikan lagu ini tadi!”
Sementara untuk Jongwoon, tak ada alasan khusus tentang kenapa ia memilih lagu itu. Lebih kepada penghayatan Raena yang menurutnya luar biasa saat tadi membawakan lagu itu saat penilaian. Seperti… menceritakan pengalamannya sendiri? Sebagai orang yang cukup awam dengan dunia musik, Jongwoon memang bisa merasakan hal-hal seperti itu saat melihat orang yang sedang menyanyi.
Yang menjadi masalah baginya adalah, untuk siapa lagu itu sebenarnya ditujukan oleh Raena? Sepertinya ada hubungannya dengan kenapa Raena menangis saat Taecyeon dan Wooyoung menyanyikan Without U tadi.

Lamunan Yesung terpecah saat intro lagu yang menghentak terdengar dari speaker.
‘Good-bye baby, goodbye. Dwi-doraseo geudaero apeuro gamyeon dwae…’

—–

Selesai menyanyi –cukup satu lagu, menurutnya–, Jongwoon kembali duduk di kursi, tepat di sebelah Matsujun yang sedang menghabiskan sekaleng soft drink yang disediakan di ruangan tersebut.
“Hei.” kata Jongwoon sambil membuka satu kaleng soft drink. “Kau tahu tidak ada apa dengan Raena?”
“Kenapa bertanya padaku?” tanya Matsujun heran.
“Yah, siapa tahu Miho pernah menceritakan sesuatu padamu tentang Raena. Kau tahu, tidak?”

“Anniya.” gumam Matsujun, meneguk isi kaleng minumannya lagi. “Yah, setahuku akhir-akhir ini memang mood-nya agak down. Menurut Miho, sih, dia baru saja putus.”
Mata Jongwoon berkilat, sekarang satu petunjuk sudah berhasil didapatkannya. Pasti ini alasan dibalik tangisannya saat Taecyeon dan Wooyoung maju tadi.
“Geurae?” sambung Jongwoon. “Memangnya dia –kemarin–punya namjachingu? Bukan anak sekolah kita, ya?”
“Memang bukan.” Matsujun terdiam, lalu kemudian membuka mulutnya kembali. “Ini sebenarnya rahasia, setidaknya, dulu. Mungkin kalau kukatakan padamu sekarang tidak apa-apa. Namjachingunya alumni sekolah kita yang baru saja lulus. Namanya… sebentar, aku lupa… yang kuingat, Raena biasa memanggilnya ‘Seung-ah’, begitu.”
“Seunghyun?” tebak Jongwoon, berusaha menjaga intonasinya agar tetap terdengar datar dan tenang. Sementara itu, Taemin yang sudah selesai ‘menggila’ langsung duduk di sebelah Jongwoon dan diam-diam ikut mendengarkan pembicaraan.
“Nah! Itu dia!” Matsujun menepuk kedua belah tangannya satu kali. “Memangnya ada apa, sih?”
“Heh? Sepertinya aku dengar nama Seunghyun-hyung disebut-sebut. Waeyo?” Taemin ikut-ikutan.
“Itu, tentang Raena…” gumam Matsujun. Taemin terdiam. Sepertinya keadaan ini agak ‘berbahaya’ untuk Raena… dan juga Jongwoon.
Namja itu bangkit berdiri dan berpindah duduk ke sebelah Matsujun. “Hei, kau gila! Jongwoon belum tahu kalau Seunghyun mantan namjachingu Raena!”
“Lah, memangnya kenapa?” Matsujun balas bertanya.
“Memangnya kau tidak tahu?” Taemin membulatkan matanya. Matsujun menggeleng heran. “Tahu apa?” tanya namja yang disebutkan terakhir.

“Soal Jongwoon dan Raena…” Taemin merendahkan suaranya agar Jongwoon tak mendengar.
“Aku tidak tahu. Ada apa di antara mereka berdua?”
“Miho tidak memberi tahumu sesuatu?” dan setelah melihat gelengan Matsujun, Taemin hanya bisa menghela napas pasrah.

“Sepertinya aku perlu menghubungi Ra-ya…”

—–

Ra-ya angkat teleponnya! Lambat sekali sih jadi orang? Pulsaku keburu habis!

Malas-malasan, Sungra meraih handphonenya di meja rendah tempat berbagai makanan yang disajikan Yoon ajumma tadi. Sementara itu, keempat temannya cuek-cuek saja, sudah terbiasa dengan ringtone aneh bin ajaib kedua orang itu.
“Yeobosaeyo, ada apa Min-ya? Heh? Gawat apanya? Raena?”
Mendengar nada suara Sungra yang agak serius, Ayako yang kebetulan berada di dekat Sungra bergeser mendekati yeoja itu, apalagi setelah mendengar kata ‘gawat’ dan ‘Raena’.
“Ada apa Ra-chan?” tanya Ayako tanpa suara. Sungra membalasnya tanpa suara juga, “Sebentar!”

“MWOYA? Kok bisa? Siapa yang memberi tahunya? Oh, sial. Ne, aku masih di rumah Raena. Arra, arra. Tak apa, bisa diatur. Nanti pasti aku beri tahu ke mereka. Gomawo Taemin-ah… eh? Jemput? Terserah, sih, hehehe. Ne, annyeong~” Sungra mengakhiri sambungan teleponnya dengan Taemin, menghela napas, dan menatap Ayako yang masih memandangnya dengan tatapan ayo-ceritakan-ke-aku.
“Kakakmu. Berulah. La-gi.”
“Mwo? Kenapa lagi?” tanya Ayako.
“Soal Raena dan Seunghyun sunbae… ia membocorkannya ke Jongwoon.”
“HAH? Dasar bodoh! Babo!” Ayako marah-marah sendiri, meninggalkan Sungra yang speechless karena ledakan kemarahan yeoja itu yang agak tiba-tiba.
“Waeyo Ra-ah? Kenapa Ayako mengomel nggak jelas kayak gitu?” tanya Hyunjoon. “Matsujun atau Eunhyuk yang kenapa-kenapa?”
“Matsujun! Dasar! Si babo itu memang…” kata-kata Ayako terputus oleh teriakan Miho.
“Ya! Kenapa lagi sama makhluk itu?” teriak Miho penasaran sambil menyeret Raena menghampiri ketiga orang yang sudah memasang wajah serius.

“Itu. Matsujun keceplosan soal Seunghyun-Raena…” Sungra melirik Raena yang ekspresinya sudah berubah tidak enak. “… di depan Jongwoon.”
“A, apa?” hal terakhir tentangnya yang paling tidak boleh diketahui oleh Jongwoon, sudah ketahuan?
“Aish, mianhae Rae-chan… gara-gara si kembaran gila itu, sih!” omel Ayako sambil berkali-kali meminta maaf pada Raena.
“Neeee, mian Rae-ah… sepertinya aku harus memberi sedikit ‘pelajaran’ ke Jun-kun saat kami bertemu nanti.” tambah Miho.
“Ah, gwaenchanha Aya-chan, Miho-ah… sepertinya memang cepat atau lambat Jongwoon harus tahu, iya, kan?” kata Raena dengan senyum pasrah. “Yang jadi masalah sekarang adalah, apa yang harus kulakukan kalau –terpaksa– bertemu dengannya?”

Empat orang lainnya terdiam.
“Bersikap biasa saja Rae-ah, dan kalau dia bertanya, jawab sejujur-jujurnya. Sudah terlanjur, jadi sekalian saja. Aku yakin dia tidak apa-apa.” Miho angkat bicara dengan wajah agak tidak enak.

Tiba-tiba ponsel Raena berdering, masih dengan ringtone yang sama –suara rap Seunghyun–, dan yeoja itu langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
“Omo… eotteokhae?” desisnya pelan.
“Nugu Rae-chan?”
“Jongwoon~~ eotteokhaeeee~~” wajah Raena berubah memelas.
“Angkat saja Rae-ah, kasihan kalau tidak kau angkat.” Sungra mengarahkan dagunya ke ponsel di genggaman Raena. Yeoja itu menarik napas, berusaha menenangkan diri.
“Perlu di-loudspeaker?” tanya Raena. Keempat temannya serentak menggeleng.
“Andwae. Itu pribadi Raena-ah…” tolak Hyunjoon.

“Yeobosaeyo…”
“Yeobosaeyo, Raena-ah? Aku mengganggu?”
“Aniya, wae?”
“Tidak apa-apa, hehehe. Oh iya, malam ini kau sibuk tidak?”
“Tidak…”
“Bisa keluar?”
“Kurasa bisa.”
“Arra. Kalau begitu, nanti kujemput jam… hmm, tujuh?”
Raena melirik jam dinding di kamarnya. Sekarang pukul enam. “Oke. Ke mana?”
“Rahasia~ hehehehehe. Annyeong Raena-ah…” dan Jongwoon langsung memutuskan sambungan telepon.

“Jadi?” tanya Hyunjoon dengan tatapan menyelidik.
“Dia mengajakku pergi.” jawab Raena singkat bercampur gugup. “Jam tujuh. Eotteokhae?”
“Jeongmal? Cieeeeee~” tanpa bisa ditahan lagi, Ayako tertawa puas dan langsung dihadiahi cubitan ganas oleh Sungra.
“Salah sikon! Jangan ketawa dulu!” desis Sungra sadis. “Baru ada orang galau kok ketawa. Dasar.”
“Biarin! Raena-nya saja nggak apa-apa!” protes Ayako.

—–

The Kims’ House, 18.45

Raena menunggu di ruang tamu sambil mengutak-atik ponselnya. Berhubung orang tuanya sedang tidak ada di rumah, ia hanya berdua dengan Yoon ajumma yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
Sekali lagi Raena mengecek penampilannya. Style kasual-nya yang biasa, jeans dan kaos yang ditutupi jaket. Semoga Jongwoon tidak berniat mengajaknya pergi ke tempat yang kelewat resmi.

Ponsel dalam genggaman Raena berdering, dan Raena langsung mengalihkan perhatiannya ke benda itu. Ada sms.
“Aish… sepertinya aku harus mempertimbangkan mengganti ringtone-nya…” gumam Raena sambil  membuka pesan yang masuk. Dari… Jongwoon.

From: Kim Jongwoon
Aku hampir sampai~
Bersiaplah… ^^

Mau tak mau Raena tersenyum setelah membaca pesan singkat dari Jongwoon. Sedetik kemudian, ia merasa wajahnya memanas.

“Aiyaaaa~ aku kenapa, sih? Jangan bilang aku salah tingkah lagi~” gerutu Raena pada dirinya sendiri, sambil menepuk-nepuk kedua belah pipinya.
Lagi-lagi terdengar ringtone suara-rap-Seunghyun. SMS lagi… atau telepon?

From: Choi Hyunjoon
Rae-ah hwaiting! Jangan gugup! ^O^

From: Lee Sungra
Rae-ah~ kalau dia bertanya, jawab saja! Tidak apa-apa! Arra? 😄
P.S. kalian mau kemana? Kalau makan malam, jangan lupa rekomendasikan padaku kalau tempatnya enak! :p

From: Masami Ayako
Matsujun sudah aku marahi habis-habisan di rumah Rae-ah~ sekali lagi mianhae! TT^TT
Hwaitiiiiiinnnggggg!!!!! 😀

From: Go Miho
Kurasa kau perlu mengganti ringtone-mu. Kekekeke. Bercanda Rae-ah~ semangat! :3

Raena tertawa kecil. “Dasar makhluk-makhluk kurang kerjaan…” gumamnya sambil tersenyum-senyum. Saat ia akan mengunci layar handphonenya, tiba-tiba ia teringat akan isi SMS Miho, tentang ringtone-nya itu.
“Ganti? Diganti yang mana?” Raena kebingungan. Sebenarnya ia memang sudah berniat mengganti ringtone ponselnya, tapi tetap saja rasanya berat. Sayang kalau diganti…
Pikiran Raena yang sudah melayang kemana-mana terpaksa mendarat kembali saat terdengar bunyi bel pintu. Raena langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu rumahnya.
Pasti Jongwoon, tebak Raena sebelum menarik handle pintu dan membukanya perlahan.

“Eh, halo.” sapa Raena kaku saat melihat siapa yang berada di depannya sekarang. Tebakannya memang benar, dan sekarang rasa gugupnya makin menjadi. Ia belum siap bertemu Jongwoon yang –entah kenapa, dan menurutnya– terlihat agak berbeda kali ini. Ia memang belum pernah melihat Jongwoon dalam keadaan tidak memakai baju seragam, seperti saat ini, yang mengenakan jeans dan kemeja lengan pendek yang dikeluarkan. Seperti bukan Jongwoon saja._.
“Langsung berangkat?” tawar Jongwoon setelah membalas sapaan Raena.
“Terserah…”
“Lah, aku terserah padamu. Jadi bagaimana?”
Raena mengangkat bahu. Kalau begini ceritanya, bisa-bisa tidak selesai-selesai. “Arra, langsung berangkat saja. Aku pamit dulu…” kata Raena sambil berbalik dan kembali masuk ke rumahnya. Beberapa menit kemudian ia sudah keluar lagi, kali ini sambil menyandang tasnya di bahu.

Mereka berjalan keluar dari pekarangan rumah Raena, menuju…
“Eh? Pakai apa?” tanya Raena.
“Kau maunya pakai apa?” Jongwoon balas bertanya, lebih tepatnya, menggodanya. Raena menggembungkan pipi kesal.
“Jalan atau naik bus?”
“Salaaaaah~” kekeh Jongwoon, puas telah berhasil membuat yeoja di sebelahnya (agak) kesal. “Aku bawa motor Raena-ah, hehehehe.”
“Lah? Kenapa kalau sekolah nggak pakai motor sekalian?”
“Biar lebih hemat Rae-ah, lagipula parkiran motor di sekolah kita sudah penuh, kalau ditambah motorku, mau ditaruh di mana?” mendengar alasan yang tidak jelas semacam itu, Raena langsung terbahak.

Jongwoon mengambil satu helm dan memakainya, lalu mengambil satu lagi untuk dipakaikan ke kepala Raena.
“Hyaaa~ aku bisa pakai sendiri!” tolak Raena saat Jongwoon sudah mengambil ancang-ancang untuk memasangkan helm itu di kepalanya. Tapi tetap saja Jongwoon memakaikannya di kepala Raena, membuat yeoja itu terdiam sebentar.
Bukan apa-apa, tapi tindakan Jongwoon tadi mengingatkannya pada…

“Ayo naik.” suara Jongwoon membuyarkan lamunan singkat Raena, membuat yeoja itu mengedipkan matanya beberapa kali untuk menahan air mata yang sudah membayang di pelupuk matanya agar tidak jatuh.

Tapi sialnya, ada yang jatuh ke pipinya tanpa bisa ditahan-tahan lagi.
“Raena-ah, gwaenchanha?” rupanya Jongwoon sadar kalau Raena menangis, padahal ia sudah berusaha menutupinya semaksimal mungkin.
“Nee~ nan gwaenchanha~” Raena berusaha agar suaranya terdengar ceria, minimal, terdengar biasa, meski sepertinya gagal kalau ia sudah berhadapan dengan Jongwoon.
Apalagi kalau namja itu sudah menyeka air mata Raena dengan jemari tangannya. Rasanya sulit sekali.

—–

“Ke sana?” tawar Jongwoon sambil menunjuk ke satu café saat mereka berhenti di persimpangan lampu merah.
“Heh?” Raena mengamati café yang ditunjuk Jongwoon, dan seketika itu juga ia seperti mendapat serangan jantung ringan. “Ah~ jangan, jangan! Yang lain saja!”
“Mwo? Wae? Sepertinya tempatnya nyaman…”
“Hei, kau tidak lihat pakaianku? Cuma kaos dan jaket! Masa’ mau ke sana, jangaaaaan~” rajuk Raena. Alasan yang tidak logis sebenarnya, tapi sudah tentu ia tak bisa mengatakan kalau mantan namjachingunya bekerja di café itu.
“Arra, arra~” Jongwoon mengalah, dan wajah Raena langsung berubah lega. Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa situasinya kalau Jongwoon tetap memaksa ke café itu, dan ia terpaksa harus bertemu Seunghyun di sana. Jangan sampai. Jangan sampai.

“Makan di seputaran Han-gang, mau?” kali ini Jongwoon mengajukan opsi lain. Han-gang? Itu salah satu tempat yang sebenarnya ingin dihindari oleh Raena, tapi…
“Boleh, kalau kau mau.” Raena menjawab pasrah. Tidak enak juga kalau setiap usul Jongwoon ia tolak. Jongwoon tersenyum puas.

“Bagus~ aku tahu kedai makan yang enak. Kurasa kau juga akan menyukainya, hehehehe…”
Entah kenapa, begitu mendengar suara tawa Jongwoon, sesuatu dalam diri Raena terasa hangat. Sama dengan saat ia mendengar suara Seunghyun… sepertinya.

—–

Tolong jangan bangku yang itu, jangan, jangan…
Jongwoon sepertinya sedang kebingungan hendak berhenti di mana, karena hampir semua bangku di pinggir sungai Han itu sudah penuh. Raena memang melihat ada satu yang masih kosong, tapi rasanya ia harus berpikir sampai seribu kali jika harus memilih duduk di bangku itu.
Bangku itu… seingatnya, tempat ia dan Seunghyun duduk, sewaktu Raena ngambek karena para penggemar Seunghyun di café. Ia masih ingat bagaimana Seunghyun menggoda dan membujuknya hingga ngambeknya mereda. Ditambah es krim yang dibelikan Seunghyun untuk mengganti patbingsoo miliknya yang jatuh saat Seunghyun memaksanya naik motor. Matanya memanas lagi karena semua rekaman visual saat itu seolah-seolah terputar begitu saja di dalam benaknya.

“Yak! Di sini saja!” kata Jongwoon sambil memarkirkan motornya… di sebelah bangku ‘keramat’ itu. Oh tidak.
“Harus di sini?” tanya Raena jengah. Jongwoon menoleh.
“Sepertinya tidak ada yang kosong selain yang ini Rae-ah, memangnya ada apa?”
“Itu, anu… agak kotor, kan?” Raena asal bicara saja. Jongwoon memicingkan mata.
“Cuma daun kering. Tidak apa-apa, kan?”
Akhirnya Raena mengangguk dengan agak berat hati. Ia turun dari motor dan menyerahkan helmnya ke Jongwoon. Angin malam yang cukup dingin membuat Raena refleks merapatkan jaketnya agar ia bisa merasa agak lebih hangat.

“Kau duduk di sini, biar aku yang beli makanan. Mau apa?” tanya Jongwoon sambil mendorong Raena agar duduk di bangku itu.
“Aku… jjajangmyeon saja. Sekalian banana milk ya…” Raena merogoh tasnya, berniat mencari dompet.
“Aku yang bayar hari ini. Duduk tenang ya, jangan mendadak menghilang, hahaha.” pesan Jongwoon sebelum meninggalkan Raena, menuju ke barisan kedai makanan yang ada di dekat mereka.
Raena yang hanya sendirian tak bisa mencegah pikirannya supaya tidak berkelana kemana-mana. Sambil memainkan dedaunan kering di sekitarnya dengan kaki, ia menarik napas dalam-dalam, berusaha agar ia tak kembali galau.
Bukan salah Jongwoon kalau mereka ada di tempat itu sekarang, di tempat yang membangkitkan memori lama Raena. Bukan salah Jongwoon ia dan Seunghyun putus, itu keputusan Seunghyun sendiri. Bukan salah Jongwoon kalau perasaan Raena makin aneh akhir-akhir ini. Bukan salah Jongwoon…

“Igeo~”
Raena menoleh dan mendapati Jongwoon berdiri di sebelahnya, dengan sebuah tas plastik berisi berbotol-botol banana milk dan dua tempat makan styrofoam terbuka yang masih mengepulkan uap panas. Yeoja itu langsung tanggap dan mengambil alih kedua tempat makannya, sembari bergeser untuk memberi tempat duduk Jongwoon.
“Gomapta~” kata Raena sambil mengambil satu botol banana milk lengkap dengan sedotannya. Setelah meminumnya sedikit, ia beralih ke jjajangmyeonnya yang belum tercampur rata dan mulai ‘menggarap’ makanan itu.

“Raena-ah, keberatan kalau kita mengobrol sambil makan?” tanya Jongwoon tiba-tiba. Raena menggeleng.
“Tidak apa-apa. Aku sering kok, hehehehe…” jawab Raena sambil tertawa garing.
“Kau sering terlihat lesu akhir-akhir ini, ada apa?”
“Naega? Apa terlihat seperti itu? Kurasa aku tidak apa-apa.”
“Jeongmal?” Jongwoon tampak agak kesulitan merangkai perkataannya. “Kalau begitu, apa sekarang kau mau bercerita? Tentang itu… tentang kenapa kau menangis tadi siang…”
Mendadak Raena merasa sulit menelan makanannya. “Mwo?”
“Saat penilaian tadi siang…”
Raena terdiam. Menimbang-nimbang. Ia masih ingat dengan kata-kata Miho tadi siang yang menyuruhnya sekalian saja membeberkan semuanya ke Jongwoon. Tapi…

“Aku… baru saja putus…” entah ada setan dari mana, Raena malah mengatakan hal itu.
“Apa gara-gara aku?” tanya Jongwoon langsung –to the point.
“Heh? Aku tidak tahu bisa dibilang ya atau tidak, tapi ia bilang ‘dia –maksudku, kau–, pasti lebih bisa menjagamu daripada aku.’, begitu.” Raena menundukkan wajahnya. “Tapi tapi tapi, kau jangan merasa bersalah! Ini bukan salahmu!”
Jongwoon terkekeh. “Arra. Apa aku mengenalnya, maksudku, namja itu?”
Raena terdiam. Ia merasa Jongwoon sedang mengujinya, dan tanpa ragu-ragu ia balas menatap Jongwoon dengan tatapan menyelidik. “Hei, kukira Matsujun sudah memberi tahumu?”
Ekspresi Jongwoon berubah tidak enak. “Yah, hanya mengecek kebenarannya saja. Jadi, apa aku mengenalnya?”
“Kau bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, kalau kau ingat.” gumam Raena, berusaha menyibukkan diri dengan jjajangmyeon yang sekarang seperti tak ada rasanya itu. Padahal saat ia baru mulai memakannya ia tahu rasanya enak sekali.
Jongwoon tidak mengatakan apa-apa lagi, mungkin membiarkan Raena makan dulu sebelum mereka membicarakan topik yang lebih berat lagi.

“Kalau kau sedih, jangan segan menceritakannya padaku. Kalau kau tiba-tiba menangis seperti tadi siang kan aku juga yang bingung, mau menghibur tidak bisa, mengerti duduk permasalahannya saja tidak…” desis Jongwoon.
Raena menarik napas. “Maaf, aku memang agak sensitif kalau menyangkut topik ini. Mana lagu-lagu yang tadi siang benar-benar pas denganku, seperti Without U atau I Can’t Let You Go Even if I Die itu… coba Chaerin dan Minzy menyanyikan It Hurts sekalian, mungkin air mataku sudah membanjiri lantai kelas.” katanya sambil tertawa. Jongwoon ikut tertawa.
“Tapi kau tidak jelek. Kau hanya jelek waktu menangis, selebihnya tidak.”
“Hei, apa maksudmu?!” teriak Raena yang berusaha menutupi salah tingkahnya. Jongwoon mengangkat bahu sambil menahan tawanya.

“Eh, Raena-ah, soal apa yang kukatakan, eh, kutulis beberapa hari lalu saat mengantarmu pulang itu… tolong jangan dijadikan beban, ya?” kata Jongwoon tiba-tiba. Raena menoleh ke arah namja itu. Itu kan topik yang baru saja mereka bicarakan sepulang sekolah tadi…
“Ah, eh? Yang itu?” Raena langsung salah tingkah seketika. “Maaf kalau belum ku… err, belum ku… beri jawaban…?”
“Ne, gwaenchanha. Aku tahu posisimu sedang sulit.” Jongwoon mengacak rambut Raena sekilas. “Tapi… kalau yang kita bicarakan tadi sebelum pulang sekolah, itu serius, lho. Maksudku, aku serius soal akan membuatmu melupakan ‘sesuatu’. Dan… aku harap kau serius akan menerimaku juga kalau aku berhasil.”
Raena terdiam. Ia tahu wajahnya memerah, sangat tahu. Tak perlu menanyakannya ke Jongwoon yang sedang sibuk makan jjajangmyeon, karena ia sudah keburu menyadarinya sendiri.

“E-eh? A, Aku…”
“Sudah, habiskan makananmu dulu! Jjajangmyeon dingin itu tidak enak, tahu!”

————————————-

*pake helm*
oke… semakin geje ._.v
saya kehabisan ide akhir-akhir ini m(_ _)m miaaaaaaaan T^T
semoga anda puas, dan jangan timpukin saya pake batu bata yaaa~ kalau pake duit sih boleeeeeh~ XDD *plak *digampar 

Advertisements

10 thoughts on “[One-Shot] Truths”

  1. mau komen apa ya? .__.
    *plak!

    aigoo~~ kalo ditanya gitu mah emang pasti jawabnya gitu! *ini yang mana?*

    eiiii waktu di noraebang -___-
    ABANG DIBAYARIN JONGWOON?!
    ABAAAANG GANTIIIIIIIIIIII *adek kejem*

    oooh gitu toooh si Jun bilang ke woon nya -____-
    itu namja polos yaaa kayaknya *plak!
    marahin! marahin! *eh?

    eh? mm.. nngg.. ARRGH! Ikutan gugup waktu mau pergi! 0.0

    untung gak jadi yaa ke cafe itu yaa untung gak jadiiiiii T^T
    tapi tetep aja, di kursi itu~ TT^TT *nangis
    seungie~~~ 😥

    makan bareng woon, makan bareng seung aja nggak pernah *eh? *sedih
    tapi itu dibayarin kan? sama kayak abang dong dibayarin?
    aaah aku sama abang emang sehatiiii *plak! *keluar topik woy!

    itu.. si raena mulai lumayan ‘terbuka’ ya sama woon 😀
    lumayan laah, ada yang ngehibur+pelipur lara #eaaaaaaaaaa 😄

    jadi ceritanya si woon masih mau nunggu? :3
    kalo aku ntar balik lagi sama seung gimana woon-ah? *woon shock* 😄

    aiiii disini rae sama woon jadi lebih deket yaaa :’)
    sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa \(^o^)/
    gomawoyo saengie-aaah :’D

    1. err… ._____.

      ini maksudnya apa? -______-

      iya! hyukjae emang malu-maluin! suruh ganti! XDD

      iyaaaa, polos banget -___- gatau sih dia soal masalahnya jongwoon-raena-seung ._.
      IYA TAEM! MARAHIN AJA! XDD

      EKYAAAAAAAAAAAA~~~ XDD
      jelas dong eonn, masa’ gak gugup :B

      alhamdulillah… untung seung nurut._.
      m-mwo? huaaaaaa TT^TT *ikutan *solidaritas

      yaaampuuuuuun sediiiiih .____. masa’ gak pernah? serius? -_-
      iya dibayarin, soalnya kalian berdua sama-sama gatau malu -______- *digampar

      IHIIIIII~~~ akhirnyaaaaaaa :3
      cieeeeeeee :p aaaaah seunghyun marah lhooo *apa?!

      iya, dia kan setia dan tabah *halahalah
      astagfirullah, kasian jongwoon, bisa2 dia bunuh diri di tempat, aigooo~

      tak ada yang perlu dirahasiakan lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii~~
      gomawoooo :3
      cheonmanaeyo eonniiiiiii 😀

  2. Ini komen di tengah baca..

    “Soal Jongwoon dan Raena…” Taemin merendahkan suaranya agar Jongwoon tak mendengar.
    “Aku tidak tahu. Ada apa di antara mereka berdua?”
    “Miho tidak memberi tahumu sesuatu?” dan setelah melihat gelengan Matsujun, Taemin hanya bisa menghela napas pasrah.

    Bagaimana Miho bisa memberitahu Jun-ya kalau Miho saja tidak tahu apa-apa???
    #galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s