Rainy Summer [Part 1]

Title: Rainy Summer [Part 1]
Genre: Romance
Rating: PG-13
Character: Masami Ayako, Lee Hyukjae

Kangen ayakooooo :3
Rencana ini mau saya bikin two-shots aja, hehehehe. Gatau deh kalau lebih XP

Gadis itu menyukai hujan. Ia suka aroma tanah basah, irama air yang menghujam atap-atap bangunan, angin dingin yang datang setelah hujan reda, dan tetesan air dari dedaunan basah. Gadis itu sangat menikmati duduk di taman selepas hujan sambil menghirup udara segar di sekitarnya. Tapi ia tak terlalu suka musim panas. Ia tidak suka tubuhnya lengket bermandikan keringat karena terlalu banyak berkegiatan, atau kulitnya yang menghitam terpapar sinar matahari. Di musim panas ia akan lebih sering berada di rumah, menghabiskan waktunya membaca buku tanpa melakukan apapun, kehilangan interaksi dengan dunia luar.

Lelaki itu menyukai musim panas. Seolah ia terbebas dari segala rutinitas yang membelenggunya. Ia bebas pergi ke mana saja yang ia inginkan, tak terhalang kegiatan maupun cuaca yang tidak bersahabat. Leluasa melakukan segala hal yang disukainya –street dance, berlatih rap bersama teman-temannya, terkadang juga mengadakan pentas kecil-kecilan di tepi jalan atau dimanapun ia berada.
Lelaki itu tak suka hujan. Baju yang basah membuatnya tak leluasa bergerak dan hujan sering membuatnya terpaksa membatalkan acara yang sudah ia rencanakan dari jauh-jauh hari. Saat hujan datang, ia tidak akan memaksa dirinya pergi meninggalkan rumahnya yang nyaman dan hangat, kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.

Apa yang akan terjadi jika dua orang yang saling bertolak belakang seperti mereka bertemu?

—–

Pertemuan pertama kedua orang itu terjadi di satu café di daerah Apgujeong-gu, di tengah musim semi yang susah diramalkan cuacanya. Sebentar panas, dan sebentar kemudian bisa saja akan hujan.

Gadis itu membawa baki berisi Latte lengkap dengan dua potong croissant hangat di atas piring, kebingungan mencari tempat duduk yang kosong. Sayangnya café itu sedang benar-benar ramai hingga rasanya hampir mustahil ia akan menemukan satu kursi kosong di sana, kecuali di…

Mata gadis itu menangkap sebuah meja kosong dengan sepasang kursi yang terletak agak tersembunyi, di balik dinding yang tertutupi tanaman hias. Ia mulai melangkahkan kakinya secepat-cepatnya agar bisa segera duduk di tempat itu tanpa didahului oleh orang lain, tapi…

TRAK

Secara bersamaan, ia dan seseorang meletakkan baki mereka di meja itu. Si gadis mengangkat wajahnya, berusaha melihat siapa yang berusaha ‘mencuri’ meja itu darinya, dan pandangannya bertemu dengan seorang lelaki yang ada tepat di depannya.

“Ah, kau saja yang memakai meja ini, agasshi.” si lelaki bersiap mengangkat bakinya kembali, tapi ditahan oleh si gadis.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Toh kursi di meja ini ada dua.”

Pada akhirnya, setelah melalui argumentasi panjang hingga kopi di baki masing-masing mendingin, kedua orang itu duduk di meja tersebut. Basa-basi singkat mulai dilontarkan oleh keduanya, satu persatu, bergantian.

“Aku Lee Hyukjae, kau?” Hyukjae mengulurkan tangannya ke arah si gadis. “Kalau kau tak keberatan.”
Karena menuruti karakter lahiriahnya yang ramah, gadis itu menjabat telapak tangan Hyukjae sekilas. “Masami Ayako.”
“Hooo. Orang Jepang?”
“Ah, tidak, eh, ya. Umm, Korea-Jepang.”
Hyukjae mengangguk sekilas lalu kembali mengalihkan perhatian sepenuhnya ke Frappuccino di depannya. Matanya berpindah ke jendela di depan café yang menampakkan pemandangan jalan raya dan langit yang agak mendung.

“Kurasa sebentar lagi hujan.” gumamnya, secara tidak sadar mengerutkan ujung hidungnya karena kesal.
“Geurae? Baguslah. Aku suka hujan. Musim semi ini banyak hujan dan itu menyenangkan.”
Lelaki itu seperti tak mendengar kata-katanya, ia justru mengaduk isi cangkirnya untuk kemudian menyesapnya sedikit. “Yah, aku tidak suka hujan.”

“Mwo? Kenapa?” mata Ayako yang sipit membulat. “Aroma tanah yang basah itu menyegarkan, kau tahu?”
“Hujan itu menyebalkan. Aku sering sakit kalau musim hujan dan… aish~ lihatlah, gerimis sudah turun!” Hyukjae berdecak kesal dan mengedikkan bahunya ke arah jendela. Memang benar, jalan raya itu sudah mulai basah oleh titik-titik air dari langit.

“Terserah kau saja.” Ayako mengangkat bahunya. “Musim semi dan musim gugur sangat menyenangkan! Tidak banyak sinar matahari tapi banyak hujan! Kau harus tahu seberapa banyak aku membenci panas saat musim panas. Hmm…”
“Bulan depan musim panas, kan? Itu baru menyenangkan! Lebih enak berlatih breakdance di lapangan basket yang kering daripada studio indoor! Mm~” Hyukjae menggerakkan tangannya sedikit, menirukan gerakan breakdance yang sering ia latih dengan teman-temannya. Ayako bertepuk tangan, sekedar formalitas, lalu kembali menggigit croissant-nya yang tak lagi hangat hingga habis.

“Jam berapa ini?” tanya Ayako setelah sadar kalau ia lupa memakai jam tangan.
“Setengah empat.” Hyukjae melirik jam tangannya kemudian kembali menatap gadis di depannya. Tampak gadis itu terburu-buru mengambil sesuatu dari tasnya –buku catatan kecil, kemudian membalik lembaran-lembarannya hingga berhenti di satu halaman. Semenit kemudian, ia menutup buku itu dengan ekspresi panik dan setengah membantingnya ke atas meja.

“Hei, hei, ada apa?” tanya Hyukjae heran.
“Aku baru ingat kalau aku ada janji jam 4 kurang 15!” jelas Ayako cepat sambil bangkit berdiri. “Permisi, dan… umm, terima kasih!” pamitnya sambil berjalan-cepat keluar café, meninggalkan Hyukjae yang masih melongo melihat ‘pemandangan’ barusan.

“Aish~ babo~ kenapa aku lupa meminta kontaknya?” gumam Hyukjae beberapa menit setelah Ayako meninggalkan meja mereka. Sedikit banyak ia memang tertarik dengan gadis tadi, dan sayangnya ia lupa memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya…

… atau mungkin tidak?

—–

Hyukjae membalikkan lembaran buku itu satu persatu. Isinya memang banyak, tapi hanya sekedar reminder biasa. Tapi dari buku itu juga Hyukjae tahu kalau dia, Masami Ayako, satu universitas dengannya, hanya berbeda fakultas saja. Ia di fakultas seni sedangkan Ayako di sastra. Kebetulan gedung dua fakultas itu berdekatan, dan… sepertinya ia bisa mengembalikan buku itu besok.

Sekali lagi ia membalik-balik halaman buku itu, berusaha mencari petunjuk lain yang bisa digunakannya untuk ‘melacak’ gadis tadi.
Ah! Nomor telepon!
Hyukjae langsung membuka halaman pertama. Lazimnya memang data-data seorang pemilik ada di depan buku itu, kan?
Lelaki itu mendesis pelan saat tidak berhasil menemukan ‘buruan’nya di halaman pertama. Tapi setidaknya, ia punya satu bekal untuk menemukan gadis hujan itu: fakultas, ruang kelas, dan jadwalnya besok.

—–

“Ah, ne, kamsahamnida… eh? Mengabari kalau ketemu? Tentu saja. Maaf sudah merepotkan…” Ayako memutuskan sambungan telepon sambil menghela nafas. Pihak café tadi tidak menemukan buku ‘keramat’nya di meja tempatnya duduk. Padahal semua jadwal-jadwalnya, termasuk catatan tugas-tugas yang harus ia kerjakan semester ini ada di sana. Resiko jadi orang ceroboh, eh?

“Aish~ apa mungkin dibawa oleh namja itu?” gumam gadis itu sambil mengerutkan keningnya, berpikir keras. Ingatannya kembali ke lelaki yang duduk di depannya di café tadi sore. Wajah lelaki itu bisa dibilang agak tidak biasa, apalagi dengan senyum anehnya yang sampai menampakkan gusi itu. Remarkable.

Semenit kemudian, Ayako ganti merutuki kebodohannya karena ia tak mempunyai kontak lelaki itu hingga rasanya mustahil catatannya akan kembali, kecuali kebetulan yang sama berlaku dua kali. Tapi mana mungkin itu bisa terjadi di dunia yang serba realistis ini? Kemungkinannya saja hampir mendekati 0.

Ayako kembali menghela nafas. Sudahlah, mungkin memang sudah saatnya ia hidup mandiri tanpa mengandalkan buku catatannya lagi.

—–

“Masami Ayako, ada?”

Hyukjae melongokkan kepalanya ke dalam kelas sambil menunggu jawaban salah satu anak kelas yang (seharusnya) merupakan kelas Ayako. Sayangnya tidak tampak apa-apa dari balik pintu yang tertutup itu, terhalang kaca bertekstur doff yang menutupi pandangan dari luar ruangan.
“Kurasa ada.” jawab orang di depan Hyukjae ragu. Ia membuka pintu kelas, dan berteriak. “Ayako! Ada yang mencarimu!”

Hyukjae bisa mendengar suara langkah kaki seseorang, makin lama makin dekat. “Siapa?” dan bersamaan dengan itu, setengah badan gadis hujan itu muncul dari balik pintu.
“Aaaaah! Makhluk matahari!” teriak Ayako spontan, tangannya menunjuk Hyukjae tepat di hidung. Yang ditunjuk mengerutkan ujung hidungnya kesal.
“Igeo, dan aku punya nama. Lee Hyukjae. Catat itu, gadis hujan!” Hyukjae menyentakkan buku catatan Ayako ke telapak tangan gadis itu. Sekarang ganti Ayako yang menyipitkan matanya.

“Mwoya? Gadis hujan? Apa-apaan itu? Seenaknya saja!”
“Kau yang memulainya duluan, babo!”
“Aku tidak tahu namamu, pantas saja kan kalau kupanggil makhluk matahari?”

Hyukjae memutar bola matanya cepat. “Sudah untung buku catatanmu kukembalikan! Tidak ada yang gratis di dunia ini, nona… ayo bayar!”
“Apa? Bayar?” Ayako mencibir. “Pamrih!”
“Memang. Kau tahu? Ini prinsip kehidupan jaman sekarang, yang kuat akan menang melawan yang lemah! Sudah kubilang kan kalau tidak ada yang gratis di dunia ini?”
“Memangnya berapa yang harus kubayar untuk buku catatanku?” tantang Ayako, tersirat kekesalan yang amat sangat di wajahnya. Hyukjae tampak berpikir sebentar lalu ia menarik dagu Ayako hingga gadis itu terpaksa menatap ke arahnya.

“Jadilah pacarku!” kata Hyukjae serius. Mata Ayako terbelalak lebar sekali.
“MWOYAAAAAAAA?”

Advertisements

4 thoughts on “Rainy Summer [Part 1]”

  1. KYAAAAAA! KYAAAAAAAAAAAAAA!
    Yaampun Sungra baik banget sih rela bikinin beginiaaan~ :3
    Eunhyuk aku padamuuuu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s