Rainy Summer [Part 2]

Title: Rainy Summer [Part 2]
Genre: Romance
Rating: PG-13
Character: Masami Ayako, Lee Hyukjae

Nggak jadi two-shots, beneran, deh. Banyak-shots baru bener ._____.v

“Jadilah pacarku!” kata Hyukjae serius. Mata Ayako terbelalak lebar sekali.
“MWOYAAAAAAAA?”

—–

Ayako tidak pernah membayangkan kombinasi café, meja kosong, dua cangkir kopi, dua potong croissant, dan satu buku catatan bisa membawanya ke keadaan seperti sekarang, dimana ia, anak fakultas sastra, duduk di salah satu kursi kantin fakultas seni, tepat di sebelah Hyukjae yang sedang sibuk menyantap makanannya.

Entah sudah berapa kali Ayako merubah ekspresi di wajahnya, dari kesal, berusaha tersenyum, kesal lagi, berdecak saat melihat ke sekeliling, dan seterusnya. Benaknya sama sekali tak fokus ke apa yang ada di tempatnya berpijak sekarang, tapi ke kejadian yang terjadi di depan kelasnya tadi pagi.

“Pilih kau menerimanya sekarang atau kuulang sekali lagi, sambil berteriak, hingga semua orang yang ada di sini tahu?” Hyukjae tersenyum –licik– sambil menatap Ayako tepat di manik mata. Mau tak mau gadis itu harus berpikir secara cepat dan tepat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Menerima lelaki di depannya menjadi… menjadi pacarnya? Gila saja! Mereka baru bertemu kemarin, hanya berkenalan secara sekilas, tidak dekat sama sekali!
“Masami Ayako, kau masih punya waktu 5 hitungan lagi. Cepat putuskan! 5…”
Ayako mengerutkan dahinya. Aish~ harga diri dan rasa malunya dipertaruhkan. Kalau sampai lelaki itu benar-benar melakukan ancamannya, bisa gawat. Reputasinya yang tergolong tinggi bisa jatuh seketika.
“4…”
Hei, kalau dipikir-pikir dia tak terlalu buruk, kau tahu? kata suara batin Ayako.
“3…”
Tapi mana mungkin dia serius, ya kan?
“2… dan kalau kau mau tahu, Ayako-ssi, aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku.” ancaman Hyukjae kembali terdengar. Kalau begini ceritanya…

“Baiklah, baiklah!” Ayako menghela nafas dan langsung memutuskannya pada detik itu juga. Hyukjae merubah raut wajahnya menjadi puas dan melepas pegangannya di dagu Ayako.
“Arra. Saat lunch break nanti, kita makan siang bersama. Mengerti?” tandas Hyukjae, lalu ia mengacak rambut Ayako sekilas sebelum berbalik meninggalkan gadis itu di depan kelasnya, masih dalam speechless-state-nya.
“Mengerti…” baru beberapa saat setelah Hyukjae meninggalkannya, Ayako dapat membalas kata-kata lelaki itu. Miho yang melewatinya mengerutkan kening, heran.

“Mengerti apa Aya-chan?” tanya gadis itu.
“A… apa yang sudah kulakukan?” Ayako justru balik bertanya, linglung.
“Eh? Ada apa?”
“Aku… itu… ah!” Ayako mengacak rambutnya kesal. Baru saja ia mengubah sedikit jalan hidupnya, baru saja ia mengubah statusnya, baru saja ia…
“Hei, gwaenchanha?” tanya Miho sambil memegang dahi Ayako dengan telapak tangannya. “Kau ini kenapa?”
“Anniya, tidak apa-apa. Ayo masuk.” Ayako berusaha menenangkan diri lalu berbalik dan masuk kelas, diikuti Miho yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah abnormal temannya itu.

“Kau tidak makan?”

Lamunan Ayako terpecah oleh suara Hyukjae. Ayako langsung menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
“Tidak lapar.” jawabnya singkat.
“Kau diet atau apa, begitu, ya?” lanjut Hyukjae.
“Untuk apa? Malas.”
“Yeoja kan suka diet, siapa tahu kau juga. Aku kan tidak tahu.”

Ayako mengangkat bahu. “Aku mau.” katanya tiba-tiba. Hyukjae menaikkan alis, sedikit melirik gadis di sebelahnya. “Makan, maksudku.” tambah Ayako saat sadar kalau Hyukjae bingung.
“Kau mau apa?” tanya lelaki itu akhirnya.
“Sama denganmu saja, kimbap. Aku malas memilih…” gumam Ayako, ia mengangkat bahunya pelan. Bukannya berdiri dan memesankan makanan untuk Ayako, Hyukjae malah mengambil sepotong kimbap dari piringnya dan mengarahkannya ke mulut Ayako.

“Eh?”
“Buka mulutmu.” perintah Hyukjae, setengah memaksa agar Ayako membuka mulutnya dengan cara sedikit menekankan kimbap itu ke bibir gadis di sebelahnya. Ayako terpaksa membuka mulutnya sedikit, daripada lelaki di sebelahnya melakukan hal aneh lainnya agar ia menurut seperti… bahkan Ayako tak mampu membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Hyukjae nantinya kalau dia berkeras tidak mau disuapi.

“Lagi?” tawar Hyukjae. Ayako menggeleng. “Sudah. Nanti ganti kau yang kelaparan.” tolak gadis itu. Lebih tepatnya, ia risih dengan perlakuan Hyukjae barusan. Masa’ mau disuapi terus-terusan? Memalukan diri sendiri saja.
Hyukjae mengerutkan keningnya, tapi sepertinya tak terlalu ambil pusing. Lelaki itu kembali memakan kimbap di piringnya yang masih tersisa setengah.
“Kau serius tak mau makan lagi? Nanti kalau kelaparan, salahmu sendiri, lho.”
Ayako menggeleng mantap. “Kan aku sudah bilang, aku masih kenyang, Hyukjae-ssi…”

“Hyukjae-ssi? Aish~ masa’ kau masih memanggilku seperti itu? Ganti saja…” Hyukjae mengibaskan kedua tangannya di depan wajah. Ayako melengos. Apa-apaan sih? Sok akrab sekali!
“Terserahlah.”
“Ya! Neo! Dingin sekali, sih? Begini-begini juga aku namjachingumu!” protes Hyukjae kesal. Ayako menaikkan alisnya tinggi-tinggi, sama sebalnya dengan lelaki di sebelahnya.
Namjachingu juga karena paksaan, gerutu Ayako dalam hati. Ia berusaha menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis. “Arra, mianhae…”

Hyukjae diam saja, tidak bereaksi terhadap permintaan maaf Ayako barusan. Aish, belum-belum makhluk ini sudah ngambek? Dosa apa aku?
“Hyuk-kun~ mianhae~” bujuk Ayako, setengah hati, agak tidak ikhlas, ditambah sedikit salah tingkah saat mengucapkan ‘Hyuk-kun’.
“Mwo? Ulangi? Kau bicara apa tadi?”
“Hyuk-kun mianhae~” ulang Ayako sekali lagi. Sesukanya sajalah.
“Hyuk-kun? Mm~ johtaaaaa! Mulai sekarang panggil aku seperti itu, mengerti?”

Ayako terpaksa mengangguk. Sedikit tidak yakin dengan keputusannya, dengan apa yang akan terjadi dengannya mulai hari ini, dengan apa yang baru saja ia setujui.
Jujur, ia saja bingung dengan perasaannya sendiri –ah, persetan dengan hal itu–, apalagi dengan apa yang ada di benak Hyukjae tadi pagi. Apa ini hanya permainan lelaki itu saja, sekedar agar ia senang dan puas? Begitu? Seenaknya saja…

Kalau Hyukjae benar-benar melakukannya –menganggap hubungan mereka hanya permainannya saja– rasanya Ayako perlu menghajar namja itu di tempat, mengingat ia mulai terbiasa dan nyaman dengan keadaan di sekitarnya. Padahal sehari saja belum lewat.

—–

“Hujan…” gumam Ayako sambil menadahkan tangannya keluar dari atap teras gedung fakultasnya, sekedar menyentuh dan merasakan dinginnya air hujan yang jatuh dari langit. “Eh? Aku bawa payung tidak ya?”
Beberapa saat kemudian, raut wajah Ayako berubah suram. Ia lupa membawa payung, dan hujan yang seharusnya jadi saat favoritnya berubah drastis jadi sesuatu yang tak disukainya. Ia memang menyukai hujan, tapi tidak dengan acara basah-basahan karena kehujanan –sangat bukan dia sekali. Memang cuma gerimis, tapi kan tetap saja dia akan kebasahan nantinya -_-

Gom semariga, han chibe isseo
Appa gom, eomma gom, aegi gom~

Ponsel Ayako berdering cukup keras. Untung saja tidak ada orang di sekitarnya yang siap mentertawakan pilihan ringtone yang bagi sebagian orang terlalu childish untuk ukuran anak kuliahan.
Ayako meraih ponselnya dari dalam tas –terpaksa mengacak-acak separo isi tas tersebut–, hingga akhirnya berhasil menemukan barang ‘buruan’nya. Unknown number?

Ragu-ragu, Ayako menyentuh tombol ‘answer’ di touchscreen. “Yeobosaeyo?”
“Yeobosaeyo… Aya-chan, eodiga? Sudah pulang?”
“Ah, eh, nuguseyeo?” tanya Ayako. Dia agak familiar dengan suara itu, sih .__.
“Aish~ kau lupa suara namjachingumu sendiri? Hyukjae.”
“Oh. Aku belum pulang. Waeyo?”
“Tertahan hujan? Masih di gedung sastra kan?”
“Ne.”
“Bagus. Jangan kemana-mana, arra? Tunggu maksimal 10 menit lagi.”

Dan benar saja, kurang dari 10 menit kemudian, sebuah motor berhenti di depan teras gedung tempat Ayako menunggu. Si pengendara motor membuka penutup helmnya, dan tampaklah wajah Hyukjae di balik helm itu.

“Kau bawa jaket?” tanya Hyukjae, salah satu tangannya mengambil helm cadangan yang ia letakkan di jok belakang. “Igeo.”
Ayako memakai jaketnya dan segera mengambil helm dari tangan Hyukjae. “Memangnya kau tahu di mana rumahku?”
“Anniya. Memangnya di mana?” Hyukjae memasang wajah bodoh. Ayako melengos dan menyebutkan daerah tempat ia tinggal dengan cepat.

“Oke, oke, aku mengerti. Naiklah.” lelaki itu menarik lengan kanan Ayako dan menuntunnya agar duduk di belakangnya. “Pegangan yang erat. Aku ngebut, lho.”
“Shirheo~” tolak Ayako dengan wajah meremehkan.
“Sudah diingatkan masih tidak percaya. Ya sudah, terserah kau saja!” Hyukjae mulai menjalankan motornya. Mula-mula memang lambat, tapi begitu mereka sampai di jalan lingkungan kampus yang cukup lebar, Hyukjae langsung menambah kecepatannya secara mendadak.

“M-MWOYA? YAK! PELANKAN!” teriak Ayako panik dari belakang Hyukjae.
“Aku bilang apa tadi? Pegangan saja kalau kau mau selamat!” balas Hyukjae, tak terlalu jelas karena tersamarkan oleh kelebat angin.
“Patuhi speed limit yang berlaku, babo! Kau mau mati, ha?”
“Ini masih di bawah kecepatan maksimum, nona Masami! Sudahlah, pegangan saja!”

—–

From: Hyukjae
Besok hari cerah, lho. Mau pergi?

Ayako mengerutkan ujung hidungnya. Besok? Cerah? Berarti panas, kan? Malaaas~

To: Hyukjae
Shirheo~ aku malas kalau panas. Jangan…

From: Hyukjae
Hei, aku memaksa -_- ayolah, kau butuh sinar matahari juga, tahu!

To: Hyukjae
Ti-dak-ma-u! -____________-“

From: Hyukjae
Aiyaaa~ terserah sajalah. Lihat saja besok -,-

—–

“Kan aku sudah bilang, aku tidak mau!” bentak Ayako pada Hyukjae di depan pintu apartemennya.
“Memangnya apa yang akan kau lakukan pagi ini, nona Masami?” Hyukjae nyelonong masuk ke dalam apartemen kecil Ayako bahkan sebelum gadis itu mengizinkannya masuk. “Tidak ada, kan? Sudahlah, lebih baik kau ikut denganku. Kau tidak ingin melihat latihan breakdance namjachingumu yang tampannya minta ampun ini?”
Ayako berakting seolah ia ingin muntah, lalu menggeleng lagi. “Aku tidak mau. Aku benci panas-panasan!”
“Yah, kau harus suka.”
“Kata siapa?”
“Kataku. Mulai saat ini. Dari sekarang.” Hyukjae mengambil sebungkus permen yang ada di dalam toples. “Nah, ganti baju sana. Cukup pakai jeans saja, kok. Cuma ke taman, jalan-jalan sebentar, pulang lagi. Arra?”

“Oke. Oke!” Ayako menyerah dan berjalan menuju kamarnya. Sedetik sebelum menutup rapat pintu di belakangnya, ia masih sempat berteriak ke Hyukjae. “Jangan berani-berani mengintip, mesum!” yah, Ayako sepertinya sudah tahu seperti apa tingkat kemesuman Hyukjae, mengingat apa ‘koleksi’ yang ada di laptop dan harddisk bocah itu.
“Tenang saja, aku sama sekali tidak berminat dengan… AW!” kata-kata Hyukjae terputus oleh hantaman bantal besar ke wajahnya oleh Ayako.
“Diam!”

—–

“Panaaaaas~” keluh Ayako sambil mengibaskan tangannya di depan leher.
“Lepas saja jaketmu, dasar bodoh.” cela Hyukjae. Ayako langsung menginjak kaki lelaki di sebelahnya hingga ia mengaduh, keras sekali. Sementara itu, tangannya dengan cekatan melepaskan jaket tebal yang membalut badannya.

“Mana tempat latihanmu?” tanya Ayako tanpa memperdulikan gerutuan Hyukjae di belakangnya.
“Di sana.” Hyukjae menunjuk ke lapangan basket besar agak jauh dari tempat mereka berdiri. Memang ada beberapa orang di sana, tapi Ayako tidak dapat melihat mereka dengan jelas. “Kaja Aya-chan, sudah banyak yang menunggu!” namja itu meraih pergelangan tangan Ayako dan menariknya dengan setengah berlari agar berjalan lebih cepat ke arah lapangan basket tadi.

“Whoa, Hyukjae, yeojachingumu?” tanya salah satu namja yang sedang duduk bersila di lantai semen lapangan tersebut. “Yeppeo!”
Wajah Ayako memerah, ia tak biasa dipuji orang. Hyukjae yang menyadari perubahan ekspresi wajah Ayako mengerutkan dahinya. Cemburu, hmm? :3
“Ne. Jangan ganggu dia.” kata Hyukjae dengan nada sangat protektif. Ia mengambil jaket Ayako dari tangan pemiliknya dan menyampirkannya di bahu gadis itu, hingga menutupi bahu dan lengannya yang agak terbuka.
“Santai saja! Omong-omong, namaku Donghae. Lee Donghae. Kau?”
“Masami Ayako.” jawab Ayako. Sempat terpikir dalam benaknya, coba kalau yang kemarin bertemu denganku si Donghae ini…
“Ya, ya, apa yang kau pikirkan?” tanya Hyukjae tiba-tiba. “Jangan bilang kau menyesal karena menjadi yeojachinguku!”
“Yah, memang begitu, sih…”
“Mwoya? Apa kau bilang? Coba ulangi!”
“Anniya! Lupakan saja!”

—–

Entah sudah berapa lembar tisu yang dihabiskan oleh Ayako siang ini, semua digunakannya untuk menyeka keringatnya yang cukup membanjir terutama di area wajah. Padahal ia sudah berada di tempat yang teduh, tapi kenapa tetap saja rasanya panas sekali?
Ayako kembali memandang ke tempat Hyukjae dan teman-temannya berlatih. Mereka ada di tempat yang benar-benar panas, dan Ayako tak habis pikir kenapa Hyukjae terlihat sangat menikmati kegiatan yang (menurutnya) sangat melelahkan itu.

Hyukjae tiba-tiba berbalik ke arah Ayako dan mata mereka bertemu. Namja itu langsung melambaikan tangannya ke arah si gadis yang sedang berteduh, dan dibalas dengan lambaian canggung oleh Ayako. Sempat terlihat beberapa teman Hyukjae meledek lelaki itu habis-habisan, membuat Ayako tertawa sendiri melihat Hyukjae di-bully (?) oleh teman-temannya 😄

“Ayako-ssi, tolong botol minumku…” Ayako mengalihkan perhatiannya dari Hyukjae dan menoleh ke sumber suara. Donghae.
“Eh? Botol minum?”
“Ne, yang di belakangmu itu…” tunjuk Donghae ke salah satu botol plastik di belakang Ayako. Saat Ayako menyodorkan botol itu ke Donghae, ia sempat melihat Hyukjae yang mencuri-curi pandang ke arah mereka berdua. Hmm :3

Setelah Donghae berlalu, ganti Hyukjae yang menghampiri Ayako.
“Aya-chan, minum.” Hyukjae mengulurkan tangannya ke arah Ayako sambil menghempaskan badan di sebelah yeoja itu. Ayako diam saja dan mengambilkan salah satu botol minum di dekatnya.
“Kau… berkeringat…” komentar Ayako sambil menunggu Hyukjae menghabiskan minumannya. Ia merogoh tasnya, mengambil sebungkus kecil tisu, dan memberikan –setengah melemparnya– ke Hyukjae.

“Omooo~ sopan sedikit, nona!” ledek Hyukjae. Ayako mendengus kesal. Dasar.
“Sudah selesai belum? Sampai jam berapa? Ini sudah panas, tahu?” repet Ayako. Hyukjae menggelengkan kepalanya, agak heran dengan kemampuan berbicara gadis di sebelahnya.
“Sebentar lagi, tunggu dulu, arra?” katanya sambil mengacak rambut Ayako, lalu bangkit berdiri dan kembali ke tempat latihannya. ‘Berjemur’ lagi ._.

—–

Entah kenapa, lagi-lagi Donghae menghampiri Ayako yang tidak berprasangka buruk sama sekali terhadap namja itu. Tidak tahu apa kalau Hyukjae sudah seperti cacing kepanasan di sana melihat Ayako dan Donghae?
“Kau benar yeojachingu Hyukjae?” tanya Donghae dengan wajah penasaran. Ayako mengangguk kecil.
“Sejak kapan?” lanjut Donghae. Ayako menghitung-hitung sebentar dengan tangannya. “Umm~ sekitar… seminggu yang lalu?”
“Oh…” namja di sebelah Ayako hanya mengangguk-angguk kecil. “Kok bisa?”
“Yah… jadi…” dengan lancar (dan polosnya), Ayako mulai menceritakan apa saja yang terjadi antara dia dan Hyukjae sampai asal-usul (?) kenapa ia bisa ‘jadian’ dengan namja aneh itu.

“Begitu? Jadi kalau soal dasar perasaan… ada atau tidak?” tanya Donghae. Ayako mengangkat bahu.
“Molla. Aku sendiri juga bingung, hahahaha. Memangnya kenapa?”
“Tidak, tidak. Tunggu, kau sendiri merasa senang dengan keadaanmu sekarang tidak?”
“Aku? Mm… kurasa, ya. Ada apa sih?” tanya Ayako penasaran.

“Bukannya kalau suatu hubungan tidak didasari perasaan itu lebih gampang retak, ya?” pancing Donghae.
“Tergantung, siapa tahu di pertengahan tiba-tiba ada ‘sesuatu’ yang muncul. Segala kemungkinan bisa saja terjadi di bumi ini, kalau kau tidak tahu.”
“Tapi tetap saja… sebagai dasar, base-nya, tidak ada sama sekali. Kalau seperti ini sama saja kalian hanya pacaran ‘bohongan’, kan?”

Mendadak Ayako merasa tak enak. Pembicaraan ini membuatnya merasa tak nyaman.
“Apa maksudmu?”
“Yah, begini… andaikan, andaikan, ya, ada orang lain yang menyukaimu saat ini, dan ia menyatakannya padamu, padahal kau sudah bersama Hyukjae, maka apa yang akan kau lakukan?”
“Menolaknya, lah!”
“Hei, tapi kalau orang itu jelas-jelas menyukaimu, sementara Hyukjae… kau belum tahu, kan? Bagaimana?” pertanyaan Donghae lebih terdengar seperti menguji Ayako sekarang. Yeoja itu mengedikkan bahunya.
“Entah. Tergantung juga, sih, orang itu seperti apa.” ujar Ayako, setengah bercanda. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dari Donghae agar ia tidak kembali merasa tak nyaman.

“Kalau misalnya aku yang menyukaimu, bagaimana? Kau akan menerimaku atau tidak?”
“Eh?”

Advertisements

8 thoughts on “Rainy Summer [Part 2]”

  1. KYAAAA! KYAAAAAAA!
    Makasih Sungra-chaaan~ 😀
    Maaf banget ya aku belum bisa comment panjang, sama belum bisa baca ff yang lain~ -_-
    ABIS MID LANGSUNG CUSS AKU BACA DEH, insyaallah yah~ .__.

    1. cheonmanaeyooooo~~~~ :3
      gwaenchanha aya-chaaaaan 😄 santai~ belajar dulu giiih~ tanggal 3 ya mid-nya? aku tanggal 10… semesteran tapi -_- *pingsan
      neeee~~~ *catet *eh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s