Rainy Summer [Part 4]

Title: Rainy Summer [Part 4]
Genre: Romance
Rating: PG-13
Character: Masami Ayako, Lee Hyukjae – Side: Lee Donghae

Ayako menghitung-hitung dengan jemari tangannya. Hari ini hari pertama liburan musim panasnya, dan sudah hampir seminggu ia tak bertemu Hyukjae. Bocah itu sedang sibuk dengan urusan tugas-tugasnya, begitu katanya lewat SMS beberapa hari yang lalu. Dan Ayako tak bisa berbohong, ia tahu kalau ia… merindukan Hyukjae.
Sebenarnya bisa saja dia yang ganti mengontak Hyukjae terlebih dahulu, tapi siapa sih yang tidak mengenal makhluk bernama gengsi? Gadis itu selalu beralasan pada dirinya sendiri, Hyukjae sedang sibuk, lebih baik jangan diganggu. Padahal sebenarnya ia segan kalau harus menghubungi namja itu duluan, kesannya ia benar-benar amat-sangat-kangen-sekali…

Meski sebenarnya memang seperti itu.

Tangan Ayako terangkat, hendak meraih ponselnya, tapi sesuatu seperti menahannya. Lagi-lagi satu kata enam huruf itu yang menang, dan Ayako mengurungkan niatnya untuk menghubungi Hyukjae. Lebih baik sekarang ia jalan-jalan di seputaran rumahnya… sendirian.

—–

“Halo, kita bertemu lagi.”

Gadis berambut sebahu dengan beanie cokelat muda itu menoleh. Matanya melebar saat melihat siapa yang menyapanya barusan, dan ia refleks langsung mundur satu langkah, menjauh dari orang itu. Tampak ekspresi waspada di wajahnya selagi ia mengambil jarak ke belakang.

“Kau Ayako, kan? Kurasa kau masih ingat denganku. Donghae.”
Ayako mengangguk sedikit. Jujur ia sama sekali tak pernah berpikir akan bertemu orang ini. Rasanya ingin saja tidak.
“Hei, jangan canggung-canggung begitu… omong-omong, mana Hyukjae?”
“Sibuk. Banyak tugas.”
“Oh. Kukira…” Donghae menggantung ucapannya, sepertinya teringat apa yang terjadi saat latihan dance itu.
“Kau kira apa?”
“Tidak, tidak apa-apa. Santai saja.”

Ayako berusaha mengalihkan perhatiannya dengan cara mengamati tumpukan  buku yang ada di depannya, semacam isyarat halus kalau ia sedang tak ingin diganggu. Tapi Donghae sepertinya tidak menangkap isyarat itu –atau mungkin, dia sudah terlalu tidak punya malu untuk pura-pura tidak sadar– jadi namja itu masih berdiri di sebelah Ayako.

“Ah, eh, aku… duluan, ya?” sadar kalau tindakannya tidak akan membuat Donghae beranjak pergi, Ayako lebih memilih menyingkir duluan.
“Ke mana?”
Kau tidak perlu tahu, gumam Ayako dalam hati. “Makan.”
“Ho? Sekalian denganku saja! Aku lapar, hehehe…”

Wajah Ayako berubah makin masam. Sepertinya pilihan tindakannya benar-benar salah kali ini.

—–

“Biar aku saja yang bayar.”
Ayako terpaksa kembali memasukkan dompetnya ke dalam tas saat Donghae berkata ia akan membayar makanannya. Sementara Donghae pergi ke kasir, Ayako mengambil ponselnya dari dalam tas.

Masih sama. Tidak ada pemberitahuan pesan baru di sana. Gadis itu menghela napas. Sebenarnya Hyukjae niat tidak sih?

“Galau?” suara Donghae menginterupsi monolog Ayako.
“Anniya. Kenapa?”
“Aish, pasti gara-gara Hyukjae…” Donghae kembali duduk di seberang Ayako. “Sudahlah. Jalan-jalan denganku, bagaimana? Daripada kau galau sendiri?”
“Tidak! Tidak usah! Aku, mm, mau mengerjakan tugas kuliah dulu!” tolak Ayako.

Namja di depannya mengangkat bahu. “Ya sudah. Asal kau jangan galau. Kan aku sudah bilang, lebih baik kau denganku saja…”
Ayako mengerutkan kening, lalu menyepak kaki Donghae di bawah meja keras-keras hingga namja itu kesakitan. “Kau bodoh! Kan aku sudah bilang, aku tidak mau!”

“Memangnya Hyukjae serius denganmu?”
“Tidak tahu, tapi aku serius dengannya!” Ayako menyentak meja di depannya, tapi kemudian ia terdiam karena kata-kata yang spontan terlontar dari mulutnya tadi. Yang barusan itu sisi jujurnya, apa yang sebenarnya ia rasakan. Ayako tahu itu dan mendadak ia merasa salah tingkah. Apalagi saat namja di depannya tersenyum-senyum tidak jelas, makin malulah gadis itu.

“Geurae? Baiklah…” namja itu terlihat puas, seperti habis mengorek keterangan dari seorang tersangka dan berhasil melakukannya denga baik. “Kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu lagi mulai sekarang. Oh iya, kalau kau ingin tahu dia serius atau tidak, tunjukkan saja padanya kalau kau serius. Terserah apa cara yang akan kau lakukan, yang penting kau harus buat dia tahu kalau kau serius dengannya. Satu lagi…” Donghae bangkit berdiri. “Kemarilah.”

Ayako ikut berdiri dan berjalan mendekati Donghae, penasaran. Saat sudah dekat, Donghae malah mencium pipi Ayako sekilas, membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh ke arah Donghae.
“Titip Hyukjae, ya~” dengan senyum tanpa dosa, Donghae berpamitan (secara tidak langsung) ke Ayako yang masih speechless karena tindakannya tadi. Langkahnya ringan menuju pintu depan restoran, dan sesaat sebelum keluar, ia masih sempat berbalik ke arah Ayako.

“Buang saja gengsimu, tidak akan ada kemajuan kalau kau tak berani terus seperti itu.”

—–

Gadis itu memantapkan niatnya sekali lagi. Tangannya sudah berada di atas tombol call ponselnya, siap menekan tombol itu kapan saja.
“Yaak, 1, 2, 3!” dan tepat di hitungan ketiga, Ayako menekan tombol call itu semantap yang ia bisa. Sejauh ini ia tak pernah tahu kalau urusan menelepon orang saja bisa sesulit ini.

Sembari menunggu nada sambung terganti suara orang, Ayako mencoba merangkai kata-kata yang perlu ia ucapkan saat berbicara dengan Hyukjae nanti. Setidaknya agar tidak terlalu kaku…

“Yeoboseyo?”
Ayako terkesiap. Dia belum siap! Belum! Belum! “Ah, ne, yeoboseyo…” ucapnya, gugup bercampur senang setengah mati.
“Ada apa Aya-chan?” suara Hyukjae terdengar agak lemas. Mungkin kecapekan?
“Itu… kau… di mana?”
“Naega? Di rumah. Wae?”
“A, anniya…” rasa ragu Ayako kembali lagi. “Rumahmu… di mana?”
“Hueh? Jib? Untuk apa?”
“Beri tahu saja kenapa?” sentak Ayako. Hyukjae terkekeh lalu memberikan alamat rumahnya ke gadis itu yang langsung mencatatnya di buku catatan ‘bersejarah’nya.

“Nah, sudah dulu ya~ tugasku belum selesai. Annyeong~” kata Hyukjae sebelum mengakhiri sambungan telepon. Sudah lewat beberapa saat sejak panggilannya diputuskan oleh Hyukjae, tapi ponsel Ayako masih menempel di telinga pemiliknya yang sedang sibuk memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini.

—–

TING TONG

Ayako menekan bel apartemen Hyukjae sekali, lalu mundur selangkah sambil menunggu si pemilik apartemen membuka pintunya. Tak perlu menunggu lama sampai ia mendengar suara langkah dari dalam ruangan. Sedetik kemudian, suara Hyukjae terdengar dari intercom yang terpasang di sebelah pintu.

“Nuguseyo?” tanya si pemilik apartemen.
“Aku, eh, maksudku, Ayako.” jawab Ayako, melambaikan tangannya sekilas ke kamera intercom. Pintu terbuka dan kepala Hyukjae muncul dari dalam, senyumnya lebar hingga matanya hampir hilang.
“Masuklah,” ajak namja itu sembari membuka pintunya makin lebar, tangannya menarik Ayako agar masuk ke dalam apartemennya.

“Permisi~” Ayako melepas flat shoes-nya dan ganti memakai sandal rumah sementara Hyukjae menutup pintu di belakang mereka. Tanpa menunggu dipersilahkan, Ayako langsung masuk ke ruang tengah apartemen Hyukjae yang besar dan… rapi. Bahkan lebih rapi dari apartemen Ayako, hingga gadis itu malu sendiri.

Mata Ayako menangkap setumpuk kertas yang agak berantakan di atas coffee table rendah di ruangan itu, dan refleks ia langsung mendekati tumpukan itu untuk membaca isinya. Paper-paper Hyukjae. Banyak sekali, dan baru sedikit yang sudah selesai.  Pantas saja namja itu terlihat acak-acakan saat menyambutnya di pintu tadi, sepertinya ia habis lembur semalaman.

“Kenapa tidak dicicil selama liburan saja?” tanya Ayako, dua paper berbeda topik berada di tangannya. Hyukjae yang sudah berada di sebelahnya terkekeh.
“Lebih baik kuselesaikan sekarang, nanti selama liburan musim panas kan aku bebas pergi-pergi sesukaku, hehehehe…” kata Hyukjae. Ayako mengangkat bahu dan kembali meletakkan kertas-kertas di tangannya ke meja, tentunya setelah merapikannya sedikit.

“Jadi, ada apa? Kenapa menanyakan rumahku, lalu datang ke sini?” Hyukjae balas bertanya. “Kau…”
Kata-kata Hyukjae terputus oleh pelukan Ayako. “Aku kangeeeeeeeeen~” rengek gadis itu. Hyukjae terkesiap. Baru kali ini Ayako berlagak manja padanya, ini benar-benar kesempatan langka bagi mereka berdua.
“Heh? Kau… kangen? Dengan, denganku?” tanya Hyukjae tak percaya, telunjuknya menunjuk dirinya sendiri. Ayako mengangguk, menyembunyikan wajahnya dengan cara menundukkan kepalanya, terlalu malu karena tindakannya tadi. Apalagi saat ia mendengar suara tawa Hyukjae yang dibalasnya dengan tonjokan kecil di perut namja itu.
“Sudah seminggu kau tidak memberiku kabar, kau jahat~” gerutu Ayako. “Kau ini sebenarnya serius tidak, sih? Masa’ mengabari saja tidak sempat? Awas kalau hanya aku saja yang serius selama ini, kau akan kubunuh saat ini juga!”

Hyukjae berhenti mengacak rambut Ayako, lalu mendorong gadis itu menjauh –secara otomatis menghentikan pelukannya–, dan memegang kedua bahu gadis itu erat. Matanya menatap Ayako lurus-lurus.
“Kau bilang apa tadi?” tanya Hyukjae. Ayako menunduk, salah tingkah karena tatapan Hyukjae.
“Anniya, tidak apa-apa…”
“Hoo, tidak apa-apa? Berarti tidak perlu dijawab?” Hyukjae melepaskan pegangannya di bahu Ayako, lalu berjalan meninggalkan gadis itu menuju pekerjaannya. Ayako langsung mengangkat kepalanya dan menatap punggung Hyukjae yang menjauh darinya.

“Perluuuuu!”
“Lah, katamu tidak penting, kenapa harus dijawab?”
“Aku tidak bilang begitu!”
“Kau bilang begitu!”
“Aish~” Ayako menggembungkan pipinya lalu menghempaskan badannya di sofa, berjarak agak jauh dengan Hyukjae. Mereka diam beberapa menit seperti itu saja, Ayako yang ngambek dan Hyukjae yang fokus ke pekerjaannya.

“Kalau kau mau jawaban, ulangi perkataanmu tadi. Mudah, kan?” kata Hyukjae tiba-tiba. Ayako mengangkat sebelah alisnya.
“Kau mendengarnya tadi, aku tahu!”
“Ya terserah~ kalau kau tidak mau mengulanginya, ya aku tak akan menjawab pertanyaanmu. Bagaimana?”

“Aiyaaa~ kau menyebalkan!”
“Geurae? Aku rasa tidak.” Hyukjae mengangkat wajahnya dari tumpukan kertas di depannya. “Tapi, yah, setidaknya aku tahu kalau kau serius denganku.”
“NAH! ITU KAU DENGAR!”
“Memang, tapi kan aku ingin kau mengucapkannya sekali lagi, apa susahnya, sih?”
“Shirheo!”
“Ya sudah~” kali ini Hyukjae kembali meletakkan kertas yang barusan diobrak-abrik olehnya, lalu menatap Ayako yang tampak kesal. Senyum senang muncul di bibirnya, senang karena berhasil menggoda gadis itu, tentu saja. Ia beringsut mendekati Ayako, lalu setelah dekat, tangannya terulut, merengkuh pundak gadis itu dan merangkulnya erat. Ayako tidak menolak, hanya mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tidak lucu juga kan kalau baru marah tiba-tiba tersenyum?

“Kalau aku bilang ‘saranghae’, bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana?”
“Yaaa menurutmu aku serius atau tidak?”
Ayako mengangkat bahu.

“Saranghae~”
“Hmm~”
“Ya! Kenapa Cuma ‘hmm’?” protes Hyukjae, tak terima dengan respon Ayako yang menyebalkan menurutnya.
“Hmm~”
“Masami Ayakooooo~”
“Nado saranghae! Puas?” sentak Ayako kesal, tapi semburat merah tetap saja muncul di pipinya. Hyukjae tertawa lepas dan mencubit kedua pipi gadis di sebelahnya.

Tiba-tiba ponsel Hyukjae berhenti, membuat pemiliknya berhenti mencubit pipi Ayako dan ganti meraih telepon genggamnya di atas meja dengan satu tangan sementara tangan satunya melingkari pinggang yeoja di sebelahnya erat.
“Nugu?” tanya Ayako.
“Donghae. Video call. Pamer aaaaah~” Hyukjae menekan layar touchscreennya dan mengarahkan benda itu ke mereka berdua. Ayako diam saja.

“Hoooo~ sepertinya ada yang berbeda di antara kalian~” ledek Donghae begitu Hyukjae mengangkat panggilannya.
“Berbeda bagaimana?” tanya Hyukjae. Donghae nyengir lebar sekali.
“Tidak, tidak apa-apa. Aya-chan, kurasa kau sudah berhasil, hmm?” kata Donghae, kali ini mengalihkan perhatian ke Ayako. Yang diajak bicara langsung salah tingkah.

“Heh? Berhasil apa?”
“Itu~ yang tadi  kita bicarakan di café~” mendengar kata-kata Donghae, Hyukjae langsung melirik Ayako curiga.
“Sudah, kan? Apa lagi?”
“Sudah kok, aku juga tidak mau mengganggu kalian terlalu lama. Kekekekeke~ oh iya, Aya-chan, terima kasih untuk yang tadi ya!” Donghae menunjuk pipinya sendiri. Ayako langsung paham maksud ucapan Donghae dan gadis itu buru-buru menghentikan kontak matanya dengan Donghae. Hyukjae yang ‘mencium’ sesuatu yang mencurigakan di antara kedua orang itu diam saja. Lebih baik menanyakannya nanti.

“Oke, annyeong couple baru~ kekekekeke XD” Donghae tertawa lama sekali sebelum akhirnya memutuskan sambungan teleponnya. Sekarang tinggal Hyukjae yang masih kepikiran kata-kata Donghae sesaat sebelum ia mengakhiri panggilannya.
“Memangnya ada apa tadi?” tanya Hyukjae akhirnya. Ayako menggeleng.
“Tanyakan saja ke Donghae!”

Hyukjae mengangkat bahu, pura-pura tak tertarik dengan apapun itu yang terjadi di antara mereka berdua, padahal dalam hati ia benar-benar penasaran. Niatnya sudah bulat untuk menanyakannya ke Donghae saat ini juga…

…tapi Donghae sudah keburu meng-SMS-nya duluan.

From: FISH!
Aku mencuri pipi gadismu tadi, boleh kan? Kekekeke 😄

Mata sipit Hyukjae melebar. Oh oh, dia mengerti apa maksud temannya itu.
“Bagian mana?” Hyukjae menarik paksa kepala Ayako hingga gadis itu terpaksa menghadapkan wajahnya ke arah Hyukjae.
“Apanya?”
“Donghae. Di mana?”
Ayako langsung salah tingkah. “Di… sini…” gumamnya sambil menunjuk pipi kirinya. “Tapi tapi tapi, dia yang melakukannya, bukannya aku yang…”

Kata-kata Ayako langsung terhenti saat Hyukjae mencium pipi kirinya sekilas. “Nah, kalau begini, impas namanya~ hanya di situ saja? Yang lainnya tidak?”
Begitu melihat gadis di depannya menggeleng pelan, Hyukjae tersenyum puas. Tapi sedetik kemudian ia sudah mengganti senyumannya dengan cengiran super lebar yang membuat Ayako merasa tidak enak seketika. Uh oh.

“Hyuk-kun, kau ini kena… YA! YA! ANDWA–MM!!!!!”

—–

“Ayo pergi keluar~” ajak Hyukjae. Ayako menggeleng malas.
“Panaaaas~”
“Kata siapa? Hujan begitu, kok…”
“Eh? Hujan?”
“Neee~ hujaaaan~”
“Panas begini?”

as differences blended into one thing called love, everything is just possible in this world, included a rain in a sunny day…

————————————————————–

YAK. sudah end :3 jadi gimana nih aya-chaaaaan? mian kalau endingnya gak bener XP 😄

Advertisements

11 thoughts on “Rainy Summer [Part 4]”

  1. LAGI! LAGI! LAGI! *demo* *angkat papan* *kibarin bendera setengah tiang*

    Makasih Vapeee 😀

    Comment segini dulu deh -,-

    Aw masih pengen baca~ *maruk*

  2. eaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa 😄
    lagi-lagi aya yang nyosor duluaaaan *eh *plak!
    donghae-aah~ kasih tau pacarmu beneran niih kasih tau nihhh, maen cium pipi langsung aja -___-”
    akhirnya ya baaang~ dapet pacar jugaaaaa~ 😄
    eaa yang terakhir, so sweet deh, suka :3

      1. ho’oh, nyosor bilang ‘serius’, jadi si aya lagi deh yg mancing *eh
        kasih tau! biar donghae di peres(?) sampe kering tu badan *ikan book
        alhamdulillah yah baang~ sesuatu banget deh denger kamu dapet pacar 😄
        kagak gajeeeeeee~~ bagyuuuuus :3

        1. oooh gituuuu :3
          astagaaaaa kejaaaaaaaam 😮
          iya nih, perlu syukuran kayaknya *eh* tapi bukannya udah dapet pacar dari jilid (?) 1? -_-
          alhamdulillaaaaah~ gomawooooo :’D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s