[One-Shot] Waiting Times

Title: Waiting Times
Genre: bit of angst, romance
Rating: G
Character:

harusnya ini dipost duluan sebelum yang 사랑의 걸, tapi terlanjur-_- ya udahlah~
enjoy! 🙂 dan maaf kalau judul gak nyambung sama isi :p

Sungra’s POV

Sudah berapa tahun SHINee ada di Jepang? Tahu-tahu mereka sudah mengeluarkan single ketiga saja. Saking lamanya, rasanya seperti mereka sudah pindah ke negeri Sakura itu, tempat asal Ayako. Memang mereka sering kembali ke Korea, tapi itu hanya sehari-dua hari dan jadwal mereka sudah pasti amat sangat padat di hari-hari itu. Mana setelah itu mereka harus kembali ke Jepang pula. Dan lagi, hal itu tidak hanya terjadi satu-dua kali, tapi bisa berkali-kali dalam sebulan! Itu kan pemborosan namanya! Dasar perusahaan kebanyakan uang tapi tidak sayang bawahan!

Aku terpaksa menghentikan monolog asalku saat Chaekyo eonni menyuruhku menggantikan Hyerim yang sedang tidak enak badan. Yak, hari ini aku terpaksa menjadi waitress sementara. Padahal aku jauh lebih menikmati pekerjaan ‘di balik layar’ daripada harus terjun langsung melayani pelanggan seperti ini. Melelahkan sebenarnya, dan aku malas.

Selesai berganti baju, aku segera menuju ke area pelanggan yang sangat ramai dengan celoteh pengunjung di sana-sini. Seperti pelayan pada umumnya, aku mengantarkan makanan dari satu meja ke meja lain sesuai dengan pesanan mereka.
Saat melewati ruang VIP, kusempatkan diri untuk mencuri lihat ke dalam ruangan itu. Bisa dibilang sepi, hanya ada 3 yeoja di dalam sana. Aku rasa mereka Krystal dan Sulli f(x) serta Suzy Miss A. 94liners yang benar-benar akrab, eh? Rasanya ingin juga punya geng seperti itu, kelihatannya menyenangkan.

“Pesanan meja 4 ruang VIP!” teriakan Chaekyo eonni langsung menyambutku saat aku sampai di counter makanan. Segera saja kuambil nampan berisi makanan itu dan mengantarkannya ke meja yang berhak (?). Aku rasa itu pesanan salah satu yeoja dalam ruangan VIP tadi.
Masih beberapa meter dari mereka saja aku sudah bisa mendengar obrolan mereka, meski sayup-sayup, sih. Suara mereka keras sekali -____-”
“…jadi, SHINee masih di Jepang?” tanya Suzy. Krystal dan Sulli mengangguk.
“Ne~ kata Taeminnie oppa tadi pagi, mereka baru akan pulang minggu depan~” jelas Sulli saat aku sudah berada di sebelah meja mereka.
“Jogiyo, steak dan cola float pesanan anda…” kataku sambil meletakkan piring dan gelas di depan Sulli, karena itu satu-satunya tempat di meja yang masih kosong.
“Waaah~ akhirnya~ Taeminnie oppa yang merekomendasikan steak di sini padaku, katanya enak sekali~” kata Sulli dengan wajah cerah. Aku terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tersadar saat ingat kalau pekerjaanku masih banyak.
“Selamat makan~” aku tersenyum dan menundukkan kepala sekilas, basic attitude seorang waitress. Begitu mereka bertiga membalas senyumanku, aku segera berbalik untuk kembali mengantarkan pesanan.

Selama berjalan menuju ke counter makanan, kata-kata Sulli masih terngiang-ngiang di telingaku. Sulit sekali dihilangkan.
“Sungra-ah, gwaenchanha? Kau terlihat pucat…” tanya Hyunjoon eonni saat aku berpapasan dengannya.
“A, aniyo… gwaenchanha… eonni, aku rasa aku harus ke toilet sebentar…” gumamku, memaksakan senyum ‘aku-tidak-apa-apa’ terpampang di wajahku. Hyunjoon eonni masih tampak khawatir, tapi sekali lagi aku menggelengkan kepala dan langsung mendorongnya agar kembali bekerja. Lalu aku berjalan menuju toilet pegawai yang terletak di dekat dapur. Tidak, aku tidak benar-benar ingin ke kamar mandi, aku hanya ingin menyandarkan badan di dinding untuk berpikir sejenak dan menjernihkan pikiranku.

“…kata Taeminnie oppa tadi pagi, mereka  baru akan pulang minggu depan~”
Tadi pagi, hmm? Kapan terakhir kali Taemin menghubungiku? Rasanya sudah lama sekali. Tapi… kenapa Sulli? Kenapa bukan aku yang ia beritahu soal rencana kepulangannya?
“…Taeminnie oppa…”
Aish… entah kenapa aku tidak suka mendengar cara Sulli memanggil Taemin tadi. Menyebalkan. Sebenarnya aku ini Taelli shipper, tapi kalau di saat seperti ini…

Tunggu, tunggu, apa aku cemburu? Aku rasa… iya.

Cepat-cepat kurogoh seragam kerjaku untuk mengambil ponsel. Tanpa menunggu lama aku langsung menekan speed dial nomor 4 setelah eomma, appa, dan telepon rumah. Nomor telepon seseorang yang baru saja membuatku galau itu.
Baru saja ponselku menempel di telinga, ibu jariku menekan tombol ‘end’ di sana. Aku tiba-tiba merasa sesak karena satu pemikiran yang mendadak menghantamku sesaat setelah aku meneleponnya.
Lihat. Aku bukan siapa-siapanya. Aku bukan siapa-siapa dari seorang Lee Taemin. Meski ia ‘mengatakan’ kalau ia men…men… yah begitulah, tapi secara tersirat, dia belum pernah mengatakannya secara terang-terangan– tapi tetap saja…
Tidak ada sesuatu yang bisa disebut status di antara kami. Tidak ada semacam ikatan atau apapun itu. Tidak ada yang menegaskan secara resmi apa yang sebenarnya terjadi antara Lee Sungra dan Lee Taemin. Semacam kosong, hanya kosong saja.

Dan karena itu, aku merasa tidak berhak untuk menghubunginya terlebih dulu.
Dari dulu, tiap kali aku berpikir untuk menghubungi Taemin, selalu alasan ‘Ia-sedang-sibuk-lebih-baik-jangan-diganggu’ yang lewat dan kuucapkan pada diri sendiri. Tapi sekarang tidak. Tidak lagi. Tidak setelah aku menyadari hal itu.

Perasaan seseorang bisa berubah, kan?
Aku takut Taemin berubah. Serius, aku takut sekali. Benar-benar takut. Setelah semua yang terjadi selama ini…

Kalau ada yang mau membunuhku, kurasa aku sudah siap sekarang.

Dan sepertinya aku tidak jadi tidak membuthkan kamar mandi di sebelahku. Sebentar lagi akan kupakai, kok. Semoga tisu yang tersedia di dalamnya masih ada cukup banyak.

—–

 Taemin’s POV

Sungra kenapa, ya? Aku sudah meneleponnya berkali-kali hari ini, tapi ia tidak menjawabnya sama sekali. Begitu juga dengan SMS-SMS yang kukirimkan tadi. Aish… kalau begini ceritanya kan jadi susah memantaunya…
Coba kalau aku punya kontak salah satu dari teman-teman dekat yeoja itu. Jadi aku bisa menanyai mereka. Tapi… siapa? Raena nuna saja aku tidak tahu berapa nomor handphonenya-_- apa kutanyakan ke Kyuhyun hyung saja, ya? Semoga ia mau memberikan kontak Raena nuna padaku, begitu pikirku sambil mengirim SMS pada Kyuhyun hyung. Intinya, menanyakan nomor Raena nuna, ditambah alasan kenapa aku memintanya.

Semenit. Lima menit. Sepuluh menit. Aish! Lama sekali! Apa sih yang sedang dilakukan iblis itu?
Aku menghela nafas dan kembali men-scroll daftar kontak-kontak di ponselku, mencari seseorang yang bisa kutanyai. Aku rasa beberapa orang dari Super Junior hyung-deul punya kontak Raena nuna. Tapi siapa? Apa Jungsoo hyung? Atau Donghae hyung? Hyukjae hyung? Sungmin hyung? Wookie hyung? Yang jelas bukan Youngwoon hyung atau Heechul hyung, mereka berdua kan sedang di kamp sekarang.
Jemariku sudah hampir menekan nomor Sungmin hyung –berdasar logika kalau Kyuhyun dan Sungmin hyung sekamar, jadi besar kemungkinan Sungmin hyung tahu– saat ponselu berdering, menandakan SMS masuk. Kyuhyun hyung!

Cepat-cepat aku membuka pesan, ani lebih tepatnya business card darinya dan langsung menyimpan nomor Raena nuna. Aaaah~ untunglah ia mau langsung memberikannya, sepertinya mood Kyuhyun hyung hari ini sedang baik.

Telepon atau SMS? Ah, telepon saja. SMS pasti lama dibalasnya. Akhirnya aku menekan nomor telepon Raena nuna untuk menghubunginya.

“Yeoboseyo~ Raena di sini~ ini siapa, ya?” terdengar suara Raena nuna menggantikan bunyi nada sambung telepon.
“Nuna? Ini Taemin. Lee Taemin.” jawabku. Raena nuna tidak menanggapi kata-kataku selama beberapa detik.
“Ah~ Taemin-ssi? Ada apa?”
“Itu, nuna…” rasanya canggung juga kalau aku harus membicarakan Sungra dengan orang lain. “Sungra…baik-baik saja, kan?”
Terdengar suara helaan napas di seberang sana. “Ne~ dia baik-baik saja, tidak sakit, sehat sekali malah. Hanya saja ia sering murung akhir-akhir ini. Kau tahu kenapa?”
“Nan molla, nuna-ah. Memangnya ada apa dengannya?” tanyaku penasaran.
“Memangnya dia tidak memberi tahumu?”
“Mana mungkin, teleponku saja tidak diangkat, SMS tidak dibalas…apa Sungra marah padaku?”
“Hmm…aku tidak tahu persisnya sih, yang pasti…” Raena nuna kembali diam. Aku menunggu kata-katanya dengan penuh antisipasi.
“Yang pasti apa, nuna?”
“Beri kepastian padanya. Ia mulai meragukanmu, lho.”

Eh?

“M-maksud nuna?”
“Aku tidak bisa memberi tahumu, Taemin-ssi. Kurasa kau juga mengerti apa maksudku. Tolong, ya? Kali ini aku tidak bisa menjadi ‘cupid’ kalian berdua lagi. Ini masalah kalian sendiri.”

Keningku sudah berkerut dari tadi.

“Nuna…aku tidak mengerti maksudnya…”
“Aish, dasar anak kecil. Intinya, beri kepastian ke Sungra, sebenarnya kalian ini apa? Dia ingin perhatian padamu tapi dia ragu antara kau serius dengannya atau tidak, dia bingung dengan hubungan di antara kalian berdua, dan lagi, kau sudah lama tidak menghubunginya sampai ia khawatir setengah mati seperti itu! Kau pikir aku tidak kebingungan menanganinya yang curhat dengan wajah hampir menangis? Kau itu namja, bersikaplah tegas!”
“A, ah, arasseo nuna…”
“Arasseo? Kalau memang ‘arasseo’ lakukan sekarang juga kalau perlu! Sebentar, biar aku carikan Sungra!”

Terdengar suara tidak jelas dari speaker ponselku, lalu suara orang-orang yang sedang berbicara meski tidak terlalu keras, dan berganti suara alat-alat dapur yang berbenturan.
“NUNA! TIDAK PERLU!” teriakku saat sadar Raena nuna sudah sampai di dapur. Bukan apa-apa, tapi aku belum siap untuk mengatakan apapun pada Sungra!
“Mwoya? Ini perlu! Kau pikir Sungra tidak sakit hati?” bantah Raena nuna.

“Eonni…kenapa? Ada apa? Kenapa menyebut namaku?” tiba-tiba terdengar suara Sungra sayup-sayup.
“Igeo! Bicara pada orang yang sedang menelepon saja!” teriak Raena nuna. Sepertinya ia sudah sangat emosi kali ini.

“Ah, eh?” Sungra sepertinya kebingungan. “Yeo…yeoboseyo? Siapa ini?”
“Yeobo isseo?” entah kenapa aku malah ingin menggodanya begitu mendengar suaranya di seberang.
“Min-ah?” ia sepertinya agak ragu.
“Ne…lama tidak mendengar suaramu…”
“…” ia diam. Canggung sekali suasananya.
“Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”
“Mm, itu…”
“Begini saja, nanti setelah aku memutuskan sambungan telepon ini, minta izin untuk pergi ke tempat yang agak sepi, dan terima panggilan dariku. Mengerti?”
“Ne, aku mengerti.”
“Baiklah. Annyeong…” dan aku langsung memutuskan panggilan. Kalau menurut perkiraanku, ia akan membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk menyelesaikan perintah yang kuberikan. Baiklaaaah~

—–

Sungra’s POV

“Eonni, gomawoyo~” aku mengembalikan iPhone Raena eonni ke pemiliknya.
“Cheonmanaeyo. Jadi bagaimana? Masalahmu sudah selesai?”
“Molla. Tapi Taemin bilang ia akan meneleponku setelah ini, dan aku harus mau. Eotteokhae?”
“Ya sudah. Mungkin ia akan menjelaskan semuanya saat meneleponmu.” kata Raena eonni sambil menjitak dahiku sekilas.
“Eonni appo!”
“Biar saja~ aku kan menggantikan Taemin menjitak dahimu~”

Sekali lagi aku menyandarkan badan di dinding dekat toilet pegawai. Belum ada panggilan dari Taemin. Syukurlah. Aku rasa aku masih harus menenangkan diri dulu sebelum berbicara dengannya lagi.

Tiba-tiba layar ponselku berkedip sekali, ada notifikasi. Permintaan video call dari… Taemin? Gila, niat sekali dia -_-”

“Sungra-aaaah~” teriak Taemin begitu wajahnya muncul di layar ponselku.
“Ne~” balasku, melambaikan tangan sekilas padanya. Ternyata video call itu menyenangkan juga, cuma…mahal–”
Ia –dalam layar– terlihat sedang sibuk merangkai kata-kata, kurasa. Aku sendiri juga bingung hendak mengatakan apa dalam situasi seperti ini.
Lebih baik…tunggu dia yang memulainya saja…

—–

Author’s POV

“Bogoshippeo~” kata Taemin akhirnya.
“Eh? J, jeongmal?”
“Ne~ jeongmal!”
“Tapi kenapa tidak pernah ke restoran?”
“Aku sibuk, kau tahu kan?”
Sungra menggembungkan pipinya. “Tidak, aku tidak tahu dan tidak mau tahu.”
“Jangan begitu~” bujuk Taemin. “Omong-omong, kenapa kau tidak menjawab panggilan teleponku?”
“Aku marah.” jawab Sungra pelan, tapi Taemin tetap masih bisa mendengarnya dengan jelas.
“Wae?”
“Kau menyebalkan!”
“Kok bisa?”
“Kenapa kau malah memberi tahu kepulanganmu ke Sulli? Bukan padaku? Kau tidak mau aku tahu kalau kau akan pulang? Oke! Baiklah! Tidak usah memberi tahu juga tidak apa-apa!”

Taemin terdiam melihat ledakan kemarahan Sungra yang tiba-tiba itu. Baru kali ini ia melihat Sungra yang sedang emosi berat.
“Bukan begitu maksud–”
“Sebenarnya aku tidak marah karena itu, aku kesal karena kau tidak mengabariku, tapi malah memberi tahu Sulli?!”
“Kau cemburu?” celetuk Taemin. Sungra terdiam. Tiba-tiba wajah yeoja itu terasa panas. Darahnya mengalir ke pipi dengan kecepatan maksimal hingga warnanya merona merah.
“Iya! Aku cemburu!” balas Sungra. “Tapi memangnya aku berhak cemburu padamu? Memangnya aku siapa? Aku hanya fans biasa yang beruntung kenal dan dekat denganmu…”
“Dan aku cintai…”
“Ne, dicintai oleh…eh?”

“Kau berbeda, Ra-ah. Kalau hanya kenal denganku, banyak yang seperti itu. Yang dekat denganku juga banyak. Tapi yang aku cintai, hanya kau. Cuma Lee Sungra yang sekarang sedang melakukan video call denganku, dan menutupi wajahnya dengan tangan, dan…”
“YA! SHIKKEURO!!” potong Sungra.
“Ahahahahahaha~ sebenarnya kalau kau mau cemburu boleh-boleh saja, kok~”
“Memangnya aku siapamu?”
“Kau…” Taemin memejamkan matanya sebentar. “…kan calon yeojachinguku. Masa’ tidak boleh cemburu?”

“Ca, calon yeojachingu?”
“Ne, tapi pasti sebentar lagi akan berubah, kok~ kau keberatan?”
“Aniyo, hajiman…”
“Kok tapi lagi?” Taemin terkekeh. “Kalau kau masih keberatan…ayo jadian saja sekarang!”
“EH?”
“Sebenarnya aku ingin melakukannya kalau aku sudah pulang dan sedang berada di Korea, tapi karena tidak sempat, terpaksa jadi begini. Bukan maksudmu meng’gantung’kanmu, hanya saja…kau tahu, kan? Sebenarnya aku tak memberi tahumu kalau aku akan pulang minggu depan agar itu menjadi kejutan, tapi ternyata kau sudah tahu lebih dulu.” namja itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Jadi…err… Sungra-ah, sa…”

“Ya! Stop!” pekik Sungra. Taemin berhenti bicara dan menatap layar ponselnya heran.
“Waeyo?”
“Besok saja saat kau pulang ke Seoul…” gumam Sungra, wajahnya memerah. Taemin mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, kemudian senyumnya yang biasa sudah muncul di wajahnya.
“Ah, ne…kau benar…” katanya. “Yang penting, kau sudah tahu kalau aku serius denganmu. Lalu kau boleh cemburu –tapi kau harus mengatakannya padaku!–. Aku akan mencoba menghubungimu setiap hari jika aku sempat. Kau juga boleh kok menghubungiku duluan kalau kau mau. Satu lagi…” namja itu menghela napas. “Aku menyayangimu…”
“Hah?”
“Anniyo, tidak apa-apa~” ia tertawa lagi. “Sebentar lagi aku harus pergi, jadi sudah dulu, ya? Tunggu aku pulang, dan aku sama sekali tidak mengharapkan penolakan darimu.”
“Neeeeeeee! Aku mengerti Taemin-ah, kau bilang masih harus pergi setelah ini, kan? Memangnya kau tidak perlu siap-siap?”
“Cerewet–”
“Biasakan saja dari sekarang, babo!”
“Arasseo, ca-lon-yeo-ja-chin-gu-ku~”
“Terserah kau saja, pokoknya cepat kembali, kalau tidak, porsi steak ‘khusus’mu aku kurangi.”
“MWOYA?”

Waktu berubah. Semua orang berubah. Apa kau juga berubah? Buktikan kalau kau tidak berubah. Kalaupun aku tak bisa mengenalimu, berikan satu alasan kalau kau, masih kau yang dulu. Aku harap kau menunjukkannya dengan perasaanmu yang belum berubah, agar aku tidak menunggu sesuatu yang sia-sia selama ini. 

Advertisements

2 thoughts on “[One-Shot] Waiting Times”

  1. *joget bublepop(?)
    eaaaaaaaaaaaaaaaaaa 😄
    onnie udah cukup lupa sama ff ini, jadi baca blas *eh
    dan kesannya si Rae kayak orang datang bulan -___-
    si Taemin… kesannya… malu-malu tapi sangat mau, yaa 11-12 laah sama si sungra-nya 😄
    semangat lanjuuut~!
    semangat sekolaaaah 😄

    1. *rekam *sumpel kuping*
      haaaaaaah alhamdulillah udah rada lupa XDD
      yah mau gimana ya, saking sayangnya sama sungra *pede
      apaaaaaaaaa? -//////////////////////-
      neeee! 😄 😄 😄
      ayo semangat kuliaaaaaaah :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s