[One-Shot] Aiden & Audrey ~Prologue of The Great Southern Kingdom~

Tugas bahasa indonesia, hasil revisi. Yang pertama ke-reject soalnya katanya gaya bahasanya kayak dongeng –well, seems like this one too. gak tau deh terserah, yang penting ane udah bikin~
Dari awal emang udah diniatin buat ff sih :3 

Embun menetes satu-satu membasahi rumput hijau yang juga basah di bawahnya. Aroma tanah basah bekas hujan sepanjang siang tadi masih menguar di udara, terlebih lagi di sekitar Wald de La Forêt –Hutan La Forêt. Mendekat sedikit dan kau akan mencium bau kayu oak, mahogany, dan cedar yang khas. Juga sedikit aroma dari pohon karet dan wangi berbagai bunga liar yang tumbuh subur di semak-semak hutan. Angin dingin musim gugur yang akan langsung membuatmu menggigil seperti orang gila berdesir pelan, meniup dedaunan cokelat hingga jatuh ke tanah dan membentuk karpet raksasa orange-licorice-cokelat tua di dasar hutan itu.

Suasana hening itu terpecah saat terdengar derak suara ranting yang terinjak oleh beberapa pasang telapak kaki yang berjalan di tengah hutan tersebut. Salah satu dari mereka menurunkan tudung yang menutupi kepalanya, matanya nyalang mengawasi keadaan di sekitarnya. Tatapannya tertuju ke satu titik –sebuah gerbang tinggi dari benteng besar yang seolah tidak berujung.

Ia memberi kode kepada beberapa orang di belakangnya untuk meneruskan perjalanan menuju gerbang tersebut. Dan sekali lagi, suara gemerisik dedaunan yang tersibak kembali terdengar. Tak butuh waktu lama hingga rombongan itu mencapai gerbang tadi dan bersiap membukanya lebar-lebar.

Satu, dua, tiga. Engsel-engsel logam beradu tanpa suara yang terlalu keras bersamaan dengan mengayunnya sepasang pintu kayu berat. Gerbang terbuka dan tampaklah sebuah jalan besar. Misi dimulai dari detik ini.

—–

Semua bermula dari sebuah kerajaan, ralat, dua buah kerajaan. Yang satu terletak di selatan tanah Eropa, sementara yang satu terletak di timur tanah tersebut. Kerajaan Selatan terbilang muda, masih dipimpin oleh generasi pertamanya –Raja Marcus dan Ratu Angel. Meski begitu, kerajaan itu bisa dibilang makmur. Tidak ada rakyatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan, semuanya sejahtera, terima kasih pada kepemimpinan rajanya yang bijaksana.

Hanya begitu saja? Tentu tidak. Karena kemakmuran Kerajaan Selatan, penguasa Kerajaan Timur, Raja Spencer, merasa iri. Ia benci mendengar berita tentang bagaimana bahagianya hidup sebagai rakyat Kerajaan Selatan. Ia sudah gerah oleh puluhan pujian yang dilontarkan kepada kerajaan kecil itu. Baginya, kerajaan yang ia pimpin seribu kali lebih baik daripada yang dipimpin oleh Raja Marcus.
Kebencian Raja Spencer terus bertambah, bertambah, dan bertambah, hingga akhirnya, pada suatu malam, ia mengumpulkan para prajurit kepercayaannya dan memberi mereka sebuah misi khusus untuk rencana awal meruntuhkan Kerajaan Selatan –menculik Pangeran Aiden dan Putri Audrey, para penerus takhta Kerajaan Selatan.

“Menurut pengamatan salah satu mata-mataku,” Raja Spencer mengusap dagunya. “Penjagaan di kastil Marcus sangat rendah. Kalian bisa menyusup lewat sini,” telunjuknya menghujam satu titik di pojok benteng yang mengelilingi kastil Kerajaan Selatan dalam sebuah gambar denah. “Atau ini, ini, dan ini. Intinya, setelah kalian berhasil masuk, kalian harus langsung menuju kamar kedua bocah itu dan culik mereka. Mengerti?” ia menjentikkan jarinya di depan wajah Elias, panglima utama pasukannya yang sekaligus mengetuai misi ini.
“Mengerti, Yang Mulia.” kata Elias dengan nada tenang dan dingin. Dari tatapan tajam matanya telah terlihat sifat-sifat dasarnya –keras seperti batu karang di pantai, kejam, dan tak akan memberikan ampunan dalam bentuk apapun bagi musuhnya.

“Bagus. Pergilah. Misi kalian dimulai malam ini.”

Dan begitulah cerita tentang bagaimana rombongan itu bisa berada di tengah Wald de La Forêt, menuju benteng perbatasan Kerajaan Selatan.

—–

Sepuluh orang lelaki dengan postur tubuh tinggi tegap menelusup diam-diam dalam gelapnya malam. Meski telah menyamar sebagai rakyat biasa, tetap saja terlihat kalau mereka berbeda dengan orang kebanyakan. Salah satu dari mereka yang berdiri di garda depan terus-menerus melihat ke sekeliling, matanya nyalang mengamati keadaan di sekitar mereka.
Begitu mencapai dasar undak-undakan menuju pintu utama benteng kastil Kerajaan Selatan, kesepuluh orang tersebut langsung mempercepat langkah mereka. Lelaki yang berdiri paling depan, Elias, mulai membagi tugas. Mereka menyebar ke titik-titik penyusupan yang diberikan oleh mata-mata Raja Spencer. Dan benar saja, sesuai dengan penuturan mata-mata itu, penjagaan di kastil Kerajaan Selatan memang rendah, karena Raja Marcus ingin rakyatnya bisa masuk ke kastil kapan saja jika mereka sedang membutuhkan bantuan. Sayangnya kali ini kemudahan itu digunakan untuk sesuatu yang salah.

Kembali ke pasukan kecil tadi. Mereka telah berhasil masuk ke dalam benteng, yang perlu mereka lakukan sekarang adalah masuk ke dalam kastil dan mencari kamar kedua pewaris takhta Kerajaan Selatan. Tugas pertama terbilang mudah untuk dilakukan, sedangkan tugas kedua agak membingungkan, mengingat ukuran kastil itu cukup besar.
Elias lagi-lagi membagi rombongannya menjadi dua. Yang satu mencari kamar Pangeran Aiden, sedangkan yang satunya mencari kamar Putri Audrey. Elias sendiri masuk ke dalam kelompok pertama karena pertimbangan kemungkinan berontaknya Pangeran Aiden. Ia menyerahkan kepemimpinan kelompok kedua pada Max, orang nomor dua dalam pasukan prajurit Kerajaan Timur setelah Elias. Misi dalam misi itu pun segera dimulai begitu kelompok-kelompok yang dibutuhkan telah terbentuk dan segala strategi sudah ditetapkan.

Kelompok pertama berhasil menemukan kamar Pangeran Aiden di menara timur. Hampir tidak ada penjaga yang berjaga di sekitar tempat itu, membuat kelompok itu semakin leluasa melakukan aksinya.
“Sempurna, tidak dikunci.” seringaian serigala Elias muncul begitu mendapati pintu kamar Aiden yang sedikit terbuka. Ia mendorong pintu kayu yang berat itu perlahan, dan tampaklah pemandangan di dalam kamar besar nan gelap itu. Tak ada waktu untuk mengamati keindahan tata letak ruangan tersebut, yang menjadi fokus mereka saat ini adalah sosok yang terbaring di atas tempat tidur bertiang empat dengan ukiran bergaya gothic roman. Pangeran Aiden.

Tanpa kata-kata, Elias mengomando anggota kelompoknya untuk masuk ke dalam. Salah satu dari mereka dengan sigap mengeluarkan secarik kain tebal dan sebuah botol kaca dengan cairan kehijauan di dalamnya. Kloroform, sesuatu yang jarang dilihat pada zaman itu. Ia lalu menuangkan sedikit cairannya pada kain dan menggosok-gosok permukaan benda itu untuk meratakan kloroformnya.
Elias kembali memberi aba-aba. Mereka langsung menyergap Aiden, membuat lelaki itu terbangun dan berontak. Si pemegang kain berkloroform segera membekap mulut dan hidung Aiden dengan kain di tangannya hingga ia berhenti memberontak dan bisa dipastikan telah hilang kesadaran, hanya hilang kesadaran dalam artian terbius. Raja Spencer tak akan sudi menerima sandera yang sudah mati.

Bagaimana dengan Putri Audrey?

Kamar Putri Audrey terletak di menara barat kastil. Sama halnya dengan keadaan di tempat kakaknya, hampir tidak ada yang berjaga di tempat itu. Lima orang tadi dengan mudahnya berhasil menjangkau kamar itu.
“Tidak terkunci!” bisik Max sambil memutar handle pintu kamar Audrey perlahan. Sepertinya kebiasaan buruk kedua kakak beradik itu harus benar-benar ditinggalkan kali ini.
Max dan kawan-kawannya menyusup masuk perlahan, tak lupa mereka juga menyiapkan kain yang diberi kloroform untuk melumpuhkan perlawanan gadis yang saat ini masih tertidur di atas kasur besarnya.
Audrey yang tertidur pulas sama sekali tidak menyadari bahaya yang menjelang. Max, sama dengan Elias, sama sekali tidak menaruh belas kasihan pada Audrey yang sebenarnya tidak bersalah. Ia langsung memberi aba-aba pada keempat rekannya untuk ‘membawa’ Audrey.
“K-KYA—” teriakan Audrey yang baru saja terbangun tertahan oleh bekapan kain berobat bius itu seiring dengan melemahnya hentakan kakinya yang sarat pemberontakan hingga akhirnya berhenti. Sudah selesai. Segala misi yang dititahkan Raja Spencer telah terlaksanakan dengan sempurna.

Semisterius kegelapan malam, kesepuluh orang tadi dan kedua tawanannya menghilang dari pandangan, kembali ke Kerajaan Timur untuk menghadap pemimpin mereka, Raja Spencer yang Terhormat.

—–

Siapa mereka? Ada apa ini? Kenapa aku sulit bernapas?

Audrey membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa pusing dan pandangannya kabur. Efek bius kloroform kadar rendah tadi masih terasa di badannya.
Tiba-tiba Audrey tersadar. Ia tidak sedang berada di kamarnya. Permukaan tempatnya berbaring ini… bukan kasurnya yang hangat dan nyaman, tetapi lantai batu keras yang dingin, lembap dan berlumut. Gadis itu mencoba meraba-raba sekitarnya, napasnya mendadak tercekat dan rasa takut luar biasa langsung menyerangnya begitu menyadari ia berada di mana. Ruangan bawah tanah yang hanya dihuni oleh para terhukum. Sel.

“Ibu? Ayah? Aiden? Aiden!” teriak Audrey panik. Ia kesulitan melihat ke sekelilingnya karena kurangnya pencahayaan dalam ruangan itu.
“Dree? Audrey? Tenanglah, aku di sini.” terdengar suara Aiden yang hanya berjarak sekitar satu meter dari Audrey. Tak butuh waktu lama sampai Aiden berhasil ‘menemukan’ Audrey dan memeluknya erat, berusaha menenangkannya.

“Di mana kita? Apa yang terjadi?” tanya Audrey begitu matanya sudah terbiasa dengan suasana di ruangan itu. Aiden menghela napas dalam-dalam.
“Sepertinya di Kerajaan Timur. Itu lambang kerajaan mereka, seingatku.” Aiden menunjuk sebuah perisai logam yang dipasang di dinding lorong di depan mereka, terlihat dari balik jeruji-jeruji penjara. Warnanya hijau lemon berpadu dengan perak dan hitam, lengkap dengan lambang negaranya. Audrey menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.

“Ayah dan Ibu bagaimana?”
“Aku rasa mereka baik-baik saja. Tenanglah, pasti ada cara untuk keluar dari sini.” gumam Aiden pelan.
Audrey mengamati kakaknya. Wajah laki-laki itu tampak kotor dan lusuh, begitu juga dengan pakaiannya. Audrey baru menyadari kalau ia masih memakai gaun tidurnya, membuatnya teringat kembali dengan sekelebat bayangan tentang apa yang terjadi padanya…semalam? Atau dua malam yang lalu? Ia tak tahu pasti. Waktu rasanya berjalan sangat lambat di sini. Sekarang siang atau malam saja Audrey tak bisa menebak.

KLAK!
Tatapan mereka berdua langsung terarah ke sumber suara. Raja Spencer baru saja membuka pintu sel mereka dan sekarang pria itu sudah berdiri di depan Audrey dan Aiden, lengkap dengan baju kebesaran dan gayanya yang menyebalkan.
“Kalian seharusnya merasa tersanjung karena dikunjungi oleh Raja Spencer yang Terhormat.” kata Raja Spencer. Aiden menaikkan sebelah alisnya, nyata-nyata merasa terganggu.
“Akan lebih menyenangkan jika kami tidak sedang dalam keadaan seperti ini!” sentak Aiden. Raja Spencer tersenyum licik dan menggelengkan kepalanya, berakting prihatin.
“Kalian beruntung karena aku tidak langsung memenggal kepala kalian. Yah, setidaknya sampai saat ini.” dengan pongahnya pria itu berjalan mondar-mandir di depan kedua tahanan. Mantel bulu macan tutulnya menyapu lantai sel setiap kali ia melangkah. Audrey mendecakkan lidahnya melihat tingkah Raja Spencer.
“Sayangnya kepala kalian berdua sama berharganya dengan kerajaan orang tua kalian beserta isinya…”
Aiden menelan ludah. Cengkeraman tangan Audrey di lengannya terasa mengetat.

“Ka… kalau kau sampai melukai rakyat negeriku, a… aku akan…”
“Kau akan apa, gadis kecil?” Raja Spencer mengangkat dagu Audrey dengan telunjuk tangan kirinya, membuat Audrey bergidik ngeri dan menghempaskan telapak tangan pria itu dari wajahnya.
“Apa, hmm? Melawan? Dalam mimpimu…” dan bersamaan dengan itu, seringaian kejam muncul di wajah Raja Spencer yang putih bersih. Ia lalu berbalik dan berjalan keluar dari sel kecil itu, menutup keras-keras pintunya dalam sekali sentakan. Seorang pengawal Raja Spencer mengunci pintu sel itu lagi, memastikan semuanya telah sempurna, lalu mengikuti pemimpinnya meninggalkan kedua tahanan itu di dalam selnya. Hening kembali menyelimuti atmosfer di sekitar Aiden dan Audrey.

“Jadi… bagaimana?” Audrey menundukkan kepalanya. “Kita harus bagaimana? Aku sudah tidak tahan dengan ruangan ini, apalagi dengan si Spencer sialan itu. Kau tahu? Selera berpakaiannya buruk sekali!”
“Aku tahu. Dan entahlah, sepertinya tidak ada jalan keluar lain selain pintu itu.” desis Aiden sambil melihat ke sekeliling mereka. Memang benar, tidak ada jendela atau saluran air atau sesuatu yang biasa digunakan untuk melarikan diri, dan rasanya mustahil bila mereka harus menggali lubang lewat lantai batu di bawah mereka. Apalagi mereka berada di bawah tanah, otomatis akan semakin sulit bagi kakak-beradik itu untuk melarikan diri.

KLAK!
Sekali lagi pintu sel mereka terbuka. Kali ini seorang kakek-kakek berjanggut putih masuk tanpa suara dengan membawa dua buah mangkok tembikar yang jelek rupanya. Sepertinya mangkok itu berisi makanan untuk kedua tahanan. Meski tidak begitu jelas bentuk dari makanan itu, tapi aromanya cukup meyakinkan kalau makanan itu layak makan.
“Meski kalian tahanan, kalian tetap berhak untuk makan.” kakek-kakek tadi meletakkan kedua mangkok itu di depan Aiden dan Audrey. “Selamat makan.”

KLING!
Terdengar suara benda jatuh dari saku baju lelaki itu saat ia menunduk untuk meletakkan mangkok-mangkoknya di lantai. Entah sengaja atau karena tidak mendengar, lelaki tua itu sama sekali tidak berusaha untuk mencari benda apa yang baru saja jatuh. Ia melenggang keluar dari ruangan sempit dan gelap itu, dengan santai menutup kembali pintu dan memasang segala alat keamanan seperti gerendel dan gembok.

Begitu yakin kalau si kakek-kakek tidak akan  kembali, Audrey langsung mengulurkan tangannya ke sekitar tempat pria tadi berdiri. “Menurutmu, apa yang baru saja jatuh itu?”
“Apapun itu, yang paling kuharapkan sekarang adalah kunci dari gembok keparat di depan kita.” kata Aiden. Audrey berdecak sebal saat mendengar pemikiran (hampir) mustahil kakaknya.
“Kurasa hal seperti itu hanya akan terjadi dalam mi— eh?” gadis itu berhenti meraba-raba saat tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras, seperti terbuat dari logam. Ia mengambil benda itu dan mencoba mengenalinya di bawah penerangan yang sangat minim.

“K-kunci?” Audrey tercekat. Didekatkannya benda tadi pada matanya untuk melihat wujudnya secara lebih jelas.
“Ha! Kau bilang itu hanya bisa terjadi dalam mimpi?” Aiden mendengus keras-keras, jelas-jelas merasa menang dari adik satu-satunya itu. Audrey langsung merasa tersinggung.
“Tapi siapa tahu itu bukan kunci gembok yang benar!” sergah Audrey. “Apalagi tadi kakek-kakek itu masih bisa mengunci gemboknya, berarti dia masih punya kuncinya, kan? Berarti ini bukan kunci gembok kita!”
“Kau tidak tahu istilah kunci universal, ya? Jangan merusak mood dan kesenanganku, Dree…” Aiden bangkit berdiri, mendekati pintu sel mereka. Dari sela-sela jerujinya ia menggapai satu-satunya gembok yang menghalangi mereka dari dunia bebas, berusaha membukanya dengan menggunakan kunci di tangannya.

KLAK!
Gembok terbuka. Aiden tersenyum puas. “Apa kubilang? Segala kemungkinan itu selalu bisa terjadi…”
“Baiklah, baiklah, aku kalah. Sekarang, jadi kabur atau tidak?” potong Audrey. Aiden mendorong pintu besi di depannya perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara dari gesekan engsel-engsel yang berkarat, lalu melongokkan kepalanya ke luar. Gelap, cahaya hanya bersumber dari sebuah chandelier tembaga kusam dengan lilin-lilin kecil yang membiaskan nuansa suram di lorong sel mereka. Tidak tampak kelebat bayangan hitam penjaga di sekitar tempat Aiden berdiri, membuat lelaki itu yakin bahwa keadaan aman.

“Kalau begitu, sekarang saja kaburnya. Sebelum ada penjaga yang lewat.” kata Aiden.
“Mm… kau yakin ini bukan jebakan?” gumam Audrey. Aiden menggeleng cepat-cepat.
“Tidak. Tidak sama sekali. Ayolah, memangnya kau mau menyia-nyiakan kesempatan ini?”
“Bukan begitu, tapi—”
Perkataan Audrey terputus karena Aiden keburu menarik tangannya, tanpa kata-kata mengajaknya lari dari kungkungan jeruji besi menelusuri lorong yang gelap dan panjang seolah tidak berujung. Sedikit perasaan lega membuncah di antara puluhan kekhawatiran. Selamat tinggal pada sel gelap nan lembap yang serba mengintimidasi!

—–

Euforia kebebasan kedua orang itu tidak bisa berlangsung lama. Baru beberapa meter melangkah naik ke permukaan tanah melalui sebuah titian batu, terdengar suara langkah kaki dari arah yang berlawanan. Refleks Aiden menarik Audrey ke salah satu cerukan di dinding batu yang berlanjut pada sebuah lorong buntu, menyuruhnya diam dan bersembunyi di sana.

Hening. Audrey berusaha agar deru napasnya yang tersengal tidak terdengar oleh siapapun, sementara Aiden mengintip dari celah yang ada di dinding. Posisi itu sangat menguntungkan karena mustahil ada yang melihat, dan kalaupun ia terlalu sial sehingga ada orang yang melihat tepat ke arah celah itu setidaknya mereka tidak akan curiga karena yang terlihat hanya setitik hitam iris dan pupil bola mata.
Suara langkah kaki tadi terdengar semakin keras. Tak lama kemudian, sosok seseorang yang memakai jubah hitam panjang melintas di depan mereka. Elias.
“Kuharap ia tidak akan memeriksa sel kita.” bisik Aiden begitu Elias sudah menjauh. “Ayo!”
Audrey menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak. Tunggu sebentar. Kau lihat ini?” ia menunjuk salah satu bagian dinding di belakangnya yang terlihat ganjil. Hanya terdiri dari puluhan batu yang disusun begitu saja, sehingga seperti dapat dipindahkan sesuka hati.
“Oh, ayolah, kau benar-benar membuang waktu kita!” Aiden menarik lengan baju Audrey, tapi adiknya itu tetap bergeming. Ia mencoba memindahkan sebuah batu dari tumpukan itu dan secercah cahaya langsung menembus masuk ke tempat mereka berdiri. Aiden terdiam sementara Audrey ganti menyunggingkan senyum kemenangan.

Titik lega itu perlahan menyebar dan meluas. Peluang itu masih ada, meski persentasenya kecil.

“Aku rasa, kita bisa langsung keluar dengan melewati lubang ini.” kata Audrey. Aiden menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ikut membantu adiknya memindahkan batu-batu itu dari jalur pelarian mereka.
Benar saja, begitu mereka berhasil memindahkan semua batu itu, sebuah lubang berukuran sedang terlihat jelas. Di baliknya, tampak rimbunan daun pepohonan. Sepertinya lubang ini langsung menyambungkan kastil dengan Wald de La Forêt  yang membatasi teritori Kerajaan Selatan dengan Kerajaan Timur. Audrey menghela napas lega dan langsung mengajak Aiden memasuki hutan itu. Rasanya mereka harus berterima kasih pada siapapun yang membuat jalan tembus dari kastil ke hutan tadi, entah itu kawan atau lawan mereka.

“Tahanan kabur!” tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kastil. Senyum senang Aiden dan Audrey luruh seketika. Baru beberapa langkah mereka keluar dari kastil gelap itu dan segalanya sudah berakhir seperti ini? Yang benar saja!
“Lari.” bisik Aiden di antara kepanikan yang mulai menjalar di tengah mereka. Audrey menaikkan sebelah alisnya.
“Ke mana? Mereka pasti akan mencari ke dalam hu–”
“Yang penting lari! Persetan mereka akan menemukan kita atau tidak nantinya, ayo!”

Mereka berlari melewati hutan, tanpa tahu arah dan tujuan, hanya mengikuti ke mana kaki membawa mereka melangkah. Menerobos rimbunan semak di tengah matahari yang mulai terbenam, menjejak bias-bias oranye di angkasa. Menuju keselamatan dan mencari suaka di antara kegaduhan yang mulai terdengar dari dalam kastil Kerajaan Timur.

Kau tahu apa yang lebih mengesalkan daripada diganggu saat melakukan sesuatu yang paling kau sukai? Yaitu saat usahamu yang sangat besar hampir berhasil. Hanya hampir berhasil. Saat kau sudah hampir mencapai tujuanmu, sesuatu menggagalkannya –atau seperti akan menggagalkannya.

Advertisements

2 thoughts on “[One-Shot] Aiden & Audrey ~Prologue of The Great Southern Kingdom~”

  1. aaah ini dia, ff yang buat saya kebelet pipis *salah* maksudnya kebelet pengen makan unyuk ‘__’
    nyuuuukk~~ aku salah apaaa sampai kau menculik anakanakku yang unyunya keterlaluan ituuuu *eh
    aah mungkin salah saya nikah sama marcus, kamu mau nikahnya sama aku kan nyuk? *kedipkedip* *diinjek kyun*
    mau lanjut baca, dan mereka harus selamat! *semangat*

    1. makan unyuk! makan unyuk! eh jangan deng, sebagai monyet dia haram… tapi sebagai teri? enak lho :3 *digampar
      salah banyaaaaaaak~ 😄
      ngek-_- ngek-_- laporin gyuuuuuuuuuuu~
      ne! pasti selamat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s