[One-Shot] The Great Southern Kingdom

Kedua orang itu terus berlari, berlari, dan berlari hingga sampai ke tengah hutan. Tidak lagi terdengar suara-suara ribut pasukan Kerajaan Timur, hanya ada kelebat angin yang terbelah oleh gerakan mereka.

Audrey memperlambat kecepatan larinya, tangannya menarik lengan Aiden, meminta kakaknya berhenti. Nafasnya terengah karena kelelahan. Bulir-bulir peluh sudah membasahi wajahnya.
“Istirahat sebentar…” pinta Audrey. Aiden tampak keberatan, tapi melihat ekspresi lelah adiknya rasa iba akhirnya timbul di benaknya. Mereka duduk di tengah hutan, meluruskan kaki sambil mengatur napas. Segalanya terasa amat menenangkan sampai tiba-tiba terdengar bunyi gemerisik dedaunan yang disibak oleh seseorang. Aiden langsung waspada dan melihat ke sekelilingnya, mencari benda mencurigakan yang mengganggu ketenangan mereka barusan.
“Aiden? Aiden? Ada apa?” tanya Audrey heran. Aiden menggelengkan kepalanya perlahan.
“Sepertinya tadi ada seseorang yang menuju ke sini. Kau tidak dengar? Ada bunyi gemerisik dedaunan barusan.”
Audrey menelengkan kepalanya. “Mungkin itu hanya suara angin…”
“Tapi—”

Puncak kepala seseorang dengan rambut cokelat tua muncul dari balik semak. Aiden kembali ke modus siaga sementara Audrey menahan napas, terbawa suasana tegang.
Sosok tadi semakin mendekat. Ternyata ia adalah seorang pemuda berkulit putih dan rambut cokelat pendek, berpakaian serba hitam dengan wajah misterius.
“Apa dia penyihir hitam yang sering dibicarakan itu?” bisik Audrey. Aiden menggelengkan kepalanya tidak tahu.
“Mungkin. Yah, itu semua kan hanya rumor…”

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya pemuda tadi dengan suaranya yang tinggi. “Dan kau, gadis kecil, sepertinya kudengar kau menyebutkan julukanku tadi. Bisa tolong ulangi?”
“P-penyihir hitam?” suara Audrey terdengar gemetar.
“Yah, sebenarnya aku tidak terlalu suka dipanggil begitu. Ty, penyihir hutan ini.” tanpa diminta, pemuda itu –Ty, memperkenalkan diri. “Bagaimana bisa kalian berada di sini?”
“Kami baru saja melarikan diri dari… hmm, suatu tempat.” Aiden masih waspada. “Bisa tolong tunjukkan pada kami jalan ke Kerajaan Selatan?”
“Di dunia ini tidak ada yang gratis.” Ty menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba sebuah gulungan kertas serupa peta berada di tangannya. “Jadi kau harus membayar untuk petunjuk ini. Apa yang kau punya, hmm?”

Aiden dan Audrey bertukar pandang. Sudah jelas mereka tidak punya apa-apa di tangan saat ini. Tapi mau bagaimana juga mereka tetap sangat membutuhkan peta itu.
“Begini saja, kau… siapa namamu?” Ty menunjuk Aiden.
“Aiden.”
“Gadis ini… kekasihmu atau apa?” kali ini telunjuk lelaki itu ganti mengarah ke Audrey. Wajah gadis itu memucat ketakutan.
“Bukan, dia adikku.” Aiden mengusap punggung Audrey perlahan, berusaha menenangkannya. Ty menatap Audrey dari atas ke bawah, lalu mengusap dagunya perlahan sambil mendecakkan lidah.
“Namamu?”
“A… Audrey…”
“Hmm. Sepertinya aku familiar dengan nama kalian.” Ty mengerutkan keningnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju ke sesuatu di bawah leher Aiden yang tidak tertutupi rambut. Kalung bermata batu safir warna biru yang merupakan tanda anggota Kerajaan Selatan. Sebenarnya Audrey juga memilikinya, hanya tidak terlihat oleh Ty karena tertutupi kerah baju dan rambut panjangnya.

“Batu apa itu?” tanya Ty.
“Kau meminta ini sebagai bayaran? Tidak bi—“ kata-kata Aiden terputus oleh Ty yang sudah berhasil mengenali benda apa yang melingkar di leher Aiden.
“Kalian keturunan Kerajaan Selatan, hmm?” tiba-tiba sudah terulas seringaian licik di wajah Ty. Aiden yang dianugerahi kemampuan membaca situasi dengan baik langsung bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya.
“Dree, bersiaplah lari. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan orang ini.” Bisik Aiden sepelan mungkin, tapi sepertinya Ty tetap dapat mendengarnya.
“Kalian akan melarikan diri dariku? Jangan harap kalian bisa!”

KRAK!

Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang dalam satu garis lurus hingga mematahkan ranting-ranting dan batang pohon yang menghalangi ‘jalur’ angin itu. Untuk bergerak saja rasanya sulit sekali karena badan mereka seperti terbawa aliran udara yang sangat kuat itu.
“Dree! Lari! Sendirian saja! Jangan khawatirkan aku! Jangan sia-siakan kesempatanmu!” teriak Aiden, tidak terlalu jelas karena diselai oleh gemuruh angin. Laki-laki itu mendorong Audrey menuju ke arah yang berlawanan dengannya, keluar dari jalur angin tadi. Begitu berhasil menguasai keseimbangan badannya, Audrey langsung berlari menjauh dari tempat itu. Saat ia melihat ke belakang untuk melihat apa yang terjadi dengan Aiden, yang ia lihat adalah Ty sudah berhasil menangkap Aiden dan mengikatnya, tentu saja dengan sihir. Hampir saja Audrey berbalik, berpikir untuk menyelamatkan kakaknya, tapi kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Aiden berhasil mematahkan keinginannya.

Dengan tangan terkepal Audrey kembali berlari, sendirian, membelah lebat pepohonan hutan, tanpa tujuan yang pasti. Air mata perlahan menetes dari matanya begitu terpikir tentang bagaimana nasib Aiden di tangan Ty.

Setengah jam berlari, Audrey tak sanggup lagi. Kakinya mulai lemas. Tenaganya sudah terkuras habis di pelarian mereka yang pertama. Otaknya tidak bisa diajak berpikir dengan baik. Ia tahu, jika ia memaksakan diri maka sebentar lagi ia akan mencapai batas akhir tubuhnya.

Badan Audrey mulai oleng. Hampir saja kepalanya bertemu dengan tanah kalau saja seseorang tidak menahan badannya cepat-cepat, melingkarkan sebelah lengannya ke pinggang gadis itu.
Audrey memaksakan diri melihat siapa yang menyelamatkannya barusan. Wajahnya tidak terlalu jelas, tapi dari suaranya yang terdengar sebelum Audrey kehilangan kesadarannya, gadis itu tahu kalau penolongnya seorang laki-laki.

“Tuan Putri, kau tidak apa-apa?”

Sudah cukup. Pandangannya mengabur. Sedetik kemudian, segalanya terasa gelap bagi Audrey.

—–

Ty menyeret Aiden masuk ke dalam bangunan berbentuk aneh, atapnya kerucut besar dari jerami kering berwarna cokelat dan dindingnya dari puluhan bambu kehijauan yang diikat menjadi satu serupa lingkaran besar dengan sebuah pintu cokelat tua dari kayu oak. Sepertinya itu rumah si penyihir. Dengan kasar ia menghempaskan badan Aiden ke dalam sebuah ruangan dan mengunci gemboknya.
“Ah, bagus. Penjara lagi.” gerutu Aiden, kakinya menendang pintu besi tadi keras-keras meski tahu itu percuma.
“Hei, berhenti menendang-nendang!”
Aiden benar-benar berhenti. Ia melihat ke sekeliling dan tatapannya berhenti pada seseorang yang duduk di pojok ruangan. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kalau ia tak sendirian di sini?

“Kau siapa?” tanya Aiden.
“Am. Panggil saja begitu.” jawab Am acuh.
“Oh… baiklah, Am. Senang bertemu denganmu.” gumam Aiden. “Jadi, sudah berapa lama kau ada di sini?”
Am mengangkat bahu. “Entahlah. Aku rasa sudah cukup lama…”

Aiden diam. Ia kembali melihat ke sekelilingnya. “Kau tahu kenapa Ty menyekapmu di sini?”
“Yang kudengar, salah satu ramuannya membutuhkan… mm… organ tubuh milik keturunan dari sebuah kerajaan, jadi…”
“Tunggu, kau juga keturunan kerajaan? Kerajaan mana?”
“Bisa dibilang begitu. Utara.”
“Pangeran mahkota atau apa?”
Am terdiam. “Pa—“

BRAK!

Pintu ruangan itu terbuka lebar. Dua buah piring penuh makanan melayang masuk melalui pintu, masing-masing mendarat dengan sempurna di kaki Aiden dan Am. Sepertinya Ty tidak ingin buang-buang waktu dan tenaga untuk mengurusi kedua tawanannya.
“Sudah pernah mencoba kabur?” Aiden membuka pembicaraan sambil melahap makanan bagiannya. Am menggeleng.
“Kurasa mustahil. Kau tahu kan kalau Ty seorang penyihir? Pasti keamanan di sini sangat tinggi dan berbau-bau sihir.” desis Am. Aiden mendengus.
“Begitu? Aku rasa benda ini tidak disihir.” ia menunjuk pintu ruangan itu. “Hei, kalau kau sudah lama di sini, berarti kau tahu kan kapan Ty pergi tidur?”
“Apa peduliku?”
“Kau mau lari atau tidak? Atau mau organ tubuhmu dijadikan bahan ramuan? Tidak, kan?” Aiden mencoba memakai teknik intimidasi nomor satunya.
“Sekitar pukul 11.” akhirnya Am membuka mulut. Aiden tersenyum puas.
“Bagus. Kau punya kawat?”

—–

Audrey mengerjapkan matanya. Yang pertama ia lihat adalah sebuah kasur besar tempat ia berbaring saat ini, lengkap dengan properti berupa bantal dan selimut. Gadis itu langsung duduk dan melihat ke sekelilingnya, berusaha mengenali di mana ia berada. Tampak sebuah lukisan dengan lambang suatu kerajaan di sana, hanya saja ia lupa lambang dari kerajaan mana itu. Sepertinya ia harus lebih rajin belajar ilmu sejarah nantinya… aaah, ia jadi teringat dengan negerinya sendiri. Dengan ayah-ibunya, juga dengan Aiden. Hei, bagaimana kabarnya sekarang? Rasanya tidak enak sekali kalau ia bersantai-santai dengan nyaman di tempat ini sementara kakaknya entah bagaimana nasibnya di tangan si penyihir hitam.

“Ah, kau sudah sadar?”
Audrey menoleh. Seorang laki-laki baru saja melangkah masuk ke kamarnya, dari pakaiannya terlihat kalau ia seseorang yang penting di tempat ini… mungkin. Kulitnya putih, rambutnya sewarna madu dengan raut wajah cerah.

“Ng… sia—“
“Perkenalkan, aku Nikki. Kau sedang berada di Kerajaan Barat tanah Eropa, Tuan Putri.” Nikki membungkukkan badannya sebelum kemudian tersenyum ke arah Audrey. “Sudah baikan? Ah iya, maaf kalau pakaianmu terlalu besar atau mungkin kurang nyaman, terpaksa kupinjamkan milik ibuku dulu…”

Audrey baru menyadari kalau ia sudah tidak mengenakan pakaiannya yang ia pakai sejak peristiwa penculikan itu. Beberapa memar yang didapatkannya karena semua kejadian itu sudah diobati. Rasanya seperti baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang dan nyata… tunggu, jelas-jelas itu nyata.

“Nikki?”
“Ya, Tuan Putri?”
“Panggil Audrey saja. Mm… kau putra mahkota Kerajaan Barat, kan?”
“Yah, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan gelar itu, tapi memang begitu adanya. Jadi…” Nikki menatap Audrey. “Bisa ceritakan bagaimana bisa seorang putri Kerajaan Selatan berada di tengah hutan seperti kemarin?”
“Dari mana kau tahu kalau aku dari Kerajaan Selatan?” tanya Audrey kaget. Pada awalnya dia tidak tahu kalau Nikki memiliki kedudukan tinggi di Kerajaan Barat sebelum ia menyebutkan namanya. Selama ini Audrey belum pernah berkunjung ke kerajaan lain, ia hanya pernah mendengar nama-nama orang penting di setiap kerajaan tanpa mengetahui rupa mereka.
“Hanya menebak.” kekeh laki-laki itu. Mau tak mau Audrey ikut tertawa. Entah kenapa tawa Nikki terasa menular ke mana-mana.

“Hei, kau belum bercerita padaku!”
“Cerita apa?”
“Jangan pura-pura lupa begitu…” Nikki mengacak rambut cokelat gelap Audrey pelan, membuat gadis itu merasa sesuatu yang aneh terjadi di perutnya selama beberapa saat. Salah tingkah dalam taraf terlalu tinggi yang pasti akan berbahaya kalau terjadi terlalu lama.

—–

“Masih belum?”
Am menatap malas ke arah Aiden yang masih berkutat dengan –sekali lagi– gembok. Hanya dengan berbekal sebuah kawat kecil kali ini.
“Sedikit lagi!” gumam Aiden, konsentrasinya penuh ke pekerjaannya. Am memutar bola matanya tidak sabar dan kembali diam.

KLAK!
Aiden buru-buru menangkap gembok yang hampir jatuh ke lantai. Perlahan didorongnya pintu jeruji hitam itu, berusaha tidak menimbulkan suara apapun. Ia menolehkan kepalanya ke arah Am, bibirnya mengulas senyum kemenangan. “Lihat?”
Am mendengus. “Baiklah, baiklah. Aku salah.”
Aiden berusaha membuka pintu itu lebih lebar. Dilongokkannya kepala ke luar, mengecek keadaan di sekelilingnya. “Ia tak punya peliharaan kan? Semacam kucing atau apa, yang biasa dimiliki oleh penyihir?”
“Tidak. Tidak ada.” Am tahu-tahu sudah berada di sebelah Aiden. “Tunggu, kau tahu jalan ke Kerajaan Utara tidak?”

Begitu melihat gelengan kepala dan wajah polos Aiden, Am menghela napas dalam-dalam. Ia sendiri tidak tahu arah ke Kerajaan Utara karena… yah, dirinya sendiri korban penculikan, mana sempat melihat ke sekelilingnya saat sedang dibawa ke sini?

Aiden melangkah ke tengah ruangan sempit tempat mereka berada sekarang. Di sekeliling ruangan-ruangan itu ada beberapa buah pintu, salah satunya pintu ke ruang tahanan tadi. Sementara itu, di bagian tengahnya ada sebuah meja kayu yang berantakan. Mata Aiden menangkap sebuah benda yang cukup familiar di matanya. Gulungan peta yang ditawarkan Ty kemarin.
“Apa itu?” tanya Am.
“Setahuku ini sebuah peta.” gumam Aiden, tangannya menarik tali kelabu kasar yang mengikat gulungan itu hingga terlepas dan tampak isinya. Peta hutan tempat mereka berada, lengkap dengan arah-arah ke berbagai kerajaan di sekitar hutan itu. Lalu tiba-tiba sebuah benda kecil muncul di atas peta itu, warnanya emas dan berkedip-kedip suram. Mungkin itu petunjuk keberadaan si pemegang peta dalam peta tersebut.
Dilihat dari jaraknya memang kira-kira perjalanan ke Kerajaan Utara akan lebih cepat dari pada ke Kerajaan Selatan. Aiden mencoba menghapalkan rute ke Kerajaan Utara kemudian menggulung kembali kertasnya, memasukkannya ke dalam saku baju, lalu ganti mengalihkan tatapan ke Am. “Ayo. Kau masih bisa berlari, kan?”

—–

“Lalu bagaimana dengan kakakmu?”
Audrey menggeleng tanda tak tahu. Tangannya memainkan kain sprei yang menutupi kasurnya, berusaha menahan tangis yang sudah terkumpul di tenggorokan. Nikki yang duduk di sebelah Audrey langsung menepuk-nepuk kepala gadis itu perlahan sebelum kemudian membuka mulut.
“Kurasa kakakmu akan baik-baik saja. Sudahlah, jangan menangis…” katanya. “Kau jelek kalau menangis, diamlah…”
Audrey memukul lengan Nikki. “Seenaknya!”
Nikki melebarkan senyumnya. “Lihat? Kau lebih cantik kalau tertawa seperti itu!”
“Ng?” Audrey terdiam, mengalihkan pandangannya dari Nikki. Berusaha menutupi salah tingkahnya yang semakin menjadi karena perkataan lelaki di sebelahnya.

“Aku rasa aku memang beruntung…” gumam Nikki lebih pada dirinya sendiri, tapi tetap saja terdengar oleh Audrey hingga membangkitkan rasa ingin tahunya.
“Beruntung kenapa?” tanyanya penasaran.
“Tidak, bukan apa-apa, kok. Omong-omong, kapan kau akan pulang ke kerajaanmu? Sudah ada rencana?”
“Sebenarnya aku ingin secepatnya pulang…” keluh Audrey. “Tapi… Aiden… firasatku mengatakan ia bisa kabur, tapi di mana dia sekarang?”
“Begini saja,” Nikki mengetukkan telunjuknya ke dagu. “Kubantu kau mencari Aiden di hutan. Sekalian saja kutanyakan ke kerajaan lain, yah, siapa tahu kakakmu sedang berada di kerajaan mereka, kan? Bagaimana? Kau mau tidak?” tawarnya. Audrey mengangguk cepat, senyumnya melebar. Setidaknya masih ada harapan baginya.

—–

Aiden melihat ke sekelilingnya. Ternyata, meski tahu rutenya, tetap saja sulit menentukan awal dari rute itu ketika berhadapan dengan hutan yang sesungguhnya. Semua bagiannya terlihat sama saja bagi Aiden.
“Menurutmu kita mulai dari mana?” tanya Aiden. “Ini? Atau pohon itu? Atau semak di sana? Kenapa sulit sekali?”
Am mengambil alih peta di tangan Aiden. “Lihat, lihat, lihat. Di sini dikatakan kalau pintu pondok menghadap ke utara. Dan rute ke Kerajaan Utara dimulai dari…” ia memutar kepalanya, mencari-cari sesuatu. “Sini. Dari semak daffodil dan buttercup ini, kalau belum berpindah tempat.”
“Mana mungkin ada semak yang berpindah tempat secara sempurna?”
“Memang tidak mungkin, kecuali dengan sihir. Dan perlu kau ingat, pemilik pondok ini seorang penyihir.” Am, seperti biasa, tetap berbicara dengan nada sarkastis. Aiden berdecak sebal. Sepertinya kali ini ia mendapat teman seperjalanan yang kurang menyenangkan.

Mereka berdua mempercepat langkah menjauhi bekas tempat penawanan mereka. Aiden menyibak dedaunan yang menghalangi di depan, membuka jalan sementara Am menjadi navigator karena Aiden buta arah dan buta peta.
“Masih jauh?” tanya Aiden. Am menggeleng tapi ia tampak agak tidak yakin.
“Sepertinya sedikit lagi.” jawabnya. Aiden menghela napas dan memegangi tenggorokannya yang terasa kering. Terakhir kali ia minum saat ditawan oleh Ty, dan sekarang entah sudah berapa jauh mereka meninggalkan tempat itu.
“Ada air?” tanya Aiden. Am merogoh saku celananya, seperti mencari sesuatu, tapi sama sekali tidak mendapatkan apa-apa selain sebuah pisau lipat kecil. “Maaf, tidak ada.”
Aiden melihat ke sekelilingnya, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk sumber air. Mungkin dahan pohon yang berjenis basah dan berongga? Atau mungkin ada sungai di dekat tempat mereka berada sekarang?

“Sepertinya mustahil kalau kau mencari air di sini.” Am memasukkan kembali pisau lipatnya. “Sudahlah, lanjutkan dulu perjalanannya! Siapa tahu di tengah jalan kita menemukan sumber air!”

Gemerisik daun yang disibak kembali terdengar seiring langkah Aiden dan Am menuju Kerajaan Utara. Langit sudah mulai gelap. Bayangan matahari hanya tinggal sepenggal-dua penggal di ufuk Barat. Meski begitu, kedua orang itu tidak berhenti bergerak, berusaha memanfaatkan semua kesempatan yang mereka dapatkan semaksimal mungkin.

—–

Dua sosok berkuda dengan jubah yang menutupi badan hingga kepala terlihat di gerbang belakang istana Kerajaan Barat. Salah satu dari mereka masih sibuk berbicara dengan salah satu pengawal istana yang mengantarkan mereka ke gerbang itu sementara yang satunya termangu menatap ke arah hutan nun di sana, di luar benteng utama wilayah Kerajaan Barat.

“Kalian tidak boleh mendekati rumah si penyihir hitam. Kalau benar kakak dari Putri Audrey sudah kabur, kemungkinan besar penyihir itu sedang marah besar sekarang. Akan berbahaya kalau kalian terlalu dekat, bisa-bisa ganti kalian yang tertangkap oleh penyihir itu. Mengerti?” kata si pengawal. Dua orang yang berada di atas kuda mengangguk. Pengawal itu kembali memberikan petunjuk-petunjuk lainnya yang mungkin akan diperlukan oleh keduanya.

“Kau siap?” tanya Nikki. Audrey mengangguk, tangannya mencengkeram tali kekang kudanya erat penuh antisipasi. Kemampuan berkudanya sama sekali tidak bisa diragukan, terima kasih pada latihan yang diberikan oleh Aiden sejak mereka masih kecil.
Mereka hanya berdua dalam misi pencarian kali ini karena jumlah orang yang terlalu banyak hanya akan menarik perhatian. Nikki juga sudah meminta tolong pada beberapa orang punggawanya untuk mencari tahu ke kerajaan-kerajaan tetangga soal keberadaan Aiden.

Suara derap tapal kuda yang beradu dengan bebatuan kasar diselai gemerincing rantai tali kekang yang beradu satu sama lain. Debu pasir membubung tinggi ke udara, membentuk tirai-tirai debu tipis yang mengaburkan pandangan. Tidak lebih dari lima menit, Audrey dan Nikki sudah menghilang dari pandangan si pengawal yang segera menutup gerbang belakang istana Kerajaan Barat.

“Nikki!” teriak Audrey. “Ke arah mana?”
“Sudahlah, kau ikuti aku saja!” balas Nikki, menarik kekang kudanya agar mempercepat larinya ke arah hutan di perbatasan. Tudung jubahnya sudah hampir jatuh ke pundak, menampakkan separo kepala, wajah, dan rambut warna madunya.
Mereka sampai di gerbang benteng Kerajaan Barat. Nikki menganggukkan kepalanya ke arah para penjaga gerbang, meminta mereka membukakan gerbang itu. Tampaklah sebuah jalan setapak yang terus menuju ke dalam hutan. Audrey menelan ludahnya gugup.

“Ayo. Tenanglah, ada aku.” Nikki mencondongkan tubuhnya ke arah Audrey untuk berbisik tepat di depan telinganya. Sedetik kemudian, ia kembali memacu kudanya hingga masuk dan menghilang di tengah rimbun dedaunan. Audrey menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, kemudian ikut mengarahkan tunggangannya menuju hutan itu.

—–

Aiden menarik lehernya tinggi-tinggi sambil menguap. Bulan telah naik, bias sinarnya sedikit menembus daun-daun pohon besar yang mengelilingi mereka. Am masih saja berkutat dengan petanya, berusaha mencari jalan yang benar menuju kerajaannya sendiri.
“Coba lihat petanya!” pinta Aiden.
“Tidak-tidak-tidak! Jangan! Kau tidak tahu jalan, kan?” Am menyembunyikan petanya di balik punggung.
“Siapa yang berhasil membuka gembok pintu ruang tahanan?”
Am menggigit bibitnya. “Kau, tapi tetap saja, jangan pegang petanya atau kita akan makin tersesat!”
“Memangnya apa yang salah dengan aku memegang petanya?” Aiden merebut peta di tangan Am dan membacanya. Am menghela napas dan menatap Aiden kesal.

“Berhentilah bersikap sok tahu.” gumam Am, menyandarkan punggungnya ke sebuah pohon besar. “Kau tidak tahu ja—“
KRAK!
Am berhenti berbicara. Salah satu dahan besar pohon di atasnya tiba-tiba patah, untung saja dahan itu berada di sisi yang berbeda dengan tempatnya bersandar. Tapi dahan itu patah secara agak aneh, tidak ada angin yang cukup kuat untuk mematahkannya, dan lagi, dahan itu tidak terlihat rapuh sama sekali.

“Am—“
“KALIAN KIRA KALIAN BISA MELARIKAN DIRI?” tiba-tiba terdengar suara yang menggaung di seantero hutan. Suara Ty. Pasti penyihir itu sudah sadar kalau Am dan Aiden melarikan diri.
“Ba, ba, bagaimana ini?” tanya Am panik.
“Lari! Am, kau, arahkan jalannya!” teriak Aiden, tangannya menarik lengan Am yang masih mematung di tempatnya. Am segera tanggap dan kembali membuka petanya sambil berlari sekencang-kencangnya.

“Kiri! Setelah pohon mahogany itu, kiri!”
KRAK! Kembali terdengar suara dahan pohon yang patah, tapi bahkan menoleh saja mereka berdua tidak sempat. Ty masih berusaha membelokkan mereka dari jalur yang benar dengan memblokir jalannya menggunakan pohon yang ditumbangkan, tapi Aiden dan Am tetap berhasil melampauinya lebih dulu. Sampai akhirnya…

“Terus! Terus ke depan!” teriak Am, tatapannya masih tertuju ke arah peta.
“Tidak bisa! Itu dinding batu!”
Am mendongak. Benar saja, jalan di depan mereka terhalang dinding batu yang sangat tinggi hingga rasanya mustahil memanjat sampai ke atasnya. Sementara itu, Aiden bisa merasakan kalau Ty semakin dekat dengan mereka.

“Kalian tidak akan bisa lari lagi!” dalam satu kedipan mata Ty sudah muncul di depan mereka. Ia mengarahkan tangannya ke arah kedua orang itu, siap membaca mantranya.
“Dalam hitungan ketiga, berpisah!” bisik Aiden. Am mengangguk paham.
Her whisper…
“Ini dia. Satu…”
… is…
“Dua.”
… the Lucifer!
“Tiga!”

Seberkas sinar hijau keluar dari tangan Ty, langsung menuju ke arah Aiden dan Am. Kedua orang itu sudah memisahkan diri sehingga sinar hijau itu tidak mengenai mereka, melainkan dinding batu di belakang kedua orang tadi. Dinding tinggi itu pecah dengan suara yang mengerikan. Salah satu batu penyusunnya yang berukuran cukup besar terlontar ke arah Ty sebagai hasil dari gaya aksi-reaksi dan dengan suksesnya mengenai penyihir itu. Dengan satu teriakan melengking yang terakhir dan sebuah suara mengerikan, Aiden dan Am tahu kalau riwayat si penyihir hitam telah tamat.

“S, sudah selesai?” tanya Am, suaranya gemetar. Aiden mengangguk, menghampiri Am yang tubuhnya dipenuhi debu dan serpihan kecil bebatuan. Ia menarik tangan Am agar berdiri dan mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan.
“Masih jauhkah?” tanya Aiden. Am, yang masih shock, hanya bisa menggeleng pelan.
“T, tinggal sebentar lagi…” gumam Am. Dan karena suatu dorongan entah apa, Aiden langsung menepuk kepala Am pelan sambil menggumamkan kata-kata yang mungkin bisa menenangkan Am secara psikologis. Wajah Am masih tampak tegang, tapi warna mulai kembali memenuhi wajahnya yang tadi putih pucat.

“Ayo. Ini sudah hampir tengah malam sepertinya. Kau tidak mau cepat sampai?”
“Hanya tinggal sedikit lagi, kok.” Am kembali menghadap petanya. “Lihat? Kita sudah hampir sampai di pinggir hutan.” tangannya menunjuk si benda kecil yang masih setia berkelip-kelip. Memang benar, posisi benda itu sudah berada di dekat tepian hutan.
Aiden menghela napas lega. “Syukurlah. Hmm, kau masih mampu berlari, kan?”

—–

Nikki sampai di dekat pondok si penyihir hitam terlebih dahulu. Ia turun dari kudanya, menambatkan tali kekangnya di salah satu pohon yang kokoh, dan membenarkan tudung jubahnya sambil menunggu Audrey yang terpaut jarak tidak terlalu jauh dengannya.
“Kenapa sepi, ya?” tanya Audrey setelah berhasil melompat turun dari punggung kudanya.
“Entah. Biar kulihat.” Nikki berjalan menuju pondok Ty, tapi tangannya ditahan oleh Audrey. “Jangan!”
“Kenapa jangan?”
“Kau tidak ingat kata-kata paman pengawal istanamu? Jangan mendekati pondok si penyihir, begitu, kan?” Audrey mengulangi kata-kata pengawal istana tadi. “Jangan nekat!”
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Nikki tetap bersikeras menghampiri pondok itu.
“Kalau kau tetap berkeras, setidaknya aku harus ikut!”

Nikki sudah membuka mulutnya, ingin memprotes, tapi kemudian mengurungkan niatnya saat melihat wajah Audrey yang seolah berkata kau-boleh-kenapa-aku-tidak?. “Baiklah, baiklah. Kau boleh ikut. Ng… aku tidak menyangka kalau ca—“ kemudian ia berhenti bicara. Audrey menatap Nikki heran.
“Kau mau bilang apa tadi?”
“Tidak, tidak apa-apa…”

—–

Am menunjuk ke depan. “Itu, lihat itu? Ini perbatasan Kerajaan Utara. Kita sudah –hampir– sampai. Hanya tinggal sedikit lagi.”
“Aaaaah, untunglah. Kukira masih jauh…” Aiden nyengir senang. “Tapi bagaimana caranya masuk lewat benteng itu?”
“Kau pikir aku siapa?” Am sudah kembali ke bentuk aslinya, makhluk sarkastis yang menyebalkan. Ia lalu berjalan menuju gerbang nun di sana, berbicara dengan salah satu penjaganya, kemudian tahu-tahu gerbang itu sudah terbuka. Begitu saja. Ia lalu menoleh ke arah Aiden, memberi isyarat padanya untuk datang mendekatinya.

“Begini saja? Kita sudah bisa masuk?”
“Menurutmu?” Am melirik Aiden sebal. “Sudahlah, masuk saja, sudah aman di dalam.”
Mereka berjalan di jalan utama kerajaan yang gelap dengan barisan bangunan di kiri-kanan jalan. Penerangan hanya berasal dari jajaran lampu tiang bergaya klasik yang membiaskan cahaya oranye redup. Sementara itu, nun di ujung jalan utama, istana Kerajaan Utara berdiri dengan megahnya.
Tidak butuh waktu lama untuk mencapai istana Kerajaan Utara. Am lagi-lagi mengambil alih tugas komunikasi dengan para penjaga sementara Aiden lebih memilih berdiri diam di sebelahnya.

“Ya ampun! Anda sudah kembali, Putri Amber?”
Tunggu, ‘putri’? Aiden langsung mengalihkan pandangannya ke Am yang masih sibuk membantah kata-kata para pengawal.
“Sudah kubilang, Am saja ya paman! Tolong diingat-ingat!” kemudian ia menoleh ke arah Aiden yang masih tampak shock.

“Kau… putri?” tanya Aiden dengan wajah bodoh. Well, itu sama sekali bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban untuk saat ini.
“Ng? Yah, bisa dibilang begitu, tapi aku tidak begitu suka disebut begitu. Kenapa?”
“Jadi… kau…”
“Ah iya, kau pertama mengira aku laki-laki, ya? Memang banyak orang yang sering salah mengira setiap melihatku, hehehehe…” Am –atau Amber, tapi penulis sudah terlalu terbiasa dengan Am– terkekeh tidak enak. “Maaf…”
“Tidak, tidak apa-apa.” Aiden berusaha memperbaiki ekspresinya. “Ng, itu, anu, bukankah lebih baik kita masuk dulu?”

Am menatap Aiden tidak yakin, kemudian mengajaknya masuk ke dalam istana. Beberapa pelayan yang melintas memperlihatkan reaksi yang berbeda-beda. Ada yang hanya menyapa dan menanyakan kabar, ada juga yang memeluk Am erat-erat sambil menanyakan ke mana saja ia pergi selama ini. Am hanya bisa merespon dengan wajah kaget dan senyum yang sama sekali belum pernah dilihat oleh Aiden selama pelarian mereka. Am sama sekali tidak pernah tersenyum selama ini, dan ternyata saat ia tersenyum wajahnya jadi bertambah manis…

Mendadak wajah Aiden terasa panas.  Sebenarnya yang membuat Am terlihat manis itu senyumnya atau fakta bahwa dia perempuan? Hei, ada apa denganku? Kenapa wajahku mendadak panas seperti ini? Masa’…
Aiden melirik Am yang masih sibuk bercakap dengan salah satu pelayan yang usianya mungkin sudah paruh baya. Rasanya memang seperti ada sesuatu yang berbeda dengan wajah ga…dis itu. Setidaknya bagi Aiden.

—–

Nikki memutuskan untuk kembali ke kerajaannya lagi setelah mengamati selama hampir setengah hari di sebelah pondok Ty, dari seperempat malam yang lalu sampai pagi ini. Audrey masih agak keberatan, tapi mau tak mau ia harus ikut dengan Nikki. Mana mungkin ia terus berada di hutan sendirian?

“Butuh bantuan?” tawar Nikki saat melihat Audrey yang kesulitan menaiki kudanya kembali. Audrey menggeleng.
“Tidak, tidak usah. Aku bisa sendi—” tapi tepat pada saat itu, kaki Audrey yang sudah bersandar di atas sanggurdi mendadak terpeleset. “Huawawawawa— ng?”
Tidak, Audrey belum terjatuh sampai menyentuh tanah. Nikki sigap menarik sebelah tangan Audrey sementara tangan yang satunya –lagi-lagi– menahan badan Audrey. Refleks yang bagus… mungkin?

“Dua hari ini aku melatih otot lenganku terus-menerus, lho.” ledek Nikki. Audrey melengos dan memukul lengan Nikki pelan setelah kembali berdiri, membuat lelaki itu mengaduh –pura-pura– kesakitan.
“Naiklah.” perintah Nikki sambil memegangi tali kekang kudanya dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih memegangi telapak tangan Audrey, menuntunnya naik ke pelana kudanya sebelum kemudian ia melompat naik ke tunggangannya sendiri.

“Jangan sampai kau ketinggalan…” gumam Nikki, tangannya menaikkan kembali tudung jubah Audrey sambil berlalu dari sebelahnya. Audrey terdiam. Ia masih belum terbiasa dengan semua yang dilakukan Nikki padanya, lebih jauh lagi, ia tak mau terbiasa untuk saat ini.

“Dree?”
Audrey tergeragap. Ia segera menarik kekang kuda di tangannya, menyuruh hewan yang ditungganginya itu mengikuti kuda Nikki yang sudah agak jauh di depannya.

Jangan, jangan sampai kau jadi terlalu terbiasa, Audrey. Kau tahu kan kalau putri-putri kerajaan selalu sudah dijodohkan sejak kecil? Bagaimana kalau hal yang sama juga berlaku padamu dan kau sudah terlanjur terbiasa dengan Nikki?

—–

“Ikutlah denganku ke kerajaanku, bagaimana?”
Kata-kata Aiden semalam sebelum ia masuk ke kamarnya setelah makan malam masih saja terngiang-ngiang di telinga Am. Bahkan satu kalimat lima kata itu telah berhasil menghilangkan bayangan pelarian menyeramkannya kemarin.

“Untuk apa? Memberiku hadiah? Tidak perlu, kita sama-sama menjadi tawanan yang melarikan diri saat itu.”
“Bukan hadiah. Ini… sesuatu yang sangat penting. Ya, sangat penting.”
“Maksudmu?”
“Ini menyangkut masa depanku dan kau harus ikut. Kumohon…”

Am masih penasaran karena kata-kata Aiden tadi. Ia menolak untuk menjelaskannya lebih lanjut saat Am bertanya, hanya memintanya untuk ikut dengannya. Am masih belum menyanggupinya dengan alasan ia perlu tahu apa tujuan Aiden. Tidak sepenuhnya berbohong kan kalau ia penasaran seperti ini?

—–

“Kau hanya belum tahu saja, Tuan Putri…” gumam Nikki sambil memandangi benda kecil di tangannya. Sinar bulan purnama genap yang menembus jendela kamarnya terpantul pada benda itu, membiaskan cahaya keperakan yang cerah dan terang.

Nikki menutup kembali kotaknya dan meletakkannya di side table tempat tidurnya. Semua ini sebenarnya hanya tinggal masalah waktu saja. Masalahnya… kapan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya ke Audrey? Sekarang semua kewajiban itu sudah dibebankan padaku sejak aku mengetahuinya. Ini berat sekali…

—–

“Jadi, bagaimana?”
Am menoleh kaget ke arah Aiden yang tahu-tahu sudah berada di belakangnya. “Ba-bagaimana apanya?”
“Itu, kau jadi ikut denganku, kan? Ah iya, baru kali ini aku melihatmu memakai pakaian seperti ini.” tangannya terang-terangan menunjuk Am yang hari ini –terpaksa– memakai gaun, karena ibunya yang memaksanya.

“Am? Am?” Aiden melambaikan tangannya di depan wajah Am. “Bagaimana?”
“Eh? Ah, itu… untuk apa memangnya? Aku perlu tahu…” Am berusaha mengelak. Aiden menghela napas.
“Yah, anggap saja ada kejutan yang menunggumu di sana. Kau mau kan? Pasti mau, kan?”

Entah ada dorongan dari mana, Am sudah menganggukkan kepalanya. Aiden tersenyum senang, senang sekali. “Bagus sekali! Bersiaplah karena aku akan pulang besok.” katanya sebelum berlalu dari depan Am.
“Ah, tunggu. Ini…” Aiden melemparkan sesuatu ke tangan Am yang refleks langsung menangkapnya. Bunga matahari kecil yang mungkin baru saja dipetik dari kebun istana Kerajaan Utara. “Kau tahu? Sepertinya itu cocok dengan gaunmu!”

Kaki Am seperti sudah dipatri erat ke lantai marmer di bawahnya. Terlalu kaku untuk digerakkan karena apa yang dilakukan Aiden barusan.

—–

“Aku baru tahu kalau aku sudah dijodohkan saat usiaku 19 tahun. Yah, baru-baru ini saja sebenarnya.”

Audrey mendadak merasa sesak napas.
“Di…jodoh…kan?”
“Ya. Dijodohkan. Awalnya aku menolak dengan keras pada ayah dan ibuku, tapi kata mereka, gadis itu sudah mereka pilih dengan sangat hati-hati. Segalanya sempurna –setidaknya dalam kaca mata mereka. Tapi tetap saja saat itu aku merasa terkekang. Ini urusanku sendiri, untuk apa orang tuaku ikut campur?” Nikki mengambil sebuah kerikil kecil dan melemparkannya ke kolam di depan mereka. “Tapi belakangan aku justru merasa beruntung telah dijodohkan dengan gadis itu. Semoga ia juga merasakan hal yang sama denganku.”

Audrey tahu matanya sudah mulai memanas. “Oh, baguslah.” gumamnya. “Siapa…” gadis beruntung itu? “…nama calon tunanganmu?”
“Rahasia…” jawab Nikki. “Kurasa ia masih belum tahu kalau ia sudah dijodohkan denganku, karena akulah yang harus memberi tahunya. Menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan untuk memberi tahu gadis itu, hmm?”
Gadis di sebelah Nikki menengadahkan kepalanya, berusaha menghalau air mata yang sudah membayang di pelupuk matanya. “Ng… beri saja ia buket bunga dengan cincin tunangan kalian di tengah-tengah buket bunga itu. Bagaimana?”

“Ah, ide yang bagus! Terima kasih…” Nikki mengacak rambut Audrey perlahan, membuat gadis itu menundukkan kepalanya lebih dalam. Perlahan jemarinya menyeka sudut matanya yang sudah basah.
Bagus. Sudah cukup. Nikki sudah dijodohkan, tidak ada harapan lagi untukku, kan?

—–

“Kenapa kau memakai baju seperti itu?!”
Baru saja Am berjalan keluar dari kamarnya dan Aiden sudah siap memprotes di depannya. Tangan lelaki itu disilangkan di depan dada, wajahnya tampak serius dan kedua alis tajamnya hampir saja bertaut.
“Memangnya kenapa? Apa yang salah?” Am melihat ke arah pakaian yang dipakainya. Celana longgar dan baju katun biasa. “Kau akan pulang, kan? Perjalanannya lama, kan? Memangnya salah kalau aku memakai pakaian seperti ini?”
“Sangat salah! Kau ini putri, perlu kueja? P-U-T-R-I! Jangan pakai celana dan baju katun seperti laki-laki begitu!”
“Memangnya salah, ya?”
Aiden sudah kehabisan kesabaran. Ia langsung mendorong Am masuk kembali ke kamarnya, mendudukkannya di tepi kasur, dan membuka lemari pakaian gadis itu.

“Hei!”
“Jangan banyak protes!”
Aiden mengambil beberapa potong pakaian dari lemari Am. Rata-rata berupa gaun, semuanya diletakkan di tepian tempat tidur Am. Setelah mengeluarkan sekitar 5 pakaian, ia berbalik menghadap Am yang menatapnya kesal. “Baik, pilih salah satu.”
“Tidak mau.”
“Sudah kupilihkan yang bahannya nyaman digunakan untuk perjalanan jauh dan desainnya tidak terlalu rumit. Ayolah, pilih salah satu!”
“Aku sudah bilang kalau aku tidak mau, kan?”
“Kau harus mau. Kau mau tampil cantik atau tidak?”
“Tidak. Tidak ada yang menganggapku sebagai putri di sini. Aku tidak pantas memakai gaun, kau tahu?”
Well, setidaknya aku menganggapmu seorang putri. Dan kau pantas memakai gaun. Sekarang kau tinggal memilih satu saja. Pilihlah.”

Am terdiam. Sesuatu yang aneh sepertinya baru saja terjadi padanya. “Kau… keluar dulu.”
“Baiklah, aku keluar. Jangan mencoba kabur, mengerti?” dan Aiden menutup pintu oak di belakangnya. Am menarik napas sejenak sebelum kembali menghadap tumpukan gaun di depannya. Tunggu, tadi apa warna pakaian Aiden? Biru, hmm?

—–

“Kau sudah siap?”
Audrey berbalik. Nikki sudah berada di depan pintu kamarnya, menyandarkan punggung di kusen kayu cokelat tua. “Jadi, bagaimana rasanya akan pulang ke rumahmu sendiri?”
“Menyenangkan…” dan melegakan, tambah Audrey. Ia tidak tahan lagi kalau harus bertemu dengan Nikki setelah tahu kalau lelaki itu sudah punya calon tunangan. Padahal, dulu ia selalu menunda kepulangannya dengan alasan Aiden belum diketahui rimbanya meski sebenarnya ia ingin lebih lama berada di dekat Nikki. Tapi sekarang setelah semua kebenaran terkuak dan keberadaan Aiden sudah diketahui nun di Kerajaan Utara sana, tidak ada lagi alasan bagi Audrey untuk tinggal lebih lama di istana Kerajaan Barat.

Audrey berpamitan dengan kedua orang tua Nikki, Raja dan Ratu Kerajaan Barat. Ratu Kerajaan Barat bahkan memeluknya erat sekali.
“Kau sudah seperti anak perempuanku, Putri Audrey. Sekarang aku tidak punya anak perempuan lagi…” keluh sang Ratu. Audrey tertawa pelan, untuk alasan kesopanan tentu saja.
“Tenang saja, sayang, dia kan… ah, maaf.” sang Raja berhenti bicara saat permaisurinya menyenggol lengannya dengan siku, meninggalkan Audrey yang kebingungan. Audrey tak sempat bertanya lebih lanjut karena Nikki keburu menariknya ke istal kuda. Ya, kali ini mereka kembali berkuda, tapi tidak lagi berdua melainkan dengan beberapa orang pengawal yang akan mendampingi mereka.

“Ini.” Nikki menyodorkan sebuah buket bunga chrysanthemum warna kuning ke pangkuan Audrey saat ia  sudah siap di atas pelana kudanya.
“Eh? Untuk apa? Hadiah perpisahan?” Audrey berusaha tertawa meski ia tahu tawanya terdengar hambar.
“Tergantung sudut pandangmu. Kau bisa menganggapnya hadiah perpisahan atau pertemuan, awal dari sesuatu yang baru, mungkin?”

Audrey tampak bingung. “Aku tidak mengerti…”
“Pikirkan saja nanti saat di perjalanan. Ada sesuatu yang terselip dalam buket itu yang juga bisa kau selipkan di tempat lain. Ng, waktumu untuk menemukannya adalah selama perjalanan ini sampai kita tiba di istana kerajaanmu dan kalau sampai batas waktunya kau belum bisa menjawab teka-teki itu, hukuman dariku sudah menunggu.” kata Nikki sebelum berlalu kembali ke kuda tunggangannya. Audrey masih diam, tangannya perlahan menelusuri permukaan lembaran-lembaran kelopak bunga chrysanthemum kuning di buket itu. Secara sekilas tidak ada yang aneh padanya, yah, sama sekali tidak ada yang terlihat berbeda.

Ada sesuatu yang terselip dalam buket itu yang juga bisa kau selipkan di tempat lain…

—–

“Nah, kau terlihat seribu kali lebih baik dengan gaun itu. Pilihanku memang tidak pernah salah!” komentar Aiden saat Am mengintip keluar dari celah sempit pintunya tak lama setelah lelaki itu menyuruhnya berganti baju.
“Tapi… aneh…” gumam Am tak yakin.
“Kata siapa? Kau tidak aneh, hanya belum terbiasa saja.” Aiden berucap enteng.
“Pokoknya aneh!” Am masih berkeras. Aiden menggeleng gemas, mendorong pintu kamar Am lagi. Ia memaksa Am berdiri di depan cermin besar yang disandarkan begitu saja di dinding. Ia menatap Am dari atas ke bawah, berpikir sebentar, lalu mengambil sisir yang digeletakkan sembarangan di atas salah satu meja.

“Memangnya akan berbeda, ya?”
“Mengganti sedikit penampilan di bagian rambut pasti akan mengubah semuanya sekaligus. Lihat saja.”

Tangan Aiden dengan terampil bekerja di atas kepala Am. Memisahkan bagian demi bagian rambut hitam itu, menyikatnya hingga terurai dan jatuh sempurna menyentuh bahu gadis itu. Am diam saja, hanya menatap bayangan di dalam cermin.
“Jadi, kau sudah dapat kabar soal adikmu?” tanya Am, mungkin berniat mencairkan keheningan di sekitar mereka.
“Ya. Dia di Kerajaan Barat sekarang dan akan pulang hari ini. Makanya aku juga berniat pulang hari ini.” kata Aiden. “Dan firasatku mengatakan kalau ia telah bertemu dengan seseorang yang penting untuknya.”
“Maksudmu?”
“Entah, hanya firasat saja. Tapi biasanya firasatku tidak pernah salah… sejauh ini.”

“Adikmu itu… seperti apa?”
“Dree? Dia makhluk paling aneh yang pernah aku ketahui.”
“Aku serius.”
“Nada bicaramu itu menyeramkan. Yah, tingginya sekitar leherku. Rambutnya cokelat panjang lurus sampai ke punggung. Dan seperti yang kukatakan tadi, dia makhluk aneh. Nah, sudah selesai.”

Tak butuh waktu lama sampai ia selesai melakukan ‘pekerjaan’nya. Rambut Am sekarang tertata rapi, Aiden bahkan sempat membuat kepang pendek di sisi kiri kepala gadis itu dan menyelipkannya di belakang telinga, menjepitnya dengan jepitan hitam tipis. Harus diakui –bahkan Am sendiri mengakuinya– wajahnya jadi kelihatan lebih manis sekarang.

“Terlihat cantik itu sugesti.” Aiden mengakhiri ‘kelas kecantikan’nya pagi itu dan kembali meletakkan sisir Am di mejanya. “Ayo berangkat sekarang!”

—–

Rombongan itu sampai di pintu gerbang benteng Kerajaan Selatan saat waktu sudah menjelang petang. Audrey berbicara sebentar dengan penjaga gerbang Kerajaan Selatan, lalu tak lama kemudian pintu gerbang itu dibuka lebar-lebar hingga tampaklah jalan utama Kerajaan Selatan yang ramai. Pengawal Kerajaan Barat langsung mengambil tempat di depan, bersiap membuka jalan, tapi Audrey melarang mereka.
“Jangan, nanti para pedagang kerepotan memindahkan barang-barang yang mereka jual. Pada waktu-waktu ini pasar sedang ramai-ramainya, bisa-bisa yang ada malah perjalanan kita semakin lama.” kata Audrey. Ia lalu dengan santainya mengarahkan kudanya untuk berjalan masuk, meninggalkan Nikki dan beberapa pengawal itu di belakangnya.

“Hei!” panggil Nikki yang tahu-tahu sudah berada di sebelahnya. “Kau yakin ini tidak apa-apa?”
“Yakin sekali. Meski jalan ini dijadikan pasar, tapi bagian untuk kendaraan semacam kereta atau kuda masih tersedia banyak. Tidak perlu membuka jalan.” kata Audrey. “Kalau kau tidak percaya, bisa dicoba nanti. Kita bahkan bisa berjalan bersisian, eh, maksudku dua kuda bersisian saja masih cukup.”

Nikki mengangkat bahu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga mencapai pusat keramaian. Memang benar, meski ramai, kegiatan jual-beli tidak sampai menutupi seluruh badan jalan. Beberapa orang yang mengenali Audrey langsung berteriak, “Putri Audrey! Yang Mulia Putri Audrey sudah kembali!”
Orang-orang yang mendengarnya langsung menoleh ke arah rombongan Audrey dan Nikki. Wajah mereka rata-rata kaget dan tidak percaya. “Putri Audrey?”

Tidak butuh waktu lama sampai keramaian ganti berpusat pada sang putri yang telah kembali. Audrey tampak kewalahan, tapi saat pengawal Kerajaan Barat hendak menengahi tetap saja ia melarangnya. “Maaf paman, tapi biarkan saja mereka…” pinta Audrey, lalu ia menoleh ke Nikki. “Tidak apa-apa kalau perjalanan kita terhambat sebentar?”
Nikki mengangguk. “Tidak apa-apa. Mm, kau mau turun dari kudamu atau bagaimana?”
Audrey berpikir sebentar. “Ng… kurasa tidak. Dari sini juga tidak apa-apa.”
“Baiklah, pergunakan waktumu. Apa aku perlu menyingkir?”
“Tidak usah…”

Nikki membiarkan Audrey berbicara dengan puluhan orang itu. Wajah gadis itu tampak senang, sepertinya ia sangat menikmati kegiatan dadakannya yang satu ini.
“Yah, aku memang beruntung…” lagi-lagi Nikki bergumam untuk dirinya sendiri, hanya Audrey tidak mendengarnya kali ini.

—–

Perjalanan ke Kerajaan Selatan dari Kerajaan Utara biasanya ditempuh dalam waktu yang tidak sebentar, berhubung dulu orang lebih memilih memutar ke Kerajaan Barat atau Timur, intinya menghindari perjalanan lewat hutan. Rumor tentang si penyihir hitam sudah cukup untuk menakut-nakuti para warga, tapi sekarang mereka sudah bisa melewati rute baru yang lebih cepat itu tanpa rasa takut lagi berhubung si penyihir hitam sudah tewas terkena efek mantranya sendiri.

Seperti hari ini. Aiden dan Am dengan santainya melintasi daerah itu, hanya berdua, tidak ada pengawal atau yang lainnya. Masing-masing dengan seekor kuda.
“Tidak perlu terburu-buru.” kata Aiden.
“Siapa yang terburu-buru?” bantah Am. Ia sendiri memang tidak merasa terburu-buru, bagaimana bisa Aiden berkata ia terburu-buru?
“Santai saja. Kau belum pernah lewat hutan ini secara tenang, kan?”

Am terdiam. Memang ia belum pernah melewati hutan itu secara tenang, yang pernah adalah dalam suasana mencekam –pelarian kemarin. Dan ternyata, kalau keadaannya seperti ini, hutan ini tidak terlalu menakutkan.
“Yah, sebenarnya yang memperburuk hutan ini hanya si penyihir hitam.” cetusnya. Aiden mengangguk setuju.
“Dan sekarang rakyat seluruh kerajaan tidak perlu takut bepergian lewat hutan ini. Meski jalannya memang belum ada, sih.” sepertinya  Aiden sudah mencatat satu tugas baru yang akan dibicarakannya dengan Raja Marcus di kastil nanti.

Kedua orang itu sudah mencapai pondok tua milik Ty, masih terlihat sama saja. Kusam, cokelat tua, sekilas tersamarkan di antara batang-batang pohon di sekitarnya.
“Kosong.” gumam Am. Jelas saja, si pemilik rumah sudah tak ada lagi di dunia ini.
“Mungkin lebih baik rumah ini dirobohkan saja, bagaimana menurutmu?” tanya Aiden.
“Sepertinya tidak perlu… yah, mungkin bisa digunakan untuk sesuatu yang lain, kan? Misalnya untuk tempat singgah orang-orang yang melintas, sesuatu yang semacam itu.”

“Aaah~ idemu bagus juga!” Aiden mengangguk-angguk setuju. Am tersenyum kecil. “Jadi, jalan dan tempat singgah? Biar kudiskusikan dengan ayah… wah, aku jadi tidak sabar untuk segera kembali ke istana!” lelaki itu menoleh ke arah Am di belakangnya. “Ayo, cepatlah! Kita sudah hampir sampai!”

—–

Rombongan Nikki dan Audrey sampai di gerbang istana menjelang sore, sementara Aiden dan Am sampai saat menjelang malam. Keduanya sama-sama disambut dengan bahagia oleh kedua orang tua mereka yang langsung menanyakan kabar dan sebagainya, juga oleh puluhan pelayan kastil Kerajaan Selatan. Tidak ada pesta penyambutan yang meriah, hanya sedikit ungkapan syukur karena kedua orang itu berhasil pulang dalam keadaan selamat. Itu saja.

Hari-hari menyeramkan itu, entah kenapa tetap saja terasa seperti mimpi bagi mereka berdua. Soal bagaimana permainan nasib bisa melakukan hal seperti itu pada mereka, tidak ada yang tahu pasti. Siapa yang tahu?

Because life keeps on flowing like the water in a river. Sizzled up and down, crossed hills and valley, along with the breezy wind which could turned out to be a storm at any time. Nobody knows where the flow stops, neither where is the stream located? Some river cross each-other’s paths, some influencing one with another, some exchanged their stream, some merged into one. And just to remind, nobody really know where they are leaded to.

And soon, they’re going to go along their own path step-by-step.


Advertisements

2 thoughts on “[One-Shot] The Great Southern Kingdom”

  1. tunggu, kalian selamat, saya bahagia~ tapi…. kenapa bawa calon? *eh
    ituuu ada perjodohan ya antara nikki sama dree? ga inget? *ngelengos
    trus itu, di aiden, bawa pulang calon menantu kah? :3
    aaaah kalian pulaaaaaaang~~ XD
    sukaaaaaaaa bangeeeeeeeeeeet *joget* XD
    ada lanjutannya kah? :3 *banyak maunya*

    1. yeeeee~ hah? ya gapapa lah bawa calon gituuuu~ :3
      ada, ada, adaaaaa, terima ajaaa~ yang bikin juga siapa -3-”
      iyanih, calon kakak ipar :3 XD
      neeeeeeee~ *lari ke pelukan*
      gomawoyo eonniiiiiiiiiiiiii :3
      EH? lanjutan? ng… ada gak ya… *eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s