[#15HariNgeblogFF] Jadilah Milikku, Mau?

amat.sangat.biasa.sekali. first trial juga sih :/ telat 5 hari, apaaaaaaan *eh

*****

Sudah dua puluh menit aku duduk di cafe ini dan isi cangkir keramik kecil di depanku juga hanya tinggal separuh. Tapi yang kutunggu belum juga datang, meski sudah lewat hampir setengah jam dari jam seharusnya kami bertemu. Telat, ngaret, you could name it. Sejauh ini aku masih belum paham kenapa wanita suka sekali terlambat dengan alasan macam-macam.

Dan yang lebih parah dari menunggu orang yang terlambat adalah kalau itu membuatmu merasa tertekan secara batin. Seperti dalam kasusku sekarang ini.

“Ryan?”

Aku menoleh. Orang itu sudah berdiri di sebelahku. Wajahnya terlihat agak kuyu, apa mungkin ia sedang sibuk bekerja saat kuajak bertemu tadi?

“Maaaaaaf aku telat, tadi ketahan si Bos di kantor, customer banyak yang komplain katanya, maaf ya…” katanya setelah duduk di depanku.

Nggak papa kok The, no big deal. Anyway, selamat ya buat pekerjaan barunya! Traktir dong…”

Yeeee, enak aja! Kamu yang ngajakin ke sini, means you’ll be the one who give me a treat!” tawanya terdengar. Masih tawa yang sama.

Pelayan datang dan aku langsung menyebutkan pesanan untuk Thea tanpa bertanya padanya. Cappuccino dan wafel cokelat, aku sudah hapal apa yang biasa ia beli di sini. Kebiasaan.

“Jadi, ada apa?” tanyanya setelah berterimakasih pada mas-mas pelayan yang sudah kembali ke counter-nya.

“Cuma pengen ketemu aja, kok. Been a long time since our last meeting, right?”

Yup. Kita sama-sama sibuk…”

Obrolan kami terus saja mengalir. Kuperhatikan wajahnya dari menit ke menit, makin lama ke-kuyu-an di wajahnya makin menghilang. ‘Acara’ ini baginya pasti sebuah refreshing singkat di tengah kesibukannya di kantor barunya.

Tidak butuh waktu lama untuk membuat atmosfer di sekitar kami jadi menyenangkan. Faktor teman-lama-yang-bertemu-kembali jadi salah satu penyebabnya. Reuni kecil-kecilan…

“Masih bertahan jadi jomblo sejati?” tanya Thea tiba-tiba. Senyum isengnya terlekat di bibir. Aku mengerutkan kening tidak rela.

“Siapa yang jomblo? Single, single!” ralatku cepat.

“Apa bedanya? Toh intinya sama-sama not in a relationship, kan?” ia terkekeh. “Apa lagi alasannya kali ini? Belum ketemu yang cocok?”

Ups.

Sebenernya udah. Cuma tinggal ngomong ke orangnya, tapi belum ketemu waktu yang pas, nih…”

“Iiiiih, ngomong apa susahnya, sih?” Thea mendelik gemas. “Gih, ngomong, nanti kan bisa ganti status relationship di FB, jadi in a relationship with siapaaaaaa gitu…”

“Tapi aku maunya in a relationship sama kamu…”

Thea berhenti bicara. “Mbribik (nggombal)!” cibirnya.

“Eh, aku serius!”

“Kamu kebanyakan minum kopi ya? Atau baru mabuk? Sadar, sadar…”

“Thea…”

Lagi-lagi aku berhasil memaksa Thea menutup mulutnya. Kali ini aku berusaha memasang wajah serius dan menatapnya, juga serius.

“Jadilah milikku, mau?”

Thea melirikku lewat sudut matanya. Kuamati wajahnya, tidak ada perubahan sama sekali di sana. Indikasi penolakan-kah?

Nggak mau.” ia membuka mulut. Berbeda dengannya yang bisa dengan mudah mengatakan hal itu, mulutku sendiri seperti terkunci rapat. Semua kata-kata pengalihan-perhatian-kalau-ditolak yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari mendadak hilang.

“Oh, eh… ya sudah, hehe. Nggak usah di—”

“Aku maunya kamu yang jadi milikku…”

Advertisements

6 thoughts on “[#15HariNgeblogFF] Jadilah Milikku, Mau?”

  1. Rata-rata pasti nulisnya tentang cinta *ngesot* *menghindari tema ini*

    dialog yg bagian akhir suka deh ❤

    btw nulis fanfic ya? dan kayaknya udah banyak banget. penulis produktif nih \m/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s