[Ficlet] 고백 (Confession)

“Kau marah?”

“Tidak, kok…”

“Lalu kenapa aku tidak boleh masuk?”

“Ya tidak apa-apa, ng, kau tahu scene yang ada di drama-drama itu kan? Aku ingin mencobanya, hehe.”

Scene yang… ah, aku tahu. Yang dua orang di sisi pintu yang berbeda, benar?”

“Hmm.” ia duduk di lantai putih yang dingin, di sebelah rak berisi sepatu-sepatunya. Tangannya menggenggam sebuah pena dan notebook kecil, lalu ia menyobek satu halaman kemudian mulai menulis.

“Jadi, kau mau begini sampai kapan?” tanya si orang di balik pintu. Gadis itu tak menjawab, ia hanya menyelipkan kertasnya di sela-sela bawah pintu perlahan.

“Hei, aku… eh, tunggu, apa ini? Kau mengajakku main surat-suratan?”

“Sudahlah, jawab saja.” ia mengetukkan telunjuknya ke pintu. “Bawa pena?”

“Ada, tapi tidak ada kertas.” dan kertas itu kembali diselipkan lewat sela pintu. Di sekitar sini sedang tidak ada orang, begitu saja isinya.

“Baguslah… sebentar,” lalu si gadis merobek lagi selembar kertas. Mengulangi kegiatan yang sama.

“Mungkin akan lebih baik kalau aku bisa mengatakan sesuatu yang romantis dalam keadaan seperti ini… sayangnya di luar tadi tidak tampak bintang satu pun.”

“Tidak perlu kok.”

“Benar?”

“Iyaaaaaaa~ jangan lama-lama menjawabnya, ini bukan ujian!”

“Sabar sedikit…” sendirian. coret. diantar, sih. Sudah makan, kok.

“Dingin?”

“Iya, makanya, kapan aku boleh masuk?”

“Sebentar, satu lagi…”

“Apa— ya ampun! Ini? Aku harus menjawab yang ini baru boleh masuk?”

“Jawab, atau kau tidak boleh masuk…”

“Dasar anak aneh.”

“Sudah tahu aku aneh, masih saja nekat ke sini. Besok kalau kau kusuruh lompat dari atap gedung baru boleh masuk bagaimana?”

“Tergantung atap gedung apa dulu, kalau cuma dari Lego sih tidak apa-apa.”

“…”

“Aku rasa jawabanku memalukan, ralat, memalukan sekali, aaaaah boleh aku minta kertas ganti?”

“Tidak ada, satu kertas satu jawaban, tidak boleh ganti… bayangkan saja ini sedang ujian, masa’ kau mau minta kertas ganti kalau kertas jawabanmu robek?”

“Tadi kau bilang ini bukan ujian!”

“Ya memang bukan.”

Aish, ya sudahlah, ini.”

Gadis itu mengambil kertas yang diselipkan di bawah pintu, membaca sekilas isinya, lalu bangkit berdiri dan membuka pintunya. “Masuklah. Dan terima kasih untuk pengakuannya.” ia menunjukkan kertas yang dijepit di antara jari tengah dan jari telunjuknya. Lelaki di depannya nyengir kecil, menurunkan tangan gadis itu kemudian mendorongnya masuk.

“Aku malu, tidak usah dibaca.”

“Tapi kau jujur, kan?”

“Menurutmu?”

Karena… ah, karena apa? Memangnya harus ada penyebab kalau menyukai orang lain? Setahuku tidak.
Tapi daripada aku tidak boleh masuk, ya sudahlah. Begini saja.
Kau berbeda karena kau tidak perlu berdandan macam-macam untuk menarik perhatianku.
Kau berbeda karena kau bisa masak… hehe. Bercanda. Tapi itu juga termasuk, sih 😛
Karena aku suka yang manis-manis?
Dan mungkin juga karena takdir?
Lalu, hmm, aaaaah aku tidak tahu lagi-_-

Gadis itu membaca kertasnya sekali lagi saat lelaki di sebelahnya tidak melihat. Senyum kecil terbentuk di wajahnya, kemudian ia menyelipkan kertas itu di balik case ponselnya diam-diam.

Satu pengakuan yang menyenangkan untuk dibaca ulang.

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] 고백 (Confession)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s