[One-Shot] The Life, Continued

Title: The Life, Continued
Genre: comedy, fluff, bit-of-suspense, twist
Rating: PG-13
Character: .-.v

sequel of Hello, You~ by KimRae :3

‘Lee Taemin imnida. Senang bertemu denganmu lagi, Lee Sungra.’

Aku masih tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang seaneh dia di dunia ini? Iya, makhluk aneh yang mengaku bernama Lee Taemin itu. Yang kukenal -juga secara aneh- di halte tadi. Yang mengatakan kalau ia mulai menyukaiku sejak insiden warung ramen itu. Ne, me-nyu-ka-i. Mata kalian tidak salah, aku rasa justru otak namja itu yang salah. Apa dia sudah gila sampai bisa berkata seperti itu ke orang yang baru sekali ditemuinya?

Eh, berarti, aku juga aneh karena mau-maunya diajak pulang bersama orang yang baru kukenal, ya? Tapi yang tadi itu kan keadaan darurat, daripada aku tidak pulang-pulang?

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal tanpa sadar sambil merebahkan badan di kasur. Kejadian-kejadian di hari ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku kecapekan. Terutama kejadian di halte tadi. Sudah was-was setengah mati, masih pakai acara dikagetkan segala. Kasihan sekali jantungku hari ini…

Intro Moves Like Jagger yang kujadikan ringtone ponsel tiba-tiba terdengar. Hanya intro, agar pendek. Malas-malasan tanganku meraih benda hitam dengan layar lebar itu di sebelah bantal. Ah, ada pesan masuk… tapi kenapa dari nomor tak dikenal? Mungkin dari salah satu anak yang satu divisi denganku di kepanitiaan yang memang tidak semuanya aku kenal saking banyaknya.

Tanganku bergerak cepat memasukkan 4 digit passcode yang sudah kuhafal luar kepala. Secara otomatis, menu perpesanan langsung terbuka dan…

<Unknown Number>
Hei, ini aku, Lee Taemin ^^
Simpan nomorku ya, arra?

MWOYA?! Dari mana makhluk itu dapat nomor ponselku? Tidak-tidak-tidak! Ini pasti cuma mimpi buruk!

Tiba-tiba sesuatu kembali terlintas di benakku. Bagai mendapat suntikan pencerahan dan dorongan mental, aku menekan tombol Home, masuk ke menu log panggilan. Ada satu nomor yang asing-tapi-tidak-asing di urutan paling atas. Waktu panggilan: 18.56.

Sial.

—–

“Sungra-ah, pagi~”

Aku mendongakkan kepala dari layar laptop dan window Adobe Illustrator yang terbuka. Jangmi sudah berdiri di depanku dengan senyum selamat-pagi-dunia-nya yang biasa, cerah sekali. Aku membalas senyumnya. “Pagi juga, Jangmi-ah~” sapaku.

“Jadi bagaimana? Kau kemarin sampai rumah dengan selamat, kan?” pertanyaan Jangmi langsung membuatku teringat dengan kejadian di halte. Aish.

“Tentu saja, kau pikir aku anak kecil?” aku rasa senyumku sudah berubah jadi senyum masam saat menjawab pertanyaan Jangmi barusan.

“Kan kau memang sering ceroboh~” selorohnya. Kucubit pinggangnya keras hingga teriakannya melengking. Salah sendiri.

—–

Aku berjalan cepat di antara banyak orang di sekitar gerbang sambil sesekali membalas sapaan anak-anak angkatanku dan beberapa kakak kelas. Tanganku yang sudah kerepotan karena membawa setumpuk kertas jadi semakin kerepotan saat ponselku berbunyi. Pesan dari unknown number, paling-paling namja aneh itu lagi, begitu pikirku mengingat nomor ponselnya yang memang belum kusimpan karena faktor malas.

<Unknown Number>
Sudah keluar, kan?
Pulang bareng?

Dan kejutan ganda saat melihat ada kepala berambut jamur warna kuning pirang di balik gerbang sekolah. Aku langsung melipir ke sisi gerbang satunya, berharap orang itu tidak akan sadar kalau aku keluar.

Yak, jangan menimbulkan gerak-gerik yang mencurigakan…

“Sungra-ah?”

Hanya halusinasi… hanya halusinasi…

Tapi sebanyak apapun aku mensugesti diri sendiri, tetap saja tepukan di pundakku yang barusan itu nyata. Aku menghela napas dan terpaksa berbalik. Benar saja, si rambut-jamur-pirang sudah berdiri di belakangku, lengkap dengan senyumnya, seperti kemarin.

“Ayo pulang.” ajaknya sambil memegang sebelah tanganku yang -refleks- langsung kulepaskan lagi darinya.

“Eeeeh, itu, aku masih ada rapat…” aku menolak -secara halus. Tapi memang benar kalau setelah ini aku masih harus rapat, yah, setidaknya itu kan bisa kujadikan alasan tanpa perlu berbohong padanya.

“Lalu kenapa kau sudah keluar?” selidiknya.

“Mau fotokopi.” kutunjukkan tumpukan kertas di tanganku. Lagipula aku juga tidak bawa tas seperti lazimnya orang yang akan pulang. Ia membulatkan mulutnya tanda mengerti, lalu kembali menatapku. “Kutunggu sampai rapatmu selesai, bagaimana?”

Orang ini memang sudah gila rupanya. Mau menunggu berapa jam dia?

“Kau serius? Pulang saja, rapatnya kan lama.” kataku, mulai risih karena banyak yang melihat ke arah kami. Namja ini benar-benar menarik perhatian, sial. Ditambah lagi ia memakai seragam-tidak-baik-baik-nya yang itu. Mencurigakan, kan, jadinya?

Ia menggeleng. “Tidak apa-apa. Pokoknya jangan pulang duluan, oke?’

Terpaksa aku mengangguk sebelum berlalu ke tempat fotokopian. Dia tak mungkin serius dan benar-benar menunggu, kan? Kalau aku jadi dia, aku pasti akan berpikir seribu kali lebih dulu.

Selesai dengan urusan fotokopi, saat aku kembali ke gerbang, dia masih ada di sana. Lagi-lagi ia tersenyum ke arahku saat aku lewat. Aku? Berjalan tanpa menarik otot wajahku sama sekali. Biar saja.

—–

Pulang sore lagi… aku rasa aku memang harus membiasakan diri dengan rutinitas pulang terlambatku yang baru ini, mau tidak mau.

Kami –aku, Jangmi, dan Nara– berjalan keluar gedung sekolah sambil mengobrol, menuju gerbang. Kami bertiga sama-sama ikut kepanitiaan dengan divisi yang sama pula, jadi tidak heran kalau akhir-akhir ini kami sering dapat jatah jam pulang yang sama. Sama-sama di bawah pukul 5 sore.

Kami hampir mencapai gerbang dan mendadak aku teringat Taemin yang -katanya- menunggu sampai rapat selesai. Tapi tidak mungkin ia masih ada di tempatnya tadi, rapat barusan menghabiskan waktu hampir 2 jam dan aku 99,99% yakin dia tidak akan tahan menunggu sampai selama itu.

“Beli minuman, yuk!” ajak Nara. Aku mengangguk mengiyakan, hitung-hitung sekalian menunggu Paman Cha datang. Ah iya, lebih baik aku minta jemput sekarang…

Kami sampai di gerbang saat aku hampir mengirim pesan ke Paman Cha. Tapi, tepat saat itu juga aku melihat seseorang yang duduk di sebelah kanan gerbang sekolah, bersandar di dinding dengan jaket yang menutupi sebagian tubuh bagian atas termasuk wajahnya. Sedikit rambutnya terlihat. Pirang? Aku mulai merasa ada yang ganjil di sini. Ditambah lagi, sepertinya aku mengenal pakaian yang dipakai orang itu, kemeja putih seragam sekolah yang agak kotor dan dijahit tidak rapi di beberapa bagian, serta celana yang agak sedikit berlubang di bagian lutut. Tunggu, tunggu, jangan-jangan… tapi masa’, sih?

“Ng, kalian duluan saja, aku… ada barangku yang tertinggal di dalam, hehe.” aku meringis. Nara dan Jangmi mengangguk sambil melambaikan tangan, lalu kembali melanjutkan berjalan ke minimarket.

Setelah memastikan mereka berdua sudah cukup jauh, aku mendekati orang itu, lalu perlahan menarik jaket yang menutupi badannya. Dugaanku benar. Ia –Taemin, maksudku– tertidur dengan kepala ditumpukan di atas lutut. Rupanya ia benar-benar serius soal akan menungguku sampai selesai rapat. Dasar orang aneh.

“Hei, bangunlah…” kuguncangkan bahunya perlahan. Ia menggeliat, membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali sambil menatapku dengan pandangan kosong. Sepertinya ia masih berada dalam stage pengumpulan nyawa, belum sepenuhnya sadar.

“Sudah selesai?” tanyanya sambil menguap. Aku hanya mengangguk sambil memberikan jaketnya yang tadi kutarik. Ia berdiri, meregangkan tubuhnya sedikit, lalu menatapku lagi. “Pulang?” tawarnya kemudian sambil mengulurkan tangannya ke depan wajahku.

Mulutku sudah setengah terbuka dan kata-kata penolakan sudah ada di ujung lidah, tapi aku merasa tidak enak hati karena sudah membuatnya menunggu hingga ketiduran begitu. Masa’ setelah itu aku dengan jahatnya pulang sendiri? Tidak tahu terima kasih.

“Ayo.” ajakku akhirnya tanpa menghiraukan tangannya. Ia tersenyum lebar dan langsung menarikku agar mengikutinya.

“Ya!” dan tangannya yang menarikku itu langsung jadi korban pukulan. Siapa suruh seenaknya menarik-narik tangan orang? Bodoh.

“Eii~” ia memegang pergelangan tanganku lagi. “Mulai sekarang biasakan saja seperti ini…”

Biasakan? Biasakan dari mananya?! Aku melepaskan tanganku dari genggamannya, kali ini langsung menyilangkannya di depan dada agar ia tidak bisa menariknya semaunya lagi. Kupercepat langkahku sekaligus berjalan mendahuluinya, tapi ia menyusulku dan aku kembali menambah kecepatan. Terus begitu hingga langkahku yang awalnya panjang-panjang berubah menjadi pendek dan nafasku mulai tak teratur. Ia terkekeh saja saat melihatku yang berusaha setengah mati agar bisa menjauh darinya. Tuhan, kenapa Kau membuatku bertemu dengan orang seperti ini?

Pada akhirnya, kakiku kembali ke ritme naturalnya. Tidak ada gunanya berusaha melarikan diri dari orang ini, dari segi morfologi kaki saja sudah berbeda jauh. Aku yang kalah telak.

Kami diam selama 5 menit pertama berjalan. Setelah itu, ia seperti mencari-cari sesuatu di saku jaketnya –yang ternyata adalah sebuah earphone. Setelah itu ia kembali mencari sesuatu di saku celananya, kali ini sebuah iPod Nano warna biru mengkilat. Ah, tidak penting. Kembali kuarahkan pandanganku ke arah lain, mencari sesuatu yang mungkin bisa kujadikan objek pengamatan. Hmm, kucing kecil yang sedang tiduran di trotoar seberang sana itu boleh juga sepertinya.

Seseorang memasangkan sesuatu di telinga kiriku dan  refleks aku langsung menoleh. Wajah Taemin yang tiba-tiba saja sudah berada di depanku sekali lagi sukses membuatku terkena serangan jantung mendadak, juga sukses membuatnya mendapat serangan-dorong-muka-dengan-telunjuk lagi.

“Kau ini kenapa? Aku hanya memasangkan earphone, tidak macam-macam!”

“Kau itu yang kenapa!” marahku balik. Bagaimana bisa santai kalau begini ceritanya? Bisa-bisa tekanan darahku naik tanpa ampun jika berada di dekatnya terus-menerus!

“Sikapmu itu seperti sedang berinteraksi dengan orang asing!” ia mendorong dahiku dengan telunjuk keras-keras.

“Ya karena kau memang orang asing!”

“Kita kan sudah berkenalan, itu bukan orang asing lagi!”

“Sudah tahu nama tidak lantas mengubahmu jadi bukan orang asing!”

“Meski aku sudah bilang kalau aku menyukaimu?”

Aku mengalihkan tatapanku ke arah lain, meminimalisasi kemungkinan salah tingkah yang sangat besar. “Kita hanya kenal sebatas nama saja, kan? Tidak lebih. Dan aku menganggap yang seperti itu masih orang asing.”

Ia menatapku. “Kalau kita mulai dari awal sekali bagaimana?”

“Kalau begitu, aku lebih memilih untuk tidak pernah kenal denganmu.”

“Eii, tidak boleh! Kau tidak boleh menyalahi takdir! Nanti Tuhan marah, lho!”

“Berarti takdirku buruk dong? Wah, terima kasih sudah mengingatkanku, aku akan banyak berdoa agar jauh dari takdir buruk sepertimu,”

“Mungkin takdir burukmu bisa dinetralkan dengan takdir baikku karena bertemu denganmu, bagaimana menurutmu?”

“Aku rasa kadar takdir burukku terlalu berat, yaaaah meski siapapun yang bertemu denganku itu bisa digolongkan sebagai orang yang amat-sangat-beruntung-sekali~”

“Bertemu denganku juga nasib baik, kok.”

“Dari mananya?”

“Kalau kau kemarin tidak bertemu denganku, mungkin sampai jam 9 malam kau masih menunggu di halte, sendirian~”

Aku diam saja, tidak tertarik untuk melanjutkan perdebatan tak penting itu maupun mengiyakan kata-katanya yang memang benar.

“Tapi kau mau kan memulai dari awal denganku?”

Ini lagi. Aku sedang tidak ingin membicarakannya, dia tidak lihat apa ekspresi wajahku yang langsung keberatan begitu ia mengatakan hal itu?

“Sungra-ah?”

“Siapa yang mengizinkanmu memanggil seperti itu?!”

“Memangnya tidak boleh?”

“Kau orang asing! Perlu aku eja? O-rang-a–mmmmm!!!” apa-apaan dia ini?! Kenapa pakai acara membekap segala? Aku langsung berusaha melepaskan tangannya dari mulutku, tapi sia-sia saja. Dia namja dan aku yeoja, yah mau bagaimanapun juga tenagaku tetap saja kalah darinya.

“Ya sudah, ayo berteman~” katanya tanpa melepas tangan dari mulutku.

Hei, kalau seperti ini susah bernapasnya, tahu.

“Bilang ‘Ya’ dulu baru aku lepaskan tanganku~” bodoh, mana bisa aku menjawab kalau dia tak melepas tangannya dari mulutku?

Terpaksa aku mengangguk setuju dengan tidak ikhlas. Ia langsung melepaskan bekapannya dan tersenyum lebar, dari ekspresi wajahnya terlihat sekali kalau dia sangat puas. Menyebalkan.

“Mulai hari ini kita teman, oke, Sungra-ah?” ia menyodorkan kelingkingnya tangan kanannya ke depan wajahku.

“Ya! Memangnya—“

“Kita teman, kan? Kurasa tidak masalah kalau aku memanggilmu ‘Sungra-ah’…” kilahnya sambil mengaitkan paksa kelingking tangan kananku dengan miliknya sendiri. Ya ampun, pemaksa sekali. Dan kelewat percaya diri. Aku menyesal sudah mengangguk tadi, coba kalau aku menggigit tangannya, pasti ceritanya sudah berbeda, begitu pikirku sambil mengeluarkan ponselku dari saku. Paman Cha belum tahu kalau aku sudah pulang sendiri, jadi lebih baik bilang sekarang saja.

“Kau belum menyimpan nomorku, ya?” sesuatu yang berat tahu-tahu sudah berada di atas kepalaku, dan puncak kepalaku terasa sakit karena ada sesuatu yang keras dan tajam yang menekan di atas sana. Pasti kepala dan dagu anak aneh ini.

“Memang belum. Lagipula akan kusimpan dengan nama apa?” jawabku asal. Ia lalu mengulurkan tangannya, kali ini ikut menumpukan lengan atasnya di pundakku dan meraih ponselku dari belakang. Posisinya! Posisinya! Ini namanya setengah memeluk!

“Begini?” tanyanya. Aku kelewat kaget dan gugup sampai tidak bisa bicara, hanya mengangguk pelan tanpa melihat apa yang ada di layar. Cepat mengiyakan berarti cepat kembali ke posisi ‘normal’, kan? Dan itu yang aku butuhkan sekarang.

Ia mengembalikan ponselku sebelum akhirnya menurunkan tangannya dari pundakku. “Sungra-ah, kau kenapa? Sakit? Wajahmu merah…” tanyanya. Tidak peka. Tindakannya yang barusan itu dia sadar tidak sih? Aish… predikat berbahaya memang masih pantas disandangkan padanya.

Tiba-tiba ia menempelkan punggung tangannya di dahiku. “Tidak panas. Apa karena terbakar matahari?”

Aku mendengus dan kembali melanjutkan berjalan pulang. Capek.

—–

Sebenarnya aku sudah sampai di rumah sejak 5 menit yang lalu, tapi sampai detik ini aku masih berada di depan rumah, belum juga masuk ke dalam. Penyebabnya? Tentu saja karena Lee Taemin yang mengajakku ‘mengobrol’. Dalam tanda kutip karena tidak sepenuhnya begitu. Pada awalnya memang mengobrol, tapi entah sejak kapan sudah berubah jadi arena debat. Mosi hari ini adalah soal perlu atau tidaknya Taemin mengajakku pulang bareng tiap hari. Tim affirmative ada di pihak Taemin sedangkan opposition ada di pihakku, tanpa adjudicator dan tanpa perlu melakukan case building. Namanya juga debat kusir.

Cara agar kau menang debat sebenarnya hanya satu: argumen yang bagus. Aku sudah berusaha untuk mengeluarkan argumen yang sempurna, tapi sepertinya Taemin selalu menemukan celah di antara argumenku dan berhasil melakukan rebuttal dengan baik. Kalau begini caranya, sebentar lagi pasti ia sudah di atas angin.

“Aku pulang sore terus, kau mau menungguku sampai ketiduran di depan gerbang sekolahku tiap hari?” kusuarakan argumenku yang berikutnya. Ia hanya mengangguk dengan senyum lebar tanda ia benar-benar setuju. Kenapa susah sekaliiii?!

“Serius? Kalau aku jadi kau sih aku tidak akan mau, lebih baik langsung pulang~”

“Ya kan tidak setiap hari kau pulang sore, benar tidak?” tuh, kan, dia bisa menjawab lagi. “Sekarang coba katakan padaku hari apa saja kau tidak pulang sore.”

“Ng… tidak ada.”

“Bohong.”

“Ya kalau memang tidak ada bagaimana? Aku kan sudah bilang kalau aku pulang sore terus, masih tidak percaya?”

“Ya tidak percaya karena kau bohong~ jadi, hari apa saja?”

Aku memutar bola mataku malas, terpaksa merunut ulang ke jadwal harianku. Butuh waktu agak lama untuk mengumpulkan semuanya saking buruknya ingkatan jangka pendekku. “Senin, kalau tidak ada praktikum. Selasa ada tambahan pelajaran, Rabu klub bahasa, Kamis… ah, Kamis kosong. Jumat ada klub debat. Sabtu libur. Sudah.”

“Kalau begitu aku akan datang tiap hari Senin, Kamis, lalu Rabu, dan Jumat, dan Selasa, hehe.”

“Itu namanya tiap hari! Tidak usah!” ia malah tertawa melihatku yang marah padanya. Lucu, sih, tapi kan aku sedang marah sekarang -_-

“Setiap Senin, Selasa, Jumat, Rabu, Kamis?”

Apa bedanya?

Aku menghela napas dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Taemin-ssi.” kataku. “Kalau kau mau mendekati seorang yeoja, bukan begini caranya!”

“Lalu bagaimana? Aku kan tidak tahu. Kau yeoja pertama yang kusukai jadi aku tidak ada pengalaman sama sekali.” ya ampun, bisa-bisanya ia berkata seperti itu dengan intonasi biasa dan wajah polos. Sulit dipercaya kalau masih ada namja seperti dia di dunia ini.

“Kau mau aku mendekatimu dengan cara seperti apa? Masa’ aku harus bertingkah seperti yeojayeoja yang rajin memberiku hadiah di sekolah, begitu?” lanjutnya. Eh? Kalau begitu berarti dia populer, dong?

“Mana aku tahu, kan kau yang… yang… eh, yang melakukannya. Harusnya kau sudah tahu mau melakukan apa.” kataku. “Dan lagi, kenapa harus aku? Kenapa tidak dengan salah satu yeoja fans-mu di sekolah?”

Ia memasang wajah bingung. “Aku tidak tertarik dengan mereka… ng, kalau begitu, sementara ini aku pakai cara pulang bareng denganmu saja. Siapa tahu nanti aku bisa menemukan cara lain…”

Aku sedang tidak berminat membalas kata-katanya, jadi mungkin lebih baik diam saja sambil menunggu kelanjutan kata-katanya. Jujur, kelakuan dan tindakan namja ini benar-benar sulit ditebak. Aku jadi penasaran dengan apa yang akan diucapkannya setelah ini, sepertinya sesuatu yang serius, terlihat dari caranya berpikir yang sampai mengerutkan kening seperti itu.

“Atau begini, beri tahu aku soal apa saja yang kau sukai~” sulit ditebak, kan?

“Kapan-kapan saja, ya?”

“Sekaraaaaaaaang~”

“Kapan-kapan! Ini sudah sore, kau pulang saja sana! Nanti dicari orang tuamu!”

“Aku pulang kalau kau mau berjanji akan membalas SMS-ku nanti.” katanya. Syarat yang aneh .____. tapi tetap saja aku malas memenuhinya -3-

“Pokoknya pulang.” aku mendorong bahunya menjauh, dan badannya tidak bergeming. “Janji dulu~” rajuknya. Kenapa menyusahkan sekaliiii?!

“Iya, janji deh janji…” lebih baik begitu daripada dia di sini lama-lama. Sudah terlalu lama kami berdebat tidak jelas di depan rumahku, tak kunjung selesai sih-_-“

Taemin mengulurkan kelingkingnya ke depan wajahku, semacam isyarat yang gampang sekali dimengerti. “Awas kalau tidak dibalas, nanti kuteror semalaman sampai kau tidak bisa tidur!” ancamnya. Bahaya. Dia sakit jiwa kalau begini ceritanya. Psycho.

“I-ya! Pulang!”

Dan ia berbalik lalu berjalan meninggalkanku, setelah sebelumnya melambaikan tangannya sekilas ke arahku. Memangnya rumahnya di mana sih kok dia bisa dengan tenangnya pulang denganku setiap hari? Tidak merasa repot karena harus berbalik arah-kah? Atau jangan-jangan ia masih satu perumahan denganku? Tapi kok aku tidak pernah mendengar tentangnya selama ini?

Ah, sudahlah. Yang penting selesai satu masalah~

—–

Some Days Later

“Taemin mana?” gerutuku pelan sambil melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kiriku sesekali. Menurut SMSnya saat aku keluar tadi, ia sudah di jalan, dan aku tahu persis kalau butuh waktu sekitar 15 menit jalan kaki dari sekolahnya ke sekolahku. Dan ini… sudah lebih dari 30 menit! Lamanyaaaaaaaaaaaaa~

Aku mengerucutkan bibir tanpa sadar. Ini sudah hampir jam 6, langit mulai gelap dan aku capek. Tidak mungkin mengharapkan Paman Cha yang hari ini tidak masuk untuk menjemputku. Baiklah, pulang sendiri saja, toh aku juga sudah tahu jalannya kok sekarang.

Perlahan kuhela napas dan bersiap melangkah keluar gerbang, tidak lupa sambil memasang earphone ke telinga dan membiarkan lagu-lagu di iPod-ku terputar secara acak. Jam segini jalanan memang belum sepi, tapi seingatku ada satu jalan di rute yang biasa kulewati dengan Taemin yang agak sepi dan… jujur, aku tidak suka suasananya. Jalan itu sendiri sekarang sudah berada di depanku, dan sesuai perkiraanku, sangat lengang. Aku benci kalau harus berjalan sendirian begini, tapi mau bagaimana lagi? Aku juga hanya tahu rute yang ini.

Aku mencoba mengumpul-ngumpulkan keberanianku lalu mulai melangkah dengan memasang wajah datar dan sikap tak acuh. Yak, ayo!

TAP, TAP, TAP, TAP, TAP…

Tunggu, suara langkah kaki? Siapa? Kupercepat langkahku. Suara itu juga terdengar makin cepat. Ya Tuhan, tidak ada orang di sekitar sini! Bagaimana kalau itu orang jahat? Siapa yang bisa kumintai bantuan? Eotteokhaeyo?

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu mengenal Lee Taemin, aku berharap ia sedang bersamaku sekarang. Kalau kutelepon kira-kira dia akan segera datang tidak ya? Coba dulu saja.

Dengan tangan yang gemetar dan memegang ponsel, aku memberanikan diri melihat ke belakang, menilik siapa gerangan pemilik suara langkah itu. Tidak. Oh-ti-dak. Seseorang yang tidak teridentifikasi karena wajahnya tertutup hoodie warna gelap berdiri di belakangku dengan jarak beberapa meter saja. Hanya segaris seringaian yang tampak di sana, dan seringaian itu membuatku merinding. Orang ini sangat mencurigakan. Seribu persen aku yakin dari ciri-cirinya, dia ini maniak. Kakiku yang seharusnya langsung berlari jadi seperti disemen ke tanah, ditambah lututku yang lemas. Tidak bisa digerakkan sama sekali. Sialnya lagi, ponsel Taemin tidak bisa dihubungi! Eommaaaaaaaa!

Aku berusaha mengingat-ingat lagi gerakan taekwondo dasar yang pernah kupelajari dulu. Sia-sia saja karena sama sekali tidak ada yang berhasil terputar di benakku. Sudahlah! Pukul dan tendang secara asal saja sampai dia babak belur!

Orang mencurigakan itu kembali mendekat. Nyaliku menciut lagi, sial. Ada yang bisa dilempar? Tas, mungkin?

“Ya! Menjauh darinya!”

Aku mengangkat wajahku. Pertolongan-kah? Atau malah sesuatu yang lebih buruk? Tuhan, kuharap Kau masih berbaik hati untuk membiarkanku selamat!

BRUK! Tiba-tiba saja orang aneh di depanku jatuh seperti ada yang menendang kakinya. Tampak jelas di bawah lampu jalan yang tidak terlalu terang, ada kepala seseorang dengan rambut jamur warna kuning pirang.

Dan aku tidak pernah merasa selega ini sebelumnya! Rasa lega yang membuatmu langsung lemas sampai jatuh terduduk di semen trotoar yang dingin dan kasar, hanya bisa diam dan berbicara dalam hati.

Taemin kembali menendang tungkai si orang aneh yang sudah berdiri lagi. Dari suaranya, aku tahu kalau tendangan itu lumayan keras dan sepertinya berefek cukup buruk. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul, rambut kuningnya itu terkibas seiring gerakannya. Oke, aku tahu itu berlebihan, tapi setidaknya sekarang aku tahu dari mana tambalan-tambalan di seragamnya berasal.

Setelah beberapa pukulan, si orang aneh sudah tersungkur di sana, entah tidak sadarkan diri atau masih sadar tapi tidak mampu berdiri lagi. Taemin tak menghiraukannya dan menghampiriku yang terduduk di trotoar, lalu ia sendiri berjongkok di depanku. Matanya masih terlihat sangat-penuh-oleh-emosi-sekali, dan terus terang… aku takut melihatnya. Takut. Takut. Lebih baik aku menghindari tatapannya dulu…

Babo!” teriaknya di depan wajahku. “Jangan asal pulang sendirian! Kau tahu kan jalan ini rawan?! Untung saja aku langsung lari menyusulmu ke sini, kalau tidak bagaimana? Kenapa tidak menungguku datang?!”

Apa-apaan ini? Bukannya menenangkanku yang masih shock, dia malah marah-marah begitu! “Salahmu juga! Lama sekali, kau pikir aku punya waktu setahun untuk menunggumu datang? Waktuku itu berharga sekali! Mana kau tidak bisa dihubungi, pula! Lebih baik aku pulang sendiri!” jangan salahkan aku kalau aku meledak, dialah yang menyiramkan minyak ke api. Ia tampak mengatur napasnya, mungkin sekaligus mengontrol emosinya, dan kemarahan di matanya mulai mereda.

“Maaf…” gumamnya pelan, menyandarkan kepalanya di bahuku sambil menepuk-nepuk kepalaku beberapa kali. “Aku yang salah. Maaf. Tapi jangan marah padaku, tolong.” pintanya, kali ini sambil menegakkan kepala dan mencengkeram erat kedua bahuku dengan tangannya. Aku diam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tahu bagaimana rasanya di tenggorokanmu saat kau haus lalu minum segelas air putih dingin? Kemarahanku terkena efek seperti itu, langsung menghilang saat ia meminta maaf.

Mataku tiba-tiba menangkap sedikit noda darah di ujung bibirnya. Aku langsung mengambil sebungkus tisu dari kantong ranselku, berniat membersihkannya tapi tidak jadi. Malu. Sebagai gantinya, tisu itu kuberikan padanya sambil menunjuk ke area bibir sebagai isyarat.

“Eh? Wah, pantas terasa perih, hehe.” ia menekan luka di ujung bibirnya dengan tisu, berkas-berkas warna merah langsung berbekas di tisu itu.

“Sakit, ya? Gara-gara aku…”

“Tidak apa-apa kok. Yang seperti ini sih sudah biasa.” ia terkekeh pelan, lalu menarikku hingga berdiri. “Ayo pulang, katamu kau mau cepat sampai rumah?”

—–

Kami berjalan dalam diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan karena memang biasanya dia yang aktif mengajakku bicara, bukan sebaliknya. Dan kalau sudah begini aku jadi bingung akan memulai pembicaraan dari mana.

“Hei.” panggilnya tiba-tiba. Aku menoleh cepat, “Kenapa?”

“Kau tidak mau kejadian tadi terulang, kan?” tanyanya. Aku menggeleng. Cukup sekali seumur hidup! Tidak mau lagi!

“Makanya, jadi pacarku saja. Kan aku bisa punya alasan lebih untuk pergi bersamamu. Kalau yang seperti tadi kan kau tidak seharusnya marah karena aku datang terlambat. Kau bukan siapa-siapaku, kan? Nah, kalau kau jadi pacarku baru boleh marah~”

“Jadi kau terlambat gara-gara itu? Aish, tega!”

“Biar aku datang lebih cepat ya kau jadi pacarku saja, deh. Ide bagus, lho. Dan tidak ada ruginya, hehehehe…” ia nyengir lebar. Menyebalkan.

“Aku hanya mau marah saja, tidak mau jadi pacarmu.”

“Ya kalau begitu tetap saja kau jadi pacarku~”

“Bagaimana bisa? -_-“

“Kalau kau marah berarti sudah ada hak marah padaku. Padahal aku hanya memberi hak memarahiku ke orang-orang tertentu, termasuk yeojachinguku~”

Kudiamkan saja dia, membiarkannya sibuk dengan teori-teorinya. Tangannya masih menggenggam tanganku yang tidak bereaksi apa-apa. Tidak balas menggenggam dan sebagainya.

“Jadi, mau?” tanyanya lagi. Aku mengangkat bahu dengan ekspresi main-main sebelum kemudian menatapnya dengan tatapan meledek.

“Aku rasa punya pacar merangkap bodyguard bukan ide yang buruk. Asal bukan berandalan saja.”

Taemin melebarkan senyumnya. “Memang bukan.” dan tawanya kemudian terdengar. Terlalu tidak sebanding dengan seragam-tidak-baik-baik-nya itu, tapi ya sudahlah. He is what he is. Biar saja penampilannya seperti itu.

Pada akhirnya, tanganku menyambut ajakan tangannya, sejak saat itu. Dan sepertinya Paman Cha akan mulai sering absen menjemputku setelah ini.

Advertisements

4 thoughts on “[One-Shot] The Life, Continued”

  1. eyaaaaaaaaaaaaaaaaaa yang jadian sama badigaaaat *eh 😄
    emang pedekate sama kamu perlu ekstrim kali yah makanya dia nekat ngedeketin gitu :7
    onnie gak suka preman, tapi kalo ada yang ngelindungin gitu ya setiap hari aja premannya dateng *mampus *salahmau *kasianpacarkunanti
    oia, ada koreksi, kalimat ini –> “…masih pakai acara dikagetkan segala, pula.” nah kayaknya ilangin salah satu, antara ‘segala’ sama ‘pula’ bakal unyu(?) bacanya :3
    eniwei, saya suka ini 😄
    kisah maniak saya mana yaaaah~~? *eh
    *menghilang*

    1. ng…
      ya? hoooo, iya kali yaaaaaaaaaaaa~ mungkin :3
      ini mau nyiksa apa gimana sih? kasian -________-a
      okeeeeeeeeeeeeee, segera diediiiiiiiit :3 😄 hehehehehehe~
      gomawoooooo~ :3
      bikin giiiiiiiiiiih~ ya serah sih si gyu mau dibikin ketemuan lagi sama rae apa gak, gausah aja *eh

      1. iyaa~ jadi harus pake baju nggak-baik-baik dulu kali yah *eh?
        makanya gajadi, kasian :’
        hooooo~~~keeeeeyyy~~~ *pengen nyebut key doang sih 😄
        cheonmaaaaa :3
        gak mau bikin, kapan-kapan aja *loh?

        1. ngapain dia pake baju gak baik-baik? malah bikin males -________-a
          alhamdulillah sabaaaaaaaar :3
          cieeeeeeee keeeeeyyy laporin gyu niiiih~
          lah?-__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s