[One-Shot] Another Nikki and Audrey

Title: Another Nikki and Audrey
Genre: angst, romance, suspense, fantasy
Rating: PG-13
Character:
Lee Taemin – Nikki
Lee Sungra – Audrey
Kim Kibum – Aiden
Cho Kyuhyun – Marcus
Kim Raena – Angel

Teaser – if you wanna read…

Aku tahu aku bukan adik Nefertiti, Mutnodjmet, yang harus menderita saat cintanya ke jenderal utama Kerajaan Mesir Kuno terpaksa kandas karena pengaruh sang kakak dan suaminya –Firaun Akhenaten yang berkuasa. Seharusnya aku bisa mengatasi keadaan ini dengan lebih baik. Aku Audrey, puteri Kerajaan Selatan –dan ayahku bahkan jauh lebih tinggi daripada Ay yang seorang wazir (penasihat kerajaan)! Hanya saja kali ini sosok Akhenaten sekaligus bergabung dengan wazir Ay, dalam rupa ayahku. Dalam hal ini aku rasa posisi Mutnodjmet jadi lebih menyenangkan. Ayahku sangat sulit diberi pengertian dan hampir tidak bisa menerima sesuatu yang tidak biasa. Aku tidak yakin ia akan senang mendengar puterinya dekat dengan seorang jelata. Baginya, aku harus bersanding dengan orang yang sebanding –minimal seorang ksatria jika bukan seorang pangeran. begitu katanya. Tapi aku tahu, Nikki bukan orang jelata biasa. Aku bahkan tidak rela ia disandingkan dengan rakyat jelata, sama seperti Nakhtmin yang bukan jenderal biasa.

Aku tidak yakin ayahku mau tahu soal Nikki. Ia bukan orang sembarangan meski tak punya gelar kerajaan. Meski ia hanya bekerja di perpustakaan kerajaan, menyortir buku, merapikannya dan terkadang menemaniku membaca di sana. Ayahku tidak akan mau repot-repot mendengar soal Nikki yang aku rasa sudah sebanding dengan seorang pangeran dari kerajaan manapun. Mungkin saja kepintarannya melebihi mereka, dan ia punya sisi plus lain: ia bersahaja. Ia tahu rasanya bekerja berat sehingga ia tidak akan menghamburkan uang hasil perasan keringatnya. Ia bisa membela dirinya sendiri –meski aku yakin aku akan langsung tertawa melihatnya memakai baju zirah dan menghunus pedang–, dan ia ramah. Tidak semua orang memiliki semua sifat itu.

Satu lagi, ia berani melamar gadis yang dicintainya tanpa perlu melewati serangkaian perjodohan atau perwakilan kerajaan macam para pangeran pengecut itu. Dan aku sedang bingung karena lingkaran logam perak sederhana yang dari tadi kugenggam erat. Tidak ada ukiran atau mata berlian di lingkaran itu, tapi aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi orang yang memberikannya padaku.

Nikki melamarku tadi siang.

Tapi siapa yang bisa kumintai bantuan untuk menjelaskan semua ini ke ayah? Ibuku tidak akan bisa membantu banyak. Ayah terlalu keras kepala, sifat buruk itu sedikit-banyak menurun padaku. Lilian, salah satu dayangku yang bagaikan Ipu si dayang pribadi Mutny yang setia, sudah terlalu banyak membantu saat aku ingin bertemu Nikki tanpa ketahuan. Sama seperti ibuku, ia juga tidak akan bisa membantu banyak. Mungkin aku bisa minta bantuan ke Aiden, kakakku yang menyebalkan tapi sering menjadi sekutuku saat melawan ayah. Ia pasti bisa membantu meski aku tidak tahu sebenarnya ia setuju atau tidak dengan Nikki. Sikapnya itu terlalu masa bodoh.

Ibu sendiri tahu, dan meski beliau tak pernah berkata apa-apa, aku tahu dari sorot matanya kalau ibu menyetujuinya setiap kali aku bercerita soal Nikki padanya. Aku selalu menangkap sedikit binar kesedihan dari matanya kali itu, mungkin karena orang sebaik Nikki hanya seorang pustakawan biasa, meski aku tak peduli. Ibu juga sedih karena ibu tahu aku tidak akan bisa lari dari kenyataan, ini Eropa dan rakyat biasa tak ‘kan pernah pantas bersanding dengan anggota kerajaan. Ibu selalu menjaga perasaan ayah, ibu tak akan tega mengatakan hal ini ke ayah dan itu salah satu kilatan kenyataan pahit yang selalu kutangkap dari matanya tiap aku berbincang dengannya, yang selalu berusaha ditutupinya. Sayang sekali aku agak sedikit lebih baik dalam menilai sorot tatapan mata seseorang.

Lilian? Aku rasa siapapun bisa menilai dari seringnya ia memberi bantuan padaku untuk bertemu dengan Nikki. Menurutnya kami cocok, hanya sayangnya garis keturunan-lah yang telah menjadi jurang pemisah. Termasuk kekeras-kepalaan ayahku.

Aku menghela napas. Nikki sudah memintaku untuk tidak memikirkannya terlalu berat, tapi mau tidak mau jadinya seperti ini. Mata hitamnya yang lembut terlihat tenang seperti biasanya saat ia berkata ialah yang akan memikirkannya, tentang bagaimana sebaiknya kami bertindak agar bisa mendapat restu dari orang tua kami –dalam hal ini, restu ayahku. Tapi ia sudah melakukan terlalu banyak hal untukku. Aku sudah menjadi masalah tersendiri baginya, yang makin hari makin berat.

“Dree?”

Aku menoleh. Aiden berdiri di depan pintu kamarku, bersandar di kusen yang tingginya satu setengah kali tinggi badan lelaki itu. “Ibu mencarimu. Ayah ingin membicarakan sesuatu. Kau ditunggu di ruang makan.” katanya. Aku menghela napas, bangkit berdiri sambil membenarkan rok gaunku dan diam-diam menyelipkan cincin Nikki ke jari manis tangan kiriku. Tidak akan terlalu terlihat, aku bersyukur Nikki memilih bentuk yang sederhana.

“Aiden! Tunggu aku!”

—–

“Lusa, rombongan dari Kerajaan Tenggara akan datang. Mereka akan mengajukan lamaran ke Audrey.”

Aku berhenti menyendok makanan di piring. Lamaran lagi? Utusan lagi? Sudah entah berapa belas kali aku mendapatkan lamaran dari utusan berbagai kerajaan dan aku selalu menolaknya. Tidak ada yang membuatku terkesan. Lebih-lebih, aku punya Nikki di sebelahku.

Ibu melirik ke arahku, lalu kembali ke ayah. “Apa istana perlu didekorasi ulang?” tanya beliau. Ayah menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang sia-sia dan menghabiskan biaya jika tidak ada hasilnya. Aku sendiri tak yakin Audrey akan menerima lamaran ini.”

Memang tidak. Aku tersenyum samar sambil menunduk dan kembali menyantap makananku. Ibu kembali melirikku, kali ini dengan tatapan khawatir. Usiaku sudah hampir di akhir angka belasan, akan segera tiba waktunya bagiku untuk menikah. Memang sudah tiba waktunya. Keadaanku yang sampai sekarang belum juga menerima lamaran pangeran manapun pasti sudah mengkhawatirkannya.

Tapi aku menerima lamaran Nikki. Sejauh ini tidak ada yang tahu kecuali Lilian. Aku tidak tahu harus memberi tahu siapa dan mulai dari mana, yang pasti tidak sekarang.

—–

“Aiden.” panggilku. Aiden menoleh, mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Wajahnya terlihat jelas di bawah sinar chandelier yang tergantung sepanjang lorong menuju kamar kami masing-masing. Kamarku hanya tinggal berjarak beberapa meter lagi sedangkan kamarnya masih agak jauh.

“Apa?”

“Berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan hal seperti yang dilakukan oleh para pangeran yang mengirim utusan mereka ke sini saat mereka ingin melamarku. Jika kau ingin menikahi seseorang, datangi gadis itu langsung. Tidak ada wanita yang senang diperlakukan seperti aku.”

“Baik. Tapi aku masih tidak habis pikir kenapa kau bisa berkata seperti itu. Sekarang katakan padaku, apa si pustakawan melamarmu?” Aiden meraih tangan kiriku dan jelas ia melihat cincin yang melingkari jari manisku. “Aku tidak percaya dia akhirnya melamarmu. Selamat.”

“Terima kasih.”

“Dan lusa utusan Kerajaan Tenggara akan datang. Kau harusnya masih ingat apa maksud kedatangan mereka.”

“Aku ingat.”

“Dan ini tidak baik, Dree. Kau tidak boleh memakai cincin ini.”

“Kenapa?”

“Karena akan ada yang datang untuk melamarmu lusa dan ayah tidak akan senang!”

“Aku sudah punya Nikki. Seharusnya ayah bisa mengerti itu!”

“Ada sedikit yang kau lewatkan, Audrey. Ayah tidak tahu tentang Nikki, dan hampir mustahil ayah akan mengerti. Tidak akan mau mengerti jika kau tidak berhasil meyakinkannya. Selamat tidur, Dree kecil.” ia mendorongku masuk ke kamar dan menutup pintunya. Langkahnya makin menjauh dan aku hanya bisa berjalan lunglai ke tempat tidur. Nikki dan Audrey, terlalu jauh untuk disatukan. Mungkin. Sejauh ini.

Mendadak aku sadar bahwa aku akan menginterpretasikan Aiden sebagai Nefertiti. Ia akan mengikuti perintah ayah meski sebenarnya ia mendukungku. Sama seperti Nefertiti yang menuruti Akhenaten untuk menyembah Aten, namun ia masih tetap memuja Amun dalam hatinya.

—–

“Ibu.” panggilku. Ibu menoleh dari buku di pangkuannya ke arah pintu, tempatku berdiri sekarang. “Ibu, ini aku, Audrey.”

“Ibu tahu, Audrey. Ada apa?” beliau menutup bukunya, menyuruhku masuk ke ruang bersantai pribadinya itu. Aku duduk di sebelahnya, di atas karpet, dan meletakkan kepala di pangkuannya sambil menghela napas. Ibu sudah tahu bahwa aku ingin menceritakan sesuatu yang sangat mengganggu, jadi beliau hanya diam dan menungguku mulai bicara.

“Ini tentang Nikki.” kataku akhirnya.

“Ada apa dengannya?” ibu bertanya balik. Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangkat tangan kiriku ke atas kepala. “Ibu bisa melihatnya sendiri.” gumamku pelan.

Aku bisa mendengar ibu menarik napas dalam-dalam. “Kapan ia melamarmu?”

“Kemarin siang. Maaf aku tidak langsung memberi tahu ibu…”

Tangannya mengusap pelan rambutku. “Ayahmu…”

“Aku tahu.” dan kali ini mataku memanas. “Ibu tidak bisa menolongku? Ibu sudah tahu kan kalau aku tidak akan menerima lamaran lelaki manapun kecuali Nikki? Ibu tidak bisa membantuku mengatakannya ke Ayah?”

“Akan sangat sulit, Audrey…”

“Ibu, tolong.” aku terisak pelan. “Tolong. Ibu pasti bisa menolongku kan?”

“Ibu tidak bisa berjanji.” bisiknya di telingaku. “Tapi akan ibu coba, asal kau tidak mengacaukan acara besok. Kau harus tetap berada di istana sampai utusan Kerajaan Tenggara kembali. Kau dipersilakan menolaknya, tapi pasang wajah tertarik selama acara. Ibu akan mengatakannya ke ayahmu lusa, atau paling cepat besok malam.”

Aku diam. Besok seharusnya aku pergi ke perpustakaan seperti biasa, tapi tidak untuk minggu ini. Aku harus meminta Lilian menyampaikan ke Nikki kalau aku tidak bisa datang besok. “Baik, ibu.” aku menyetujuinya.

Meski begitu, tetap saja air mataku mengalir tanpa henti.

—–

Utusan Kerajaan Tenggara datang dengan belasan kereta kuda terbaik mereka, terbuat dari kayu ebony mengilap dengan sepuhan warna emas di jeruji roda-rodanya. Dari jendela kamarku yang menghadap ke halaman istana, aku bisa melihat kalau sudah ada beberapa peti yang diturunkan dari kereta, pasti berisi berbagai macam perhiasan. Aku tetap tidak tertarik.

“Putri Audrey?”

Aku menghentikan pengamatanku. Lilian berdiri di depan pintu, senyumnya terlihat jelas. Ia selalu tersenyum dan aku yakin itu akan membuatnya memiliki gurat senyum yang manis saat ia sudah tua nanti. Anaknya juga memiliki senyum yang serupa dengan ibunya, dan terkadang aku iri dengannya yang bisa memilih pasangan sesuai keinginannya, bukan dipilihkan. “Ada apa, Lilian?” tanyaku. Lilian menengok ke belakang sebentar lalu kembali menghadap ke arahku, senyumnya tak juga lepas. “Ada yang mencarimu.”

“Siapa?”

“Aku.” dan tiba-tiba saja Nikki muncul dari balik Lilian. Aku tersenyum lebar, sejenak lupa dengan apa yang kulihat di bawah barusan.

“Jadi, hari ini ada yang melamarmu lagi?” tanyanya. Aku mengangkat bahu. “Sepertinya. Kenapa? Kau cemburu?”

“Untuk apa cemburu kalau kau memakai itu?” ia jelas merujuk ke cincin yang melingkar di jariku. Aku memang tidak menghiraukan nasihat Aiden untuk menyimpannya terlebih dahulu, aku tidak ingin melepasnya.

“Aku capek dengan semua lamaran-lamaran ini.” keluhku. Ia tersenyum. “Sebaiknya kau tidak memakai cincinnya sekarang. Itu agak sedikit menyinggung, kau tahu?” katanya sambil menarik lepas cincin di jari manis tangan kiriku. “Kau punya kalung, kan?”

Aku mengangguk dan mengambil kotak perhiasanku di depan kaca rias. Ia mengamatinya satu persatu dan mengambil salah satu yang terbuat dari perak lalu memasukkannya ke lingkaran cincinku. Ia mengubahnya menjadi kalung agar aku tetap bisa memakainya dengan aman.

“Aku bisa memakainya sendiri.” aku mengambil kalung dari tangannya tapi ia terlalu cepat berkelit. “Kau putri. Kau pantas dilayani, Dree.” ia menyingkirkan rambutku dari leher dan aku membantunya. “Lebih baik aku tidak menjadi putri jika aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan.”

Nikki tertawa pelan dari balik badanku. “Aku tahu kau akan berkata begitu. Nah, selesai. Sekarang kau harus turun.”

“Aku tidak mau.”

“Ayolah, tuan putri egois. Kau sudah kehilangan kesempatanmu untuk pergi ke perpustakaan hari ini dan aku sudah menggantikannya dengan pergi ke sini. Ayo turun.” bujuknya. Ia selalu berhasil membujukku entah bagaimana caranya.

Aku melebarkan senyumanku, memeluknya sekilas lalu bergegas turun ke ruang utama setelah menyuruhnya segera kembali ke perpustakaan. Akan berbahaya jika seseorang melihatnya di sekitar kamarku, kecuali jika Lilian yang melihatnya.

Di ruang utama, tampak ayah, ibu, dan Aiden yang duduk di singgasana sambil meladeni pembicaraan salah satu utusan Kerajaan Tengara. Aku mengangguk perlahan saat namaku disebutkan dan melangkah cepat menuju tempat di sebelah Aiden, duduk dengan segera di sana. Perhatian semua orang langsung terpusat ke arahku dan aku terpaksa melakukan apa yang diperintahkan ibu sebelumnya: berakting seolah aku menikmati acara ini. Padahal sebenarnya pikiranku melayang ke perpustakaan, ke tumpukan buku yang sudah kurencanakan untuk dibaca hari ini, ke Nikki yang sedang bekerja di sana. Aiden terpaksa harus sering menyenggol lenganku pelan saat aku mulai memasang ekspresi bosan, yang sayangnya sangat sering terjadi sepanjang pertemuan ini. Untung ayah tidak melihatnya.

“Kami rasa kami akan memberikan waktu bagi Putri Audrey untuk memikirkan lamaran dari Pangeran Elias.” tutup si utusan. Aku menghela napas, aku tidak perlu waktu untuk memikirkannya lagi, aku sudah memutuskan jawabanku, tapi aku harus berpura-pura memikirkannya demi alasan kesopanan. Ayah menatap ke arahku, ada sedikit harapan di sorot matanya agar aku menerima lamaran yang satu ini. Maaf, ayah, tapi aku sudah tahu jawabanku jauh sebelum si utusan datang. Aku sudah tahu.

Aku mengerjapkan mata lalu membisikkan jawabannya ke Aiden. Selalu begitu cara yang kugunakan setiap ada acara pelamaran seperti ini. Aiden yang sudah mengerti sejak tadi langsung menyampaikannya ke ayah yang seketika berubah ekspresinya. Aku menunduk, diam-diam menggenggam kalungku dan cincin Nikki. Seandainya ayah menaruh harapan sebesar itu agar aku menerima lamaran Nikki, aku pasti akan sangat senang.

“Mohon maaf…” kata ayah, dan raut wajah si utusan ikut berubah. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela istana, memandang ke langit yang terlalu cerah untuk ukuran musim gugur.

Dengan begini, akan semakin kuat julukan ‘Putri Es’ yang melekat padaku. Putri Es yang tidak bisa dicairkan oleh pangeran manapun.

Kecuali Nikki.

Dan Nikki bukan seorang pangeran.

—–

“Bagaimana?” tanya Lilian sambil mengurai rambutku. Aku menggeleng pelan, membuat Lilian tertawa. “Masih ada Nikki.” katanya kemudian.

“Tapi terlalu sulit untuk mencapainya.” gerutuku sambil membalik lembaran buku. Nikki yang menitipkannya ke salah satu pengawal tadi, begitu kata Lilian. Masih ada sekitar 5 buku lainnya yang kuletakkan di sebelah tempat tidur. Itu bahan bacaan untuk 3 hari, kalau aku tidak kelewat sibuk.

“Dan aku yakin kau bisa mencapainya, tuan putri.” ia berhenti menyisir dan aku berguling ke posisi tengkurap, masih menghadap buku. Lilian membereskan sedikit bagian di meja riasku, dan yang kumaksud sedikit adalah mengembalikan sisir ke tempatnya. Aku tidak suka merepotkan wanita umur 30 tahun awal yang sudah merawatku sejak usianya masih belasan itu. Energinya seharusnya terkuras di rumah untuk mengurus keluarganya, bukan di sini. Tapi aku tidak rela kalau ia digantikan oleh gadis lain, mereka tidak akan paham dengan ceritaku. Mereka tidak akan mengerti apa saja yang kubutuhkan, mereka tidak akan bisa menjadi agen penyimpan rahasiaku, dan yang paling penting, siapa yang berani menjamin gadis-gadis itu tidak akan jatuh hati ke Nikki?

Aku membalik halaman buku lagi dan menemukan sebatang rosemary yang dikeringkan di halaman berikutnya. Masih wangi. Ada tali yang terbuat dari akar tumbuhan tipis yang melilitnya dan di ujung tali itu diikatkan sebuah kertas kecil bertuliskan namaku. Nikki yang membuatnya. Daripada memberikan bunga segar, ia lebih suka membuatkan herbarium bunga yang berfungsi ganda sebagai pembatas buku. Lebih abadi menurutnya. Semua herbarium itu kusimpan di sebuah kotak di dekat rak buku, semuanya, tidak ada yang hilang. Kujaga seperti aku menjaga cincin di jari manis tangan kiriku itu.

“Lilian.”

“Ya, tuan putri?”

“Bisa kau tinggalkan aku sendirian? Aku…” tanganku menggapai bantal bulu angsa di ujung tempat tidur. “…butuh berpikir sebentar. Tenang. Sendirian.”

Lilian menatapku bingung, tapi kemudian mengangguk dan berjalan keluar kamar. Sekarang aku sendirian, memainkan sebatang rosemary kering di tangan sambil terus membaca buku sampai pandanganku kabur oleh air mata. Aku tidak sekuat Mutnodjmet.

—–

Langit masih gelap saat aku terbangun, kepalaku pening sekali. Saat itu aku baru sadar kalau aku menangis hampir semalaman, setidaknya sampai aku tertidur. Lilian kebingungan saat melihat salah satu bantalku basah terkena hujan air mataku semalam.

“Kau tidak apa-apa kan, tuan putri?” tanyanya khawatir. Aku menggeleng, memaksakan senyum sambil memijat pelipisku perlahan. “Tidak apa-apa.” jawabku dengan suara serak. Lilian mengambilkan air putih di nakas dan aku meminumnya dalam tiga tegukan. Haus sekali.

Aku berguling dua kali, turun dari kasur, dan beranjak ke lemari untuk mengambil baju ganti saat tiba-tiba pintu diketuk pelan. Lilian membukakan pintunya dan wajah ibu-lah yang terlihat. Beliau memberi isyarat kepadaku untuk keluar dari kamar sebentar, dan aku meminta tolong ke Lilian untuk menyiapkan baju gantiku.

“Audrey, ayahmu ingin bicara denganmu.” kata ibu tanpa basa-basi. Aku menahan napas. Bicara masalah apa?

“Masalah Nikki.” sambung ibu, seolah bisa membaca pikiranku.

“Tapi aku bahkan belum man–”

“Sekarang cepatlah mandi, kami menunggumu di ruang rapat. Ibu akan ke kamar Aiden untuk membangunkannya. Pagi ini akan ada rapat kecil.” tapi dari cara ibu mengucapkannya, aku tidak yakin kalau itu hanya rapat kecil. Setidaknya pasti akan ada paman penasihat di sana. Tapi aku tidak berharap Nikki ada di sana. Sebagian kecil pikiranku berharap dia ada. Sebagian lainnya berharap ia tetap tinggal di perpustakaan, melakukan pekerjaannya yang biasa, tanpa perlu tahu kalau ayahku sudah tahu tentang semuanya.

Lilian, yang mendengar semua yang diucapkan ibu tapi berlagak tidak mendengar mengangsurkan setumpuk pakaian ke tanganku. Hampir saja ia mengantarku ke kamar mandi kalau aku tidak memintanya membereskan tumpukan buku di sebelah tempat tidur. Memangnya aku terlihat sesakit apa sampai dia perlu melakukannya?

—–

Begitu aku keluar dari kamar mandi sudah ada ibu di kamarku. Lilian tidak ada, kurasa ibu yang menyuruhnya keluar. Wajah ibu terlihat datar, aku tidak bisa membaca ekspresinya hari ini.

“Rapatnya dipindah ke sini.” kata ibu sebelum aku sempat bertanya. Ibu menyuruhku duduk di sebelahnya, dan beliau langsung memelukku erat. Ada apa ini?

“Ng, eh, ibu…ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Tunggu sebentar, akan ibu panggilkan ayah dan kakakmu.” wanita yang terdekat denganku itu berdiri, membuka pintu kamarku. Ayah masuk diikuti oleh Aiden di belakangnya dan pintu ditutup. Suasana berubah agak sedikit menegangkan. Aiden mengambil tempat di sebelahku, sedangkan ayah dan ibu di depan kami. Tatapan mata ayah sedari tadi tertuju ke tangan kiriku, pasti beliau sudah melihat lingkaran perak itu juga, sama seperti Aiden dan ibu.

“Audrey.” ayah membuka ‘rapat’. “Bisa lihat tangan kirimu?” ayah menarik agak paksa tangan kiriku dan memerhatikan cincin itu. Aku, jujur saja penasaran dengan apa yang ayah pikirkan. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Ini? Ini penyebabnya?” tanpa aba-aba apapun ayah langsung menarik cincinku kuat, menyebabkan jari manisku terasa perih. Sakit.

“Marcus!” ibu dengan cepat menarik tangan ayah sebelum ayah melempar cincinku lewat jendela. Ayah menatap ibu tidak percaya, terang saja, ibu selalu memanggil ayah dengan sebutan ‘raja’ dan memanggil nama asli ayah adalah hal keramat.

“D-Dree? Kau tidak apa-apa?” Aiden menarik telapak tangan kiriku dan memperhatikannya. Jari manisku memerah. Aku menggigit bibir sambil menahan tangis. Ayah tidak menyukainya. Ayah tidak suka. Bagaimana kalau ini berdampak ke pekerjaan Nikki? Bagaimana kalau ia dipecat? Bagaimana kalau ia dihukum?

Ibu menatap ayah sebentar lalu mendekatiku. Ibu mengusap si jari manis yang malang perlahan lalu mengembalikan cincin Nikki ke genggaman tanganku, menepuk kepalaku beberapa kali, baru kemudian kembali ke tempatnya. Aku ingin memeluk ibu saat itu juga. Sakit. Bukan pelukan ibu yang aku dapatkan, tapi rangkulan Aiden. Rangkulan seorang kakak yang protektif dan berusaha menghibur. Ia menyodorkan sapu tangan dari dalam sakunya kepadaku, menyuruhku menghapus sebentuk air mata yang mulai muncul.

“Mulai hari ini, jangan pakai cincin itu lagi! Kau tidak boleh pergi ke perpustakaan kerajaan lagi! Tidak boleh berhubungan dengannya lagi!” seru ayah tiba-tiba. Ayah berdiri, menarik paksa ibu agar mengikutinya keluar dan membanting pintu kamarku keras-keras. Aiden masih ada di dalam, masih berusaha menenangkanku. Aku tidak tahu harus melakukan apa di saat seperti ini, ditambah pusingku yang kembali lagi, kali ini lebih parah mungkin karena aku belum makan apapun. Dari balik daun pintu terdengar suara ayah yang sedang mendebat ibu. Ayah tak pernah sekalipun menaikkan suara di depan keluarganya, paling parah memarahi seperti yang barusan terjadi.

Perlahan aku bangkit berdiri. Aiden tetap merangkulku, kali ini sambil menahan badanku yang lemas. “Kau tidak apa-apa? Kau gemetaran, pu—”

“Panggilkan Lilian saja.” aku duduk di tepian kasur. Aiden sudah membuka mulut, tapi aku menyuruhnya diam dan melakukan apa yang kuminta. Suara-suara di luar masih terdengar, tidak bisa kumengerti, telingaku sudah tidak bisa diajak kompromi. Kupejamkan mataku agar pening di kepalaku hilang, gagal. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, silau, silau, berkunang-kunang, kemudian gelap, aku tak tahu apa-apa lagi.

—–

Lilian adalah orang pertama yang kulihat saat aku membuka mata. Ia tersenyum ke arahku, mengangsurkan segelas susu hangat. “Habiskan.” katanya setelah aku mulai meneguk isi gelas itu perlahan.

“Nikki…”

“Ia tidak apa-apa. Yang mulia Raja tidak mengambil tindakan apa-apa terhadapnya. Dan ia juga belum tahu, sepertinya.”

Aku menggigit ujung-ujung jariku. “Aku…kau tidak bisa membantuku untuk menemuinya?”

Lilian menggeleng dengan wajah sedih, lengannya melingkari badanku. Ia sering memelukku jika merasa kalau aku butuh dan sekarang aku memang butuh.

“Kalau begitu, bisa tolong ambilkan kotakku?”

“Kotak yang–”

“Kotak bunga kering.”

Ia mengangguk dan mengambil kotak kayu di rak bukuku, membawanya dengan hati-hati dan meletakkannya di pangkuanku. Aku menatapnya, memintanya keluar dan berterima kasih. Aku cukup tahu terima kasih, tentu saja.

Aku membuka kotak, mengamatinya satu persatu. Rosemary. Mawar, merah, putih, ungu. Hibiscus. Chrysantemum. Lili putih, dan bahkan daun mint kering. Wanginya tidak bercampur karena aku menyimpannya sesuai petunjuk Nikki, membungkus masing-masing tanaman dalam kantung kainnya sendiri-sendiri.

Aroma mint segar tercium saat aku menghela napas. Nikki, Nikki, Nikki. Aku kosong, sekosong kotak yang semua isinya terserak di sekitarku. Sedingin logam perak yang sekarang kupakai sebagai hiasan di rantai kalungku. Apa ini mau ayah? Membuat anaknya sendiri depresi? Menjadikan si putri es semakin beku? Kalau begitu, ayah sudah berhasil. Selamat.

—–

Angka kandidat pelamar makin bertambah dan tetap saja tidak ada yang kuterima. Sejak saat itu, aku tidak pernah mengulur waktu untuk menolak tiap utusan. Bahkan meski pada akhirnya para pangeran menampakkan wujud aslinya, tetap tidak ada yang membuatku tertarik. Putri macam apa yang menolak lamaran hampir dua puluh pangeran? Mungkin hanya aku. Putri yang tega memasang ekspresi dingin setiap mengeluarkan penolakan. Aku kembali ke Audrey sebelum mengenal Nikki. Audrey yang dulu.

Jika ayah lebih suka dengan Audrey yang dulu, ayah sudah mendapatkannya.

Hari ini lamaran dari Kerajaan Tenggara datang lagi. Pangeran Elias datang sendiri kali ini, tapi tentu saja dengan para pengawalnya. Baru kali ini aku melihat Pangeran Elias secara langsung: tubuh tinggi, kulit putih, sorot mata tajam dan alis tebal. Kuakui ia lebih tampan dari Nikki, tapi aku tetap menolaknya.

“Audrey.” kata ayah setelah rombongan Pangeran Elias pulang. “Kenapa kau selalu menolak lamaran mereka? Seorang putri tidak sepantasnya bersikap seperti itu. Kau sudah membuat ayah malu! Apa alasanmu melakukannya?”

Aku memasang wajah datar. “Karena aku tidak mau.” kupaksakan mataku menatap ayah dengan tatapan paling terganggu yang aku punya, lalu berbalik dan berjalan ke kamar dengan langkah lebar.

“Audrey! Kau tidak boleh berbuat seperti itu!”

“Kalau begitu ayah juga tidak boleh memaksaku! Apa yang kurang dari Nikki? Apa karena ia bukan bangsawan? Jika itu alasannya, aku tidak mau menerimanya! Tidak adil!” teriakku sambil membanting pintu. Ayah tidak akan mengerti. Tidak akan pernah.

Beberapa saat kemudian, pintu kamarku diketuk. Aku mengeluh pelan lalu berjalan ke pintu, Lilian masih di bawah. “Siapa?” tanyaku.

“Ayah. Ayah ingin…eh, bicara.”

Bersamaan dengan helaan napas beratku, aku membuka pintu. Gencatan senjata. Ayah melangkah masuk, menatapku, lalu duduk di tepian tempat tidur dan menyuruhku mengikutinya.

“Kau tidak memakainya?” ayah menyentuh jari manis tangan kiriku. Aku menggeleng. “Ayah melarangnya.” gumamku pelan.

“Nikki ini…kau mengenalnya sejak kapan?” aku membulatkan mataku. Interogasi?!

“Sejak ia mulai bekerja di perpustakaan.”

“Kenapa kau yakin untuk memilihnya?”

Aku gamang. Terlalu banyak alasan, yang mana yang bisa meyakinkan ayah?

“Seorang putri harus bisa memberi alasan untuk pilihannya, Audrey.”

Maka aku membeberkan semuanya. Apa yang kulihat ada pada Nikki, fakta bahwa ia pintar dan masa depannya akan cerah terlepas dari pekerjaannya di perpustakaan. Kukatakan pada ayah kalau ia tulus, dan untuk buktinya kusebutkan cincin yang hampir dilemparkan ayah ke luar jendela tempo hari. Sederhana, tapi Nikki membelinya dari hasil bekerjanya, apa yang kurang?

Ayah menarik napas, otot wajahnya masih terlihat tegang. “Ayah ingin bertemu dan bicara dengan Nikki sebelum memutuskannya. Jika ia benar-benar seperti apa yang kau katakan, mungkin akan ada sedikit perubahan, tapi jika tidak, kau harus menerima siapapun yang ayah pilihkan untukmu. Kau mengerti?”

Aku memaksakan segaris senyum tipis. Kalimat terakhir tadi membuatku takut. “Mengerti, ayah.”

—–

Malam ini ibu menyusup ke kamarku sebelum tidur. Ibu berdecak melihat rambutku yang masih acak-acakan karena belum sempat kusisiri, tadi masih basah karena aku baru saja keramas. Sekarang tangannya sedang sibuk menyisir rambutku, mengurainya pelan. Lilian sudah disuruh kembali ke ruangannya dari tadi dan aku sudah menceritakan pembicaraanku dengan ayah tadi sore. Ibu menepuk puncak kepalaku pelan sambil tersenyum, aku tahu meski tidak terlihat oleh mataku.

“Jika ibu berada di posisimu, ibu juga akan melakukan hal yang sama. Tidak ada wanita yang mau menikah tanpa ada perasaan yang melandasinya, kau tahu?”

“Tapi ibu dengan ayah…”

“Ibu memang tertarik dengan ayahmu.” wajah ibu bersemu. “Sama sepertimu. Hanya saja mungkin kau berada di situasi yang agak salah. Nikki lelaki yang baik, ibu tahu.” tutup ibu sambil mengikat rambutku dengan seutas pita sebelum aku sempat menuntutnya untuk bercerita lebih panjang lagi mengenai masa lalunya dengan ayah. Aku mengangguk lalu berbalik dan memeluk ibu erat. Ibu selalu bisa memahamiku, aku senang sekali.

“Sekarang tidurlah. Besok temui Nikki, katakan padanya kalau ayahmu ingin menemuinya.”

“Hanya mereka berdua?” tanyaku khawatir. Bagaimana kalau Nikki tidak bisa menjawab pertanyaan ayah dengan baik?

“Tergantung. Kalau kau mau, kita bisa mengubahnya jadi pembicaraan delapan mata, bagaimana?” aku langsung mengangguk saat ibu mengajukan opsi itu. Ibu mengatakan bahwa beliau akan membicarakannya dengan ayah dulu. Senyumku merekah makin lebar. Ibuku ibu paling baik di dunia.

—–

Aku membuka pintu perpustakaan kerajaan perlahan. Sepi, tapi terdengar suara halaman buku yang dibalik perlahan dari dalam. Kakiku melangkah melintasi rak-rak buku menuju ke sumber suara. Dia ada di sana, duduk di karpet ruang baca sambil menekuri halaman buku di tangannya. Seperti yang biasa dilakukannya jika tidak ada orang.

“Nikki?”

Ia mengalihkan perhatiannya, menatapku, matanya yang bermanik kehitaman itu membulat saat melihatku berdiri di sebelah rak. “Dree? Tapi Raja kan melarangmu—”

“Sudah tidak lagi.” aku berjalan mendekatinya, duduk di sebelahnya. Diam-diam aku bersyukur bisa memandangnya secara langsung lagi. Bisa mengamati wajah seriusnya dari jarak sedekat ini lagi. Bisa menghirup wanginya yang menyenangkan. Aku tidak tahu bau apa, tapi sepertinya campuran lemon, kayu manis, dan musk. Tidak mengalaminya selama hampir sebulan membuatku merasa amat senang saat bisa menemuinya lagi. Meletup-letup dengan irama cepat seperti bunyi ketukan nada para pemusik. Aku tidak ingin kehilangan sensasinya, jadi aku memutuskan untuk menikmatinya sedikit demi sedikit.

Nikki meraih tangan kiriku, memeriksa jari manisnya. “Kenapa…”

“Ini.” aku memperlihatkan kalung di leherku. “Ayah melarangku memakainya, memangnya kau tidak dengar?”

Ia diam dan menggeleng, lalu merangkum tanganku dalam tangannya. “Masalahnya seberat apa?”

“Sudah hampir terselesaikan. Ah iya, ayah ingin bertemu denganmu. Maksudku orang tuaku ingin bertemu denganmu. Aku akan ikut juga.” kata-kataku kacau.

“Kapan?”

“Aku tidak tahu. Mungkin besok. Mungkin lusa, mungkin besoknya lagi.”

“Jangan lupa beri tahu aku kalau semuanya sudah pasti, ya?” ia mengacak rambutku. “Aku akan menyiapkan jawaban terbaik untuk—”

“Benar begitu? Coba sampaikan jawaban terbaikmu hari ini.”

Aku langsung melepaskan tangan Nikki, ia menyentakkan kepalanya ke sumber suara. Ayah ada di dekat rak ruang baca dan ibu berdiri di sebelahnya. Kenapa mendadak sekali seperti ini? Ibu hanya bilang aku harus memberi tahu Nikki, ibu tidak bilang kalau ayah akan menemuinya hari ini. Aku melirik Nikki, diam kaku, sama terkejutnya denganku. Ia lebih pintar menguasai diri, sekarang ia sudah berdiri, berbasa-basi sebentar dengan orang tuaku dan mempersilakan mereka duduk. Ia kembali ke tempatnya di sebelahku dan aku melirik ayah, ada sedikit keberatan di matanya tapi mungkin ibu sudah memperingatkannya tadi.

Nikki menyingkirkan tumpukan buku dari meja rendah di atas karpet baca agar pandangan orang tuaku tidak terhalang. Aku diam, tidak tahu harus melakukan apa. Ayah memperhatikan Nikki yang sibuk memindahkan barang-barang sambil tetap tersenyum. Ia memang selalu tersenyum. Aku suka senyumnya yang terlihat sangat ringan dan menyenangkan itu. Mengundang orang lain untuk ikut menarik ujung mulut mereka.

“Jadi, kau yang bernama Nikki?” ayah mulai bicara.

“Ya, Yang Mulia Raja.”

Ayah menanyai Nikki tentang asal-usulnya. Ia bercerita bahwa ia berasal dari sebuah desa kecil di kerajaan kami, orang tuanya pedagang yang cukup sukses di sana. Ia anak lelaki satu-satunya dan ia memutuskan untuk pergi ke ibukota kerajaan untuk bekerja. Sehari-hari ia tinggal di sebuah rumah kecil yang disewanya, dekat dengan perpustakaan. Cerita yang sudah kuketahui dari awal mengenalnya.

“Kau yang sudah mem—eh, Audrey bilang kau sudah melamarnya, benar begitu?”

Nikki mengiyakan. Aku tak percaya ia bisa setenang itu, demi Tuhan. Ayah masih memasang wajah datar, aku tahu ayah selalu bisa mencari celah untuk menyerang lawan bicaranya. Ini, lagi-lagi, menurun padaku. Aku tidak tahu harus bersyukur atau tidak.

“Tanpa persetujuan orang tuanya? Dengar, nak, kau bisa langsung dipenggal kalau seenaknya melakukan hal seperti itu. Kau pikir anakku akan menikah tanpa aku tahu?” ayah kembali menyerang. Aku menahan napas, menyentuh telapak tangan Nikki sambil menunggunya menjawab. Dingin, ia juga gugup tapi masih berusaha menutupinya. Dan pertanyaan ayah barusan menjadi pukulan telak —mungkin.

“Maaf, Yang Mulia.” kata Nikki. “Bukannya hamba bermaksud lancang, tapi Dree—”

“Putri Audrey.” potong ayah tidak senang. Aku menyentuh telapak tangannya lagi, memintanya mengikuti ‘permainan’ ayah saja.

“Putri Audrey berkata bahwa Yang Mulia belum mengetahui tentang hamba.” ia mengerling ke arahku, menarik napas seperti akan bicara panjang sekali, lalu melanjutkan kalimatnya. “Dan hamba pikir, akan lebih baik jika hamba melamar Putri Audrey dulu karena hamba tidak ingin kehilangan dia. Hamba sudah terlalu terikat olehnya meski hamba tahu ini agak salah, dan…”

“Itu memang salah.” potong ayah lagi. Ibu menyenggol lengan ayah pelan, memperingatkan, tapi ayah tidak menghiraukannya.

“Karena itu, hamba ingin membuatnya menjadi benar. Dengan mendapat izin dari Yang Mulia Raja dan Ratu sepenuhnya. Hamba masih memikirkan caranya, meski sampai sejauh ini hamba belum berhasil menemukannya, tetapi Yang Mulia sudah bertanya terlebih dahulu.” Nikki tetap tersenyum, kepalanya ditundukkan perlahan sebagai isyarat permintaan maaf. Ibu sudah terlihat puas, tapi tidak dengan ayah.

“Kau mau mengubahnya menjadi benar? Bermimpilah terus, anak muda.”

“Marcus…” desis ibu, tertangkap oleh telingaku. Ayah menatap ibu kesal.

“Angel, kau boleh keluar jika terlalu banyak bicara dan keberatan.” demi mendengar ancaman ayah, ibu langsung diam. Ayah kembali menatap Nikki dengan tatapan tajamnya. Tangannya masih dingin, gugup, pias. Ayah senang karena merasa berada di atas angin. Aku mulai ketakutan dengan nasibku dan nasib Nikki setelah ini, bagaimana kalau ia gagal meyakinkan ayah?

“Aku bahkan tidak yakin ia bisa memenuhi syarat yang kuajukan.” kata ayah. Ibu melirikku, perasaanku jadi tidak enak. Aku tidak bisa melirik ke arah Nikki, sama sekali tidak bisa. Aku tidak rela. Tidak tega.

“A-apa yang mulia?” aku melihat ayah tersenyum meremehkan. Matanya menatap ibu lalu kembali menatap Nikki.

“Anakku sangat berharga bagiku. Dulu, untuk mendapatkan satu hal yang berharga, ada yang harus dikorbankan. Benar begitu kan, Ratu?” Ibu mendongak dan menatap ayah sebentar. Mulut ibu terlihat menggumam, entah apa yang dikatakannya pada ayah.

“Dulu, sekalipun aku seorang pangeran kerajaan besar, untuk mendapatkan Ratu adalah hal yang tidak mudah sekalipun kami saling mencintai. Kau tahu apa yang harus aku lakukan waktu itu?” Nikki menggeleng pelan. Aku kembali menggenggam tangannya. Kali ini apa yang akan ayah katakan?

“Kau mencintai anakku?”

“Iya, yang mulia.”

“Kalau begitu, kita lakukan sesuai cara kerajaan Ratu-ku dulu. Aku rasa itu cukup.” Ibu menoleh cepat pada ayah dan menyentuh lengan ayah perlahan. Ayah bahkan tidak menoleh sama sekali saat ibu memanggilnya.

“Kau punya pedang?” dahiku berkerut tanda tidak mengerti. Pedang? Untuk apa? Aku melirik ibu yang hanya diam dan tidak lagi memerdulikan apa yang ayah lakukan. Aku harus mencari tahu hal ini dari ibu.

“Kita adakan pertandingan pedang. Siapa yang menang, berhak melakukan apa saja. Bagaimana?”

Genggaman tangan Nikki bertambah ketat. Aku tidak pernah melihat Nikki berlatih pedang, sosoknya yang pernah kulihat hanya ia yang bertugas dalam ruangan. Ini sedikit tidak adil kurasa. Tapi ayah tidak bisa digoyahkan lagi keinginannya.

Nikki menoleh, membaca keraguanku, dan menyunggingkan senyumnya. Kali ini bercampur sedikit kekhawatiran. “Baiklah. Hamba setuju.” katanya kemudian. Kemudian ia kembali menatapku seolah mengatakan bahwa ia sangat rela melakukannya. Seperti mengatakan kalau ia sangat tulus, sangat.

Beberapa pertanyaan dan orang tuaku beranjak pergi. “Audrey, kau ikut.” kata ayah. Aku berdiri tapi tidak segera melangkah. Keputusan Nikki masih membebani pikiranku. Bagaimana kalau ia justru terluka?

“Aku tidak akan kenapa-kenapa.” bisik Nikki, tangannya mengusap kepalaku pelan. “Pulanglah, Dree. Orang tuamu menunggu.” ia mendorong punggungku melewati pintu perpustakaan dan menutup pintunya.

Aku tidak tahu aku masih menapaki tanah atau tidak saat aku berjalan.

—–

Aku mencari ibu saat semuanya selesai. Nikki menyetujui syarat ayah tadi. Gila! Menggenggam pisau saja dia sangat hati-hati, apalagi memainkan pedang! Melawan ayah yang ahli pedang seperti itu akan membuatnya hilang dari hadapanku selamanya!

Aku menelusuri lorong kerajaan menuju kamar ibu dan ayahku. Ayah baru saja pergi ke hutan untuk berburu bersama para pengawal, jadi tidak perlu takut akan ketahuan oleh ayah.

“Audrey?”

“Ibu! Apa yang ayah pikirkan? Pedang?! Apa ayah ingin membunuh Nikki?! Ayah ingin aku gila dan makin depresi?!”

“Audrey, tenanglah.”

“Nikki hanya penjaga perpustakaan kerajaan, aku tahu itu! Kami berbeda, aku tahu itu! Tapi apa ayah tidak memikirkan perasaanku?!” air mataku naik ke tenggorokan.

“Audrey. Berhenti.” dan aku berhenti bicara, tapi mulai menangis. Aku harap ibu mengerti kekhawatiranku. Nikki melawan ayah yang sangat terampil dengan pedangnya itu? Aiden yang sudah berlatih sejak kecil saja masih tidak bisa mengalahkan ayah, bagaimana dengan Nikki? Apapun yang terjadi di arena pedang bisa berakibat fatal padanya. Lengannya bukan lengan yang terlatih untuk kegiatan seperti itu. Jika ia pernah belajar pedang pun aku yakin ia masih amatiran. Ini tidak adil. Sama seperti saat Akhenaten mengirim Nakhtmin untuk berperang dengan jumlah pasukan yang sangat sedikit untuk menjauhkannya dari Mutnodjmet. Bedanya adalah Nakhtmin masih berperang bersama Jenderal Horemheb, sedangkan Nikki harus melawan ayahku sendirian. Ini perangnya. Arenanya sendiri.

“Ibu percaya Nikki sama seperti ibu mempercayaimu. Nikki akan melewatinya dengan selamat dan baik-baik saja. Ibu sudah mengingatkan ayah agar tidak terlalu keras.” jelas ibu. Aku menelan ludah keras-keras. Jika berada di posisi Nikki, aku tidak tahu akan melakukan apa.

“Mengingatkan? Ayah memiliki jalan pikirannya sendiri! Ibu, aku mohon hentikan ayah. Aku tidak ingin–”

“Cukup tunjukkan pada ayahmu bahwa kau sangat mencintai Nikki. Apapun yang terjadi nanti, tunjukkan pada ayahmu. Kau mengerti?” aku diam dan terus menangis saat ibu mengusap kepalaku perlahan. Beliau menghapus airmataku dengan sapu tangan biru pemberian ayah.

“Maaf, ibu tidak bisa berbuat banyak.”

—–

“Apa aku perlu membawa ini?” Nikki menunjuk tameng yang berjajar di depannya. Ia sudah memilih pedangnya, meminjam salah satu baju zirah Aiden sekaligus sepatu bot besi yang kelihatannya berat itu.

“Aku rasa tidak.” jawabku. Nikki mengangguk, dengan berhati-hati memasukkan pedang ke dalam pelindungnya. Mengangkat pedangnya saja ia sudah kesulitan, apalagi menggerakkannya dengan lincah untuk melawan seorang pro?

Ia mengajakku ke arena. Kami berpisah di pintu, aku berjalan ke tempat duduk sedangkan ia langsung ke tengah lapangan, tempat ayah berdiri dengan baju perang kebanggaanya. Berkilat ditimpa sinar matahari siang. Gagang pedangnya yang berlapis emas menyembul di pinggangnya, lengkap dengan sarung pedang dari kulit binatang berwarna merah. Aku tidak punya waktu untuk mengagumi ayah, waktuku habis untuk mengkhawatirkan Nikki. Postur rampingnya terlihat canggung seolah ia sedang berada di tempat yang sama sekali salah.

Permainan dimulai. Ayah tampak santai tapi gerakannya tetap teratur. Nikki bisa menahan beberapa serangan ayah tapi sering kali ia nyaris menjadi korban. Aku menahan napas setiap melihat ia merunduk menghindari tebasan pedang ayah yang memotong angin. Nikki hanya melawan beberapa kali, serangan lemah. Sedangkan ayah berkali-kali mengincar area wajah dan lehernya. Lehernya itu terbuka! Sangat rawan bahaya!

Ayah mengayunkan pedangnya lagi, memotong sedikit rambut Nikki yang pirang keemasan. Ia tampak shock dan ayah sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Beliau sekali lagi mengincar leher Nikki. Satu tebasan dan semua tamat! Nikki tidak akan bisa menghindari serangan yang ini!

“Nikki!”

Tanpa sadar aku melompat turun dari bangku, berlari sprint ke arena dan menahan tangan ayah saat pedangnya hanya tinggal berjarak satu jengkal dari leher putih Nikki. Sisi pedang tajam itu menggores pergelangan tanganku. Ngilu. Aku menggigit bibir saat merasakan kulitku terkoyak dan darah merembes perlahan. Ayah menurunkan pedangnya, kaget dengan tindakanku dan Nikki langsung menekan pembuluh darah di dekat kulitku yang tersayat. Memperlambat pendarahannya. “Dree! Tanganmu berdarah! Ayo kembali ke tempat duduk!” serunya sambil menarikku ke bangku penonton. Lilian yang tadi ada di sana sudah menghilang, mungkin kembali ke istana untuk mengambil sesuatu yang bisa digunakan untuk membalut lukaku. Ibu…ibu menghampiri ayah. Menggumamkan sesuatu padanya dan mendatangiku. Duduk di sebelahku sambil memeriksa lukaku.

Ayah menatapku dengan tatapan yang membingungkan. Beliau menyarungkan pedangnya perlahan dan berjalan meninggalkan arena tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku bingung, tapi rasa nyeri di pergelangan tanganku membuatku sulit berpikir.

Lengan kurus Nikki melingkari pundakku, mengelusnya pelan dengan ritme menenangkan. Aku bergidik dan mengernyit saat Lilian menyentuhkan kain yang dibasahi air dingin ke pergelangan tanganku, membersihkannya pelan-pelan. Ini sakit sekali, padahal hanya luka sekecil itu.

“Maaf.” bisik Nikki. Aku menggeleng. “Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membahayakanmu…”

“Aku gagal, Dree. Kesempatan kita hilang. Sudah habis.” ia menggelengkan kepalanya. Peluh bercucuran di wajah dan lehernya, berkilau seperti baju besi milik Aiden yang dipinjamnya hari ini.

“Belum, belum hilang.” aku tahu aku hanya berusaha meghibur diri sendiri, tapi kalimat itu terlalu berbohong. Sangat sarat kebohongan.

“Kesempatan yang mana lagi, Audrey? Ayahmu menyuruhku melawannya bermain pedang. Aku kalah, dan sekarang ayahmu berhak melakukan apa yang beliau inginkan. Kau pikir apa lagi yang ayahmu ingin lakukan terhadap kita?” gumamnya. “Dan kau terluka. Raja tak akan pernah memaafkanku.”

“Hanya luka kecil.” aku menenangkannya, melirik pergelangan tanganku yang berdarah terkena pedang ayah saat aku menghalaunya tadi. Sudah dibalut, tentu saja.

“Luka tetap saja luka, Dree…”

“Tapi ini tidak adil! Ayah sudah berlatih pedang sejak kecil sedangkan kau…” Nikki membungkam mulutku dengan tangannya. “Sebenarnya aku yang bodoh karena menerima tantangan sang Raja.” katanya setelah aku diam.

“Tapi keinginan ayah memang tidak bisa diganggu-gugat.”

Kami diam dan aku membiarkannya menggenggam tanganku. Ini pasti yang terakhir. Setelah ini ayah akan menjauhkanku dari Nikki dan menyuruhku menerima lamaran siapapun yang dipilihnya. Aku tidak boleh menolak. Masa depanku mungkin saja gelap.

“Lekas ganti bajumu dan istirahat. Kau pasti capek.” aku mengajak Nikki berdiri lagi, membawanya ke tempat ia bisa mengganti bajunya. Tangan kami masih tertaut selama kami berjalan, dan begitu sudah agak jauh dari arena, ia menciumku lama seolah itu terakhir kalinya. Memang terakhir kalinya. Ia pernah berjanji hanya akan menciumku di altar dan setelahnya, tapi kami mematahkannya hari ini karena yakin itu tidak akan terjadi.

Aku terisak dan mendekapnya, merasa dingin saat menyentuh pakaiannya tapi hangat saat ia balas melingkarkan tangannya di badanku. Luka di pergelangan tanganku terasa makin sakit.

—–

Sudah seminggu lewat dari pertandingan pedang di arena. Ayah belum bicara padaku setelah kejadian itu.

Tapi ayah ingin bicara hari ini. Denganku. Dengan Nikki juga. Ibu akan ikut untuk membantu menenangkan ayah atau mungkin menambah penjelasan. Itu alasanku dan Nikki duduk di ruang pertemuan, menunggu sambil berharap-harap cemas. Mungkin hanya aku… atau tidak? Karena tangan Nikki terasa jauh lebih dingin dari tanganku.

Aku mencengkeram pergelangan tangan halus Nikki saat ayah dan ibu masuk ke ruang pertemuan. Seperti biasa, wajah ayah yang datar tidak bisa dibaca. Tapi ibu terlihat sangat senang hari ini, seperti beliau akan melonjak dan menyalamiku sambil memberi selamat. Apa akhirnya ayah sudah menemukan calon yang pas untukku dan menyuruhku mengucapkan salam perpisahan ke Nikki?

“Audrey dan…” ayah berhenti sejenak. “Nikki, kalian berdua bersiaplah untuk pertunangan kalian minggu depan. Dan kau, anak muda, belajarlah tentang bagaimana seorang pangeran harus bersikap dari Aiden. Ia akan membantu banyak dan ia pasti senang karena mendapatkan seorang adik laki-laki. Jangan lupa berlatih pedang dengannya –kau tetap harus menang dariku jika ingin menikahi anakku.”

Aku terkesiap takjub. Ibu mencium pipiku, memberi selamat, dan Nikki menunduk hormat pada ibu saat ibu mengajaknya bicara. Ayah memberi isyarat pada ibu untuk mengikutinya keluar dari ruang pertemuan, meninggalkan kami berdua di sana. Begitu pintunya tertutup, Nikki langsung memelukku erat. Ia menyelipkan kembali cincin peraknya ke jari manisku. Ayah tidak akan memaksaku menggantinya dengan cincin lain kali ini, dan aku bahagia. Sangat.

—–

Aku melirik Nikki yang sedang sibuk dengan pelajaran bagaimana bersikap sebagai pangeran-nya. Aiden mengajarinya sikap-sikap yang harus ditunjukkan saat makan, berbicara dengan orang tuaku, maupun saat memperkenalkan diri di depan para tamu. Nikki belajar dengan sangat cepat, progress-nya memuaskan, begitu kata Aiden. Mungkin dalam dua hari lagi Aiden akan mengajaknya turun ke arena pedang. Nikki menoleh, merasa diperhatikan, dan menangkap tatapan mataku. Senyumnya mengembang sebelum ia kembali memperhatikan cara Aiden memperkenalkan diri.

“Kau perlu menyebutkan kalau kau calon tunanganku agar tidak ada lagi yang melamarku.” ujarku, dan Aiden mendengus menahan tawa. Nikki terkekeh dan menarik telapak tanganku, menggelitiknya pelan. “Aku pasti akan bilang begitu.” katanya kemudian.

“Berhenti bersikap seperti sepasang kekasih di depanku! Kalian membuatku iri!” Aiden marah, bercanda tentu saja. Aku menjulurkan lidah ke arahnya dan Nikki mencubit pipiku cepat. Kami tertawa sambil mendengarkan omelan Aiden yang menyuruhku keluar agar tidak mengganggu. Keluar? Nanti saja. Aku akan keluar saat Nikki sudah selesai dan kembali ke perpustakaan. Dia masih bekerja di sana dan masih tinggal di rumah sewaannya. Yang akan berubah setelah pertunangan minggu depan adalah ia akan pindah ke istana, menempati kamar yang sekarang dipakainya ini, tepat di sebelah kamar Aiden. Tetap bekerja di perpustakaan kerajaan karena jabatan itu akan kosong jika ia keluar dan saat ini sedang tidak ada yang berminat.

Ayah mengatakan bahwa setelah kami menikah nanti, Nikki akan selamanya berstatus pangeran. Ia tidak akan pernah diangkat menjadi raja karena aku anak kedua dan Aiden-lah putera mahkota di kerajaan kami. Aiden yang akan naik takhta dan istrinya kelak yang akan menduduki jabatan ratu. Aku tidak keberatan meski ayah berkata aku bisa menjadi ratu di kerajaan lain jika menerima lamaran putera mahkota mereka. Menjadi ratu sama sekali bukan ambisiku. Ambisiku sudah tercapai, di sebelahku, mendengarkan dengan tekun tentang silsilah keluarga kami yang aku saja tidak hapal. Ia akan berusaha menghapalkannya untuk membuat ayahku terkesan karena, meski dia tidak pandai bermain pedang, setidaknya ia punya otak yang cukup bagus untuk menjadi seorang anggota kerajaan. Meski begitu aku berani menjamin setelah Aiden melatihnya ia akan jadi sangat terampil. Selalu terjadi padanya jika ia mempelajari sesuatu.

Saat Aiden berbalik untuk mengambil sesuatu yang ia letakkan di lantai, aku mencuri kesempatan untuk mencium pipi Nikki sekilas. Ia nyata dan bukan ilusi khayalanku lagi untuk bisa bersama dengannya di istana.

“Aku sudah melihat gaunmu. Cantik.” bisiknya saat Aiden tidak memperhatikan. Kemudian ia bertanya lagi dengan suara yang lebih rendah, “Cincinmu tidak akan diganti kan? Maksudku, cincin kita?”

Aku menggeleng. “Aku sudah menanyakannya kepada ibu dan positif itu tidak akan diganti. Ayahku menghargai hasil kerjamu, Nikki. Cincin itu sudah cukup membuatnya terkesan.” apalagi ayahku tahu berapa gaji seorang pustakawan, tambahku dalam hati. “Aku suka yang sederhana.” kataku. Ia menaikkan sebelah alisnya, bermaksud menjawab, tapi Aiden sudah kembali fokus padanya. Jadi aku bangkit berdiri dari sebelahnya, mengitari ruangan yang  akan segera ditempatinya. Ia sudah mengemasi sebagian besar pakaian dan buku-bukunya, semua perabotannya tidak ia bawa karena kamar ini sudah terisi perabotan lengkap jauh sebelum ia akan pindah.

Minggu depan, akan ada dua upacara sekaligus. Pengangkatannya sebagai anggota keluarga kerajaan dan pertunangan kami. Aku bertanya-tanya, apa lagi yang akan berubah setelah itu, dan menyerah untuk mencari jawabannya. Pasti aku akan segera mengetahuinya. Salah satunya mungkin adalah aku akan mengenal kedua orang tuanya yang selama ini hanya ia ceritakan saja. Memikirkan itu sudah membuatku gugup, bagaimana aku harus bersikap? Aku seharusnya bisa bersikap serileks Nikki saat menghadapi ayahku, tapi sekarang saat aku di posisinya, aku merasa amat-sangat-sulit-sekali untuk sekadar bersikap tenang. Aku harus memintanya mengajariku setelah ini. Harus—

“Dree? Aku sudah selesai. Ayo ke perpustakaan, ada buku baru yang harus kau lihat. Kau pasti akan menyukainya!” ajakannya terdengar. Aku menghela napas. Biarkan saja, pasti aku akan bisa mengatasinya besok, bisikku dalam hati sambil mengikutinya keluar dari ruangan. Ia meraih tanganku, menggenggamnya selama kami berjalan di lorong istana.

“Ajari aku agar bisa tenang menghadapi orang tuamu besok!” pintaku akhirnya. Nikki menoleh, tertawa saat mendengar permintaanku.

“Kau akan bisa menghadapinya, Dree. Aku bisa menebaknya.” katanya sambil mengacak rambutku.

“Kalau begitu, beri tahu aku bahan pembicaraan agar besok tidak terlalu canggung.”

“Baiklah… ibuku suka bunga, musim panas, dan laut, lalu juga…”

-end

Advertisements

2 thoughts on “[One-Shot] Another Nikki and Audrey”

  1. bingung mau komen panjang apa pendek~

    yaaah beginilah, kehidupan dua anak manusia yang beda status *usep air mata(?)

    sebenernya kalo bagian maen(?) pedang antara papah sama si nikki agak diperjelas bakal tambah bikin dredekan *plak! *banyak maunya

    eniweiii~~ kayaknya tanding pedang cocok untuk taemin sekarang, buat motongin rambut panjangnya *plak!

    yey! mau dooong ketemu nyakbabenya tetem :3

    1. *nyodorin saputangan gyu*

      susyeeeeeeee-_- ribet pula, susah ngebayanginnya, keterbatasan imajinasi *eh

      cocok banget, tapi dree lawan dia, ntar dree yang motong rambutnya *sebel lagi*

      ayuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuukkk XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s