[One-Shot] Could it be Worse?

Title: Could it be Worse?
Genre: angst, romance, friendship
Rating: PG-13
Character: -_-

Semacem versi galau. iya, galau. tapi in the end gak terlalu galau sih… paling kaga seneng dikit kan ya? hehehehe *eh

Matahari belum naik terlalu tinggi saat Sungra berjalan malas-malasan ke pintu apartemennya, agak lunglai karena pengaruh pilek kemarin-kemarin, lengkap dengan telepon genggamnya di tangan. Sepertinya Taemin sedang melancarkan serangan balasan seperti yang dilakukan Sungra saat valentine kemarin, meninggalkan paket di depan pintu apartemen.

Ia membuka pintu dan menemukan sebuah kotak ukuran sedang di bawah, dibungkus kertas koran. Saat Sungra mencoba mengangkatnya ia agak kaget karena bobot kotak itu yang di luar perkiraannya, agak berat. Gadis itu memutuskan untuk membawanya masuk daripada membukanya di luar –yang ternyata cukup mengagetkan saat dibuka. Satu buah mini album SHINee yang baru, covernya Onew, dengan lima poster lengkap (dan tanda tangannya), melanggar aturan dasar random poster, dan beberapa barang lainnya. Beberapa novel berbahasa Inggris dalam genre favorit Sungra, komik, satu toples kecil cokelat, lima bungkus oreo vanila, dan sekeping CD polos tanpa tulisan apa-apa. Bahkan ada satu buket kecil bunga krisan yang masih segar. Sungra tersenyum lebar. Ia tahu ini jauh lebih banyak daripada apa yang diberikannya ke Taemin saat valentine, dan ia juga bisa menebak kalau Taemin akan berkilah barang-barang ini bukan barang handmade, jadi pada akhirnya akan sebanding dengan yang diberikan olehnya dulu.

Sungra menekan speed dial nomor 4, menghubungi orang yang mengirimkannya paket itu. Dan saat telepon sudah tersambung, Sungra langsung berkata pelan. “Gomawoyo Min-ah, hadiahnya terlalu banyak…”

“Kan kugabung dengan White Day~” balas Taemin. “Happy birthday, omong-omong. Selamat tanggal 22 Maret! Maaf aku tidak bisa datang sekarang, ada jadwal pagi.” katanya kemudian.

“Ne~ tidak apa-apa kok Min-ah. Aku suka hadiahnya.”

“Jeongmal?”

“Iya, suka sekali. Untung kemarin aku tidak jadi beli komik, hehehehe…” canda Sungra.

“Baguslah kalau begitu~ aku bingung saat memilih novel, cocok tidak sih sebenarnya? Aku hanya mengikuti intuisi saja~”

“Perfect kok~”

“Untung sekali! Kau harus tahu seperti apa rasanya dikelilingi ratusan novel yang bahkan aku tidak mengerti bahasanya–”

“Berarti kau harus banyak belajar bahasa Inggris Min-ah :p Lalu soal poster itu Min-ah, jangan harap aku akan memajangnya, tidak, terima kasih-_- paling poster Onew-oppa saja~”

“Kau ini-_- oh iya, omong-omong, jangan lupa putar CD-nya ya, ada sesuatu di situ, hehehe. Nah, aku harus pergi sekarang Ra-ah, tidak apa-apa kan?”

“Tidak apa-apa, fighting Min-ah! Semangat latihan untuk comeback-mu!” Sungra segera memutuskan panggilan, tidak mau menahan Taemin terlalu lama. Dan sebenarnya ia tak ingin memicu kekecewaannya karena Taemin tidak bisa datang. Harusnya ia paham karena namja itu pasti sibuk menjelang comeback seperti sekarang ini, tapi masih ada sedikit bagian dirinya yang menolak untuk mengerti. Ego-nya.

Sungra mengusap tengkuknya, melihat ke kotak itu lagi. Tatapannya tertumbuk ke kepingan CD yang terlihat biasa saja, tidak ada label judul atau apa. Tapi Taemin sepertinya menganggap itu yang paling penting…memangnya apa isinya?

Akhirnya ia melangkah masuk ke kamar dengan CD itu di tangan, menuju laptopnya yang masih berada dalam keadaan hibernate. Sungra memasukkan kepingan itu ke optical drive, menunggu sembari mengamati jam di pojok bawah layar. Masih ada cukup waktu sebelum bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, tapi itu tergantung durasi isi CDnya, sih.

Gadis itu meng-klik icon Media Player setelah ada window dialog yang muncul di layar. Video?

“Aa, hyung, kameranya sudah? Mwo?! Sudah merekam dari tadi?”

Sungra refleks tertawa melihat apa yang ada di layar monitornya. Taemin, marah-marah ke hyungnya-entah-yang-mana, pokoknya yang sedang bekerja di balik kamera. Tapi dari suaranya sepertinya itu Jonghyun. Tumben sekali ia mau dimintai tolong oleh Taemin.

“Aaah ne, annyeong haseyo Lee Sungra-ssi, Lee Taemin imnida~ kau pasti sudah tahu, kan?” Taemin melambai sekilas ke arah kamera. Ia duduk di depan sebuah piano, sepertinya di salah satu ruang latihan mereka. “Nah, hyung, letakkan saja kamera videonya di atas piano. Nah, nah, di situ. Pastikan aku terlihat!” katanya, dilanjutkan oleh gerutuan Jonghyun.

“Gomapta hyung!” teriak Taemin, lalu terdengar suara pintu ditutup. “Jadi, Ra-ah, begini…kau tahu kan, tanggal 23 besok kami akan comeback? Tanggal 22-nya juga, sih… aku sedang sibuk akhir-akhir ini, dan aku tidak yakin akan bisa memenuhi janjiku yang kemarin itu. Jeongmal mianhae…” ia menundukkan kepalanya. “Nah, lagu yang kau request untuk hadiah itu akan tetap kuberikan. Lewat sini saja, tidak apa-apa kan? Kalau aku sudah tidak terlalu sibuk nanti aku akan ke apartemenmu dan melunasi ‘hutang’ku.” ia tersenyum lebar, lalu menunduk hingga menghadap tuts piano lagi. Tangannya mulai bergerak memainkan intro sebuah lagu dari daftar request Sungra tempo hari. Sementara itu, Sungra hanya bisa menahan napas sambil menatap lekat layar laptop di depannya, tidak ingin melewatkan satu detik pun dari pengamatannya.

“Sonyeoga, sonyeoreul manna, apeun sarangi ije shijak dwae, malhal su eobtneun sarangeun meariga dwae, sarangi-go shijak dwae~ geudaereul saranghaettgo, geudaereul wonhaettgo, geudaereul hyanghaettgo, geuraeseo miwodo~” Taemin menyanyikan Romeo + Juliette dengan lancar, kali ini sambil menatap kamera di atas piano seperti menatap Sungra langsung. Gadis itu merasa sulit bernapas, campuran rasa senang dan kecewa yang semakin meluas. Kenapa harus bertabrakan seperti ini?

—–

“Yaaaaa! Saengil chukhahae Sungra-aaaaaaah!”

Teriakan Jangmi membuat Sungra berjengit kaget dan mundur selangkah. Tapi kemudian ia tertawa sambil memukul pundak gadis itu main-main. “Jangan mengagetkanku seperti itu!” balas Sungra. Jangmi nyengir lebar lalu menyodorkan sesuatu ke tangan Sungra.

“Nah, kadomu! Kita kembaran!” Jangmi memamerkan ponselnya, menunjukkan sebuah phonestrap dengan bandul boneka beruang kecil dari kain perca, dengan nuansa warna biru. “Kau suka hijau kan? Hehehehe~”

Sungra memandangi benda di telapak tangannya, sama dengan milik Jangmi tapi dengan warna hijau yang dominan. Ia lalu mengangkat wajahnya, menatap Jangmi lagi dan tersenyum lebar. “Waaaa~ gomapta Jangmi-ah~ aku suka!”

“Benar? Syukurlah~ hei, aku orang yang pertama memberimu kado bukan?” tanyanya sambil berjalan di sebelah Sungra menuju bangku mereka. Sungra mengangkat bahu, masih tersenyum ke arahnya. “Ng, maaf Jangmi-ah, aku rasa bukan kau yang pertama~”

“Mwo? Lalu siapa yang pertama?” tanya Jangmi heran.

“Ah, itu…”

“Sungra-ah!! Jangan lupa traktir kami!” teriak para biang ribut di kelas, namja-namja itu. Sungra tertawa, lupa dengan pertanyaan Jangmi. Jangmi sendiri sepertinya juga lupa kalau ia menanyakan sesuatu ke Sungra.

“Oke, nanti sepulang sekolah kita ke restoran tempatku bekerja, kalian tahu tempatnya, kan?” kata Sungra. Ia memang sudah menyiapkan uangnya dari jauh-jauh hari karena sudah hapal tabiat teman-teman sekelasnya yang tidak mau rugi. Sontak suasana kelas makin ramai karena mereka serempak menyelamati Sungra, membuat gadis itu kebingungan. Beberapa teman dekat Sungra ikut menyodorkan kado mereka ke depan yeoja itu sambil mengacak-acak rambutnya. Jumlahnya cukup banyak, yah, sekitar 8 buah. Tidak semuanya dari yeoja karena ada juga namja yang cukup akrab dengan Sungra mengingat sifatnya yang outgoing dan agak berperi ke-preman-an.

Meski begitu, Sungra tetap saja merasa ada yang kurang. Ia melirik layar hitam polos ponselnya, berharap benda itu bergetar halus, berpendar dan memunculkan notifikasi pesan baru di sana, pesan dari Taemin, tentu saja. Namja itu memang sudah mengucapkan selamat tadi pagi, namun Sungra masih kecewa. Ia tidak ingin menghubunginya duluan karena takut mengganggu –siapa tahu ia sedang latihan sekarang? Lagipula ia tidak ingin mengambil resiko ketahuan oleh teman-temannya. Terlalu berbahaya.

—–

Begitu Sungra memasuki restoran tempatnya bekerja dengan teman-temannya, ia langsung disambut oleh Raena yang tampak amat-sangat-senang-sekali. Raena langsung mengantarkan rombongan itu ke meja yang sudah dipesan Sungra tadi.

“Eonni kembali saja, nanti aku yang antarkan pesanan mereka ke Hyunjoon-eonni~” bisik Sungra. Raena mengangguk cepat lalu kembali ke depan pintu utama. Tampak ia menghampiri Hyunjoon sebentar, tapi Sungra tidak sempat memperhatikan karena ia sudah sibuk dengan pesanan teman-temannya.

“Eonni, pesanannya~” Sungra menyodorkan kertas di tangannya ke Hyunjoon. Yang diberi kertas mengangguk-angguk saat membacanya sekilas. “Kau mengajak anak sekelas ke sini?” tanyanya.

“Sebagian besar, sih. Kenapa?”

“Yakin sanggup membayarnya?”

“Eeei-_- aku sudah menabung untuk ini eonn, hehehehe~”

Hyunjoon hanya menggelengkan kepalanya sambil mengangsurkan kertas itu ke Mirae. “Kembali ke kursimu sana Ra-ah, aku takut kau refleks berjalan menuju dapur setelah ini.”

Sungra terbahak. Ia mencubit lengan Hyunjoon keras lalu kembali ke meja tempat teman-temannya menunggu sambil mengobrol, berusaha mengikuti alur percakapan yang ada. Diam-diam ia mengambil ponsel di sakunya untuk mengeceknya, dan kecewa saat mendapati tidak ada apa-apa di sana. Memangnya ia bisa berharap Taemin akan sempat menghubunginya?

“Kenapa cemberut Sungra-ah? Senyuuum~~” Jangmi menarik pipi Sungra hingga membentuk senyuman tidak jelas. “Kau kenapa? Mau cerita?”

“Hanya menunggu sesuatu saja.” jawab Sungra singkat, memaksakan senyum tipis di bibirnya. Jangmi mengerutkan kening tapi tidak lanjut bertanya. Mungkin Sungra perlu diam dulu, begitu pikirnya.

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan bersahutan dari belakang Sungra. Gadis itu refleks menoleh, dan matanya langsung membulat kaget saat melihat para pegawai restoran termasuk si bos, Jinjoo, berjalan ke arahnya sambil menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’. Raena berada paling depan dengan cake cokelat ukuran sedang di tangannya, lalu Hyunjoon, Chaekyo, Mirae, dan beberapa orang chef serta waitress maupun waiter lainnya. Wajah gadis itu memerah, malu bercampur senang. Kerumunan yang menarik perhatian itu berhenti di sebelah meja Sungra. Nyanyian juga ikut terhenti. Raena meletakkan cake cokelat itu di depan Sungra perlahan lalu menoleh dan tersenyum ke si gadis ulang tahun. “Saengil chukhahae saengie-ah~” katanya sambil memeluk Sungra cepat, disusul oleh Hyunjoon, lalu Chaekyo yang menjitak kepala Sungra. Karyawan lainnya juga ikut mengucapkan selamat meski hanya sekadar menyalami, bahkan Jinjoo yang pelit senyum hari ini tersenyum lebar.

“Makan dengan teman-temanmu ya saengie-ah, sudah kami bayar kok~” kata Hyunjoon sambil mengerling ke arah Raena dan Chaekyo. Sungra tertawa, mengangguk cepat, berterima kasih kepada mereka semua. Chaekyo menyodorkan sebuah paperbag bertuliskan nama restoran mereka. “Kado.” katanya saat Sungra menatapnya heran. Senyum gadis itu semakin merekah dan ia hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk semua orang di dekatnya.

“Gomapta eonnideul~ saranghae!”

—–

Sungra memasukkan nomor kombinasi apartemennya lalu memutar gagang pintu, melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Ia menyalakan lampu, menarik napas sambil membawa tas-tas kertas besar dengan jumlah cukup banyak bertuliskan nama restoran tempatnya bekerja. Tadi ia memang terpaksa meminta beberapa ke Hyunjoon karena tas ranselnya tidak cukup untuk memuat kado-kado dari teman-temannya di tempat kerja dan sekolah.

Ia meletakkan bawaannya di karpet ruang tengah lalu duduk bersila, membuka isinya satu persatu. Sebuah novel dari Hyunjoon. Tas selempang dari Raena. Lalu satu seri lengkap komik dari Chaekyo. Jinjoo? Ia memberi diskon tambahan ke Sungra tadi saat membayar makanannya. Ada juga dua buah lensa kamera, satu tele dan satu macro, kata Raena itu titipan dari Kyuhyun, Sungmin dan Changmin seperti yang diamini oleh Hyunjoon serta Chaekyo. Mirae memberinya sebuah sketchbook lengkap dengan satu set pensil sketsa, pas sekali karena sketchbook Sungra sudah hampir habis.

Gadis itu bangkit berdiri, meninggalkan satu tas lainnya yang masih tertutup dan berjalan menuju dapur, berniat minum. Tapi dering ponselnya yang ia letakkan di atas karpet menghentikan langkahnya. Ia terpaksa mengambil benda itu dan mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Yeoboseyo?” katanya. “Siapa ini? Heiii~”

“Kau tidak membaca Caller ID seperti biasa ya? Bukakan pintunya dong, ada Onew hyung juga nih~”

Sungra terdiam. Ia langsung berjalan cepat ke pintu apartemennya, membukanya dengan terburu-buru dan mendapati satu orang yang sudah membuatnya galau hampir sepanjang hari. Sekarang orang itu berdiri di depannya dengan jarak kurang dari 1 meter, utuh, dengan potongan rambut normalnya dan trench coat hitam. Refleks Sungra memeluk namja itu tanpa mempedulikan Onew yang berada di dekat mereka, sekarang hanya menggelengkan kepala melihat apa yang terjadi di depannya.

“Selamat ulang tahun~” kata Taemin sambil balas memeluk Sungra, menepuk kepalanya beberapa kali. Sungra diam, tapi matanya mulai basah dan air matanya tidak butuh waktu lama untuk tumpah, membasahi jaket Taemin.

“Hei, Taeminnie-ah, Sungra menangis…” Onew memberitahukan seakan itu hal yang penting. Taemin langsung mengangkat dagu Sungra pelan hingga wajah gadis itu terlihat.

“A, aigo! Ra-ah uljjima~ jangan menangis, jebaaaal~ mianhaeee~” ia mengusap perlahan mata gadis di depannya. Tangis Sungra justru makin menjadi dan ia kembali memenamkan kepalanya di badan Taemin sambil terisak keras.

Onew mengambil keputusan dengan menyuruh mereka masuk. Setidaknya bisa menghindar dari penglihatan orang lain. Akan gawat kalau ada yang melihat dan mengira mereka hendak bertindak macam-macam ke Sungra, mengingat dandanan mereka sekarang mirip teroris.

“Saengil chukhahae dongsaeng-ah~ kenapa tidak main ke dorm lagi?” tanya Onew sambil mengacak rambut Sungra yang masih mengusap-usap matanya yang sembap.

“Oppadeul sedang sibuk kan? Kalau aku datang nanti jadinya malah mengganggu…” kata Sungra sambil menggunakan trench coat Taemin sebagai tisu untuk melap wajahnya. Taemin tertawa pelan lalu mengambil tisu di meja ruang tengah, menggunakannya untuk membersihkan sekitar mata yeoja itu. “Jangan pakai jaketku dong~” katanya kemudian. Sungra mencibir dan mencubit cepat lengan Taemin, membuat namja itu mengaduh pelan.

Onew membisikkan sesuatu ke Taemin, lalu Taemin kembali menatap Sungra dengan tatapan yang… sulit didefinisikan. Seperti agak bersalah dan tidak rela. Ia lalu balik berbisik ke Onew, seperti meminta tolong sesuatu. Onew menarik napas lalu kembali membuka mulut sambil mengerutkan kening, mungkin mencari-cari kata yang tepat untuk dikatakan.

“Ng… Sungra-ah…”

Sungra menoleh, menatap dua namja itu bingung. Taemin menunduk dengan mata tertuju ke jari-jari tangannya yang ia mainkan perlahan.

“Kami tidak bisa berlama-lama di sini, kau tahu, kan, kenapa? Manager-hyung juga sebenarnya tadi melarang Taemin pergi tapi karena ia memaksa akhirnya diperbolehkan, meski harus bersama denganku… ti, tidak apa-apa, kan?” kata Onew perlahan. Sungra diam, tangannya masih tertaut di ujung trench coat Taemin yang sedari tadi ia tarik-tarik. Taemin kembali menatap Sungra dengan tatapan tidak enak.

“Aku mengerti, kok…” kata Sungra akhirnya, tersenyum sambil balas menatap Taemin, lalu beralih ke Onew. “Jadi, apa kalian sekarang sudah akan pulang? Tidak mau minum dulu?” tawarnya, masih tersenyum, tapi ada sedikit gurat kecewa di matanya.

“Mianhae Sungra-ah, tapi kami harus pulang sekarang. Kau tidak keberatan, kan?” Onew berusaha meyakinkan diri sekali lagi. Sungra menggeleng. “Sama sekali tidak keberatan.” katanya. “Yah, kalau memang oppadeul sedang sibuk aku harus bagaimana lagi?”

“Hyung… ng, tinggalkan aku dan Sungra dulu, sebentar saja, tolong.” pinta Taemin. Onew mengangguk setuju, mengangkat 3 jarinya menandakan Taemin punya waktu 3 menit untuk menyelesaikan urusannya dengan Sungra.

Setelah hanya ada mereka berdua di ruangan itu, suasana kembali hening. Taemin tidak juga mulai bicara sementara Sungra terlalu takut untuk bicara, takut tidak bisa menahan air matanya lagi. Padahal waktu terus berjalan dan jelas-jelas Taemin hanya punya waktu sedikit untuk bicara dengan Sungra.

“Kau serius tidak apa-apa?” tanya Taemin akhirnya. Sungra menghela napas, mengusap ujung matanya sedikit. “Ne, tidak apa-apa. Ini pekerjaanmu, kan? Resiko. Resikomu, resikoku, resiko kita. Kalau kau sibuk aku juga tidak bisa lantas marah-marah ke agensimu untuk memintamu diliburkan, benar tidak?”

“Ra-ah, jangan pernah mencoba berbohong padaku, oke?” Taemin mengusap sekilas puncak kepala Sungra. “Sebenarnya keberatan, ne? Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Semuanya jadi berantakan, harusnya aku tidak berjanji padamu bulan lalu.”

“Kau tidak kuanggap mengingkari janji, Min-ah.” tukas Sungra cepat, telunjuknya diketukkan ke dahi Taemin yang tertutup poni. “Kau bisa datang juga aku sudah sangat senang. Gomapta. Jeongmal. Memang aku keberatan, tapi sudah tidak terlalu kok sekarang…”

Taemin terdiam. Ia menatap Sungra, dan setelah benar-benar yakin baru ia memeluk erat gadis itu dan menepuk kepalanya beberapa kali. “Aku pulang sekarang?”

Sungra mengangguk cepat, lalu mendorong Taemin ke arah pintu apartemennya. “Pulanglah. Besok kalian comeback, kan? Kau harus istirahat. Onew-oppa juga. Jangan lupa sampaikan terima kasihku padanya, oke?” katanya.

“Ne, dasar cerewet~”

“Tidak boleh mengejek yang sedang ulang tahun~”

Taemin terkekeh, mengacak rambut Sungra lagi sebelum memutar handle pintu dan melangkah keluar, menemui Onew yang sudah menunggu. Sungra melambaikan tangan ke kedua namja itu, lalu segera menutup pintunya perlahan kemudian duduk di balik pintu, menyandarkan punggungnya ke permukaan datar di belakangnya. Air matanya sudah hampir merebak lagi tapi kali ini ia berhasil menahannya dengan hampir sempurna. Mungkin hanya sedikit yang berhasil membuat matanya berkaca-kaca kembali, ya, sedikit.

Setidaknya ini tidak seburuk yang ia perkirakan sebelumnya.

Advertisements

2 thoughts on “[One-Shot] Could it be Worse?”

  1. *lanjut nangis di sini*

    kamu ngerti yaaa kalo mereka lagi sibuuuk :”’
    onew, cari pacar sana, biar ada yang nangis juga pas kalian kambek *diayamin(?)onyu*

    si sungra banyak yaaa dapet hadiaaah XD
    traktirannya buat anak” resto jangan lupa tuh, apalagi si bos *ngakak*

    mintak komiiiiikk *eh

    saengil chukkaeyo~~ \(^o^)/

    1. *sodorin tisu*

      iyaaaaa~ tau kooook~
      hubungannya?-_- ini kan si sungra nangisnya kecewaaaaaaaaaaaahhhh~

      iya di sini… kenyataannya kagak ada -3- *pundungmaksimum
      ogah! selama si bos gak naikin gaji ya ogah-_-

      enak ajaaaaaaaaaaaa~

      gomapta eonniiiiiiiiiiiiiiii~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s