[Flashfiction] Droplets

Manik hujan berebutan turun, membanjiri udara siang yang kering dengan air. Debu-debu di trotoar yang terhujam tetesan air terbang menyebar. Gadis kecil di tepi jalan menarik tudung mantelnya, berusaha melindungi diri dari tetesan materi basah yang dingin.

Gadis itu kurus, tubuhnya terlalu tinggi untuk anak seusianya. Lengannya berbalut mantel kusam bekas kakak-kakaknya, digulung sedikit karena terlalu panjang dan kedodoran, sekaligus karena ia ingin merasakan gerimis tanpa perlu membasahi kepala.

Hujan menderas tetapi gadis itu diam di tempatnya. Orang-orang berlarian ke teras-teras, kanopi-kanopi jendela yang berwarna-warni, berusaha berteduh dari tampias hujan. Angin berhembus makin kuat, gadis itu mulai menggigil tapi tidak bergerak. Ia masih ingin menikmati hujan, sedikit lagi, sedikit lagi.

Tiba-tiba gadis itu mendongak. Seseorang mengganggu aktivitasnya, seseorang menghalanginya dari air hujan. Payung transparan besar berada di atasnya saat ia mendongak. Gadis itu berbalik dan terkejut saat melihat seorang anak laki-laki sebayanya yang sedang memegang gagang payung.

“Kau bisa sakit…” si lelaki kecil berkata pelan. Ia menarik telapak tangan gadis di depannya ke tangan kecilnya, menggenggamnya erat, berusaha membagi sedikit kehangatan. “Kau harus pulang, mengganti baju, dan tidur di bawah selimut. Ayo, kuantar.”

“Aku tidak mengenalmu. Kata ibuku, aku tidak boleh ikut dengan orang asing.”

“Aku bukan orang jahat.”

“Sama saja. Kakak-kakakku akan mengusirmu begitu kau terlihat.”

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Ibuku… sudah tidak ada.”

“Tapi kau tetap harus pulang ke rumah…”

“Aku tidak mau. Kakak-kakakku jahat!”

“Lalu di mana kau akan tidur?”

“Tidak tahu.”

“Lalu pakaianmu?”

“Tidak tahu.”

“Kau bisa mati di jalan!”

“Apa dengan begitu aku bisa bertemu ibu?”

Anak laki-laki kecil itu diam. Ia masih menggenggam tangan si gadis kecil, bola matanya berkilat cepat tanda ia mendapat ide. “Kau bisa pulang ke rumahku. Ibuku baik! Kau pasti akan menyukai ibuku!” katanya riang.

“Tidak mau. Aku lebih suka di sini. Aku suka hujan. Sangat suka.”

“Kau bisa melihat hujan dari dalam rumahku, sambil menghangatkan badan di depan tungku perapian. Kau mau, kan? Itu menyenangkan sekali.”

Gadis kecil tampak gundah. Ia memainkan tali mantelnya. “Aku…”

–end

Advertisements

5 thoughts on “[Flashfiction] Droplets”

  1. jangan mau! jangan mau!
    ntar diculik! \m/
    tapi kasian, anak kecilnya sendirian? :’
    sinisini sama mbak aja~~ *gendong(?)
    kesan kesepiannya…….*jleb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s