Sketches, Sketcher, Object | #1 : The Troublemaker

Title: Sketches, Sketcher, Object | #1 : The Troublemaker
Genre: romance, school life, slice of life, anything like that (yang terakhir random)
Rating: PG-13
Character: major chara here~

ideas are purely KimRae‘s. hanya merealisasikan dalam bentuk FF, hehehehe XD

Sret, sret, sret.

“Yak, ada usulan lain?”

Aku buru-buru membanting pensilku ke meja dan meraih pena. Sialan, apa tadi usulnya? Siapa yang mengusulkan? Kutarik buku notulen rapatku hingga menutupi sketchbook ukuran A5 yang baru saja kucoret-coret. Jangan tanya dulu sketsa apa, aku sendiri masih sibuk mengkopi tulisan di whiteboard ruang OSIS ini. Dan aku masih belum tahu siapa yang memberi usul itu! Tamatlah riwayatku setelah ini.

Tatapanku teralih ke orang yang sedang bicara di depan, memimpin rapat tentang perijinan salah satu event sekolah. Pikiranku terpecah, yang satu mendengarkan kata-katanya sementara yang satu lagi memperhatikan wajah orang itu lekat sambil tetap menulis di buku. Sayang perpecahannya tidak proporsional, mungkin dari 10 detik hanya 1 detik saja aku menatap buku, sisanya kuhabiskan untuk ‘kegiatan’ sampinganku yang satunya. Tidak heran banyak coretan error tersebar di notulen kecilku.

Lee Taemin. Umur 17 tahun, 18 tahun Juli nanti. Satu angkatan denganku. Ketua OSIS (aku sekretaris, kurasa sudah bisa ditebak dari pekerjaanku –yang sempat kutinggalkan tadi), pintar, pendiam, kalem, sopan. Tipikal ketua OSIS teladan, sangat mudah membayangkan seperti apa sosoknya. Satu lagi, wajahnya itu… mm, menurutku sangat lebih dari lumayan. Di atas rata-rata. Salah satu faktor mengapa ia bisa dibilang cukup populer di sekolah selain fakta bahwa ialah ketua OSIS di sini. Objek utama dalam sketsaku. Eh, ups.

Oke, oke, aku mengaku. Iya, aku menyukainya. Sedikit atau banyak aku tidak tahu. Aku jarang berinteraksi dengannya kecuali dalam hal pekerjaan di OSIS, tapi setidaknya itu bisa menjauhkanku dari resiko salah tingkah. Ya, kan? Karena kami masih harus bekerja sama setidaknya sampai masa jabatan kami berakhir. Dan aku tidak akan bisa bekerja dengan baik kalau ada sesuatu yang janggal, sama sekali tidak akan bisa.

—–

Aku memasuki ruang OSIS yang sudah ramai. Hari ini lagi-lagi ada rapat membahas proposal kegiatan dari sekolah lain yang ingin meminjam area sekolah kami. Sekolah sebelah, sih, yang punya event itu. Mungkin karena area sekolah mereka tidak cukup, mereka ingin meminjam area sekolah kami.

Jongjin menghampiriku, meminta salinan dan file asli proposal dari sekolah itu. Terburu-buru kuserahkan salah satu dari dua map identik yang ada di tanganku tanpa sempat mengeceknya, termasuk si file asli yang kuletakkan di atas map, tatapanku masih tertuju ke laptop yang langsung kunyalakan begitu duduk. Aku masih belum menyelesaikan tugas yang deadline-nya hari ini! Bisa gawat kalau nilaiku jadi kosong!

“Jongjin-ssi, tolong bacakan berkasnya.” pinta Taemin setelah rapat dibuka. Aku segera menutup laptop, meninggalkan pekerjaan yang baru 75% jadi itu, lalu meraih tempat pensil dan buku notulen, bersiap mencatat meski sebagian besar isi proposal itu sudah kubaca dan kubuat list secara garis besarnya di buku. Kuarahkan pandangan ke Jongjin, berusaha tidak melihat ke Taemin yang duduk di kursinya. Tunggu, kenapa wajah Jongjin tampak aneh?

“Dibaca?”

“Ya, dibaca. Ada masalah, Jongjin-ssi?” Taemin bertanya dengan nada serius. Jongjin menggeleng dan mulai membaca. Memangnya ada apa?

Seems like you didn’t see me, well, am I rightBecause you never do. Memangnya aku bisa berharap? Aku rasa tidak. Terlalu jauh jaraknya. Seseorang sepopuler kau, Lee Taemin-ssi, memangnya akan melihat keberadaan orang yang biasa-biasa saja seperti aku?”

Mendadak aku merasa sulit bernapas. Aku langsung membuka map yang ada di sebelahku, dan salinan proposal dari sekolah sebelah menyembul di tumpukan paling atas. Sial! Tertukar! Itu… yang dibacakan Jongjin itu… salah satu dari entah berapa belas surat yang sering kubuat untuk Taemin yang tentu saja tidak pernah aku berikan! Yang kukumpulkan dalam satu map bersama dengan sketsa-sketsa wajahnya! Kenapa aku bisa seceroboh itu? Dasar bodoh!

“Sudahlah. Apa mungkin memang lebih baik cukup seperti ini saja? …S. Wah, Sungra-ah, jangan-jangan ini kau?” Jongjin berkata dengan nada bercanda. Seisi ruangan tertawa dan aku terpaksa ikut agar tidak terlihat mencurigakan. Bagaimana aku bisa lupa kalau hanya aku sendiri yang memiliki nama panggilan dengan huruf depan S di dewan OSIS? Tapi… tapi… kan ada Joohyun dan Dongwoon, dua orang dengan marga S… tapi tetap saja, sih.

Kulirik Taemin dari sudut mataku sambil pura-pura sibuk menulis di buku. Ia tidak tertawa, tetap terlihat kalem, hanya merona sedikit, tapi kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Jongjin. Wajahnya terlihat agak marah sekarang. “Kim Jongjin-ssi, tolong bersikaplah serius dan profesional saat rapat!” sentaknya sambil merebut map dan kertas-kertas di genggaman si wakil ketua. Anggota dewan yang lain tampak kaget, jarang sekali kami melihat Taemin yang seperti itu. Taemin lalu membuka map itu, memasukkan suratku, dan mengembalikan proposal asli ke Jongjin sambil menyuruhnya membacakannya lagi.

Taemin kembali duduk dan sekarang aku benar-benar tidak mampu berkonsentrasi. Ia membuka map di depannya lagi, mengintip isinya, mengeluarkan sebagian yang berupa surat dan sketsa. Semuanya kuberi inisial S, mana berani aku menuliskan nama lengkapku di sana?

Ia meletakkan surat-suratnya di pangkuan, sepertinya lebih tertarik dengan sketsa-sketsanya. Matanya mengamati kertas-kertas itu satu-persatu, meletakkan kembali yang sudah ia amati di sebelahnya.

Myungwoo yang duduk di sebelah Taemin ikut-ikutan mengamati sketsa. Toh Taemin tidak melarang. Tatapan Myungwoo tertuju ke satu sketsa dan ia menarik kertas itu mendekat, mengamatinya lebih lanjut.

“Ini?”

Myungwoo meletakkan satu lembar kertas di tengah meja. Aku meliriknya dan bertambah panik dalam hati. Itu sketsa Taemin saat sedang berlatih dance dan aku tidak sengaja melihatnya! Itu rahasianya, kan? Rahasia pribadi Taemin, kan?

Anggota dewan lainnya tampak terkejut. Tentu saja, yang mereka kenal kan hanya Lee Taemin yang serius. Tidak mungkin seorang Taemin mengikuti kegiatan yan sangat-bukan-dia seperti dance atau apa, begitu dari kacamata mereka. Paling-paling ia mengikuti klub catur atau klub sastra, pokoknya hal-hal klasik semacam itu. Itu juga yang membuatku kaget saat melihat Taemin yang berlatih sendirian di studio sekolah, karena stigma itu.

Sketsa yang satu itu kuanggap sebagai satu hal yang paling krusial tingkat kerahasiaannya karena ada rahasia dua orang di sana. Wibawa Taemin mungkin akan langsung jatuh seketika jika sketsa itu tersebar. Dan namaku juga, kalau ketahuan.

Taemin merenggut kertas itu dari tengah meja, wajahnya memerah menahan malu. Aku memekik tertahan karena ia hampir saja membuat lecek kertas itu, tapi untungnya tidak. Saat Myungwoo menanyainya soal kegiatan dance itu, Taemin langsung menyanggah mentah-mentah. “Mana mungkin aku ikut dance, Jung Myungwoo-ssi?” katanya sembari merapika semua kertas di depannya ke dalam map lagi. Ia lalu memutuskan untuk menyimpan map itu di tasnya agar tidak mengganggu rapat lagi. Aku menghela napas lega, setidaknya tidak akan ada keributan lagi sampai rapat selesai dan aku akan aman untuk sementara waktu.

“Siapapun yang melakukan ini harus bertanggung jawab.” desis Taemin, tak sengaja terdengar olehku. Nada bicaranya benar-benar mengancam. Oh tidak.

—–

Entah sudah berapa kerikil yang jadi korban pelampiasan rasa sebalku. Puluhan mungkin. Kesal karena aku bisa sebodoh itu sampai tertukar map ternyata berefek seburuk ini. Yah, efeknya memang buruk! Sekarang semua berkas rahasiaku itu ada di Taemin, orang terakhir yang kuharap akan membacanya!

Aku melanjutkan berjalan ke halte bus, masih menendang-nendang kerikil yang bernasib sial di kakiku. Halte bus tidak terlalu penuh, hanya ada beberapa orang  yang semuanya mengenakan jas sekolahku. Hampir semuanya kukenal, jadi aku menyapa mereka sambil memaksakan senyum untuk alasan sopan-santun. Aku segera berdiri di urutan terakhir… yang sialnya tepat berada di belakang Taemin. Ia hanya tersenyum sopan dan mengangguk saat aku menyapanya sebelum mengantri paling ujung.

Tanganku meraih earphone di dalam saku jas, berusaha mencari pengalihan perhatian dari namja di sebelahku. Lagu yang mengalun dari earphone sama dengan lagu yang dipakai Taemin untuk berlatih dance saat itu, di hari Jumat sore saat sekolah sudah sepi. Aku baru pulang karena harus membereskan lemari arsip ruang OSIS yang porak poranda. Sebenarnya itu pekerjaan rutinku dan biasanya tidak terlalu berat, tapi saat itu keadaannya benar-benar mengenaskan pasca kami sepakat mengubah tata letak ruangan itu demi mengakomodasi jumlah kursi yang membengkak. Apa aku belum memberi tahu kalau lemari arsip sekolah kami hanya berupa lemari model lama yang tidak bersekat-sekat untuk memisahkan antara satu arsip dengan arsip lainnya? Makanya begitu dipindahkan isinya langsung berantakan, dan terpaksa kusortir ulang agar tidak makin berantakan jika ada yang mencari suatu berkas di sana. Bukannya aku tidak ingin dibantu, tapi aku rasa hanya aku yang memahami sebagian besar isi lemari itu, jadi ya sudahlah.

Ruang OSIS kami selantai dengan studio sekolah yang multifungsi: bisa untuk latihan musik maupun latihan ekskul dance. Saat aku berjalan melewati ruangan itu aku mendengar suara musik dengan beat cepat dan suara yang cukup keras, dan itu membuatku penasaran. Sudah sore, kan? Siapa yang masih berlatih di sini?

Pintunya tidak tertutup rapat. Aku berusaha mengintip dari celah pintu dan langsung menahan diri agar tidak berteriak kaget. Buru-buru aku duduk di sebelah pintu lalu kembali mengintip ke dalam. Dari posisi ini pasti tidak akan terlalu terlihat untuk melanjutkan pengamatan meski dinding di depan Taemin terlapis cermin seluruhnya. Memangnya dia akan sempat melihat ke arah bawah sementara sedang berlatih?

Mengamati rambut Taemin yang terkibas seirama gerakannya yang menyesuaikan dengan ritme lagu itu, aku meraih sketchbook dari dalam tas dan mulai membuat sketsa kasar. Aku mengambil bagian saat ia melakukan gerakan popping dengan lengannya, agak sulit memang. Sesekali kepalaku mengintip ke dalam untuk melihat lagi pakaian yang ia pakai, sneakers hitam, celana training abu-abu, kaus dan jaket. Ia terlihat sangat berbeda dengan sosok yang selama ini aku kenal, bagian lain dirinya yang serius dan kaku berubah seketika menjadi seseorang yang sama sekali asing.

Aku berhenti ketika lagu hampir mencapai akhir tapi tetap menyempatkan untuk melihat Taemin menutup sesi latihannya dengan mengangkat tangan ke atas. Setelah itu, aku segera berdiri dan kembali berjalan ke arah tangga setelah menyelipkan sebotol minuman isotonik yang baru saja kubeli ke dekat tasnya. Untung ia meletakkannya di sebelah pintu.

Bunyi klakson bus membuyarkan lamunanku. Yak, yang ditunggu sudah datang. Antrean mulai bergerak mendekati pintu bus setelah beberapa orang keluar. Begitu menapakkan kaki ke tangga, aku langsung sadar kalau tidak ada tempat duduk yang kosong dan tidak ada yang berdiri. Aku antrean terakhir. Bukannya aku keberatan kalau harus berdiri, sama sekali tidak. Tapi kalau berdirinya sendirian… aku rasa itu juga bukan ide yang bagus. Tidak ada teman kalau aku jatuh saat bus mengerem mendadak!

Aku menghela napas dan melangkah ke lorong bus, memutuskan berdiri di paling belakang agar tidak jadi pusat perhatian satu bus. Tanganku meraih pegangan bus, mencengkeramnya kuat sementara bus mulai berjalan. Aku harap si sopir tidak akan mengerem mendadak.

“Duduk saja.”

Aku menoleh ke sebelahku, terkesiap saat melihat siapa yang barusan menawariku tempat duduk. Taemin sudah setengah berdiri dengan ransel tersandang. Hei, dia serius?

“Duduklah, Sungra-ssi. Tidak apa-apa.” kata Taemin sekali lagi. Pergantian posisi terjadi dalam waktu singkat, sekarang Taemin ganti berdiri di sebelahku. Tidak, aku tidak mau percaya diri terlebih dahulu dengan mengatakan kalau ia melakukannya karena tertarik padaku (meski sebenarnya aku berharap begitu). Dia punya manner, omong-omong. Jadi sudah jelas apa alasan tindakannya.

—–

Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu dan aku… masih belum bisa mengambil alih mapku lagi. Bagaimana bisa aku mengambilnya kalau Taemin tidak pernah terlihat membawanya di manapun? Atau mungkin sebenarnya map itu berada di tasnya, hanya tidak pernah ia keluarkan dari sana? Sama saja tidak bisa kuketahui keberadaannya. Lagipula aku tidak sekelas dengannya, tidak ada kesempatan tambahan untuk mencuri lihat ke dalam tas namja itu selain saat ada pertemuan OSIS. Dan saat itu tasnya selalu berada dalam jangkauan tangan maupun pengelihatannya.

Taemin tidak berusaha mencari siapa pemilik map itu sebenarnya. Semakin ke sini, ‘kasus’ itu juga makin jarang dibicarakan, sepertinya karena memang tidak terlalu menarik. Kasus secret admirer sudah cukup banyak menimpa Taemin jadi itu sama sekali bukan sesuatu yang cukup ‘panas’ untuk dibicarakan. Pada awalnya memang aku ikut terseret sebagai tersangka meski hanya di kalangan dewan OSIS, dengan Joohyun juga, mengingat marganya –Song. Dongwoon juga bermarga dengan huruf depan S, Son, tapi dia kan namja-_- isu itu mereda karena tidak ada bukti. Joohyun sendiri terkenal sebagai seorang yeoja yang cukup populer, mustahil ia menjadi secret admirer seseorang jika ia bisa menarik perhatian hampir semua namja di sekolah. Taemin tidak termasuk dalam kategori hampir semua itu, tentu saja. Tapi kalaupun Joohyun tertarik padanya, ia pasti akan mendekati Taemin secara terang-terangan. Dan juga agresif. Bagaimana denganku? Tuduhan padaku menguap begitu saja tidak tahu kenapa. Antara aku memang tidak pantas menyukai Taemin atau bagaimana di mata mereka, yah, setidaknya aku bisa bernapas lega sekarang.

Tunggu sebentar. Pintu ruang OSIS tertutup rapat tapi tidak terkunci. Indikasi baru saja ada orang yang masuk lalu keluar lagi. Biasanya kunci pintu ini diletakkan di tempat rahasia yang hanya diketahui anggota OSIS, jadi sudah pasti ada orang yang baru saja membukanya.

Saat aku melangkah masuk, ruangan kosong. Lampu menyala tapi AC belum dihidupkan. Aku mematikan lampu dan membuka tirai lebar-lebar, lalu melangkah memutari ruangan. Apa tujuanku ke sini tadi? Oh iya, merapikan dokumen rutin!

Aku masih menyusun berkas-berkas OSIS sesuai urutannya saat pintu ruangan itu mengayun terbuka. Satu kepala melongok masuk, Taemin, dan refleks aku mengalihkan pandangan ke tumpukan kertas di pangkuanku dalam tempo satu milidetik. Meski begitu, tetap saja aku meliriknya lewat sudut mata.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil melangkah masuk.

“Ng… hanya membereskan dokumen. Ada terlalu banyak dan semuanya berantakan.” jawabku. Di tangannya ada beberapa buah map, termasuk mapku! Harus segera kuambil!

Ia mengangguk-angguk, mengitari ruang OSIS sebentar, lalu kembali beranjak keluar. Segera kurapikan kertas-kertas yang tersebar, kuletakkan di atas meja dengan ditindih sebuah pelubang kertas. Aku bergegas menarik handel pintu hingga terbuka dan menoleh ke kiri-kanan untuk mencari Taemin. Nah, itu dia! Target sedang menuju perpustakaan!

Taemin berjalan memasuki perpustakaan dan aku segera mengikutinya dengan langkah lebar, mencoba meminimalisasi suara yang mungkin terdengar. Aku mengendap-endap pelan di belakangnya, tidak mau ketahuan. Ia menuju section kesukaannya di perpustakaan, bagian novel terjemahan. Dari mana aku tahu? Apa sih yang seorang semi-stalker tidak tahu?

Namja itu meletakkan tumpukan mapnya di atas meja dan pergi untuk memilih novel. Setelah memastikan ia tidak melihat, aku segera menghampiri meja itu kemudian mengambil mapku yang ada di tumpukan paling atas. Sengaja atau tidak? Jangan-jangan…

“Jadi, kau?”

Aku tersentak, langsung memutar kepala dan badan 180 derajat. Taemin melangkah ke arahku dengan wajah yang sulit dibaca –ekspresi datar dan kalemnya yang biasa.

“Aku apa?”

“Map itu punyamu? Isinya juga? Surat-suratnya? Sketsanya? ‘S’ itu… kau?”

Kutundukkan kepalaku dan mengangguk pelan, tidak tahu harus berkata apa lagi. Masa jabatan pengurus OSIS masih ada 6 bulan lagi, bagaimana aku akan menghadapinya setelah ini dalam kurun waktu selama itu?

“Teruskan saja, aku suka caramu menggambarku. Lain kali tidak usah sembunyi-sembunyi begitu.”

“E, eh?” tidak tahu seaneh apa wajahku kelihatannya, tapi yang pasti aku amat-sangat-kaget sekali dengan kata-katanya barusan. Saat aku mengangkat kepala untuk menatapnya, ia juga sedang menatapku sambil tersenyum. Manis, terlalu manis apalagi setelah aku dirundung kekhawatiran selama ini. Aku bisa mati kehabisan napas! Toloooong!

“Aku serius, Lee Sungra-ssi. Oh iya, minggu nanti, bisa ajari aku menggambar?”

–end

Advertisements

3 thoughts on “Sketches, Sketcher, Object | #1 : The Troublemaker”

  1. u-wow….*hening*
    ..
    ..
    ..
    AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!! *plak! *ditabok

    deskripsi taemin yang dingin agak sedikit greget(?) kayaknya :7
    terus itu, jadi sikrit etmayer kayak sungra itu ya…..sesuatu banget *eh
    makasyih idenya dipake XD

    1. ini kenapa-__-

      iya nih, baru ngeh sekarang -_-
      iya, emang sesuatu, hayooooo pengalaman ya? *plak! *sendirinya juga aja
      samasamaaa~ makasih idenyaaaa XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s