Sketches, Sketcher, Object | #2 : A Tiny Drop of Hope

Title: Sketches, Sketcher, Object | #2 : A Tiny Drop of Hope
Genre: friendship
Rating: G
Chara: usual + Byun Baekhyun!

Taemin sangat jarang menata rambutnya saat di sekolah. Biasanya ia hanya menyisirnya rapi hingga berbentuk seperti jamur, memberikan kesan culun jika dilihat sekilas, padahal sebenarnya itu membuat wajahnya terlihat lucu. Tapi jika berkesempatan melihatnya setelah olahraga (atau setelah latihan dance, tapi siapa yang pernah melihatnya selain aku?) maka kau pasti akan mengakui bahwa ia jadi seratus kali lebih tampan di bawah rambut acak-acakannya. Untungnya Taemin tidak pernah merapikan lagi rambutnya setelah olahraga, jadi setidaknya sekali dalam seminggu aku bisa melihat wajah tidak biasanya. Well, kecuali jika siangnya ada rapat.

Pagi ini kami bertemu di taman. Aku sebenarnya tidak berharap banyak, tapi pikiranku tidak bisa berhenti menganggap ini sebuah kencan. Meski begitu toh aku tidak berdandan, tentu saja karena memang tidak pernah. Tidak juga berusaha memilih outfitku yang terbaik. Hanya menebak-nebak apa yang mungkin akan kami lakukan nanti. Menggambar… ah, tentu saja. Yang kubawa hari ini sketchbook A4, berbeda dengan hari biasanya.

Lalu Taemin muncul. Pakaiannya tampak berbeda, mungkin karena aku sudah terbiasa melihatnya dengan seragam. Hari ini ia memakai jaket ringan dan kaus plus blue jeans dan sneakers. Pemandangan langka. Ditambah rambut acak-acakan-tapi-rapi-nya, jadi makin langka. Ia pasti sadar kalau gaya rambut seperti itu akan menaikkan poin plus di wajahnya-_-

Ia berjalan ke arahku begitu aku melambaikan tangan. “Sudah lama?” tanyanya berbasa-basi. Aku menggeleng. “Mau di sini atau di mana?” tanyaku kemudian.

“Ada tempat lain yang lebih bagus dari sini memangnya? Kalau ada ya ke sana saja, kalau tidak merepotkan.” aku menggeleng. Yang kumaksud tempat lain itu bukit yang berada di dekat taman ini. Aku sering ke sana jika sedang stress atau tidak ada kerjaan, misalnya. Karena relatif sepi aku jadi bebas berguling-guling di atas bukit hijau itu. Lumayan untuk membuat otak segar lagi. Kalau tidak, biasanya aku menggambar, apa saja yang bisa kugambar.

Kami berjalan ke tempat itu dengan aku sebagai penunjuk jalan. Taemin berjalan di sebelahku meski kentara sekali tetap menjaga jarak, mungkin ada sekitar setengah meter. Tidak terlalu janggal, sih, tapi karena aku terbiasa dilingkupi lingkaran dekat yang heterogen, ini jadi terasa agak aneh. Aku lebih banyak dekat dengan namja daripada yeoja, omong-omong. Satu-satunya orang yang sering menjadi korban ceritaku soal Taemin saja seorang namja, si Baekhyun itu.

Bukit hijau mulai terlihat, jalanan mulai menanjak. Aku mengeratkan tali ranselku ke pundak dan mulai mendaki ke puncak bukit. Tidak terlalu jauh, kok. Landai saja. Puncaknya juga luas. Tapi pemandangannya sangat-sangat-sangat menyenangkan, terutama jika kau tahu titik-titik istimewanya.

“Di mana?” tanya Taemin. Aku menunjuk ke satu titik di bukit, tempat yang pemandangannya mengarah ke pusat kota dan dekat dengan sebatang pohon untuk bersandar. Ia menaikkan alis kemudian mengekorku ke arah pohon itu. Dan setelah aku meletakkan ranselku di tempat dan duduk, aku mulai menggambar. Objeknya orang yang sedang menggambar di sebelahku.

Aku sudah berkali-kali menggambarnya tapi baru kali ini bisa benar-benar memperhatikannya dengan baik. Tangannya lebih besar dariku, dengan jari-jari panjang dan ramping. Kira-kira seperti apa rasanya kalau bergandengan tangan dengannya? Mungkin hangat. Seperti akan memunculkan perasaan terlindungi.

Taemin berhenti menggoreskan pensilnya di buku sketsa lalu menoleh ke arahku. Apa tatapanku terlalu menusuk sampai ia merasa terganggu? Hei, aku rasa tidak.

“Boleh aku lihat gambarmu?” tanyanya. Refleks kujauhkan sketchbook-ku dari jangkauannya, terlalu memalukan karena aku menggambarnya lagi >/////////<

“Ayolah, tidak apa-apa kok…” ia menarik bukuku perlahan.

“Jelek! Jangan!” aku masih memegang ujung-ujung buku dengan jariku, tapi tenaga Taemin lebih kuat. Terpaksa kulepaskan karena aku tidak mau benda itu robek, masih baru soalnya.

Ia membalikkan lembaran isi sketchbook dan aku ganti mengambil bukunya. Isinya tidak banyak, hanya beberapa lembar yang sudah terisi. Halaman terakhir memuat gambar lansekap kota yang terlihat dari bukit taman ini. Dia pintar menggambar, kok, kenapa harus diajari?

“Ini aku?” ia menelusuri permukaan buku sketsaku perlahan dengan jemarinya.

“Ng… iya mungkin.” gumamku tanpa menatapnya. Ia terkekeh pelan, dari sudut mataku terlihat kalau ia masih menggerakkan jarinya di sekitar gambarku. Jadi ini maksudnya mengajakku pergi? Agar bisa mentertawakan gambarku yang memang jauh dari kata sempunrna itu? Melecehkannya dengan gambarnya sendiri? Ck, minta diajari. Alasan yang bagus.

“Kenapa tertawa? Gambarku aneh? Kau mau mengejekku atau bagaimana?” selaku cepat sambil memicingkan mata. Taemin mengerutka keningnya. “Siapa yang mengejek gambarmu?”

“Kau!”

“Aku tidak mengejek gambarmu! Ini bagus! Kan aku sudah bilang kalau aku suka caramu menggambarku!” ia mengembalikan buku sketsaku ke pangkuan dan ganti mengambil bukunya sendiri, membalik selembar halaman lalu kembali menggoreskan pensilnya tanpa merubah ekspresi dingin di wajahnya. Aku menghela napas, kembali mengerjakan detail sketsa Taemin yang belum sempurna. Garis-garisnya masih samar.

Taemin tampak serius sekali menggambar, aku jadi penasaran. Aku berusaha mengintip lewat bahu Taemin ke gambar di tangannya. Tidak terlihat, garisnya masih terlalu tipis, apalagi ditambah dengan sinar matahari yang sangat terang. Aku beringsut mendekat perlahan, berusaha mengintip lagi saat tiba-tiba ia menutup bukunya dan dalam waktu kurang dari 3 detik wajahnya sudah berada di depanku, hanya berjarak sekitar 10 cm. Refleks kumundurkan badanku, berusaha menjauhkan diri dari wajahnya.

“Jangan mengintip begitu… kalau mau melihat kau boleh bilang, kok.” kata Taemin. Aku tertawa rikuh, merasa tidak enak. Ia lalu mengulurkan sketchbook-nya ke depanku. “Mau?”

Kuambil buku itu lalu kembali membalik halamannya, melewati lansekap kota untuk menemukan selembar kertas putih. Ups, ada satu yang terlewat.

“Eh?’

Taemin mendekatkan kepalanya, ikut mengamati sketsanya sendiri. “Jelek, ya? Mungkin tidak sebagus gambarmu, hehehehe. Aku tidak terlalu bisa menggambar wajah orang makanya aku ingin diajari…”

Aku masih diam, tidak bisa mengatakan apa-apa. Gambarnya memang agak tidak proporsional, tapi tidak terlalu mengganggu. Malahan aku rasa terlihat lebih bagus dari objek aslinya. Aku iri dengan sketsa itu, dia jauh lebih cantik dariku. Memangnya benar itu yang Taemin lihat saat menggambar sketsa wajahku?

“Aku terlihat seperti ini?” tanyaku. Ia mengangguk cepat. “Setidaknya di mataku terlihat seperti itu. Tapi tidak tahu dengan hasil gambarku ya~”

Pipiku memanas dan aku langsung memalingkan wajah, kembali ke arah sketchbook lagi. Aku tidak bisa menebak antara ia serius atau tidak, bagaimana caranya, coba?

—–

Acara siang itu berakhir biasa. Tidak ada sesuatu yang romantis atau apa, yah, sesuai dengan yang sudah kuduga. Hanya menghabiskan hampir separuh siang dengan menggambar, lalu makan siang, lalu duduk-duduk di taman sampai kami bosan dan memutuskan untuk pulang. Untung aku tidak kelihatan aneh sendiri tadi.

Kami pulang naik bus karena ia bersikeras untuk mengantarku sampai setidaknya di halte paling dekat dengan rumahku. Nah, apa yang ini bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang berbau romantis? Sepertinya tidak, kan? Mungkin hanya sekadar balas budi saja. Ingat, Lee Sungra, jangan terlalu percaya diri dulu.

Sekitar lima menit lagi kami sampai di halte yang paling dekat dengan rumahku. Saat aku menanyakan ke Taemin soal rumahnya, ia hanya mengatakan kalau masih sejalur bus denganku, jadi sekalian. Tidak tahu bohong atau tidak, terserah dia sajalah.

“Sungra-ssi?” panggilnya sesaat sebelum aku turun. Aku menoleh, menatapnya bingung. Apa ada barangnya yang terbawa olehku, atau malah kebalikannya?

“Nanti setelah kau sampai rumah segera beritahu aku, oke?” katanya setelah aku melontarkan tatapan penuh tanya ke arahnya. Aku terkesiap karena kata-katanya sampai tidak bisa berpikir akan mengatakan apa setelah ini, hanya bisa mengangguk dan turun cepat-cepat dari bus. Aku tidak segera berjalan ke rumah, masih diam mematung di halte hingga bus itu kembali berlalu, berusaha mengumpul-ngumpulkan kesadaranku kembali. Dan saat kesadaranku benar-benar sudah utuh, yang pertama kali kulakukan bukannya bergegas menuju rumah tapi malah mengambil ponsel lalu menelepon seseorang, baru mulai berjalan.

“Baekki! Kau sedang apa?!” teriakku langsung begitu panggilan tersambung. Iya, aku menelepon Baekhyun, hehe. Aku perlu bertanya padanya apa yang harus kulakukan setelah ini sepertinya.

“Hoo, Ra-ya~ bagaimana ‘kencan’-mu? Hehe.” kata Baekhyun di seberang. Pipiku memanas lagi karena teringat apa yang dikatakan Taemin barusan. Aigoooo~

“Baru pulang, tapi…” dan aku langsung menceritakan semuanya ke Baekhyun, selengkap-lengkapnya yang aku bisa ingat. Utuh.

“Jadi bagaimana menurutmu? Aku boleh yakin dia juga menyukaiku tidak?” tanyaku ke Baekhyun. Hening beberapa saat, baru ia bicara lagi, “Ng… mungkin? Tapi jangan terlalu yakin dulu ya Ra-ya~ setidaknya tunggu satu atau dua clue lagi, baru kita bisa yakin. Ya kan?”

“Jadi intinya itu belum pasti? Yaaaaaaah~” aku tidak bisa menahan diri untuk tidak kecewa. Baekhyun diam lagi. “Baekki?”

“Tapi jangan jadi tidak semangat ya Ra-ya! Arra? Tunggu saja sebentar lagi~ kalau aku bilang, mungkin ia sudah mulai tertarik padamu setidaknya 25%, ng?”

“Geurae, Baekki-ya?”

“Tebakanku sih begitu, aku bukan peramal-_- pokoknya, Ra-ya fightiiiiiing! Semangat! Hehehehehe~” pesannya sebelum kami mengakhir obrolan. Aku menghela napas sambil meletakkan ponselku di saku lagi, lalu kembali melanjutkan berjalan pulang. Mungkin memang sesuai dengan perkataan Baekki, setidaknya ada sedikit lebih banyak harapan bagiku sekarang. Tinggal menunggu waktu saja, lagipula siapa sih yang tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa?

–to be continued

Advertisements

2 thoughts on “Sketches, Sketcher, Object | #2 : A Tiny Drop of Hope”

  1. ini…. sanggup bikin dugundugun~
    aigoooo belajar gambar bareng, berdua, di tempat yang bagus pula :”

    terus kamu cerita ke baekki? aigoooo 😄
    moga baekki–eh, ceritanya kan onnie belon tau! *plak!
    *lanjuuut~~

    1. He’eeee~~~ dan si sungra ngasih tau tempat ‘spesial’nya itu ke taemin~~ padahal awalnya cuma dia sama baek yang tau *eh
      Udah, jangan bongkar rahasia *eh *padahal udah dipublish(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s