Sketches, Sketcher, Object | #3 : Critical Breakdown, Essential Words

Title: Sketches, Sketcher, Object | #3 : Critical Breakdown, Essential Words
Genre: romance, angst, twist, friendship
Rating: PG-13
Character/Scene: Kaichou-sama!

Ruang OSIS sepi, hanya terdengar suara halus dari mesin laptop yang sedang kugunakan dan sesekali suara gesekan kertas yang dibalik Taemin yang sedang membuat laporan bulanan. Hanya ada kami di ruangan ini, dan entah kenapa, atmosfernya jadi terasa aneh TT….TT. Ini mungkin karena aku yang aneh, sementara dia biasa saja. Aku masih berharap apa yang dikatakan Baekhyun tempo hari benar, soal kemungkinan dia -Taemin- tertarik padaku sekitar 25%. Kalau benar begitu, kurang beruntung apa lagi aku?

Tiba-tiba Taemin menyodorkan sebotol minuman ke depanku tanpa berkata apa-apa. Apa maksudnya? Menawari, memberikan, atau malah menyuruh membukakan?

“I, ige mwoya?” tanyaku. Taemin mengangkat wajah dari kertas-kertasnya, menaikkan sebelah alis. Kentara sekali bingung dengan pertanyaanku. “Tidak tahu caranya? Begini, buka segelnya, buka tutupnya, tempelkan mulut botolnya ke bibirmu, lalu naikkan sedikit bagian ekornya, telan air yang masuk. Mengerti?” katanya cepat.

“Iya, aku juga tahu cara minumnya, tapi untuk apa?”

“Oh. Itu pengganti minuman yang dulu kau berikan itu. Kau pernah melihatku latihan dance, kan?”

“Siapa? Aku tidak pernah memberimu minuman isotonik rasa je…” aku berhenti bicara, sadar sudah terlalu banyak berkata. Dia tidak bilang apa-apa soal jenis minumannya! Memalukaaaaannnn!!

“Kan? Rasa minumannya tepat sekali lho omong-omong. Sudah, minum saja~” ia kembali ke tugasnya. Aku menghela napas, berusaha menghentikan salah tingkahku. Ini berbahaya sekali!

Suasana kembali hening, aku bingung hendak melakukan apa, tapi jelasnya aku senang sekali. Dia masih ingat soal minuman yang kuberikan! Ini bisa dikategorikan sebagai peningkatan, kan? Baekhyun harus tahu, tapi mungkin nanti saja setelah ini selesai. Dia pasti akan senang juga, sama sepertiku.

Dalam keadaan senang seperti ini, pekerjaanku jadi terasa sangat ringan. Mungkin hanya sekitar lima belas menit kemudian aku sudah menyelesaikan semua surat yang menjadi bebanku itu. “Pekerjaanku sudah selesai. Ng, aku… duluan?” pamitku ke Taemin.

“Oke. Aku juga mau pergi, kok.” katanya sambil memasukkan ponsel ke saku. Saat aku meliriknya sekali lagi, dia sedang tersenyum lebar, sepertinya senang sekali. Aku mencoba menahan rasa penasaranku, tapi sama sekali tidak bisa dan pada akhirnya tetap bertanya, “Pergi ke?”

“Bertemu seseorang.”

“Ng… yeojachingu-mu?”

Tidak bisa dibohongi kalau aku berharap ia menjawab bukan. Well, aku benar-benar ingin ia menjawab bukan.

“Bisa dibilang begitu, sih. Sungra-ssi, bisa permisi? Pintunya belum dikunci.” ia buru-buru menutup pintu ruang OSIS. Senyumnya masih mengembang di wajahnya, pasti itu untuk yeojachingu-nya. Bukan untukku. Bukan juga untuk alasan kesopanan seperti entah-berapa-ratus senyumannya tiap kali rapat.

Padahal aku yang berpamitan akan pergi duluan, tapi dia langsung berlari ke tempat parkir begitu selesai mengunci pintu. Aku masih diam di depan ruang OSIS, lututku terasa lemas. Padahal baru saja aku menganggap sudah ada peningkatam hingga setidaknya 50%, tapi ternyata salah. Dan Taemin jelas tidak bisa disalahkan. Semua tindakannya selama ini padaku hanya sebatas formalitas. Tatanan manner-nya. Aku saja yang kelewat percaya diri. Harusnya…

“Yo!” seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dan aku refleks menoleh. Baekhyun sudah berdiri di belakangku, rambutnya acak-acakan dan dia sudah mengganti seragamnya dengan kaos meski masih ditutupi jas seragam. Pasti habis latihan dance dengan teman-temannya.

“Ng, yo…” balasku tidak semangat. Siapa yang bisa semangat kalau baru saja patah hati?

“Eeeeei~ kenapa lemas sekali? Ada apa? Tugas-tugas OSIS-mu berantakan?” tanyanya. Aku memaksakan senyum dan menggeleng pelan, tapi mataku mendadak memanas.

“Ng, aku… boleh menangis, kan?” gumamku pelan sambil menunduk, tidak bisa melihat reaksi di wajah Baekhyun lagi.

“Berani bayar berapa? Hehehehe~” ia terkekeh lalu langsung menarikku ke pelukannya. “Begini sajaaaa~ seorang preman menangis tidak boleh ada yang tahu~”

“Ya! Siapa yang preman?!” masih sempat bercanda dia, tapi mau tidak mau aku jadi ikut tersenyum. Baekhyun tertawa, masih tetap melingkarkan tangannya di sekeliling badanku. “Mau cerita?” tanyanya kemudian.

“Ng… dia… dia sudah punya yeojachinguuuuu~ aku salah suka oraaaaaang~” aku menarik-narik lengan jas Baekhyun sambil terisak pelan. Ia menepuk-nepuk kepalaku beberapa kali, berusaha menenangkan.

“Tidak apa-apa, aku juga seperti itu kok, suka orang yang sering bercerita padaku tentang orang yang dia sukai…” katanya. Well, aku baru tahu kalau ada yeoja lain yang bercerita padanya tentang orang yang disukainya selain aku. Baekhyun lumayan populer sebagai tempat curhat para gadis sepertinya, tidak termasuk aku. Pada kenyataannya sih dia memang lumayan populer, dan karena aku dekat dengannya jadi sering disalah-artikan kalau kami berpacaran. Dalam kasusku, kami sudah kenal dari kecil karena eomma kami teman lama. Oke, cukup.

“Kau kasihan sekali~” aku ganti menepuk-nepuk kepalanya. Ia tersenyum tipis. “Kau juga kasihan sekali~ eh, mau jalan-jalan? Aku tahu bukit di dekat sini yang agak sepi, lumayan, bisa teriak-teriak gratis di sana. Siapa tahu nanti stress-mu hilang, hehe.” tawarnya lengkap dengan cengiran lebar. Ia memang selalu tahu cara menghiburku, mungkin karena kami sudah lama berteman.

“Boleh~ naik apa?”

“Motor! Kau lupa ya?”

“Ah maaf, aku lupa, hehe~ memangnya kau bawa helm ekstra?”

“Kebetulan aku bawa dua helm. Masih ingat adikku, kan? Tadi pagi aku mengantarnya ke sekolah.”

Aku membulatkan mulut, mengerti. “Oke~” kataku kemudian sambil mengusap sisa air mata di pelupuk mataku. Ia menyodorkan sapu tangannya lalu mengajakku berjalan ke parkiran, menuju motornya yang diparkir di pojokan. Tanganku meraih helm yang diletakkan di atas motor itu, tapi Baekhyun menahannya.

“Ya!” pekikku kesal.

“Biar aku saja yang pasang.” kata Baekhyun cepat. Aku menurut saja, lalu kembali mengusap mata. “Baekki, menurutmu aku salah tidak? Atau dia yang salah? Kenapa dia tidak bilang dari awal, saat ia membaca surat-suratku itu, kalau dia sudah punya yeojachingu? Kan aku jadi tidak perlu berharap lalu tidak perlu patah hati juga…”

Baekhyun diam, lalu menggeleng tidak yakin. “Aku rasa tidak ada yang salah Ra-ya, soalnya sepertinya juga tidak mungkin kalau ia sengaja mempermainkanmu. Atau mungkin pacarnya tidak pernah melakukan hal seperti itu padanya~ yang aku dengar, sih… ah, tidak jadi! Ayo, pegangan!” katanya sambil menuntun tanganku agar melingkari pinggangnya.

“Kau dengar apa Baekki? Ayo katakaaaaan~” pintaku padanya. Baekhyun menggeleng. “Kita sampai bukit dulu, ya? Nanti kau tambah menangis kalau mendengarnya, ng… sekalian saja, sih. Tidak apa-apa kan?”

“Arasseo…” kataku. Baekhyun langsung menyalakan mesin motornya, dan kami segera beranjak dari lahan parkir sekolah. Aku berusaha mengatur napas sekaligus menjernihkan pikiran. Hari ini ada terlalu banyak hal yang terjadi dan aku sudah terlalu capek. Sangat.

—–

Baru saja aku menjejakkan kaki di rumput, Baekhyun langsung menarikku ke arah bukit, setengah berlari. Bahkan helmnya belum sempat aku lepas!

“Baekki! Helmnya!”

“Tidak apa-apa~ bawa saja~”

Aish, menyebalkan-_-

Baekhyun mempercepat langkahnya begitu sampai di kaki bukit. Memang jadi lebih cepat sampai, tapi juga membuat napasku jadi tidak karuan lagi. Ia langsung duduk di rumput begitu sampai di puncak, menarik ujung jasku agar ikut duduk di sebelahnya.

“Jadi, kau dengar apa soal dia?” tanyaku langsung. Aku sedang berusaha menghindari menyebutkan namanya agar tidak perlu sakit hati lagi.

“Eh? Kau mau langsung kuceritakan?”

“Memangnya apa bedanya? Hanya menunda waktunya saja, kan? Lebih cepat lebih baik~” kataku asal. Baekhyun menghela napas dan aku segera bersiap mendengarkan.

“Jadi… dari gosip yang aku dengar itu… Taemin, ng, pacarnya yang sekarang itu… cinta pertamanya…” ia melirik ke arahku dan langsung berhenti bicara. “A, aigo! Jangan menangis lagiiiiiiiiii!”

“Siapa yang menangis?” aku buru-buru mengusap mata, menghilangkan jejak air mata, tapi tidak berhasil. “Tapi… tapi… dia kan juga… yah, kau tahu kan?”

“Juga apa Ra-ya? Haaaah~” ia kembali menepuk pipiku pelan. “Dan aku dengar, Taemin sangat ingin memberi pacarnya sesuatu entah apa, soalnya dia jarang sekali bertemu pacarnya itu… ditambah sifatnya yang agak dingin itu pula…”

Air mataku menderas. “Baekki~ kan aku sudah pernah cerita kalau dia cinta pertamaku~”

Baekhyun menepuk-nepuk kepalaku lagi. “Sabar~ berarti dia memang bukan untukmu Ra-ya~ masih ada namja lain, kok, tenang saja~”

“Aaaaaaaa Baekkiiiiii~ aku patah hati…” tangisanku benar-benar tidak bisa dihentikan. Baekhyun memelukku lagi sambil berbisik pelan, “Ada aku, kan? Kau masih punya aku, kan?”

Aku jelas tahu kalau aku masih punya Baekhyun, tapi Baekhyun dan Taemin jelas-jelas berbeda. Baekhyun bukan Taemin seperti halnya Taemin berbeda dengan Baekhyun. “Tapi, tapi, tapi…”

Dan ‘tapi’-ku terpotong saat Baekhyun mengangkat daguku dengan ujung jarinya lalu memutus kata-kataku dengan ciuman sekilas. Aku terkesiap, amat-sangat-kaget. Sebagian diriku memerintahkan untuk mendorong Baekhyun atau menamparnya, tapi sebagian lain berkeras mengatakan aku tidak boleh melakukannya. Sebagian kecil menyatakan aku menyukai tindakannya. Sedikit-banyak benar, tapi kemudian aku bergeser mundur sedikit darinya, melepaskan diri dari dekapan protektif lengan namja itu.

“Ma, maaf, aku hanya…”

“Baekkiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!! Itu ciuman pertamakuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!” teriakku sambil menutupi muka. Ya ampun, kenapa bisa jadi seperti ini? Apa salahku?!

“Eh? Ng? Itu… anu… maaf Ra-ya~” ia menggaruk kepalanya. Maaf? Cuma maaf?!

“Aaaaaaaaaaaaa!” teriakku kesal. Baekhyun berhenti menggaruk kepalanya dan ganti menangkap kedua pergelangan tanganku. “Ti, tidak apa-apa kan? Jangan marah, maaf~” pintanya sambil tersenyum innocent. Teknik terjitunya untuk membujukku.

“Baek… ah sudahlah, iya, tidak apa-apa.” aku berhenti berteriak lalu menghela napas untuk menenangkan diri. Tanpa sadar aku mengusap permukaan bibirku dengan ujung jari. Aish, Baekki…

Baekhyun melebarkan senyumnya. “Hehehe, gomapta Ra-ya~ mau lagi?” tawarnya dan aku langsung mendorong wajahnya dengan telunjuk. Apa-apaan itu?!

Ia kembali tertawa. “Bercanda~ hei, kau tidak jadi berteriak? Sudah tidak stress lagi ya sekarang?”

Aku menggeleng-geleng cepat. “Sudah tidak lagi~ eh iya, ganti kau yang cerita, dong~” pintaku, penasaran dengan identitas yeoja yang disebut Baekhyun tadi. Kalau ia memang sedang menyukai yeoja itu kenapa ia menciumku barusan?

“Cerita? Aku tidak punya sesuatu untuk diceritakan~ yang tadi itu juga pertama untukku, omong-omong.” katanya, perlahan melepas jas seragamnya yang agak basah di pundak berkat air mataku.

“Soal yeoja yang kau sukai? Itu cerita, Baekki~” aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan nada penasaran dan semangat. Baekhyun menoleh ke arahku, kemudian berbaring di atas rumput hijau lalu membentangkan lengannya. “Sini, biar kepalamu tidak kotor.” katanya sambil menepuk lengan kanannya. Aku menurut lalu ikut berbaring di sebelahnya, menatap langit siang-menjelang-sore yang cerah sekali. Udaranya hangat.

“Jadiiiiii~?” tanyaku sambil masih menengadah ke arah langit.

“Orang yang aku sukai itu… aaaah, dia itu susah sekali sadarnya, mungkin efek karena ia terlalu fokus dengan orang yang disukainya sekarang ini…” Baekhyun mengacak-acak rambutnya. Kasihan, kelihatannya kebingungan sekali. “Atau mungkin karena ia tidak pernah berpacaran, makanya tidak bisa menangkap ‘sinyal’ yang kuberikan? Ck, padahal jelas sekali…”

Aku terkekeh. “Bukannya malah bagus? Kan kau bisa jadi namjachingu pertamanya, hehehe~”

“Ya tetap saja sulit… dia itu seperti tidak bisa melihatku, rasanya seperti aku ini tembus pandang saja baginya… padahal aku menang banyak dari orang yang disukainya, lho. Bagaimana menurutmu?”

“Ng…” aku mengetukkan jari ke dagu, mencoba mencari penyelesaian masalah Baekhyun. Sesekali aku harus membantunya juga, kan? Apalagi dia juga sudah sering membantuku. “Mungkin kau harus mencoba mengalihkan perhatiannya dari orang yang disukainya. Rebut perhatiannya hingga ia memusatkannya padamu. Begitu, mungkin?”

Baekhyun berhenti mengacak rambutnya, ia menoleh ke arahku dan menatapku semangat. “Contohnya? Atau begini, posisikan saja orang yang aku sukai itu kau, apa yang harus kulakukan untuk mengalihkan perhatianmu? Beritahu aku~”

Keningku kembali berkerut. Pertanyaan Baekki lumayan membingungkan. “Wah, kau sudah terlalu banyak berada di sekitarku, sih. Hmm… kalau aku sih… kau mungkin harus mencoba menghapus namanya dari otakku. Begitu?” kataku, berusaha menghindari pengucapan nama Taemin lagi.

“Ya yang aku tanyakan itu cara menghapusnya~ jangan-jangan si Taemin itu kau gambar dengan spidol permanen di otakmu, ya? Sepertinya susah sekali hilangnya, ck!”

Aku diam, tidak mau menjawab. Mungkin kata-kata Baekhyun barusan benar. Rasanya sulit sekali menghapus Taemin, atau mungkin hanya karena aku baru saja patah hati? Entahlah. “Memangnya kenapa kau ingin sekali menghapus Taemin?”

“Karena aku tidak mau kau sedih terus gara-gara dia Ra-ya, kau harus tahu kalau…”

“Kalau apa?”

“Aku… kau… ah! Baekhyun babo!” Baekhyun malah mengacak-acak rambutnya lagi. Aku langsung duduk dan menariknya agar ikut duduk, kebingungan dengan sikapnya. “Kau kenapa, Baekki? Dari tadi sikapmu itu aneh~”

Lagi-lagi Baekhyun menggeleng singkat. “Aku tidak apa-apa kok, eh, Ra-ya, aku ingin memelukmu sekali saja, boleh?”

“E, eh? Boleh…” mungkin ia sedang perlu menenangkan diri. Aku membiarkannya memelukku dari samping, sesekali menepuk-nepuk kepalanya yang bersandar di bahu kiriku.

“Aku menyerah Ra-ya~”

“Menyerah kenapa? Menyerah untuk apa?”

“Sudahlah~ aku tidak mungkin bisa…” desisnya pelan.

“Tidak bisa apa? Mendekati yeoja itu?”

Baekhyun diam. Bingung harus melakukan apa, aku balas memeluknya saja. “Baekkiiiiiiiiiiii~ jangan putus asa mengejar yeoja-mu itu… nanti dia selamanya tidak tahu, kasihan dia, kasihan kau juga…”

“Kau…” kata Baekhyun akhirnya. Aku berhenti bicara. “Aku? Aku kenapa?”

“Kau benar-benar menyukai Taemin, ya? Akan tetap mengejarnya?”

“Kalau yang pertama, ya. Yang kedua, aku tidak tahu, mengingat dia sudah punya yeojachingu, aku tidak mau dicap sebagai perusak hubungan orang~”

“Jangan menangis lagi, ya… tapi apa kau pernah memperhatikan jari Taemin?”

“Pernah. Tidak ada yang aneh.”

“Serius? Kau tidak melihat cincinnya, atau mungkin dia memakai kalung berbandul cincin?”

Dari intonasi Baekhyun aku bisa menyimpulkan satu hal. Itu mungkin saja berarti Taemin sudah… “Cincin tunangan?” tanyaku ragu. “Sudah sejauh itu dan aku tidak tahu? Babo… Lee Sungra babo…”

Baekhyun mengangguk pelan dan mataku kembali memanas. “Baekki~ eotteokhae…” desisku sambil membenamkan wajah di bahunya. Sudah berapa kali dia kena tangisanku? Kasihan pakaiannya.

“Molla… menangis saja Ra-ya…”

Tanpa diperintahkan juga air mataku sudah turun lagi. “Boleh? Nanti bajumu basah lagi…”

“Ck, untukmu apa yang tidak boleh?” ia menyentuhkan bibirnya ke pipiku sekilas sambil menepuk kepalaku. Perlakuannya itu…

“Baekkiiiiii~ coba aku suka kau sajaaaa~”

“Iya ya, coba kau suka aku saja, hehe…”

Aku menghela napas. “Baekki, tidak apa-apa kalau aku memelukmu begini?”

“Sudah aku bilang kan, tidak apa-apa! Kau mau memukulku juga silakan, yang penting kau tidak sedih lagi~”

Kusandarkan kepalaku ke pundak Baekhyun, menyarukkan kepalaku ke pundaknya. “Baekki?”

“Ne?”

“Kau mau membantuku?” tanyaku sambil menjauh perlahan darinya, berusaha menatapnya kembali.

“Bantu apa? Kalau bisa pasti kubantu!”

“Bantu aku melupakan Taemin…”

Ia tersenyum lalu mengacak rambutku lagi. “Dengan senang hati, Ra-ya…”

“Gomawo Baekki-yaaaaa~” aku tertawa pelan. “Eh iya, omong-omong, yeoja itu siapa, sih?”

Yeoja ap– oh, dia? Siapa ya? Hehehehe…” bukannya menjawab, ia malah mencondongkan badannya ke arahku dan menciumku sekilas, lagi. “Aaaaaaaa, Baekki, kenapa cium la—”

“Suka.” potong Baekhyun sambil tersenyum lebar. Aku mengerutkan kening. “Suka apa?”

“Suka… yang kucium barusan, hehe~”

“M, mwo? Baekki?”

Ia tetap tersenyum lalu menahan belakang kepalaku, kembali mendekat, melakukannya lagi dengan cara yang persis sama, sekilas. Kali ini bahkan aku tidak sempat berpikir karena segala sesuatu seperti menghantamku begitu saja. Sudden confession-nya, pelukan-pelukan menenangkannya sedari tadi, 3 kali ciuman singkat darinya. Byun Baekhyun? Dia serius?

“Baekkiiiiiii! Sudah tiga kaliiiiii!’ aku benar-benar tidak bisa marah padanya, apalagi setelah perlakuannya padaku hampir separuh sore ini. Ia tertawa dan mengacak rambutku, “Biasanya yang tiga kali itu ada bonusnya, kan? Aku mau bonusnya~ hatimu saja~”

Pipiku memanas. Baekhyun bisa mengatakan hal seperti itu dengan santai, sementara aku masih kebingungan, tidak tahu harus melakukan apa. Aish! Bagaimana ini?

“Sudah, sudah~ jangan terlalu berat memikirkannya Ra-ya~” Baekhyun menepuk puncak kepalaku dua kali, lalu bangkit berdiri dan membersihkan rumput dari celananya. Ia lalu mengulurkan tangannya ke depan wajahku. “Mau pulang atau masih mau di sini denganku? Opsi kedua itu bagus sekali sih, tapi aku tidak mau dimarahi ajumma karena terlambat memulangkan anaknya, hehehe~”

Aku menyambut uluran tangannya, mengikutinya turun dari bukit. Eh, tunggu, sepertinya ada yang kurang…

“Baekkiiiiiiii! Helmnya ketinggalan!” aku langsung berlari ke puncak bukit lagi. Ya ampun, kenapa bisa ketinggalan begitu?!

Baekhyun masih tertawa-tawa saat aku turun dari puncak bukit. Kupukul pelan kepalanya dengan helm. “Babo! Byun Baekhyun baboooooooooo!!!!!!!!!”

“Aw! Sakit Ra-ya~” ia mencubit pipiku keras-keras. Aku tertawa dan mengaitkan lenganku ke lengan Baekhyun cepat.

“E, eh? Lenganmu… di lenganku…”

Aku baru sadar dan langsung melepaskan lenganku dari Baekhyun. Ia tersenyum dan menarikku ke motornya yang terparkir di dekat pohon. “Nah, ayo naik! Jangan lupa pegangan!” perintahnya setelah ia menghidupkan mesin motornya.

Kutepuk pundaknya hingga ia menoleh. “Hei, kau tidak mau mengambil bonusmu?”

–to be continued

Advertisements

2 thoughts on “Sketches, Sketcher, Object | #3 : Critical Breakdown, Essential Words”

  1. *pukpuk* patah hati, gapapa yaaah~ dapetnya juga Baekbek :’

    mm…kayaknya waktu ngejelasin(?) ttg tetem yang udah punya pacar itu agak kecepetan deh saeng :S
    mungkin kalo ada beberapa fakta(?) laen yang bisa jadi keyakinan(?) sungra kalo tetem udah punya pacar, bakal lebih pas gimana gitu? :S

    dan akhirnya…. dicium baekki 3 kali 😄

    1. Uhuhuhuhuuuuu :”

      Iya ya? ‘_’ soalnya udah nggak ada ide lagi mau nyeritain pacarnya tetem kayak gimana~ sakit hati saya *eh

      Ng…*nyubitin baek pelan* aaaaaaaaa ini anak kenapa unyu?! *eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s