Sketches, Sketcher, Object | #4 : Revealed Truths

Title: Sketches, Sketcher, Object | #4 : Revealed Truths
Genre: romance, school life, angst, friendship
Rating: …PG-13
Character: Lee + Lee + Byun  *halah

Setelah latihan dance nanti aku ke ruang OSIS. Jangan pulang duluuuuuu~

Tas hitam-hijau superberatku masih tergeletak manis di bangku depan ruang OSIS. Sementara aku duduk di sebelah tas, memangku laptop sambil mengerjakan tugas laporan penelitian. Harus dikumpulkan hari ini atau nilaiku –dan kelompokku– hancur. Menyebalkan, eh?

Rapat barusan menyita waktuku yang harusnya bisa kupakai untuk me-nugas. Bagianku hasil penelitian dan itu benar-benar makan waktu karena aku sendiri tidak yakin dengan kata-kataku. Makanya terpaksa kulembur sampai sekarang, terdesak deadline pengiriman softcopy sampai jam 4. Sekalian menunggu Baekhyun selesai latihan.

“Kosong?”

Aku menoleh. Taemin berdiri di sebelah bangku, tersenyum tipis. Aku lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tunggu, tunggu, bukannya masih ada banyak bangku lain yang bisa diduduki?

“Hei~ kosong?”

Bingung, aku mengangguk cepat dan ia langsung duduk di sebelahku. Tidak terlalu dekat karena masih terjarak tasku, masih ingat?

Keheningan menyelimuti selama beberapa saat yang rasanya jutaan detik bagiku. Konsentrasi ke tugas laporan jadi terpecah, menyebalkan sekali, kan? Aish~ Baekki, cepatlah datang, gumamku dalam hati.

“Ehm.”

Tanganku berhenti mengetik. Taemin berdeham sekali lagi, lalu menarik napas seperti akan mengatakan sesuatu yang berat. Semacam seorang dokter yang akan memberitahukan vonis penyakit tingkat lanjut ke pasiennya. Sementara aku…duduk diam seperti orang bodoh, menunggu kelanjutan kata-katanya.

“Aku…sudah putus dengan pacarku.”

Tunggu, kenapa dia malah curhat begitu?

Entah karena aku diam –tidak tahu harus merespon apa– atau karena alasan lain, Taemin melanjutkan kata-katanya, “Aku sama sekali tidak bermaksud jahat padanya. Well, ini salah seseorang yang membuatku agak sedikit…bingung. Yah, bingung akhir-akhir ini. Habisnya ia tiba-tiba muncul begitu saja di depan mataku, dan…ng, dia itu…menarik.”

Aku masih tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba berkata seperti itu. Tapi, demi alasan kesopanan, kurespon juga kata-katanya, “Hei, pikirkan dulu. Mana bisa kau menyalahkan orang itu?”

“Ya aku tidak bermaksud menyalahkan, aku hanya ingin ia bertanggung jawab. Itu saja.”

“Coba saja kau minta padanya untuk bertanggung jawab. Mungkin dia mau.”

Taemin menghela napas lagi, dan dari sudut mataku terlihat kalau ia sedang menatapku serius. “Lee Sungra, bertanggung jawablah.”

“E-eh?”

“Ya, kau. Bertanggung jawablah. Kau…yah, harus melakukannya.”

Sial. Baekki, kau di mana? Ppalliiiiii~ panggilku dalam hati. Lama sekali, aish!

“Aku? Aku tidak…” kata-kataku terputus, Taemin keburu mencondongkan badannya ke arahku dan –sama dengan Baekhyun– menciumku. Begitu saja. Tanpa izin. Sialnya lagi, aku mendengar suara langkah kaki dari belakang Taemin dan aku mengenali suara orang yang sedang bersenandung itu. Ampun, Baekki! Timing-mu jelek sekali! Kenapa tidak dari tadi? Dari setengah menit yang lalu?!

Tidak kurang dari 3 detik kemudian aku melihat Baekhyun muncul di belakang Taemin. Ia jelas melihat apa yang dilakukan Taemin, terbukti dari perubahan ekspresinya. Begitu Taemin kembali ke posisi duduknya yang baik dan benar, Baekhyun langsung berjalan-cepat menghampiriku dengan ekspresi datar. Bagus juga aktingnya.

“Ra-ya, aku mencarimu dari tadiii~ ajumma menanyakanmu padaku, hehe.” katanya setelah mengangguk singkat ke Taemin. Tidak terbersit satupun kecurigaan di wajah Taemin melihat gerak-gerik Baekhyun. Mungkin ia sudah mafhum kalau aku dekat dengan Baekhyun sebagai teman. Dia pasti tidak tahu kalau Baekhyun namjachingu-ku.

“Ketua OSIS, aku pinjam dia ya! Maaf sudah mengganggu kalian, hehe.” bahkan Baekhyun masih bisa bercanda sambil mengisyaratkan padaku untuk memberesi laptop. Ia kembali mengangguk lalu menarikku menjauh, langkahnya lebar dan cepat hingga aku kesulitan menyamainya. Di belokan entah-ke-berapa, setelah yakin Taemin tidak melihat, Baekhyun berhenti. Tangannya masih mencengkeram erat pergelangan tanganku dengan kekuatan berbeda dengan biasanya. Ditambah lagi emosi tingkat tinggi yang menguar kuat. Baekhyun versi ini…menyeramkan, sangat.

“Kenapa kau membiarkannya menciummu?!” sentaknya. Cengkeraman tangannya mengerat. Sakit, ya ampun.

“Mana aku tahu kalau ia akan melakukannya? Kau juga menciumku tanpa izin dulu!”

“Tapi itu beda! Dulu kau tidak terikat status, dan sekarang kau ini yeojaku!”

“Tapi aku benar-benar tidak tahu, Baekki~ jangan salahkan aku~” aku berusaha melepaskan tangan Baekhyun, tapi ia bergeming. Hanya genggamannya yang melonggar. Ia juga tidak tampak ingin mengatakan apa-apa.

“Baekki? Mianhae, jeongmal…jangan marah padaku…”

Baekhyun menarik napas beberapa kali, menundukkan kepalanya, mungkin sedang berusaha menjernihkan pikiran. “Ne. Aku…aku juga minta maaf karena langsung marah-marah padamu. Padahal bukan salahmu.” ia menyandarkan sebelah tubuhnya ke dinding, tangannya mengusap-usap puncak kepalaku. “Tapi mau bagaimana lagi? Aku refleks saja marah karena…ya karena kau yang dicium. Kau ini yeojachingu-ku, kan? Mana mungkin aku diam kalau melihat seorang namja selain aku melakukan hal seperti itu padamu?”

Tentu saja, tentu saja. “Tapi aku tidak akan menerimanya, jelas! Ya meski dulu aku sempat menyukainya, tapi sekarang aku sudah punya kau, Baekki-yaaa~ aku…aku akan menolaknya, hari ini mungkin…”

“Yakin tidak akan merasa rugi kalau kau menolaknya?” Baekki menyodok pelan pinggangku, bercanda tapi serius. Aku menggeleng cepat. “Sama sekali tidak akan rugi! Kau pasti akan membuat aku tidak merasa rugi, kan? Kan? Aku percaya padamu Baekki-yaaa~”

Baekhyun tersenyum kecil, masih tidak berhenti mengacak rambutku. “Aku juga percaya padamu kok Ra-ya, gomapta, omong-omong~ jadi, benar kau akan menolaknya sekarang?”

Aku mengangguk yakin. Memilih Byun Baekhyun dari Lee Taemin.

Sayang sekali, bangku depan ruang OSIS sudah kosong saat kami kembali ke sana.

“Lalu bagaimana?”

“Ya besok. Kapan pun saat aku bertemu dengannya, di kesempatan yang tepat.” yah, Baekhyun tak akan menyuruhku untuk melakukannya saat rapat, kan?

“Oke, aku tahu kau pasti akan melakukannya tanpa perlu aku ingatkan. Sekarang, boleh aku menghapus bekas Taemin barusan?”

—–

Lima menit menuju bel masuk dan aku baru saja meletakkan tas di kursi. Baekhyun? Sudah ke kelasnya sendiri tadi. Masalah seminggu lalu soal Taemin di depan ruang OSIS sudah kami bicarakan baik-baik, sampai ke penyelesaian kalau aku akan menolaknya, hanya saja… yah, aku belum sempat mengatakan apa-apa padanya.

“Permisi, Lee Sungra ada?”

Kuarahkan pandangan ke pintu kelas, merasa namaku dipanggil. Taemin berdiri di depan pintu kelasku dengan setumpuk map di tangan, tebal-tebal dengan jumlah tidak kurang dari lima buah. Entah apa saja isinya. Aku berdiri lalu melangkah ke pintu kelas, menghampirinya. “Ada apa?”

“Ini. Periksa seperti biasa.”

Ck, gampang sekali.

“Ah iya, harus selesai siang ini, atau kau tidak boleh pulang.”

Sial.

Aku mengangguk cepat, dan setelah basa-basi singkat Taemin langsung menghilang dari depan kelasku. Map-map yang sudah berpindah tangan itu ternyata lumayan berat, ck, menyebalkan. Pekerjaanku bertambah lagi padahal yang kemarin juga belum selesai.

Begitu map paling bawah menyentuh permukaan meja, aku langsung mengambil ponsel dari laci dan menekan layarnya secara auto-pilot. Efek sudah terlalu biasa.

“Baek-ki-ya~” ejaku satu-satu. Nanti aku pulang agak terlambat, tidak apa-apa?

Jeda dua menit lalu ponselku bergetar halus. Aku temani 🙂, begitu isi pesan singkat dari Baekhyun.

‘Nanti lama tidak apa-apa?’

‘Neee~ gwaenchanha~’

‘Ya sudahlah, terserah kau saja…’

‘Eh, omong-omong, si Taemin itu masih suka mengganggumu tidak?’

‘Mengganggu bagaimana?’

‘Ya apalah~’

‘Aku rasa sih tidak~’

‘Baguslah. Ra-ya, seonsaengnim di kelasku sudah masuk-_- aku pelajaran dulu ya, hehehehehe. Annyeong~!’

Kembali kuletakkan ponsel di laci. Seorang guru piket baru saja masuk untuk memberikan tugas, berarti jam pertama ini kosong. Tugasnya gampang, hanya mengerjakan selembar lembar kerja, seperti yang biasa dilakukan Jung ssaem di pelajaran Bahasa Inggris seperti sekarang. Mumpung waktu yang tersisa setelah aku mengerjakan masih cukup banyak, lebih baik sekalian menyicil ‘tugas’ dari Taemin.

“Permisi, permisi, permisi…” Gwanhee si ketua kelas lewat untuk membagikan kertas tugas selanjutnya. Saat melewati mejaku, tidak sengaja ia menyenggol salah satu map hingga jatuh dan isinya berserakan di bawah. Aduh!

“A, Sungra-ah, mianhae! Sini, aku bantu~” ia sudah hampir ikut berjongkok di sebelahku tapi aku langsung menolak bantuannya dengan sopan. “Bagikan dulu saja kertas tugasnya, hehe. Tidak apa-apa kok~” aku tersenyum tipis sambil mengangguk, berusaha meyakinkan Gwanhee kalau aku benar-benar tidak butuh bantuan sekarang.

Gwanhee tampak agak tidak percaya, tapi kemudian mengangguk dan kembali meminta maaf, baru membagikan kertas tugas lagi. Aku buru-buru memberesi semua kertas itu agar tidak ada yang terinjak. Semuanya tercampur, terpaksa kusortir ulang. Aaaaah, kerjaanku jadi bertam… eh?

Tanganku meraih selembar kertas yang agak jauh dari jangkauanku. Dari jauh kelihatannya familier, dan setelah aku mengambilnya jadi kelihatan lebih familier. Itu sketsa yang dibuat Taemin saat acara menggambar di taman tempo hari, sudah jadi, bahkan sudah ditinta meski tetap cuma hitam-putih. Kupisahkan kertas itu dari tumpukan kertas dokumen dan langsung meletakkan semuanya di meja, dengan kertas gambar masih di genggaman tangan kiri.

Ujung jariku mengikuti alur-alur garis di atas kertas gambar. Tidak bermaksud dramatis, tapi tiba-tiba saja flashback soal apa saja yang terjadi hari itu kembali terputar di benakku. Aku langsung menepuk-nepuk pipiku lagi, ingat Baekki! Baekki! desisku dalam hati.

Kusandarkan kepalaku ke permukaan meja, sindroma galau kembali melanda pikiran. Kalau Baekki tahu tentang sketsa ini bisa-bisa ia marah dan langsung merobeknya. Bukannya aku bermaksud membela Taemin, tapi aku merasa sayang kalau sketsa itu rusak. Itu hasil karya orang, membuatnya tetap saja butuh usaha. Tapi kalau kusembunyikan nanti masalahnya bisa jadi berlarut-larut. Bagaimana ini? Lagipula kenapa Taemin harus putus dengan pacarnya saat keadaan sudah terlanjur aman dan damai, lalu menyatakan perasaannya? Keseimbangan kosmis jadi terganggu kalau begini ceritanya!

Ponselku kembali bergetar halus di dalam laci. Nugu? Baekhyun?

Sender: kaichou-sama
Saranghae…

Napasku terhenti sesaat. Si Taemin itu! Kenapa dia ngotot sekali sih? Aku memang belum sempat menjawabnya tapi masa’ ia harus menerorku semacam ini?!

Dengan dagu menumpu di permukaan meja, aku mengetukkan ujung jari ke kayu perlahan. Bingung sekali. Seharusnya di saat seperti ini aku bicara ke Baekhyun, meminta saran padanya saat ini juga. Tapi bel istirahat masih lama dan aku bisa mati galau kalau menunggu selama itu!

“Sungra-ah?”

Aku menoleh. Jongin, biasa dipanggil Kai agar jadi lebih komersil (begitu menurutnya) yang baru saja memanggilku. “Kenapa?” tanyaku dengan nada sedikit sinis. Sedang emosi tingkat tinggi.

“Itu, anu, zipper rokmu belum naik sempurna…” ia menunjuk ke arah rokku. Aku langsung mengeceknya, kaget sekali dan langsung lega  saat melihatnya tertutup rapat.

“Ya! Jangan membohongiku! Jelas-jelas sudah!” bentakku ke Kai. Bukannya minta maaf, ia malah terbahak sambil memegangi perutnya. “Kau lihat itu Sehun-ah? Ia menoleh! Aku menang!” ia masih tergelak saat kembali ke mejanya di sebelah Sehun yang baru saja disebutkannya tadi. Dua orang itu biang ribut di kelas, ditambah preman, plus mengaku-ngaku kalau mereka itu para pria pujaan wanita satu sekolah, dan sialnya lagi mereka juga teman Baekhyun. Aku mengepalkan tangan dan menghampiri dua orang itu lalu menggebrak meja mereka keras-keras. Sudah sering kulakukan ke mereka, omong-omong.

“Lucu?” sentakku sambil menoyor kepala mereka bersamaan. Dosa apa aku hari ini?!

“Kai! Kai yang mulai!” Sehun membela diri sambil menunjuk Kai.

“Sehun! Sehun!” balas Kai. Aku jadi kehilangan kesabaran dan langsung menarik kerah kemeja mereka. Ya ampun-_-

“Ra-ya~”

Aku menghentikan cekikanku di leher dua namja urakan itu dan menoleh ke arah sumber suara. Baekhyun sudah berdiri di pintu kelas, tersenyum lebar sampai matanya nyaris hilang, tapi senyumnya berangsur menghilang saat melihat apa yang aku lakukan barusan. Ia melangkah masuk dan menghampiri kami bertiga, matanya tajam menatap Kai dan Sehun, minta penjelasan. Sekali lagi adegan lempar-melempar pelaku kembali terjadi, hanya kali ini tanpa suara, cukup dengan saling menunjuk.

“Tangan kanan atau tangan kiri?” Baekhyun menggulung lengan jasnya, nada suaranya serius. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menahan tangannya. “Tidak usah. Tidak perlu, sudah cukup kok.” jelasku kemudian. Baekhyun menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu menghela napas. “Kau benar tidak apa-apa? Dua setan ini tidak aneh-aneh padamu kan?”

“Tidak~”

Terdengar siulan sumbang dari Sehun ditingkahi dehaman singkat Kai. Aku melotot kesal ke arahnya. “Kenapa siul-siul?”

Anniyo, memangnya tidak boleh?” Sehun menjulurkan lidah. Cari masalah lagi?

“Sehun-ah, sudahlah, jangan mengganggu couple baru~” kentara sekali nada ledekan di pernyataan Kai. Dua setan ini benar-benar…

“Baekki! Aku! Mau! Cerita!” kataku akhirnya. Baekhyun berhenti memasang sikap siap perang dan kembali membenarkan bajunya. “Cerita apa? Soal Taemin itu lagi?” tanyanya sambil tersenyum. Aku mengangguk pelan dan pasrah saja saat ia menyeretku keluar kelas, menuju lorong antara kelas kami yang sepi. Masih sempat kusambar sketsa yang dibuat Taemin dari mejaku, untuk bukti.

Kami duduk di lantai dan aku mulai kebingungan harus bercerita dari mana. “Jangan marah, ya?” pintaku takut-takut. Baekhyun mengangguk singkat, masih menatap heran gulungan kertas gambar di tanganku yang akhirnya kuserahkan padanya. “Jangan dirobek ya Baekki-ya~ itu kan buatan orang, sudah sulit-sulit dibuat…”

Baekhyun kembali menggulung kertas itu setelah memeriksanya. Memang tidak sampai merobek, tapi sepertinya ia menggenggam dengan benar-benar kuat sampai aku khawatir ia akan tetap merusaknya. “Ng… lalu… ada yang ini juga…”

Ia diam saat membaca barisan kata di layar ponselku. Napasnya memberat dan aku buru-buru mengambil kertas serta ponselku darinya, agar tidak jadi sasaran pelampiasan emosinya. “Baekki? Gwaenchanha?” tanyaku pelan.

Rasanya butuh waktu berjam-jam menunggu Baekhyun kembali bicara. Ia tersenyum sedih, menatapku dengan tatapan yang sama sedihnya. Perlahan kusandarkan kepalaku di bahunya, ingin saja, seperti ada yang menarikku agar melakukan hal itu.

“Baekki? Marah ya? Mian…” gumamku sambil menarik lengan jasnya pelan. Ia menggeleng. “Tidak kok, bukan salahmu, ya sebenarnya ini salahku, hehehe…”

“Kau? Kau salah apa memangnya?”

Baekhyun mengangkat bahu, mungkin tidak mau bicara lebih lanjut. “Jadi, bagaimana?” aku berusaha memancingnya agar bicara lagi. Habisnya bingung._.

“Saranghae?” katanya sambil tersenyum lebar. Salah tingkah langsung menyerangku dan hal pertama yang kulakukan adalah menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, bukannya membalas kata-kata Baekhyun barusan.

“Aku bukannya mau meniru orang ini…” ia menunjuk layar ponselku. “Tapi ini tulus dari sini, dari hati, hehehe~”

Kuanggukkan kepalaku pelan sambil tetap menutupi muka. Baekhyun menarik kedua tanganku, memaksaku menatap wajahnya lengkap dengan cengiran lebarnya. “Saranghaeyooooo~” ia menepuk pipiku cepat, mengucapkannya seolah tanpa beban.

“Aaaaaaa! Baekkiiiiiii!”

“Hehehehe~ aku mengucapkannya secara langsung kan? Beri nilai plus dong~” ia menyentil dahiku pelan. “Iya, nilai plus…” balasku sambil mengibaskan tangan di depan wajah. “Aku maluuuuuu~”

“Bagus dong~”

“Apanya yang bagus?!” kucubit lengannya keras-keras. Ia hanya terkekeh dan aku kembali menutupi wajah, setidaknya sampai rona merahnya menghilang, tolong!

“I love you…” bisiknya tepat di telingaku. Aku berjengit kaget, menatapnya lewat sela-sela jari dengan mata melebar. “Baekki! Kau suka ya kalau aku malu?!”

Ia tertawa, jarinya menekan-nekan pipiku pelan. “Wajahmu tambah cantik kalau malu~”

Aku menurunkan telapak tangan dari wajahku, menatapnya, separo malu, separo mencari kejujuran. Aku tahu seorang namja bisa saja menggombal kapanpun dan di saat seperti apapun. Baekhyun balas menatapku dengan tatapan polosnya, aku tidak bisa curiga kalau dia sudah seperti itu!

Kutarik tangannya hingga kepalanya ikut mendekat dan aku langsung mencium pipinya cepat. Ia membeku, kaget, dan aku tertawa pelan saat melihat reaksinya meski masih tidak percaya aku baru saja mencium pipinya. Badanku refleks saja melakukannya, tapi aku rasa sedikit otakku memang menyuruhku tadi.

Bel masuk kelas berdering keras. Aku melepaskan tangan Baekhyun dari genggamanku. “Sudah bel, ayo masuk…” kataku sambil berdiri.

“Ng?”

“Iya, istirahatnya sudah selesai, kau tidak mau kembali ke kelasmu?”

“Ya sudah, nanti siang jangan pulang dulu ya~”

“Tapi aku kan masih harus menyelesaikan dokumen! Dan nanti kau tidak bisa masuk ke ruang OSIS!”

“Pokoknya nanti jangan pulang dulu, urusan aku bisa masuk atau tidak nanti saja, oke? Annyeong Ra-ya~” tangannya masih sempat mengacak rambutku sekilas sebelum berlalu ke kelas sebelah.

“An–“

“Nyeooong~”

Aku berbalik, kaget, dan makin kaget saat melihat Kai serta Sehun sudah berdiri di belakangku. Air muka dua setan itu serupa, nyengir lebar. “Ya!” teriakku, efek terkejut.

“Ditinggal yaaaa?” Kai melebarkan cengirannya.

“Saranghae yaaaa?” lanjut Sehun. Aku membulatkan mataku. “Kalian dengar?!” langsung saja kusuarakan kata-kata yang melintas di benak. Dua orang itu saling pandang. “Dengar tidak yaaaa?” ledek Kai.

“Salah sendiri, pacaran itu pilih tempat yang sepi, jangan cuma di lorong antara-kelas begitu!”

Kai terbahak dan aku makin menundukkan kepalaku. Sialan! Baekhyun juga… aish~

“Sungra-ah~ saranghaeyoooooo~” Sehun berkata dengan nada main-main. Aku melotot ke arahnya, wajahku memanas lagi.

“Wajahnya meraaaaaaaaaaah~ ah iya, Sungra-ah, Sehun jujur lho!”

“EH?”

“KAI! KIM JONGIN!” teriak Sehun. Ia lalu menoleh ke arahku lagi. “Kai bohong! Dia tidak serius kok Sungra-ah! Jangan percaya padanya!”

Aku mengangguk pelan, masih bingung dengan adegan yang baru saja terjadi di depanku tadi. Kai langsung kembali ke kursinya, Sehun menyusul, dan kedua anak itu hampir saja terlibat baku hantam bercampur kejar-kejaran kalau Shim ssaem tidak segera masuk ruangan. Ah iya! PR Shim ssaem belum selesai!

—–

Lagi-lagi aku terjebak di ruang OSIS dengan tumpukan kertas, tapi kali ini bedanya adalah ada aura peperangan yang menguar kuat di ruangan ini. Aku juga tidak hanya sendiri, ada Taemin dan… Baekhyun. Nah, aura peperangan itu berasal dari Baekhyun, sementara Taemin tampak tenang-tenang saja.

“Aku ke kamar mandi sebentar.” Baekhyun tiba-tiba berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Aku mengangguk sekilas, Taemin juga melakukan hal yang sama. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam ruangan langsung berubah. Aku berusaha berkonsentrasi ke tumpukan surat daripada harus memikirkan macam-macam hal. Oke, ini masih banyak sekali.

“Terima SMS dariku?” tanya Taemin setelah beberapa saat hening. Aku mengangguk saja. Taemin kembali membuka mulut, “Lalu?”

“Lalu apa?”

“Kau… bagaimana? Aku bilang seperti itu jelas untuk meminta kau menjawabnya. Jadi apa jawabanmu?” ia bertanya dengan nada setengah menuntut.

“Aku? Ng… itu…”

Pintu ruangan terbuka kembali dan Baekhyun masuk dengan langkah lebar. Ia berhenti di sebelahku, merangkul pundakku cepat, lalu menatap Taemin dengan tatapan penuh kemenangan. “Dia? Dia punyaku!”

“E-eh?” Taemin terlihat sangat kaget. Aku diam saja, membiarkan Baekhyun yang merespon karena aku tidak berani bicara seterus-terang itu.

“Jadi kutegaskan sekali lagi, dia milikku, hehehehe~” rangkulan Baekhyun masih belum lepas. Taemin ganti menatapku penasaran, kali ini menuntut penjelasan. “Benar begitu, Sungra-ssi?”

Aku berusaha menghindari tatapan Taemin dengan mengalihkan pandangan ke Baekhyun. “Ne, tentu saja…” jawabku cepat. Baekhyun tersenyum senang, rangkulannya di pundakku mengerat.

Taemin tampak tidak tahu harus bicara apa lagi. Aku mendahuluinya, tersenyum lebar ke arahnya. “Chingu? Tomodachi? Aku harap kau mau, hehehehe…”

Ia mengangguk tanpa bicara. “Mianhae…” kataku lagi. Baekhyun ganti menggenggam tanganku kemudian berbisik pelan, “Gomawoyo…”

“Gomawo apa?” tanyaku ke Baekhyun. Ia mengangkat bahu. “Aniyo~” katanya sambil mengusap kepalaku pelan.

“Aku keluar sebentar.” Taemin sudah berdiri dari kursinya, tatapannya tertuju ke ponsel yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya. Kami mengangguk memperbolehkan dan ia langsung keluar dari ruangan.

“Ng… berarti barusan tadi aku menolaknya ya?”

Baekhyun mengangguk-angguk. “Iya, gomawoyo~ saranghae~” desisnya sebelum kembali menyentuhkan bibirnya, kali ini agak lama. Mataku menangkap bayangan beberapa orang yang sedang mengintip dari jendela ruang OSIS… eh, Kai dan Sehun?!

“Baekkiiiiiii!” kudorong badannya sekuat-kuatnya dan ia langsung menjauh. “Waeyo?” tanyanya bingung. Aku menunjuk ke arah jendela ruang OSIS hingga ia ikut menoleh ke jendela itu. Wajahnya memerah saat melihat siapa yang ada di sana, pasti sudah berhasil mengenali dua sosok itu.

“Ehehehe, mian, aku kira tidak ada orang…” ia menjulurkan lidah ke arah Kei dan Sehun, lalu merubah rangkulannya menjadi pelukan. “Ayo cepat selesaikan tugasmu, lalu pulang, sudah sore~”

Aku mengangguk-angguk. Baekhyun kembali duduk di sebelahku sambil menatap ke arah layar laptop yang terbuka di depanku. Aku kira keadaan itu akan berjalan agak lama, tapi belum ada lima menit ia sudah mencium pipiku. Lagi!

“Baekkiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!”

Advertisements

2 thoughts on “Sketches, Sketcher, Object | #4 : Revealed Truths”

  1. onnie malah ngebayangin kalo ff(?) yang selama ini kita buat di sms itu bisa diupdate sendiri, seru deh kayaknya *eh

    Yey! Taemin! Kau nyium anak orang tanpa izin! Eh, pacar orang juga! sini! sama aku aja! *plak!

    baekki~ jangan sering” bilangnyaaa~ ntar dia bosen *eh
    Sehun…..ya reader yang laen nggak tau dia kayak gimana di otak kita yaaaa *eh

    Yey! BaekRa! XD *ditendang karena nyampah(?)

    1. Lah kan udah keapdet (?) giniiii~~~ :B

      Iya tuh, merusak hubungan orang ajeeee *eh *ngawur*
      Enak aja -3- *tarik tae *sembunyiin

      Udah mulai bosen sih…*eaeaea*
      Sehun? Udah ada kok :”

      Iyaiya baekra~~ iyaaaa~~~ ketimbang HunRa gitu rada gak enak *ditapuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s