A Day’s Mini Intermezzo

Kadang, aku berharap telingaku tuli sementara.

Maka dari itu, tiap kali aku terpaksa bangun demi mematikan alarm handphone-ku setiap hari, itulah doa yang selalu kupanjatkan. Ya Tuhan, tulikan telingaku hanya untuk saat ini saja. Atau paling tidak, jika aku harus bangun untuk mematikan alarm di pagi buta yang terlalu rajin beberapa jam, aku berharap Tuhan mau membuatku bisa tidur lagi sampai setengah jam sebelum pukul enam. Setidaknya hal itu akan mengembalikan mood-ku yang sempat rusak karena suara si alarm bodoh sialan.

Hari ini sepertinya Tuhan mengabulkan satu dari beberapa doaku itu. Dan aku sedikit senang, tapi banyak menyesal. Sedikit aneh? Tidak kalau kalian ada di posisiku.

Menurut jadwal yang sudah kubuat secara imajiner semalam, seharusnya begitu alarm berbunyi pagi ini aku langsung bangun, duduk sambil berusaha melepaskan diri dari jeratan kejam tapi menyenangkan milik bantal yang menggoda untuk dibaringi kepala dan kasur yang terlalu nyaman di pagi hari. Kemudian aku akan lari ke kamar mandi, mencuci muka hingga mata segar lagi lalu buru-buru menghadapi buku matematika dan kimia kelas sebelas yang bahkan sudah kusiapkan tepat di sebelah kasur. Juga ada rencana ekstra, menyeduh satu bungkus kopi instan dan mengambil charger handphone. Tidak lupa sentuhan terakhir sekaligus highlight rencana ekstraku: memasang headphone di telinga untuk menemaniku belajar termokimia dan teori limit hingga pukul setengah enam. Berharap ikhtiar itu bisa sedikit mendongkrak nilaiku yang menggiriskan di mata pelajaran kimia dan matematika.

Ya, seharusnya hari ini ada ulangan. Dua ulangan, bukan sekedar sebuah hari-dengan-ulangan biasa. Kedua-duanya pelajaran eksak, pula. Tapi apa yang kulakukan hingga mengacaukan hari Rabu pagi yang seharusnya cerah ceria ini?

Pertama, soal doa untuk mengacaukan pendengaranku, Tuhan tidak mengabulkannya. Oke, aku memang terpaksa bangun karena alarm, mematikannya seperti biasa, tapi hanya itu. Berhenti di momen aku mematikan alarm tanpa ada perkembangan berarti setelah kejadian tersebut. Alarmku tidak berhasil melaksanakan tugas mulianya untuk membuatku terjaga hingga pukul lima tiga puluh. Sebaris kalimat semacam mantra yang kulafalkan semalam tidak banyak membantu –Alarmku sayang, jangan lupa bangunkan aku. Jangan lupa berdering tiap lima menit sekali setelah dua dini hari agar aku tetap terjaga. Buat saja suaramu jadi sekeras dan se-melengking suara Kim Jonghyun itu, asalkan bisa membangunkanku, kau kumaafkan nanti. Tolong, aku tidak mau ikut remedial kimia dan matematika lagi.

Sebagai gantinya, aku terbangun karena dibangunkan oleh Bapak saat jam dinding menunjukkan pukul empat. Subuh. Aku kehilangan waktu dua jam-ku yang berharga! Seharusnya dua jam-ku itu bisa digunakan untuk mempelajari lebih dari dua puluh halaman buku meski aku tidak yakin apakah akan efektif atau tidak karena aku masih mengantuk, tapi setidaknya aku pasti sudah membacanya sambil berharap akan ada yang melekat di otak jika aku benar-benar bangun. Jika rencanaku berjalan dengan sempurna sesuai tujuan dan fungsi sebenarnya. Kenapa para ilmuwan tidak segera membuat alat pemutar-balik waktu untuk saat-saat darurat seperti ini?!

Aku berusaha keras menegakkan badanku di tengah keporak-porandaan semangat yang mendadak melanda karena terlambat bangun. Estimasi waktu tiga setengah jam berkurang drastis menjadi satu setengah jam saja; berarti empat puluh lima menit untuk kimia dan empat puluh lima sisanya untuk matematika. Baru saja aku berhasil mengembalikan kesadaran sepenuhnya, saluran memoriku tersambung dan aku teringat akan satu beban lagi: tugas makalah seni rupa.

Gawat! Kali ini kesadaranku langsung melonjak hingga melebihi batasnya. Segera kubuat keputusan-yang-seharusnya-hanya-lima-detik-karena-terdesak-waktu tentang apa yang harus kulakukan lebih dulu, antara mengerjakan tugas seni rupa, belajar termokimia atau mengulang teori limit. Ya ampun, Ya Tuhan, ampuni dosa-dosaku, tolong cancel semua jadwal ulangan dan tugas hari ini!

Maka, setelah bermeditasi selama setengah menit, kuputuskan untuk melanjutkan tugas seni rupa dulu dengan pertimbangan tugas itu akan dikumpulkan hari ini, harus selesai hari ini, ditambah printerku sedang rusak jadi aku terpaksa harus mencetak dokumen itu di fotokopian depan sekolah. Batas waktu mengerjakan 30 menit, dan kalau tidak selesai…

Kadang kesialan memang langsung menumpuk begitu saja di satu orang pada saat yang sama.

30 menit pertama dilalui dengan kegiatan berkenalan dengan Picasso, Affandi, dan Van Gogh. Detik-detik terakhir periode pertama terlewati dan tugasku baru selesai sekitar tujuh puluh persen, terpaksa kutinggalkan dulu karena termokimia telah menanti. Limit x mendekati tanpa batas juga sudah memohon-mohon untuk dipelajari dari lembaran buku latihan matematika. Aku benci pagi ini, sangat benci.

Kulewati satu setengah jam neraka-ku dengan penuh pengharapan, berakhir kekecewaan. Mungkin lebih baik kalau satu setengah jam tadi aku habiskan dengan melanjutkan tidur daripada belajar tapi tidak masuk sama sekali ke otak. Jika aku tidur, setidaknya aku bisa menambah energi untuk menghadapi hari yang sangat berat ini… atau bisa mendapat inspirasi untuk menjawab secara random saat ulangan nanti. Ck. Sial.

Aku berhenti merutuki nasib dan bergegas mandi karena jam di handphone-ku nyata-nyata menunjukkan waktu tiga puluh menit menjelang jam enam. Paling lambat pukul enam lewat lima aku harus sudah berangkat ke sekolah, ada pendalaman materi hari ini. Sang Ibu Guru Kimia tidak akan merelakan kelasnya diinterupsi oleh seorang murid kurang ajar yang terlambat hadir.

Terburu-buru kumasukkan setumpuk buku ke dalam tas. LKS Agama Islam, Kimia, Matematika, sketchbook ukuran A4, semuanya kujejalkan secara asal hingga rupa tas hitam dengan garis-garis hijau itu tidak berbentuk. Mencomot piring dan tempat bekal yang sudah disiapkan di meja makan, aku segera berpamitan dengan Ayah dan Ibu lalu berlari cepat menuju mobil yang telah menunggu di depan rumah. Sarapan di mobil sudah sering kulakukan, efek terlalu banyak kehabisan waktu di pagi hari karena terlalu lama berada di kamar mandi.

Kutopang daguku sambil membiarkan alunan lagu terdengar dari earphone sementara mobil melaju melintasi jalan. Buku rangkuman kimia tergeletak begitu saja di sebelahku, terabaikan sepenuhnya. Jika diminta memilih antara membaca buku kimia dan berkhayal, aku akan mengambil pilihan kedua. Nanti, jika imajinasiku meliar, aku akan mulai membayangkan teman-teman sekelasku sebagai orang-orang yang memiliki kekuatan supernya sendiri-sendiri. Imajinasi tingkat tinggi, kemampuan kalkulasi matematika setaraf kalkukator –lengkap dengan statistik mengikuti remedial matematika 0–, seseorang dengan logat British saat bicara Bahasa Inggris –memang tidak terdengar super, tapi bagiku sangat super–, lalu ada lagi yang berlogat Jakarta saat bicara Bahasa Jawa. Terlalu banyak, teman-teman baruku yang belum ada setahun kukenal, semuanya memiliki ‘kekuatan super’ mereka sendiri-sendiri. Keunikan mereka sendiri-sendiri. Karakter yang berbeda-beda dan sifat yang juga berbeda, belum juga aku pahami sepenuhnya. Sepenuh aku memahami konsep entalpi ataupun aliran seni surealisme. Masih abstrak.

Mobil bergerak pelan melewati persimpangan lampu merah pertama. Aku berusaha memaksa nefron-nefron otak unyuk menyimpan imaji pemandangan di sekitarku, mengingat ada satu tugas yang meminta –dalam arti lain, memaksa—untuk membuat narasi dengan tema perjalanan. Jadi, ada apa? Tumpukan sampah dan beberapa orang di dekatnya, menumpuk sampah-sampah itu hingga meninggi dan sebagian isinya bergulir ke tanah. Seorang penjual koran sedang menawarkan setumpuk surat kabar fresh press yang baru terbit pagi ini ke para pengendara kendaraan. Aku tidak tertarik, koran langganan di rumah saja belum tersentuh. Lantas, apa yang bisa kutulis dari perjalanan ini? Ini terlalu membosankan. Tidak akan ada yang tertarik jika aku menulis tentang seorang penjaja koran harian sebegitu saja, atau tentang gunung sampah di dekat perempatan pasar. Akan jauh lebih menarik jika aku merangkaikan semua imajinasi yang terlintas di benakku pagi hari ini. Apa daya, satu syarat lagi memberatkan keinginanku itu: setidaknya harus ada bagian dari kenyataan di dalam narasinya. Sayang sekali aku sedang tidak dalam mood baik untuk membayangkan dialog-dialog imajiner muncul dan berloncatan keluar dari puncak kepala orang-orang di luar sana, padahal hal itu sebenarnya sering sekali kulakukan.

Di belokan terakhir dekat Jogja National Museum, aku masih termangu. Separuh kesadaranku menarik tanganku agar melepaskan earphone, salah satu barang terlarang di sekolahku meski tidak bisa dipungkiri kalau aku sering membawanya juga. Kami juga butuh hiburan! Toh aku tidak pernah memakainya saat pelajaran! begitu selalu kata batinku setiap melewati papan tempat tertera peraturan itu dalam huruf Times New Roman ukuran dua belas, bab ke-entah-berapa dari lebih-entah-berapa bab. Satu dari sedikit hal yang membuatku benci dengan sekolah ini. Benci sekali.

Mobil berhenti. Pintu gesernya terbuka dan aku menapakkan sebelah sepatuku  ke trotoar merah bata, dua meter sebelum gerbang sekolah yang menganga lebar. Pintu logam yang dicat cokelat itu terbuka lebar dan teralisnya menunjukkan cengiran gigi manusia yang menyeramkan, seolah berkata, ‘Selamat datang di mimpi burukmu, gadis kecil malang. Nikmatilah Rabu-mu yang menyenangkan.’

Aku menghela napas, berusaha memantap-mantapkan diri sembari berusaha melangkahkan kaki yang mendadak terasa berat. Buku rangkuman kimia masih tergenggam erat dalam telapak tangan kananku dan aku yakin halaman-halaman buku suci itu sudah kusut sekarang. Mungkin, harapanku di situ sudah habis, tapi harapanku di limit masih tersisa. Hanya setitik noktah kecil saja.

Yah, hadapi saja selama kau masih bisa menghadapinya.

Lagipula siapa yang tahu kalau kau akan tetap ikut remedial meski sudah belajar hingga larut? Setidaknya aku punya alasan untuk membela diri sendiri karena aku memang sama sekali tidak belajar.

Kakiku kembali melangkah, kali ini lebih mantap. Semantap bayangan suara sang Ibu Guru Kimia dan Ibu Guru Matematika yang melambaikan kertas ulangan bertuliskan namaku, dalam tinta hitam, dan sebuah nilai dalam tinta merah yang diberi bulatan besar. Lengkap dengan tulisan Remidi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s