[Cafe Latte] #2 | Dream-Catcher

Title: Dream-Catcher
Genre: angst, romance
Rating: PG-13
Character: *** *eh

Aku bermimpi melihatmu bahagia karena aku, bukan karena orang lain. Karena kau berada di sebelahku, bukan di sebelah orang lain.

Sungra terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Pening luar biasa menyerangnya, membuatnya bahkan tidak bisa bangun dari posisinya di kasur. Gadis itu meraba meja samping tempat tidurnya, mencari ponsel hitam yang seharusnya berada di situ. Dan memang ada. Benda itu satu-satunya barang yang mengisi nakas di sebelah tempat tidurnya setelah ia menyingkirkan segala macam hal yang membuat tempat itu penuh selama enam tahun terakhir, sekaligus menyingkirkan semua yang berhubungan dengan orang kurang ajar itu.

Ia melihat layar benda dalam genggamannya sekilas. Tidak ada apa-apa, tidak ada notifikasi baru. Tidak ada yang menghubunginya dan ia bersyukur karena itu. Hari ini, ia ingin diam sendirian saja tanpa diganggu siapapun kecuali keluarganya.

Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menghilangkan kunang-kunang yang tiba-tiba muncul di kelopak matanya. “Aish…” desisnya pelan. Ribuan kunang-kunang itu memang pergi, tapi digantikan oleh bayangan… Baekhyun. Sungra sendiri bingung bagaimana bisa dari sekian ratus orang yang dikenalnya justru Baekhyun yang tampak di pelupuk matanya. Apa karena…

Ia tidak tahu apa persisnya isi mimpinya tadi malam. Yang bisa ia ingat dari cuplikan-cuplikan samar mimpi yang berhasil ia tangkap adalah Baekhyun, berbicara padanya dengan senyum yang sama seperti kemarin, saat… itu. Berbicara soal nenek tua keriput itu. Entah karena imajinasinya yang terbatas atau karena ia jarang melihat ekspresi wajah Baekhyun yang lain, bayangan namja itu di dalam mimpinya terasa terlalu kaku. Tapi sepertinya imajinasi yang kaku tidak akan menghasilkan kata-kata yang masih terngiang di kepala Sungra hingga siang hari. Mungkin bahkan dalam imajinasi terliarnya pun Sungra tidak akan pernah bisa membayangkan Baekhyun berkata ‘Aku bermimpi melihatmu bahagia karena aku, bukan karena orang lain. Karena berada di sebelahku, bukan di sebelah orang lain.’

Lalu, pekerjaan siapa kata-kata barusan itu?

Sungra tak mau ambil pusing lagi. Ia berguling hingga wajahnya menelungkup di bantal, menghela napas sambil mengingat lagi apa yang terjadi siang kemarin. Lamaran lagi, hmm? desisnya pelan, menekankan permukaan bantal ke hidungnya. Matanya terasa sakit mungkin karena ia menangis hampir semalaman, sampai ia tertidur karena terlalu lelah.

“Sungra, tidak sarapan?”

Gadis itu berguling sekali lagi. “Ne, eomma~” balasnya setengah berteriak. Setelah memastikan bahwa peningnya sudah agak reda, ia beranjak dari kasur, merapikan sedikit rambutnya dengan jari, lalu melangkah keluar dari kamar.

Detik terakhir sebelum pintu kamarnya tertutup rapat, ia masih sempat menatap ponselnya yang diletakkan sembarangan di atas meja, mengharapkan sesuatu terjadi pada benda itu. Nihil.

“Kenapa jadi begini?”

——

Bila Sungra terbangun dengan kepala berat, maka Baekhyun tidak bisa tidur semalaman. Badannya mungkin sudah berhasil menemukan posisi yang pas untuk tidur tapi benaknya menolak untuk beristirahat.

Begitu sinar matahari menerobos kerai jendela apartemen studionya, Baekhyun memaksakan diri untuk bangun dan duduk. Ia mengeluh kesal melihat lingkaran hitam tebal di bawah matanya, mengusapnya beberapa kali sambil berusaha memejamkan mata. Tidak, ia tidak mengantuk. Hanya capek. Dan sebentar lagi harusnya ia sudah berangkat ke cafe untuk memberi instruksi ke pekerja shift pagi, pekerjaannya sehari-hari sebagai pemilik sekaligus manajer cafe.

Namja itu bangkit berdiri, mengusap pelipisnya yang pening karena kurang tidur. Tatapan matanya tertumbuk ke kantung kertas putih yang tergeletak di sudut ruangan, kantung kertas putih yang berisi gaun Sungra lengkap dengan segala aksesoris yang ia tinggalkan tempo hari. Dirogohnya tas kertas tersebut hingga menemukan sebentuk tiara yang seharusnya menghiasi kepala gadis itu.

“Sayang sekali pemilikmu tidak mau membawamu pulang.” gumam Baekhyun, tangannya mengusap permukaan tiara kecil yang dipenuhi kristal-kristal. Tiara perak yang terlihat anggun tapi kosong. “…ne, sekosong hati gadis itu…”

Ia meletakkan semuanya di dalam kantung, merapikannya lagi, kemudian berjalan ke kamar mandi. Sempat terlintas di benaknya untuk membolos kerja hari ini tapi buru-buru ia buang, tanggung jawabnya terlalu besar untuk ditinggalkan. Bisa-bisa cafenya langsung hancur berantakan begitu ia kembali lagi…

Ah, ne. Tidak apa-apa, lagipula ia masih butuh sedikit istirahat.

Yeoboseyo? Chanyeol-ah?”

Apa guna seorang vice manager kalau tidak bisa menggantikan pekerjaan manajernya untuk sementara?

——

“Permisi…”

Seorang wanita paruh baya membukakan pintu rumahnya dengan wajah heran. Siapa gerangan namja yang berdiri di depannya saat ini?

Jwesonghamnida, ajumma. Byun Baekhyun imnida. Aku… ingin mengembalikan ini ke Sungra…”

Eomma? Eomma bicara dengan sia…” gadis itu terdiam begitu melihat sosok Baekhyun di pintu rumahnya. “…pa?”

Otot-otot wajah Baekhyun langsung terasa kaku seluruhnya. Niatnya untuk tersenyum begitu melihat Sungra padam saat yeoja itu benar-benar muncul di depannya, atau lebih tepatnya adalah ia tidak tahu harus mengatakan apa begitu melihat Sungra. Ditambah wajah gadis itu yang terlihat sangat lelah, membuatnya khawatir kalau-kalau telah terjadi sesuatu dengannya. Jangan-jangan itu karena apa yang ia lakukan dan katakan kemarin padanya?

“Sungra? Dia siapamu?” wanita yang dipanggil eomma oleh Sungra tadi menatap Baekhyun dengan tatapan sedikit curiga. Sungra menghela napas, berusaha menghindari kontak mata dengan Baekhyun. “Ng… Baekhyun ini… pemilik cafe yang menolongku waktu itu…” dan hampir mengusirku, tambah Sungra dalam hati. Tatapan mata wanita tadi melunak, bahkan senyumnya mulai muncul. “Geurae? Kalau begitu masuklah, tidak enak mengobrol di depan pintu seperti ini…” ajak eomma Sungra.

Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan, berusaha tersenyum secara normal. “Aniyo ajumma, tidak usah… tapi… aku ingin mengajaknya pergi hari ini, boleh?”

Sungra mendelikkan matanya seketika. Mengajaknya pergi di saat ia sedang ingin berada dalam ketenangan? Ck, orang ini belum pernah dihajar sepertinya. Seenaknya sekali! Dia pikir gadis itu yeoja gampangan yang mau saja diajak kemana-mana kapan pun? Aish!

“Um… pergi?” ulang eomma Sungra sekali lagi. “Tidak masuk dulu?”

“Ng… sebenarnya aku ingin mengajaknya makan siang, ajumma. Meski aku belum memberitahunya, sih. B, bagaimana, ajumma?” Baekhyun menatap eomma Sungra penuh harap. Tentu saja, karena jika diizinkan maka Sungra tidak mungkin menolak, kan? Setelah namja itu sadar kalau tidak ada gunanya lagi bersikap galak ke Sungra jika ia benar-benar ingin mendekatinya, rasanya hal seperti ini akan makin mempermudah urusannya.

Wanita paruh baya itu menghela napas. “Hanya makan siang?”

“Ditambah jalan-jalan sedikit, tapi kalau ajumma keberatan tidak jadi juga tidak apa-apa, hehehe~”

“Sungra, kalian tidak—“

Aniyo eomma, dia temanku. Ne, hanya teman.” tandas Sungra, mulai merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang dikorek eommanya. Ia tahu kalau keluarganya ikut trauma karena pernikahannya, dan ia memahami sikap eommanya pada Baekhyun. Apalagi namja kurang ajar itu belum juga berkenalan dengan sang eomma, ibu mana yang tidak khawatir kalau begini ceritanya?

Baekhyun menghela napas, menyadari atmosfer tidak menyenangkan yang ia timbulkan. “Ajumma, kalau ajumma keberatan—“

“Mungkin lebih baik kau masuk dulu, Baekhyun-ah. Teh?” potong eomma Sungra, membuka pintu rumah lebih lebar. “Kita mengobrol dulu sebentar sambil menunggu Sungra bersiap-siap, bagaimana? Ah, ne, Ra-ya, sekalian buatkan teh hangat, arra?”

Sungra mengangguk patuh, mempercepat langkahnya menuju dapur. Jadi diizinkan, begitu? Atau hanya basa-basi sang eomma sebelum kemudian menolak secara halus? Gadis itu berharap semoga benar yang kedua, hari ini dia benar-benar tidak ingin ketenangan dan kedamaiannya diganggu. Maka, sementara tangannya menakar gula dengan sendok, telinganya berusaha keras menguping apapun yang sedang dibicarakan ibunya dengan Baekhyun di depan sana meski tetap saja nihil hasilnya.

“Baiklah, Baekhyun-ah, terima kasih sudah mengurus anakku dengan baik pada hari itu.”

Sungra berhenti berjalan. Ia buru-buru meletakkan baki di meja makan, lalu merapat ke dinding ruang tamu sambil kembali mencoba mencuri dengan pembicaraan kedua orang di ruang tamu. Sudah sejauh apa perkembangannya?

Ne, ajumma. Sudah kewajiban untuk menolong orang lain, kan?” Baekhyun angkat bicara. “Jadi…”

“Asal tidak sampai larut malam, ajumma ijinkan. Tapi Sungra…”

“Dia pasti mau, ajumma.” dan Sungra sama sekali tidak menyukai cara pengucapan kata ‘pasti’ Baekhyun barusan. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana Baekhyun akan memaksanya untuk ikut, entah seperti apa, tapi pasti pada akhirnya ia harus ikut –secara terpaksa. Bagaimana ini?

Sungra melirik baki di meja makan. Jadi, lebih baik aku bawa ke depan atau tidak? gumamnya dalam hati.

“Seharusnya Sungra sudah datang dan membawakan minum sekarang, tapi… yah, nanti kalau dia datang, tanyakan saja sekalian.”

Aish.

——

“Um… satu tenderloin steak, dan… lemon tea, lalu…”

Blackpepper, lemon tea.”

Ne, itu.”

“Ada pesanan lain?” sang pelayan wanita menanyakan pertanyaan klasik yang sepertinya sudah menjadi pertanyaan wajib seluruh pelayan di seantero dunia. Baekhyun menggeleng. “Tolong cepat. Kamsahamnida.”

Sungra memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sekarang mereka sudah berada di pinggiran Seoul, di sebuah restoran steak yang menurut Baekhyun rasanya sangat enak. Gadis itu sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menolak karena Baekhyun baru menceritakannya saat mereka sudah di tengah jalan dan, mau seperti apa pun Sungra menolaknya, dia pasti akan tetap berjalan. Pemaksa tingkat tinggi. Egois. Apapun itu, yang berkonotasi negatif pasti cocok bagi Baekhyun. Apa lagi? Maniak? Terobsesi? Atau…

“Apa yang kau lamunkan?” suara Baekhyun menghentikan dialog batin Sungra. Gadis itu menoleh, menatap Baekhyun dengan tatapan kesal. “Aniyo. Bukan apa-apa.” desisnya, berusaha terlihat tenang meski sebenarnya sedang dalam keadaan amat-sangat-terganggu-sekali.

Sebenarnya, Byun Baekhyun-ssi, aku berharap kau menghilang dari hadapanku, lalu aku tidak pernah mengenalmu, selesai.

Baekhyun memainkan taplak meja putih bersih di depannya, sesekali mencuri pandang ke Sungra yang sibuk dengan apapun itu yang sedang ia pikirkan. Benaknya berkecamuk tentang bagaimana cara mengalihkan perhatian Sungra tanpa perlu membuatnya marah. Apa? Mengajaknya bicara, justru aku yang jadi korban dimarahi, gumamnya dalam hati.

“Um… ya.”

Ne?” Sungra menoleh, mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?”

“Setelah ini kita jalan-jalan. A-a, aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Perlu aku ulangi? Apapun.” putus Baekhyun cepat. Sungra menghela napas, menatap Baekhyun dengan tatapan paling tajam yang ia punya. “Arasseo! Sesukamu saja!”

Johta. Anak pintar. Nah, pesanan kita sudah datang~ baguslah, aku lapar sekali~”

Mungkin cara ini yang paling tepat. Memaksanya sedikit… selama tidak keterlaluan, aku rasa tidak apa-apa, pikir Baekhyun sambil memotong steak di hot plate. Ia tidak rela kehilangan kesempatan untuk berada di dekat gadis itu, sama sekali tidak rela.

—–

Gadis itu menggigit permen kapas di tangannya, merasakan gula manis yang melumer lalu menyebar perlahan di lidahnya sementara tangan satunya mengeratkan jaket yang menutupi badannya. Angin hari ini lumayan dingin, gadis itu sendiri tidak tahu kenapa. Bukannya sekarang harusnya musim panas? Atau itu karena hujan yang baru saja turun?

“Mau takoyaki?”

Ia menoleh, menemukan laki-laki itu dengan satu kotak berisi takoyaki yang masih mengepulkan asap tipis. Baunya menyenangkan. “Mm, boleh, kalau kau tidak keberatan.”

Maka, Baekhyun langsung menusuk satu bola takoyaki, meniupnya sebentar, lalu menyuapkannya ke gadis di sebelahnya. “Enak?” tanyanya, dan ia langsung membuat catatan mental bahwa takoyaki adalah satu hal khusus selain cokelat panas dan permen kapas yang bisa membuat seorang Lee Sungra tersenyum senang.

“Ng~”

“Mau lagi? Bisa aku belikan, kalau kau ma–“

“Tidak usah. Aku tidak mau merepotkan lagi, mengerti?”

“Ne, mengerti. Duduk?”

Sungra membiarkan Baekhyun menuntunnya ke sebuah bangku, membersihkan daun kering di permukaan kayunya lalu menyuruh gadis itu duduk. “Gomawo.” gumamnya perlahan, kembali menggigit tipis permen kapas pink yang sekarang hanya tinggal setengahnya.

Baekhyun melirik Sungra lagi. Ada satu hal yang ingin ia katakan sedari tadi, tapi seperti ada sesuatu yang menahan lidahnya. Perasaan takut membuat sosok gadis di sebelahnya merapuh, samar, lalu hilang, seperti yang ia rasakan kemarin. Tapi…

“Hei?”

“Mm? Kenapa lagi? Kau mau—”

“Aku tidak akan menyuruhmu melupakan apa yang aku katakan kemarin, karena yang seperti itu memang sudah seharusnya tidak dilupakan.” kata Baekhyun sambil menggigit takoyaki yang ia bawa. “Meski begitu… aku tidak akan memaksa. Semuanya tetap bergantung padamu, aniyo?”

Gadis itu hanya diam, lebih tepatnya adalah ia benar-benar tidak tahu harus membalas apa. Memangnya apa yang bisa dikatakan kalau kau berada dalam keadaan seperti ini?

“Mau makan malam? Aku tahu tempat yang nyaman, agak jauh dari sini, di desa, sih…tapi aku yakin kau akan suka tempatnya, bagaimana?”

——

“Kau gila?! Menginap?!” marah Sungra. Ia menjejakkan kakinya ke tanah, tangannya tersilang di depan dada. Wajah gadis itu memerah antara marah dan menahan salah tingkah. Bagaimanapun juga, Baekhyun itu namja dan dia sendiri yeoja. Menginap itu terlalu… berbahaya…

“Ya mau bagaimana lagi? Kau mau kembali ke Seoul dengan berjalan kaki? Silakan, kalau kau mau!” Baekhyun menutup kap mesin mobilnya dengan wajah sebal. Ia balas melotot ke Sungra kemudian merogoh saku celana, mencari ponsel di sana. Ditekannya layar benda itu cepat-cepat sebelum kemudian menempelkannya di telinga. Air mukanya tidak sabar, tangannya yang bebas mengacak-acak rambutnya gemas. “Ck, padahal tadi pagi masih… ah, ne, selamat sore?”

Sungra membiarkan Baekhyun berbicara dengan siapapun yang laki-laki itu telepon. Mungkin pihak asuransi mobil yang sekaligus menangani masalah kerusakan mobil di seluruh penjuru Korea Selatan. Ia lebih memilih bertanya ke orang-orang sekitar tentang transportasi penghubung ke Seoul dari tempat itu –yang ternyata hanya bisa ditempuh dengan kereta, dan stasiun kereta itu sendiri letaknya cukup jauh dari kota kecil tempat mereka berada sekarang. Sekitar delapan kilometer. Bisa ditempuh dengan bus tapi mood Sungra benar-benar sudah sangat jatuh hingga untuk berjalan sedikit saja ia merasa sangat malas. Apalagi saat ini sudah lumayan malam.

“Nah, sudah. Nanti akan diambil oleh orang dari pihak asuransi… kau ada ide kita akan menginap di mana?” suara Baekhyun yang tiba-tiba berada di sebelahnya membuat gadis itu langsung menoleh kaget. “Ah, ne, mungkin lebih baik aku menitipkan mobilku ke restoran ini sekalian menanyakan letak hotel yang bagus. Kau tunggu di sini saja. Jangan ke mana-mana, mengerti?”

Gadis itu diam dengan tangan masih tersilang di depan dada. Memang tidak ada pilihan lain baginya, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain berharap proses reparasi mobil Baekhyun bisa dilakukan dengan cepat. Ia memejamkan mata lagi, berusaha menenangkan diri. Tidak akan terjadi apa-apa, gumamnya pelan seperti mensugesti isi otaknya sendiri.

Baekhyun kembali sekaligus dengan dua kantung kertas di tangannya, lengkap dengan logo restoran itu tercetak di sana. “Untuk cemilan nanti kalau kau masih lapar. Aku juga masih agak lapar, sih.” jelasnya sebelum Sungra bertanya. “Hotelnya dekat, kok. Kau masih mampu berjalan, kan?”

Sungra tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya sebagai bentuk respon. Sementara Baekhyun kembali ke mobilnya untuk mengambil beberapa barang, ia menghubungi eomma-nya di rumah, mengabarkan kalau dia tidak bisa pulang malam ini karena ada masalah.

Ne, yeoboseyo, eomma? Aku… malam ini aku tidak bisa pulang… aniyo, bukan apa-apa, mobil Baekhyun rusak, kami sekarang berada jauh dari Seoul, eomma. Eobseo, hanya ada kereta. Stasiunnya jauh dari sini. Bus jam segini itu spesies langka yang harus dilindungi!”

Namja itu menghampiri Sungra setelah mengepak beberapa barang ke dalam sebuah tas kain yang ia temukan di dalam mobil. Tangannya menarik pergelangan tanganbebas gadis itu, mengajaknya menyusuri jalanan kota kecil yang lengang menuju penginapan yang dimaksud orang-orang dalam restoran tadi sambil mendengarkan apa saja yang dikatakan Sungra ke orang di seberang telepon.

“Dia… bukan namjachingu-mu, kan?” tanya eomma Sungra tiba-tiba. Gadis itu terdiam sejenak, melirik Baekhyun yang tetap memasang wajah datar dan terus berjalan. Mustahil dia mendengar kata-kata eomma, pikir Sungra, hanya benaknya masih bingung harus menjawab pertanyaan ibunya dengan jawaban apa.

Papan nama hotel yang dimaksud sudah terlihat dan Sungra memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya dengan mengucapkan tidak pada pertanyaan terakhir dari sang ibu serta berjanji tidak akan melakukan apapun yang tidak seharusnya ia lakukan. Seperti ia dan Baekhyun ada hubungan saja.

Aniyo, aniyo, bukan yang single-beddouble, tolong.”

Sungra berhenti mengutak-atik ponselnya begitu mendengar kata-kata Baekhyun. Double-bed, hmm? Untung namja itu sudah ingat tanpa perlu ia peringatkan. Meski begitu tetap saja Sungra tidak bisa tidak merasa risih jika harus berada dalam satu kamar dengan seseorang yang separo-asing, laki-laki pula. Kenapa tidak…

“Ini kunci anda, Tuan. Kamar anda ada di lantai 3, bisa lewat lift di sana. Selamat beristirahat.”

Baekhyun mengambil kunci itu dan berterima kasih sebelum kemudian menepuk pundak Sungra agar mengikutinya. “Lebih baik kita cepat-cepat karena sepertinya kau sudah lelah. Maaf.”

Dari nada suara Baekhyun, Sungra bisa menebak kalau namja itu benar-benar merasa bersalah. Oke, dimaafkan –dan ia merasa taraf menyebalkan Baekhyun sedikit berkurang–, tapi mungkin ia akan merasa jauh lebih baik jika Baekhyun tidak mengajaknya pergi. Sekarang, beberapa saat menunggu lift naik dan berjalan menuju kamar terasa seperti ribuan detik bagi gadis itu. Ia berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Baekhyun, menghindari kontak mata dengan namja itu, mencoba agar tidak terlihat salah tingkah meski pada akhirnya gagal. Ia kembali menarik napas panjang. Bagaimana ia bisa beristirahat dengan tenang kalau begini ceritanya?

“Kau tidak mau masuk? Lebih suka tidur di luar? Silakan kalau kau mau mati kedinginan.”

Aish! Kucabut kata-kataku tadi! Orang ini tetap saja menyebalkan!

Baekhyun membuka pintu kamar setelah memasukkan kartu ke slot yang ada di dekat handle pintu. Menahan pintu sementara menunggu gadis di belakangnya melangkah ke ruangan lalu duduk di kasur yang masih kosong, memperhatikan Sungra yang mengamati ruangan tempat mereka berada sekarang. Standar hotel, dua buah kasur ukuran double yang tertutup seprai putih, televisi dan antek-anteknya, lantai kayu tanpa karpet, dan dinding ruangan yang dilapisi wallpaper cokelat. Tepat di sebelah pintu keluar-masuk kamar ada satu pintu lagi ke kamar mandi serta daun pintu kayu, mungkin lemari?

Sungra merebahkan badannya di kasur, berusaha mencari posisi yang nyaman tapi sulit. Pertama, ia risih karena ada Baekhyun, kedua, baju yang ia kenakan tidak terlalu nyaman untuk dipakai tidur. Kemeja flanel panjang bukan pakaian yang biasa untuk baju tidur, kan?

“Igeo. Kalau kau mau pakai saja, kalau tidak ya sudah.” gadis itu menangkap tas kain yang sedari tadi dibawa Baekhyun dan baru saja dilemparkan kepadanya. Ia merengut kesal, “Ada cara lain yang lebih sopan kalau kau mau menyerahkan barang ke orang lain, Tuan Byun.” gerutunya. Yang diprotes hanya mengangkat sebelah alisnya tidak peduli. “Kau masih beruntung karena aku pinjami baju untuk tidur, Nona Lee. Atau kau mau memintaku untuk menyerahkannya seperti apa? Seperti ini, hmm?” namja itu menarik kembali tas pembawa masalah tersebut, berlutut di sebelah kasur Sungra, lalu menyerahkannya masih dengan posisi tersebut. Di bibirnya terbentuk senyum lebar tapi sinis, membuat Sungra makin kesal dan langsung menyambar tas di tangan Baekhyun sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

“Perlu aku gantikan, Nona Lee?”

“Dalam mimpimu!” BRAK! Gadis itu membanting pintu kamar mandi dalam satu sentakan, meninggalkan Baekhyun yang terbahak di lantai. Aaaaaaaaaaaaa! Kenapa aku harus sesial ini?! maki Sungra dalam hati sambil mengacak rambut frustasi. Ia membuka tas Baekhyun dan menemukan sehelai kaus abu-abu yang dimaksud oleh namja itu, ukurannya memang agak sedikit terlalu besar baginya tapi setidaknya baju itu akan makin menutupi badannya dari tatapan mata laki-laki itu.

Sambil menunggu Sungra, Baekhyun menyalakan televisi layar datar di depannya, memilih secara asal channel yang akan ia tonton… yang ternyata menghasilkan sebuah channel khusus tayangan kartun. Bukan tayangannya yang ia cari, hanya suara untuk menemaninya berpikir kali ini. Mencari pencerahan. Memikirkan apa yang perlu ia katakan dan lakukan begitu Sungra kembali. Bukan apa-apa, tapi kecepatan berpikir otaknya selalu turun tiap ada Sungra di dekatnya, entah kenapa. Lebih tepatnya, ia takut pandangan Sungra padanya akan jadi makin buruk kalau ia salah bertindak. Kesan pertama sebagai orang-galak-menyebalkan-dan-sok-tahu yang ia tunjukkan di hari hujan itu sudah lebih dari cukup untuk menjatuhkan imagenya di depan Sungra, demi Tuhan.

KLAK

Baekhyun refleks menolehkan kepalanya ke sumber suara, lalu ke Sungra yang sudah memakai kaosnya. “Kau mandi?” tanya Baekhyun kemudian, dijawab dengan gelengan singkat gadis itu yang langsung merebahkan diri di kasur dan memejamkan mata, berusaha tidur. Namja itu segera merendahkan volume televisi, sekedar agar tidak terlalu mengganggu penghuni kasur sebelah yang ingin beristirahat.

Lima menit berlalu dan Sungra sama sekali tidak bisa merasa mengantuk. Seperti ada sesuatu yang…

Gadis itu tidak jadi memejamkan mata. Ia duduk, mengerutkan kening, kemudian mengerucutkan bibirnya. “Belum minum susu…” gerutunya. Baekhyun menoleh, menatap Sungra bingung. “Susu?” tanyanya. Sungra tidak menjawab tapi lipatan-lipatan di wajahnya sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kalau ia sedang kesal saat ini.

“Kau… ingin minum susu? Sekarang?”

Sungra mengangguk enggan. Ia tidak mau kebiasaannya untuk minum susu sebelum tidur jadi bahan ledekan Baekhyun di kemudian hari. Bahkan Sungra sudah bisa membayangkan kalimat mengejek Baekhyun, ‘Ha! Kebiasaan macam apa itu? Minum susu sebelum tidur? Memangnya kau anak umur lima tahun? Sudah lupa ya kalau tambahan kalsium tidak akan mempengaruhi tinggi badanmu?’ , diucapkan dengan disertai senyum mengejek Baekhyun yang biasanya. A! Awas saja kalau dia menyinggung tinggi badan!

“Harus? Sebelum tidur?”

“Ne! Kenapa? Masalah bagimu? Oke, aku tahu itu kebiasaan yang seperti anak kecil! Kau mau mengejekku? Silakan!”

“Aniyo, untuk apa mengejek? Itu kan bukan kebiasaan yang buruk, yah, meski tambahan kalsium memang sudah tidak akan mempengaruhi tinggi badanmu yang minim itu lagi, tapi setidaknya akan berefek bagus di tulang, kan?”

Gadis itu mendelikkan matanya begitu mendengar Baekhyun menyebutkan kata keramat baginya. Tinggi badan yang minim? Kurang ajar.

“Kalau kau mau, bisa aku pesankan sekarang ke petugas room service, eotte?”

Sungra menggeleng. “Nanti saja.”, jawabnya. Baekhyun sama sekali tidak bisa dibilang yakin dengan jawaban Sungra. tapi ia memutuskan untuk tidak memaksa. Resiko tidak bisa tidur atau apa bukan lagi tanggung jawabnya, kan?

Lima menit berlalu dengan menyibukkan diri dengan kesibukan masing-masing. Baekhyun dan remote televisi di tangannya serta Sungra dengan ujung kaos yang ia pakai. Yang Sungra lakukan sebenarnya hanya pengalihan perhatian dari badannya yang terasa tidak enak, terutama perutnya. Mungkin karena lambungnya tidak terbiasa tidak mengkonsumsi susu di malam hari, agak aneh sepertinya, tapi karena hal itu sudah jadi kebiasaannya dari kecil maka bisa saja terjadi. Ia berusaha menutupi rasa tidak enak di perutnya, tidak lucu kan kalau kau baru saja menolak pemberian seseorang tapi kemudian terlihat seperti orang yang sangat membutuhkan benda itu?

“Ya.” Baekhyun beranjak turun dari kasurnya setelah mematikan televisi lalu berpindah duduk di sebelah Sungra. “Ne? Waeyo?” balas Sungra, menggeser sedikit duduknya agar tidak terlalu dekat dengan namja itu.

“Kau tidak apa-apa? Sakit?” gadis itu menggeleng. Badannya sehat, hanya perutnya saja yang bermasalah. Memangnya terlihat di wajahnya, ya?

Baekhyun tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya mengambil gagang telepon kamar dan menekan salah satu tombol.”Ne, selamat malam. Mm… kami ingin memesan… dua gelas susu hangat, lalu satu porsi sandwich. Kamar 311. Kamsahamnida…”. Setelah meletakkan benda tersebut di tempatnya, Baekhyun kembali menghampiri Sungra dan mengacak rambutnya hingga berantakan. “Aku tidak mau kau sakit, nanti aku yang repot kalau harus menjelaskan ke orang tuamu, bodoh. Lain kali, kalau memang kau butuh sesuatu, katakan saja padaku, tidak usah sok gengsi segala. Mengerti?” ia menarik gadis di depannya ke dalam pelukannya dengan cepat, tidak memberi kesempatan bagi Sungra untuk menolak. “Orang serampangan sepertimu harus ada yang menjaga, kalau tidak bisa-bisa kau mati mengenaskan di jalanan. Ck.”

Tidak ada jawaban dari Sungra. Baekhyun menganggap tindakannya aman sehingga ia memilih untuk tetap di posisinya, mengeratkan dekapannya pada gadis itu hingga ia mendengar isakan pelan yang berasal darinya. “W, waeyo?” Baekhyun buru-buru menarik lengannya dan mundur, terkejut karena respon yang tidak diduganya dari Sungra. “Kau kenapa? Perutmu sakit sekali ya?”

Hanya gelengan yang diberikan Sungra sebagai jawaban ditambah dengan isakan yang menguat. “Aniyo… tidak apa-apa…”

“Lalu?” namja itu menarik dagu Sungra perlahan. “Hei, tatap aku. Yang seperti ini tidak mungkin tidak apa-apa. Kau kenapa? Katakan padaku, jangan menangis tanpa alasan begini…”

Gadis itu kembali menggeleng. “Bukan apa-apa! Kau tidak perlu tahu!” sentaknya, membuat isakannya jadi bertambah keras. Baekhyun mendecakkan lidahnya gemas karena tingkah Sungra. “Kenapa aku tidak bo—” kata-kata Baekhyun terputus oleh suara dering bel pintu kamar. Ia menghela napas, mengusap mata Sungra sejenak, lalu beranjak menuju pintu kamar. Mungkin petugas room service, begitu pikirnya, dan ternyata memang benar. Selesai mengurus segala hal termasuk pembayaran dan tip, Baekhyun kembali dengan membawa baki berisi satu teko susu dan cangkirnya serta sepiring sandwich, meletakkannya di meja dekat kasur Sungra, kemudian menepuk kepala gadis itu lagi sambil tersenyum. “Ssh, pesananmu sudah datang, jangan menangis lagi, arra?”

Baekhyun menuangkan susu ke satu cangkir lalu memberikannya ke Sungra. “Lapar? Mau sandwich?” tanpa menunggu persetujuan Sungra, ia mengambil setangkup roti isi dari piring dan menyuapkannya ke gadis itu begitu Sungra menghabiskan susunya. “Biar aku ambilkan la—“

“Tidak usah.” potong Sungra. “Kau… lanjutkan saja.” lanjutnya dengan suara yang lebih pelan dari kalimat pertamanya; wajahnya memerah entah karena malu atau karena sambal dalam sandwich itu terlalu pedas, tapi Baekhyun mengasumsikannya sebagai akibat dari yang pertama. “Kalau kau mau aku melanjutkan menyuapimu, aku punya syarat yang harus kau penuhi, Nona Lee.”

“Kata siapa aku memintamu—“

“Ceritakan apa yang membuatmu menangis tadi…” kali ini Baekhyun menatap Sungra dengan tatapan memohon. “Jebal. Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu. Aku tidak ingin membuatmu menangis seperti ini, maka aku harus tahu apa yang menyebabkan kau menjadi seperti tadi, agar aku tidak membuat kesalahan yang mengakibatkan kau menangis. Ne?”

to be continued

Advertisements

10 thoughts on “[Cafe Latte] #2 | Dream-Catcher”

  1. Gan…tung… lagi? *banting baekhyun
    Semangat yaaaa bos baekbek! Kami semua mendukungmu!

    Ini ff emang ngegalauin yaa endingnyaaa xD

  2. yaaaak kenapa berentinya disitu aduuuuh -_- *bantingmeja* lagi enak-enak bacaaa. sumpahsumpah penasaran bangeeet *agaksantai*
    suka ceritanya, daebaaakk. kukira tadinya ini gaada hubungannya sama yang oneshot sebelumnya, eh pas aku baca makin nge-scroll kebawah taunya ada hubungannya..
    adoooh. dilanjut lagi yaa chingu, plisplisplisss… ff-nya jjang ^-^

    1. *kabur* korban kedua yang jatuh XDD ampuni saya yaaaaaaa~ m(_ _)m
      iya, semacam lanjutan nggak jelas gitu sih :B hehehe ‘___’
      neee~ lagi tahap pengerjaan kok~ sebenarnya target liburan ini (tapi authornya kelewat males dan belum selesai) selesai~ tapi… ya begitulah, ehehe -_- mianhaeyo~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s