[Flashfiction] Shattered Mask

Pada akhirnya, gadis kecil itu mengangguk, menyerah oleh penawaran yang diberikan si anak laki-laki. Ia membiarkan tangannya ditarik, melangkah sambil mengikuti penunjuk jalan di depannya. Berawal dari jalan raya, menuju ke sebuah gang kecil di antara dua gedung tinggi dari bata kemerahan. Mereka melintasi puluhan persimpangan yang satupun tak dikenal gadis itu, dan seiring waktu berjalan rumah-rumah bata mulai berganti rumah kayu dengan model yang lucu, sama sekali asing bagi si gadis. Suara air yang bergemericik terdengar dari kolam-kolam kecil di depan setiap rumah. Jalan semen di bawah mereka berangsur menjadi tanah padat, yang anehnya tidak basah maupun becek padahal gadis itu ingat sekali kalau baru beberapa menit lalu hujan membasahinya. Di sini, matahari terik, langitnya lebih biru dari yang pernah diingat gadis itu, udaranya juga lebih manis.

Mereka berjalan ke satu rumah di antara perumahan kayu itu dan si anak lelaki mengetuk pintunya pelan. Delapan detik kemudian, seorang wanita muda membukakan pintu, tersenyum begitu melihat anak laki-laki itu tapi ekspresinya segera berubah kaku ketika mendapati si gadis kecil. Dengan cepat ia menarik anak laki-lakinya masuk kemudian mempersilahkan si gadis kecil untuk duduk di bangku kayu yang ditempatkan di samping pintu. Wajah wanita itu ketakutan bercampur panik, jelas-jelas tidak setuju dengan apa yang dilakukan anaknya.

“Kenapa kau membawa golongan mereka ke sini?”

“A, aku bertemu dengannya di depan jam besar itu…”

Big Ben?”

“Y-ya, dia kehujanan, bajunya basah kuyup dan aku yakin dia kedinginan, jadi…”

“Kau tahu kalau ini dilarang, bukan?”

“Aku tahu, tapi…”

“Anakku, kau seharusnya paham kalau kita berbeda dengan mereka. Tindakanmu membawa salah satu dari mereka ke sini hanya akan menimbulkan bahaya baginya dan bagi keluarga kita. Apa yang akan dikatakan oleh Tetua jika menemukan seseorang yang bukan berasal dari jenis kita di sini?” sang ibu berbisik cepat sembari mencengkeram lengan anaknya kuat. Anak lelaki itu meringis kesakitan. “Tapi… aku kasihan dengannya…” katanya dengan wajah polos. Wanita itu menghela napas, “Ibu mengerti, tapi ia tidak akan diijinkan hidup di sini sampai kapanpun. Itu peraturannya, sayang. Kau tidak bisa dengan seenaknya mengubah peraturan.”

Si anak laki-laki menunduk, memainkan kakinya di atas lantai kayu rumah yang hangat. Ia memikirkan gadis yang duduk di depan rumahnya dengan baju basah, mungkin sedang berjemur sambil menahan dingin yang menusuk tulang. Tiba-tiba sebuah ide menghantam pikirannya, membuatnya cepat-cepat menatap ibunya.

“Bagaimana kalau dia menjadi golongan kita?”

Sang ibu terkesiap. Hal itu bukannya mustahil dilakukan, tapi mengubah seseorang dari golongan lain hingga menjadi seperti mereka adalah sebuah penyimpangan kecuali dilakukan oleh Sang Tetua. Dan untuk membuat Sang Tetua menyetujui sesuatu bukanlah hal mudah. Bagi Sang Tetua yang terlalu rasional, setiap permintaan harus memiliki alasan kuat yang dapat dipertanggung jawabkan hingga ratusan tahun ke depan. Wanita itu tidak yakin alasan semacam ‘Aku kasihan dengannya, aku rasa dia akan lebih bahagia jika tinggal bersama kita.’ adalah alasan yang bisa menggerakkan hati Sang Tetua untuk mengabulkan permintaan anaknya.

“Tapi kau harus—”

“Aku yang akan melakukannya, Ibu. Aku yang akan memohon pada Sang Tetua. Dan jika tidak diperbolehkan, aku…”

“Kau akan apa?” wanita itu berharap anaknya berkata akan mengembalikan gadis itu ke dunianya, tetapi pancaran yang timbul dari mata anaknya tidak menunjukkan hal itu.

“Aku yang akan melakukannya, yang akan mengubahnya menjadi seperti kita.”

to be continued

Advertisements

4 thoughts on “[Flashfiction] Shattered Mask”

  1. ini… onnie lupa judul FF-nya apa, tapi ini sambungan ya saeng? :s

    aaaaa anak cowok itu apaaaaa~~?
    vampir? *eh
    ditunggu lanjutannyaaaaa X3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s