[Cafe Latte] #3 | Proposal

Title: Proposal
Genre: angst, romance, family
Rating: PG-13
Chara: ……………………………………………………

Maka hampir separuh malam itu dihabiskan oleh Sungra dengan bercerita dan mendengarkan oleh Baekhyun. Segala hal yang selama ini Sungra tutupi dari Baekhyun soal pernikahannya yang gagal ia beberkan hingga terungkap semuanya; entah kenapa, setelah itu ia merasa amat lega meski kepalanya terasa pening karena terlalu banyak menangis, lagi.

Sementara Baekhyun menemukan alasan-alasan tatapan kosong dan perlakuan ketus gadis itu padanya sekian minggu ini, setelah mereka pertama kali bertemu di depan cafenya. Yang membuatnya tak habis pikir adalah bagaimana bisa ada seseorang setega namja kurang ajar itu? Berselingkuh hingga separah itu dan masih berani menikahi gadis di sebelahnya ini? Jika saja Baekhyun bertemu dengan orang yang mencampakkan Sungra itu maka mungkin ia tidak akan bisa menahan diri untuk mengubur laki-laki itu hidup-hidup. Kalau perlu, sekaligus dengan selingkuhannya saja, yeoja jalang itu. Pengkhianatan seperti itu… terlalu kejam, apalagi jika korbannya adalah seorang gadis yang sangat mempercayai si pengkhianat. Baekhyun bahkan tidak bisa membayangkan perasaan Sungra di altar saat itu, menghadapi masa depannya yang tiba-tiba hancur begitu saja di hadapan para hadirin, di tengah sebuah prosesi suci.

“Lagipula awalnya orang itu bukan temanku, kok. Dia… ng, semacam… rival? Ya aku tidak tahu istilah yang tepat, tapi mungkin seperti itu, meski aku sama sekali tidak pernah memulai pertengkaran atau yang semacamnya dengan orang lain~”

“Dia yang memulai masalah denganmu, sudah terlihat dari awal. Kenapa kau maafkan kalau begitu?”

“Lihat, aku hanya ingin berbuat baik, arra? Berprasangka yang tidak-tidak pada orang lain itu tidak baik!”

“Seharusnya, kalau kau sudah tahu latar belakang seseorang maka kau akan bisa memperkirakan tindakannya di waktu yang akan datang, kan? Kau tidak curiga padanya?”

Melihat gelengan kepala Sungra membuat Baekhyun ikut menggeleng. Bagaimana bisa ada makhluk seperti dia di dunia ini?

“Tapi… sudahlah… kalau memang dia bukan untukku ya mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, juga. Tidak bisa diulang dari awal lagi.” desis Sungra sambil memejamkan mata, lalu merebahkan diri di kasur. “Aku sudah pernah bilang padamu kan kalau mau bagaimanapun juga aku tidak akan pernah memaafkannya. Mau dia meminta maaf hingga seperti apa, tetap tidak akan bisa. Aku… terlanjur… ng, molla, jijik, mungkin?”

“Memang sudah sewajarnya begitu.” Baekhyun mengacak rambut Sungra lagi. “Oke, aku rasa sudah cukup… bagaimana?”

“Ng~” gadis itu masih memejamkan mata. “Aku… ingin tidur… dan kau harus kembali ke kasurmu. Sekarang.” putus Sungra. Baekhyun menggeleng, memposisikan duduknya di tepian kasur. “Aku di sini sampai kau benar-benar tertidur. Jelas?”

“Tidak boleh!” dan sebuah tendangan mendarat di badan Baekhyun, disusul dengan tendangan-tendangan yang lain, membuat namja itu terpaksa benar-benar pergi dari tempat tidur gadis itu. “Awas kalau kau macam-macam!” ia menatap Baekhyun sengit sebelum berbalik, punggung menghadap kasur sebelah.

Baekhyun menghela napas lalu menunggu hingga napas Sungra teratur, tanda ia sudah tertidur. Perlahan ia kembali berjalan ke tempat tidur sebelah lalu memperhatikan yeoja itu dari tepian tempat tidur. Sepertinya ia memang sudah terlelap, mungkin kelelahan karena apa yang ia alami seharian ini.

Dengan hati-hati agar tidak sampai membangunkannya, Baekhyun turut merebahkan badannya sedikit jauh dari Sungra, mengamati wajah gadis yang sedang tertidur di depannya. “Aku tidak akan macam-macam. Tidak mungkin aku berbuat yang aneh-aneh ke calon anaeku, aniyo?” gumamnya, mengusap kepala gadis itu sekilas. “Jaljjayo, yeobo~ besok kita pulang dan aku akan menjelaskan semuanya ke orang tuamu. Aku harap… mereka mau menerimaku…”

——

Sungra mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat. Ia kembali memejamkan mata, berusaha mengingat sedang ada di mana ia sekarang dan kenapa ia bisa berada di sini, lalu mencoba meregangkan tubuhnya yang, secara mengejutkan, terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menahan anggota geraknya untuk bergerak. Ia membuka mata dan kali ini berusaha menajamkan pandangannya yang sedikit kabur karena mengantuk. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah…

Wajah Baekhyun yang masih tertidur dan hanya berjarak sekitar satu jengkal dari wajahnya. Matanya terpejam dan gadis itu harus mengakui kalau Baekhyun lebih terlihat seperti anak kecil daripada laki-laki umur dua puluhan saat itu. Hanya kekuatan tangan yang sekarang memeluknya erat hingga ia tak bisa bergerak itu yang mengingatkan Sungra kalau yang ia hadapi sekarang adalah seorang Byun Baekhyun, namja pemaksa itu. Sungra berusaha melepaskan tangan Baekhyun dari badannya, tapi gagal. Ia menendang Baekhyun pelan dan namja itu terbangun seketika sambil mengeluh pelan.

Babo! Lepas!” desis Sungra begitu mendapati mata Baekhyun terbuka.

Shirheo~”

“Mesum! Lepas!”

Malas-malasan, Baekhyun melepaskan Sungra, berusaha duduk sambil mengusap matanya. “Jam berapa ini?” katanya dengan suara serak, tidak menghiraukan tatapan kesal Sungra.

Molla! Pertanyaanku sekarang, kenapa kau berani tidur di sini?!” bentak gadis itu. Baekhyun memicingkan mata, keningnya berkerut seperti sedang memikirkan secara matang-matang alasan yang harus ia utarakan. “Ng… kau kelihatan seperti anak hilang semalam, jadi…”

“Jadi apa?!”

“Ya aku rasa kau perlu dilindungi, hehe.” Baekhyun memamerkan senyum innocent-nya“Setelah apa yang kau ceritakan tadi malam, sepertinya—“

“Apa?! Kan aku sudah melarangmu tidur di sini! Kenapa kau masih—“

Mianhaeeee~ ne? Mianhae~”

Sungra terdiam melihat serangan aegyo tiba-tiba namja di depannya. Sambil berusaha menahan tawa, ia mengangguk pelan. “N, ne~ tapi jangan lagi, mengerti?”

“Mengerti!” Baekhyun tertawa dan mengacak rambut gadis itu pelan. “Mau turun? Sarapan? Setelah itu check-out lalu pulang, oke?”

——

Langkah gadis itu terhenti di jalan paving menuju pintu rumahnya. Ia menghela napas dalam, sedikit ketakutan merayapinya. Apa yang akan dikatakan eommanya saat melihatnya sekarang? Dengan namja yang bisa dibilang masih asing bagi keluarganya, dan habis menginap, pula.

“Kenapa lagi?”

Gadis itu sudah tahu siapa yang berbicara barusan tanpa perlu menoleh. “Aniyo.” desisnya singkat, kembali melangkah menuju pintu utama. Mengetuknya pelan dan menunggu hingga seseorang membukakan pintu itu untuknya. “Kau pulang saja.” lanjut gadis itu, melirik Baekhyun tidak nyaman yang langsung dibalas dengan gelengan singkat.

“Aku harus mengembalikanmu ke orang tuamu dengan selamat dan utuh, ne?”

“Terserah, sesukamu saja…” Sungra berhenti bicara saat melihat daun pintu kayu di depannya mengayun perlahan, menampilkan sosok eommanya di balik pintu. “Eomma, aku pulang…” katanya perlahan. Eomma Sungra menatap gadis itu dengan sedikit curiga lalu kembali melayangkan tatapan yang sama ke Baekhyun. “Kalian berdua, masuklah.” kata eomma Sungra kemudian.

“Jadi, kalian menginap di hotel tadi malam?” eomma Sungra melirik Sungra yang sengaja menjauhi Baekhyun dengan duduk di kursi ottoman di pojok ruangan. Pertanyaan tersebut dijawab dengan cepat oleh Baekhyun yang mengiyakan, masih dengan senyum kecilnya.

“Satu kamar?”

“N, ne, ajumma, tapi beda kasur. Ya kan Ra-ah? Kita tidur beda kasur, kan?”

Sungra tersentak dari lamunannya saat mendengar namanya diangkat ke percakapan. Ia melirik Baekhyun dengan tatapan membunuh sebelum kemudian mengangguk ke eommanya, membantu kebohongan Baekhyun. Ia sedang tidak ingin terlibat dalam masalah tambahan; yang ia inginkan sekarang hanyalah pergi ke kamar tidurnya, melompat ke kasur lalu tidur dan bangun dengan melupakan bahwa seorang Byun Baekhyun pernah muncul di depannya. Ha, ide yang sangat bagus.

“Kenapa tidak menyewa dua kamar? Bukan apa-apa, Baekhyun-ssi, dan ajumma minta maaf jika itu memberatkan. Tapi… yah, kalian mengerti maksudku, kan? Dua orang dewasa lawan jenis. Tanpa hubungan apa-apa. Tidur sekamar. Orang tua mana yang tidak curiga dan khawatir?”

Baekhyun terdiam. Kenapa tidak terlintas di pikirannya untuk menyewa dua kamar? Ia bisa saja melakukannya, tapi kenapa yang terpikir hanya memilih kamar double-bed? Dan kenapa ia tidak menanyakan ke Sungra soal hal itu?

Sementara Sungra juga ikut berpikir. Ia sama sekali tidak menolak saat mendengar si resepsionis hotel menyebutkan tipe kamar yang dipilih Baekhyun, dan ia baru merasa heran sekarang. Seharusnya ia menolak, bukan? Tapi kenapa saat itu… ah, mungkin karena saat itu aku kelelahan, begitu pikirnya, berusaha menenangkan diri meski pada akhirnya gagal. Bagaimana caranya menjelaskan hal ini ke eommanya?

Melihat tidak ada respon berarti dari dua anak di depannya, eomma Sungra menghela napas dalam. “Baiklah, ajumma percaya. Hanya yang masih ajumma pikirkan adalah… sebenarnya apa hubungan kalian?”

“Teman.” cetus Sungra cepat sambil berdiri, tidak tahan dengan topik diskusi ini lagi. “Eomma, aku ke kamar sebentar. Istirahat.” katanya sebelum melangkah cepat ke kamarnya, membanting pintu dan berguling di kasur tanpa repot-repot mengganti baju. Ia menghela napas dan melesakkan wajahnya ke bantal. Mengharapkan segala hal menyebalkan dalam otaknya diserap oleh bantal itu seperti ditelan black hole dan tidak akan pernah kembali ke pikirannya sampai kapanpun. Ia memejamkan mata, berniat untuk tidur beberapa waktu lagi hingga energinya kembali.

Sementara itu, Baekhyun masih sibuk menanggapi pembicaraan eomma Sungra yang cenderung menginterogasi. Meski awalnya bisa memaklumi tapi lama-kelamaan ia mulai merasa risih dan kesal. Ck, kapan habisnya? desis namja itu setiap eomma Sungra memulai pertanyaan baru.

Permohonan mendalam Baekhyun itu akhirnya terkabul saat terdengar derum mesin mobil dari depan rumah. Eomma Sungra menghentikan sesi tanya-jawabnya dan berjalan ke pintu depan, membukakan pintu untuk seorang pria yang namja itu tebak sebagai appa Sungra.

“Byun Baekhyun imnida, ajusshi.” serta-merta ia berdiri dan membungkukkan badan ke arah appa Sungra. “Ng… teman Sungra, hehe~”

Appa Sungra hanya mengamati Baekhyun sejenak kemudian mengangguk. Eomma Sungra membisikkan sesuatu ke suaminya, dan pria itu menatap Baekhyun sebentar sebelum kemudian balas berbisik. Laki-laki umur awal lima puluhan itu kemudian beranjak ke dalam, meninggalkan eomma Sungra dan Baekhyun di ruang tamu. Mungkin berniat mengganti baju dulu sebelum kembali menghadapi Baekhyun yang tiba-tiba saja muncul itu.

“A! Ajusshi, ada sesuatu yang sangat penting dan perlu dibicarakan secara serius!” sela Baekhyun sebelum appa Sungra berlalu dari ruang tamu.

“Hal penting apa yang ingin kau bicarakan, anak muda?” appa Sungra menatap Baekhyun dengan tatapan ingin tahu. Sudah lama sejak terakhir kali Sungra mengenalkan teman namjanya ke orang tuanya, dan kata-kata Baekhyun tentang sesuatu-yang-sangat-penting-dan-perlu-dibicarakan-secara-serius ini lumayan menyita perhatiannya.

Ajumma, ajusshi, aku…” Baekhyun menghela napas sejenak. “Aku ingin melamar Sungra.”

——

Keluarga Lee yang ini memiliki seorang putri tunggal, dan seperti yang diharapkan oleh orang tua pada umumnya, seorang Lee Sungra sudah dibebani secara tidak langsung untuk segera mencari pasangan hidup sejak usia awal dua puluhan. Baginya hal itu terasa amat mudah. Ia sudah punya seorang kekasih dan hubungan mereka sudah berjalan selama hampir lima tahun, jadi apa lagi yang perlu dilakukan selain membawa hubungan itu ke tahap yang lebih serius?

Hal lain yang sudah dipersiapkan oleh Tuan dan Nyonya Lee adalah untuk menerima sebuah lamaran. Hanya satu, bukan dua. Memangnya anak mereka berapa? Apa Sungra akan menikah dua kali? Tidak ada orang tua yang mengharapkan pernikahan anaknya gagal, bukan?

Pola pikir tersebut tertanam di benak setiap anggota keluarga Lee mulai dari awal prosesi lamaran, berlanjut ke upacara pertunangan hingga hari besar bagi sang gadis tiba. Sampai Sungra menggamit lengan tunangannya, menapakkan kakinya di lantai marmer berlapis karpet beledu merah di depan altar, berdiri tegak tapi anggun layaknya seorang mempelai wanita yang berbahagia sembari menghadap pastor yang siap membacakan janji suci bagi sepasang calon suami-istri di depannya. Sebuah hari bahagia yang terasa sangat sempurna di kapel mungil sebuah gereja megah di tengah kota. Seluruh keluarga besar dan kolega kedua mempelai serta orang tuanya memenuhi bangku-bangku kayu panjang gereja, menanti saat-saat pergantian status dua orang di depan sana.

Semua orang itu juga yang melihat bagaimana nama keluarga Lee tercoreng karena putri semata wayang mereka batal menikah. Saksi mata sewaktu sang gadis menampar tunangannya keras dengan air mata berlinang di pipinya, membuang cincin yang setia melingkari jari manis tangan kirinya sejak setahun terakhir lalu berlari meninggalkan kapel tanpa bisa dicegah siapapun. Tidak ada yang menghalanginya, semua orang terlalu terkejut karena tiba-tiba saja upacara suci tersebut batal justru pada saat yang seharusnya paling mengharukan. Juga terkejut karena tindakan si mempelai wanita yang di luar dugaan.

Satu kalimat yang dilontarkan gadis lain dari bangku hadirin sebelum si pengantin pria mengulangi janji yang diucapkan pendeta telah merusak kepercayaan Sungra dan kedua orang tuanya pada komitmen pernikahan yang ditujukan bagi gadis itu. Kalimat itu diteriakkan dengan suara tersendat dan nada penuh kebencian tentang bagaimana sang mempelai pria telah berselingkuh dengannya dan menghasilkan seorang janin yang sekarang berada dalam rahimnya, lengkap dengan air mata yang entah betulan atau palsu. Apapun itu, kejadian itu sudah cukup banyak menanamkan trauma di benak kedua orang tua Sungra. Melihat anak mereka pulang dalam baju seragam cafe pinjaman dan tanpa mengatakan apa-apa setelah melarikan diri dari gereja, serta  menghadapi mood buruk serta tatapan kosong gadis itu selama lebih dari seminggu mengakibatkan mereka bertekad akan berpikir lebih dari dua kali dalam urusan jodoh putri mereka itu, jika ada yang melamar.

Maka, hal itu pula yang diutarakan appa Sungra pada Baekhyun setelah ia melontarkan satu kalimat yang, jujur, cukup mengagetkan bagi kedua orang tua Sungra. Bagaimana tidak? Mereka sama sekali tidak mengharapkan akan ada lamaran lain yang datang selama masa ‘penyembuhan’ bagi keluarga itu. Pelajaran cukup menyakitkan beberapa waktu lalu membuat mereka jadi lebih selektif terhadap teman-teman anak gadis mereka, dan sekarang tiba-tiba saja ada seorang laki-laki out of nowhere yang mengajukan lamaran ke putri mereka? Bahkan appa Sungra tidak tahu harus menolak atau apa dalam menghadapi kata-kata Baekhyun yang sama sekali tak terduga.

“Aku paham bagaimana keadaanku sekarang, ajusshi. Dan aku juga tahu kalau posisiku berat karena apa yang dialami Sungra sebelum ini. Pasti tidak akan mudah untuk mendapatkan kepercayaan Sungra maupun ajumma dan ajusshi tentang hal ini. Tapi, aku serius soal ingin menikahinya dan aku tidak akan menyia-nyiakan yeoja yang aku cintai.” tegas Baekhyun, menyambung perkataannya. “Meski aku baru bertemu dengannya pada hari itu, yang sudah pasti belum terlalu lama, tapi… aku merasa kalau ia gadis yang tepat untukku. Tepat saat aku melihatnya saat itu.”

“Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal seperti itu saat kau bahkan belum mengenalnya?” potong eomma Sungra cepat. Bagaimanapun, wanita paruh baya itu masih belum bisa mempercayai Baekhyun. Lagipula siapa yang akan percaya jika orang yang belum lama kau kenal sudah berani melamar anakmu?

“Ng… karena selama aku hidup, aku tidak pernah merasa tertarik dengan satu yeoja pun sebelumnya. Ajumma dan ajusshi boleh tidak percaya, tapi aku belum pernah punya kekasih sampai sekarang. Tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan seorang gadis dan belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Aku bersumpah…” Baekhyun berhenti sejenak. “… dia gadis pertama yang berhasil membuatku salah tingkah dan tidak bisa berpikir jernih saat menatapnya.”

Wajah eomma Sungra seketika memerah, entah karena menahan tawa mendengar betapa absurdnya penjelasan Baekhyun atau karena ada seseorang yang bisa mengungkapkan perasaannya segamblang itu. Apapun itu, yang pasti hanya appa Sungra yang bisa menguasai diri dengan tetap menatap lurus ke arah Baekhyun seolah sedang men-scan namja itu dari ujung kepala hingga kuku jari kaki.

Akhirnya, appa Sungra membuka mulut dan mulai berbicara, “Begini saja. Kalau kau memang serius, datanglah lagi dengan orang tuamu. Kami tidak bisa memutuskan tanpa berdiskusi dengan orang tuamu, bukan? Kami juga akan memikirkan soal lamaranmu untuk Sungra, termasuk menunggu jawaban anak kami. Karena kau sudah tahu posisi dan keadaannya, aku harap kau bisa mengerti kalau ini mungkin akan memakan waktu yang agak lama; dan jika kau memaksa, bisa saja ada pembatalan. Mengerti?”

Baekhyun mengangguk, sedikit enggan meski ada bagian dirinya yang lega karena ia –sepertinya– cukup diterima oleh kedua orang tua yeojanya. Setelah sedikit obrolan ringan basa-basi, ia mengundurkan diri dan berpamitan pada kedua orang tua Sungra seraya mengucapkan terima kasih dan meminta maaf karena sudah ‘menculik’ gadis itu semalam.

“Jika bisa… tolong pamitkan ke Sungra kalau aku pulang, hehe. Kamsahamnida~” namja itu membungkuk di depan pintu kemudian berjalan ke mobilnya. Tersenyum singkat ke arah pasangan paruh baya yang mengantarkannya hingga ke pintu depan dan segera berlalu, kembali ke apartemennya lagi sembari memikirkan hal yang perlu ia lakukan selanjutnya. Yang jelas adalah menghubungi kedua orang tuanya agar bisa secepatnya datang ke Seoul. Ia yakin orang tuanya akan segera datang, bukan karena mereka sangat menyayangi Baekhyun sampai permintaan mendadaknya itu langsung dipenuhi, tapi lebih karena kaget mendengar anak mereka yang tidak pernah dekat dengan yeoja tiba-tiba mengabari akan melamar seseorang.

Sementara itu, kedua orang tua Sungra kembali ke dalam rumah sambil membicarakan apa yang baru saja terjadi, termasuk pemaksaan appa Sungra untuk menceritakan perihal kenapa Sungra menghilang dengan namja yang mengaku bernama Baekhyun itu semalam.

“Sudahlah, itu nanti saja, yang penting sekarang adalah bagaimana menanggapi lamaran anak itu, ne?” putus eomma Sungra sambil mengunci pintu rumah.

“Kita lihat saja nanti bagaimana selanjutnya. Tapi, setidaknya anak itu berani melamar Sungra atas keinginannya sendiri, bukan karena anak kita memaksanya.”

“Jadi… kau akan menerimanya, yeobo?”

“Tergantung. Yah, aku rasa dia memang serius dengan Sungra… jadi… kenapa tidak?”

“Kau yakin?”

“Aku sudah bilang kalau tergantung, kan? Tergantung bagaimana cara anak itu meyakinkan kita, dan tergantung sikap Sungra, tentu saja. Jadi… bagaimana menurutmu?”

to be continued

Advertisements

6 thoughts on “[Cafe Latte] #3 | Proposal”

  1. end-nya maybe kaaan? yes, berarti masih ada kelanjutannya lagi hehe. chingu gatau aku loncat-loncat begitu nemu ff ini, tanggung jawab -_-
    semangat buat baekhyun selanjutnya, biar lamarannya diterima hehe. semangat juga chingu nulis lanjutannya. aku tunggu selaluuu~ fighting! ^-^

    1. ng… iyasih, maybe :3 ada lanjutannya gak yaaa~ *digebukin
      uwo, jeongmal? 😮 mianhaeeeeeeeee m(_ _)m
      ehehehe~ doakan aja tuh si baekhyun, siapa tau eommappanya sungra nggak nerima *eh *pukpuk baek*
      gomawoyoooooo ^^

  2. *baca *sedih lagi sama kisah(?) sungra*
    BAEKHYUN! SEMANGAT!
    uuu jangan end dulu dong, onnie tetep penasaran niiih ;;__;;

    semangat lanjut saeeng :3

  3. Reblogged this on mhom's ^^ and commented:
    ayoayooo~ yang nungguin serial galau(?) ini mana suaranyaaa~~? :3 masih belom ‘end’ kok, saya ketekin nanti author-nya *eh
    jangan lupa komen ^^

  4. bangbaaekk kmu melakukan yang terbaik b^^d
    tapi apa ga kcepetan bang ? sungranya masih tahap recovery gituuu, kalo aku mah ready #digeplak hahaa
    keren authorniim..udah bikin baek jadi manis banget disini, jjang !!:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s