[One-Shot] May I?

Title: May I?
Genre: angst, friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Sungra (Main, POV, OC), Lee Taemin, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Kim Raena (OC)

Ini… biasa, another side –lagi. Versi POV si anak galau (baca: Sungra) XD, kalau versi aslinya bisa dicek disini, silakan baca dulu biar nggak bingung :3

Aku Lee Sungra, kelas 1-hampir-2, umur 15-hampir-16. Hobi akhir-akhir ini adalah duduk berlama-lama di depan kelas sebelum bel masuk berbunyi, menunggu… eh, seseorang lewat, hehe.

Seperti hari ini, aku datang pagi karena ada pendalaman materi. Harusnya ini untuk siswa kelas 2, tapi karena aku masuk kelas ‘khusus’ aku harus ikut kegiatan ini. Malas sekali-_- tapi… ng, ada sisi baiknya, sih.

Lorong lantai 3 masih sepi saat aku duduk di bangku depan kelas. Kelasku sendiri juga masih kosong, sama sekali belum ada temanku yang datang. Tanpa sadar aku mengetukkan sisi hard cover novel di tanganku ke bangku. Bosan~ ini juga masih terlalu pagi untuk menunggu orang itu lewat! Kenapa aku bodoh sekali, sih? gumamku dalam hati sambil mengacak rambut. Bisa saja sih aku masuk dulu, tapi bagaimana kalau orang itu lewat? Tidak bisa menyapanya seperti biasa, dong? Masa’ aku harus langsung keluar kelas dan menyapanya begitu ia lewat di depan kelasku, itu kan janggal namanya!

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari ujung lorong tempat tangga gedung berada. Aku langsung pura-pura menyibukkan diri dengan novel sambil sebentar-sebentar melirik ke arah sumber suara, siapa tahu…

Eh, benar ternyata. Kuletakkan lagi novelku, setengah membantingnya, lalu berusaha bersikap biasa dan tidak mencurigakan dengan menggoyangkan kaki di udara. Yak, dalam 3 hitungan, sapa dia, Lee Sungra! 1, 2, 3…

“A, annyeong haseyo, Taemin-sunbae…” sapaku, agak canggung. Oh tidak, memalukan! Pasti aneh sekali kedengarannya!

Orang itu, eh, maaf, maksudku Taemin-sunbae, hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Eommaaaaaaaaa~ mau ditaruh dimana mukaku nantiiii?!

Begitu Taemin-sunbae menjauh, aku langsung memukul kepalaku dengan novel. Aish, ternyata novel tebal dengan hard cover cukup berbahaya kalau dijadikan alat pemukul. Sakit!

—–

Aku mempercepat langkahku ke arah ruang guru, sibuk menghitung waktu yang kumiliki agar bisa sampai ke sana sebelum guru biologi kelasku datang. Biasanya tiga puluh menit sebelum bel masuk sekolah beliau sudah menunjukkan batang hidungnya di ruang guru, jangan tanya padaku kenapa aku bisa sampai hapal, itu info dari teman sekelasku yang sering terlambat mengumpulkan tugas. Nah, tiga puluh menit itu berarti sekitar lima menit dari waktu yang ditunjukkan jam tanganku, sementara aku masih harus turun untuk mencapai ruang guru dan meletakkan makalah sialan ini di meja. Tidak, aku tidak boleh terlambat atau image anak baik-baik yang berusaha kujaga selama ini akan memburuk. Bisa gawat akibatnya nanti.

Waktu makin menipis dan aku meningkatkan kecepatan berjalanku hingga setengah berlari, masih sibuk menghitung dalam hati. Semoga guru itu belum da—

Sial dua kali lipat. Berkali-kali lipat lebih buruk malah. Aku menabrak seseorang, buku dan makalah yang kubawa jatuh berantakan dan ketika aku mendongak, yang kulihat adalah wajah Taemin-sunbae yang kelihatan terkejut. Di sebelahnya ada Baekhyun-sunbae, ketua klub matematika, dan satu orang lagi yang entah siapa namanya. Aku langsung membungkuk berkali-kali, gugup bercampur malu, “M, mianhaeyo sunbaenim!” kataku cepat sambil mengambil barang-barangku yang bertebaran.

“Ne, tidak apa-apa. Nah, ini buku-bukumu. Lain kali hati-hati.” kata Taemin-sunbae sambil ikut merapikan barang-barangku bersama dengan kedua sunbae lainnya. Setelah semua terkumpul, aku buru-buru membungkuk, mengucapkan terima kasih dan kembali meminta maaf lalu cepat-cepat pergi ke ruang guru. Bagus sekali, Lee Sungra-ssi. Sangat bagus. Mempermalukan diri sendiri di depan kakak kelas? Ck.

——

Layar ponselku berkedip sekilas disusul dengan getaran halus. Notifikasi pesan baru muncul dan aku langsung membukanya di sela kesibukan mengerjakan tugas remedial. Siapa yang tega mengganggu orang yang sedang panik begini, sih?

Byun Baekhyun-nim
Jadi pinjam catatanku? Kalau jadi, kau ke perpustakaan saja sekarang. Oh iya, bisa sekalian bawa dokumen klub kemarin, dongsaeng-ku tersayang? Ada di ruang klub, laci A. Gomawoyo dongsaengie~

Aku mendengus kesal. Memang aku yang meminjam sih, tapi masa’ dia dengan seenaknya menyuruhku seperti itu? Ini kan penyalah-gunaan kekuasaan namanya! Mentang-mentang aku saudara sepupunya jadi dia bisa dengan seenaknya menyuruhku, begitu?

Sambil bersungut-sungut aku memberesi buku dan alat tulis yang berserakan di atas meja kemudian berlalu ke ruang klub yang masih selantai dengan kelasku. Dokumen kemarin? Ck, mungkin surat penunjukan ketua baru mengingat sebentar lagi si ketua lawas itu akan lulus. Apapun itu, semoga saja jumlahnya sebanding untuk ditukar dengan buku catatan matematika keramatnya. Pelit sekali dia jadi orang, dengan sepupu sendiri pula, omelku dalam hati sambil mengambil dokumen-dokumen yang diminta Baekhyun tadi. Berarti sekarang ke perpustakaan…

“Nah! Dongsaeng pintar~ gomawoyo~” ia menyambut tumpukan map di tanganku dengan lengan terkembang, satu tangannya memegang buku kalkulus yang sangat tebal. Aku merengut, “Mana bukunya?”

“Buku catatanku? Masih dibawa temanku~”

Aku mendelik kesal. Jadi dia menipuku, begitu?!

“A, a, jangan marah duluuu~ dengarkan duluuu~”

Ne. Apa? Palliiii~ alasanmu harus logis, babo.” ya, aku berani begini di sekolah sewaktu hanya ada kami berdua saja. Bisa-bisa aku langsung dicap anak kurang ajar jika ketahuan bicara seperti itu ke kakak kelas.

“Jadi begini~ temanku yang meminjam catatan itu akan ke sini sebentar lagi~”

“Lalu hubungannya dengan aku harus ke sini juga? Kau kan bisa memberikannya nanti saat bukunya sudah kau bawa!” masih kesal karena merasa dibohongi dan diperbudak, aku menatap tajam Baekhyun yang masih cengar-cengir saja di depanku.

“Nah, justru karena dia akan ke sini itu kau juga harus ada di sini nanti!”

“Memangnya ke—” kata-kataku terputus saat mendengar pintu perpustakaan dibuka dan suara sapaan orang mengikuti, sepertinya namja. “Itu mereka~” kata Baekhyun sambil melebarkan cengirannya. Mereka? Dia tidak bilang kalau temannya yang akan ke sini ada lebih dari satu orang! Sebenarnya apa maksud tindakannya?

Seolah-olah bisa membaca pertanyaan dalam benakku, ia kembali membuka mulut. “Ne, si kembar kelas, Jongin dan Taemin~ Jongin sih yang meminjam bukuku, dan Taemin, kebetulan dia ke sini untuk mencari buku referensi, si Kkamjong itu mau ke sini juga mungkin karena dipaksa Taemin~” ia menatapku dengan tatapan meledek. “Nah, makanya aku bilang kau ‘diperlukan’ di sini, tapi kalau kau tidak mau ya silahkan pulang. Bagaimana?”

Aku melotot ke Baekhyun meski bisa merasakan pipiku mulai memanas. Namja sialan ini…

“Pulang?” kentara sekali ia sedang menggodaku. Aku menginjak kakinya keras dan menggeleng cepat, membuatnya menjerit tertahan karena kesakitan. Dasar namja bodoh.

“Aw! Appeu! Dongsaeng kurang ajar!” sentaknya. Aku menjulurkan lidah lalu kembali menelusuri buku-buku di rak. Tidak ada yang menarik. Baekhyun sendiri masih sibuk membalik-balik halaman buku di tangannya. “Kau jadi pinjam bukuku tidak? Kalau jadi, ikut aku mengembalikan buku ini ke rak lalu baru meminta Jongin mengembalikan bukuku. Ara?”

Ikut dengannya ke tempat temannya itu duduk? Bagaimana kalau….ada Taemin-sunbae di sana? Apa yang harus aku lakukan nanti? Bagaimana kalau dia masih ingat peristiwa tempo hari itu?

“Sungra?”

“Ah? Eh, ne~ araseo~” aku mengikuti Baekhyun yang melangkah ke bagian buku-buku pelajaran. Rak buku matematika sendiri ada di dekat kumpulan buku biologi dan fisika seingatku, karena aku sering melewati rak-rak itu sebelum sampai ke bagian novel, bukan karena aku sering meminjam buku pelajaran. Aku pemalas sebenarnya, hehe.

Baekhyun berbelok ke kanan dan aku masih mengekorinya. Langkahku terhenti begitu melihat seseorang yang berdiri di depan barisan buku biologi, sibuk mengamati punggung buku yang jumlahnya ratusan dan tebal-tebal itu. Aku langsung menarik Baekhyun yang sudah hampir menyapa orang itu dan menyeretnya secara paksa ke rak lain yang agak jauh dari sana dengan tergesa-gesa. Ia menatapku heran, tapi kemudian wajah bingungnya yang menyebalkan itu segera berganti dengan roman muka paham begitu aku melayangkan tatapan dasar-bodoh-kau-lupa-kalau-ada-aku-atau-apa padanya.

“Ups, maaf, aku lupa kalau ada kau, ehehe~” kekehnya dengan wajah tanpa dosa. Aku melengos lalu mengusap muka, masih sedikit panik.

“Ya sudah, pokoknya kau harus tetap ikut ke sana. Ini kesempatan untuk berkenalan secara baik dan benar dengannya, kan?” dan aku terdiam. Aku memang tidak pernah berkenalan secara proper dengan Taemin-sunbae, sih. Ini… penawaran yang terlalu menggiurkan.

Tanpa menunggu jawabanku, Baekhyun ganti menyeretku kembali ke tempat rak buku matematika berada. Ia baru melepaskan tanganku sekitar dua meter dari tujuan dan aku langsung menunduk sambil berdoa, berharap orang itu sudah tidak berada di sana lagi sekaligus mulai berakting sewajarnya seorang adik kelas, bukannya adik sepupu pembangkang –meski ada alasan kenapa aku jadi adik sepupu pembangkang.

“Taemin-a?” berarti… masih ada. Aku makin menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku dari tatapan siapapun yang ada di depanku sekarang.

“Baekhyun-a, kebetulan kau ada di sini. Bisa bantu aku memilih buku biologi?” kata Taemin-sunbae. Baekhyun menggumamkan sesuatu, sepertinya ia ingin meletakkan tasnya dulu baru membantu mencarikan buku untuk Taemin-sunbae. Tentu saja aku mengikuti Baekhyun, mau jadi apa aku jika ditinggal berdua dengan Taemin-sunbae di sini?

“Kau kenapa ikut?”

“Kau mau aku mati di sana? Tidak, kan?” desisku pelan sembari meletakkan tas di sebelah seorang namja yang sedang tidur, hanya tempat itu yang tersisa. Mungkin dia orang yang meminjam buku catatan Baekhyun, asumsiku, sih.

Aku menahan tangan Baekhyun sebelum ia beranjak lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. Judul buku biologi yang setahuku cukup lengkap, biar nanti bisa ia sarankan ke Taemin-sunbae. Begitu kami sudah dekat dengan rak itu aku kembali menunduk, berusaha sebisa mungkin agar keberadaanku tetap invisible.

“Kau mau buku tingkat berapa? Sampai bingung begitu, ckckck. Nah, buku ini setahuku lengkap.” aku bisa melihat Baekhyun mengambil buku yang kumaksud. Taemin-sunbae memperhatikan buku itu, membolak-baliknya lalu mengucapkan terima kasih. Entah kenapa aku merasa kalau Taemin-sunbae sesekali menatapku, apa aku terlihat sebegitu anehnya?

“Sungra-ssi, jadi meminjam catatanku?” tiba-tiba Baekhyun melayangkan pertanyaannya padaku. Ck, apa lagi rencananya hari ini?

“N-ne.” gumamku pelan, masih menunduk. “Tunggu sebentar.” kata Baekhyun, dan tiba-tiba saja ia berjalan meninggalkanku hanya berdua dengan Taemin-sunbae. Aku tergagap, secara gegabah menaikkan wajahku dan menatap kaget ke arah Baekhyun yang kembali ke meja tadi. Apa-apaan ini?! Aku buru-buru menyusul Baekhyun, sempat melihat sedikit munculnya kilas kesal di wajah Taemin-sunbae dari wajah tersenyum. Kenapa?

“Kkamjong! Bangun!” Baekhyun menendang kursi Jongin-sunbae, membuat namja itu terbangun kaget. Aku berusaha menahan tawa melihat adegan di depanku ditambah lagi saat melihat Taemin-sunbae memukulkan bukunya ke kepala namja itu. Ia mengacak rambutnya kesal, menatap dua namja lain di depannya dengan tatapan sangat terganggu. “Aiii~ kalian ini!” gerutunya. Ia melihat ke sekelilingnya lalu tatapannya berhenti di arahku yang duduk di sebelahnya dan Baekhyun. Ada apa lagi?

“Baekhyun-a, siapa?” kali ini ia menunjukku terang-terangan, tatapannya…entahlah, tapi aku tidak suka. Entah kenapa terkesan sedikit mesum. Namja ini kelihatan sedikit mirip dengan Taemin-sunbae padahal, tapi aura yang menguar bedanya hingga 180 derajat.

“Dia? Anggota klubku, kenapa?” Baekhyun mengetukkan jarinya ke meja sambil menatap Jongin-sunbae dengan wajah kesal. Yang ditatap hanya menampakkan cengiran lebar dan kembali membuka mulut. “Kau yakin? Yeoja ini selalu berada di sampingmu, seingatku. A, Kim Jongin. Namamu?”

Aku baru saja akan membuka mulut tapi Baekhyun keburu menjawab, “Namanya Lee Sungra. Ck, sudahlah, mana bukuku yang kau pinjam? Dia ingin memakainya, dan aku yakin akan lebih bermanfaat kalau dia yang pinjam daripada kau.”

Namja yang dipanggil Kai itu mendengus dan tergelak sambil mengambil tasnya. “Ei~ santai, apa dia pacarmu, ha? Ckckck.”

MWOYA?! Pacar?! Aku terhenyak dan langsung menoleh ke Baekhyun yang pipinya tiba-tiba saja sudah memerah. Apa-apaan ini?! Untuk apa dia pakai acara malu begitu?!

Aigo~ uri-Baekki sudah punya pacar?”

Aniyo! Bukan! Aku bukan pacarnya Baekhyun-sunbae!” apa ini?! Bagaimana kabar masa depanku kalau orang itu malah mengira aku berpacaran dengan Baekhyun?

“Ne! Bukan! Kami hanya partner!” dan kedua namja itu hanya tertawa. Bagaimana ini?! Mereka salah paham! Kalau Jongin-sunbae sih aku tidak masalah, tapi…

Aku menunduk, berusaha menahan diri agar tidak tiba-tiba meluapkan emosi, entah menangis maupun marah. Bagaimanapun juga aku tetap saja sensitif jika menyangkut masalah seperti ini. Bayangkan saja, ‘dituduh’ berpacaran dengan orang lain oleh orang yang kusukai, apa yang harus aku lakukan sekarang?

Upaya menulikan telingaku tidak berhasil kulakukan karena aku tetap mendengar bagaimana dua namja itu menggoda Baekhyun, termasuk aku juga secara tidak langsung. Untung sekali tidak berjalan terlalu lama karena mungkin mereka sudah puas atau bosan sendiri. Aku menghela napas, lebih memilih membalik-balik halaman buku catatan matematika Baekhyun. Ia sendiri tiba-tiba mengikuti aktivitasku dengan cara menanyakan bagian mana yang tidak kumengerti,

“Ck, aku lapar~” sepertinya Jongin-sunbae yang bicara. Baekhyun berdecak pelan, “Makan.” kata namja itu seenaknya. Nah, mulai lagi. Sok tidak dengar saja ah.

Ketiga namja itu melakukan perdebatan penting-tidak-penting dalam waktu yang cukup lama. Aku mengangkat kepalaku lalu menatap mereka, aish~ benar-benar seperti anak kecil. Tanpa sadar aku tersenyum sambil memperhatikan Taemin-sunbae yang duduk tepat di depanku. Untung saja tadi aku tidak termakan ledekan Baekhyun untuk pulang.

Taemin-sunbae tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arahku dan aku terdiam, tidak tahu harus merespon apa. Separuh bagian otakku menyuruhku tersenyum dan bagian yang lain tidak bisa melakukan apa-apa ditambah pipiku yang terasa seperti terbakar. Sialan, beku mendadak begini… ini sama sekali tidak keren. Reputasiku akan jadi sehancur apa lagi di mata Taemin-sunbae nanti?

“Ehem. Jungra-ssi, kau punya makanan?” siapa yang Jongin-sunbae panggil? pikirku sambil ganti menoleh ke arahnya, sedikit bersyukur karena ada yang bisa jadi pengalih perhatianku. Tapi melihat Jongin-sunbae yang menatapku serius, mengisyaratkan kalau orang yang ia maksud tadi adalah aku, membuatku berbalik kesal. Bagaimana bisa ia salah sebut nama orang?!

“Tidak ada, dan…namaku Sungra, bukan Jungra, sunbae.” gumamku sambil menahan kesal. Tidak mungkin juga aku bersikap seperti yang biasa aku lakukan ke Baekhyun pada sunbae yang satu ini.

“Oh, ehehe. Maaf.” Jongin-sunbae kembali ke PSPnya. Aku melengos kesal, apa sulitnya menyebutkan namaku, sih? Apa tadi aku kurang jelas menyebutkan nama?

Tiba-tiba terdengar suara ringtone ponsel. Bukan ponselku, jadi aku mengamati tiga orang lain di sekitarku satu-persatu.
Bukan Baekhyun, bukan Jongin-sunbae, berarti…

Taemin-sunbae mengambil ponselnya yang berdering lalu menerima panggilan dan segera berbicara. Wajahnya terlihat saaaaangat senang. Sempat terdengar kata ‘nuna‘ dan ‘aku akan segera keluar’, sepertinya ia sudah dijemput. Dan benar saja, begitu ia menyimpan ponselnya lagi, ia langsung mengemasi barang dan mengembalikan buku yang tadi ia baca ke raknya. Sempat terjadi perselisihan soal Jongin-sunbae yang ingin ikut pulang dengan Taemin-sunbae, entah bagaimana ceritanya saat aku telah selesai mengerjakan satu soal tiba-tiba saja hanya tinggal aku dan Baekhyun yang ada di ruangan ini. Sepi lagi.

Nuna?” aku menatap Baekhyun penuh tanya. Ia menaikkan alisnya lalu mengerutkan kening, berpikir sejenak.

“Kau tidak pulang?”

“Ng, ne~ aku baru minta dijemput. Sudahlah.”

“Pulang denganku saja, mumpung aku sedang baik, bagaimana? Aku juga sedang ingin makan masakan ajumma lagi, ehehe~” ck, aku kira kenapa, ternyata memang ada udang di balik batu.

——

“Ahahahahahahaha! Kau harus lihat wajahmu tadi pagi!”

Aku melemparkan bantal duduk ke arah Baekhyun yang terbahak di depanku. Baekhyun yang sama yang menjadi ketua klub matematika sekolah yang katanya berkharisma itu, meski menurutku tidak. Aku sendiri heran kenapa makhluk seperti dia bisa punya banyak fans. Atau karena dia sepupuku dan aku sudah biasa melihatnya berkeliaran di sekitarku, makanya bagiku dia biasa saja? Ah sudahlah.

“Baekhyun jelek! Diam!” pekikku kesal. Aku sudah cukup malu tadi pagi, tidak perlu diingatkan lagi!

“Kenapa? Malu? Kan itu kesempatan yang baik untuk berkenalan dengannya~” mwo? Baik dari mananya? Ada juga kesan terhadapku akan jadi buruk sekali! Dasar babo!

“Aaaaaaaaaa Baekhyun babo!” aku kembali melemparinya dengan bantal, kali ini dengan menggunakan kekuatan penuh. Anak ini memang perlu dibegitukan!

“Ckckck~ a, hati-hati, si Kkamjong itu sepertinya tahu~” tambahnya, dan aku mengerutkan kening. Kkamjong? Siapa lagi itu?

“Ah, kau tidak tahu ya? Kkamjong itu Kai~ Jongin~ namja yang satunya lagi, yang salah menyebut namamu tadi, mengerti, kan?”

“Oh. Aku menger— mwo?! Maksudmu tahu?!”

“Ya tahu~ tapi tenang saja, Taemin itu bebal kalau masalah seperti ini, dia kan terlalu… ah, aniyo.”

“Terlalu apa?”

“Bukan apa-apa~”

Aku mengerucutkan bibir, kesal. Dia kenapa hobi merahasiakan apapun saat aku sudah merasa tertarik, sih? Dia pikir aku tidak kesal karena itu? Ck, dasar kekanakan. Menyebalkan!

“Baekhyuuuuuuuuun~” aku merajuk, ganti mendekat dan menarik lengan seragam namja itu. “Ayolaaaaaaaah~” rengekku. Baekhyun melepaskan tanganku dari ujung kemejanya. “Kau kenapa sih?”

“Memangnya Taemin-sunbae kenapa? Dia terlalu apa?”

Ia kembali menggeleng. “Untuk apa kau tahu? Toh tidak akan membantu banyak, jadi aku tidak akan memberi tahumu~”

“Pelit!”

“Hei, aku memang pelit, tapi kan untuk kebaikanmu~ semua hal yang bisa membantumu pasti akan kuberitahukan, sudahlah~” ia mengacak rambutku hingga berantakan. “Ah! Aku lapar! Ajumma sudah masak kan tadi?”

Kutendang tungkainya keras. Dasar parasit!

——

Beberapa jam berlalu setelah jam pulang sekolah dan aku masih tertahan di ruang klub. Lagi-lagi si ketua sok imut itu memaksa tetap tinggal dengan alasan ada banyak tugas yang perlu diselesaikan dan ia butuh orang yang membantunya. Dia pikir aku sekretaris pribadinya? Bilang saja mau memanfaatkanku.

Sambil menyuruhku melakukan ini-itu, ia menguliahiku soal bagaimana aku seharusnya menjadi dongsaeng yang baik dan benar, terutama yang ia tekankan adalah bahwa harusnya aku memanggilnya oppa —ide yang langsung kutolak mentah-mentah mengingat ia sama sekali tidak pantas dipanggil oppa, menurut pandanganku. Lagipula lebih baik aku menggunakan ‘oppa’ untuk memanggil Taemin-sunbae daripada untuk memanggil Baekhyun.

“Kapan aku boleh pulang?”

Baekhyun melirik jam tangannya. “Sekarang juga boleh. Kalau kau mau lebih lama lagi di sini juga tidak apa-apa. Bagaimana?”

Aku mengangkat bahu sebagai respon. Perlu ditanyakan ya memangnya? gumamku dalam hati sambil mengambil ponsel untuk meminta dijemput sekarang. Jika bisa secepatnya sampai rumah, aku ingin cepat-cepat tidur.

“Aku pulang dulu.” gumamku sambil menyandang tas di bahu lalu berjalan keluar. Ini sudah sore, gedung sekolah bisa dibilang hampir kosong. Hanya terdengar suara anak-anak yang mungkin sedang berlatih baseball atau olah raga lain di belakang sekolah.

Area di depan gerbang sekolah sudah sepi saat aku melangkahkan kaki ke luar. Jemputanku belum datang, jadi mungkin aku harus menununggu beberapa menit lagi. Dengan bosan kulayangkan pandanganku ke sekeliling, berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan pengalihan perhatian selama menunggu.

Tunggu, siapa namja yang ada agak jauh di sana? Rasanya aku kenal, tapi…

Aku mencoba memicingkan mata, mengenali siapa orang yang entah kenapa tiba-tiba menarik perhatianku. Rambut itu… Taemin-sunbae-kah?

Kukerjapkan mataku sambil kembali berusaha mengamati. Ne, aku yakin itu Taemin-sunbae sekarang. Tapi siapa yeoja yang sedang bergandengan tangan dengannya itu? Aku tidak pernah melihat yeoja itu di sekolah kami, dan lagi, ia juga tidak memakai seragam sekolah. Jeans dan blus ringan bukan seragam sekolah, bukan?

Dengan ragu-ragu, kuambil kesimpulan kalau yeoja yang sepertinya anak kuliahan itu kakak Taemin-sunbae. Mungkin ia hanya sekedar menjemput Taemin-sun—

Taemin-sunbae tiba-tiba menundukkan kepalanya yang lebih tinggi ke arah yeoja itu, kemudian mencium pipinya sekilas. Yeoja itu tertawa-tawa dan mendorong kepala Taemin-sunbae lalu mencubit pipinya bergantian. Tatapan Taemin-sunbae ke yeoja itu… itu bukan jenis tatapan adik ke kakak. Sama sekali bukan.

Jadi… yeojachingunya?

Aku menghela napas, kembali menatap kedua orang yang sudah masuk ke sebuah mobil hatchback silver di sana. Kuurungkan niatku untuk mengamati lebih jauh karena jemputanku sendiri sudah datang dan aku tidak ingin terpergok memata-matai orang. Ck.

Begitu pintu mobil tertutup rapat, aku langsung menyandarkan tubuh ke kursi. Membayangkan kembali apa yang terjadi tadi. Ng… aku tidak tahu persis seperti apa wajah yeoja itu, tapi sepertinya itu karakteristik wajah orang dewasa. Dan bukannya tampak seperti anak kecil, Taemin-sunbae terlihat cocok-cocok saja jika bersandingan dengannya. Jadi, selera Taemin-sunbae… gadis yang lebih dewasa darinya?

Kalaupun bukan yeojachingunya, tetap saja aku tidak masuk dalam kriteria ideal Taemin-sunbae. Sudahlah.

——

“Kau tahu soal nunanya Taemin-sunbae?”

Baekhyun berhenti menyantap pancake buatan eomma lalu menoleh bingung. “Kau bilang apa barusan?” tanyanya dengan wajah polos, entah memang tidak dengar atau sengaja mengulur waktu untuk menjawab pertanyaanku. Aku mendesis tidak sabar dan mengulang pertanyaanku lagi. Ayolah, dia sudah dapat pancake gratis, setidaknya dia bisa membalas budi dengan cara menjawab lebih cepat, kan?

“Oh, nunanya Taemin. Memangnya kau tahu dari mana kalau dia punya nuna?”

Ragu-ragu aku mengatakan kalau aku hanya menebak dari pembicaraan Taemin-sunbae di telepon saat sedang di perpustakaan tempo hari. Berusaha tampak semeyakinkan mungkin, aku menampakkan kesan bahwa aku hanya tahu tentang itu saja, menutupi fakta kalau aku pernah melihat Taemin-sunbae dengan yeoja yang kuduga nunanya itu.

“Ng…dia memang punya nuna. Bukan kakak kandung sih, tapi tetangga sekaligus teman masa kecilnya yang sudah sangat dekat dari dulu.” Baekhyun kembali melahap pancake setelah menambahkan cokelat cair ke atasnya. “Nunanya itu kadang menjemputnya~ nah, setahuku sih hanya itu. Ada la–”

“Kau yakin kau hanya tahu itu?”

Baekhyun berhenti makan, entah karena apa. “Maksudmu aku hanya tahu itu?”

Aniyo. Ng… tidak ada lagi yang kau tutupi?”

“Ya tidak ada. Untuk a—”

“Termasuk soal kemungkinan Taemin-sunbae menyukai nunanya itu?” sial, keceplosan! Aku refleks menutupi mulut dengan kedua tanganku, sadar kalau aku lagi-lagi bertindak bodoh. Baekhyun ganti menatapku menyelidik. “Bagaimana kau bisa bilang begitu?”

“Ha, hanya menebak…”

“Tidak mungkin kau bisa menebak sampai seperti itu kecuali kau pernah melihat buktinya secara langsung. Apa yang kau lihat?”

“Aku… aku hanya… aish, kemarin waktu menunggu jemputan di depan sekolah, aku melihat Taemin-sunbae dan seorang yeoja yang kelihatan lebih tua darinya…”

Ne? Lalu?”

“Tidak ada. Hanya itu. Kau pikir apa lagi?” aku menunduk, menghela napas. “Jadi benar itu nunanya?”

Nuna? Ne, kau benar~ hanya aku masih ingin tahu kenapa kau bisa mengira Taemin menyukai nunanya itu. Kalau hanya menjemput kan tidak mungkin kau bisa menebak sampai ke sana. Kau yakin hanya melihat itu? Ada interaksi lain?”

Aku sempat ragu sejenak sebelum kemudian mengangguk dan menunjuk pipi serta tangan tanpa ditanya oleh Baekhyun, bersiap menerima pertanyaan lain. Kuamati Baekhyun yang sepertinya sedang mencerna maksud isyaratku, dan begitu ia kelihatan sudah mengerti, ia kembali angkat bicara. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya kemudian.

Aku menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Sekarang ceritakan saja semua yang kau tahu. Aku mohon, jebal, Baekhyun-a~”

“Aish… janji tidak akan menangis?” dan aku mengangguk. Akan kuusahakan dengan sepenuh hati.

“Taemin… dia sering bercerita kalau dia mencintai nunanya lebih dari sekedar adik ke kakaknya. Nunanya itu… cinta pertamanya…” Baekhyun sesekali melirik ke arahku, mungkin memastikan aku tidak akan jadi depresi karena apa yang ia katakan. “Berhubung mereka memang dekat dari kecil, jadi mungkin perasaan Taemin itu muncul karena ia terbiasa… dasar, seleranya itu kenapa nunanuna? Padahal aku rasa dia lebih cocok dengan…”

“Dengan siapa?” suaraku terdengar gemetar, aku sendiri bisa merasakannya. Aku bangkit berdiri dari sofa dengan posisi tangan tersilang di depan dada dan bibir tergigit. Kebiasaan jika aku sedang menahan emosi. Dengan langkah lebar aku menghampiri tangga kayu di sisi ruang tengah, pikiranku sudah campur aduk oleh entah berapa ratus hal, membuatku tidak bisa berpikir jernih sama sekali.

“Denganmu! Ya! Kau mau ke mana?” tanya Baekhyun melihatku yang bersiap menaiki tangga ke lantai dua. “Aku ingin istirahat. Capek.” jawabku singkat, buru-buru melangkah ke kamar sebelum ada yang melihatku menangis lagi.

“Eh? Sungra! Tunggu!”

Aku menutup pintu kamar dan langsung menguncinya. Ambruk di atas kasur, melesakkan diri ke antara selimut dan bantal-bantal di sana sambil mulai meluapkan emosi ke pasukan bantal tidurku. Mungkin malam ini aku harus tidur dengan kondisi bantal sedikit lembab.

Terdengar suara ketukan di pintu. “Kau tahu? Aku menutupinya darimu agar kau tidak sedih. Melihat dongsaeng kesayanganku galau sendirian itu membuatku ikut sedih, jadi… ya aku tahu aku salah, tapi aku bungkam juga untuk kebaikanmu…” kata Baekhyun dari luar. Aku tidak menjawab, hanya membenamkan wajah di bawah bantal tidur, terlalu capek -secara batin- untuk merespon. Apa lagi? Semua sudah terlalu jelas. Aku menyukai orang yang salah. Selesai.

“Sungra? Aku tahu kau mendengarku meski kau tidak menjawab. Dengarkan aku. Aku rasa hubungan Taemin dan nunanya itu tidak akan sampai kemana-mana selain sebagai kakak-adik. Jarak umur mereka terlalu jauh! Jadi…”

Masa bodoh dengan celotehan Baekhyun yang tidak jelas. Dia seharusnya tahu aku benci dihibur saat kemungkinannya sudah kosong seperti sekarang ini. Aku menutupi telingaku dengan jari, tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari orang lain.

——

Pagi ini cerah, hanya wajahku saja yang tidak cerah. Aku sama sekali tidak berminat menyapa orang lain, bila disapa aku hanya membalas sekenanya dengan menampakkan senyum yang sangat kecil. Tenagaku terkuras habis untuk sesi peluapan emosi semalam dan masih terasa efeknya sampai sekarang, salah duanya mood rusak dan mata berkantung tebal, sedikit tersamarkan oleh kacamata yang biasanya hanya kupakai saat membaca.

Kelas masih sepi seperti biasa saat aku melangkah masuk. Setelah sedikit menyapa beberapa temanku, aku segera menuju meja yang biasa kududuki –barisan tengah nomor dua dari depan. Berhubung waktu masuk sekolah masih lama, lebih baik baca novel saja. Lumayan, setidaknya bisa membuat orang-orang tidak berniat menggangguku lagi dan bisa mengalihkan isi otakku dari bahan galau-an semalam. Nah, sampai halaman berapa kemarin?

“Sungra-ssi?”

Aku mengangkat wajah dari novel yang sedang kubaca dan mendapati Baekhyun yang berdiri di depan pintu kelas. Sempat kulihat tatapan membunuh dari yeoja yang lewat di lorong ke arahku, nah, berarti masalahku akan bertambah lagi. Gara-gara ia sering mengajakku pergi kemana-mana banyak orang mengira kami berpacaran –karena tidak banyak yang tahu kalau ia sepupuku– dan inilah imbasnya; aku berhasil ‘menabung’ banyak musuh, terutama dari yeojayeoja yang menyukai Baekhyun. Dia sendiri tidak keberatan disangka begitu, katanya malah membantu agar dia tidak ‘diserang’ para fansnya itu. Yeah, keuntungan untuknya, kerugian untukku. Makanya aku bilang ini serupa simbiosis parasitisme dan dialah parasitnya.

Setelah menghela napas kesal karena harus menutup novel yang masih kubaca, aku segera menghampiri pintu kelas. Baekhyun memperlebar cengirannya, pasti ada sesuatu di balik ini.

“Ada apa?” ketusku begitu berada di depannya setelah memastikan tidak akan ada yang mendengar pembicaraan kami. Aku sedang malas bicara dengan orang, siapapun itu. Ingat? Moodku sedang jelek.

“Ingat olimpiade yang aku bicarakan saat pertemuan klub terakhir kali? Nah, kau sudah didaftarkan. Ini formulir data tambahannya, isi saja, nanti siang kembalikan ke kelasku. Kalau ada pertanyaan tanyakan sekalian nanti siang. Arra?” ia menyerahkan beberapa lembar kertas ke tanganku tanpa memberiku kesempatan untuk membantah atau apa. Seenaknya lagi!

“Ya— eh, sunbae, kenapa tidak bilang dulu?” aku buru-buru menurunkan nada suaraku begitu beberapa orang melintas di dekat pintu kelas.

Seonsaengnim pembimbing yang memilihmu~ sudahlah, pokoknya nanti siang data ini kutunggu di kelasku. Annyeong!” dan ia langsung berbalik tanpa ba-bi-bu lagi. Sempat balas menyapa beberapa orang hoobae yang menyapanya duluan sebelum kemudian berbelok ke koridor menuju kelasnya. Aku memperhatikan formulir di tanganku, data seperti ini sih diisi saat pulang sekolah nanti atau besok juga pasti masih keburu. Kenapa dia terburu sekali sih? Memangnya kapan tanggal pengumpulannya? Merepotkan sekali dia itu, gerutuku dalam hati, meneliti poin-poin isian yang ada. Ck…

——

Kelas percepatan atas, kelas percepatan atas… gumamku dalam hati sambil menghitung berapa ruangan lagi yang perlu kulewati agar sampai di tujuan. Koridor yang agak sepi membuatku lebih leluasa berjalan siang-menjelang-sore ini.

Langkahku terhenti saat melihat orang yang sedang duduk di bangku di depan kelas. Taemin-sunbae. Kepalanya tertunduk dan wajahnya tertutupi oleh rambutnya yang agak panjang. Aku menghela napas, berusaha untuk tidak mengacuhkan pemandangan itu dan berhenti merasa sedih karena melihatnya. Tujuanku ke sini bukan untuk bertambah galau, kan?

“Baekhyun-sunbae ada?” tanyaku ke kakak kelas yang sedang di kursi yang paling dekat dengan pintu. Ia mengangguk, menunjuk Baekhyun yang sedang meneliti kertas-kertas di tangannya kemudian kembali meletakkan kepalanya di atas permukaan meja. Baekhyun sendiri sedang sibuk sekali sepertinya. Aku menghampirinya, meletakkan kertas-kertas formulir di depannya cepat dan ia langsung mendongak. “Sudah kuisi, tapi ada beberapa yang belum selesai karena aku tidak mengerti. Bagaimana?”

Ia meneliti satu-persatu poin-poin isian yang ada. “Bagian mana? Selesaikan saja sekalian di sini. Ini?”

Ruang kelas percepatan angkatan atas ini terlihat sepi, hanya ada beberapa gelintir orang di sini. Ralat, hanya tinggal kami berdua karena sunbae yang tadi tertidur di dekat pintu sudah keluar dari kelas. Aku jadi ingin pulang juga.

“Jangan berpikir kau bisa pulang, Lee Sungra-ssi. Pekerjaanmu belum selesai.” aku mendelik kesal ke arah Baekhyun. “Pekerjaan apa lagi?” tanyaku tidak senang. Memangnya dia boleh memberiku pekerjaan ya? Seenaknya.

Baekhyun mengangguk-angguk. “Pekerjaanmu gampang dan ringan kok. Lihat saja nanti.”

“Tapi—” dan aku terdiam saat Baekhyun mengulurkan novel kesayangannya yang amat sangat jarang bisa kupinjam. Sogokan?

“Asal kau bisa diam, aku rela meminjamkannya padamu. Sudah, duduk dan jadi kutu buku sana!”

Kuletakkan novel itu di sebelahku lalu mengamati sekeliling kelas. Sedang tidak ingin membaca novel, lebih baik kulahap di rumah saja agar lebih konsentrasi. Tatapanku kemudian tertumbuk dj jendela yang menghadap ke koridor, tempat Taemin-sunbae berada tadi… sampai sekarang. Ia belum pulang.

“Dia kenapa?” tanyaku sambil menunjuk puncak kepala Taemin-sunbae yang terlihat dari dalam kelas. Baekhyun hanya mengangkat bahunya, “Entahlah. Galau, mungkin. Temani sana!”

Dia ini… aku menendang kakinya di bawah meja lalu kembali fokus mengisi data diri yang masih kurang. Entah apa yang ada dalam pikirannya itu setelah katanya dulu dia berniat membantuku, dan ternyata caranya membantu itu terlalu berbahaya. Ia tampak sedang mengerutkan kening, mungkin berpikir rencana apa lagi yang perlu ia susun untuk ‘membantu’ku. Awas saja kalau yang ini berbahaya.

Tunggu, jangan-jangan ia menyuruhku ke sini itu juga bagian dari rencananya?

“Nah, cepat selesaikan pekerjaanmu, sepertinya hari ini ada kesempatan bagus untukmu~” katanya setelah beberapa menit berpikir sendiri. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik. “Rencana apa lagi ini?” dan ia hanya menjawab dengan mengangkat bahunya, isyarat sudahlah-lebih-baik-kau-diam-dan-lihat-saja-nanti. Aku mengerucutkan bibir dan meletakkan formulir yang sudah terisi lengkap di depannya. “Sekarang boleh aku pulang? Pekerjaanku juga sudah selesai, kan? Rencanamu tidak bisa ditunda memangnya?”

Ia menggeleng. “Nanti mencari kesempatannya yang sulit. Lagipula aku baru mendapat ide ini waktu kau bilang Taemin belum pulang, jadi aku ingin melihat seperti apa kira-kira kalau ideku terlaksana, hehe.”

Sialan.

Aku mengemasi barang-barangku sambil bersungut-sungut. Baekhyun juga melakukan hal yang sama dengan semua benda yang berserakan di mejanya dan aku heran bagaimana bisa benda sebanyak itu cukup dalam ranselnya yang terlihat tidak besar. Map, tempat pensil, macan-macam buku, semuanya bisa dimasukkan kecuali satu buku teks tebal yang ia tenteng, mungkin sudah tidak cukup.

“Sudah semua? Ikuti aku.” katanya sambil melangkah keluar kelas. Sudah berapa kali aku mengatainya aneh ya?

Ia menghampiri Taemin-sunbae yang sedang melamun di bangku. Ng… jangan bilang dia lagi-lagi lupa kalau ada aku di sini. Selamat mati gaya, Lee Sungra-ssi.

Buk!

“Aaw!” aigo, pasti kepala Taemin-sunbae terasa sakit setelah Baekhyun memukulnya dengan buku matematika super-tebal yang ia bawa. Pergi kemana akal sehat sepupu gila-ku ini?-_-

“Cari tempat melamun, di sini kau dilihat oleh murid-murid lain, babo,” kata Baekhyun sambil menempatkan diri di sebelah Taemin-sunbae. Aku segera menyusul duduk di sebelah Baekhyun agar tidak menjadi satu-satunya orang yang berdiri di antara kami bertiga. Kutundukkan kepalaku untuk menghindari menatap wajahnya, hal terakhir yang ingin kulakukan untuk saat ini.

“Hei, kalian ini selalu berdua. Kalian yakin tidak ada hubungan apa-apa?”

Topik ini lagi. Aku makin merasa tidak nyaman, benar-benar ingin pulang saat ini juga. Jam berapa ini? Apa sebaiknya aku minta dijemput sekarang? Tapi… tapi… sedikit bagian diriku tidak ingin pulang karena ada Taemin-sunbae di sini. Aaaaaa apa yang harus aku lakukan?

Akhirnya kuputuskan untuk duduk diam di tempat. Hampir lupa kalau Baekhyun akan menjalankan rencananya lagi hari ini, meski aku sama sekali tidak yakin dengan apa yang akan ia lakukan. Mungkin dia tidak sadar kalau aku sudah bosan dengan segala macam rencana bodohnya.

Sesekali aku mendengarkan pembicaraan mereka, mulai dari sangkalan Baekhyun soal tuduhan Taemin-sunbae, pertanyaan kenapa ia belum pulang –ditambah sedikit penyebutan kata ‘nuna‘, membuatku terdiam sesaat–, dan sebagainya. Obrolan tidak penting sebenarnya.

“Hei, aku ke kamar mandi dulu, ne?” Baekhyun menyampirkan tasnya di punggung lalu setengah berlari ke kamar mandi. Aku menahan tawa, sudah tidak tahan ingin buang air ya? Hahaha~

Eh, tunggu, berarti sekarang hanya tinggal aku dan Taemin-sunbae saja yang ada di sini? Baekhyun sialan! Apa maksudnya?!

Aku berusaha fokus ke novel yang kubaca, mensugesti diri sendiri bahwa sebentar lagi Baekhyun akan kembali dan ia akan menjalankan rencananya –yang kemungkinan besar gagal–, lalu setelah itu aku bisa pulang, tidur di rumah sambil menghabiskan buku ini. Nah, ide yang sangat bagus. Lanjutkan sugestimu lagi.

“Hei.” terdengar suara Taemin-sunbae. Ng… ia berbicara dengan siapa? Aku melirik ke sekitar, tidak ada orang lain selain kami di sini. Jadi… ia bicara denganku?

“Hei.” kali ini ditambah dengan acara menendang-nendang kakiku pelan. Ragu-ragu aku mendongak untuk menatapnya, takut tidak bisa mengendalikan emosi lagi. “N-ne?” gumamku pelan, sedikit takut melihat tatapan tajam namja di sebelahku. Apa sikapku menyinggungnya? Tapi rasanya aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak wajar. Kenapa?

“Oh, kau bisa bicara? Hehehe.” nada suaranya yang berganti ramah itu menyenangkan, tapi aku sedang tidak bisa tersenyum di depannya sekarang. Kembali kuhadapi barisan kalimat di novel yang kubawa, hitung-hitung sebagai pengalihan kegalauan yang tiba-tiba muncul di otakku. Semoga ia tidak marah karena aku tidak membalas kata-katanya lagi.

“Ck, membosankan. Payah. Jahat.” siapa yang dia ajak bicara? Aku? Dirinya sendiri-kah? Atau seseorang dalam pikirannya? Aish~ bagaimana ini? Aku bingung harus bersikap bagaimana!

Taemin-sunbae berdiri lalu menyampirkan ranselnya di punggung. Aku berpura-pura tidak tahu dan tidak peduli meski sesekali tetap meliriknya dari sudut mata. Kalau dia pulang ya sebaiknya aku juga pulang, ini sudah hampir sore, tapi… mana Baekhyun? Aaaaaa jangan bilang rencana Baekhyun memang meninggalkanku berdua dengan Taemin-sunbae di sini! Baekhyun jelek! Jadi ini yang ia maksud dengan kesempatan bagus? Ia ingin menyiksaku ya? Ingin melihatku mati menahan malu? Atau melihatku mati sakit hati?

Seseorang kembali menendang kakiku kuat, membuyarkan dialog imajinerku dan aku tahu itu Taemin-sunbae. Refleks aku mendongak dan menatapnya. “A-ada apa?” aku tergagap kaget, hampir saja novel di tanganku ini jatuh.

“Kau, mau jalan-jalan?”

Eh?

——

Arus Sungai Han siang ini tidak begitu deras, suara aliran airnya sesekali ditingkahi suara kerikil yang dilemparkan Taemin-sunbae ke air. Yah, memang dia tadi mengajakku pergi jalan-jalan dan kami hanya berakhir duduk-duduk begini, tapi toh aku sama sekali tidak keberatan. Hitung-hitung menghabiskan waktu dengan mengamatinya seperti ini, hehe.

Sulit sekali menganggap orang di sebelahku ini angin lalu. Aku langsung menyerah begitu sadar kalau usahaku untuk bersikap tidak acuh padanya sama sekali tidak berguna. Kadang sulit juga jadi orang yang hatinya lemah, terutama dalam hal perasaan seperti ini.

Aku melirik jam tanganku, ini sudah hampir pukul enam. Sekali lagi kuperhatikan Taemin-sunbae lewat sudut mataku, sepertinya ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bosan atau ingin beranjak dari sini. Apa moodnya sedang jelek, ya? “Op—eh, sunbae belum mau pulang?” aku buru-buru mengganti panggilanku. Sial, hampir keceplosan begitu. Bisa bahaya kalau ia mendengar aku memanggilnya oppa!

“Apa rumahmu jauh dari sini? Kau boleh pulang, kalau kau mau.” kata Taemin-sunbae lagi. Aku sekali lagi menggeleng sambil tersenyum kecil, kembali mengumpulkan kerikil-kerikil untuk dilemparkan ke permukaan air. Membayangkan seberapa banyak sisa waktu yang bisa kuhabiskan dengannya di sini, dengan cara seperti ini. Pulang? Mana mungkin aku melewatkan kesempatan seperti ini?

Diam lagi. Aku memejamkan mata sambil bersandar ke bangku, berusaha menahan diri agar tidak tiba-tiba jatuh dan bersandar di bahunya. Tidak, jangan sekarang, Sungra-ya. Kau tahu itu. Seperti apapun suasananya, aku harus bisa mengendalikan pikiran dan badanku sendiri agar tidak bertindak bodoh yang akan mengakibatkan dia menganggapku orang aneh.

“Sungra-ssi, kau pernah menyukai orang yang jauh lebih tua darimu?”

“Eh?” aku menoleh ke arah Taemin-sunbae. Menyukai orang yang jauh lebih tua? Kalau kata jauhnya dihilangkan tentu saja aku pernah… oppa. Sekarang aku jadi ingin berteriak di depan wajahnya, mengatakan secara terang-terangan kalau aku menyukainya. Kapan aku punya keberanian untuk melakukan hal seperti itu?

“Kau pasti pernah. Baekhyun kan lebih tua darimu, hehehe.”

Aniyo, aku dan Baekhyun-sunbae tidak ada apa-apa.” suaraku terdengar bergetar karena panik. Bagaimana aku tidak panik? Dia serius menganggapku berpacaran dengan Baekhyun! Aaaaaaaaa bagaimana iniiiii?!

“Haha, santai saja. Aku rasa kalian berdua cocok.”

Cocok bagaimana, pula. Yang ada juga aku dan Baekhyun bertengkar tiap hari, itu baru benar, gerutuku dalam hati sambil kembali melemparkan batu ke arah sungai. Sesekali melirik Taemin-sunbae yang sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang sedang ia pikirkan? Orang yang membuatnya kesal sendiri? Apa dia yeoja yang kemarin menjemputnya itu?

“Aku mencintainya, Sungra-ssi. Sangat mencintainya. Aku tidak peduli dengan perbedaan umur yang kami miliki. Selama dia berada di sampingku, itulah namanya hidup untukku.”

Aku terdiam. Kata-katanya barusan menghantamku telak, membuktikan kalau aku… aku memang seharusnya tidak menyukainya. Harusnya aku berhenti dari dulu saja, desisku getir sambil menatap Taemin-sunbae yang sedang menunduk, memainkan sesuatu dengan jemari tangannya yang panjang dan ramping. Benda itu berkilau ditimpa cahaya matahari sore yang kemerahan… liontin kalung?

Taemin-sunbae menatap liontin kalung itu dengan tatapan yang sulit dideskripsikan. Kelihatannya benda itu amat sangat istimewa baginya, terutama mungkin orang yang memberikannya padanya. Apa yang harus kulakukan sekarang? Benakku ingin menyuruh tanganku agar memeluk Taemin-sunbae dan menyuruh mulutku mengatakan segala hal mengenainya yang telah aku pikirkan sejak entah kapan aku mulai menyukainya. Akal sehatkulah yang membuatku masih bisa menahan diri agar tidak melakukan tindakan ceroboh seperti itu.

“Aku seperti ini karena takut, takut sendiri kalau nanti dia meninggalkanku untuk orang lain. Aku membutuhkannya, Sungra-ssi. Sekarang aku menyesal karena marah padanya hanya karena aku kesal sendiri, hehe.” ia mengangkat kepalanya, ganti melihat ke arahku yang masih menatapnya sedih. Sekali lagi aku tidak bisa mengaktifkan syaraf refleksku di saat yang tepat dan hanya terpaku dalam posisi itu.

“Hei, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau suka padaku? Haha, bercanda.”

M-Mwo?!

Aku bisa merasakan wajahku mulai memanas. Apa-apaan itu?! Dia… dia bercanda kan? Kenapa tepat sasaran sekali pertanyaannya?! Aku langsung mengalihkan pandanganku, tidak berani menatapnya langsung lagi. Aku tidak ingin dia tahu, setidaknya jangan sekarang. Jika itu malah membuatnya menjauhiku… aku rasa aku akan memilih tetap diam dan sakit hati sendirian daripada jujur tapi membuatnya jadi membenciku. Berada dalam keadaan seperti ini sudah membuatku senang dan aku sudah cukup puas, meski aku tahu sebenarnya aku tidak ingin hanya berhenti sebatas ini saja.

“Kau kedinginan? Mau pakai jaketku?” aku menoleh, menghentikan dialog batinku dan mulai membuka mulut, tapi belum sempat aku menjawab Taemin-sunbae sudah keburu mengambil jaketnya dari dalam tas. Aku memejamkan mata dan tersenyum sedikit, sekali lagi merasa sangat senang. Dipinjamkan jaket olehnya? Aku pasti sedang bermim—

“Taemiiiiin~!”

Aku menoleh ke arah asal suara, begitu pula dengan Taemin-sunbae. Yang barusan berteriak memanggil nama Taemin-sunbae ternyata yeoja yang juga pernah kulihat tempo hari di sekolah saat aku hendak pulang, sedang berlari kecil ke arah kami dengan wajah panik bercampur lega saat melihat namja di sebelahku. Aku tebak dia orang yang menelepon Taemin-sunbae sewaktu di perpustakaan, sekaligus orang yang dipanggilnya ‘nuna‘.

Sementara, orang yang dipanggil namanya tadi sudah berdiri dan menghampiri yeoja itu, berkata sedikit terbata, “Nu-nuna?” –membuktikan kalau tebakanku soal siapa yeoja itu benar.

Ia meninggalkanku yang masih duduk di bangku dan hanya bisa terdiam saat melihat apa yang terjadi. Yeoja itu menghambur dan memeluk Taemin-sunbae, sepertinya dengan sangat erat, dan Taemin-sunbae juga membalas pelukannya. Sempat terdengar sedikit percakapan lagi tapi aku tidak mau tahu. Aku menutupi telingaku dengan earphone, tidak ingin mendengar apapun lagi. Membalikkan badan ke arah sungai karena tidak ingin melihat apa-apa lagi. Aku memejamkan mata dan menghela napas, entah sudah berapa kali aku melakukan ini sejak tahu tentang nuna-nya Taemin-sunbae. Sejak aku berhasil memaksa Baekhyun untuk menceritakan apa saja yang ia ketahui soal yeoja itu. Memahami kalau Taemin-sunbae menyukai, aniyo, mencintainya, juga menyadari kalau kans yang aku miliki memang tidak ada dari awal. Hanya… kalau begini ceritanya… bisa-bisa aku selalu lupa kalau Taemin-sunbae sudah menyukai orang lain, kalau aku berada di sekitarnya terus menerus. Rasanya seperti terkena imbas radiasi radioaktif.

Menit-menit berlalu dan aku melepaskan earphone dari telinga. Setelah meyakinkan diri bahwa tidak ada lagi suara kedua orang itu, aku berbalik untuk memastikan keadaan. Di sekitarku sekarang sepi, hampir tidak ada orang malah kecuali para penjaga kios-kios kecil makanan jauh di sana. Mereka berdua sudah pulang.

Aku bangkit berdiri dan sedikit merapikan lipatan rokku yang agak berantakan. Sambil menepis debu yang menempel di bagian belakang rok, aku kembali mengecek jika ada barangku yang tertinggal dan menemukan jaket hitam yang teronggok begitu saja di atas bangku. Milik Taemin-sunbae sepertinya, lupa dibawa pulang saking senangnya ia karena dijemput oleh nunanya, mungkin?

Jaket hitam itu tidak sepenuhnya hangat saat dipegang, malah sedikit dingin karena tadi diletakkan di bangku. Bau parfum yang cukup kuat tercium dari benda itu hingga membuatku tidak bisa menahan diri untuk berdiri diam dan menghirupnya sejenak. Sedikit merasakan mataku mulai berkaca-kaca, aku menggelengkan kepala untuk mengusir segala pikiran yang ada di benakku. Tanpa pikir panjang aku memakai jaket itu, tentu saja kebesaran, tapi cukup hangat. Mungkin begini rasanya dipeluk Taemin-sunbae… mungkin.

——

“Sungra? Kau pulang dengan siapa?”

Aku berhenti berjalan ke tangga, kebingungan. “Sendiri eomma, memangnya dengan siapa lagi?” karena biasanya kalau aku tidak pulang sendiri berarti aku pulang dengan Baekhyun, harusnya eomma tahu kalau aku tidak dengan siapa-siapa berhubung Baekhyun juga tidak menampakkan batang hidungnya. Biasanya kan dia singgah dulu, menumpang makan malam kalau perlu.

Eomma menunjuk jaket yang kupakai dengan wajah ingin tahu. “Itu jaket namja, kan? Kau tidak punya jaket yang seperti itu seingat eomma. Jaket siapa? Namjachingumu?”

Aku menatap jaket Taemin-sunbae lalu menggeleng sambil tersenyum kecut. “Bukan, eomma. Aku ganti baju dulu, ne?” kataku, melanjutkan berjalan ke lantai atas. Begitu sampai di kamar dan mengunci pintunya, aku langsung merebahkan badan di kasur tanpa berpikir untuk mengganti baju. Sambil memainkan lengan jaket yang terlalu panjang otakku kembali memutar rekaman flashback kejadian di Sungai Han tadi. Otak bodoh. Bodoh. Bodoh. desisku dalam hati saat merasakan mataku mulai memanas. Aku menutupi kedua mataku dengan lengan –tindakan ceroboh, karena bau parfum Taemin-sunbae jadi makin kuat tercium di hidungku.

Sial, tidak bisa ditahan lagi. Aku berusaha mengusap-usap mataku untuk menahan air mata yang mulai muncul. Berusaha menahan pikiranku untuk tidak membayangkan apa lagi yang dilakukan oleh mereka berdua setelah pulang dari tepian Sungai Han, berusaha menghilangkan kata-kata Taemin-sunbae soal ‘Sangat mencintai orang itu meski umur kami berbeda jauh’ sampai ‘Aku menyesal dan takut dia benci padaku’ tadi, dan memaksa otakku untuk berhenti membayangkan apapun yang berhubungan dengannya.

Sebenarnya aku sudah lelah. Capek sakit hati setiap teringat kalau kemungkinan-kemungkinanku sangat kecil, mungkin mendekati nol atau bahkan memang nol. Kesal sendiri tiap aku merasa senang karena tindakan Taemin-sunbae yang sebenarnya biasa tapi bagiku terasa seperti sebuah sinyal pemberi harapan. Lelah lantaran banyaknya harapan kosong yang ditiupkan sel pengombang-ambing perasaan di otakku yang kemudian dengan sendirinya meluruh. Bosan menyalahkan diri sendiri karena merasa terlalu percaya diri. Aku lelah, tapi tidak bisa berhenti. Sudah terlalu terlambat untuk berhenti.

Jika perasaan bisa dikendalikan secara paksa, aku pasti sudah memaksa diri dari dulu daripada sakit hati seperti ini.

——

Sedikit tergesa kumasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas. Ini sudah mendekati pukul setengah delapan dan itu adalah limit maksimal aku berangkat ke sekolah, tiga puluh menit menjelang bel masuk berbunyi karena perjalanan ke sekolah sendiri butuh waktu sekitar lima belas menit dengan menggunakan bus kota, dan kadang jadi dua puluh menit jika jalanan agak macet. Pulang nanti baru aku dijemput.

Hari ini aku agak terlambat bangun karena… aku tidak tahu kenapa. Mungkin kelelahan. Jangan juga bertanya kenapa aku kelelahan karena aku sedang tidak ingin mengungkit masalahnya. Pagi ini moodku berada di tingkat terburuk dari yang terburuk, hancur berantakan.

Setelah mengambil sebotol susu dari kulkas dan roti kemasan di meja makan, aku segera memakai sepatu dan bersiap berangkat. Sempat menyambar kain tebal warna hitam yang kuletakkan di atas rak sepatu agar aku tidak lupa, ne, jaket Taemin-sunbae. Bagaimanapun keadaannya jaket ini harus tetap kukembalikan. Urusan setelah itu biar kupikirkan nanti saja, antara akan melupakannya –mengingat apa yang terjadi kemarin– atau tetap seperti ini. Ah, aku bisa terlambat kalau tidak segera pergi ke halte!

Perjalanan menuju halte yang hanya menghabiskan waktu kurang dari lima menit kugunakan untuk sarapan darurat dengan menu roti manis. Waktu menunggu di halte yang masih sepi kupakai untuk meminum sampai tandas sebotol susu pisang dingin yang kubawa. Dengan begini aku masih punya sedikit waktu untuk bersantai sambil menikmati suasana pagi hari. Nah, sekarang tinggal menunggu busnya, semoga tidak ikut-ikutan terlambat~

Tidak sampai lima menit setelah aku menyelesaikan ‘sarapan’ku, bus yang ditunggu-tunggu datang. Masih sepi juga ternyata. Begitu naik, aku langsung melayangkan pandanganku untuk mencari kursi kodong dan terhenti di seorang namja dengan seragam dari sekolahku yang sedang bersandar di jendela dan memejamkan mata. Taemin-sunbae… kenapa dia bisa tiba-tiba ada di sini?! Aku tidak pernah melihatnya naik bus! Mana aku tahu kalau ternyata rumahnya satu jurusan dengan rumahku?

Ragu-ragu aku melangkah ke tempat Taemin-sunbae. Kursi di sebelahnya kosong, semoga boleh duduk di situ. Ng… sekarang bagaimana? Dibangunkan dulu?

Sunbae?”

“Ng?” ia membuka matanya dan menoleh. Aku berusaha tersenyum sopan dan ia balas tersenyum sambil merapikan barang-barangnya yang tadi ia letakkan di kursi sebelahnya.

“Aku tidak pernah melihat sunbae naik bus, hehe.” aku berusaha berbasa-basi setelah duduk di sebelahnya, merogoh tasku untuk mengambil jaket yang kujejalkan di tas pada saat terakhir. Ck, mana ya tadi itu?

“Hanya ingin mencari suasana baru.” nah, ketemu! Aku menarik jaket itu dari dalam tas dan menyerahkannya ke Taemin-sunbae. “Ah, ini jaket sunbae yang ketinggalan waktu itu. Terima kasih.” kataku. Ia mengucapkan terima kasih kembali sambil tersenyum dan ganti menyimpan jaket itu dalam tasnya.

Hening kembali. Aku tidak ingin memulai pembicaraan duluan dan Taemin-sunbae sendiri… sepertinya ia sedang melamun, entah melamunkan apa. Yang aku tahu hanya ia sedang menatap keluar jendela sambil menopang dagu, wajahnya tidak terlihat apalagi tatapan matanya. Lebih baik menghabiskan novel pinjaman dari Baekhyun yang hanya tinggal satu bab ini saja.

Perhentian bus terakhir sebelum sampai di sekolah tinggal beberapa menit lagi. Aku mulai menutup novel yang tadi kubaca dan bersiap turun. Tas? Cek. Seragam sudah rapi? Cek. Jas? Cek. Oke, aku sudah siap, hehe.

Aku sudah hampir berdiri saat tiba-tiba Taemin-sunbae membuka mulut, “Sungra-ssi, hari ini ada tugas? Atau ulangan?” tanyanya. Eh? Untuk apa menanyakan hal seperti itu?

Aku terdiam sejenak, berusaha mengingat-ingat. Tugas sudah kukumpulkan kemarin, ulangan sepertinya tidak ada. Ragu-ragu aku menggeleng, “Ti-tidak ada, sunbae. Waeyo?” dan tepat setelah aku mengucapkannya, bus berhenti di depan halte. Aku harus segera tu— a! Kenapa tanganku ditahan begini?!

Aku berbalik dan menatap Taemin-sunbae heran bercampur panik ditambah pipiku yang tiba-tiba memerah saat menyadari tangan siapa yang mencengkeram erat pergelangan tanganku. Entah bagaimana jadinya rupaku saat ini, yang pasti rasa panik sudah mulai mendominasi saat aku sadar hanya tinggal kami berdua anak sekolah yang masih berada di dalam bus, padahal tadi ada banyak. Apa Taemin-sunbae lupa kalau ia bersekolah di sini?

Sunbae? Kita harus turun di sini!” pekikku panik. Makin panik saat aku melihat pintu bus tertutup secara otomatis dan bus ini kembali berjalan. Aku tidak mau terlambat dan ini… lima menit lagi pasti bel masuk sudah berbunyi. Eotteokhae?!

Hampir saja aku berteriak agar si supir menghentikan bus tapi seseorang membekap mulutku dan menarikku agar duduk kembali. Taemin-sunbae, ia masih terlihat tenang bahkan setelah bus ini benar-benar melewati gedung sekolah. Setelah itu, barulah ia melepaskan bekapannya dari mulutku dan tersenyum agak aneh. “Mianhae. Aku ingin bolos hari ini, hehe. Mau menemaniku?” bolos? Jarang sekali pikiran seperti itu terlintas di benakku dan namja ini tiba-tiba mengajakku bolos? Aku berharap ia hanya bercanda tapi tidak tampak raut tidak serius soal ucapannya tadi. Aish…

“Mau…kemana?”

Molla, kau ikuti aku saja. Tenang, aku tidak akan menculikmu.”

Aku diam saja. Apa dengan diam begini aku bisa dianggap setuju membolos? Ng… sudahlah, lagipula sudah terlanjur juga. Sekolah sudah jauh di belakang dan pasti aku tidak akan bisa sampai sana tepat waktu. Tapi bagaimana kalau Baekhyun tahu lalu mengadu ke eomma? Mulut anak itu kadang tidak bisa dijaga, menyusahkan. Mungkin sebaiknya sekarang aku mulai memikirkan sogokan agar dia mau bungkam di depan eomma.

Taemin-sunbae kembali diam setelah menyatakan akan bolos hari ini. Tatapannya terus saja tertuju ke luar jendela dan ia sama sekali tidak menunjukkan gelagat akan turun di satu perhentian manapun. Sebenarnya apa niatnya membolos hari ini?

Sunbae, kita mau kemana?” tanyaku perlahan. Ia hanya mengangkat bahunya tak peduli.

“Sebentar, diam dulu.”

Aku terjebak di posisi yang tidak mengenakkan kalau begini ceritanya. Taemin-sunbae sama sekali tidak mengajakku bicara selama perjalanan dengan bus ini, membuatku sedikit merasa kecewa. Lebih baik tadi aku turun dan menyerahkan diri di depan guru-guru pelajaran hari ini daripada tidak diacuhkan seperti sekarang.

——

Sungai Han lagi, dan… aura gelap yang lagi-lagi menguar dari namja di sebelahku. Wajah Taemin-sunbae terlihat saaaaaaangat kesal sejak ia turun di halte. Saat itu ia langsung melangkah ke area taman di tepian Sungai Han, seolah lupa kalau ia yang menyeretku agar ikut ke sini. Jadi apa lagi yang bisa aku lakukan selain mengekorinya dari belakang bak pembantu yang mengikuti majikannya?

Sedari tadi Taemin-oppa selalu memfokuskan pandangan pada dua orang yang sama, sepertinya itu nunanya dan seorang namja berkulit putih pucat yang aku tidak tahu siapa, mungkin pacarnya. Dari… apa saja ya yang pasangan itu lakukan? Ah, berjalan-jalan lalu sekarang sedang bermain dengan anjing-anjing kecil yang lucu di tempat penampungan, tentunya sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih, pokoknya sejak awal kami sampai Taemin-sunbae terus saja berusaha mengamati pasangan itu dari jauh sambil sesekali bergumam pada dirinya sendiri. Aku rasa sekarang aku mengerti apa yang membuat Taemin-sunbae jadi seperti ini —cemburu.

Pasangan itu duduk di salah satu bangku dan Taemin-sunbae segera mengikuti dengan duduk di bangku yang terletak tidak terlalu jaih dari mereka, tepatnya di depan sebuah pohon, menghadap ke sungai yang dibatasi dengan pagar setinggi dada orang dewasa. Aku menghela napas, sepertinya jika ditinggal sebentar dia tetap tidak akan sadar.

Aku memasukkan dua lembar uang seribu won ke dalam vending machine minuman ringan dan menekan beberapa tombol hingga dua kaleng jus jeruk dingin keluar dari mesin tersebut. Memutuskan untuk berkeliling sebentar karena malas kembali ke bangku tadi, akhirnya aku merasa bosan dan terpaksa berbalik arah ke Taemin-sunbae yanhgmasih sibuk dengan aktivitasnya. Jadi apa gunanya dia mengajakku? Untuk melihatnya galau begitu?

Sunbae.” aku menarik lengan seragamnya perlahan hingga ia menoleh dan menerima kaleng berisi jus jeruk dingin yang kusodorkan. Kemudian aku kembali duduk di sebelahnya, mengayunkan kaki sambil membuka kaleng di tanganku kemudian berbalik sedikit, mengamati pasangan itu lagi. Tanyakan saja?

Yeoja itu…siapa?” hanya sekedar ingin mengklarifikasi apa benar dia cinta pertama Taemin-sunbae seperti yang pernah dikatakan Baekhyun. Ia ikut mentap ke arah yang kumaksud kemudian kembali berbalik, meminum sedikit jus dalam kaleng yang kuberikan tadi lalu beralih menatapku. “Dia? Cinta pertamaku.”

Aku hanya menatapnya yang sedang menghabiskan minuman. Meski aku sudah tahu sebelumnya, tetap saja mendengar hal itu diucapkan olehnya secara langsung membuatku merasa… sedikit… entahlah. Aku sendiri bingung dengan perasaanku. Kaget bercampur patah hati, lagi. Yang ini rasanya lebih menyakitkan, apa karena aku mendengarnya langsung dari yang bersangkutan?

“Kau tahu rasanya frustasi?”

“Eh?”

“Frustasi, kebingungan, dan cinta. Semuanya menjadi satu.”

“Aku… tidak mengerti, sunbae.” bohong. Aku sebenarnya mengerti, sangat mengerti karena saat ini saja aku sedang merasakannya. Tambahkan saja kata-kata ‘hati terasa diperas’ atau ‘sedih sekali sampai rasanya ingin menyentakkan badan orang itu keras-keras agar sadar kalau aku masih punya eksistensi yang harusnya ia sadari’, maka lengkap sudah deskripsi soal apa yang sedang kurasakan. Jauh di lubuk hati yang paling dalam aku memang ingin melakukan apa yang kusebutkan terakhir, menyentakkannya dari mimpi-mimpi soal nunanya, memohon padanya agar sadar soal keberadaanku.

Ia kembali menatapku, kali ini tepat di mata dan aku kembali bingung harus melakukan apa. Air mukanya perlahan berubah, kaca-kaca tipis mulai melapisi matanya, iris cokelat gelapnya berkilat karena air mata yang berkumpul di pelupuk matanya… kemudian tumpah.

O-oppa! Kau… kau kenapa menangis?” ia menangis. Meski hanya sedikit menitikkan air mata dari ujung matanya, tetap saja namanya menangis. Aku terdiam karena tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkannya. Aku ingin memeluknya dan membiarkannya menangis hingga ia merasa sudah cukup, tapi aku tidak bisa melakukannya. Tanganku hanya mampu meraih dan mengusap punggungnya perlahan, berharap itu bisa cukup membuatnya tenang. Ah, mana persediaan tisuku? Ini bukan waktunya melakukan monolog soal curhatan galau begini!

Oppa, ini, tisu, pakailah.” aku menyodorkan sebungkus tisu yang kutemukan di dasar tas, sedikit lusuh karena tertimbun buku-buku. Ia menerimanya sambil tersenyum sedikit dan aku kembali mengusap punggungnya perlahan, sebisa mungkin menyampaikan kalau aku tidak suka melihatnya menangis dan bersedih seperti itu.

Oppa, aku tidak tahu apa masalahmu, tapi…” aku berhenti sejenak, berusaha memilah dan memilih kata-kata yang benar. “…mungkin oppa harus merelakannya.”

Ne.” jawabnya pendek. Jawaban yang pahit dan tidak ikhlas. Tentu saja, siapa yang bisa merasa rela kalau berada di posisi Taemin-sunbae?

Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, dalam segala hal yang lagi-lagi membuat tatapan matanya kosong. Mulutku jadi terasa gatal untuk bicara lagi, tapi…

“Mungkin, dia bukan ditakdirkan untuk o—eh, sunbae.” sial! Aku baru sadar kalau sedari tadi aku keceplosan dan memanggilnya oppa! Buru-buru kutambahkan kata-kataku agar perhatiannya teralih lagi, “Sebelum terlambat, mungkin sunbae bisa mengatakan padanya kalau sunbae menyukainya. Mungkin…sulit, tapi tidak ada salahnya, kan?”

Aku mengatakan semua kalimat itu lebih sebagai refleksi bagi diri sendiri tanpa maksud menggurui. Bagaimana bisa aku berani menyuruhnya agar jujur pada nunanya kalau aku sendiri masih bersikap layaknya pengecut begini? Tidak mau memberitahunya seperti sekarang? Hanya bisa diam dan mengubur perasaan sendiri dalam-dalam, terlalu takut untuk mengungkapkannya.

“Ada nasihat lagi untukku?”

Aish, pasti dia merasa aku anak kemarin sore yang cerewet dan sok tahu soal cinta. “Eh? Ma-maaf, aku terlalu banyak bicara, ya?”

Aniyo, mungkin ada yang ingin kau sampaikan lagi setelah melihat keadaanku yang…yah, kacau seperti ini.” katanya. Ne, kau sangat kacau, oppa, desisku dalam hati, berpikir sejenak soal apa yang akan aku katakan. Ada sesuatu yang sudah sampai di pangkal lidah… bisakah kukatakan sekarang?

“Ada…” aku… cish. “Aniyo, pasti ada yeoja yang mencintai sunbae, sama seperti sunbae mencintai cinta pertama sunbae itu,” aku bisa merasakan pipiku memanas karena upaya ‘menyadarkan’nya barusan. Berusaha mendeskripsikan diriku sendiri secara implisit, tapi hasilnya malah mungkin terlihat aneh. Dasar Sungra bodoh!

Aku kembali menunduk, berusaha menghindari bertatapan dengan Taemin-sunbae lagi. Ia juga masih tidak mengatakan apa-apa sampai saat ini, entah apa yang sedang ia lakukan atau pikirkan. Mengintai nunanya lagi? Atau justru memikirkan kata-kataku lalu mulai menebak siapa kira-kira yeoja yang aku maksud?

“Hei.” ia menendang-nendang kakiku pelan, berhasil –dengan menyedihkan– menyadarkanku dari lamunan. “N-ne?” aku tergeragap kaget. Apa lagi yang ingin ia bicarakan kali ini?

Ia menatapku sejenak sebelum kembali membuka mulut. “Kau mau membantuku mencari yeoja yang mencintaiku itu, Sungra-ssi?”

Aku terhenyak sesaat. Membantumu mencari yeoja yang mencintaimu, hmm? aku membatin sambil mengangguk, tanda menyanggupi, sekilas, berusaha menampilkan wajah sebiasa mungkin di depannya. Mengatakannya sekarang sama saja akan merusak keadaan, ditambah kondisinya yang sedikit labil itu. Mana mungkin aku dengan percaya dirinya mengatakan ‘Untuk apa kau cari sementara kau sudah menemukannya di depanmu, oppa?’? Selain tahu aturan dan tahu malu, aku juga masih punya harga diri sebagai yeoja yang tidak bisa kujatuhkan begitu saja.

Hening lagi. Ia tampak sedang memejamkan mata dan aku tidak ingin memulai pembicaraan lebih dulu. Mungkin diam sejenak akan bisa membantunya menjernihkan pikiran.

“Mau pulang? Sudah sore, hehe.” tawar Taemin-sunbae setelah ia terdiam agak lama. Aku mengangguk, mengekorinya berjalan menuju halte yang terletak tidak terlalu jauh dari sini. Wajahnya masih tetap kelihatan lesu, seolah nyawanya berkurang setengah dan tidak akan pernah kembali lagi. Aku tidak suka melihat kekosongan di matanya itu.

Pasangan yang ia intai sedari tadi masih ada di bangku yang sama. Ia mengambil jalan memutar, berusaha menghindari tempat itu, hingga akhirnya kami sampai di perhentian bus yang kosong. Belum terlihat tanda-tanda bus akan datang. Ia duduk, kembali termenung sendirian, membuatku makin tidak tega melihat wajahnya yang lesu itu.

Sebuah bus yang cukup penuh berhenti di depan halte. Saat aku masuk, tidak ada kursi kosong dan bahkan sudah ada beberapa orang yang berdiri. Kami berdiri di bagian depan, sedikit dekat dengan pintu, Taemin-sunbae dengan wajah datarnya di depanku dan aku sendiri… entahlah. Sepanjang perjalanan ini tidak ada percakapan yang dilontarkan, sesuai dengan keadaan bus yang relatif sunyi. Kebanyakan penumpang lebih memilih tidur di bangku masing-masing atau sibuk dengan kesibukan mereka sendiri daripada mengobrol dengan orang lain.

Bus terus berjalan menjauhi Sungai Han, dan sebaliknya, makin mendekati halte tempatku turun nanti. Satu halte lagi lebih tepatnya. Aku berharap waktu berjalan lebih lambat karena aku masih memikirkan apa yang harus kulakukan di sini hingga sampai di halte nanti. Setidaknya aku ingin memberinya satu petunjuk saja agar ia menyadari keberadaanku. Aku ingin bersikap sedikit egois, kali ini saja. Sudah cukup banyak waktu kulalui dengan merasa sakit hati karenanya, apa aku masih belum pantas untuk mendapatkannya? Apa lagi yang perlu kulakukan? Apa yang kurang?

Lamunanku terhenti saat badanku sedikit terdorong ke depan hingga menabrak Taemin-sunbae yang berdiri di depanku. Sambil meminta maaf aku melihat ke jendela bus, sial, sudah sampai di halte tempatku harus turun. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

“Terima kasih sudah mau menemaniku hari ini. Maaf merepotkan…” ia tersenyum sedikit sambil memberi jalan untukku agar bisa keluar dari bus. Aku balas tersenyum kecil, memutuskan hanya akan mengangguk daripada jadi salah bicara. Maaf, oppa, aku hanya tidak ingin kau menjauhiku. Maaf.

Menatap bus yang kembali melaju dari halte setelah aku turun, sedikit menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan kaca-kaca yang kembali muncul di mataku kemudian melangkah pulang, mendesah keras-keras saat tidak ada orang di sekitarku. Sedikit menyesali tindakanku yang tidak mengatakan apa-apa padanya tadi.

Aku tidak ingin membuatnya tahu. Aku ingin membuatnya mencari dan menemukan sendiri. Aku tidak keberatan mengatakan apapun yang berhubungan dengan perasaanku padanya secara jujur dan lengkap jika ia meminta, asalkan ia ‘menemukan’ku sendiri. Aku tidak akan memaksa dan jika yang ia temukan ternyata orang lain, aku tetap tidak akan memaksanya untuk menyadari keberadaanku. Aku tidak ingin ia menyadarinya dengan campur tanganku. Biarlah ia bahagia dengan siapapun yang berhasil ia temukan kelak. Jika itu bukan aku, aku percaya orang itu adalah orang yang akan mencintainya melebihiku. Siapapun itu, asalkan dia bisa mendapatkan kembali kebahagiaan yang sama seperti saat ia mencintai nunanya, maka aku juga akan turut senang…

…tapi, Demi Tuhan, aku sangat menginginkannya.

–end.

Advertisements

6 thoughts on “[One-Shot] May I?”

  1. ternyata lebih galauan pov nya sungra yaaa dibanding tetem xD
    Baek jadi sepupu baek banget, bantuin gitu :3
    walopun caranya agak nyebelin sih, tapi ya berhasil kan ya baek ya? *gigit baek
    dan tetepan aja endingnya nggak jadian(?) xD
    *kemudian kabur dengan unyu

    1. jelas, meski tae sukanya udah taunan sih *eh
      ngng~ nggak agak itu, nyebelin banget-_- apanya yang berhasil? mananya coba? *sembunyiin baek
      iya, seneng kan? ente seneng ff galau kan? nih digalauin, seneng? -3-
      *biarin *lagi males nangkep(?)
      makasih eonni cuyung :* *eh…

  2. Onn belum pernah suka sama kakak kelas saeng, sukanya sama seangkatan, jadi nggak tau deg deg annya kayak apa XD *diinjek hahahhaaa

    Diksi oke sekali ^^
    Iri ! Diksi saeng sama Sonya onn bagus bagus -..-

    Konflik dapet~
    sakit ati oke banget ~
    Kayak onn pas bikin geotjjimal
    Joon liat kyu sama miho #plak hahhahahaaa

    Onn nggak setuju ada bolos
    Itu nggak baik saeng –” #dibakar
    Hahhahahaaa

    intinya bagus~
    Banget ding
    Onn udah dong padahal belum baca punya Sonya onn ._. #eh Hahahahaa

    Semangat ^^

    PS. Saeng, onn diajarin bikin blogroll itu dong, biar bisa nyantumin blog saeng sama Sonya onn .-. makasih yaa :*

    1. Uhm, sukanya sama siapa? XD
      Saeng juga gapernah kuuuuk :3 *eaaaaa

      Gomawoooo XD
      Ini nih, sendirinya diksinya bagus tapi gamau ngaku -3-

      Sakit atinya harus maksimal kalau beginian *eh
      Iyaaaaa~ tapi joon lebih ngenes dong, sengenes-ngenesnya sungra gak bakal nyampe kayak joon *plak!

      Tuh, tae, denger gak? Bolos itu kaga baik~ -_-
      Salahin tae yaaaah :”

      Aaaaaaaa gomawoooo ;_;
      Baca aja gih, tapi kalo punya nyakeonn yang ngenes si tetem, bukan sungra :B

      Neeee~~ gomawo komennyaaaaa :3 *hug

      PS. ngajarinnya mau gimana caranya nih? -_-

  3. Aaaaaakkk. (,–)
    Nyesek ampe pojok kepucuk-pucuknya! (?)
    Ihh geregetan ama Temin, tapi gabisa nyalahin dia juga sih. Ya sama2 naksir orang dan sama2 gabisa maksain perasaan masing2. Nyesek full.

    Tapi kesian Sungra juga kali.
    Dih si Temin, bagian yg dia nahan Sungra buat ikutan ngebolos itu sbnrny PHP banget.
    Aaarrrgghhh.
    Ikutan frustasi bacanya.
    Ada sequel atau apanya ga ini? (,–)

    E..tapi..
    Suka sama pemikiran Sungra di endingnya.
    Dewasa bgt menurutku.
    Sesuka apapun, dan semenginginkan apapun dia msh bisa bersikap sedewasa itu.
    Daebak lah!

    Lee Sungra Hwaiting!!!!!!! (҂’̀⌣’́)9

    P.S. Baekby yg eksistensinya meyakinkan bgt itu lama2 menghilang sendiri yaak. Lucu dipikir2 ampe abis dia ga nongol2 lagi. Ahahahahahak! XD *pukpuk Baek*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s