[Cafe Latte] #4 | On the Second Time

Title: On the Second Time
Genre: romance, family
Rating: PG-13
Character: -_-

Kembali ke pagi hari lagi, gerutu Sungra sambil melipat sampai rapi selimut lalu meletakkannya di ujung kasur. “Nah, turun, lalu sarapan~” gumamnya sembari merapikan rambut sedikit tanpa repot-repot berpikir untuk mengganti seragam tidurnya: kaus lengan pendek dan celana selutut. Lagipula ia sudah biasa pergi sarapan dengan pakaian seperti itu dari kecil, lalu malas-malasan di sofa ruang tengah sebelum bersiap-siap, entah untuk berangkat sekolah, kuliah, kerja, maupun malas-malasan episode selanjutnya. Berhubung sekarang ia sedang cuti dengan alasan menyembuhkan patah hati –tentu saja ia tidak sejujur itu ke pihak kantor, tapi dengan alasan ia tidak enak badan–, acara hari ini seharusnya bersantai di rumah seharian.

Eomma, apa sarapan pagi i—” ia terdiam begitu melihat apa yang terjadi di dapur. Bukan eommanya yang sedang memasak, tapi justru orang terakhir yang ingin ia lihat di dunia ini yang ada di sana. Orang itu menoleh, mendapati sosok Sungra di dekat lemari pembatas antara ruang tengah dan ruang makan, lalu tersenyum kecil.

“Pagi~” sapanya kemudian sambil menyiapkan empat piring, lalu menempatkan french toast secara merata di semua piring itu. “Sarapan?” tawarnya sembari menata semua piring di meja makan. Ia menarik satu kursi makan dan mengisyaratkan pada gadis itu untuk duduk di sana. Sungra menghela napas lalu menuruti perintah namja itu, duduk dengan wajah datar di kursi menghadapi french toast yang masih mengepulkan asap tipis dan menguarkan aroma manis mentega bercampur susu.

“Susu hangat?”

Sungra mengangguk cepat. Ia mengamati namja itu dari sudut matanya, memperhatikan tangan cekatan yang menuangkan susu hangat dari teko ke cangkir dan mulai menyadari kalau penataan meja pagi ini agak berbeda –lebih tepatnya, ala European Breakfast. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan orang itu?

“Kenapa kau ada di sini?” desis Sungra begitu Baekhyun duduk di kursi sebelah. Baekhyun melirik Sungra lalu membuka mulut, “Ada pertanyaan yang lain? Sebutkan semuanya dulu agar jawabannya bisa kugabung dalam satu penjelasan, ne?”

“Mana orang tuaku? Kenapa kau bisa masuk rumah dan, lebih-lebih, dengan seenaknya memakai dapur? Kau menculik atau menyekap orang tuaku—”

“Suka french toast-nya?”

Gadis itu merasa tensinya mulai naik. “Bukan itu jawabannya! Dan berhenti memotong kata-kataku!”

“Makanlah dulu.” kata Baekhyun tenang. “Lalu, dengarkan kata-kataku. Kau lihat? Ada dua piring lagi di meja ini. Menurutmu siapa lagi yang akan bergabung dengan kita di rumah ini? Orang tuamu, kan? Mereka sedang bersantai di halaman depan, nona. Sebentar lagi aku akan memberi tahu mereka kalau sarapan sudah jadi… a! Jangan pergi sekarang!” namja itu meraih pergelangan tangan Sungra saat gadis itu beranjak dari kursi. “Aku sudah minta ijin untuk sarapan denganmu, ara? Sekarang duduk tenang dan habiskan makananmu. Jangan merusak momen ini. Cobalah untuk menikmatinya, seperti aku.”

Gadis itu mendengus. Menikmati saat ini, katanya, desisnya dalam hati, sama sekali tidak menyukai gagasan itu. Ia memotong-motong roti di piringnya hingga menghasilkan potongan-potongan kecil untuk melampiaskan amarahnya, mulai kehilangan selera makan karena kalimat Baekhyun tadi.

“Nah, sewaktu aku datang tadi, eommamu mengatakan kalau kau masih tidur, jadi daripada aku pulang bukannya lebih baik aku menunggu sebentar? Dan daripada bosan menunggu, kupikir akan lebih baik kalau aku membuatkan sarapan, hitung-hitung untuk ucapan terima kasih pada ajumma dan ajusshi karena aku tidak diusir, hehe. Ada lagi?” demi melihat Sungra diam, Baekhyun melanjutkan, “Singkirkan gagasan bodoh soal aku menculik orang tuamu. Mana mungkin aku melakukannya? Bisa-bisa aku dilarang menginjakkan kaki di sini, lalu tidak jadi—”

“Ne. Aku mengerti. Sekarang diam dan biarkan aku menyelesaikan sarapanku.” sentak Sungra. Baekhyun hanya mengangkat bahu dan menghabiskan potongan terakhir roti di piringnya sebelum kemudian membawanya ke bak cuci piring. “Aku akan memanggil ajumma dan ajusshi, kau tunggu di sini saja.”

Gadis itu tidak memberikan respon apapun. Sementara Baekhyun pergi ke halaman depan, ia buru-buru menghabiskan makanannya dan mencuci piring, lalu pergi ke ruang tengah. Bukannya ia tidak ingin menemani eomma-appanya sarapan, tapi ingin menghindari perbincangan panjang dengan orang tuanya, terutama karena ada Baekhyun di sana.

“Ra-ya? Tidak ikut makan?” tanya appa Sungra dari pintu depan. Gadis itu menggeleng. “Aku sudah makan, appa~”

“Tapi pasti kau belum kenyang, iya kan?” kata eomma Sungra yang tiba-tiba muncul di belakang suaminya. “Kaja! Uri Ra-ya kan biasanya makan banyak~” wanita paruh baya itu menarik Sungra dari sofa dan setengah menyeretnya ke ruang makan. Di belakang, sedang menutup pintu lengkap dengan cengiran lebar, berdiri seorang Byun Baekhyun yang kemudian menatap Sungra dengan tatapan puas. Tanpa perlu memaksa akhirnya toh yeoja itu pasti akan ikut makan bersama orang tuanya.

Ajusshi, ajumma, silakan~ semoga ajumma dan ajusshi suka, hehe~” Baekhyun tersenyum lebar sambil menuangkan kopi ke cangkir kedua orang tua Sungra sebelum kemudian kembali duduk di sebelah gadis itu.

“Sok manis.” desis Sungra pelan.

“Aku memang manis, Sungra-ya~” kata Baekhyun tidak kalah pelannya sambil tersenyum sinis.

“Kalian tidak makan?” appa Sungra menatap kedua orang di depannya sebelum kemudian memasang ekspresi seperti menyadari sesuatu. “Atau… sudah?”

“Sudah, appa…” jawab Sungra, tersenyum sedikit sambil memainkan cangkir bekas susu yang tadi ia minum. Namja di sebelahnya sigap mengambil teko susu dan menuangkannya ke cangkir bahkan sebelum Sungra sempat melarangnya, plus menambahkan sedikit madu dan mengaduknya. “Igeo. Kalau kurang manis atau kau mau lagi, katakan saja padaku. Tidak perlu gengsi segala~” Baekhyun memberi penekanan tambahan pada kata ‘gengsi’. Sungra memutar kedua bola matanya lalu menghirup sedikit ‘sarapan kedua’nya hari ini.

“Nah, ajumma, ajusshi, hari ini aku ingin mengajaknya pergi lagi, ng…diperbolehkan?” tanya Baekhyun, tangannya mengoleskan selai cokelat ke setangkup roti sebelum kemudian memakannya.

“Ke mana?” eomma Sungra balik bertanya. “Kau tidak akan mengajaknya menginap lagi, kan?”

Aniyo~ tentu saja tidak, ajumma. Hehehe. Aku ingin mengajaknya mencari baju yang cocok untuk acara nanti malam, jadi—”

“Acara apa?!” potong Sungra, melotot ke arah Baekhyun yang menurutnya lagi-lagi bertindak sesuai keinginannya sendiri. Namja itu balas menatap Sungra, senyum senang tersungging di bibirnya.

“Apa aku belum mengatakan padamu kalau malam ini orang tuaku akan datang?”

——

Gadis itu masih berkeras memasang tampang datar sementara Baekhyun sama sekali tidak berusaha untuk membujuknya. “Terserah,” kata Baekhyun sambil menghidupkan mesin mobil. “Kau mau merajuk sampai besok pagi juga silakan, asal nanti malam kita harus terlihat seperti pasangan yang wajar.”

“Aku menolak.”

“Baiklah, kalau begitu pasangan yang sempurna.”

Sungra melengos, memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya bersandar di kursi mobil sambil menatap lurus-lurus ke jalanan yang cukup ramai. Tangannya mengetuk pelan tepi jok, menarik napas dan berusaha mengosongkan pikirannya.

Baekhyun melirik jam digital di dashboard mobilnya. “Kita punya waktu… um… lima jam.”

“Tidak perlu sampai lima jam juga tidak apa-apa. Makin cepat makin baik.”

Baekhyun melirik Sungra lewat sudut matanya, lalu tersenyum sedikit, “Nanti pukul tiga orang tuaku sampai di Incheon, jadi aku harus menjemput mereka. Makanya aku bilang kita hanya punya waktu lima jam dari sekarang~”

“Peduliku, Byun Baekhyun-ssi.”

“Kau harus peduli.” namja itu diam sebentar sebelum kemudian memelankan laju mobilnya, lalu masuk ke area parkir sebuah bangunan. “Nah, sudah sampai. Ayo turun~”

Malas-malasan gadis itu membuka pintu mobilnya dan melangkah turun. Ia mengamati bangunan tempat mereka berhenti, sebuah butik kecil dengan beberapa manekin di jendela displaynya. Baekhyun menggamit tangan Sungra dan memaksanya segera masuk ke butik itu, tentu saja dengan ditingkahi gerakan memberontak Sungra terhadap tindakan tiba-tiba Baekhyun.

Ya! Lepas!” teriak yeoja itu sesaat sebelum Baekhyun mendorong pintu kaca di depannya. Laki-laki itu berhenti, menghela napas lalu menatap Sungra serius. “Dengar. Aku minta padamu dengan sangat untuk tidak berontak hari ini. Hari ini saja. Aku ingin kau menuruti apapun yang kukatakan. Nanti malam, bersikaplah sewajarnya calon menantu yang akan menemui calon mertuanya. Mengerti? Ini untuk kebaikan kita, yeobo.” ia memberi penekanan di kata terakhir sebelum kembali menyeret Sungra ke dalam bangunan bergaya minimalis itu.

Baekhyun membawa Sungra ke section dress. “Oke, kemarin aku sudah ke sini dan bertanya sedikit ke pemilik butik ini yang kebetulan… mm… kenalanku. Jadi—”

Sungra melepaskan genggaman tangan Baekhyun dan menghampiri display dress dengan wajah riang, menuruti salah satu instingnya sebagai gadis kebanyakan. Baekhyun menghela napas, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, sedikit tidak mengira reaksi yang akan ditunjukkan oleh Sungra ternyata seperti ini.

“Jangan yang terlalu terbuka~”

Ne.”

“Jangan di atas lutut juga~”

“Aku tahu.”

“Belahannya—”

Sungra berbalik, menatap Baekhyun kesal. “Tuan Byun Baekhyun,” katanya dengan penekanan di tiap suku kata, “Aku tahu apa yang harus aku pakai. Dan aku tidak akan sudi memakai pakaian seperti yang kau sebutkan tadi di depanmu, bahkan meski kau membayarku hingga berapa ratus juta won pun aku tidak akan mau. Mengerti? Sekarang diam dan duduklah. Biarkan aku memilih! Kau merusak moodku!”

“Ck, ne. Aku diam, Nona Lee.” tapi namja itu tidak juga berpindah dari sebelah Sungra meski yeoja itu sudah menunjukkan bahasa tubuh untuk mengusirnya. Akhirnya ia menyerah dan membiarkan Baekhyun mengekorinya meski tetap saja terasa risih walau namja itu tidak berceloteh lagi.

Gadis itu menarik sebuah gaun warna hijau pastel dari gantungan, mencobanya di depan badan sambil melihat ke arah kaca, berpikir sejenak. Cukup bagus, tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang…

“Kau cantik. Neomu yeppeo. Gaunnya cocok untukmu… mau beli yang itu saja?” Baekhyun segera sibuk memilihkan aksesori tambahan tanpa sempat melihat wajah gadis di depannya yang memerah setelah kata ‘cantik’. “A, kau suka pakai kalung? Bagaimana kalau ditambah bros ini?” dan namja itu langsung terdiam ketika melihat seperti apa rupa Sungra yang tersipu karena salah tingkah. Tanpa pikir panjang, ia menarik bahu Sungra hingga gadis itu terpaksa mendekat dan menyapukan bibirnya sekilas ke pipi gadis itu. Ia lalu menyerahkan bros yang tadi dipilihnya kemudian mendorong Sungra ke kamar pas yang ada di dekat mereka. “Coba dulu. Aku yakin akan pas untukmu. Ppalliiiii~” katanya tanpa memberi kesempatan bagi Sungra untuk membantah. Lagipula, di lain pihak, gadis itu terlalu terkejut karena tindakan tiba-tiba Baekhyun tadi sehingga badan dan otaknya sama sekali tidak bisa memberi respon untuk saat ini.

Begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, gadis itu menatap gaun dalam pelukannya. Warna hijau pastelnya memang bagus, tapi nanti mencari pasangan jasnya mungkin akan susah, jadi…

Eh? A! Peduliku soal jasnya! ia menepuk pipinya beberapa kali sebelum kemudian mulai mencoba baju pilihannya. Ukurannya pas, bahannya yang lembut terasa nyaman saat menyentuh kulit dan begitu melihat ke cermin ia langsung tahu kalau gaun ini akan jadi koleksi bagus di lemari pakaiannya yang hanya terisi kemeja, jeans, jaket, dan kaus. Tidak tepat separah itu, tapi jumlah baju terusan dan dress di lemarinya memang benar-benar berada di bawah ambang batas garis kemiskinan.

Gaun itu menjuntai sampai ke lutut, ada sedikit aksen pita dari kain -sepertinya jenis tulle, Sungra tidak begitu paham- di pinggang yang diikatkan di sisi kiri, satu tingkat lebih gelap dari warna dasar gaun. Lengan transparannya bermotif floral sesiku ditambah kerah sederhana. Secara simpel, gaun yang dipakainya terlihat sederhana… tapi manis. Pendek kata, ia telah jatuh cinta pada gaun itu dalam sekejap.

Ragu-ragu gadis itu membuka pintu kamar pas dan langsung ‘menemukan’ Baekhyun yang duduk di sebuah kursi tepat di depannya. Namja itu menunduk, sepertinya sedang sibuk mengurusi sesuatu lewat ponselnya. Ia berdeham sejenak sebelum membuka mulut, “Baekhyun?” panggilnya.

Baekhyun menoleh, mendapati Sungra yang berdiri di depannya dalam balutan gaun hijau pastel selutut. Ia menatap gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dan berdecak senang. “Nah! Apa kubilang? Gaun itu bagus untukmu! Kita ambil yang ini saja, ne? Bagaimana?” Baekhyun masih mengamati Sungra dan tatapannya berhenti di bros keperakan berbentuk bunga kecil yang disematkan oleh Sungra di dekat bahu kirinya, tempat yang agak tidak biasa tapi cukup terlihat menarik bagi namja itu.

A, arasseo…” gumam Sungra perlahan. Ia lalu kembali ke kamar pas dan terburu-buru menukar bajunya. Begitu ia melangkah keluar kamar pas dengan si gaun di tangannya, ia mendapati Baekhyun yang sudah memegang sepasang wedges tertutup warna hijau lemon. “Eh? Untuk siapa?” tanyanya bingung.

“Ini? Untuk siapa lagi kalau bukan untukmu?” Baekhyun tersenyum lebar. “Suka? Atau malah tidak? Atau tidak usah beli?”

Gadis itu menatap Baekhyun bingung. “Aku… aku suka, tapi acaranya di dalam ruangan, kan? Maksudku, di rumahku, kan? Jadi…”

“Ne, mungkin tidak perlu~” Baekhyun tertawa pelan lalu kembali menggamit tangan Sungra. “Tapi aku ingin membelikannya untukmu, nah, berapa ukuran kakimu?”

Gadis itu berusaha menahan senyumnya saat menyebutkan ukuran kaki yang kemudian diulangi Baekhyun ke pegawai butik. Senyumnya akhirnya merekah sewaktu ia memandangi sepatu itu di kakinya, menyadari kalau ia juga telah jatuh cinta seperti pada gaunnya tadi.

“Ada lagi yang perlu kita cari? Aku sudah punya jas di rumah~ kira-kira apa yang perlu disamakan dengan warna gaunmu, ya? Kemeja?” tanya Baekhyun sambil menunggu Sungra memakai sneakersnya kembali. Gadis itu mendongak, menatap Baekhyun tanpa ekspresi. “Tolong jangan disamakan dengan dasi atau kemeja.” katanya kemudian.

“Lalu… apa?”

“Warna jasmu?”

“Hitam, lalu?”

“Menurutku semua warna ‘masuk’ ke warna hitam, kok…”

Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya. “Jadi tidak ada lagi? Sudah semua?” tanyanya, dan begitu melihat Sungra balas mengangguk ia kembali menarik gadis itu ke kasir. Sambil menunggu total harga yang perlu dibayar, ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya sejenak lalu mengacak rambut Sungra perlahan. “Setelah ini… makan siang?”

Yeoja di sebelahnya menoleh sedikit. “Sekarang jam berapa memangnya?”

“Ng… sebelas lebih sedikit. Sudah bisa masuk jam makan siang kan? Kaja~ kau mau makan di mana?” namja itu meletakkan beberapa lembar won di meja kasir, menunggu Sungra menjawab pertanyaannya.

“Terserah saja. Aku sedang malas mengingat restoran yang enak~” gadis itu mengambil tas berisi belanjaannya dan mengucapkan terima kasih ke petugas kasir, kemudian mengikuti Baekhyun yang berjalan keluar dari butik itu.

“Kau mau apa? Makanan Barat? Makanan Jepang? Atau makanan Korea?” Baekhyun kembali bertanya begitu mereka berdua sudah berada di dalam mobil. “Pokoknya yang mengenyangkan, soalnya nanti kita akan pergi lagi~”

“Eh? Aku kira kau bilang hanya akan pergi mencari pakaian! Mau ke mana lagi?!”

“Kau lihat saja nanti~”

——

Baekhyun mengamati Sungra yang sibuk dengan daging yakiniku dalam rice bowlnya sambil menyantap sashimi perlahan. Merasa diperhatikan, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun dengan tatapan bingung yang kemudian berubah menjadi tatapan terganggu. “Kau lihat apa?” ketusnya. Baekhyun hanya menggeleng pelan, bibirnya menyunggingkan senyum kecil dan ia kembali melahap makanannya. “Aniyo, bukan apa-apa~”

Diam lagi. Sungra sudah menghabiskan makanannya, hanya tinggal menunggu Baekhyun saja. Ia menyesap ocha perlahan lalu membuka mulut, “Ya.”

Baekhyun menoleh, “Ne?”

“Sebenarnya kau mau mengajakku ke mana?”

“Kau yakin mau tahu aku akan mengajakmu ke mana?”

Gadis itu menatap Baekhyun curiga. Kenapa dia harus bertanya seperti itu? Mencurigakan sekali.

“Aku. Mau. Tahu. Jawab! Palli!”

“Ck, ne~ galak sekali.” namja itu mengusap ujung bibirnya dengan tisu lalu balas menatap Sungra lagi. “Ke toko perhiasan. Sudah puas?”

“Untuk apa?” nada suara gadis itu berubah heran. Terang saja, untuk apa Baekhyun mengajaknya ke toko perhiasan? Atas dasar apa?

Namja itu tidak segera menjawab, lebih memilih mengambil tangan Sungra dan meneliti jemarinya satu-persatu hingga berhenti di jari manis tangan kiri gadis itu. “Kau lihat belang di sini? Nah, aku ingin mengajamu mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi belang ini. Kelihatan jelek, iya, kan?”

Sungra terdiam, berpikir sejenak sebelum sampai di satu kesimpulan yang membuatnya ragu-ragu. “Maksudmu… cincin?” tanyanya lagi, dan Baekhyun hanya mengangkat bahu dengan gaya menyebalkannya yang biasa. “Kalau menurutmu?”

Wajah yeoja itu memerah, tebakan Baekhyun karena ia malu, tidak bisa ia pastikan karena setelah itu Sungra tidak mengatakan apa-apa lagi. Gadis itu bahkan membiarkan Baekhyun makan dengan tenang tanpa melayangkan satu pertanyaan pun pada namja itu, membuatnya sedikit bingung. Apa kata-katanya soal cincin itu yang menyebabkan Sungra bungkam seperti ini?

Keadaan masih sama hingga mereka kembali ke mobil dan bersiap ke tujuan selanjutnya. Gadis itu hanya memainkan seatbelt, kelihatannya sama sekali tidak berminat mengatakan apa-apa lagi. Sesekali ia hanya menarik napas sambil menatap keluar jendela penumpang.

“Kau kenapa?” tanya Baekhyun setelah selama sekian menit diam dan mulai merasa tidak tahan menghadapi sikap aneh Sungra. Gadis itu menoleh untuk menatap Baekhyun sekilas lalu kembali menghadap jendela, “Aniyo. Bukan apa-apa…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

“Kau aneh, ada apa? Tumben tidak cerewet.”

“Aku sudah bilang bukan apa-apa kan? Diamlah. Berhenti mengataiku cerewet.”

“Hei.”

Hening. Tidak ada respon.

“Hei~”

Masih tidak ada respon.

“Heeeeeei~ Lee Sungra-yaaa~ kau masih hidup kan?”

“Menurutmu?”

“Masih, tapi seperti bukan kau. Ayolah, katakan kau kenapa~ karena aku mengajakmu mencari cincin? Kau keberatan? Tidak mau?”

Yeoja itu tidak menjawab lagi, membuat kebingungan Baekhyun bertambah. Di salah satu persimpangan lampu merah ia berhenti dan berusaha menarik wajah Sungra agar menatapnya, berniat melakukan pembicaraan serius dengan gadis itu.

“Sungra-ya, kau kena…” ia terdiam sejenak sebelum kemudian buru-buru mengambil tisu di dashboard mobil. “Kau… kenapa menangis?”

Aniyo…” desis gadis itu, mengambil kotak tisu yang disodorkan Baekhyun dan mengusap matanya sendiri. Namja itu mendecakkan lidah. “Bagaimana aku bisa yakin kau tidak apa-apa kalau kau menangis begitu? Ng… cerita?”

Sungra kembali menggeleng tanda sedang tidak ingin membicarakan apa-apa. Baekhyun, di sisi lain dan seperti biasa, tetap berkeras untuk mengetahui apa yang terjadi dengan mengulang kata-kata yang sama –ayo-ceritakan-apa-yang-membuatmu-menangis, dengan beberapa variasi– tiap satu menit sekali hingga gadis itu akhirnya menyerah –diindikasikan dengan raut enggan dalam anggukan kepalanya. Ia mendesah berat dan mulai bicara lagi, “Aku sedang malas berurusan dengan cincin.”

“Memangnya ada apa dengan cincin?”

“Kau tidak perlu tahu. Aku sudah lelah berurusan dengan benda-benda semacam itu…”

“Urusan dengan benda semacam itu?” gadis itu tidak menjawab, justru kembali memalingkan wajah ke luar jendela. Baekhyun berusaha menebak apa yang dimaksud olehnya sebelum kemudian berhenti di satu kesimpulan, mungkin ada hubungannya dengan namja yang itu.

“Aku pikir kau mungkin trauma, dan aku paham kenapa, tapi…” ia berhenti sejenak, memilih kata-kata yang sekiranya tidak akan membuat gadis itu justru makin deras air matanya. “Kali ini cincin itu akan berurusan denganku, jadi kau tidak usah khawatir… Sungra-ah?”

Baekhyun terdiam saat melihat Sungra mengusap-usap matanya. Menangis lagi. Bahunya bergerak naik-turun perlahan karena isakan yang hampir tidak terdengar. Namja itu menghela napas dan menepuk kepala Sungra pelan, berusaha menenangkannya. “Bagaimana? Kau… tidak mau?”

Gadis itu kembali mengusap matanya sebelum berkata lirih, “Aku bilang tidak mau pun kau akan tetap menyebutkan alasan yang membuatku terpaksa harus ke sana, kan?”

“Kalau kau tidak mau kali ini aku tidak akan memaksa, bagaimana? Soal janji dengan toko perhiasannya bisa kubatalkan, nanti biar cincin yang sudah kupesan itu disimpan du—”

“Kan, kau membuatku jadi tidak enak untuk menolak lagi~” Sungra berusaha menahan senyumnya tapi gagal. “Sudahlah, lupakan saja kalau aku tadi menangis, ara?”

“Jadi, intinya kau mau?”

“Perlu dijawab?”

Baekhyun hanya tertawa dan sekali lagi mengusap kepala Sungra pelan. “Sudah sangat jelas, kok. Gomawoyo~”

——

Lingkaran perak tipis dengan beberapa butir berlian yang menghiasinya tampak berkilau ditimpa sinar lampu, menampakkan pesonanya pada gadis yang sibuk membalik dan mengamati telapak tangannya berkali-kali untuk menilai benda itu. Laki-laki di sebelahnya mengamati gerak-gerik gadis itu dengan antusias, begitu pula si penjaga toko yang mulai menyiapkan jenis cincin lain kalau-kalau gadis itu tidak menyukainya.

“Bagaimana? Suka?” namja itu buka suara dan masih saja tidak mendapat jawaban. Mungkin dia sedang sibuk dengan dunianya sendiri, begitu pikirnya sambil kembali mengamati satu persatu perhiasan lain yang dipamerkan di etalase. Ia sebenarnya tidak begitu mengerti soal perhiasan, hanya saja begitu melihat cincin yang sedang dicoba tadi ia merasa kalau benda itu akan terlihat sangat pas di jari manis gadis di sebelahnya, sama seperti saat ia melihat bros dan sepatu di butik sebelumnya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa menebak –secara tepat– selera gadis di sebelahnya, dan namja itu lebih suka menyebutnya insting yang ada hubungannya dengan takdir; semacam pembenaran fakta kalau mereka memang sudah ditakdirkan untuk bertemu dan jadi seperti sekarang ini.

“Baekhyun?”

Ia mengerjapkan mata saat sadar gadis itu sedang melambaikan tangan di depannya, semacam berusaha menyadarkannya dari lamunan sesaatnya. “Baekhyun? Sudah sadar?”

Tanpa mengacuhkan raut geli penjaga toko di depannya, ia hanya mengangguk dan menahan tangan gadis itu, mengamati cincin yang masih bertengger di jari manis tangan kanannya. Seperti perkiraan sebelumnya, benda itu memang terlihat sangat cocok dengan tangan gadisnya. Lagi-lagi jodoh, pikirnya sambil tersenyum sedikit. “Kau suka?” ia kembali menanyakan hal yang sama karena yakin perhatian gadis itu sedang terpusat padanya.

“Kau sendiri?” wajah Sungra tampak memerah dari saat jemari Baekhyun mencengkeram pergelangan tangannya.

“Aku? Aku saaaaaaangat suka. Aku suka apapun yang cocok untukmu~” sekali lagi Baekhyun berlagak seolah hanya ada mereka berdua di toko perhiasan ini, membuat si penjaga toko yang mulai memasuki masa paruh baya itu menggelengkan kepalanya. Pasangan muda, begitu pikirnya, memaklumi pemandangan yang tergolong biasa di depannya.

Wajah gadis itu makin merona. Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain dan Baekhyun… hanya tertawa melihat tingkahnya. “Kami ambil yang ini,” ia melepaskan benda itu dari jari tangan Sungra dan meletakkannya di atas counter kaca toko tersebut.

“Perlu diukur dulu?”

Namja itu mengangguk dan sang penjaga toko menghilang ke bagian dalam ruang pamer ini, mungkin untuk mengambil sampel macam-macam ukuran cincin. Ia tidak peduli, yang penting sekarang ia benar-benar hanya berdua dengan Sungra… dan ia tahu persis kalau saat seperti ini adalah waktu yang paling menyenangkan untuk meledek gadis di sebelahnya habis-habisan.

“Ya, lihat aku.” ia menarik pelan kepala gadis itu hingga menghadap ke arahnya. Sungra berusaha kembali memalingkan wajahnya tapi tangan Baekhyun yang menangkup dagunya sudah lebih dari cukup untuk menahan keinginannya itu.

“A, apa? Kau mau apa?” meski diucapkan dengan nada ketus, kalimat itu tetap saja tersendat, entah karena ia sedang gugup atau apa.

“Pandaku makin cantik kalau wajahnya memerah, hehe~”

“Siapa yang pandamu?!”

Yeoja keras kepala dan galak yang punya kantung mata tebal karena kurang tidur…”

“Sok tahu! Aku tidak kurang tidur dan aku tidak punya kantung mata!”

“Oh, jadi kau merasa kalau yang kumaksud panda itu kau? Baguslah~ pokoknya sampai rumah nanti kau harus istirahat dulu, ara?”

“Aaaaaaaaaaa! Diam!” sentak Sungra sambil kembali memalingkan wajahnya. Untuk kesekian kalinya dalam hari ini, Baekhyun kembali tertawa karena tingkah gadis itu yang menurutnya lucu.

“Silahkan terus merajuk kalau kau mau, tapi jarimu tetap harus diukur.” namja itu menarik tangan kiri Sungra, memberi kode pada si penjaga toko yang telah kembali dengan sampel-sampel ukuran cincin itu agar mengukur lingkar jari manis tangan kiri Sungra. Tidak butuh waktu lama untuk menentukan ukuran masing-masing pasangan aneh itu –karena selagi jari Sungra yang diukur, Baekhyun juga mencoba sendiri contoh ukuran cincin untuk laki-laki yang disediakan– dan urusan mereka bisa dibilang sembilan puluh persen selesai, tinggal menunggu sepasang benda itu jadi minggu depan.

Kamsahamnida~” Baekhyun membungkuk sekilas ke arah penjaga toko, diikuti oleh Sungra, sebelum kemudian mereka keluar dari toko perhiasan itu. “Nah, berhubung sudah selesai, sekarang mau ke mana?” tanya Baekhyun setelah mereka kembali berada di mobil. Gadis itu hanya menggeleng sambil bersandar dan memejamkan matanya. “Aku ingin pulang saja…” desisnya pelan.

Namja itu mengangguk maklum sembari memfokuskan pandangan pada jalan raya. “Araseo, pulang~ tidurlah dulu kalau kau capek, nanti kubangunkan kalau sudah sampai.”

“Ng…”

——

“Hei, bangun~ sudah di depan rumahmu~”

“Ng? Ng…”

“Bangun sendiri atau perlu kugendong sampai kamarmu?”

Sungra langsung membuka mata dan menatap Baekhyun kesal dengan matanya yang masih sayu. Ia memberesi barang-barangnya lalu membuka pintu mobil, mengucapkan terima kasih sekenanya sebelum kemudian mulai beranjak dan sudah hampir mencapai pintu depan rumahnya… jika saja Baekhyun tidak menahannya, lagi.

“Ya.”

“Ne? Apa lagi? Kau belum puas sudah menggangguku seharian ini?”

“Kemarilah. Sebentar saja.”

Sungra menurut meski sambil menggerutu, berjalan ke arah jendela mobil Baekhyun yang terbuka. “Apa?”

Namja itu mengulurkan tangan dan memainkan rambut Sungra sejenak sebelum kemudian bicara lagi, “Nanti malam kami akan datang pukul tujuh. Arra? Beri tahu orang tuamu. Ah, satu lagi, aku tidak mau melihatmu masih mengenakan seragam rumahanmu saat kami datang. Meski aku tidak keberatan, tapi apa kata orang tuaku nanti kalau melihatmu seperti itu?”

“Mungkin mereka akan berpikir untuk melarangmu berhubungan denganku. Selesai, kan?”

“Nanti kau menyesal karena tidak ada yang memaksa mengajakmu menikah seperti ini~” Baekhyun tersenyum kecil. “Baiklah, sudah hampir pukul tiga. Aku harus segera ke Incheon, ne? Jangan lupa berdandan yang cantik nanti malam. Annyeong, sayang~”

“Diam!”

Suara tawa Baekhyun terdengar seiring mobilnya yang melaju meninggalkan Sungra di depan rumah, memerah karena salah tingkah. “Babo!” teriaknya kemudian, bersungut-sungut masuk ke rumah. Sempat berbalik sejenak untuk mengawasi mobil hitam yang tadi berhenti di depan rumahnya dan sekarang sudah berada jauh di ujung jalan sana, ia mendesah pelan dan bergumam, “Gomawo. French toast tadi pagi sangat enak…”

to be continued

YAK! first author’s note untuk FF ini -_- maafkan ketidakjelasan saya yang makin tidak jelas, dan maaf buat yang nunggu dan kecewa –karena saya yakin, part ini amat sangat tidak jelas dan aneh sekali– *bungkuk dalem*. jujur, mood untuk nyelesaiin ini hampir hilang .________. bukan hilang sih, lebih karena males ngetik :3 *ditampar*Ā jadiiiiiii, mohon maaf ya kalau jadinya… ya begitulah -_- *bungkuk lagi

Advertisements

4 thoughts on “[Cafe Latte] #4 | On the Second Time”

  1. like usual deh, baekhyun selalu semena-mena sama sungra-_- hahaha, tapi lucu. aku suka scene waktu baekhyun manggil sungra dari dalem mobil haha.

    omooo… plisplis, jangan kehilangan mood kamu, pliiss. aku mau tau sampe akhir, kisah cinta sungra ama baekhyun (cieeh) yayaya? pliiiisss. aku tunggu lanjutannya yaaaa

    1. kyaaaaaa muncul lagi! *eh…

      itu… kayaknya hobi ya -_-
      ehehehe~ itu tumben si baekhyunnya agak lembut sama sungra~ biasanya sih… *isi sendiri *eh

      ng? semoga yaaaaaa >//////////< *sembunyi belakang tae sama baek(?)
      araaa~ tunggu aja ya, hehehe :B

      gomawo~ ^^

  2. *senyumsenyum geje sambil baca(?)
    Mana calon suami kayak baekhyun manaaaaa~~ kalo perlu baekhyun-nya beneran *eh
    Sungra harus seneng dooong, disiapin matengmateng tuh sama baek :”

    1. *telpon rumahsakitjiwa *eh
      gaboleh baekhyun benerannya -3- *kasih chan
      iya~ dia dalem ati seneng kok, tapi gengsi, tau gengsi kan? šŸ˜„ *eh

      ngng~ makasih ya eonn~ šŸ˜„

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s