[Cafe Latte] #5 | Semi-Engagement

Title: Semi-Engagement
Genre: family, fluff, romance
Rating: PG-13
Character: ._.

Terdengar suara bel dan Sungra langsung menegakkan punggungnya di depan meja rias kamarnya. “Si, sial, jam berapa sekarang?” dengan panik ia meraih jam digital Keroro hijau di meja dan terbelalak saat menemukan angka tujuh lewat lima bersarang manis di layarnya. Ia buru-buru mengecek ulang penampilannya di meja rias –yang sebenarnya terlihat sama saja baginya karena ia sama sekali tidak menambahkan pulasan makeup selain yang biasa ia pakai sehari-hari, selapis tipis bedak saja. Ia mendesis kesal saat menyadari kalau kata-kata Baekhyun soal kantung matanya memang benar, dan ia tidak tahu harus melakukan apa agar setidaknya warna kehitaman di bawah matanya itu bisa sedikit tersamarkan. Jadi… bagaimana?

“Sungra? Kau sudah selesai?” terdengar suara eommanya dari balik pintu kamar yang terkunci rapat. “Keluarga Byun sudah sampai. Sebaiknya kau cepat-cepat turun, tidak enak kan kalau mereka menunggu terlalu lama?”

Ne eomma~ aku sudah selesai kok…” ia beranjak, memperhatikan sekali lagi hasil dandanan ala kadarnya itu dan akhirnya keluar dari kamarnya, pasrah soal apa yang akan dikatakan sang eomma setelah melihat apa yang dilakukan anak gadisnya pada wajahnya sendiri.

“Kau menghabiskan waktu hampir satu jam dan hanya mendapat hasil seperti ini? Ini bahkan tidak ada bednya dengan yang biasanya kau lakukan!” eomma Sungra menggelengkan kepalanya heran, mungkin karena bakat berhiasnya sama sekali tidak diturunkan ke anak gadisnya.

Eomma, setidaknya aku menata rambutku, iya kan?” satu-satunya keahlian dalam hal rias-merias yang Sungra miliki hanya kemampuan menata rambut dengan referensi dari berbagai majalah, meski ia jarang menggunakannya di kehidupan sehari-hari karena merasa lebih nyaman dengan hanya menggerai rambut atau diikat biasa.

Eomma Sungra mengamati rambut gadis itu, merapikan sedikit rambut yang membingkai wajahnya lalu tersenyum. “Baekhyun ini… dia anak yang baik, kan?” tanya wanita paruh baya itu sambil menggamit tangan Sungra dan menuntunnya ke arah tangga. Gadis itu terdiam, sekali lagi merasakan pipinya yang memanas dan mungkin sapuan bedak tipis yang ia pakai tadi tetap tidak akan banyak membantu. Ia mengangguk pelan, mengiyakan, mendengar sedikit suara dari bawah sana –mungkin appanya sedang mengobrol dengan orang tua Baekhyun.

Dan benar saja, di ruang tamu rumah yang sudah penuh, selain appa Sungra, ada Baekhyun dan kedua orang tuanya, sedang mengobrol santai sambil menikmati kue-kue kering yang disuguhkan oleh eomma Sungra sebelumnya.

Entah karena kebetulan atau firasat, Baekhyun tiba-tiba mendongakkan kepala tepat saat Sungra sampai di mulut tangga. Namja itu tersenyum lebar dan segera bangkit berdiri untuk menghampiri gadis itu. “Permisi, ajumma~” kata Baekhyun sambil mengambil tangan Sungra dari genggaman eommanya, membawanya ke tempat dua keluarga itu berkumpul hingga Sungra terpaksa harus duduk di sebelah Baekhyun –karena ia yakin pasti akan terlihat sangat aneh jika ia tiba-tiba memisahkan diri dengan namja itu.

Eomma, appa, ini Sungra. Ra-ya, eomma dan appaku.” Baekhyun segera mengenalkan gadis itu ke kedua orang tuanya dan Sungra refleks membungkuk. Eomma Baekhyun –yang secara mengejutkan terlihat masih cukup muda– tersenyum begitu Sungra membungkuk sopan ke arah kedua orang tua Baekhyun, kentara sekali sedang mengamati wajah Sungra yang sekarang kembali duduk di sebelah anak laki-lakinya.

Uri-Baekhyun sangat pintar mencari calon istri, iya kan, yeobo?” kata eomma Baekhyun setelah selesai mengamati gadis itu. Sungra terhenyak dan hampir saja ia melongo jika Baekhyun tidak keburu menyikut pinggangnya pelan sambil menimpali komentar eommanya barusan. “Ne, eomma~ ehehe~”

Eomma Sungra turut memuji Baekhyun yang sudah diyakininya sebagai anak baik-baik, “Kami akan sangat senang jika anak sebaik Baekhyun bisa menjadi bagian dari keluarga kami…”, membuat Sungra makin terkejut dan ingin tahu apa kira-kira yang telah merasuki otak kedua orang tuanya sampai bisa bersikap seperti ini, hampir berbeda seratus delapan puluh derajat dari kesan tertutup yang diperlihatkan saat awal-awal Baekhyun bertandang ke rumah ini. Appanya saja tampak mengobrol dengan appa Baekhyun seolah mereka teman lama yang sudah saling kenal bertahun-tahun lamanya. Ada apa ini?

Baekhyun menangkap bias kebingungan di wajah Sungra dan segera menarik tangan gadis itu ke dalam genggamannya. “Kau kenapa?” tanyanya kemudian. Sungra hanya menggeleng pelan kemudian kembali menatap orang-orang tua yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tatapan matanya berhenti di cemilan yang tertata di atas meja, naluri manusiawinya untuk makan kembali muncul. Lagipula cemilan memang diciptakan untuk dimakan, kan?

Sungra hampir memakan potongan brownies yang keempat ketika Baekhyun menyela pergerakan tangannya dengan sebuah rengekan. “Aku mau~”

“Ambil sendiri.”

“Aku mau yang itu~” Baekhyun menunjuk potongan cake cokelat yang ada di tangan Sungra. Gadis itu merengut, “Ambil sendiri! Apa bedanya sih?”

“Beda, pokoknya beda~” dan Sungra menyodorkan potongan brownies itu ke Baekhyun yang masih mengatupkan mulutnya. “Ini! Katanya kau mau yang ini? Atau malah tidak jadi? Ya sudah.”

“Suapi~”

Ya! Makan sendi—”

Aigo~ pasangan muda memang membuat iri~” Sungra langsung mengalihkan perhatiannya ke sumber suara, eomma Baekhyun yang sekarang sedang tersenyum-senyum mengamati mereka berdua bersama dengan eommanya sendiri. Gadis itu bisa merasakan dengan jelas bahwa wajahnya merona, dan ia langsung melepaskan tangan Baekhyun yang menggenggamnya dari tadi.

“Sudahlah, tidak usah malu-malu~ ah, bagaimana kalau sekarang kalian ceritakan saja awal kalian bertemu?”

Yeoja itu tersentak. Awal mereka bertemu berarti… cafe, hujan, dan patah hati. Sesuatu yang ingin selamanya ia tinggalkan, hari yang ingin ia lupakan, dikubur dalam-dalam dan tidak perlu digali lagi… kalau bisa.

Eomma Sungra tampak khawatir melihat perubahan air muka Sungra meski tidak begitu kentara. Anak gadisnya masih bisa mempertahankan senyum meski agak sedikit… mengganjal. Wanita paruh baya itu memang tahu –meski tidak persis– bahwa pertemuan pertama kedua anak itu –yang sangat tidak disengaja, tentu saja– terjadi di hari yang bisa dibilang cukup memalukan bagi keluarga Lee. Ia memaklumi kalau Sungra tidak ingin membicarakannya lagi karena satu dan lain hal, tapi tentu tidak akan terlihat sopan kalau tiba-tiba ia meminta agar eomma Baekhyun tidak menanyakan hal itu ke Sungra.

Baekhyun melirik ke sekeliling, menyadari kalau kedua appa sudah menghilang dari ruangan ini, lalu menghela napas sambil kembali meraih tangan gadis di sebelahnya. “Ng… waktu itu sedang hujan deras, lalu…” namja itu melirik Sungra yang hanya diam, kemudian kembali melanjutkan, “Jadi, aku sedang di cafe, bekerja seperti biasa~ nah, Sungra saat itu berteduh di depan cafe karena dia lupa membawa payung, ga— eh, bajunya basah kuyup dan kelihatannya dia kedinginan. Jadi aku mengajaknya masuk dan memberinya moccachino agar badannya lebih hangat, hehehe~” ia mengakhiri ceritanya dengan menggaruk belakang kepalanya. Eomma Sungra menghela napas lega karena Baekhyun sama sekali tidak mengungkit masalah Sungra waktu itu, setidaknya anaknya tidak akan kembali ke masa-masa galaunya.

Geurae? Waaaaah~ manis sekali~ berarti kalian memang sudah ditakdirkan untuk bertemu hari itu~”

Sungra hanya mengangguk sambil tersenyum tidak enak. Meski ia juga merasa lega karena Baekhyun tidak mengatakan apa-apa ke eommanya soal kejadian waktu itu, tetap saja ia merasa tidak enak jika harus merahasiakannya dari eomma dan appaBaekhyun selamanya. Mungkin tidak selamanya… malah akan jadi lebih buruk jika orang tuaBaekhyun mengetahuinya dari orang selain mereka dan orang tuanya.

Gadis itu menyikut lengan Baekhyun pelan saat kedua eomma sudah kembali larut dalam pembicaraan mereka. “Ne?”

“Bisa… kau bantu aku?” tanpa menunggu Baekhyun bertanya lagi ia segera melanjutkan, “Tolong jelaskan pada eommamu soal apa yang sebenarnya terjadi padaku waktu itu. Aku hanya… aku hanya tidak ingin nanti ada salah paham atau apa, ara?”

“Soal itu? Sudah aku ceritakan kemarin. Masa’ aku tidak menceritakan latar belakang calon menantu mereka?”

“Eeeeeeeh?! Kalau begitu kenapa—” ia buru-buru menurunkan suaranya saat Baekhyun menempelkan telunjuknya ke bibir. “Kenapa eommamu masih menanyakan soal kapan kita bertemu tadi?”

“Aku hanya menceritakan latar belakang, bukan menceritakan ulang apa saja yang sudah kita alami, babo.” namja itu menjitak dahi Sungra pelan. “Maaf, aku menceritakannya tanpa seijinmu, tapi aku sudah meminta ijin ajumma dan ajusshi dan mereka bilang tidak apa-apa…”

“Ng. Ne, gwenchanha.”

Baekhyun tersenyum lega lalu mengacak rambut Sungra hingga gadis itu mengeluh kesal. “Jangaaaan~ kau tidak tahu capeknya menata rambut sendiri sih~”

“Eh? Kau menata rambutmu sendiri?” Baekhyun berhenti mengacak rambut Sungra, kali ini mengamati rambut gadis itu dengan lebih teliti. Diikat di samping dan sisanya dibiarkan jatuh begitu saja, sederhana tapi –bagi namja itu– berhasil membuat Sungra terlihat jauh lebih manis dari biasanya. Ia tersenyum sedikit dan menepuk kepala Sungra sekali lagi. “Bagus. Yeppeo~”

Tidak butuh waktu lama sampai wajah Sungra kembali merona sepenuhnya.

——

Kedua appa sudah kembali ke ruang tamu dan… baik Sungra maupun Baekhyun tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tidak bisa ditebak memang. Apalagi melihat raut wajah menyetujui yang ditampakkan oleh kedua appa, sedikit mencurigakan.

“Nah, jadi… karena sudah ada pertemuan seperti ini… sudah bisa dipastikan, bukan?” appa Baekhyun membuka pembicaraan. Appa Sungra mengangguk ringan tapi kemudian terdiam, “Sebelumnya kita perlu tahu pendapat Sungra dulu, bukan?”

“Dari yang kuamati sedari tadi, aku rasa tidak ada masalah bagi Sungra, iya, kan?” kata eomma Sungra disusul anggukan oleh eomma Baekhyun. Gadis itu makin bingung, sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang tua di sini?

“Ng, tunggu, sebenarnya… apa yang sedang eommaappa bicarakan?” sela Baekhyun tiba-tiba. Keempat orang tua di ruangan itu menoleh ke arah namja itu, saling menatap sejenak sebelum kemudian appa Sungra menjawab, “Tentu saja pernikahan kalian, memangnya ada hal lain yang perlu dibicarakan sekarang?”

“E, eh, pernikahan? Hal lain? A… aniyo, ehehe~” Baekhyun kembali diam sambil sesekali melirik Sungra yang masih menunduk di sebelahnya. Ia sendiri tidak memperkirakan kalau satu kali pertemuan keluarga sudah cukup untuk memutuskan hal sekrusial itu, ditambah dirinya yang masih terbilang ‘orang baru’ bagi keluarga Sungra. Dalam prediksinya setidaknya mereka akan membutuhkan dua atau lebih pertemuan, baru keputusan ini bisa diambil. Entahlah, mungkin ini kasus luar biasa.

“Baiklah kalau begitu~” appa Sungra menghela napas. “Bagaimana kalau kita tentukan saja tanggal pernikahannya sekarang?”

“Ide bagus~” eomma Sungra mengambil kalender meja dan mengamati angka-angka yang ada. “Bagaimana kalau dua bulan la—“

ANDWAE!” teriak Sungra dan Baekhyun bersamaan hingga empat orang tua yang ada di situ menoleh kaget ke arah mereka. Sungra buru-buru menambahkan agar tidak terkesan tidak sopan, “Ng… mungkin lebih baik jangan ditentukan dulu, la, lagipula dua bulan lagi apa tidak terlalu… cepat? Bagaimana dengan persiapannya nanti?”

“Cepat? Aku rasa tidak.” sela eomma Baekhyun. “Satu bulan saja sebenarnya bisa untuk menyiapkan pernikahan kalian~”

“Tapi setelah itu kami pasti akan mati kecapekan, eomma~” kata Baekhyun sambil tertawa pelan, membuat yang lainnya ikut tertawa… kecuali Sungra yang hanya berhasil tersenyum sedikit.

“Aku sudah tua, kalian pasti mengerti maksudku~” eomma Sungra menatap kedua anak itu bergantian. “Aku tidak ingin disangka nenek buyut oleh cucuku nanti, lagipula usia kalian juga sudah cukup matang untuk menikah…”

“Kalau begitu, biar kami saja yang menentukannya, bagaimana, eomma?” kata Baekhyun. “Bukannya bermaksud tidak sopan, tapi aku rasa kalau kami yang mendiskusikannya sendiri nanti kami akan mendapatkan tanggal yang bagus…”

Sungra sama sekali tidak peduli dengan permintaan Baekhyun untuk mengurus tanggal pernikahan mereka sendiri, ia justru lebih peduli pada fakta bahwa Baekhyun berani memanggil eommanya dengan ‘eomma’. Ditambah ia melakukannya dengan santai seolah tidak ada beban sama sekali, dan… terlihat begitu natural. Bagaimana ini? Dari segala masalah yang ada, ia lebih mencemaskan masalah ini. Apalagi melihat eommanya yang tidak merespon sama sekali, apa benar Baekhyun memang sudah diterima di keluarga ini? Lalu apa yang harus ia lakukan saat keluarga Byun juga sudah menerimanya kelak?

Keempat orang tua yang hadir tampak berdiskusi sebentar, mengabaikan fakta bahwa sedang ada satu pihak yang kalut dalam pikirannya sendiri, kemudian muncul anggukan setuju dari appa Baekhyun. “Kami akan menunggu kepastian tanggal dari kalian maksimal satu bulan ke depan, begitu perjanjiannya. Jadi kalau lebih dari itu ya kami yang akan menentukannya, setuju?”

Baekhyun melirik Sungra yang masih tampak berpikir lalu menyikutnya pelan. “Setuju tidak?” tanyanya, dan dijawab dengan anggukan pelan. “Araseo, appa. Satu bulan, ne?”

Setelah persetujuan dihasilkan, pembicaraan soal pernikahan untuk sementara selesai. Lagi-lagi mereka hanya ditinggalkan berdua, atau mungkin sebenarnya sedang ada konspirasi penilaian calon menantu dari masing-masing pihak?

“Panda, kau tidak apa-apa?” bisik Baekhyun saat yakin tidak ada yang sedang memperhatikan mereka. Sungra meliriknya kesal. “Siapa yang panda?” desis gadis itu dengan nada tajam. Baekhyun hanya tertawa dan kembali menepuk kepala gadis itu.

“Kantung matamu masih kelihatan~”

Ne, aku tahu. Kenapa? Mau protes?”

Aniyo, hanya penasaran dengan caramu berdandan, ehehehe~”

“Aku juga tahu kalau cara berdandanku payah. Oke, aku sama sekali tidak bisa malah. Kau lihat?” gadis itu menunjuk matanya. “Tidak ada eye shadow, tidak ada eye liner atau maskara atau apapun itu yang biasa dipakaikan di mata. Tidak ada lipstik, tidak ada blush on. Kurang payah apa lagi aku dalam berdandan?” Sungra menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap lurus ke depan. “Kau yakin kau tidak salah memilih calon istri? Kau pasti sudah bisa menilai kalau caraku merias wajah sama sekali tidak akan bisa memuaskan matamu. Iya, kan?”

“Memangnya aku memilih calon istri hanya berdasarkan wajahnya? Babo.” namja itu mendorong dahi Sungra pelan dengan telunjuknya. “Kau manis. Cantik. Tidak perlu pakai apa-apa juga aku sudah bisa melihatnya. Sudah, berhenti mencari alasan untuk menolak menikahiku, meski aku yakin sebenarnya kau sebenarnya tidak akan menolak, iya, kan?”

“Diam!”

“Ck, kau yang diam.”

“Aku bilang di–” gadis itu berhenti bicara saat kedua tangan Baekhyun menangkup wajahnya, semakin membeku saat wajah Baekhyun mendekat… kemudian ia merasakan sesuatu yang lembut dan dingin bergantian menyentuh bagian bawah kedua matanya yang terpejam.

“Nah, sebentar lagi kantung matamu pasti akan sembuh~” kali ini ia merasakan jemari panjang Baekhyun menyentuh matanya, mengusapnya perlahan. Ia tidak berani membuka mata, terlalu malu untuk melakukannya, tapi suara-suara di sekitarnya terpaksa membuatnya membuka mata dan tepat seperti dugaannya, keempat orang tua di depannya sedang menatap mereka dengan tatapan yang… sulit dideskripsikan, tapi sepertinya tidak ada kesan tidak suka dalam tatapan-tatapan itu.

“Ah, aku rasa kita mengganggu mereka. Ada yang mau makan malam?” tanya eomma Sungra sambil bangkit berdiri diikuti oleh orang tua lainnya, meninggalkan Baekhyun dan Sungra di ruang tamu berdua saja.

Eomma, jangan lupa sisakan dua porsi untuk kami!” pesan Baekhyun sebelum orang tua mereka menghilang di balik pemisah antara ruang tamu dengan bagian dalam rumah. Ia lalu menatap Sungra yang sekarang terlihat jauh lebih rileks, punggung gadis itu tersandar di sofa dan wajahnya tampak lebih santai.

“Bagaimana?” tanya Baekhyun sembari ikut meluruskan kakinya. Gadis itu hanya meliriknya sekilas lalu kembali memejamkan mata. “Eommamu cantik dan baik, appamu tampan, dan mereka masih kelihatan muda.” katanya sambil meletakkan sebuah bantal duduk di antara mereka berdua.

“Jadi setelah pembicaraan selama itu yang kau tangkap hanya itu? Ckckck.” Sungra tidak merespon kalimat Baekhyun, ia tetap memejamkan matanya tanpa mengatakan apa-apa.

“Ra-ah? Kau tidur?”

“Sedang berusaha. Diamlah~”

“Memangnya nyaman tidur dalam keadaan seperti itu?”

“Aku hanya akan tidur sebentar~ makanya kau diam dulu, biarkan aku tidur dengan tenang.”

Baekhyun menggelengkan kepalanya heran kemudian ikut bersandar di sofa, menatap Sungra yang masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Ia mengamati fitur wajah gadis di depannya; rambut hitam agak panjang, dahi sedikit lebar. Mata dengan iris hitam dan bulu mata yang tidak terlalu lebat. Di alis kanan gadis itu ada bagian sangat kecil yang tidak ditumbuhi rambut, mungkin karena bekas luka, pikir namja itu yang juga baru menyadarinya sekarang. Ia melanjutkan pengamatannya lagi. Pipi yang sangat mudah merona merah karena malu, dan hidung dengan ujung yang tidak begitu tajam tapi pas di wajah gadis itu. Ia sadar ia sedang bersikap objektif soal pujian-pujian yang mendadak muncul dalam hatinya karena pasti tidak semua orang akan mengatakan kalau Sungra sama dengan apa yang ia pikirkan, tapi setidaknya…

Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal yang sama yang ia lakukan terhadap kedua mata Sungra tadi, hanya kali ini sasarannya adalah hidung gadis itu.

Sungra membuka matanya begitu Baekhyun menjauhkan kepalanya dari gadis itu, sempat mengalami disorientasi sejenak lalu ia refleks memegangi hidungnya. “Kau menyentuh hidungku?”

Baekhyun mengangguk. “Dengan apa?” desak Sungra lagi, dan ia terdiam saat Baekhyun menunjuk bibirnya. “Dasar mesum…” desis gadis itu, berusaha menyembunyikan rona wajahnya yang memerah.

“Aku tidak mesum, kau tunanganku, kan? Nah, kalau aku melakukannya di cafe waktu itu baru aku bisa disebut mesum~”

“Memangnya siapa yang tunanganmu, ha?!”

“Siapa lagi?” namja itu menaikkan sebelah alisnya dan menyingkirkan bantal pembatas di antara mereka berdua. “Ne, jangan ingatkan aku kalau kita belum memakai cincin tunangan, lagipula itu hanya simbol, kan?”

“Belum ada pernyataan soal kita sudah bertunangan, Byun Baekhyun-ssi.”

“Sebentar lagi~” Baekhyun bergeser mendekat ke arah yeoja itu. “Sebentar lagi, Lee Sungra-ssi. Bagaimana? Kau suka, kan?”

“Suka apa? Gagasan soal kita akan bertunangan? Sama sekali tidak.”

Tidak terdengar bantahan dari mulut Baekhyun lagi dan Sungra menganggap namja itu sudah bosan berdebat dengannya. Setidaknya ia sekarang bisa hidup dengan lebih tenang…

Setidaknya hingga Baekhyun menyentuh dagu gadis itu dengan jemari tangannya, mengusapnya pelan sebelum memaksa gadis itu menatapnya dengan cara menarik dagunya. Ia menatap gadis itu tepat di matanya, membuat Sungra terdiam dan merasakan perasaan aneh di perutnya.

“B-Baekhyun…”

“Ng…”

“A, apa yang kau laku—” Sungra membeku saat merasakan –sekali lagi, tapi untuk pertama kalinya di sisi yang lain– bibir Baekhyun yang dingin di miliknya sendiri, tidak begitu lama tapi sudah cukup untuk menimbulkan perasaan yang membuat degup jantung gadis itu bertambah cepat berkali-kali lipat. Ini bukan kali pertama ia dicium oleh namja –mengingat mantan-lima-tahun-nya itu– tapi kali ini adalah yang pertama ia lakukan dengan Baekhyun dan gadis itu tidak bisa memungkiri bahwa ia menyukai sensasi yang timbul barusan. Hanya saja, di balik euforia itu terselip sedikit bayangan gelap yang mulai menyusup, menyebar dengan cepat hingga ketika Baekhyun melepaskan gadis itu dari rengkuhannya, ia mulai merasakan kesedihan yang menggelegak dalam hatinya. Sesuatu yang tidak semestinya muncul lagi setelah serangkaian upaya Baekhyun untuk membuatnya berhenti merasa sakit.

Tangannya yang tadi hampir merengkuh leher Baekhyun terhenti, kemudian jatuh dengan lunglai. Ia merasakan air mata mulai berkumpul di bawah kelopak matanya dan yang bisa ia lakukan hanya menunduk sambil berharap agar ia bisa menahannya. Sayang kalau gaun sebagus ini terkena tumpahan air mata, dan terlebih lagi, ia malu pada Baekhyun karena satu alasan yang ia sendiri tidak bisa mendeskripsikan. Bagaimana ini? Baekhyun sudah berusaha membuatnya melupakan masa lalu, tapi ia sendiri yang terus-terusan mengingatnya. Ia sendiri yang enggan mengobati lukanya. Ia tidak sanggup menghadapi Baekhyun yang sudah memperjuangkan segalanya baginya, agar ia senang dan bisa melanjutkan hidupnya dengan lebih baik. Harusnya…

“Ra-ah?”

Yeoja itu tidak sanggup menahan tangisannya lagi. Ia menolak ketika Baekhyun memaksa untuk menatapnya, menepis tangan Baekhyun yang kembali menyentuh dagunya.

“Gadis cengengku yang keras kepala, tolong berhenti bersikap seperti ini…” tangisannya justru turun makin deras. Ia merasa bersalah pada namja di sebelahnya, merasa bahwa ialah penghambat bagi namja itu sekaligus merasa kalau ia tidak pantas berada di sebelahnya sekarang. Lebih baik Baekhyun mencari yeoja lain yang bisa membalas perasaannya dengan baik dan benar, bukannya gadis temperamental yang terjerat masa lalu seperti dirinya. Bukan pula gadis aneh yang tidak pernah bisa yakin dengan perasaannya sendiri.

“Kenapa menangis? Aku menyakitimu? Di mana? Mianhae~”

“Tidak apa-apa. Bukan apa-apa.” Sungra menggeleng dan melepaskan diri dari pelukan Baekhyun, menghela napas dalam dan mengusap-usap matanya yang sembap. “Sudahlah, aku juga sudah bilang aku tidak apa-apa, kan?”

“Bagaimana bisa kau tidak apa-apa kalau kau menangis begini? Aish~ kau bukan pembohong yang baik, Ra-ya~ jadi jangan pernah coba-coba berbohong padaku, ara?” Baekhyun mengacak rambut gadis itu pelan. “Jadi? Ng… kau… teringat lagi?”

Ragu-ragu yeoja itu menganggukkan kepalanya perlahan. Baekhyun menghela napas kemudian kembali memeluk Sungra, “Sudah~ jangan menangis lagi~ ada aku sekarang, iya kan?”

“Ng…”

“Kalau kau menangis lagi, nanti mata panda-mu jadi makin terlihat~ atau kau sebegitu sukanya jadi pandaku makanya kau sering menangis? Hmm?”

Sungra memukul tangan Baekhyun pelan, tidak bisa menahan senyumnya saat melihat cengiran lebar Baekhyun. “Siapa yang suka kau panggil panda? Ck~ sekarang lepaskan tanganmu dariku, mesum!”

Ne, ada syaratnya tapi~”

“Apa?”

Poppo!” dan sebuah pukulan telak bersarang di dahi Baekhyun. Namja itu meringis sambil mengusap dahinya kesakitan. “Anarkis!”

“Daripada mesum?”

“Aku tidak mesum~ yang barusan itu… bagiku… yang pertama kali, hehe. Jujur, aku tidak tahu cara yang tepat untuk melakukannya, jadi… karena aku pikir kau lebih berpengalaman… bisa tolong ajari aku?”

Mwoya?!”

——

Pukul sembilan malam dan meja makan sudah kosong, hanya ada hiasan buah artifisial seperti biasanya. Makan malam hari ini telah selesai dan yang tersisa hanyalah sesi ramah-tamah yang dilakukan oleh kedua keluarga, lagi-lagi di ruang tamu. Hanya sebentar karena malam sudah cukup larut.

Keluarga Byun akhirnya berpamitan pada keluarga Lee dan tentu saja, sebagai tuan rumah yang baik, ketiga anggota keluarga Lee mengantarkan hingga ke pintu depan rumah termasuk Sungra yang akhirnya terpaksa memakai sandal jepit yang sama sekali tidak matching dengan ‘kostum’nya malam ini.

“A! Apa-apaan itu? Sama sekali tidak cocok dengan gaunmu!” ledek Baekhyun melihat Sungra yang mengantarnya hanya dengan menggunakan sandal karet. Gadis itu merengut, hampir saja melemparkan sandal di kakinya ke arah namja itu jika ia tidak ingat bahwa ada para orang tua di sana.

Eommaappa, aku ingin bicara dengan Sungra sebentar…” namja itu meminta ijin kemudian menarik Sungra menjauh dari keempat orang tua berada. Ia menatap gadis itu sejenak sebelum jemarinya memainkan sedikit rambut Sungra yang mulai lepas dari ikataannya.

“Kau tahu? Aku ingin kita seperti tadi selamanya. Aku harap apa yang kau lakukan hari ini bukan sepenuhnya akting karena ada orang tuaku.” Baekhyun mengusap-usap kepala Sungra sebelum kemudian mengacak rambutnya kuat-kuat. “Selamat malaaaaaam!” serunya sambil berlari masuk ke mobil dan buru-buru menutup pintunya. Ia menurunkan kaca mobil, menampakkan seringaian jahilnya ke arah Sungra yang makin bersungut-sungut. “Baekhyun! Rambutku!” protes gadis itu sambil menunjuk rambutnya yang sekarang sangat berantakan.

“Setelah ini kau langsung tidur, kan? Aku sudah membantu mengurai rambutmu~ a, eommaappaannyeong~” Baekhyun melambaikan tangan sekilas sebelum kemudian mulai menjalankan mobil yang berisi dirinya dan kedua orang tuanya, keluar dari pekarangan rumah keluarga Lee.

“Gaunmu bagus, baru?” tanya appa Sungra begitu mobil keluarga Byun sudah meninggalkan pekarangan rumah mereka. Sungra mengangguk, mengamati pakaiannya sendiri dan dengan sendirinya teringat apa yang terjadi dari tadi siang hingga barusan yang ada hubungannya dengan Baekhyun. Ia tidak bisa mengontrol pikirannya sendiri kali ini, entah kenapa.

“Kapan kau membelinya? Eomma juga baru sadar, eomma kira itu gaun lama yang tidak pernah dipakai malah…” tambah eommanya sambil mengunci pintu depan.

“Tadi, dengan Baekhyun…” gumam Sungra, tanpa sadar menyentuh bros bunga kecil perak-nya. Ia melihat bagaimana eomma dan appanya saling bertukar tatapan penuh arti dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu dengan alasan mengambil minum.

“Apa dia juga yang memilihkannya?” langkah kaki Sungra kembali terhenti karena pertanyaan yang dilontarkan sang eomma. Gadis itu hanya mengangguk dan kembali berlalu.

“Anak itu punya selera yang cocok dengan Sungra.”

“Aku tidak mengerti masalah seperti itu, sayang. Aku hanya tahu kalau dia anak yang bertanggung jawab. Sudah kupastikan. Kemarin cafenya sudah kukunjungi dan cafe itu ia atur dengan baik, kelihatannya.”

Ada apa lagi? Apa sudah terbentuk Baekhyun Fans Club di keluarga ini? batin Sungra sambil mengisi sebuah gelas kaca dengan air dingin. Dari dapur seperti ini ia masih bisa mendengar sedikit perkataan orang tuanya soal Baekhyun, meski sayup-sayup. “Ah, Baekhyun itu~ dia anak yang baik, ne, yeobo? Aku jadi tidak keberatan sama sekali jika ia benar-benar serius akan melamar Sungra~”

“Aku rasa begitu, aigo~ sepertinya Sungra sudah menemukan orang yang tepat~”

Sewaktu menghabiskan minumannya, Sungra tiba-tiba saja terdiam. Sesuatu yang berada di otaknya terbuka dengan bunyi ‘klik’ imajiner dan ia tersedot ke dalam pusaran pikirannya itu. Sesuatu dengan susah-payah berhasil melewati neuron otaknya, sesuatu yang selama ini gagal sampai dalam gagasan alam sadarnya.

Baekhyun tak lain dan tak bukan adalah takdirnya.

Awal ia mendapat pemahaman itu adalah segera setelah mobil keluarga Byun meninggalkan pekarangan rumahnya, setelah Baekhyun mengucapkan selamat malam sambil mengacak rambutnya tadi. Ketika melangkah ke kamar melalui tangga kayu, kesadaran-kesadaran itu makin kuat menghantamnya, membuatnya sedikit kesulitan berpikir tapi justru berhasil menemukan titik-titik temu baru.

Takdir yang memaksanya bertemu dengan Baekhyun. Semesta menginginkan mereka bertemu di hari hujan itu, dengan keadaan yang seperti itu. Sungra -saat itu- menganggap bahwa -mantan- calon suaminya sewaktu itu adalah jodohnya, masa depannya sesuai yang digariskan Tuhan. Siapa yang bisa mengira di hari paling memalukan dalam hidupnya itu ia justru bertemu dengan seseorang yang -mungkin- sebenarnya adalah orang yang sudah ditentukan untuknya?

Sekarang gadis itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila saat itu Baekhyun tidak membentaknya di depan cafe. Bila para pelanggan cafe itu tidak mengkomplain pada sang manager soal pengantin wanita menyedihkan yang basah kuyup dan menumpang berteduh seenaknya, mungkin sampai sekarang ia masih tenggelam dalam keputus-asaannya sendiri, atau mungkin sudah… Sungra bergidik saat membayangkan akan jadi seperti apa dirinya seandainya semua hal ini tidak terjadi.

Ia tidak akan bertemu dengan namja galak tapi sebenarnya baik hati itu. Tidak akan ada yang –secara tidak langsung– mengobati sakit hatinya. Tidak akan ada yang memaksanya melakukan apapun, tidak akan ada yang mengatur segalanya dengan begitu rapi hingga jadi seperti ini. Ia seratus persen sadar bahwa jika Baekhyun tidak bergerak sendiri maka mereka tidak akan pernah ke mana-mana. Jika Baekhyun tidak punya sifat memaksa seperti itu, ia tidak akan pernah sadar kalau ia masih punya hidup yang terlalu sia-sia bila hanya digunakan untuk meratapi nasib. Jika Baekhyun tidak pernah menatapnya dengan cara seperti itu, maka ia tidak akan mengalami perasaan hangat yang selalu membanjiri hatinya di saat-saat tertentu seperti saat ini… dan ia terpekur.

Ada orang yang membanjirinya dengan perhatian selama ini meski jarang ia acuhkan, tapi apa yang sudah ia lakukan? Menyia-nyiakan semua afeksi itu, mengesampingkannya dengan bersikap ketus pada namja itu. Memendam dendam kecil pada tiap bentakan yang keluar dari mulut orang itu, meski sekarang ia mengerti kalau bentakan itu adalah salah satu bentuk penyampaian perhatiannya.

Gadis itu menemukan satu titik lagi, kali ini tentang perasaannya sendiri. Tentang apa yang sering membuatnya menderita insomnia berjangka panjang, tidak bisa tenang jika layar ponselnya tidak berkedip tanda ada pesan dari Baekhyun, atau merasa salah tingkah tiap berada di dekatnya.

Ia kembali termenung, titik-titik temunya yang hampir utuh akan segera bisa digabungkan menjadi satu tapi ia terlalu takut untuk melakukannya. Trauma mendalam masih menghantuinya, meski ia yakin bahwa Baekhyun tak akan mengulang apa yang dilakukan oleh orang sebelumnya pada dirinya, tetap saja ia merasa kesulitan untuk bisa meyakinkan dirinya yang masih terasa rapuh.

Saat semuanya telah terlihat seperti ini, takdir itu terasa sangat mudah digapai –hanya ia masih belum merasa sanggup menggapai takdir tersebut.

end, maybe…

YOW!
nah, kali ini tumbenan saya rada waras. Serius, ini chapter selesainya cuma dalam dua hari! Dua hari! Duuuuu-aaaaaaaa-haaaaaa-riiiiiiii!!!!! *nangis bahagia *saking lamanya nggak nyelesaiin oneshot secepat itu *digampar

mungkin lebih karena puasa gini nggak ada kerjaan, mungkin. sekali lagi, mungkin. *evillaugh* tapi! tetep nggak jelas sih-_- mianhaeyoooo~~~ ><
ng… untuk yang masih nunggu (heran, kenapa ada yang nunggu ya -_- hehe, tapi makasih lho XD) lanjutan yang minggu lalu, semoga anda puas :3 hehehe. gomawo!

Advertisements

5 thoughts on “[Cafe Latte] #5 | Semi-Engagement”

  1. Aigoooooo~ chukkae yaaak berhasil nyelesein selama dua hariii *tebar bunga*
    Iisssshhhh suka banget deh pas bagian baekhyun ngomong ‘gadis cengengku yang keras kepala…’ Kyaaaaahhhh aku sukses senyum-senyum sendiri pas bagian ituu yaampuuunnnn…
    Semangat lagi yaaak nulisnya… Aku doain biar mood-nya gak turun-turun hahahaha….
    Fighting! ^^

    1. iyaaa~ *nangis terharu(?)*
      ng? aaaa jadi malu .///////////////////. *plak!* baekhyun… habis belajar nggombal dari buku, kayaknya sih :))
      iya, makasih yaaaaa :” *terharu lagi *ada yang doain gitulho *eh
      neee~ gomawoyo~ ^^

  2. baekhyun nyanyi buat sungra “so just shut up and be miiinnee~~” :”””” *bahagia
    Poppo-nyaaaa~ aduh bibir baek *plak”
    Part enam! Saya tunggu! Saaaaayaaaaaa tuuuuunngguuuuuuuuu ψ(`∇´)ψ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s