[Cafe Latte] #6 | Lithe

Title: Lithe
Genre: romance, friendship
Rating: PG-13
Character: usual (kekeke) + supporting cast :B (not different at all lol)

Melihat Baekhyun datang pagi-pagi sekali untuk menyiapkan makanan di rumah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi Sungra sekarang. Meski tidak setiap hari tapi tetap saja sering, setidaknya tiga kali seminggu ia akan bertandang ke rumah gadis itu, membuatkan sarapan spesial –ala Baekhyun, katanya– untuk empat orang. Sekali waktu Sungra iseng bertanya kenapa namja itu tidak sarapan di rumah dan membuatkan sarapan untuk kedua orang tuanya alih-alih untuk keluarga lain, jawabannya cukup membuatnya terkejut –Baekhyun tinggal sendiri di apartemen studio yang, sesuai tipenya, hanya terdiri dari kamar tidur dan kamar mandi ditambah balkon kecil. Lalu kenapa ia tidak tinggal di rumah saja?

“Saat eomma dan appa pindah ke Jepang, rumah keluarga kami disewakan.” kata Baekhyun pada suatu pagi sambil mengoleskan mayones ke selembar roti tawar dan menutupinya dengan selada. “Karena aku ditinggal di sini sendiri, jadi mereka membelikanku apartemen. Jadi secara teknis kami tidak punya rumah di Seoul sini –kecuali rumah yang di kampung halaman kedua orang tuaku dan kalau rumah di Seoul habis masa sewanya.” jelasnya lagi, meletakkan daging asap yang masih berasap di atas roti tadi.

“Lalu orang tuamu sekarang bagaimana?”

“Ng?Ah, kau tahu studio foto di dekat cafe itu?” Baekhyun balik bertanya dan Sungra hanya mengangguk, mulai penasaran soal bagaimana ‘nasib’ kedua orang tua Baekhyun di Seoul ini. Tidak mungkin juga mereka menginap di apartemen Baekhyun, kan?

“Nah, di sini orang tuaku tinggal di sana. Bisa dibilang itu semacam tempat singgah sementara, jika jangka waktu mereka tinggal di sini terlalu lama untuk menginap di hotel~”

“Eh? Bagaimana bisa begitu? Kenapa harus di situ?”

“Ng… itu milik saudara kami, jadi daripada boros-boros di hotel ya yang ada dimanfaatkan saja~”

Rutinitas itu berjalan mulus selama beberapa hari. Hanya saja, pagi ini ada yang berbeda. Sungra turun lebih pagi daripada biasanya, dengan dandanan yang meski santai tapi tetap terlihat rapi, bukan dengan seragam dinas rumahannya itu. Baekhyun mengamati Sungra sekilas dari ekor matanya lalu kembali fokus dengan nasi goreng yang sedang ia masak, “Panda, kau mau ke mana?”

“Kerja, ya! Berhenti memanggilku panda!” tapi galaknya tetap, namja itu tertawa dalam hati. “Ne, mianhae~ sekarang bisa tolong masakkan telur mata sapi untuk kita semua?”

Gadis itu berdiri, memakai apron yang disodorkan Baekhyun lalu mengambil penggorengan lain dan empat butir telur. Sambil menunggu penggorengan panas, ia berkali-kali mencicipi nasi goreng dan berkali-kali pula meminta ditambah cabai bubuk meski selalu tidak diperbolehkan oleh namja di sebelahnya. Baekhyun toh akhirnya menyerah dan berkata, “Araseo! Akan aku sisakan satu porsi untukmu, nanti kutambahkan cabai bubuk dan wasabi!”

Sungra kembali ke kursi dengan wajah puas penuh kemenangan sambil membawa sepiring telur mata sapi. Tak berapa lama setelah semua makanan siap, kedua orang tua Sungra muncul dari kamar. Baekhyun mengangguk sopan kepada mereka sambil meletakkan piring dengan nasi goreng yang menggunung di atasnya, siap disantap.

“Pesanan khususku?”

“Sedang dalam perjalanan, panda!”

“Aku sudah melarangmu memanggilku panda!”

“Kau panda, banyak makan, malas, dan berkantung mata hitam!”

Ya!”

Debat tidak penting pagi itu meninggalkan tawa dari orang tua Sungra dan Baekhyun serta omelan panjang-pendek Sungra –diakhiri dengan kebungkaman karena rasa nasi goreng yang luar biasa enak, meski tetap tidak bisa disetarakan dengan masakan eommanya sendiri.

“Sungra-ah, kau sudah mulai masuk kerja lagi?” tanya appanya saat melihat penampilan gadis itu. Sungra mengangguk, “Jatah cutiku sudah habis,jadi terpaksa harus masuk~”

“Oh, baguslah. Setidaknya kau sekarang punya kegiatan daripada hanya bermalas-malasan seperti biasanya~”

Eommaaaaaaaaa~” gadis itu merajuk sambil menggembungkan pipinya, membuat Baekhyun yang duduk di sebelahnya tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipinya. Sungra menepis tangan Baekhyun dari pipinya, merengut dan kembali memakan makanannya yang sempat tertinggalkan.

“Baekhyun-a,bagaimana kalau kau mengantarkan Sungra ke tempat kerjanya? Daripada ia naik bus seperti biasanya, dan kalau kau tidak keberatan…” kata eomma Sungra sambil membawa piring-piring kosong ke bak cucian. Baekhyun menaikkan alisnya, merasa kalau itu ide yang bagus. “Aku tidak keberatan kok eomma, hehehe. Memangnya Sungra bekerja di mana?”

“Sungra tidak pernah bercerita padamu?” appa Sungra balik bertanya dan dibalas dengan gelengan oleh Baekhyun. Pria paruh baya itu lalu menyebutkan nama yang dikenali Baekhyun sebagai sebuah perusahaan arsitektur yang cukup terkenal di Korea. Namja itu ganti menoleh ke Sungra, “Sebenarnya apa pekerjaanmu?”

“Arsitek, Baekhyun-a. Ar-si-tek. Kau tahu kata itu, kan?” gadis itu menyesap sedikit cokelat panas yang dibuat Baekhyun lalu bangkit berdiri. “Eomma, appa, aku berangkat sekarang~”

Ya! Tunggu aku!”

——

“Barangmu tidak ada yang ketinggalan?”

Ne~”

“Sabuk pengamanmu terpasang rapi?”

Ne~”

Satu lagi ‘kegunaan’ Baekhyun yang ia temukan hari ini adalah sebagai supir pribadi. Setidaknya menghemat biaya transportasi dengan bus yang biasa ia tempuh pulang-pergi, kecuali jika saat pulang ada yang memberinya tumpangan atau… ah sudahlah, lupakan yang itu, bisik gadis itu dalam hati sambil mengacak rambutnya, mendadak teringat kebiasaan diantarkan oleh orang itu, dulu.

Sungra mengetuk tepi jendela mobil berkali-kali. Pertama kali masuk kantor setelah meliburkan diri selama dua minggu lebih tak urung membuatnya sedikit gugup dan menebak-nebak apa yang kira-kira akan dikatakan orang-orang kantor, terutama mereka yang sedikit sentimen terhadap gadis itu, mengingat salah satu penyebab ia mengambil cuti sudah menjadi gosip umum di kantornya. Apa lagi yang akan mereka jadikan bahan gunjingan kali ini? Selama masih bisa ia handle sepertinya tidak apa-apa, asalkan tidak terjadi sesuatu yang memaksanya menandatangani surat pengunduran diri.

Tuk!

Gadis itu menoleh, mendapat Baekhyun yang mengetukkan telunjuk ke kepalanya. “Kau kenapa? Sepertinya tidak semangat pergi bekerja, apa ada masalah?”

“Tidak ada apa-apa…” gadis itu ganti mengambil ponselnya, mengecek folder pesan masuk. Baekhyun hanya menggelengkan kepala tidak yakin lalu kembali fokus menyetir di jalanan Seoul yang masih lengang.

“Nanti kau pulang jam berapa?”

“Mungkin tiga. Kenapa?”

“Tidak bisa lebih cepat lagi?”

“Baekhyun, aku bahkan baru masuk kerja, mana berani minta dipulangkan lebih cepat?”

Aish, baiklah~ kalau sudah waktunya istirahat makan siang beritahu aku, ara?” namja itu menghentikan mobilnya di depan kantor Sungra, cepat sekali mereka sampai. “Kita makan siang sebentar lalu kau bisa kembali bekerja. Setuju?”

“Ng…” Sungra menjawab dengan anggukan kepala lalu mulai membuka pintu mobil dan mengucapkan terima kasih sekilas ke Baekhyun.

Ya.”

“Apa lagi?”

“Masuklah ke kantor sambil tersenyum. Tunjukkan pada siapapun yang tidak menyukaimu kalau kau belum hancur, mengerti?” Baekhyun mengulurkan tangannya untuk menarik tepian bibir Sungra hingga membentuk segaris senyum aneh.

“Kau… kau tahu dari mana?” gadis itu menatap Baekhyun tidak percaya. Tidak mungkin namja ini bisa membaca pikiran orang lain, kan?

“Hanya menebak. Setidaknya ekspresimu lumayan gampang dibaca, Sungra-ya.” namja itu menarik lengan Sungra hingga gadis itu terpaksa mendekat dan, sekali lagi, mencium pipinya sekilas baru membiarkannya keluar dari mobil. “Jangan lupa makan siang nanti. Ma-kan-si-ang.” wanti Baekhyun saat Sungra sudah menutup pintu mobilnya.

Ne~”

“Awas kalau kau tidak mengabari!”

“Bukan urusanku, Byun Baekhyun-ssi. Sudahlah, aku sudah hampir terlambat!” gadis itu terburu masuk ke gedung kantornya setelah melambaikan tangan sekilas ke Baekhyun. Janji makan siang bersama… terasa seperti apa yang biasa dilakukan pasangan kekasih, sedikit mengingatkannya pada dirinya beberapa tahun yang lalu.

“Aaaaaa~ berhenti memikirkan itu!” desis gadis itu sambil menepuk-nepuk pipinya pelan begitu ia sudah berada dalam lift yang untungnya sedang kosong. Memang berhenti, tapi pikirannya kembali penuh oleh kata-kata Baekhyun sebelum ia turun tadi.

Ia terdiam, kembali teringat pemahaman yang ia dapatkan tadi malam. “Sekarang apa yang harus aku lakukaaaan~ bagaimana iniiiii~” ia mengacak rambutnya panik. Sedikit bagian dirinya ingin menganggap namja itu sebagai seseorang yang spesial, tapi…

Tapi daripada menganggap Baekhyun sebagai seseorang yang spesial, mungkin lebih menyenangkan menganggapnya sebagai seseorang yang bisa disuruh-suruh untuk sementara ini.

——

“Bagaimana hari ini?”

Gadis itu mendongak sekilas lalu kembali sibuk dengan makanannya. “Biasa saja. Kau?”

“Sama denganmu, berarti…” Baekhyun merapikan sumpit yang telah selesai ia pakai lalu kembali menatap gadis di depannya. “Kau bisa pulang lebih cepat?”

“Sayangnya, ya. Berhubung pekerjaanku untuk hari ini sudah selesai.” gumam gadis itu tanpa minat.

“Nah! Bagus!” namja itu tidak sengaja menghentakkan sumpitnya ke meja hingga beberapa orang menoleh karena terganggu. Setelah meminta maaf, ia kembali bicara dengan suara yang lebih pelan, “Aku sudah berencana akan mengajakmu pergi sebenarnya, hanya saja aku tidak tahu kalau kau harus bekerja meski akhirnya pulang lebih cepat. Dan lagi…” ia melirik jam tangannya. “Belum terlalu siang untuk berjalan-jalan, kan?”

“Memangnya kau mau mengajakku pergi ke mana?” Sungra, di sisi lain, tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa tertarik mendengar ‘rencana’ dari namja itu. Kira-kira apa lagi yang akan ia perbuat?

“Mencari gedung pernikahan dan beberapa hal yang akan kita butuhkan nanti~”

Mwo?! Jangan bercanda! Tanggalnya saja belum ada!”

“Hanya akan melihat, panda. Belum memesan~ bisa jadi sekalian memesan gaun dan tuksedo, sih.” Baekhyun mencuri sepotong udang tempura dari piring Sungra tanpa mempedulikan tatapan bengis gadis itu. “Dan aku yakin kau akan suka tempatnya, ada beberapa referensi dari teman-temanku~ bagaimana?”

Aish, sesukamu saja.” desis yeoja itu setelah menghabiskan minumannya. Namja di depannya tersenyum lebar, kembali mengambil udang tempura dengan sumpit. “Anak pintar~ kau pasti sudah tahu kalau aku akan tetap memaksamu sampai mau ikut entah bagaimana caranya, kan?”

Apa benar bertemu dengan orang ini adalah keberuntungan?

——

Sungra terdiam, memandangi gedung yang berada di depannya. Sebuah gedung bergaya romantik, tempat Baekhyun membawanya, yang ia katakan sebagai ‘rekomendasi yang harus dilihat pertama kali’. Tidak terlalu besar, terasa pas dengan gaya arsitektur gedung itu sendiri.

“Ada dua lantai, tapi aku lebih suka yang di lantai pertama, sih. Mau masuk?” Baekhyun menggamit tangan Sungra dan setengah menariknya ke dalam gedung itu. Gadis itu tidak memberontak, terlalu sibuk mengamati bentuk tempat mereka berada sekarang.

Begitu melangkah melalui pintu utama, yang pertama menyambut mereka adalah sebuah ruangan besar yang dikelilingi beberapa ruangan kecil. Bridal salon, wedding boutique dan bouquet shop, serta beberapa pintu kayu biasa yang tertutup rapat –mungkin ruang rias untuk para mempelai dan antek-anteknya. Di kedua sisi ruangan terdapat tangga dari kayu oak yang menuju lantai dua gedung ini, sementara tepat di depan mereka ada pintu kayu besar menuju wedding hall bawah. Lantai marmer dengan serat yang tidak terlalu ramai, warna cokelat gelap, menambah kesan elegan di ruangan ini.

“Ini entrance hall-nya,” jelas Baekhyun. Ia sudah akan menarik tangan Sungra menuju pintu kayu besar itu jika gadis itu tidak tiba-tiba terbahak. Baekhyun berbalik, menatap Sungra bingung. Apa yang lucu?

“Pengucapanmu! Pengucapanmu, babo!” Baekhyun menghela napas kesal lalu meletakkan telunjuknya di kening gadis itu, mendorongnya pelan, “Ne, aku tahu pengucapanku jelek, sekarang bisa diam dan biarkan aku—“

“Lukisannya bagus…”

Baekhyun berbalik kemudian menatap ke arah yang sama dengan Sungra, sedikit kaget melihat raut wajah gadis itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yeoja itu tersenyum sambil memperhatikan sebuah lukisan berukuran cukup besar yang dipajang di dekat pintu masuk hall bawah, lukisan sepasang pengantin yang terlihat bahagia. “Kau suka?” ia bertanya sambil menautkan jemarinya dengan jemari Sungra. Gadis itu hanya mengangguk, perlahan bersandar ke badan namja itu. “Ne… aku… suka~”

“Baguslah kalau kau suka~ nah, mau di sini atau melihat tempat yang lain dulu?” Sungra mengerutkan keningnya meski masih menyandarkan kepalanya ke bahu Baekhyun, lalu menggeleng. “Di sini saja, aku malas pergi-pergi lagi…” gumam gadis itu lirih.

Araseo, jadi di sini, kan? Bagaimana kalau kita memesan tempat ini dulu? Setidaknya memastikan bulannya, hehe.” Baekhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari seseorang yang bisa ditanyai hingga ia menemukan papan penunjuk bertuliskan kata ‘reservasi’. Sekali lagi ditariknya gadis itu, tidak butuh banyak energi karena kali ini Sungra jadi lebih menurut padanya. Mungkin efek lukisan barusan?

Seorang pria dengan rambut yang hampir sepenuhnya memutih menyambut mereka di kantor yang sederhana itu. Begitu Baekhyun dan Sungra telah duduk di kursi yang disediakan dan menyampaikan maksud mereka, pria itu segera mengambil sebuah buku besar bersampul kertas tebal. “Untuk bulan apa?”

“Sekitar… bulan depan, ada tanggal kosong yang bisa dipesan?” tanya namja itu, ikut melihat isi dalam buku yang diletakkan di atas meja. Kotak-kotak penuh tanggal yang hampir semuanya terisi penuh dengan tulisan, menandakan hari itu salah satu atau malah kedua hall sudah disewa. Sungra menatap isi buku itu dengan sedikit kecewa. Berarti sudah penuh?

“Ah, maaf, itu untuk bulan ini. Bulan depan…” pria itu membalik halaman bukunya satu kali, menunjukkan kotak-kotak yang sama dengan isi yang berbeda. Masih banyak tanggal kosong di sana, hanya dua atau tiga buah saja yang sudah terisi. “Yang sudah direservasi untuk bulan depan baru satu, dua, ah, tiga hari saja. Bagaimana?”

Baekhyun menelusuri tanggal-tanggal yang ada dengan jari tangannya. Semua hari di akhir minggu masih kosong. “Hari Minggu minggu kedua saja, bagaimana menurutmu?” ia ganti melayangkan pertanyaannya ke Sungra yang tergagap. “Eh? Ng, ter, terserah kau saja…”

Minggu kedua bulan depan berarti satu bulan dari sekarang, gumam gadis itu dalam hati. Terlalu cepat? Mungkin.

“Baiklah, kalau begitu tanggal itu saja. Ng… jika tiba-tiba ada perubahan bagaimana? Bisa? Ada penambahan biaya?”

“Bisa berubah selama tanggalnya masih kosong,” pria itu tersenyum. “Kalau tanggalnya dimajukan, paling lambat diberitahukan satu hari sebelum tanggal yang baru. Jika diundur maka diberitahukan paling lambat satu hari sebelum tanggal yang asli. Soal penambahan biaya… kami tidak memberlakukan itu, jadi biayanya tetap.”

“Terima kasih penjelasannya, ajusshi~” namja itu membungkuk sekilas. “Ah, ne, pelunasan biayanya bagaimana?”

Sungra sudah tidak tertarik untuk mendengarkan pembicaraan soal sewa-menyewa ini lagi. Ia mengambil beberapa buah brosur yang dipajang di meja, membaca-bacanya sedikit. Dari brosur itu ia mendapat info bahwa toko-toko yang ia lihat di luar tadi memang bagian dari gedung ini dan penyewa wedding hall bisa mendapat diskon khusus di toko-toko tersebut. Paket yang bagus, pikir gadis itu sambil kembali membalik-balik halaman brosur di tangannya.

Kamsahamnida~” Baekhyun yang sudah menyelesaikan urusannya dengan si pria tadi membungkuk sekali lagi lalu menoleh ke Sungra yang masih sibuk dengan brosurnya. “Ra? Aku sudah selesai,” bisik namja itu tepat di depan telinga Sungra, membuatnya merinding dan langsung menjauhkan kepalanya. Tidak ada yang bisa menyalahkan refleks.

Mereka keluar dari ruangan tersebut, kembali ke entrance hall yang besar lalu sedikit mengintip isi hall bawah, mendiskusikan soal dekorasinya sambil lalu. Ketika melewati deretan toko-toko dengan berbagai barang dipajang di etalase, Baekhyun menahan tangan Sungra sejenak, “Bagaimana kalau kita ke butik itu dulu sebelum pulang?” ia menunjuk ke wedding boutique dengan gaun putih gading dipajang di manekin. “Eh? Untuk apa?” gadis itu balik bertanya bingung.

“Mencari apapun yang kau mau untuk pernikahan kita, sayang~” Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, menghasilkan jitakan keras di dahi namja itu. “Aw! Appeu!”

“Berhenti bersikap seperti itu atau…”

“Atau apa? Kau akan menamparku? Silakan~” dengan kurang ajarnya, namja itu memeluk pinggang Sungra erat. “Ayo masuk~”

“Baek—“

“Sungra~ diamlah~”

Aish!” gadis itu memukul tangan Baekhyun yang ada di pinggangnya. “Lepas, atau aku teriak di sini, lalu kita tidak jadi menikah karena orang-orang di sini melarang kita untuk datang lagi.”

“Eh? Nanti kau rugi, lho.”

“Apa rugiku?”

“Ya tidak jadi menikah, padahal kau sudah bertemu orang yang memaksamu menikah begini~” namja itu menampilkan cengiran lebarnya. “Saranghae~”

Aiya, sesukamu saja.” potong Sungra sambil melangkah ke arah butik itu. Baekhyun buru-buru menyusulnya dan menggandeng tangannya lagi tepat saat mereka masuk dari pintu kaca butik itu… dan Sungra langsung terdiam.

“Ada apa lagi?” Baekhyun mengamati Sungra yang mulai memucat. Jangan bilang ia jadi fobia pada benda-benda berbau pernikahan setelah hari itu. “Aish~ kelemahanmu di benda-benda seperti ini, ya?”. Melihat gadis itu menunduk, Baekhyun kembali melanjutkan ‘pidato’nya, “Ck, kau membuat seakan-akan gaunmu bersalah. Padahal kau yang dicampakkan, kan? Ckckck, berani menghubungi mantanmu lagi? Atau masih trauma?”

“Me, memangnya untuk apa aku menghubunginya? Ada perlu apa? Kenapa kau harus memaksaku menghubunginya? Kau ingin aku kembali padanya? Kau rela?” suara Sungra terdengar agak bergetar. Baekhyun mengangkat bahunya, “Aku sih sama sekali tidak khawatir kau akan kembali padanya, tapi… mungkin kau berniat balas dendam dengan menunjukan kalau kau lebih bahagia bersamaku daripada dengannya, di altar nanti. Meski kau harusnya tahu kalau balas dendam itu tidak baik, sih…”

Tidak ada jawaban. Baekhyun kembali bicara, “Bagaimana kalau kau mengundangnya sekalian dengan temanmu yang hamil itu?”

Sungra menggelengkan kepalanya sambil memainkan kain salah satu gaun yang ada di dekatnya. “Terlalu… menyakitan, mungkin.” desis gadis itu. Namja di sebelahnya menggelengkan kepala gemas, “Dasar babo.”

“Kau… kau tidak mengerti…”

“Aku tahu kau sakit hati, tapi kalau kau begini terus, kapan kau bisa sembuh?” namja itu menyentuh bahu Sungra, hampir saja memeluknya kalau saja dia tidak ingat bahwa mereka sedang berada di tempat umum dan mungkin Sungra akan merasa tidak nyaman jika ia melakukannya. “Ck, molla…”

“Aku bantu.” Baekhyun memutar bahu Sungra pelan, memaksanya menatap wajah namja itu lagi. Ia memasang senyum lebar di wajahnya, jenis senyum yang mulai hari ini hanya akan ia tunjukkan ke gadis di depannya itu. “Agar kau tidak sakit hati seperti sekarang ini lagi, hehehe~”

“Sesukamu saja…” yeoja itu menurunkan tatapannya dari Baekhyun dan namja itu tidak meresponnya lebih jauh. Ia justru sibuk mengamati berbagai contoh buiet bunga yang terpajang di dalam butik, mencari yang kira-kira cocok untuk gadisnya nanti. “Suka yang ini?”

“Bagaimana kalau yang ini saja?” gadis itu menunjukkan keranjang bunga yang sedang ia pegang. Baekhyun mengamatinya, lalu kembali memperhatikan sampel yang lain. “Yang di sana itu lebih simpel, aku rasa lebih cocok untukmu, hmm?”

“Ng? Boleh~”

Namja itu menatap Sungra, sedikit ragu untuk menanyakan pertanyaan yang sama entah untuk keberapa kalinya. Tapi… “Ra-ya,” panggilnya hingga gadis itu menoleh. “Kau… kau yakin tidak mau pakai gaun yang itu la—”

“Ah, yang ini juga bagus~” pengalihan perhatian lagi, pikir Baekhyun, tangannya mengacak rambut Sungra sekilas. “Waeyo?” kali ini gadis itu yang bertanya sambil memegang contoh buket lain di dekapannya.

Aniyo~” tangan Baekhyun mengikuti kegiatan Sungra sebelumnya, menelusuri gaun-gaun yang terpajang di butik itu. “Kau suka yang ekornya panjang atau biasa saja? Bentuknya?”

“Biasa saja~ aku tidak mau repot nantinya, lagipula yang ekornya panjang pasti berat karena bergesekan dengan lantai,”

“Hmm… pakai yang panjang juga bagus, seperti gaun ini~” Baekhyun mengambil sebuah gaun warna gading dengan ekor cukup panjang. “Gaun ini cantik~ nanti juga kau tidak akan repot, soalnya kau tidak perlu lari-larian lagi, kan?”

“Jangan mengingatkanku.” gumam Sungra dengan nada berbahaya. Baekhyun hanya mengangkat bahu, “Ne, nene~ mm, kau mau pakai lengan panjang atau bagaimana?” kali ini namja itu berharap Sungra tidak akan memilih gaun model tube atau strapless atau gaun dengan belahan rendah… tidak, itu tidak aman bagi matanya dan ia juga tidak rela ada namjanamja lain yang melihat gadisnya memakai pakaian seperti itu. Tidak boleh. Semua itu eksklusif untuknya nanti.

“Ng… panjang?”

“Pintar!” lelaki itu segera memilih di antara gaun-gaun berlengan panjang hingga menemukan satu gaun yang ia rasa akan pas dengan Sungra. “Nah, yeppeo, sini~” katanya, membuat wajah gadis di depannya merona merah. Ia menyuruh Sungra mengepaskan gaun itu dengan badannya, dan tersenyum puas saat melihat bahwa gaun itu memang cocok untuknya, hanya ukurannya saja yang kurang pasa. Sambil sekali lagi memuji matanya dalam hati, ia mencari penjaga toko untuk menanyakan ukuran yang disediakan toko ini.

“Tertarik dengan gaun itu, tuan, nona?” seorang wanita muda dengan seragam –sepertinya si penjaga toko– menghampiri mereka berdua. Baekhyun mengangguk mewakili Sungra dan menjawab, “Ada ukuran lain untuk gaun ini?”

Wanita itu mengambil gaun yang dibawa Baekhyun dan mengamatinya sebentar. “Sepertinya ukuran yang tersisa hanya tinggal ini, tuan. Kami mohon maaf.” katanya, “Atau Anda ingin membuat gaun dengan desain anda sendiri? Kami juga melayani konsultasi desain gaun, jika anda berminat…”

“Nah, bagaimana?” Baekhyun menoleh ke arah Sungra yang sepertinya juga tertarik soal desain-mendesain gaun ini. “Um, desain sendiri, begitu? Kita yang menentukan?”

Ne~ kau mau? Mungkin bisa lebih pas dengan seleramu, ya, kan?”

“Mm… boleh~”

“Oke, sudah, sana, ikuti nuna itu, aku di sini saja, hehehe~” Baekhyun ganti mengamati deretan tuksedo yang terpajang. Sebenarnya ia ingin Sungra yang mencarikan tuksedo untuknya, tapi berhubung sepertinya gadis itu sangat tertarik dengan rencana mendesain gaun ia rasa lebih baik ia membiarkan Sungra mengurusi hal itu dulu, mungkin akan sedikit membantu memperbaiki moodnya.

“Baekhyun! Kau ikut!”

“Eh? Tidak apa-apa? Kau sendiri saja~”

“Aku bilang kau ikut!” Sungra menghampiri Baekhyun yang kebingungan di depan display tuksedo, ragu-ragu untuk menarik tangannya tapi namja itu sudah keburu melakukannya duluan. “Kenapa? Kau takut sendirian ke sana? Nuna itu kan tidak akan memakanmu~”

“Ck, aku takut kau tidak suka desain gaun yang kubuat, jadi daripada nanti kau cerewet sendiri, lebih baik aku sekalian mengajakmu saja sekarang!”

Mereka berjalan ke arah ruangan dengan pintu kayu di depannya. Wanita yang tadi mengarahkan mereka ke sini duduk di belakang sebuah meja, mencari-cari sesuatu yang ternyata beberapa lembar kertas dan pensil, lalu mempersilakan Baekhyun dan Sungra untuk duduk di depannya.

“Nah, bagaimana kalau Anda yang menggambarnya sendiri, nona?” wanita itu menyodorkan selembar kertas beserta pensilnya ke depan Sungra yang menerimanya dengan wajah penasaran. Mungkin ide sedang bertumpuk-tumpuk di kepalanya saat ini, hanya dia bingung bagaimana harus menuangkannya karena mendesain pakaian sangat di luar bidang yang ia geluti. Tentu saja mendesain pakaian berbeda dengan mendesain tata letak gedung, kan?

Gadis itu mulai menggoreskan pensil di atas kertas, menimbulkan garis-garis grafit halus di sana. Bentuk dasar dulu. “Ng… lengan panjang, lalu… ah, bagian bawahnya jangan model mermaid, biasa saja. Lalu ada ekornya, agak panjang…”

“Lima meter!”

“Eh?”

“Biar paaaaaaaaanjang~” Baekhyun kembali nyengir lebar. “Shireo! Berat!” tolak Sungra mentah-mentah. Seenaknya saja, kan yang nanti merasa kerepotan saat memakainya juga bukan dia!

“Ehehe, bercanda~ aku mau sepuluh meter saja malah, biar seperti Putri Diana, hehehe~”

“Itu tambah berat, babo! Dua saja!”

“Ck, iya~ dua meter~” malas-malasan Baekhyun menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu, mengamati gambar yang dibuat Sungra. “Belahannya jangan terlalu rendah~”

“Ng.”

“Bagaimana kalau ditambahkan sedikit hiasan lagi di pinggang?”

“Aaaaaa! Kau!” gadis itu menunjuk hidung Baekhyun dengan pensil yang ia pegang. “Bisa diam sebentar?! Aku sedang berusaha berkonsentrasi!”

Wanita muda penjaga toko –yang merasa kehilangan pekerjaannya karena pasangan di depannya lebih banyak berdebat daripada berkonsultasi– hanya menahan senyum melihat kelakuan kedua orang itu. Setidaknya cukup menghibur harinya yang terasa sedikit kosong karena tidak ada pengunjung di butik sedari pagi.

——

Sungra masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk saat ponselnya tiba-tiba berdering. Unknown number?

Tanpa pikir panjang Sungra menerima panggilan itu sambil duduk di tepi kasurnya. “Yeoboseyo?”

“Sungra-ah? Aigo~ baguslah~ ini eomma Baekhyun, nak.” Sungra ber-oh singkat sebelum membalas kata-kata calon mertuanya itu, “Ne? Ada apa, ajumma?”

“Hanya ingin mengabarkan sesuatu…” suara di seberang sana terhenti sejenak, “Baekhyun sedang sakit, ia diopname di rumah sakit sekarang, jadi mungkin besok dia tidak bisa datang dan mengantarmu kerja…”

Gadis itu tersentak kaget, “Mwo?! Eh, jwesonghamnida ajumma, maksudku… ng… sakit apa?” Apa-apaan ini?! Bukannya saat mengantarnya pulang tadi makhluk itu masih baik-baik saja? Kenapa bisa tiba-tiba sakit dengan seenaknya begitu?

“Gejala typhus. Tidak terlalu parah, tapi tadi memang badannya sempat lemas sekali. Sekarang dia sudah tidak apa-apa, hanya saja dokter belum memperbolehkannya pulang. Bagaimana? Kau ingin menjenguknya sekarang? Perlu ajumma jemput?” Sungra melirik jam di meja riasnya, masih pukul lima, belum terlalu sore untuk keluar sendirian. “Ng… tidak perlu, ajumma. Boleh aku minta alamat rumah sakit dan ruangannya saja?”

Segera setelah menerima detail soal tempat Baekhyun dirawat dan mengucapkan terima kasih, gadis itu tergesa mengganti bajunya dan turun ke lantai bawah. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia merasa harus segera sampai di tempat Baekhyun berada sekarang. Melewati eommanya yang kebingungan karena anaknya sangat terburu-buru, ia hanya sempat menjelaskan secara sekilas, “Aku ke rumah sakit sebentar, eomma. Tidak terlalu jauh dari rumah, bisa naik bus, ne, sendirian saja. Baekhyun sakit! Annyeong!”

Gadis itu tidak lagi mempedulikan tatapan heran sang ibu saat ia melesat keluar rumah menuju halte bus terdekat. Apalagi yang bisa ia pikirkan? Seharian ini perasaannya berubah-ubah dengan begitu cepat hingga ia sendiri kebingungan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa yang harus ia lakukan?

to be continued

Advertisements

4 thoughts on “[Cafe Latte] #6 | Lithe”

  1. waktu bagian baekhyun mikirin model gaun sungra, yg gaboleh ini-itu, sumpah aku ngakak, hahaha. ‘…itu eksklusif untuknya nanti…’ hahaha itu bener-bener deh.
    waeeee baek sakit kenapa? aaaaaa cliff hanger banget ini mah aduuuh. masa aku nekat mikir itu baek ama ibunya ngerjain sungra-_- #ditabok
    okedeeeh ditunggu kelanjutannya yaaa. fighting! ^-^

    1. Itu dia kelewat… gimana ya? Terlalu protektif kkkk XD posesif juga sih bagian eksklusif-eksklusif itu :3
      Sebenernya sempat kepikiran gitu sih, cuma gak tega aja bikin sungra dikerjain separah itu hahahaha XD kan gak lucu -eh, lucu sih- kalau udah panik gitu trus ternyata baeknya sehat wal afiat :3 bisa-bisa si baek habis digebukin sungra XD lagian byun ajumma biar berjiwa muda(?) tapi nggak sejail itu :B
      Neeee~ gomawoyoooo~ ^^

  2. lukisannya………… ihihi :3
    ekor gaunnya itu harusnya 5km ajaaaa~ biar sugoi gituuu ngalah-ngalahin nikahannya kerajaan inggris sono XD *plak!
    baekki sakit! yeyeyeye! *plak!
    *lanjut ngomen tempat laen *ngilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s