[Cafe Latte] #7 | Serious Symptoms

Title: Serious Symptoms
Genre: romance, friendship
Rating: PG-13
Character: …

“Lantai 5, 5.02. Lantai 5, 5.02…” gadis itu mengetukkan jari tangannya ke dinding aluminium lift, tak sabar menunggu lift itu sampai di lantai tujuannya. Sesekali ia merutuki betapa kurang cepatnya lift itu bagi orang yang sedang panik, sebagai contoh simpel, dirinya.

Ketika akhirnya lift terbuka, ia sempat terhenti sejenak. Kiri? Kanan? Tidak ada penunjuk arah di sini –harus dijadikan salah satu bahan kritik bagi manajemen rumah sakit ini– dan gadis itu tidak suka jika harus menggunakan metode gambling saat situasi sedang gawat -baginya- begini. Malas jika harus berbalik arah bila tebakannya ternyata salah mungkin lebih tepat.

“Kanan itu jalan menuju kebaikan!” desis gadis itu asal sambil mengambil langkah ke kanan. Lega karena ruang rawat inap pertama yang ia temukan bernomor 5.01 –berarti pilihannya tepat. Ruang nomor 5.02 terletak tepat di sebelah 5.01 dan Sungra sudah hampir membuka pintu itu jika saja tidak terdengar suara ramai dari dalam. Ada apa ini? Seperti bukan di rumah sakit saja kedengarannya. Lagipula, siapapun yang menjenguk itu memangnya tidak berpikir kalau mereka mengganggu pasien lain?


Sungra berusaha mengintip lewat jendela kaca kecil yang ada di bagian atas pintu, memaksanya sedikit berjinjit. Ada… satu, dua, tiga, empat, lima namja di dalam, satu yeoja, dan Baekhyun yang berbaring di atas kasur, sepertinya sedang sibuk mengobrol. Eomma Baekhyun tidak ada dan namja itu bahkan tidak terlihat sakit, tapi tidak mungkin eomma Baekhyun membohonginya, kan?

Gadis itu memutar pegangan pintu perlahan, mendorongnya masuk dan langsung terdiam saat melihat tatapan semua orang di ruangan itu tertuju padanya. Ah, dia kan orang asing di sini. Tidak ada satu orang pun yang ia kenal -namanya- kecuali Baekhyun, hanya saja Sungra bisa mengenali wajah empat namja dari mereka sebagai pelayan di cafe. Satu namja dan yeoja itu… Sungra belum pernah melihatnya, mungkin pegawai yang bekerja sebagai koki atau apa.

“Uwa! Anaenya bos Baekhyun!” seru satu namja berperawakan tinggi, sepertinya paling tinggi di antara orang-orang ini –masih terlihat bahkan saat ia sedang duduk– dengan wajah tertarik. Sontak kerusuhan pecah di ruangan itu; terdengar teriakan bernada kaget di sana-sini. Sungra berdiri dengan sikap rikuh di depan pintu yang telah tertutup, menjadi bahan pembicaraan selama lima menit di ruangan itu.

“Apa?! Anae? Baekhyun hyung tidak pernah cerita!” seorang namja berkulit sedikit gelap merepet. Sedikit berkebalikan dengan namja lain yang duduk di sebelahnya dan berkulit putih pucat, meski mereka berdua sepertinya sama cerewetnya.

Hyung curaaaaaaaaaaaaaang!” kali ini giliran namja bermata besar yang mengomentari. Nah, orang ini yang tidak pernah ia lihat. Di sebelahnya, di kursi yang berada di sebelah kasur tempat Baekhyun berbaring, ada satu namja lagi dengan penampilan kalem, hanya tersenyum sopan ke arahnya sambil berdiri dari kursi yang ia duduki, mungkin sinyal bagi gadis itu untuk duduk di sana.

“Ra~ sini~” Baekhyun melambaikan tangannya pelan ke arah yeoja itu dan mau tak mau ia menurut, berjalan menghampiri Baekhyun lalu duduk di kursi yang tadi diduduki si namja kalem. Ia membungkukkan badannya ke arah si namja kalem. “Kamsahamnida~” katanya pelan, dibalas dengan anggukan sopan.

“Nah, mereka ini semuanya pegawai, aniyo, teman-temanku di cafe~ perkenalkan dirimu sana~” namja yang sedang terbaring di kasur itu mendorong bahu Sungra pelan. Yeoja itu tergeragap gugup. Mengenalkan diri di depan orang sebanyak ini… hal itu terakhir kali ia lakukan saat masuk kerja dan sekarang rasanya sama sekali tidak lebih baik dari waktu itu. “Ng, ng, Lee Sungra imnida~” ia membungkuk ke arah semua orang di dalam ruangan ini, masih saja merasakan perasaan tidak enak di perutnya.

“Ah, tidak perlu terlalu formal begitu~” terdengar suara seorang yeoja yang sekarang berdiri di sebelah pria tinggi tadi. “Kim Raena imnida, dan… aaaaa kau lucu sekali! Boleh aku memanggilmu dongsaeng?”

Tak butuh waktu lama sampai semua orang di ruangan itu memperkenalkan diri. Namja tinggi tadi bernama Chanyeol, sudah menikah dengan yeoja yang bernama Raena tadi –gadis itu menambahkan mental note untuk mulai memanggil Raena dengan eonni karena sepertinya ia memang lebih muda dari Raena–, lalu si namja kalem bernama Joonmyun, namja bermata besar mengenalkan dirinya sebagai Kyungsoo, dan duet hitam-putih masing-masing Jongin dan Sehun. Kerja berat untuk menghapalkan semua nama itu, sepertinya.

“Baekhyun-a, dia sudah rela datang menjengukmu begini, tidak ada pelukan sambutan untuknya?” komentar Joonmyun setelah sesi perkenalan kecil-kecilan itu selesai. “A, aniyo, tidak usah, lagipula Baekhyun sedang–”

“Ng~?” Baekhyun mengulurkan tangannya hingga menyentuh pundak Sungra, memeluknya perlahan, sedikit mengorbankan posisi badannya karena harus melakukannya dalam posisi setengah terbaring di atas kasur. Sontak yeoja itu merasa salah tingkah, apalagi saat Baekhyun membisikkan kata terima kasih tepat di telinganya. Yang ia rasakan… entahlah, mungkin itu adalah perasaan yang diibaratkan orang-orang sebagai ‘ada-ribuan-kupu-kupu-beterbangan-di-perutmu-saat-itu’, dan gadis itu sama sekali tidak bisa mengontrol otot-otot wajahnya lagi. Entah bagaimana bentuk wajahnya sekarang.

“Nah! Aku rasa kita semua harus pulang, iya kan?” namja kalem itu tak sekalem yang aku pikirkan, dengus Sungra dalam hati sambil mengamati senyum lebar yang terpampang di bibir Joonmyun. Jadi maksudnya tadi dia hanya ingin melihat semacam fanservice dari kami sebelum pulang atau apa? Sialan.

Ne~ uri-bos butuh istirahat, aniyo?” tambah Chanyeol. “Benar, kalian pulang saja, ribut sekali dari tadi, tidak tahu ya kalau orang sakit butuh ketenangan?” Baekhyun berkata sambil tetap memeluk gadis di sebelahnya, tidak mempedulikan pemberontakan kecil yang dilakukan olehnya.

“Iya~ kami saaaaaaaaaaangat ribut, mianhae~” Raena berdiri sambil meletakkan keranjang buah yang sedari tadi ia letakkan di pangkuannya. “Kaja, appa~ ayo pulang~” lanjutnya, menarik lengan Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya. Pasangan yang lucu, pikir Sungra sambil tersenyum kecil, lupa soal keadaannya yang masih berada dalam pelukan Baekhyun.

“Baekhyun-ie, kami pulang~”

“Semoga cepat sembuh~” dan pintu ruang rawat Baekhyun tertutup. Sungra segera melepaskan tangan Baekhyun dan duduk dengan baik dan benar di kursinya. Sekarang saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu ia merasa lebih nyaman untuk bicara dengan Baekhyun, setidaknya kali ini ada sedikit privasi di sana. “Jadi… bagaimana?” tanyanya perlahan, mengamati infus yang menempel di punggung tangan namja itu.

“Gejala typhus. Ng… tadi sore sempat pingsan di cafe, sih, sepertinya karena aku terlalu pusing. Kalau kata dokter tadi… kecapekan dan karena aku sering asal makan saja, hehehe. Tapi selebihnya tidak apa-apa kok~”

“O, oh. Aku kira… aku kira…”

“Kau pikir aku sekarat? Kau tidak berharap aku sedang koma atau apa, kan?” Sungra menggeleng. Tentu saja ia tidak berharap begitu, hanya kali ini ia merasa bodoh karena sudah panik setengah mati seperti tadi. Padahal eomma Baekhyun sudah mengatakan kalau namja itu baik-baik saja, tapi kenapa ia tetap merasa panik? Apa karena ia berpikir ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau namja itu benar tidak apa-apa, baru dirinya bisa merasa lega? Mungkin begitu.

Aish~ padahal tadi pagi sampai siang kau masih sehat~” gadis itu mengamati wajah Baekhyun yang, jia dilihat dengan seksama dari jarak dekat, memang terlihat sedikit lebih pucat dari biasanya. Namja itu terkekeh pelan, “Kan siapa yang tahu~ nah, ayo duduk sini~” ia menepuk-nepuk area kasur di sebelahnya dan gadis itu menggeleng, tidak mau merepotkan meski Baekhyun sendiri yang meminta. “Ayolah~ di sini lebih empuk, tidak akan mengganggu juga, lihat? Masih banyak tempat, hehehe~”

Toh akhirnya gadis itu menurut dan perlahan naik ke kasur pasien yang, seperti dugaannya, tidak senyaman kasur rumah. “Sudah minum obat?”

“A, kau geser ke atas sedikit~ mendekati bantal itu~”

“Ck, kau ini~” ia kembali menuruti perintah Baekhyun meski menurutnya aneh, berusaha memaklumi kalau itu mungkin karena dia sedang sakit. Sambil membiarkan bagian kakinya dari lutut ke bawah menjuntai dari tepi kasur, ia kembali bicara, “Kau belum menjawab pertanyaanku! Aku tadi tanya, obatnya su–”

Belum sempat Sungra menyelesaikan pertanyaannya, Baekhyun keburu menyandarkan kepala di pangkuannya. “Nah, begini lebih baik~”

Gadis itu terdiam, wajahnya memerah. Tangannya sudah hampir memukul Baekhyun yang bersikap seenaknya jika saja ia tidak teringat kalau makhluk itu sedang sakit dan tindakan anarkis yang ia lakukan bisa saja berefek buruk padanya. Lagipula otot-otot badannya kembali melemas, tidak bisa ia gerakkan sama sekali karena terlalu kaget. Sikap Baekhyun lagi-lagi gagal ia prediksi.

“Obat? Sudah, makan juga sudah, kau sendiri?” suara Baekhyun memecah keheningan singkat yang sempat terjadi di sana. “Jangan asal makan, biar tidak ikut sakit sepertiku~ ara?” lanjutnya, hanya sanggup dibalas dengan anggukan oleh yeoja itu.

Aish, aku tidak suka berdiam diri begini~”

“Salahnya sakit, kenapa bisa, sih?”

Molla~ kan aku sudah bilang, tadi tiba-tiba saja aku pingsan dan dibawa ke sini~ lalu… ya begini ini jadinya…” namja itu menatap cairan infus yang menetes dari ampul ke selang yang menuju nadi di punggung tangannya. “Bosan…”

“Aku tahu kalau kau bosan, jangan mengeluh lagi.” Sungra mengusap kepala Baekhyun pelan, satu-satunya gerakan yang ia bisa lakukan sekarang, yang hati dan otaknya merestui untuk dilakukan. “Ah, makanmu tidak teratur mungkin, dasar anak sibuk.”

Aniyo~”

“Ck, sekali saja katakan iya, bisa? Jangan membantah, bisa?” gerutu gadis itu. Namja yang tidur-tiduran di pangkuannya menengadah dengan senyum kecil terpampang, “Iya~ mianhae~ aku bandel~”

Ne. Jadi… sampai kapan?”

Molla~ a, tidak ada kata-kata penyemangat atau penghibur agar aku cepat sembuh?”

Eobseo!”

“Ck, calon istri macam apa kau ini?” Baekhyun mengulurkan tangannya dan menarik kulit yang berada di sekitar pipi Sungra, memberi gadis itu salah satu cubitan kejamnya. “A! Appeu! Lepas, babo! Kau pikir cubitanmu tidak sakit?!”

Yang dimarahi –lagi-lagi– nyengir lebar. Ia duduk tenang, melepaskan kedua tangannya dari pipi gadis itu… dan sebagai gantinya, ia menempelkan bibirnya dengan kecepatan sepersekian detik di tempat tadi. Tindakan spontan… tapi bukan tangisan yang ia harapkan sebagai balasannya.

“S, Sungra? Waeyo?!” nada suara namja itu langsung berubah panik. Bagaimana ini? Memang ciumannya barusan menyakitinya? Sepertinya tidak, jadi… kenapa?

“Tidak, aku tidak apa-apa. Sudah, lupakan saja. Lupakan. Kau tidak melihat apa-apa barusan. Diamlah…” gadis itu menyusut tepian matanya dengan tangan, menghentikan banjir yang mulai terjadi di sana. “Aku hanya… aish, penyebabnya sama seperti waktu itu, Baekhyun-a~ aku… aku sendiri tidak mengerti aku kenapa, bagaimana ini?” racaunya, membuat namja itu kebingungan mencerna apa yang dikatakan Sungra. Ia hanya bisa mengusap-usap kepala gadis itu pelan, berharap itu bisa menenangkannya… sepertinya cukup berhasil.

“Aku menyakitimu? Yang kulakukan tadi… kau tidak suka?”

Tidak ada jawaban. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, satu ciuman lagi di pipi gadis itu dan Baekhyun langsung menjauhkan kepalanya sambil menatap Sungra khawatir. “Kau tidak akan menangis lagi, kan? Jangan, aku mohon jangan!”

Yeoja itu hanya menggeleng pelan, sedang berusaha menahan air matanya agar tidak tiba-tiba tumpah lagi. Ia merutuki perasaannya yang tiba-tiba saja melabil jika ada namja di sebelahnya itu, juga menyumpahi dirinya yang tidak bisa merespon dengan baik sesuai keinginannya. Sungra yang biasanya akan memukul Baekhyun jika namja itu melakukan sesuatu yang tidak ia sukai padanya dan… menurutnya, ia akan membalas jika Baekhyun ganti melakukan sesuatu yang tidak ia sukai, berhubung selama ini ia tidak pernah membalas apapun yang Baekhyun lakukan.

Tunggu, bagaimana ia bisa merespon saat ia bahkan tidak tahu perasaannya sendiri soal apa yang dilakukan Baekhyun?

Berbeda dengan Sungra yang sibuk dengan pikirannya soal reaksinya pada Baekhyun, namja itu justru tengah galau –galau antara akan mencium gadis itu atau tidak. Yah, dia serius mengatakan bahwa menciumnya sudah berubah menjadi candu, menjadi opium baginya, atau kafein, atau nikotin… intinya setidaknya harus dilakukan sekali sehari atau sistem tubuhnya tidak akan bisa bekerja optimal. Sedikit gila, ia tahu, tapi mau bagaimana lagi?

“Ng… Sungra-ah~”

“A! Eh, ne? Ada apa? Kau mau—” gadis itu terdiam. Baekhyun menangkupkan kedua telapak tangannya ke dagu gadis itu, mendekatkan kepalanya perlahan. Wajah Sungra mulai memanas –apa yang harus ia lakukan di saat seperti ini, coba? Ng… memejamkan mata? Atau bagaimana?

Toh gadis itu pada akhirnya mulai memejamkan matanya saat melihat Baekhyun melakukan hal yang sama. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri saat napas Baekhyun sedikit menerpa wajahnya, bau lemon… ah! Bukan saatnya memikirkan hal seperti itu! ia kembali merutuk dalam hati. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, ng… namja itu tidak sedang mengerjainya dengan hanya berpura-pura akan menciumnya, kan?

KLAK

Sungra refleks membuka matanya dan mendorong wajah Baekhyun yang hanya tinggal berjarak sekitar lima sentimeter saja darinya, menoleh ke pintu kamar dan hanya bisa tersenyum tidak enak saat melihat eomma Baekhyun berdiri di sana dengan senyumnya yang biasa terpampang di wajah. Senyum yang mirip dengan milik Baekhyun, hanya saja gadis itu sedang tidak punya waktu lebih untuk membandingkan kemiripan mereka. Benaknya lebih sibuk menerka apa yang sedang dipikirkan wanita paruh baya di depannya itu, apa ia dianggap lancang karena seenaknya duduk di kasur begini? Tapi kan Baekhyun yang menyuruhnya tadi, jadi sama sekali bukan salahnya! Lalu soal apa yang hampir mereka lakukan barusan… ah, bagaimana ini?

“Ah, eh, eomma?” Baekhyun, tentu saja, sama terkejutnya dengan Sungra, hanya ia masih lebih bisa menguasai dirinya dengan baik. “Ehehe, anak-anak sudah pu—”

Ne, eomma tahu~ eomma mengganggu, ya?” wanita umur mendekati akhir angka empat puluhan itu berjalan menghampiri mereka dan meletakkan kantung kertas bawaannya di atas meja konsol yang ada di sebelah kasur, mengeluarkan beberapa barang dari sana –botol-botol minuman dingin, beberapa potong roti siap makan, satu bar cokelat cashew, dan sebagainya. Mungkin baru saja membelikan pesanan makanan anaknya yang taraf kemanjaannya sedang naik beberapa tingkat karena sakit.

Aniyo! Aniyooooo~ tidak mengganggu kok ajumma~” Sungra buru-buru bergeser dan membantu eomma Baekhyun membongkar isi kantung kertas tadi. “Eomma hanya akan mengantarkan titipan Baekhyun, setelah ini… kalian bisa punya waktu berdua lagi, jadi tenang saja~”

Bukan begitu maksudkuuuuuu! teriak gadis itu dalam hati, berusaha tetap memasang senyumnya di depan eomma Baekhyun. Melihat Baekhyun yang sedang mencium pipi eommanya sambil mengucapkan terima kasih –indikasi namja itu sedang lengah– memotivasi Sungra untuk segera turun dari kasur rumah sakit sialan ini… setidaknya baginya kasur ini bisa disebut kasur sialan. Semakin sial lagi ketika Baekhyun keburu menahan tangannya, mencegahnya turun dari kasur itu. Aish.

“Dokter menitipkan satu obat lagi, jadi jangan lupa diminum, ne?” keramaian di meja konsol ditambahi dengan sebotol kecil obat. “Eomma tinggal?”

“Eh? Ajumma tidak menjaga Baekhyun?” tanya Sungra. Berusaha tidak terlihat oleh gadis itu, Baekhyun memberi kode ke ibunya agar meninggalkannya dengan Sungra saja. Bukannya ia tidak suka jika ibunya ada di sini, hanya ia memang sedang ingin memanfaatkan keadaannya agar Sungra tetap berada dalam jangkauannya. Licik memang, tapi mau bagaimana lagi?

“E, eh? Itu… ajumma ada… urusan dengan ajusshimu, ne, ada yang perlu diurus di cafe juga~ nah, Baekki, eomma tinggal, ara? Sungra-ah, ajumma titip Baekhyun, tolong pastikan dia meminum obat-obatnya~ gomawo~” dengan satu kata gomawo, eomma Baekhyun menutup pintu ruang rawat, sekali lagi meninggalkan hanya dua orang di dalamnya. Tidak apa-apa menurutnya, toh Baekhyun adalah anak yang baik –setidaknya bagi sang eomma–, lagipula apa yang bisa anak itu lakukan saat sedang sakit begitu?

“Jadi, kau ditinggal sendirian begini? Tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa sih~ a, atau kau mau menemaniku?”

“Siapa bilang?!”

“Ayolah~ nanti biar aku yang meminta ijin ke orang tuamu~”

“Beri aku alasan kenapa aku harus menemanimu sekarang.”

Namja itu meluruskan punggungnya kemudian menadahkan tangan ke depan wajah gadis itu. “Mana ponselmu? Sini, aku mintakan izin~ kau tenang saja karena pasti diperbolehkan oleh orang tuamu, hehe.”

“Justru aku tidak bisa tenang kalau begitu ceritanya.” Sungra meletakkan ponselnya di tangan Baekhyun, membiarkannya menelepon eommanya sambil berdoa semoga sang ibu tidak memperbolehkan. Ayolah, ayolah…

Yeoboseyo? Eomma~! Ini menantu eomma yang paaaaaaaling tampan, ehehe~”

Gadis itu langsung menusukkan telunjuknya ke pinggang Baekhyun, membuat namja itu ganti melotot ke arahnya masih dengan ponsel menempel di telinga. “Ne~ aku? Gejala typhus, eomma~ ng, sekarang sudah tidak apa-apa kok~ a! Aku hampir lupa! Aku ingin Sungra menemaniku di rumah sakit malam ini, boleh, kan, eomma?”

“Tapi kau belum memberiku alasan kenapa aku harus tinggal!” Sungra sengaja mengeraskan suaranya. Baekhyun mendecak pelan lalu menatap Sungra, sambungan telepon dengan eomma gadis itu masih terhubung dan ia pikir itu bisa dimanfaatkan –setidaknya untuk membuat gadis itu malu dan menyebabkan warna merah kembali menghiasi wajahnya. Well, itu ide yang bagus dan menghasilkan multi-keuntungan baginya.

“Satu, kau bisa mengawasiku seperti yang dikatakan eommaku tadi. Dua, kalau ada kau di sini, aku rasa aku akan makin cepat sembuh~ kau tidak ingin melihatku baikan, ya?” bingo! teriak Baekhyun dalam hati begitu melihat pipi Sungra memerah. “Nah, eomma~ anak ini obatku, jadi tidak apa kan kalau dia menginap di sini? Ng~ aku juga akan menjaganya~ ne? Boleh? Aaaaaaaaaaa kamsahamnida eomma~ akan aku sampaikan ke eommaku nanti~” namja itu mengakhiri panggilan telepon dan tersenyum puas ke arah Sungra. “Bagaimana? Sudah, kan?”

Gadis itu merengut dan merebut ponselnya dari tangan Baekhyun. Mencari alasan lain untuk kabur dari tempat ini, tatapannya tertuju ke pakaiannya. “Aku harus pakai baju ini saat tidur nanti?” keluhnya, merujuk ke blus yang sedang ia pakai. Tidak nyaman untuk tidur tentu saja. “Mm? Sepertinya eomma membawakan kaus banyak untukku, kau pakai saja satu~ tidak apa-apa kok, hehe. Tapi ambil sendiri, di sana.” namja itu menunjuk tas yang diletakkan di atas meja. “Jangan ambil barang yang aneh-aneh!”

“Memangnya kau bawa apa?! Dasar mesum!” gadis itu menjitak kepala Baekhyun cepat lalu turun dari kasur, mengambil sepotong t-shirt berlengan pendek –yang nantinya akan jadi hampir sesiku jika ia yang memakai– warna abu-abu gelap. Sedikit bersyukur karena Baekhyun dirawat di kamar VIP, setidaknya ada kamar mandi pribadi di sini jadi ia tidak perlu repot-repot jika harus berurusan dengan toilet dan teman-temannya.

Lima menit kemudian, baru saja gadis itu selesai mengganti bajunya, Baekhyun kembali berakting manja.

Pertama, menyuruh Sungra kembali duduk di kasur.

“Ra~ duduk di sini lagi~” katanya sambil menepuk tempat di sebelahnya, perintah yang dituruti Sungra yang sibuk dengan ponselnya sedari tadi. Sepertinya minta ijin untuk tidak masuk besok.

Kedua, tiduran di pangkuan Sungra lagi.

“Naikkan saja kakimu, lalu diluruskan. Kasihan kalau kau kesemutan karena terlalu lama duduk begitu…” dan sekali lagi dituruti dengan gampang. Oh, oh, gadis itu mungkin tak paham apa yang ada di balik perintah (semi) licik Baekhyun. Sungguh malang nasibnya…

Dan gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa saat Baekhyun sudah merebahkan kepala di pangkuannya. Terlambat untuk menolak, lagipula ia masih punya hati nurani –ia ingat kalau Baekhyun sedang tidak dalam kondisi normal, jadi beberapa tindakannya bisa sedikit dimaafkan.

Ketiga, mm… tindakan ini sedikit tidak bisa didefinisikan.

“Nah! Sekarang aku ingin bercerita denganmu~” kata Baekhyun. Sudah minum obat, sudah ini, sudah itu, rasanya tidak ada lagi alasan yang akan digunakan Sungra untuk menghindari perintahnya yang ini. “Araseo. Kau mau cerita tentang apa memangnya?”

“Ng… tentang… bagaimana kalau kehidupan setelah kita menikah nanti?”

“A! Ganti!”

“Ckckck, ne~ ada ide?” namja itu balik bertanya, tangannya mengusap kaki Sungra yang masih dibalut celana jeans panjang. Gadis itu refleks menyentakkan kepala Baekhyun dari kakinya. “Ya! Pelecehan! Menyingkir dari kakiku! Menyingkiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir!!!!”

“Aku sakit! Jangan tendang-tendang!”

“Biar saja! Kau sakit begini juga masih berbahaya! Atau jangan-jangan kau hanya pura-pura sakit?”

“Aku sakit~ betulan~ kau pikir kenapa aku merelakan badanku disuntik dan kenapa aku mau mengkonsumsi racun-racun itu?” namja itu sudah akan menyentil dahi gadis di sebelahnya jika Sungra tidak segera memasang wajah ngambeknya. “Aku bosan melihatmu merajuk begitu.”

“Kalau bosan ya sudah. Diam, bisa diam, kan?”

Baekhyun segera mengubah posisinya menjadi duduk dan bergeser menjauh dari Sungra. Akting merajuk? Ia kira hanya ia yang bisa? begitu pikirnya sembari mengerucutkan bibir, kesal. Sungra juga tetap bersikap tak acuh, hanya mengganti-ganti channel televisi yang tak ditonton sedari tadi. Pengalihan perhatian basi.

Sementara Baekhyun… sedang menatap benci ke selang infus yang melilit turun dari tiangnya. Sungguh ia membenci pemandangan rumah sakit dan isi-isinya. Ia benci selang infus yang membatasi gerak tangannya. Karena selang infus ini, dia tidak bisa memeluk Sungra seenaknya seperti yang biasa ia lakukan. Tapi bagaimana ini? Sedikit-banyak ia harus berterima kasih ke selang itu dan berbagai alat medis lain yang ada di sini karena mereka berhasil menunjukkan separah apa penyakitnya –yang tidak begitu parah– ke Sungra, sekaligus membuatnya mempunyai sumber alasan untuk bersikap manja pada Sungra. Nah, dilema lain.

“Kau menyebalkan.” namja itu menuding si selang infus seolah benda itu serupa orang. Entahlah, mungkin isi kantung-kantung infus yang telah habis berhasil meracuni otaknya. Sedangkan mendengar kalimat barusan membuat Sungra menoleh dan menatap tajam ke arah Baekhyun, menusuk. “Siapa yang kau bilang menyebalkan?”

“Jarum infus, kenapa? Kau tersinggung? Merasa? Kau juga, sih.”

Sungra tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya turun dari kasur, mengemasi barangnya yang hanya sedikit lalu bersiap beranjak dari ruangan itu. Pulang. Kalimat Baekhyun barusan sungguh menyinggung hatinya. Apa-apaan? Baru tadi makhluk itu mengemis memaksanya tinggal, sekarang mengatakan hal seperti itu dengan gampangnya? Kurang ajar, begitu pikirnya, selesai berkemas dan siap pulang.

“Kau mau kemana?”

“Pulang. Kau bilang aku menyebalkan, orang sakit kan tidak boleh dekat-dekat dengan benda yang membuat mereka sebal.”

“E-eh? Aku hanya bercanda tadi! Kau ini! Jangan pu— AW!”

Terdengar suara benda jatuh dan Sungra refleks berbalik. Baekhyun, terjatuh dari kasurnya, masih dalam usaha menahan gadis itu agar tidak pulang. Jarum infusnya terlepas dari tangan dan… gadis itu merasa ngeri seketika melihat darah mulai menetes keluar dari tempat jarum tadi menusuk.

Ya! Apa yang kau pikirkan?!” gadis itu memekik panik, berusaha menahan perasaan takutnya lalu menghampiri Baekhyun yang masih lemas, kali ini bercampur sedikit pusing karena sedikit darahnya hilang. Ia membantunya naik ke kasur dan menekan-nekan tombol untuk memanggil dokter, makin panik di tiap detik yang menghilang. Ditambah melihat wajah Baekhyun yang menahan sakit membuatnya bertambah kalut soal apa yang akan terjadi jika dokter terlambat datang. Anak ini tidak akan mati kan? Tidak, kan?

“Tuan Byun Baekhyun?” seorang pria berjas putih melongok masuk dari pintu setelah terdengar ketukan dan Sungra mempersilakannya masuk. “Infusnya lepas? Bagaimana bisa?”

Nan, naneun mollayo…” gumam Sungra, masih ketakutan setengah mati. Ia hanya bisa memperhatikan dalam diam saat si dokter membersihkan darah di telapak tangan kiri Baekhyun, mengoleskan disinfektan ke tempat itu lalu perlahan menusukkan kembali jarum infus yang sudah dibersihkan lebih dulu. Sempat terlihat kernyitan di wajah namja itu, hanya sebentar, sebelum kemudian ia terlihat jauh lebih rileks saat si dokter menempelkan plester di atas jarum infus. “Tuan Byun, infus Anda hanya bisa dilepas sesuai ketentuan dan oleh dokter atau perawat. Jangan bertindak sesuka Anda sendiri karena bisa berakibat fatal. Mengerti?”

Baekhyun hanya mampu mengangguk lemah. Ia memejamkan matanya, membiarkan sang dokter memeriksanya sedikit dan menjawab pertanyaan dengan suara pelan, berbeda dengan yang ia lakukan ke Sungra tadi. Butuh waktu yang terasa sangat lama hingga akhirnya pemeriksaan kecil itu berakhir dan si pria berjas putih ganti mengalihkan perhatiannya ke Sungra yang masih mematung di pojok ruangan. “Anda temannya?”

“Eh? N, ne~” entah kenapa, kali ini lidah Sungra terasa berat saat ia harus mengiyakan kata ‘teman’. Terbersit sedikit perasaan tidak rela di sana.

Dokter itu tersenyum sedikit kemudian kembali membuka mulut, “Kalau begitu, mohon bantuannya untuk mengingatkan Tuan Byun, ne?”

A-arasseo, uisa-seonsaengnim~” Sungra membungkuk ke si dokter, berterima kasih atas bantuannya.

Suasana kembali canggung begitu dokter tadi menutup pintu ruangan. Gadis itu belum berani mendekat, sedikit ragu karena masalah kata ‘teman’ tadi, sedangkan Baekhyun… masih memejamkan matanya, entah tidur atau tidak. Toh akhirnya namja itu membuka mulut dan berkata perlahan, “Ra…”

Ne?”

“Teman? Kenapa kau mengiyakan tadi?”

“Me, memangnya apa? Apa aku salah bicara?” gadis itu mulai khawatir. Apa jawabannya tadi menyinggung hati Baekhyun? Namja itu tidak suka, begitu?

“Tidak kok~ tidak apa-apa~”

“Masih sakit?” tanya gadis itu, mengalihkan pembicaraannya. Baekhyun hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. “Kau… tidak pulang?”

“Kau… menyuruhku pulang?”

Tidak ada jawaban. Baekhyun hanya memejamkan matanya tanpa berkata apa-apa.

“Baek… hyun?”

“Kau benar.”

“Eh?”

“Aku… bukan siapa-siapamu… harusnya aku tidak boleh protes saat kau mengiyakan masalah teman tadi~ aniyo, mungkin aku sudah termasuk beruntung karena kau anggap teman…”

Baekhyun… sedih?

Ya!”

“Apa lagi?”

“Jangan seenaknya! Tadi kau melarangku pulang, lalu sekarang menyuruhku pulang? Apa maumu sebenarnya?!” gadis itu berusaha mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu karena emosi. “Bicaramu jangan melantur begitu!”

“Orang yang seenaknya sepertiku, pemaksa sepertiku, memang tidak pantas untukmu~ terima kasih sudah mengingatkanku~ aku sadar aku terlalu memaksa selama ini, maaf, aku hanya terlalu… menginginkanmu…”

Ini pasti pengaruh obat. Pengaruh obat.

Gadis itu panik melihat Baekhyun yang makin aneh –menurutnya. Entah karena pengaruh obat atau karena ia mulai meragukan perasaannya padanya… a! Jangan sampai yang kedua! teriaknya dalam hati sambil menghampirikasur tempat namja itu berbaring. Ia berhenti sejenak, merasa tidak yakin, tapi keinginan hatinya menang dan sedetik kemudian ia sudah menemukan dirinya dalam keadaan memeluk Baekhyun yang masih menutupi wajahnya dengan bantal.

“Arti pelukanmu ini apa?”

Sungra terdiam, wajahnya mulai memerah. “Eh?”

“Hanya sebagai teman? Atau apa?”

Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun, masih dalam posisi memeluk, merasakan butiran air mata mulai meluncur dari pelupuk matanya. Semua kalimat Baekhyun membuatnya sedih. Ia benci mendengar Baekhyun bicara seperti itu, seperti ia sudah kehilangan harapan untuk mendapatkannya saja. Atau Baekhyun memang sudah menyerah?

“Kan, kau menangis lagi… sudah berapa kali aku membuatmu menangis, coba? Apa lebih banyak daripada membuatmu tertawa?” namja itu mendengus pelan. “Aku teman yang jahat, ya?”

“Kau bahkan bukan temanku. Aku tidak pernah menganggapmu teman…”

“La, lalu, aku… apa? Untukmu, aku ini siapamu?”

Ia kehabisan kesabarannya –perlahan ia menarik bantal yang menutupi wajah namja yang terbaring di kasur, menatapnya dengan tatapan apa-kau-makhluk-paling-idiot-di-muka-bumi-ini, perpaduan yang tidak keren dengan air mata yang masih mengucur deras. “Dengar, untuk apa aku buru-buru ke sini tadi, ha? Menungguimu di sini, untuk apa? Kepalamu tersumbat apa lagi kali ini?!”

Baekhyun membuka matanya, menatap Sungra yang masih terisak di sebelahnya. “Mianhae~ aku… hanya terpikir soal cara yang aku lakukan padamu akhir-akhir ini~ memaksamu ini dan itu~ aku rasa aku banyak menyakitimu, iya, kan? Tapi…” ia kembali menangkup dagu Sungra dengan dua tangannya, mencium gadis itu sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “… aku melakukannya karena aku saaaaaangat menginginkanmu, dan tidak ingin kau tiba-tiba menghilang dari hadapanku~ maaf, ne?”

Sungra mengangguk, mengusap matanya perlahan, “Setelah ini, jangan bicara yang tidak-tidak, aku tidak suka. Jangan bertindak aneh-aneh juga, kau mau apa kalau aku sudah terlanjur pulang saat kau jatuh tadi? Membiarkan dirimu seperti itu sampai kau mati kehabisan darah dan cairan?”

“Maaf, spontan~ aku ingin mengejarmu tadi~” namja itu merengkuh gadis di sebelahnya ke dalam dekapannya, menyandarkan kepala di bahu gadis itu sambil menghirup sedikit aroma lemon yang menguar dari leher gadis itu. “Gomawoyo~ jeongmal~”

Sungra membalas pelukan Baekhyun, merasakan semacam aliran listrik kecil menjalari tubuhnya, membuatnya merasa hangat termasuk perasaannya… dan tiba-tiba ia tercekat. Tidak, ini gejala yang mengerikan –ia tidak ingin kehilangan Baekhyun, tidak mau namja itu menjauhinya karena hal bodoh yang ia lakukan. Kehadiran Baekhyun memaksa hormon endorphin diproduksi lebih banyak dalam tubuhnya. Baru kali ini ia sadar kalau ia amat sangat menyukai cara Baekhyun menarik ujung bibirnya untuk merekahkan seberkas senyum, ralat, hampir semuanya, semua yang ada pada Baekhyun, ia amat sangat menyukainya sekali. Perasaannya… masih sedikit bingung, tapi ia paham sekarang. Masih sedikit gengsi untuk mengaku, tapi mau bagaimana lagi? Tak ada tempat untuk lari karena namja itu sendiri terasa bagaikan garis finish baginya. Tak ada dunia pelarian lain, karena di dunia lain itu tidak akan ada supplier oksigen tipe khusus yang akan membantunya hidup dengan normal.

Semua gejala itu menunjukkan satu hal, hanya merujuk kepada itu saja: misi Baekhyun berhasil. Ia menyembuhkan gadis itu dan sebagai gantinya membuat dirinya sendiri menjadi semacam candu bagi gadis itu. Menjadi oksigen tipe khusus. Menjadi pemicu timbulnya hormon endorphin. Menjadi orang yang paling dibutuhkan gadis itu dalam hidupnya sekarang.

Saranghae, jeongmal. Berjanji tak akan pernah meninggalkanku?”

Ne~ na do, naui panda~”

to be continued.

Advertisements

4 thoughts on “[Cafe Latte] #7 | Serious Symptoms”

  1. AAAAAAAA BAEKKIIIIIII ;______;
    sumpah ya mau nangis sambil loncat-loncat baca chapter ini. Dikira tadi Baekhyun mau ngebatalin hubungannya sama Sungra… Ya Allaaaaaaahhhh… Trus terakhirnya aku malah senyum sendiri. Kyaaah akhirnya kamu ngerti juga ama perasaanmu, Sungra-ssi hahahaha….
    Dan bagian ini >>> β€œIya~ mianhae~ aku bandel~” itu bikin ngakak. Anak kecil banget kamu yaa Baek, aigooo…
    Ditunggu yaa next chapternya… Makasi udah publish hari ini huhu. Penyemangat bgt disaat hari pertama kuliah trus ditengah tugas dari dosen kejam-_- #curhat
    Fighting ^-^

    1. nangis sambil loncat-loncat…
      alhamdulillah nggak jadi dibatalin yaaaaaaaa :”
      lama ya nyadarnya si sungra ahahahahaha *pukpuk baek* yaaa untung bisa nyadar juga, meski lama πŸ˜„
      ngng~ seenggaknya sisi unyu(?)nya muncul dikit *eh
      eh? uwaaaaaaaa *pukpuk* paiting eonniiii :3 hehehe, syukur deh kalau bisa jadi penghiburan(?) πŸ˜„
      neee~ gomawooo ^^

  2. yeeee sungra ketemu makhluk-makhluk 4D cafeee~~ *eh
    uuu jadi malu dibilang pasangan lucu :” *senggol yeol
    part ini emang part penting buat idupnya baek yaaa~ kalo nggak ditolong gitu kan bisa mati, bisa abis ni cerita, bisa ilang deh galaknya baek *eh….
    ciyeeeeeeee jadian(?) niyeeee πŸ˜„
    *jadi tomcat *ketempatlaen

    1. 4D… btw nyampe sekarang belum ada namanya tuh cafe ._.
      cieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee :3
      lagian kasian amat dia mati konyol(?) kayak gitu, gak tega saya :”
      jadian… ng… jadian nggak ya~ *eh…
      *cari pestisida

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s