[One-Shot] Not Now

Title: She Must Not
Author: leesungra
Genre: angst, romance
Rating: PG-13
Character: Byun Baekhyun, Lee Sungra (OC)

Baekhyun sungguh-sungguh merasa ia telah datang ke tempat yang salah. Amat sangat salah. Pada kenyataannya memang tidak pernah terpikir dalam pikirannya keinginan untuk mengunjungi tempat seperti ini, tempat bersarangnya para wanita penggoda yang siap ‘dibeli’ laki-laki hidung belang. Terbayang dalam benaknya bayangan sang eomma yang mengomel panjang-lebar sambil menangis jika tahu anaknya berada di tempat seperti ini, atau yang lebih menyeramkan lagi, wajah sang appa yang murka dan menyeretnya pulang dari Seoul ke Bucheon secepat-cepatnya.

Toh aku tidak melakukan apa-apa, namja itu membela diri, dan itu memang benar. Ia datang ke sini murni karena diajak oleh temannya –terkesan sedikit salah, memang—dan lagi, sudah tertanam dalam benaknya bahwa ia hanya akan melihat apa yang ada di sini tanpa melakukan transaksi atau apalah itu namanya. Buktinya ia hanya duduk di ruang tunggu depan tanpa melakukan apapun selain mengamati orang-orang yang lalu lalang –gadis-gadis yang menunggu ‘pembeli’ sambil mengobrol bergerombol dengan gelas-gelas ramping berisi cocktail di tangan, pria-pria yang silih berganti datang dan pergi, pasangan-pasangan yang berjalan dari dan menuju lorong yang sepertinya menuju kamar-kamar kecil tempat ‘transaksi’ diadakan. Jadi begini situasinya? Situasi tempat yang membuatnya penasaran?

Rasa penasarannya terusik tadi siang ketika sang teman mengajaknya selepas kelas terakhirnya selesai, “Sekaligus untuk membuktikan apa kau laki-laki normal,” kata temannya tadi sambil tersenyum mesum. Sedikit lucu karena… memangnya dengan datang ke tempat ini bisa membuktikan kejantanan seorang laki-laki? Dengan menjadi laki-laki mesum yang meniduri wanita jalang? Oh, lucu sekali. Standar macam apa itu?

Setidaknya meski ia masih tergolong polos untuk pria seumurannya, ia bisa menentukan mana yang baik dan mana yang benar. Nol pengalaman menjalin hubungan dekat dengan gadis tidak membuatnya terlalu buta soal makhluk yang berbeda gender dengannya itu. Melihat manusia-manusia berjenis kelamin perempuan di tempat ini, yang semuanya berdandan seseksi dan semenarik mungkin membuat nafsu lahiriahnya sedikit terangsang juga meski ia masih bisa menahan diri dan memasang wajah datar tiap ada perempuan yang menggodanya, entah dengan sekedar mengerlingkan mata, memasang wajah seduktif, mengedipkan mata genit maupun menyapa dengan –lagi-lagi—genit. Jual diri. Tunggu, memang itu definisi dasar pekerjaan mereka, bukan?

“Belum menemukan yang cocok, Tuan?”

Baekhyun menoleh. Ia menemukan seorang wanita yang tampak lebih dewasa dari kebanyakan perempuan di sini tapi dengan penampilan yang sama menggoda. Namja itu memaksakan senyum miringnya dan menggeleng, “Belum.”

“Begitu? Mungkin Tuan punya kriteria khusus? Kami punya banyak gadis yang pasti setidaknya salah satu dari mereka memenuhi kriteria dari Tuan. Bagaimana?”

Baekhyun diam. Maksudnya sama sekali bukan begitu, ia hanya ingin secepatnya menyelesaikan perbincangan ini. Ditanyai hal seperti itu… jujur, ia tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana.

Umm, kira-kira gadis seperti apa yang tidak ada di sini?

Namja itu berpikir sejenak, menebak apa yang harus ia katakan sebagai jawaban. Jelek? Jelek itu relatif, lagipula pasti akan aneh jika ia menjawab begitu. Di bawah umur… kelihatannya banyak. Bukan jawaban efektif. Lalu?

“Ah, apa ada yang masih… masih belum tersentuh oleh namja lain?”

“Maksud Tuan, masih ‘asli’?” wanita tadi membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya dan Baekhyun mengangguk sambil mengulas senyum, yakin tidak akan ada yang memenuhi kriterianya itu. Setelah ini ia akan bisa mengamati orang-orang di sekitarnya secara bebas lagi tanpa diganggu siapapun. Senyumnya makin lebar ketika melihat wanita itu mengerutkan keningnya dan menghabiskan waktu cukup lama untuk berpikir. Positif tidak ada, nah, setelah ini, pergilah~ pergilah~ pergi—

“Itu… ada, tentu saja ada. Biar kupanggilkan dulu, Tuan. Tolong tunggu sebentar.”

Sial, desis namja itu pelan ketika si wanita sudah berada jauh darinya. Kenapa pilihan yang dirasa paling mustahil sekalipun bisa ‘dikabulkan’? Sekarang ia menyesali keputusannya datang ke sini, menyesal karena termakan bujukan –meski tak sepenuhnya–, dan menyesal karena menanggapi wanita tadi yang sepertinya merupakan ‘koordinator’ para gadis di sini. Ia menghempaskan punggungnya ke sofa empuk yang sudah ia duduki sedari tadi, merutuki nasib sambil memikirkan cara menolak jenis mana lagi yang perlu ia pakai nanti.

“Tuan? Ini gadis yang memenuhi kriteria Anda, maaf sekali karena kami hanya memiliki satu gadis saja. dan…“

Namja itu membuka mata, tidak lagi mendengarkan celotehan wanita tadi. Tatapannya justru tertuju ke gadis yang berada di sebelah wanita itu. Saat itulah ia melihat seorang Lee Sungra untuk pertama kalinya –gadis remaja tanggung yang tampak canggung di tengah gemerlapnya wanita ‘penjual’ yang lalu-lalang di tempat ini, terlihat seperti alien di karena penampilannya yang sungguh jauh berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Wajah polos tanpa terkesan akan adanya niat menggoda para lelaki, sungguh bukan gambaran orang yang berkecimpung di dunia gelap seperti ini.

“Bagaimana, Tuan? Berminat mengambil yang ini?”

Namja itu tak sampai hati melihat raut ketakutan yang tampak saat ia bertemu mata dengan gadis itu sesaat barusan. Hal yang sama memaksanya membuka mulut lagi untuk mengiyakan. Tidak, ia tahu bahwa ia sama sekali tidak berniat meniduri gadis itu. Ada satu hal yang memaksanya melakukan hal itu… naluri untuk melindungi, mungkin.

—–

“Jadi… namamu Lee Sungra dan kau masih bersekolah, benar?”

Sungra mengangguk, menelan ludahnya gugup. Sudah lebih dari sepuluh menit mereka masuk ke salah satu ruangan kecil yang ada dan namja itu masih belum menunjukkan tanda akan mulai melakukan hal itu dengannya. Mengingat namja ini –namanya Baekhyun, seingatnya tadi—adalah ‘pembeli’ pertamanya, ia sama sekali tidak tahu tentang apa yang harus ia lakukan. Benar-benar tidak mengerti satu hal pun mengenai hal semacam ini.

Baekhyun menangkap kegelisahan di wajah Sungra sekilas. Ia menghela napas pelan lalu kembali bicara, “Tenang saja, aku tidak bermaksud menidurimu. Lagipula aku sama sekali tidak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya, tidak tertarik.”

Ekspresi wajah Sungra segera saja berubah lega, tapi kemudian ia kebingungan. Statement Baekhyun barusan jelas-jelas mengganjal. “Lalu kenapa kau mau… membeliku?”

Baekhyun terdiam. Ia sendiri masih tidak mengerti kenapa ia memutuskan ‘membeli’ gadis itu tadi, betul-betul tidak paham isi otaknya sendiri. “Kau sama sekali tidak pantas berada di sini, Sungra-ssi.” dan ia serius. Gadis itu bahkan masih lebih muda empat tahun darinya dan baginya usia Sungra masihlah di bawah umur untuk bekerja, terlebih pekerjaan semacam ini.

“Eh?”

Ne. Daripada bekerja begini, bukannya seharusnya kau belajar, atau pergi dengan teman, atau tinggal di rumah dengan aman dan nyaman bersama orang tuamu?” namja itu menghela napas. “Bukannya bermaksud lancang, hanya…”

“Aku tahu. Memang seharusnya begitu.” Sungra tersenyum getir. “Keadaan memaksaku, Baekhyun-ssi.”

Geurae? Bagaimana kau bisa berada di sini?”

Gadis itu ganti terdiam, tangannya memainkan selimut yang menutupi permukaan kasur tempatnya duduk. Sesuatu dalam lobus otaknya terbuka kembali, sesuatu yang menyimpan dengan jelas fragmen awal ia bisa berada di sini.

Eom, eomma!” Sungra memeluk erat ibunya yang terduduk lemas di sudut kamarnya. Ia tak lagi mengacuhkan suara gedoran keras di pintu flat tempatnya tinggal dengan sang eomma, karena sudah tahu siapa yang menggedor pintu itu. Orang mengerikan yang sama yang meninggalkannya dengan eommanya, yang sayang sekali adalah appanya sendiri.

“Lee Sungra! Kau mendengarku! Berhenti bersembunyi di dalam!” suara itu lagi. Sungra masih bertahan di posisinya, kali ini sambil menutupi telinga ibunya yang menangis dalam dekapannya. Ia tahu ia sama ketakutannya dengan ibunya, tapi tidak akan ada gunanya jika ia ikut menangis tanpa melakukan apa-apa.

“Kau mau apa? Pergi! Tidak ada apa-apa lagi di sini! Tidak ada uang! Tidak ada apapun yang bisa kau jual lalu kau pakai untuk bersenang-senang di bar atau apapun itu namanya! Pergi!” gadis itu balas berteriak. Ia merasakan cengkeraman tangan ibunya yang mengetat saat terdengar suara keras –seseorang menendang pintu flat mereka kencang-kencang. Yang hanya bisa ia harapkan sekarang adalah engsel rapuh pintu itu masih cukup kuat untuk menahan segala macam serangan yang bisa saja terjadi nanti.

 

Ia sungguh tak sampai hati melihat eommanya bekerja keras untuk menghidupi mereka berdua. Kerja serabutan, mulai dari menjaga toko hingga membantu di sebuah restoran kecil yang kekurangan pegawai. Seharusnya eomma tak perlu bekerja sekeras itu, begitu pikirnya setiap mendapati sang ibu tertidur pulas dengan wajah lelah, setiap pagi sebelum ia berangkat sekolah. Apa yang bisa ia lakukan? Ibunya tak pernah mengijinkan ia pergi bekerja, hanya menyuruhnya fokus ke kegiatan belajarnya. Ibunya tidak pernah menceritakan betapa lelah badannya sehabis membanting tulang seharian. Selalu menyimpan perasaannya yang merapuh karena apa yang ia lalui selama ini –diusir dari rumah, pertengkaran-pertengkaran dengan suaminya –yang juga ayah Sungra–, dikhianati, ditinggalkan hanya berdua dengan buah hatinya. Getir, karena Sungra sebenarnya sudah tahu tanpa ibunya perlu bercerita.

Segalanya terasa makin getir ketika ibunya pulang dengan wajah yang lebih lelah dari biasanya sambil bercerita bahwa restoran kecil itu tutup karena bangkrut dan toko yang biasa beliau jaga sudah punya pegawai tetap baru.

 

“Nama? Umur? Masih sekolah?”

“Lee Sungra. 16 tahun. Ne, SMA.”

“Ah, ‘bibit muda’ lagi. Lalu…” wanita dengan dandanan tebal dan baju yang terkesan dipakai untuk menarik hasrat para lelaki itu menatap gadis di depannya yang berdiri gugup. Ia mengamati gadis itu dengan tatapan menilai sebelum kemudian membuka mulut lagi, “Masih asli?”

Gadis yang mengaku bernama Lee Sungra tadi terdiam, lalu mengangguk perlahan setelah memahami kata asli dengan penekanan tadi. Batinnya tertekan melihat senyuman penuh arti di bibir wanita itu, ketakutan segera saja menghantuinya. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada pekerjaan lain yang menghasilkan uang sebanyak pekerjaan ini. Ia tidak punya pilihan lain di saat keadaan sedang gawat darurat begini.

“Baiklah. Mungkin awalnya kau terpaksa, biasakan diri saja dulu di sini.” wanita berwajah serupa wadam tadi berdiri, sekali lagi men-scan gadis itu dengan matanya yang dihias eye-shadow terang dan eyeliner tebal serta bulu mata ekstra-lentik yang begitu lebat. “Belajarlah berdandan. Tujuanmu mendapatkan uang, kan? Kau harus bisa bersaing dengan gadis-gadis lain untuk mendapatkan pelanggan, meski ada satu poin plus yang masih kau miliki… setidaknya untuk saat ini. Hanya bisa dipakai sekali, kan?”

Gadis itu hanya mengangguk sambil menggumamkan terima kasih sekilas. Kata yang ia rasa tidak seharusnya ia ucapkan di sini. Toh wanita tadi tidak benar-benar membantunya.

Ia melangkah keluar dari tempat itu, mulai merasakan kehinaan yang menyelimuti tubuhnya. Jual diri… pekerjaan yang sama sekali tidak pernah ia impikan, tentu saja. Secepat kilat ia menghapus berkas air mata yang mulai berkumpul di tepi matanya saat membayangkan apa saja yang bisa terjadi karena ‘pekerjaan’ barunya ini. Membayangkan laki-laki tak dikenal menjamah tubuhnya… tidak, ia jijik dengan dirinya sendiri bahkan sebelum ia memulai pekerjaan itu. Peran apa yang akan ia dapat nanti? Selingkuhan? Pelampiasan? Bahan taruhan? One-night-stand yang akan terlupakan?

Seandainya saja ia dan keluarganya tidak dalam keadaan terpaksa, sudah pasti ia tidak akan datang sendiri ke sini. Sekilas ia teringat bayangan eommanya yang menunggu di rumah –apa yang akan ia katakan jika tahu anaknya bekerja sebagai pelacur?

“Jadi… kau…” Baekhyun tidak bisa melanjutkan kata-katanya melihat gadis di depannya yang masih menunduk sambil sesekali mengusap mata, mungkin menghapus jejak air mata yang muncul di sana. Ia merogoh sakunya, mencari dompet yang seharusnya bersarang di sana.“Ini. Terimalah.” ujar namja itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang puluhan ribu won ke telapak tangan Sungra, membuat gadis itu terkejut. “U, untuk apa? Kita bahkan tidak…”

Aniyo. Tidak usah. Anggap saja… ucapan terima kasih karena kau mau kuajak mengobrol, hehe.” Baekhyun berusaha menyembunyikan raut ibanya ketika tersenyum ke Sungra. Sedikit tidak rela melihat anak itu terjerumus dalam dunia seperti ini, mengerikan.

“Tapi aku tidak bisa—“

“Sudahlah, ambil saja. Gunakan untuk membayar keperluan-keperluanmu.”

“Aku bukan pengemis!”

“Aku bilang, ambil. Jebal. Aku tahu kau membutuhkannya.” namja itu menggeleng kesal ketika Sungra sudah akan membantah lagi, “Aku tidak iba padamu. Ayolah!”

Dan ia tersenyum kecil saat melihat Sungra akhirnya menyimpan uang itu di saku celana jeansnya. Gadis remaja tanggung itu menengadah, tatapan matanya lagi-lagi bertemu dengan mata Baekhyun. “Kamsahamnida.” gumam gadis itu pelan sambil membungkuk dalam yang dibalas Baekhyun dengan gelengan kepala. Masih merasakan sensasi aneh karena bertatapan dengan gadis itu tadi. Ada sesuatu yang menarik… entahlah. Ia sendiri tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya.

Malam itu adalah awal kejadian lain yang sungguh berada di luar nalar Baekhyun. Ia tak tahu setan apa yang menariknya ke wanita yang tadi menawarkan Sungra padanya, meminta pada wanita itu agar jangan sampai Sungra ‘dijual’ ke pria lain selain dirinya yang hanya ditanggapi dengan senyum penuh arti dari wanita itu saat menyebutkan sejumlah angka tambahan yang perlu dibayarkan setiap ia ‘membeli’ Sungra nantinya, sebagai kompensasi, begitu katanya.

Bahkan namja itu tak butuh berpikir dua kali sebelum mengucapkan kata ‘setuju’. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah bagaimana agar Sungra bisa tetap hidup dengan aman dan damai. Ada dorongan yang tidak ia mengerti yang memaksanya agar melindungi gadis itu, entah bagaimana caranya. Ia tak rela Sungra disentuh oleh laki-laki lain. Sama sekali tidak boleh.

—–

Sudah seminggu… ani. Lebih dari seminggu Baekhyun tak bertemu Sungra di tempat biasa. Sudah menjadi rutinitas baginya untuk mengunjungi Sungra setidaknya dua kali seminggu, juga kebiasaan menyisihkan sedikit uang untuk membantu gadis itu yang masih sering menatapnya tak setuju tiap ia memberikan bayaran. Setidaknya, sekarang setelah rutinitas itu telah berjalan hampir sebulan, gadis itu tak pernah bertanya lagi soal mengapa Baekhyun tidak melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh para pria yang datang ke tempat itu. Sebaliknya, ia justru lebih terbuka dan mulai bercerita lebih banyak ke Baekhyun tanpa ada sorot ketakutan di matanya lagi, meski masih dengan wajah datar yang sama, tanpa senyum maupun tawa. Gadis itu tetap aman berkat perjanjiannya dengan pemilik tempat pelacuran ini, setidaknya Baekhyun bisa sedikit bernapas lega tiap menanyakan keadaannya. Baekhyun sendiri mulai menemukan alasan kenapa ia begitu ingin melindungi Sungra… yah, mungkin ia memang sudah tertarik dengan gadis itu sejak pertama kali bertemu dengannya.

Seminggu tak mendapat hasil setelah setiap hari berkunjung ke red light district itu dan Baekhyun makin cemas memikirkan apa kira-kira yang terjadi dengan Sungra. Di mana ia sekarang? Batang hidungnya tak tampak di tempat kerjanya. Tidak ada yang mengetahui di mana ia berada. Namja itu merasa bodoh seketika karena selama ini tidak pernah menanyakan asal-usul gadis itu pada orangnya langsung. Ralat, pernah, tapi kelihatannya Sungra tak terlalu nyaman saat bercerita jadi dia tak ingin memaksa lebih lanjut, meski sebenarnya bisa jika ia mau. Sekarang saat ia tak bisa menemukan gadis itu –dan sama sekali tidak tahu tempat lain yang bisa dituju untuk mencarinya—barulah ia menyesal. Tapi… mau bagaimana lagi?

Tunggu. Mungkin ada orang yang lebih mengenalnya di sini, mungkin.

“Oh, Lee Sungra, benar?” wanita itu menatap Baekhyun dengan tatapan seduktif yang tak diacuhkan oleh namja itu. “Ya, dia. Tidak ada?” Baekhyun balik bertanya tak sabar, tidak suka ada yang mempersulit langkahnya.

“Si anak bawang. Dia gadis yang manis sebenarnya, hanya… mungkin sedikit tidak cocok di sini. Aku lumayan menyukainya~” gadis yang ditanyai Baekhyun tadi tersenyum sedikit sebelum kemudian kembali bicara, “Yah, sudah seminggu ini dia tidak masuk kerja. Aku dengar kau sudah ‘memesan’nya agar tidak ‘dipakai’ orang lain, hmm?” wanita dengan kisaran umur dua puluhan itu memainkan rambutnya sembari memasang wajah menggoda untuk meluluhkan namja di depannya. “Bisa jadi dia kabur. Sudahlah, anak seperti itu apa istimewanya, sih? Bagaimana kalau…” ia mengusap dagu Baekhyun dengan jarinya yang berkuku panjang warna pink elektrik. “…denganku saja?”

Baekhyun hanya menatap wanita di depannya dengan tatapan datar sambil menepis tangan yang tiba-tiba saja merayapi kulit wajahnya, sedikit ekspresi tak suka muncul di mukanya. “Tidak, terima kasih. Boleh aku lihat data-datanya? Alamat, nomor telepon, atau apapun itu?”

Gadis yang menggodanya tadi mendengus pelan. “Ne, tanyakan saja ke urieomma. Harusnya dia yang memegang datanya.”

——

Baekhyun menghentikan langkahnya di depan pintu yang sudah babak belur. Kelihatan tua, rapuh, dan bisa jatuh dengan hanya didorong sedikit saja. Ada bekas-bekas tapak kaki di pintu itu dan papan kayu kecil yang harusnya ada di sebelah pintu –menunjukkan nomor—sudah hilang entah kemana. Tapi ia yakin ini tujuan yang ia cari, berdasar apa yang ia dapat di tempat kerja gadis itu. Harusnya Sungra ada di dalam…

Kalau tidak, dia tidak tahu harus mencarinya ke mana lagi.

Ia mengetuk pintu itu pelan dan menunggu. Tiga menit berselang dan tak ada respon, jadi namja itu mencobanya lagi. Terus begitu hingga kali kelima ia mengetuk pintu dan sampailah ia pada kesimpulan –mungkin sedang tidak di rumah.

Tapi kalau begitu di mana dia? Ck, kenapa gadis itu tidak punya ponsel yang bisa dihubungi setiap saat?

Meski tahu tindakannya tak sopan, Baekhyun tetap menempelkan telinganya ke daun pintu kayu itu, berusaha menguping suara di dalam. Siapa tahu sebenarnya ada orang di dalam, hanya dia tak mendengar. Tetap saja sepi. Sunyi, seolah tak ada yang hidup di situ. Baekhyun mendesah berat, apa yang harus ia lakukan sekarang? Baru saja

Seorang pria paruh baya –yang sepertinya adalah salah satu penghuni unit lain flat kecil ini—menghampiri Baekhyun, sepertinya karena melihat namja itu terlihat kebingungan. “Permisi, kau mencari siapa, nak?”

Namja itu menoleh terkejut. “A, ah, ajusshi, apa… ada gadis bernama Lee Sungra yang tinggal di… sini?” ragu-ragu ia menunjuk pintu yang masih berdiri diam di tempatnya. Pria tadi tampak mengerutkan keningnya, berusaha mengingat, kemudian ia mengangguk pelan. “Ne, gadis baik itu~ dia tinggal dengan ibunya di sini. Apa dia yang kau cari?”

Baekhyun merasa semangatnya kembali dan ia mengangguk cepat, “Ya, ajusshi! Ah, apa dia sedang keluar? Atau sedang tidak ada orang di sini?” tanyanya lagi, seperti menemukan sedikit harapan untuk bisa kembali menemui Sungra yang eksistensinya sempat menghilang. Ajusshi itu menggeleng, “Setahuku mereka sedang di rumah, aku ingat sekali sekitar satu jam yang lalu gadis itu menyapaku saat sedang berjalan pulang di koridor ini. Tapi…”

“Tapi apa, ajusshi?” namja itu tak peduli jika tindakannya terkesan tidak sopan. Ia sedang panik sekarang. Seharusnya itu dimaafkan.

“Tadi, ada pria yang datang ke sini, setahuku dia appa gadis itu, dan aku sempat mendengar suara teriakan dari arah kamar ini. Tidak bisa kupastikan karena saat itu aku sedang sibuk dan tidak bisa mengecek secara langsung, tapi sepertinya orang itu bertengkar dengan eomma gadis itu,” ajusshi itu kembali berusaha mengingat, “Setelah itu, ada suara teriakan lain, banyak teriakan, hingga akhirnya bantingan pintu. Istriku mengabari kalau pria itu pergi sekitar lima menit yang lalu, ia melihatnya, dan aku langsung menuju ke sini. Melihatmu yang sedang berdiri di depan pintu ini, aku kira tujuan kita sama.”

“Lalu kenapa ajusshi tidak— eh, maksudku, kenapa ajusshi datang ke sini?”

“Aku pengelola bangunan ini, nak. Hanya ingin memastikan keadaan mereka. Aku sedikit khawatir setelah apa yang terjadi tadi, ditambah mereka tidak juga keluar dari flat atau apa.” pria itu merogoh kantung rompi tuanya, mengeluarkan beberapa buah kunci kuningan yang sudah sedikit berkarat. “Kau tidak berniat akan mendobrak masuk kan tadi?”

Baekhyun menggeleng sambil menahan senyum. Bohong, karena tadi dia memang hampir melakukannya akibat efek panik yang ia rasakan. Maka ia hanya diam sambil memperhatikan pria tadi membuka pintu flat itu perlahan lalu melangkah masuk. Pria itu lebih berwenang untuk mengecek lebih dulu, bukan?

“Permisi, ada orang di— oh, ya Tuhan!”

Baekhyun terburu menyusul ajusshi itu masuk ketika terdengar teriakan kagetnya. Nafasnya tercekat tiba-tiba ketika menemukan dua perempuan terkulai di lantai ruangan yang kacau balau, segala macam perabotan di ruangan itu berantakan. Dan dua perempuan itu… mereka terlihat seperti baru saja dihajar oleh seseorang dengan kekuatan tinggi. Jika ia tak salah lihat, ia bisa melihat jejak darah di dekat salah satu orang, bukan Sungra. Darah siapa?

Namja itu merasakan tungkainya mulai melemas, tapi ia berusaha menguatkan diri. Sambil menghubungi nomor gawat darurat dengan ponselnya ia menghampiri Sungra yang berada dalam posisi telentang, tangan kirinya memegangi siku kanannya yang gemetaran. Selesai menyebutkan tempat kejadian perkara dan beberapa keterangan lainnya, Baekhyun berjongkok di sebelah gadis itu, sedikit bersyukur karena Sungra masih sadar. Tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadis itu, membuatnya membuka mata dan menatap Baekhyun nanar. “Eommaeomma… di mana?” tanya gadis itu pelan, lemas. Matanya sayu, memar-memar di wajahnya membuat Baekhyun merasa geram sekaligus sedih. “Di sebelahmu, di sana, tenanglah… sebentar lagi bantuan datang, jangan terlalu banyak bergerak…” gumam Baekhyun sambil memeriksa luka-luka yang tampak di badan Sungra sementara ajusshi pengelola apartemen tadi memeriksa satu orang lagi yang berada di sebelah gadis itu, pasti eomma yang dimaksud olehnya.

“Baekhyun-ssi… kau… kenapa tahu… aku… di sini?”

“Seseorang dari tempat kerjamu memberi tahuku. Sudahlah, kau harus diam. Jebal. Ne?” Baekhyun sama sekali buta soal menangani luka. Yang ia tahu hanya orang yang terluka tidak boleh banyak bergerak. Gadis itu mengangguk pelan, mengernyit saat merasakan nyeri di lengannya. “Appeu…”

“Aku tahu~ kumohon, diam sebentar, ara?”

Tidak ada jawaban lagi. Mata gadis itu telah terpejam, kesadarannya hilang. Baekhyun terhenyak, refleks memeluk gadis itu meski dalam posisi yang tak nyaman. “Sungra? Sungra! Sungra-ya! Kau mendengarku?!” teriaknya panik sambil mengguncang badan gadis itu pelan. Tidak, Sungra-nya tidak boleh mati. Tidak. Belum. Tidak sekarang, tidak besok, dan tidak seterusnya. Tidak sebelum gadis itu tahu bahwa seorang Byun Baekhyun tak bisa berpikir jernih karena dirinya. Tidak sebelum Baekhyun bisa memilikinya, sebelum ia bisa memancing tawa keluar dari bibir yang baru saja ia cium. Dingin. Namja itu makin ketakutan. Kenapa petugas paramedis lama sekali datangnya?!

“Beri jalan!”

Baekhyun tersadar. Ajusshi pengelola apartemen telah menariknya keluar dari ruangan sementara beberapa orang berseragam terburu masuk ke dalam, membawa tandu dan berbagai peralatan lainnya. Ia hanya diam saat melihat kedua perempuan tadi ditandu dengan sigap oleh para petugas, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Mereka akan baik-baik saja, bisik namja itu pada dirinya sendiri. Bahkan ia tak lagi bisa berbohong.

“Anda keluarganya?” tanya salah satu petugas yang baru saja keluar dari ruangan. “Ne, ani—ah, iya.” jawab Baekhyun lemas. Ia mengikuti petugas itu turun lewat tangga menuju ambulans yang meraung sirenenya di luar sambil menjawab beberapa pertanyaan secara singkat, tidak mengacuhkan kerumunan penghuni lain yang sedang ditenangkan oleh si ajusshi pengelola gedung. Petugas tadi tiba-tiba mengulurkan sebungkus kecil tisu padanya dan ia baru sadar bahwa pipinya basah –ia menangis. Deras.

Betapa takutnya ia kehilangan sosok gadis itu dari hidupnya.

——

“Maaf, salah satu dari mereka sudah tidak terselamatkan lagi.”

Baekhyun mengangguk lemas mendengar kata-kata seorang pria berjas putih yang baru saja keluar dari ruangan ICU. Ia kembali mengangguk saat mendengarkan deskripsi si dokter soal apa yang telah terjadi di dalam ruangan ICU itu, tadi.

“Luka tusuknya terlalu dalam, darah yang hilang terlalu banyak dan kami tidak bisa menolongnya. Sedangkan yang satunya lagi… sedang kritis, ada cukup banyak bekas pukulan di tubuhnya dan sedikit kulit yang sobek di lengan, tapi seharusnya ia akan baik-baik saja dalam pengawasan kami.”

Ne, kamsahamnida, uisa-seonsaengnim.” gumam Baekhyun sambil membungkuk bersama-sama ajusshi pengelola apartemen saat si dokter telah melangkah pergi, kemudian kembali duduk sambil terdiam. Selama menunggu dan di perjalanan tadi, si ajusshi telah menceritakan apa yang ia ketahui soal kejadian itu dengan lengkap sebanyak yang ia ketahui. Appa Sungra yang telah meninggalkan keluarga itu memang sering datang dan membuat keributan. Ia sering meminta secara paksa uang dan harta yang ada di rumah itu hingga habis, dan Baekhyun dengan segera memahami itulah salah satu alasan gadis itu memilih bekerja dengan menjual diri. Penghasilannya tinggi, memang, meski beresiko yang sama tingginya.

Tidak ada yang bisa menolong keluarga itu. Tidak ada yang berani melawan pria itu sementara eomma Sungra selalu melarang siapapun yang tahu dan mendengar untuk melawan maupun mengadukan ke polisi. Ia tidak ingin menambah masalah yang terjadi di sana… “…meski kami sama sekali tidak menganggapnya sebagai masalah, maksudku, untuk membantu keluarganya…” terngiang suara pria paruh baya itu saat ia menjelaskan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sekarang namja itu menoleh, berniat meminta pria itu bercerita lebih lanjut, tapi tempat di sebelahnya telah kosong.  Mungkin si ajusshi sedang mengurusi masalah administrasi.

Baekhyun menghela napas ketika teringat perkataan dokter tadi yang mengabarkan bahwa eomma Sungra sudah tak tertolong lagi. Tidak lebih baik, Sungra-nya kritis. Meski hidup, yang namanya kritis tetap saja kritis. Antara hidup dan mati. Kondisi yang sungguh tidak stabil. Tentu saja Baekhyun tak rela Sungra mati. Tapi, jika ia hidup, pada siapa ia akan kembali? Ia bisa dibilang sudah tak punya keluarga. Teman? Baekhyun sama sekali tidak tahu apakah Sungra punya teman atau tidak. Pendeknya, ia sudah tak punya tempat bernaung lagi di dunia ini.

Tapi dia masih memilikiku! teriak Baekhyun dalam hati, merasa semua ini tidak adil. Satu kali ia menyukai seseorang dan masalahnya serumit ini? Tidak adil. Sungguh tidak adil. Kalau begitu, kenapa kau membuatku menyukainya, Tuhan? Kau tidak akan sekejam itu padaku, kan?

Ia menundukkan kepalanya sambil menggenggam kedua tangannya erat. Sungra-nya akan selamat. Ia memohon dengan sepenuh hati pada Tuhan agar gadis itu selamat, tidak kurang satu apapun. Gadis itu harus selamat. Setelah ini ia akan mengusahakan segalanya agar gadis itu bisa tetap hidup dengan baik. Mengajaknya tinggal dengannya, membiayai segala macam kebutuhannya, bekerja untuknya, menyayanginya, mengenalkannya dengan kedua orang tuanya, semuanya. Segalanya akan ia lakukan demi gadis itu asalkan ia selamat. Mungkin ia sudah gila karena berani melakukan hal semacam itu pada orang yang baru saja ia sukai dan masih tergolong orang asing baginya, ia sendiri juga tidak mengerti kenapa ia bisa senekat ini. Hanya mengikuti nalurinya yang selama ini ia yakini pasti benar.

Kukunya menghujam permukaan telapak tangannya keras.

Sungra tidak boleh mati.

end.

Advertisements

14 thoughts on “[One-Shot] Not Now”

  1. Baekkiiiiii ;_; huhu gentle banget kamu naak… Sumpah jadi ngerasain apa yg Baek rasain pas dia kebingungan Sungra ama eomma-nya pingsan gitu dirumah hhh… Dpt banget feel-nyaaa huhuhu… Sedih, sedih.. Pokoknya nanti Sungra-nya sama Baek kan? Kasian Sungranya udah gapunya siapa-siapa lagi
    Hiks. Sedih ;_;
    Buat lagi yaaaa…#eh Fighting!^-^

    1. uaaaaaa jadi ikut sediiih :” gomawoooo :””
      iya, harusnya, kalau dia mau *eh* iya nih~ dia mau sama siapa lagi ntar? kalau sungranya nggak mau paling nanti baek bakal nyeret dia pulang, hehe *eh
      *ngangguk* tumbenan sih bikin angst saya, ehehe ._.
      buat gak yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah 😄 neee~ gomawooo ^^

  2. Aaaaaaaaa ff ini………. ;;~;;
    Langsung speechless……..cast nya sungra sama baekhyun……
    Seungraaa…. Tragis sekali hidupmu ;~;
    Baekki ! Kamu harus tanggung jawab! Lindungi sungra!!!
    Yaampun….. Udah disiksa, terpaksa jual diri, eomma dibunuh…… Hhhhhh sungraa ;~;
    Appanya jahat banget! Aaaa rasanya pingin ngelaporin ke penjara!!! Aish ;~:
    Ayo lanjutannya ditunggu! Jangan bikit angst lagi! Bikin happy ending aja :”3
    Harus happy ending!!! *maksa mwehehehe ‘-‘)v

    1. *sodorin tisu* aigoooo jangan banjir di sini dong :”
      Ng… nah, itu, kalau baeknya pasti bakal ngelindungin -dengan senang hati- kok~ gatau sungranya nanti gimana, hehehe :3 *eh
      Lanjutan? Ng… ng… insyaAllah kalau sempat nanti dibuat hehe ^^

      gomawoyooooooo~~~~ ^^

  3. sungra nakaaal~~ kerjanya kok giniiiii *eh
    sabar ya sungraaa~ ada baek koook~ :”
    ini kayaknya agak kecepetan deh saeng, agak…kurang kerasa angst-nya gitu :s *plak!
    tapi yang jelas, ending gantung itu emang nyebelin, jadi saeng harus tanggung jawab loh ya *todong pake tao(?)

  4. Sungra eonnieeee~~` mian udh gak mainmain lama nihhh >< sibuuuukkk gillaaa *anjayyy*
    btw INI FF KOK NGENES AJA SIH EON?! TANGGUNG JAWAB! BELIIN TISU! Tisu di rumah abis :~; *gubraaakk*

    *gak tau mau ngomong apa lagi* *speechless* *thumbs up*

    1. huaaaaaaaaaaaaaaa~~~ *pukpuk
      iya? ngenes banget? *muka inosen *ekstra-inosen*
      uuuu yang sabar yaaaaaaaaaaaaaa 😄 *kasih tisu setruk(?)

      ehehe, gomawooo ^^

  5. ga sedep amat nih kerjanya si Sungra. yah, mau gimana sih ya, namanya juga dipaksa keadaan. untung ada Baekhyun. gimana kalau ada om-om mesum yang tertarik ama Sungra.. /merinding/ serem ah (/.\)

    ah, Baekhyun… kamu baik banget sih. salut ;-; dan itu si Sungra nasibnya miris bgt. jadi iba. somehow aku bisa ngerasain jadi Sungra disini…

    ini bagus lho, bahasanya juga rapi, pemilihan kata katanya juga bagus. sukaaaa <333

  6. Alurnya cess jelas ra(?)
    oke ini fanfict uda pernah publish di wp belum sih? maaf kaya pernah baca ya? tapi euhm sudahlah lupa
    ini sungranya gimana? jadi hidupkan? kasihan baekhyun uda terlanjur cinta ama itu anak
    tumben baekhyun laki di ff, biasanya yang domain laki itu pasangannya, si chanyeol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s