[Cafe Latte] #8 | Sudden Changes

Title: Sudden Changes
Genre: romance, fluff, angst
Rating: PG-13
Character: same… ah wait, I added one more namja chara and I am not planning to give him a name nor attach a person to him so… let it be that way, ara?

Masih ada satu minggu menjelang pernikahannya dan Sungra masih menanggapi segala hal di sekelilingnya dengan santai. Memangnya apa yang perlu diributkan? Tidak ada, menurutnya. Baekhyun sudah sembuh total —namja itu bilang confession mendadak Sungra menjadi salah satu faktor utama ia cepat sembuh–, ia sendiri juga sedang dalam kondisi sehat. Segala macam persiapan yang dibutuhkan sudah bisa dibilang sembilan puluh persen siap. Gedung sudah dipesan, undangan masih dalam proses penyetujuan desain –tapi dia tahu kalau hal seperti itu bisa selesai dalam waktu cepat–, gaun dan tuksedo serta pakaian untuk pengiring dan sebagainya juga sudah hampir jadi, apa lagi yang kurang? Ia rasa tidak ada. Setidaknya sekarang ia bisa menunggu dengan tenang hingga hari besarnya tiba, dan kenyataannya ia benar-benar tenang, sama sekali tidak merasa gugup atau apa, entah kenapa. Gadis itu sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan otaknya yang -sepertinya- makin hari makin tidak benar kerjanya. Entahlah. Sudahlah.

Hari ini ia memutuskan akan bersantai di rumah saja. Tidak ada rapat, tidak ada pekerjaan yang perlu dilaporkan hasilnya ke kantor –oh, betapa bahagianya ia bekerja di kantor dengan sistem sesantai itu!–, tidak ada hal apapun yang sekiranya akan merusak acara santai-santai pagi ini. Bahkan Baekhyun sama sekali tidak mengganggunya, hanya beberapa pesan singkat tadi pagi –ucapan selamat pagi, lalu menanyakan akan ke mana Sungra hari ini, lalu mengabarkan bahwa ia sudah akan berangkat kerja, dan sebagainya–, sedikit berbeda dengan Baekhyun yang biasanya akan merecokinya terus-menerus. Mungkin dia sedang sibuk, begitu pikir Sungra saat menyadari kejanggalan pada pesan-pesan Baekhyun pagi ini.

Apapun itu, lebih baik sekarang ia menghabiskan waktunya dengan melakukan apapun yang ia inginkan, bukan?

Setelah memastikan semua pintu rumah tertutup dan terkunci rapat –berhubung kedua orang tuanya juga sudah berangkat kerja–, gadis itu mengenyakkan tubuh di sofa, tangannya memeluk satu toples plastik hijau silinder berisi keripik kentang asin, rasa kesukaannya. Sambil menekan-nekan tombol remote televisi secara asal, ia mulai memamah-biak lapisan tipis keripik di dalam toples satu demi satu. Bukan sepenuhnya the art of doing nothing, tapi toh gadis itu sudah cukup puas dengan apa yang ia lakukan sekarang.

Suara bel pintu segera saja mengganggu ketenangan yeoja itu. Sedikit bersungut-sungut ia bangkit berdiri, menghampiri pintu depan yang terkunci rapat. “Nuguseyo?” tanyanya sebelum membuka pintu. Tidak ada jawaban dan ia sedang malas mengintip lewat jendela, lagipula paling-paling ini Baekhyun yang berniat menggangguku seperti biasa, pikir gadis itu, sudah berpikiran akan memarahi lelaki itu jika benar dia yang mengganggu acaranya.

Sungra terdiam begitu daun pintu terbuka, menampakkan siapa yang berada di depan pintu. Otaknya segera saja memerintahkan untuk menutup pintu, membantingnya keras-keras jika perlu, tapi tangannya beku. Neuron motoriknya tidak bisa bekerja dengan baik sementara darah mulai mengalir menjauhi wajahnya yang memucat. Ketika ia mulai bisa menguasai diri dan melangkah mundur satu langkah, orang itu segera saja menahan gerakannya.

Annyeong. Kau… belum berubah.” namja itu tersenyum sambil menahan pintu dengan sebelah tangannya. Gadis itu hanya menunduk, menghindari bertatapan dengan namja di depannya. Ia tidak mampu menatapnya lagi, tidak setelah apa yang terjadi di hari itu.

“Aku lihat kau tidak sedang sibuk, mm… bagaimana kalau kita pergi? Makan siang?”

“A, aku… aku tidak bisa.” Sungra mendorong daun pintu pelan, tapi tetap saja tenaganya kalah dengan namja itu. Bagaimana ini? Yang bisa ia harapkan hanya secara magis Baekhyun tiba-tiba muncul di sebelahnya, membantunya melindungi diri dari orang yang berdiri di sepan pintu itu. Oh, ayolah, kenapa di saat yang dibutuhkan seperti ini keberadaan Baekhyun justru jauh darinya?!

Sementara namja itu tampak berpikir, kemudian menghela napas dan membuka mulut, menambahkan penawarannya. “Makan siang satu kali denganku dan setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi. Bagaimana?”

——

“Jadi, bagaimana sekarang?”

Gadis itu mengalihkan tatapannya dari piring berisi spaghetti carbonara yang sedang ia makan, wajahnya menyiratkan gurat tak berminat. “Ne? Apanya yang bagaimana?”

“Ng… kau…”

“Aku? Sehat. Masih hidup dengan baik. Memangnya apa yang kau harapkan?”

Namja itu terdiam sejenak lalu menggeleng. “Aniyo. Baguslah. Mm… soal itu…”

Sungra hanya diam, memainkan lembaran spaghetti yang hanya tersisa setengah dari porsi awal. Menatap beef bacon di piring seberang yang kelihatannya enak. Jika ia sedang bersama Baekhyun pasti ia sudah mencomot lembaran daging asap itu dari tadi, kemudian mulai adu mulut seperti biasanya. Ck, kenapa harus namja itu yang bersama dengannya sekarang?

Namja itu menangkap tatapan Sungra ke lembaran beef bacon di piringnya dan segera saja memindahkannya ke tepi piring gadis di depannya. “Jangan menolak, aku tahu kau menginginkannya.” katanya, menahan senyum begitu melihat Sungra akan menolak. Gadis itu menghela napas panjang lalu menganggukkan kepalanya sekilas, menggumamkan terima kasih sambil mulai memotong lembarang daging asap itu dengan sendoknya.

“Sungra-ya.”

“Hmm?”

“Mengenai kita…”

Yeoja itu berhenti mengunyah daging dan spaghetti. Ia menegakkan tubuhnya sambil tetap berusaha tidak menatap namja di depannya. Dia harus kuat, ia tidak ingin merusak apa yang sudah ia lakukan sejak berada di mobil namja itu dari tadi pagi –memasang wajah datar sambil berkali-kali mengamati ponsel, berharap ada keajaiban mendadak yang bisa dijadikan alasan untuk memaksan namja itu menurunkannya di sembarang bahu jalan dan membiarkannya berlalu. Sayangnya tidak terjadi hingga saat ini.

“Anu… tidak ada kemungkinan… kita akan kembali?”

Oh, yang benar saja. pikir gadis itu sambil kembali memakan makanannya, meluapkan emosinya yang mendadak meledak tanpa bisa ia cegah. Ia heran, sudah seberapa tebal wajah orang di depannya itu? Masih berani menemuinya, bahkan memintanya kembali? Dengan nada suara seolah tanpa merasa bersalah begitu? Jinjja. Keterlaluan sekali. Tidak tahu malu.

“Sungra—”

“Daripada memohon padaku, bukankah lebih baik kau pulang dan menjaga anak kalian baik-baik?” gadis itu sama sekali tidak berusaha menyembunyikan nada pedas dalam suaranya. Ia sudah gemas setengah mati, demi Tuhan. Jika tidak ingat mereka sedang berada di tempat umum mungkin gadis itu sudah menampar namja di depannya keras-keras kemudian memakinya dengan segala macam sumpah-serapah yang terlintas di kepalanya.

“A, anak… ya! Itu bohong!” namja itu menaikkan nada suaranya, tangannya terkepal dan baru saja menghantam meja dengan suara keras. Untung saja restoran ini sedang sepi dan mereka duduk di tempat yang sedikit ‘terpencil’, tidak ada pengunjung lain yang memprotes.

Sungra menatap namja di depannya dengan tatapan datar tanpa minat. Orang itu mengatur napasnya kemudian kembali membuka mulut, “Di, dia tidak… bukan, yang dikandung oleh yeoja itu bukan anakku! Sama sekali bukan!”

“Ah, dia berbohong. Bukan anakmu. Ha, alibi yang bagus.” sarkasme lain. Namja itu tampak mulai kehilangan kesabarannya. “Itu kenyataan, Sungra-ya! Sayang, kalau kau tidak percaya, aku bisa—”

“Apa? Memangnya kau berani jika aku menantangmu melakukan tes DNA ketika anakmu lahir nanti untuk membuktikan apa dia benar anakmu atau tidak?” Sungra menggulung spaghetti dengan garpu sebelum kemudian memakannya, kembali mengalihkan pandangan dari orang di depannya. “Lagipula mungkin sudah terlambat kalau kau melakukannya nanti.”

“Maksudmu terlambat?”

Oh, dia lupa kalau orang ini tidak termasuk dalam daftar orang yang akan diundang ke pernikahannya dengan Baekhyun. Gadis itu tidak menjawab, kembali melanjutkan kegiatannya menghabiskan makan siang yang sempat terbengkalai tadi. Spaghetti dingin tentu saja tidak terasa seenak spaghetti hangat, bukan?

“Lee Sungra-ya, apa yang kau maksud dengan ‘terlambat’?”

Diam.

“Sungra?”

Masih diam.

“Sungra! Ya! Katakan padaku, apa kau akan menikah dengan namja lain? Meninggalkanku?!”

“Siapa yang meninggalkan siapa?” gumam Sungra pelan sembari mengusap ujung bibirnya dengan tisu. Makanannya sudah habis, tidak ada objek pengalihan perhatian lain… ah, ponsel.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau akan menikah? Benar kau akan menikah?” nada bicara namja itu mulai melemas. Ia menatap gadis di depannya nanar, tidak percaya kalau benar yeoja itu akan segera menikahi namja lain selain dirinya. “Dengan siapa? Kapan?”

“Kau tidak perlu tahu. Itu bukan urusanmu. Soal aku akan menikah atau melajang seumur hidup juga bukan urusanmu. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.” Sungra tidak berhasil menyembunyikan nada getir dalam suaranya. Bagaimanapun, tetap saja namja itu pernah mengisi hidupnya dalam jangka waktu yang cukup lama. Sulit untuk dilupakan. Ditambah lagi, kehadirannya sedikit-banyak mengingatkan Sungra ke memori di hari hujan kelabu itu. “Ah, sudah selesai makan, kan? Sudah siang. Aku harus pulang sekarang.”

N, ne… tunggu sebentar di sini, biar aku bayar dulu, ara?”

Gadis itu hanya mengangguk. Ia kembali menyentuh layar ponselnya, berulang kali mengecek folder pesan masuk, siapa tahu notifikasi ponselnya sedang error… yang ternyata tidak. Masih kosong. Aish, ke mana namja itu?

Kaja, ayo pulang. Kuantar sampai rumah, ne?”

Sungra berdiri, menepis tangan yang terulur di depan wajahnya dan berjalan cepat-cepat ke pintu keluar restoran. Tidak mengacuhkan tatapan aneh dari beberapa pelayan yang mungkin mendengar (atau mencuri dengar) pertengkaran mereka tadi. Pedulinya soal apa yang dipikirkan orang-orang itu, toh mungkin ia tidak akan pernah datang ke tempat itu lagi.

Perjalanan yang secara normal harusnya hanya setengah jam terasa seperti ribuan menit bagi gadis itu. Selain kehabisan benda yang bisa digunakan untuk pengalihan perhatian, isi kabin mobil itu juga sedikit membuatnya sesak –tidak banyak yang berubah. Masih ada setumpuk boneka-bantal yang mereka beli saat mempersiapkan pernikahan mereka. Tempat tisu dengan karakter Domo-kun di dashboard, karakter kesukaannya setelah Rillakuma. Hiasan gantung bertuliskan inisial mereka… tunggu, apa orang itu memang berniat menyiksanya dengan cara ini? Di saat dia sudah mulai move on seperti ini? Kejam.

“Sudah sampai…” namja itu melambatkan laju mobilnya hingga berhenti tepat di depan pekarangan rumah keluarga Lee. Selagi Sungra sibuk dengan seatbelt, ia sudah keluar, menghampiri pintu penumpang kemudian membukakannya seperti yang biasa ia lakukan dulu.

Namja itu mengantarnya hingga sampai di depan pintu, kebiasaan lama. Ia menunggu sampai Sungra membuka kunci pintu rumah dan mulai melangkah masuk sebelum ragu-ragu membuka mulut, sekali lagi melayangkan satu pertanyaan yang sedari tadi tersangkut di pangkal lidahnya.

“Sungra, kau… membenciku?”

Sungra tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menggumamkan kata ‘annyeong‘ sekilas sambil melangkah masuk ke rumah, mengunci pintu cepat-cepat dan berjalan lunglai ke sofa. Kakinya dilipat, kepalanya ditumpukan di atas lutut dan ia mulai menangis pelan.

Bahkan untuk menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sudah sangat jelas seperti itu ia masih tidak bisa.

Bunyi ringtone ponsel menghentikan sesi tangisannya sejenak. Terburu ia meraih benda kecil itu dari coffee table rendah di depan sofa, berharap dengan amat sangat agar Baekhyun-lah yang mengiriminya pesan singkat. Tolonglah, tolonglah, aku membutuhkannya untuk menghiburku, Tuhan. Untuk menceritakan semua yang terjadi tadi, aku mohon.

Tangisannya makin deras saat melihat nama namja itu tertera di layarnya. Ia berusaha meredam isakannya dengan membenamkan wajah ke lutut, masih gagal.

‘Kau tidak akan pergi, kan? Tidak akan meninggalkanku? Tolong percaya apa yang aku katakan tadi, aku mohon dengan sangat, itu sama sekali bukan salahku. Bukan sepenuhnya salahku. Aku sama sekali tidak berniat mengkhianatimu, demi Tuhan. Ya? Aku akan menunggumu, tidak peduli sampai seberapa lama. Tidak akan ada yeoja lain, tidak akan ada insiden seperti ini lagi, aku bersumpah. Saranghaeyo, jeongmal~ kajima…’

“Baekhyun~” lirihnya sambil memejamkan mata. Mengulang nama yang sama tiga kali dalam hati, sekali lagi berharap itu bisa membuat Baekhyun tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya.

Sayangnya, ini bukan dunia dongeng penuh sihir yang bisa membuat orang melakukan tele-transport dalam sekejap.

——

Baekhyun mengarahkan mobilnya ke belokan terakhir menuju rumah Sungra. Ia berpapasan dengan sebuah mobil lain yang hendak berbelok di belokan yang sama, membuatnya sedikit mengumpat karena mobil tadi tidak menyalakan lampu sein maupun membunyikan klakson. Bagaimana bisa orang seperti itu lulus ujian surat ijin mengemudi? Dunia pasti sudah gila. Yang meluluskannya juga pasti sudah gila, rutuk namja itu.

Ia memarkirkan mobilnya dengan hati-hati di carport yang kosong, beranjak turun dan mengunci pintu mobil dengan satu kali menekan tombol. Teknologi yang mengerti anda, desisnya puas sembari melangkah ke pintu rumah. Menekan bel dua kali, ia bersandar ke tiang kayu porch rumah bertingkat dua itu. Tangannya merapikan kemeja, berharap bisa tampil sempurna di depan orang yang menjadi alasannya membolos kerja dan pulang tengah hari serta membuatnya bisa menanggapi protes dongsaeng-dongsaengnya di cafe secara santai.

Sementara itu, Sungra yang mendengar suara bel terdiam sejenak. Benaknya menebak, kira-kira siapa lagi yang datang? Namja itu membuatnya sedikit trauma untuk membuka pintu depan rumah, trauma yang sedikit aneh sebenarnya. Tapi bagaimana kalau dia datang lagi, kali ini untuk menculiknya secara paksa dari rumah?

Dering bel kembali terdengar, rasanya sedikit tergesa. Gadis itu menghela napas lalu berdiri dari sofa yang ia duduki sedari tadi, menyeka jalur-jalur air mata yang tersisa di pipinya, lengket. “NeNuguseyo?” tanyanya pelan dari balik daun pintu yang tertutup rapat. Ia menyilangkan telunjuk dan jari tengahnya gugup, separo-ketakutan.

“Ng? Ini aku~ Baekhyun~” dan tangis gadis itu meledak. Terburu ia membuka pintu dan tanpa mempedulikan ekspresi terkejut namja di depannya ia melesakkan badannya ke pelukan namja itu, mendekapnya erat sambil terisak keras. Meski tidak langsung, setidaknya Tuhan telah mengabulkan doanya.

“E, eh? Waeyo?” Baekhyun bertanya, menjadi amat-sangat-panik karena reaksi gadis di depannya. Sambutan yang ia harapkan ketika lembaran tebal kayu lapis itu mengayun terbuka adalah… antara pelukan, atau senyuman. Sekarang, setelah ia berpikir ulang dan menyadari harapannya terlalu jauh, repetan kesal Sungra pun tak apa asalkan… asalkan bukan yang seperti ini. Menangis tanpa alasan begini. “Sungra? Ra-ya? Kau kenapa? Ada masalah?”

Gadis itu menjawab dengan isakan yang belum juga mereda, membuat Baekhyun mengambil inisiatif masuk ke rumah. Setidaknya tidak akan ada yang menatap aneh ke mereka, berbeda dengan saat mereka berpelukan di porch tadi. Bisa gawat juga kalau ada yang mengira Baekhyun hendak melakukan suatu hal yang ilegal ke Sungra, pelecehan, misalnya.

Namja itu menuntun gadis yang sedang menangis di pelukannya ke sofa, mengajaknya duduk, mengusap kepalanya pelan sambil berusaha menenangkannya. “Sungra~ ada apa ini? Mau… mau cerita denganku?” tanyanya ragu, takut membuat tangisan yeoja itu makin menjadi. Yang seperti ini saja sudah lebih dari cukup untuk membuatnya panik setengah mati.

“Dia… dia datang…”

“Dia? Dia siapa? Kau mimpi buruk?”

Sungra menggeleng, kemudian mengangguk. Baekhyun menaikkan sebelah alisnya bingung, “Jadi?”

“Aku… aku takut~ aku tidak mau dia membawaku pergi secara paksa~ Baekhyun~ eotteokhaeyo?” racau gadis itu dengan air mata yang masih mengalir deras, justru tidak menjawab pertanyaan Baekhyun tadi. Ia membenamkan wajahnya di bantal sofa yang ganti berada dalam dekapannya. “Aku tidak mau pergi~ tidak mau melihatnya lagi~ jebal…”

“Kau tidak mau melihat siapa? Panda?” Baekhyun menaikkan intonasi suaranya, frustasi. “Hei, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan~ setidaknya jelaskan sedikit, ne? Ayolah~ tapi… kalau kau tidak mau cerita ya sudah, asal kau berhenti menangis~”

Gadis itu sekali lagi mengusapkan wajahnya ke sarung bantal yang sekarang telah basah kuyup, ragu-ragu mengangkat wajahnya dan menatap Baekhyun. Sinar matanya sempat terlihat takut sejenak, sebelum kemudian ia kembali tenang meski masih sedikit terisak. Yeoja itu menimbang-nimbang dalam hati, harus mulai dari mana agar ia bisa menceritakan masalah ini dengan singkat, cepat, dan tanpa membuat rasa bersalahnya karena sempat ragu sejenak tadi muncul lagi?

“Ra—”

“Kau… kau ingat ceritaku? Dulu? Soal… soal…”

“Pernikahanmu dulu? Ne, aku ingat~ jadi?” Baekhyun bergeser mendekati gadis itu sedikit, bersiap menawarkan pelukannya jika ia tiba-tiba membutuhkan. Oh, atau apapun, entah pukulan atau hujan air mata tiba-tiba, ia tak mempermasalahkan asalkan gadis itu yang melakukannya padanya. Selama itu Sungra. Pandanya. “Apa ada hubungannya dengan itu? Ng?”

Gadis itu mengangguk pelan, masih meragu. “N, ne. Tadi… namja itu datang lagi…”

“Tadi? Datang? Kenapa kau tidak…” Baekhyun berhenti bicara, tidak ingin membuat Sungra makin stress. “Ah, jadi? Apa yang dia lakukan? Dia tidak menyakitimu, kan? Tidak melakukan hal macam-macam padamu kan?”

Ne, tentu saja, kau bisa lihat kan aku masih hidup dan masih utuh?” gadis itu berusaha melucu, hanya respon Baekhyun sama sekali tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Lagipula ia sendiri juga tahu bahwa waktu seperti ini sama sekali tidak pas untuk bercanda, jadi mengharapkan seberkas senyum kecil muncul di bibir Baekhyun juga rasanya sulit serta sedikit kurang ajar. “Mianhae. Dia memang tidak menyakitiku, tapi ini lebih berbahaya, Baekhyuna~”

“Maksudmu?”

Yeoja itu menarik napas, mengigit bibirnya sembari bicara, “Dia… memohon padaku agar aku kembali padanya.”

——

“M, Mwo?! Kau?! Kembali padanya?! Jangan bercanda!” taraf kepanikan Baekhyun sudah mencapai tingkat paling tinggi, tidak tertolong lagi. Tangannya mencengkeram bahu Sungra erat hingga yeoja tu mengernyit karena nyeri. Remasan telapak tangan Baekhyun di bahunya terasa sakit… dan dingin. Ada aura mengerikan yang keluar dari sana, ani, dari seluruh tubuh namja itu dan itu membuatnya merinding ketakutan. “B, Baekhyun? Kena–“

“Lalu kau akan kembali padanya? Meninggalkanku, setelah apa yang kita lakukan selama ini? Semua waktu yang kita lalui?” cengkeraman tangan Baekhyun mengendur, kepalanya tertunduk lemas. “Kau… akan pergi?”

“Kau gila? Tentu saja tidak, babo. Jika dibayar berapa ratus juta won-pun aku tak’kan sudi kembali padanya… kenapa kau bisa berpikir begitu?”

Aniyo, baguslah kalau begitu.” Baekhyun menggeleng, tersenyum kecil sambil menarik napas meski wajahnya belum tampak sepenuhnya lega. ‘Lalu, bagaimana?”

Mollayo… aku bingung…” Sungra kembali terdiam. Ia teringat respon ragunya ke namja itu tadi, tidak bisa ia pungkiri kalau ada bagian sangat kecil di hatinya yang bereaksi positif terhadap apa yang orang itu lakukan… sekali lagi menimbulkan perasaan bersalah ke Baekhyun. Eotteokhaebatinnya galau.

“Ng? Maksudmu bingung?”

Sungra memainkan jemari tangannya sendiri, ketakutan. “Kau… tidak akan marah?”

Baekhyun menggeleng, mulai berspekulasi soal apa yang akan dikatakan Sungra. Kenapa gadis itu khawatir dirinya akan marah? “Memangnya kenapa aku harus marah?”

Aniyo. Aku hanya… tadi…” yeoja itu menelan ludah. “Sempat tergerak oleh apa yang dilakukan namja itu, hanya sedikit, tapi…”

“Tapi apa? Kau bilang tadi tidak akan kembali padanya, kan?” nada suara Baekhyun tiba-tiba saja mendingin. Tidak bisa sepenuhnya disalahkan, bagaimana bisa ia tetap bersikap tenang jika gadisnya mengatakan hal seperti itu?

“Memang tidak, aaaa aku belum selesai bicara~ dengar? Hanya sedikit, aku bilang hanya sedikit, sangat sedikit malah~ aku… lebih banyak merasa… jijik, mungkin~” Sungra menghela napas, tangannya kembali memeluk erat bantal kursi dalam dekapannya. “Dan aku… aku takut… eotteokhae?”

Kau takut dan aku lebih takut lagi, babo.

“Tenanglah~”

“Aku tidak bisa tenang~ ia bisa datang lagi kapan saja~ kau tahu? Dia tipe orang yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, Baekhyun-a~ aku masih ingat bagaimana ia memaksa orang agar keinginannya terpenuhi, jadi… aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan setelah ini…”

“Ya tidak usah dibayangkan~ kau lupa aku ada di sini untuk apa? Melindungimu, kan? Meski aku tidak bisa berada di sebelahmu terus-menerus, sih. Tapi, walau begitu, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjagamu, mengerti?”

“Aku tahu~ tapi bagaimana kalau ia mengincarmu setelah ini? Bagaimana kalau ia mencelakaimu?”

“Memangnya dia tahu soal aku? Dia tidak mengenalku, kan?” Baekhyun membiarkan telapak tangan kanannya melakukan hal yang sudah menjadi hobinya akhir-akhir ini, mengacak rambut Sungra. “Selesai masalah, Ra-ya~ dan aku akan selalu memastikan kau tidak akan kenapa-kenapa. Janji.”

“Kau… tidak takut?”

Baekhyun menggeleng pelan. Ia berdiri, tangannya merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Sebelum ia sempat beranjak ke pintu rumah, Sungra sudah menghentikannya dengan satu pertanyaan yang terlontar, “Kau mau ke mana?”

“Aku pulang dulu, ne? Ada hal penting yang perlu diurus di rumah, dan aku—“

“E, eh? Pulang? Penting? Mwoga? Atau… sebenarnya kau marah padaku?”

“Untuk apa aku marah? Kau sama sekali tidak bersalah, panda~ aku tidak marah, jeongmal~” namja itu mengacak rambut Sungra cepat, mengusap jejak-jejak air mata di pipinya lalu memberi gadis itu ciuman singkat sebelum kembali bicara, “Aku pulang dulu, ng?”

Gadis itu tidak mengiyakan, tidak juga menahan. Baekhyun menanggapinya sebagai persetujuan, tapi baru saja ia akan menyentuh pegangan pintu suara Sungra kembali terdengar, “Aku kira… aku kira kau akan menemaniku di sini… menenangkanku, melakukan apa yang biasa kau lakukan agar aku berhenti menangis…”

“Aku juga ingin melakukannya, Ra-ya~ tapi aku tidak bisa, kau bisa mengerti, kan?” apalagi dalam keadaan seperti ini, tambah Baekhyun dalam hati. Moodnya runtuh begitu mendengar cerita Sungra, emosinya tersulut begitu saja. Betapa ia butuh menenangkan diri dan mendinginkan otak sekarang.

“Kau harus pulang? Harus? Tidak bisa ditunda lagi?”

“Sungra, dengarkan baik-baik, ara? Aku pulang karena aku harus mengurus cafe. Chanyeol baru saja mengabariku kalau keadaan di sana sedang agak kacau, jadi—“

“Bagaimana kalau ia kembali lagi?” gadis itu mencicit, wajahnya memucat. “Bagaimana kalau ia datang lalu menculikku dari sini?”

“Dia tidak akan datang lagi, sayang. Berhentilah khawatir~” Baekhyun kembali menghampiri Sungra, menariknya hingga berdiri dari sofa lalu membalikkan badan hingga punggungnya yang menghadap gadis itu. “Ayo naik. Bagaimana kalau sekarang kau ke kamarmu? Di sana pasti lebih aman bagimu~”

Gadis itu menurut. Ia mengalungkan tangannya di sekeliling leher Baekhyun, membenamkan wajahnya ke tempat yang sama saat Baekhyun membawanya ke kamar, dan dengan patuh bersikap tenang saat diturunkan ke kasur. Ia baru menahan tangan namja itu saat Baekhyun sudah akan pergi, tangan gadis itu sendiri gemetaran dan dingin. “Baekhyun-a~”

“Aku harus pulang, Ra-ya…” namja itu melepaskan pegangan tangan Sungra dari pergelangan tangannya perlahan. “Maaf tidak bisa menemanimu sekarang, nanti setelah pekerjaanku selesai aku akan segera kembali lagi, ya?”

“Ng…”

Baekhyun menghela napas lega. Ia segera beranjak ke pintu kamar Sungra yang setengah terbuka setelah mengingatkan gadis itu untuk makan malam jika ia lapar dan tidak lupa mengunci pintu depan. Sempat terlintas dalam benaknya untuk mengubah pendirian dan tetap tinggal, tapi ia tak ingin moodnya yang sedang buruk mempengaruhi Sungra yang juga butuh menjernihkan pikiran.

“Baekhyun-a, berhenti pura-pura.” kata yeoja itu ketika Baekhyun sudah hampir menutup pintu kamarnya.

“Eh? Apa, siapa yang berpura-pura?”

“Kau. Alasanmu pulang bukan karena ada pekerjaan di cafe, aku tahu. Dan… ah, jika hal ini tidak terjadi, sebenarnya apa tujuanmu datang ke sini?”

Baekhyun tak menjawab, hanya menutup pintu di belakangnya, membuat gadis itu tidak bisa melihatnya lagi. Ia menyandarkan punggung di depan pintu, mendengarkan segala macam teriakan yang ditujukan gadis itu padanya hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjawab, “Aku ingin melihat wajahmu hari ini, ingin mengucapkan ‘saranghae‘ padamu secara langsung, ingin melihatmu tersenyum atau mendengar repetan cerewetmu yang menyebalkan itu.”

“Lalu kau pulang karena kau tidak mendapatkan itu? Benar? Karena kau marah juga, kan?”

Tak ada jawaban.

“Baekhyun? Aku tahu kau masih di sana…”

Masih tak ada jawaban.

“Kalau memang begitu, sudahlah… pulanglah, titip salam untuk eomma dan appamu, cepat pulang~” gadis itu menangis lagi. “Maaf aku tidak mengabarimu lebih cepat soal ini, maaf karena aku tidak bisa menolak ajakan bicaranya tadi, maaf… jangan marah lagi… aku tidak suka kalau kau marah…”

Ne. Aku pulang.”

to be continued

Advertisements

4 thoughts on “[Cafe Latte] #8 | Sudden Changes”

  1. Plis jangan bikin mereka berantem pliiiis. Baca scene pas Sungra makan siang ama namja ‘itu’ aja rasanya nyesek bangeeeet. Aku kasian sama Baekhyun aaaaa…. Huhuhuh kerasa banget nyeseknya Baekhyun gimana pas Sungra cerita kaya gitu. Huhu. Plis, plis jangan bikin dua orang ini putus, neee? Hiks sedih ah ;_;
    Lanjuuuuut. Fighting yaaaa! ^-^

    1. um…
      iya, huhu kasian baek~ *lah *yang bikin juga siapa
      ngng~ ra-nya juga nakal sih -3- *marahin ra(?)
      nggak kok, nggak putus, ntar bisa-bisa ra depresi malah hahahaha XD
      jangan syediiiiih :”
      ne~ gomawoyoooooo ^^

  2. sungra sediiih~ ditinggal baekhyun sendiriiii~~ sungra siiih~ kenapa geniiiit~~ *plak!
    si namja bandel yaaaa~~ padahal udah nyakitin~ ckckck :s
    baekhyun cemburunya gitu? aaaaa unyuuuuuuuuuu :3 boleh diemut? *eh
    moga si sungra nggak berubah pikiran yaaa~ nikah aja sama baek sono, jangan sama yang laen, ntar dikelitik~(?)
    *ngilang lagi

    1. hun(?): thungra nuna nggak geniiiiit~ baekhyun hyung yang nappeun~ :” *eh…
      bandel maksimal~ masih belum kebayang sih si namjanya siapa XD
      nggak, pokoknya nggak, awas-_-
      baeknya yang jangan berubah pikiraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan~ ra udah pasrah tuh :” *eh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s