[Cafe Latte] #10.1 | The Day

Title: The Day
Genre: fluff, romance, friendship, family… angst *kemudian bingung sendiri
Rating: PG-13
Character: see tags :3

Sungra mengusap matanya yang sembap, kurang tidur. Pukul lima pagi sama sekali bukan waktunya untuk bangun, mengingat ia juga bukan seorang morning person dan jam biologisnya jelas-jelas menolak dibangunkan jam segini. Tapi mau bagaimana lagi jika sang eomma sudah -berusaha keras- membangunkannya dari tadi? Bisa-bisa akan ada kuliah umum subuh-subuh begini.

Suara dering ponselnya terdengar. Astaga, orang gila mana lagi yang menelepon orang lain jam segini?

Yeoboseyo?” gumamnya malas sembari mengacak rambut dan beranjak dari kasur, menuju kamar mandi sesuai titah sang eomma untuk segera mandi tadi. Berusaha menahan senyum ketika mengenali siapa yang berbicara di seberang dari suara khas yang sering mengganggunya akhir-akhir ini. “Ne~ aku sudah bangun… baru saja…” ia menguap sambil mengaktifkan mode loudspeaker dan meletakkan ponselnya di dekat wastafel, kemudian mencuci mukanya dengan tetap mendengarkan suara dari telepon genggam. Memastikan matanya sudah cukup terjaga sebelum mulai menggosok gigi dan bersiap mandi.

Sementara itu, Baekhyun masih memeluk guling kesayangannya di apartemen studio kecil tempatnya tinggal sepuluh tahun terakhir ini, sesekali tersenyum sambil mendengarkan omongan orang yang sedang ia telepon atau mengomentari sedikit-sedikit. Terpaksa diakhiri ketika gadis itu berkata ia akan mandi, Baekhyun terburu berucap,

“Jangan terlambat, aku akan menunggumu di sana nanti. Kau ingat, kan, kata-kata nuna yang kemarin membantu saat fitting terakhir? Tiga jam sebelum acara mulai sudah harus sampai di sana. Cek terakhir.”

Ne, nanti hati-hati di jalan. Sampaikan salamku untuk eomma dan appaara?”

“Nah, bersiap, sana~ aku juga akan mandi setelah ini. Annyeong~”

Namja itu meletakkan ponselnya di nakas dan turun dari kasurnya. Ia meregangkan tangannya sejenak sambil berjalan ke kamar mandi, menyenandungkan lagi lagu yang ia nyanyikan ketika terakhir kali mengunjungi rumah keluarga Lee. Masih Cafe Latte yang sama. Caramel Macchiatonya pasti sedang bersiap di rumah.

Oh, betapa tidak sabarnya ia.

——

Laki-laki itu memainkan ujung kemejanya perlahan.

Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, merasa makin panik seiring detik yang berlalu. Ia tahu kalau ini masih terlalu pagi untuk khawatir gadis itu dan keluarganya akan terlambat, tapi tetap saja –salahkan sesuatu bernama euphoria berlebihan.

Ia menunggu sendirian di depan gerbang gedung itu. Ayah dan ibunya sudah ia minta masuk lebih dulu, tentu saja karena ia tak tega mereka berlelah-lelah menunggu sepertinya di sini. Setidaknya kan mereka bisa bersiap lebih dulu di dalam sana, meski sebenarnya justru ia yang sepertinya akan butuh waktu lama untuk menyiapkan diri.

Sebuah SUV beige mendekat dan ia segera menghela napas lega begitu mengenali siapa yang berada di dalam mobil itu –setidaknya mereka yang duduk di kabin depan. Segera memasang senyum sopannya saat kendaraan itu melambat dan berhenti di depannya, disusul kaca yang perlahan turun, menampakkan sepasang wanita dan pria paruh baya yang menatapnya bingung. Ah, satu lagi, ada gadisnya di belakang sana, hanya anak itu sepertinya terlalu cuek untuk memahami apa yang sedang terjadi. Dasar.

“Baekhyun-a? Kenapa kau di luar? Mana orang tuamu?” appa Sungra lebih dulu bertanya, heran. “Atau kau sampai di sini lebih dulu dari mereka?” sambung wanita paruh baya di sebelahnya. Baekhyun menggeleng cepat sebelum membuka mulut. “Aniyoeomma dan appa sudah di dalam, ajusshiajumma~ aku hanya ingin memberi tahu ajusshi kalau parkir mobilnya di belakang, ajusshi, kata appa agar mudah keluar-masuknya nanti~”

“Oh, ne~ ada pesan lain?” dan Baekhyun menggeleng. Pria paruh baya di belakang kemudi itu menaikkan sebelah alisnya, “Jadi, kau menunggu di sini hanya untuk memberitahukan yang tadi atau… ada maksud lain?”

Baekhyun sedikit tersipu malu mendengar kata-kata appa Sungra, ia hanya tersenyum tidak enak sebagai jawaban. Alasan lainnya kan ada di dalam sana, sedang sibuk sendiri dengan ponsel di tangan. Pasti main Temple Run lagi.

“Sungra-ya, ada Baek– aigo anak ini! Main game saja kerjanya!” omel eomma Sungra begitu berbalik dan mendapati anaknya sedang berkutat dengan ponsel. Gadis itu mengeluh, “Eommaaaaaa~ aaaaa aku kalah kan? Padahal sebentar lagi bisa memecahkan high score yang kemarin!”

“Kau iniiiii! Jangan bersikap seperti itu terus, cepat beri salam ke Baekhyun~”

Sungra mengangkat wajahnya, menatap Baekhyun kesal karena namja itu membuatnya gagal memecahkan rekor yang ia cetak sendiri. Ia menjulurkan lidahnya lalu kembali menghadap ponsel, sibuk sendiri lagi tanpa menghiraukan sang eomma yang mulai mengomel.

“Kami masuk dulu, ara? Kau juga masuklah, duluan saja, bersiap dulu~” kata appa Sungra sambil mulai menjalankan mobilnya kembali. Baekhyun mengangguk patuh tapi masih diam di tempatnya, menunggu hingga SUV itu menghilang ke area parkir belakang. Simpul senyumnya terurai makin lebar –ini gila. Cibiran gadis itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuatnya cengar-cengir tak karuan seperti idiot begini, lalu akan jadi apa hidupnya bersama gadis itu nanti? Semakin gila-kah dirinya kelak?

——

Tuksedo putih bersih tanpa noktah.

Celana bahan putih mengkilap, disetrika rapi hingga hampir tak tampak cacat di sana.

Mawar putih yang disematkan di kantung.

Dasi kupu-kupu hitam.

Rambut yang sedikit berantakan, tapi tetap rapi dan teratur tanpa terlalu banyak bagian yang mencelat keluar dari barisan.

Sekali lagi ia mengecek penampilannya yang serba-putih. Brilian dan tampan, pikirnya sambil merapikan rambut. Tidak bisa mengurangi pikiran narsisnya barang sedikit saja.

“Baekhyun-a? Sudah semua?” ia menoleh, mendapati sang eomma yang tahu-tahu sudah berada di depan pintu. Rapi dengan dandanan setema dengannya, tapi berbeda. Baekhyun mengangguk sambil mengecek jam di tangan kirinya yang menunjukkan angka delapan lewat tiga menit. Masih ada lima puluh tujuh menit sebelum acara dimulai. Cukup lama. “Ne, sudah… ng, aku… boleh ke sana?”

“Ke sana mana? Oh, tunggu, eomma mengerti, tidak usah dijawab.” dan Baekhyun melengos dalam hati sambil masih menunggu jawaban eommanya. “Tentu saja tidak boleh. Tidak ada alasan, memang sudah aturannya begitu, tuan muda Byun.”

Eomma~”

“Ckckck~ biar jadi kejutan untukmu di kapel nanti~” wanita paruh baya itu terkekeh pelan. “Eomma keluar sebentar, masih ada yang perlu diurusi. Ah, satu lagi…”

“Ya?”

“Tadi eomma baru saja ke sana, ck, Sungra terlihat saaaaaaaaaaaaaaangat cantik~ sama seperti eomma waktu muda dulu~”

Eomma curaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!”

——

Refleksi di cermin itu mengerjap, menampakkan ekspresi bingung. Ditambah sedikit tidak percaya yang dibumbui kekagetan. Tak bisa mengenali. Setengah hilang kesadaran menatap bayangan di sana… yang pendek kata terlihat berbeda. Seperti bukan dirinya.

“Um, agasshi, bisa menunduk sebentar?”

Ia tersadar dari lamunannya. Pandangannya ganti teralih ke perempuan petite yang membawa veil dari kain tulle di tangannya, siap dikenakan. Gadis itu menurut, sedikit menundukkan kepala agar bisa dicapai oleh perempuan tadi. Membiarkannya mengurusi segala hal yang perlu dilakukan dengan bagian atas tubuhnya itu –memasang beragam jepitan untuk menahan si tudung tipis, mengatur berbagai aksesori yang diperlukan, merapikan ini dan itu. Pasrah. Sudah dua jam ini ia memasrahkan hidupnya pada gadis-gadis berseragam yang bergerak kesana kemari seperti burung kolibri yang hinggap bergantian, serangga-serangga berkecepatan supersonik yang berbagi tugas sambil sesekali saling bantu. Manusia-manusia yang mengurusinya sambil tak henti berceloteh satu sama lain, sesekali mengajaknya bicara yang terkadang ia tanggapi dengan -berusaha- ramah.

Tak ada lagi tangan yang menjamahi tubuhnya. Ia mendongak, tatapannya langsung menghujam cermin yang disandarkan ke dinding ruangan. Kaca berlapis perak dengan bingkai ukiran yang disepuh emas itu masih menjalankan tugasnya, memantulkan refleksi. Utuh dari atas hingga ujung kaki.

Tubuhnya terbalut gaun putih panjang bernuansa modern-klasik. Ekor sepanjang satu setengah meter, hasil tawar menawar kala itu. Bros bunga perak yang disematkan di daerah dekat tulang selangka, pemberian pria itu di hari yang lain. Tudung semi-transparan. Rambut yang diikal. Riasan wajah natural. Segala hal yang membuat penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat.

Semua orang dalam ruangan itu saling memuji kinerja rekannya. Bagaimana mereka berhasil mengubah penampilan gadis itu dengan begitu sempurna hingga yang bersangkutan bahkan tak bisa berkomentar soal apa yang terjadi padanya.

Ruangan itu tiba-tiba saja terasa gelap. Ia tak tahu apa itu hanya perasaannya atau memang kenyataan hingga salah satu perempuan-perempuan berseragam itu menghampiri saklar dan menyalakan lampu. Memang gelap. Ia menatap keluar; mendung menggantung di sudut langit. Berat. Tebal. Gelap. Menenggelamkan ratu siang di baliknya.

Pintu kayu itu mengayun terbuka, menampakkan wajah seseorang yang mengatakan bahwa acara akan segera dimulai. Tepat ketika ia mendengar suara gemuruh yang tak begitu keras disusul benturan tetes air dengan atap. Satu, dua, tiga, hingga akhirnya ratusan yang bersahutan dalam sekejap.

Hujan, lagi.

——

Ia bisa mendengar suara ramai dari dalam ruangan. Terburu ia membenahi sikap tubuhnya. Merapikan letak pakaiannya. Memastikan dasinya tidak miring, sepatunya mengkilap, tidak ada tetesan noda vla puding yang tadi ia makan saat perutnya berbunyi. Maklum, belum makan dari pagi.

“Sudah sempurna, Tuan Byun.” dan ia mendengus, menanggapi candaan namja di sebelahnya. Siapa lagi yang bisa ia percaya untuk didaulat sebagai best man di hari ini selain seorang Park Chanyeol? Meski ia jadi agak sedikit minder karena perbedaan tinggi mereka yang kelewat mencolok, sayangnya ia tak punya pilihan lain.

Laki-laki itu mengetukkan kakinya ke lantai berkali-kali, merasa sngat gugup. Tangannya berkeringat dingin meski tak terlalu parah. Chanyeol yang berdiri di sebelahnya hanya menggelengkan kepala gemas, “Sudahlah, jangan tegang begitu! tenang saja~”

Aish, gampang bagimu berkata seperti itu.” desisnya setengah kesal. Chanyeol hanya mengangkat bahunya. “Memang gampang, kok. Kalau kau terlalu panik begitu nanti malah berantakan, jadi tenang saja, mengerti?”

Ia tak menjawab. Tidak bisa karena Chanyeol telah mendorong pintu kayu berat di depannya, membuka jalan bagi mereka.

Berpasang-pasang mata menoleh, mengamati dua pria yang berjalan di sepanjang jalan berlapis karpet merah itu. Mereka berdua berhenti di depan altar dan Chanyeol mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Sementara itu, Baekhyun berdiri diam di tempatnya, menatap penuk antisipasi ke pintu kayu besar itu. Menunggu hingga ia mengayun terbuka dan menampakkan raganya di sana. Belum. Masih belum?

Terdengar suara langkah yang sedikit tergesa dari luar. Jantungnya bekerja makin cepat, dua kali lipat dari denyut normal. Suara ketukan hak sepatu dengan lantai, lalu hening. Semua orang menoleh ke arah pintu, menunggu dengan antusias.

Pintu itu terbuka perlahan.

——

Ia mencoba berjalan, sedikit kesulitan pada awalnya. Langkahnya sedikit tersendat karena ekor gaunnya yang terasa berat. Sulit berjalan. Melihat bayangan percobaan-jalan-nya di cermin saja sudah membuatnya tak bisa menahan tawa. Bagaimana kata orang-orang nanti?

Ya! Jangan berjalan dulu! Tunggu aku!”

Ia menoleh, mendapati seorang gadis dengan gaun warna ivory menghampirinya. “Ah, aku lupa kalau kau ada, Jangmi-ya~” candanya. Gadis yang dipanggil Jangmi tadi mendengus pelan. “Huh, mentang-mentang akan menikah, eo?”

“Bukan begitu~ bercanda~ ck, kau ini seperti kita tidak pernah seperti itu saja!” ia mendorong dahi Jangmi dengan telunjuknya perlahan. “Nah, untuk apa kau datang ke sini? Bukannya harusnya kau baru ke sini kalau acaranya sudah akan dimulai?”

Jangmi memutar bola matanya kesal. “Harusnya kau sadar kalau acaranya akan segera mulai saat aku muncul, babo.” ia berkata sambil berkacak pinggang. “Ck, dasar ceroboh, belum apa-apa dandananmu sudah berantakan begini. Kasihan eonnieonni yang tadi mendandanimu itu, kerja mereka jadi sia-sia~”

Gadis itu tak menanggapi. Ia membiarkan Jangmi merapikan kembali penampilannya. Juga membiarkan gadis itu menuntunnya keluar dari ruang rias, menuju pintu besar yang mengarah ke wedding hall, bergabung dengan beberapa orang keponakan kecilnya yang menjadi flower girl dan page boy. Anak-anak kecil yang masih berusia di bawah tujuh tahun, semua terlihat sangat manis dalam pakaian masing-masing hingga ia tak bisa menahan diri untuk tidak berfoto dengan mereka dulu, membuat Jangmi kembali mengomel karena ia kesulitan mengatur barisan dengan baik dan benar.

Seseorang menepuk pundaknya dan ia menoleh, mendapati ayahnya yang tengah tersenyum padanya. Berwibawa dalam balutan jas hitam dan dasi yang gadis itu dulu belikan dengan gaji pertamanya. “Sudah siap?” tanya pria paruh baya itu kemudian setelah menempatkan diri.

Ia mengangguk sedikit, perlahan melingkarkan tangannya di lengan sang appa. Memejamkan mata sambil menenangkan diri dan menyiapkan mental —yang dulu toh tidak akan terulang.

——

Laki-laki itu hampir-hampir mati kehabisan napas. Terlalu lama menahan napas karena kaget. Terpana.

Barisan kecil itu dimulai dengan dua orang flower girl yang menebarkan kelopak-kelopak mawar merah dan putih.di karpet. Pembuka jalan bagi orang-orang di belakangnya. Dilanjutkan oleh gadisnya yang berjalan bersama appanya. Ia kembali mengamati gadis itu lebih lanjut; gaun putih yang menyapu lantai. Wajah dengan polesan make-up natural yang tertutup tudung tipis. Tangan menggenggam sebuket kecil bunga dan senyum terulas di bibirnya, senyum favoritnya. Membuatnya tak sadar bahwa ujung bibirnya juga tertarik. Bahagia sekali rasanya melihat pemandangan di sana.

Semuanya akan berjalan dengan sempurna. Hari bahagia ini akan berjalan dengan sangat mulus, ia yakin.

——

Tatapan lurus ke depan. Jangan menoleh. Nah, fokus ke Baekhyun yang menunggumu di depan sana dan berhati-hatilah agar kau tidak tersandung gaunmu sendiri dan jatuh, Lee Sungra sayang.

Sungra terus-menerus mengulang sugesti itu dalam pikirannya. Semacam pengalihan perhatian model baru, mungkin. Dan sedikit banyak memang berhasil karena sejauh tiga perempat jalan yang ia lalui ini keadaan masih aman dan damai. Lima meter lagi dan ia akan sampai…

Aigo, masih berani menikah rupanya. Aku kira dia sudah trauma.”

Bulu kuduknya meremang. Langkahnya yang semula terasa mantap dan ringan tiba-tiba saja seolah dibebani batu dengan massa satu ton, beratnya sepuluh pangkat empat newton. Ia melirik ayahnya yang sepertinya tidak mendengar… ah, mungkin hanya perasaanku saja.

Ne~ kasihan sekali dia~”

Bukan halusinasi. Sama sekali bukan. Ia yakin membran timpani telinganya masih bekerja dengan baik dan benar. Juga yakin bahwa tidak mungkin otaknya sendiri yang membuat suara-suara itu. Langkahnya terhenti total, kakinya tiba-tiba saja terasa lumpuh meski ia masih bisa berdiri tegak. Kaku. Tidak bisa digerakkan seperti sudah disemen jadi satu dengan lantai di bawahnya.

“Sungra? Sungra-ya?” ia bisa mendengar suara appanya, tapi tidak bisa bereaksi. Rasanya seperti ada selubung hitam yang dengan cepat meliputi benaknya, selubung hitam jahat yang bernama kekalutan. Ia mengenali suara-suara yang bicara barusan. Mereka… teman-teman yeoja itu, sepertinya. Sungra sendiri tidak mengerti bagaimana ia bisa memasukkan mereka dalam daftar tamu undangan… tunggu, mungkin dia lupa siapa saja yang harus dihindari. Mungkin yang ia ingat hanya mencoret nama dua orang sialan itu dari daftar, tidak termasuk antek-antek mereka.

“Kau masih ingat saat pernikahannya… tiga bulan yang lalu?”

“Ah, ne~ tentu saja aku ingat, dia menampar tunangannya waktu itu, kan?”

“Ng! Apa kali ini akan begitu lagi, ng?”

“Lihat saja, siapa tahu nanti akan ada seseorang yang menginterupsi lagi, ha! Pasti dia tak akan mau menikah lagi setelah ini.” disusul dengan kekehan yang berderai. Tolonglah, mereka pikir hal ini lucu?

Suara-suara itu sebenarnya tak terdengar begitu keras, hanya saja telinga Sungra entah kenapa berubah jadi lebih sensitif terhadap kedua suara itu. Ia tak mendengar gumaman gelisah tamu-tamu yang lain maupun tatapan panik appanya dan Jangmi. Keponakan-keponakan kecilnya berbalik, kebingungan karena ajumma kesayangan mereka tiba-tiba berhenti berjalan.

Ini bahkan lebih mengerikan daripada tersandung gaun. Demi Tuhan.

Baekhyun-a, tolong aku…

to be continued.

mian, ini pendek -lagi- huhuhu ;_; sebenernya nggak pingin nge-cliffhanger-in di sini sih… tapi… demi kelangsungan cerita nih huhu mianhaeee ;;____;;

Advertisements

11 thoughts on “[Cafe Latte] #10.1 | The Day”

  1. YAAAK ITU SIAPA YANG BERANI-BERANINYA NGOMONG GITU?!!! Sungra-yaaaa, sabaaaaar, jangan pingsan di tempat huhuhu… Kasian kamu nak, mau nikah aja masih ada antek-antek si ‘itu’
    Sumpahsumpahsumpah ini cliffhanger banget ya, hm~ dan entah kenapa aku suka bagian paling akhir itu. ‘Baekhyun-a, tolong aku…’ Entah aku sukaaaaaaa banget pokoknya…
    Ra~ lanjutannya jangan lama-lama ya, kamu bikin aku mencak-mencak sendiri lho ini sumpah deh. Ditunggu next chapter.
    Fighting! ^-^

    1. itu… yah, ya itu huhuhu ;~;
      nggak kok, sungra kuat, sungra kuat~ #prayforsungra *eh
      iya, mianhae m(_ _)m takutnya malah aneh kalau gak di-end di situ… meski jadinya makin aneh-_-
      ehehehe, gomawoooo~
      iya, senin besok deh hehehehehe. barusan dischedule nih *eh
      gomawo -lagi-~ ^^

      1. bikin hashtag ah di twitter #prayforsungra’swedding hahaha…
        yey, bener ya, senin yaaa? asikasik *joget*
        gapapa, justru kalo dikasih cliffhanger, makin tambah gemanaaah gitu *jadialay* ._.
        okeee ditunggu senin yaaak ^-^

        1. IYA! BOLEH! terus jadiin TTWW mwahahahahaha *gak sante maksimal
          iyaaaa~ senin :3 jangan bunuh saya ya besok huhuhu *eh
          beneran? jadi kalau cliffhanger dua minggu berturut-turut gapapa kan? #kode
          neee~~~ 😄

        2. sampe cliffhanger nya 2 minggu, hashtag yang aku bikin –> #wewantcafelatte #eh
          hahhaa… serius plis senin jadiin. kamu harus tau aku menderita di antara laporan praktikum, tugas, kuis #curhat 😄 sudahlah jjangan dipikirkan. ini namanya mahasiswa lagi galau tothemax #bukakartu ._.

        3. promosi! kya! jadiin dua minggu ah XDD *kemudian digampar
          senin kok senin, iya kakaaak, sabar kakaaaak *pukpuk* perlu saya kasih tau jam berapanya? *eh
          huhu kasian deh yang mahasiswa, sibuk ya? 😄 *yang gak sadar sendirinya taun depan bakal gitu juga *eh

        4. mwahahahah jam-jamnya mah gausah juga ._. hm~
          rasakan kau, nak, tahun depan! #ketawasetan ah sumpah ini seteres tothemax pokoknya ._.
          okeeeh ditunggu yaw pokoke 😄

        5. udah kan itu heuheuheu *evil laugh nggak jadi
          GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!! *heboh *maksimal hebohnya *lalu kalem lagi*
          duh, jadi takut -_-

  2. Ya!!!!!!!!!!! Sungra Sunbaenim wae???????????!!!!! *tanda baca berlebih* Ri jadi galau maksimal tau nggak? </3 tanggung jawab, pokoknya kalau kegantung kayak gini tuh mak krek(?) banget rasanya <//3

    1. wuuuuusss alay kamu dek, DCS SIGMA kok kayak gini? *cough*
      ng… tau gak eaps tanggung jawab gak eaps~ *menjauh pelan *sambil nyanyi dazzling girl(?)
      mak krek… -_- diajarin siapa ini? bu JwT? *eh
      ahahahaha *pukpuk* sabar ya, senin deh senin :3 *kabur lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s