[Cafe Latte] #10.3 | Healed Frostbite

Title: Healed Frost-Bite
Genre: romance, family
Rating: PG-13
Character: itu, itu, dan itu

“Jangan ganggu nuna!”

Keheningan seketika melanda ruang yang sebelumnya berdengung seperti sarang lebah. Semua orang menoleh ke sumber suara –salah satu keponakan Sungra, sedang memukuli kaki seorang gadis yang duduk di bangku bagian tepi, dekat dengan virgin road. Orang yang dikenali Sungra sebagai salah satu antek-antek yeoja itu. Jangmi berusaha menarik anak kecil itu kembali ke tempatnya dengan lembut, kelihatan jelas di wajahnya bahwa ia sudah amat-sangat-bingung-dan-tertekan karena semua keanehan-keanehan ini. Begitu pula dengan appa Sungra yang, meski masih menjaga wibawanya dengan tersenyum tipis, terlihat mulai pucat pertanda malu. Bukannya merona seperti Sungra sekarang –yang bahkan tak tahu merona karena apa.

“Sayang, jangan nakal…” bujuk Jangmi sambil menarik perlahan namja kecil yang masih saja memukuli –meski tidak sampai menyakiti– targetnya. Gadis itu sempat menoleh sebentar, mengamati wajah si ‘korban’ dan tersenyum sekilas sebelum membujuk lagi keponakan Sungra. Berpikir soal apa yang perlu ia katakan setelah ini –perlukah ia sedikit sadis kali ini?

“Aku dengar apa yang kau, ah, kalian katakan tadi. Bahkan anak kecil saja tahu apa yang kalian katakan itu sangat tidak pantas diucapkan di tempat seperti ini, benar, kan, sayang?” Jangmi mengusap kepala namja kecil di sebelahnya yang berhasil ia bujuk agar kembali ke barisan. Nada suaranya, meski biasa, tetap terdengar mengintimidasi. Tanpa menunggu jawaban dari kedua makhluk sialan itu, ia segera kembali ke rombongan kecil yang tersendat di tiga perempat bagian akhir karpet merah panjang tadi. Berlagak membereskan barisan dan merapikan dandanan Sungra sedikit sambil membisikkan kata-kata menenangkan pada gadis itu, yang untungnya dapat direspon dengan cepat oleh Sungra meski hanya lewat anggukan sekilas.

Kelegaan toh tidak berlangsung lama.

Sungra masih tidak juga beranjak –sial, perasaan kaki-seperti-disemen-ke-tanah itu masih melekat erat di persendian kakinya. “Aappa…” panggilnya pelan ke sang appa yang langsung menoleh, menatapnya bingung. “Ada apa lagi, Ra-ah?”

Gadis itu menjawab dengan gelengan. Air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya –kurang sedikit lagi pasti sudah akan tumpah. Ia tahu persis bahwa pada satu titik rasa sedihnya akan meluap karena teringat kejadian kurang mengenakkan beberapa waktu lalu… tapi bukan sekarang, harusnya.

——

“Ini sudah terlalu lama.”

Baekhyun masih menatap ke rombongan kecil yang terhenti di tengah meski Chanyeol telah mengulang kalimat yang sama berkali-kali. Telinganya sebenarnya telah bosan, tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin juga mereka berdebat di sana, kan?

“Baekhyun-a, kau tidak ke sana? Jemput saja dia, tidak apa-apa.” kata Chanyeol lagi. Baekhyun mendongak, menatap manusia blasteran tiang yang berdiri di sebelahnya itu meremehkan. “Ayolah, mana boleh? Tidak pernah ada di kasus pernikahan manapun mempelai laki-lakinya menghampiri mempelai wanitanya di virgin road untuk menuju altar, kan?”

“Mungkin kalian bisa menciptakan trend pernikahan baru. Sudahlah, cepat! Kasihan dia kalau terlalu lama di sana! Lagipula sepertinya dia memang butuh kau bujuk, Baekhyun-a~”

Baekhyun tak lagi peduli dengan kata-kata Chanyeol, meski dalam hati ia mengamini bahwa semua ini sudah terlalu lama dan mungkin memang sudah seharusnya ia menjemput gadis itu di sana. Tapi… ya ampun, dia tidak mampu melawan prokem adat pernikahan yang sudah disakralkan entah-sejak-berapa-ratus-tahun yang lalu. Apa kata orang-orang nanti? Mau dihujat seperti apa? Ck, bagaimana dengan orang tua Sungra yang sudah—

“Turuti saja kata hatimu, bodoh.”

Bisikan Chanyeol barusan melepaskan ikatan terakhir otot sadar yang menahan langkahnya, seperti menyiramkan minyak ke bara api yang mulai padam. Tak sadar ia telah melangkah…

… menimbulkan kekacauan yang makin menjadi dalam bentuk gumaman, meski secara kasat mata suasana terlihat aman terkendali. Eomma Sungra yang duduk di baris paling depan bangku hanya bisa menahan malu –lengkap sudah, sekali lagi hancur.

Baekhyun toh tak peduli. Ia tetap melangkah dalam derap yang mantap dan teratur, tak butuh banyak waktu untuk mencapai Sungra yang kelihatan sama terkejutnya dengan tamu lain karena tindakan namja itu. Mata mereka bertemu dan Baekhyun berhenti setengah meter di depan Sungra, sedikit memaksakan diri di tengah para flower girls dan page boys yang langsung mengeluh tidak suka.

Kaja, semua orang sudah menunggu, Panda.” gumam Baekhyun, sedikit menarik sudut-sudut bibirnya membentuk lengkung kecil. “Ke sana denganku?”

Sungra terkesiap. Ini… memangnya bisa? Maksudnya, dalam keadaan seperti ini? Gadis itu membiarkan Baekhyun berbicara dengan ayahnya. Tidak mau tahu lagi.

Ajusshi?”

“Seandainya boleh pun akan kuperbolehkan, Baekhyun-a. Tapi… kau tahu, kan? Sepertinya tidak bisa.”

“Aku akan berjalan di sebelah kirinya tanpa perlu menggandengnya atau yang semacam itu. Bagaimana, ajusshi? Anggap saja memastikan ia bisa sampai ke altar dengan selamat, hehe…”

Appa Sungra menghela napas kemudian mengangguk perlahan, “Arasseo. Tetap ingat peraturannya, Baekhyun-a; kalian belum resmi, jadi jangan menyentuhnya dulu.”

Baekhyun mengangguk paham sembari mengucapkan terima kasih ke calon ayah mertuanya. Ia melangkah ke sebelah kiri gadisnya, menyempatkan diri untuk tersenyum sekilas padanya. “Tenanglah, kau aman bersamaku.” bisik Baekhyun sembari menempatkan diri di sebelah Sungra. Bersiap untuk kembali ke depan altar dan menyelesaikan upacara ini secepatnya. Semua ini sudah tertunda terlalu lama –lebih baik segera dituntaskan secepat-cepatnya.

——

Masih ada setitik, dua titik kebekuan di sudut-sudut pikirannya. Dibekukan insiden dan hujan deras –hei, ayolah, dingin seperti itu kan cukup menyiksa. Apalagi jika kau hanya memakai gaun ekstra-berat yang sama sekali tidak efisien untuk acara berlari-lari di tengah hujan, dramatis sekali. Pantas-pantas saja kalau ia menempatkan hatinya dalam keadaan extra-frozen yang menimbulkan frost-bite bagi siapapun yang menyentuhnya.

Meski begitu, Baekhyun tidak terpengaruh, ralat, mungkin sedikit. Setidaknya sakit karena frost-bite yang ditimbulkan Sungra tidak membuatnya mundur, kan?

Sungra bersyukur karena Baekhyun tak mundur. Karena Baekhyun memaksanya ini dan itu, juga karena Baekhyun mau menunggunya yang tak juga yakin. Apa yang akan terjadi jika namja itu menyerah karena Sungra terlalu bebal? Ck, bisa-bisa sampai sekarang ia masih berada dalam stase patah hati berkepanjangan yang berbahaya bagi mentalnya.

Baekhyun yang telah selesai mengucap janji menoleh ke Sungra yang sedang termenung. Disenggolnya sekilas pinggang gadis itu hingga ia tersadar dan ganti menoleh padanya, terkejut. “Wwae—“

“Giliranmu.” bisik namja itu pelan. Sungra terkesiap, rasa gugup segera menguasai dirinya —bagaimana ini? desisnya sambil memperhatikan pendeta yang sedang mengucapkan janji di depannya. Menirukan bagian-bagian yang memang butuh ditirukan.

“Berjanji akan mencintainya hingga maut memisahkan.”

Till death do us part.

——

Laki-laki itu menghela napas lega. Semuanya selesai, telah selesai. Ia menoleh ke arah Sungra yang masih berdiri dengan canggung, meski terlihat pula di wajahnya raut kelegaan yang tiada tara.

Prosesi menukar cincin sudah dilaksanakan, Chanyeol berhasil menjalankan perannya dengan baik seperti Baekhyun saat pernikahan temannya itu, dulu. Pendeta tadi menginstruksikan pada Baekhyun untuk membuka veil yang dipakai Sungra –yang serta-merta dilaksanakan olehnya. Ia mendekatkan wajahnya, terkekeh pelan ketika Sungra refleks memejamkan mata. Pikiranmu, Panda~ gumamnya dalam hati sembari mengecup cepat kening gadis itu, membuatnya langsung membuka mata kaget.

“Di bibir sudah terlalu banyak; aku jarang mencium keningmu, kau tahu~”

Hampir saja Sungra tak bisa menahan diri untuk menendang Baekhyun jika saja ia tidak ingat bahwa ia masih mengenakan gaun; dan tempatnya juga sangat tidak appropriate untuk acara tendang-menendang.

Bisa dilakukan nanti, pula.

Gadis itu tersenyum. Tatapannya tertuju ke cincin yang melingkari jari manisnya, kilaunya menyilaukan. Menyiratkan kebahagiaan yang bertubi-tubi menyerangnya dalam gelombang-gelombang yang mengombang-ambingkan; tak masalah, toh namanya tetap bahagia.

Ia mengangkat wajah perlahan dan tatapannya bertemu dengan Baekhyun, membuat rona merah kembali menghiasi rupanya. Baekhyun, dengan senyumnya yang sama –senyum yang katanya spesial-hanya-untuk-Sungra– meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat sembari menuntunnya meninggalkan altar. Kembali berjalan di sepanjang virgin road menuju pintu kapel yang terbyka lebar, mengarah ke hall utama tempat para tamu lain telah menunggu acara selanjutnya: prosesi lempar buket bunga. Atau mungkin lebih tepat disebut lempar-buketnya-lalu-berebutan-dengan-manusia-manusia-lain, menurut Sungra.

“Siap?” Baekhyun bertanya ketika mereka telah mencapai bibir tangga. Sungra mengangguk, “Setidaknya tidak segugup saat berjalan di virgin road tadi.”

Seseorang memberi aba-aba. Sungra melempar buketnya ke belakang dan segera berbalik, matanya mencari di antara para tamu –ke mana buket bunganya pergi?

“Itu, di sana…” Baekhyun menunjuk ke satu arah dan tatapan Sungra segera mengikuti. Matanya terbelalak lebar.

Jangmi?

end.

Advertisements

7 thoughts on “[Cafe Latte] #10.3 | Healed Frostbite”

  1. ‘manusia blasteran tiang’ #ngakak hahahaha sumpah ya bagian itu epic banget.
    oh, oh pertama mau bilang: kurang panjaaaang. #disambit
    kedua mau bilang: ‘itu baek unyu bener yaaaaa, sampe dijemput gitu di virgin road-nya hahaha. bapaknya sungra mati kutu ._. ckckck tapi untunglah ada keponakan sungra itu. hahaha. pergi saja sudah itu antek-antek gaje hm~
    entahlah, walaupun kependekan, tapi aku sukaaa, apalagi bagian lempar-lempar bunga. hiyaaaa, berarti next jangmi yang akan nikah hahaha….
    waaaa Ra~ ditunggu series lainnya yaaa hehe…
    fighting! ^-^
    P.S: As usual, this story just made my day. Thank you~

    1. salahkan tinggi chanyeol (dan kris, dan para blasteran tiang lain di sana) yang nggak manusiawi-_-
      kan bener ahahahahaha. ampun kakak m(_ _)m
      kyaaaaaaa baekhyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuunnnnn *eh*
      iya, soalnya kalau bapaknya sungra mau marah kan juga nggak pas gitu, jadi ya salah satu dari para manusia mini(?) itu aja yang ditumbalin hahahaha. kan masih inosen gitu, dimaafin lah seenggaknya 😄
      iya~ jangmi~ ini semacam kode lho *eh
      ne~ gomawoyooo ^^ waaa seneng nih jadinya hahaha, terharuuu :” *plak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s