[Double-Trouble] #2 | If(s)

Title: If(s)
Genre: ? (like seriously I couldn’t even decide)
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, others
Length: 830 words

Kata ‘seandainya’ adalah kata paling kejam di dunia ini; karena dia membuatmu berani bermimpi yang kemungkinan besar tak’kan pernah tercapai. Kata itu jualah yang memicu otak untuk berimajinasi pesimistis –berbahaya.

Perpustakaan sekolah akan selalu menjadi tempat paling tepat untuk bermeditasi; tenang, damai, dan sepi. Ralat, sangat sepi. Hanya segelintir orang yang rela menyempatkan waktu untuk datang ke sini –jika tidak ingin dibilang bahwa pengunjung perpustakaan sekolah hanyalah golongan kutu buku yang malas bersosialisasi –antisosial, mungkin—dan sibuk berkutat dengan lembar-lembar dari cetakan bubur kertas yang bagi sebagian lainnya membosankan.

Memang begitu adanya.

Engsel pintu yang karatan selalu menimbulkan derit tak mengenakkan tiap mengayun terbuka. Tak masalah, toh yang menggunakan pintu itu juga tidak banyak. Setidaknya tidak begitu mengganggu mereka-mereka yang telah terlebih dahulu bercokol di ruangan ini, kan?

Sayangnya, seseorang menilai hal itu cukup mengganggu baginya dan wajib dilaporkan ke pihak sekolah –kewajiban mereka juga kan untuk menjaga sarana dan prasarana sekolah?

Suara derit itu lagi. Ingin rasanya ia berteriak dari tempatnya berada sekarang –di tengah ruang baca yang dikelilingi rak-rak penuh buku setinggi langit-langit pada tiga sisi dan pintu busuk itu di sisi sisanya–, menyuruh engsel pintu sialan itu berhenti berderit. Ketenangan adalah hak semua orang, kan? gerutunya sembari membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidung, matanya menatap nyalang lewat sudut ekor ke arah pintu yang terletak di sebelah kirinya, berusaha melihat siapa gerangan manusia yang bertanggung jawab atas gangguan barusan.

Hasil investigasinya ternyata berbuah sedikit mencengangkan –setidaknya membuatnya membatalkan niat untuk membunuh orang itu. Tidak, tentu saja ia tidak bisa membunuhnya; siapa sih yang bisa membunuh orang yang ia kagumi?

Bisa jadi ada, tapi itu bukan dia.

Ia masih mengikuti gerak-gerik orang tadi lewat sudut mata, sebisa mungkin berusaha agar tak terlihat mencurigakan; bahasa halus dari ketahuan memperhatikan diam-diam. Ia mengamati bagaimana orang itu berhenti di depan rak berisi barisan buku light novel yang sedikit berlapis debu –pilihan pintar, pujinya dalam hati. Lihat? Betapa tidak logisnya pemikiran seseorang yang sedang jatuh cinta; mana ada orang yang membaca novel dengan alur ringan dan bisa disebut manusia pintar berselera tinggi –setidaknya dalam kaca mata seorang kutu buku yang beranggapan begitu?

‘Tak apalah sesekali ia membaca buku setipe itu. Bukankah biasanya orang itu berkutat dengan buku-buku sastra tebal yang membosankan? Mungkin dia sedang butuh hiburan ringan.’

Atau mungkin, gadis itu sendiri yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Ia kembali mengamati. Bagaimana orang itu menelusuri rak buku dengan telunjuk, mengambil satu judul buku masih dengan tangan yang sama. Berjalan ke area baca dan gadis itu segera berharap agar Tuhan membuat orang tadi melangkahkan kakinya ke arahnya; oh, tolonglah.

Ia terkesiap, napasnya memburu ketika orang itu memilih duduk di kursi kosong yang terletak tepat di depannya. Jantungnya berdetak entah berapa kali lebih cepat dan ia bisa merasakan kulit pipinya yang memanas –sial. Refleks ia menangkupkan novel tebal dalam genggamannya di depan wajah, berusaha menutupi identitasnya dari orang itu. Tidak mungkin ia berharap orang itu tidak mengenalnya karena ia sekelas dengannya, fakta yang entah merupakan kesialan atau keberuntungan karena ada dua sisi di sana. Beruntung karena bisa melihatnya tiap hari, dan sial karena melihatnya tiap hari berarti ia harus ekstra hati-hati agar orang itu tidak dengan serta-merta menyadari bahwa ia selalu memperhatikannya dari jauh. Betapa tragisnya.

Gadis itu terlalu takut tiap membayangkan apa yang terjadi jika orang itu tahu kalau ia menyukainya; bagaimana tanggapannya? Akankah ia… membalas perasaannya? Atau justru akan berbalik menatapnya jijik dan menghindarinya? Bagaimana… bagaimana… dan entah berapa juta jenis pertanyaan yang melengkapi keraguan terus melintas di benak gadis itu. Tak ayal ia merasa kesal sesekali, kenapa jatuh cinta harus serepot ini?

“Sungra, benar?”

Ia terkejut bukan kepalang, tangannya hampir saja melepaskan cengkeraman pada cover tebal bukunya. Terburu ia menurunkan bukunya, mendadak merasa gugup maksimal. “N, ne?”

“Ah, benar ternyata.” orang itu tersenyum. Ulangi, tersenyum padanya. Sekali lagi gadis itu harus berusaha sekuat tenaga agar ia tidak melakukan tindakan yang akan mencoreng imagenya di depan orang itu. Mimpi buruk tingkat akhir baginya. “Ng… iya, jadi… ada apa, umm… Jongin… ssi?” gumamnya pelan yang, sialnya, begitu terbata. Gadis itu berharap setengah mati agar orang itu tak sadar, mau ditaruh di mana mukanya kelak?

“Bukan, bukan apa-apa, hehe. Kita… sekelas, kan?”

Fakta bahwa orang itu ingat kalau mereka sekelas sudah lebih dari cukup untuk membuat gadis itu merasa senang luar biasa, berhubung ia termasuk dalam golongan manusia ‘tersembunyi’ yang tak begitu aktif dan akan mudah terlupakan oleh penghuni kelas yang lain.

Bisakah? asanya mengharap semampunya. Setingginya. Sejauh-jauhnya ia berani berharap.

Gadis itu menghela napas dari balik lembaran buku yang menutupi wajahnya. Seandainya ia bisa terlihat lebih mencolok –tapi bagaimana caranya?

Seandainya ia bisa menarik perhatian orang itu –tapi apa dia bisa?

Seandainya ia bisa mengajaknya bicara, bukannya dia punya modal yang kuat untuk itu? Setidaknya kan –kemungkinan besar—tingkat knowledge mereka bisa dibilang setingkat dan ia bisa menanggapi setiap pembicaraan dengan baik –jikalau ia tak terlampau sibuk bergugup-gugup ria dalam hati.

Seandainya ia tak perlu terlahir sebagai orang dengan kemampuan sosialisasi yang rendah –tapi siapa, sih, yang bisa mengubah takdir yang telah digariskan?

to be continued.

Advertisements

10 thoughts on “[Double-Trouble] #2 | If(s)”

  1. Ngebayangin kalo jongin jadi anak kutu buku *berpikir keras* pantes, panteees haha. Huaaah sungra-ssi, jangan sungkan-sungkan ama jongin mah hahaha… Sukaaaa penggambarannya pas sungra deg-degan dideketin jongin *heaaah*
    Laanjuuuut yaaa, ditunggu. Oiya kalo cafe latte mau dibikin sequelnya juga gapapa *eh *dilempar keluar blog
    Fightinggggg! ^-^

    1. bisa! pasti bisa! *digebukin
      ck, namanya juga orang suka, susah kalau nggak sungkan sama nggak deg-degan *eaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk
      okeeeeeeeee~~~ sequel cafe latte? aaaaa bikin gak yaaaaaaa XD
      ne~ gomawooo ^^

  2. ehem. ehem. eeeehhhheeeeeemmmm!! *plak!
    ih envy deh sama ff ini, bahasanya bagus, nggak ngebosenin, dan keliatan kalo si sungra itu lagi dugundugun(?) gitu :”

  3. eciiee yang dekdekan ketemu ama gebetan *ditabok pake buku ama sungra-_- haha
    saya suka! saya suka! *ala meimei* xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s