[Double-Trouble] #3 | Optimist’s If(s)

Title: Optimist’s If(s)
Genre: ?
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, others
Length: 770 words

Bagaikan pungguk merindu bulan; terlalu jauh untuk digapai meski berada di depan mata, mungkin.

Jongin mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca ketika mendengar suara yang, dengan anehnya, terdengar begitu familiar baginya. Sedikit mengangkat wajah dan tatapan matanya menemukan seseorang –gadis itu.

Tak sadar bibirnya menggurat seulas senyum tipis, mewakili perasaan senang yang mendadak memenuhi benaknya. Melihatnya lagi, hari ini, sungguh sangat menyenangkan. Itulah salah satu dari sekian juta alasan baginya untuk mendatangi perpustakaan –karena selain memang hobinya dan ada penawaran buku-buku baru yang sayang untuk dilewatkan, dia juga yakin bahwa gadis itu akan datang ke tempat ini, meski tujuannya sudah barang tentu bukanlah semata untuk menemuinya. Sesuai hasil pengamatannya selama hampir satu tahun ini, gadis itu akan menunggu temannya –gadis lain yang ia sapa sebelumnya—untuk pulang bersama, selalu begitu. Gadis itu sepertinya tak terlalu menikmati menenggelamkan hidung di bawah jilid buku yang berdebu, berbeda dengan dirinya dan temannya.

Ayolah, basic mereka dari awal juga sudah berbeda. Dimensi mereka itu seperti lingkaran-lingkaran dalam Diagram Venn yang bersinggungan dan terbagi menjadi irisan-irisan, dan dimensi mereka ada di area yang dipisahkan oleh irisan-irisan itu. Bersinggungan, tapi tetap saja tidak ada hubungannya. Tidak melingkupi satu sama lain.

Gadis itu populer. Populer yang mungkin, jika pengertian itu bisa dibagi dalam strata-strata yang jelas, merupakan tingkatan yang lumayan tinggi di sekolah ini. Setidaknya semua siswa sekolah ini mengenalnya dan ia tahu persis bahwa tak sedikit namja yang mengincar gadis itu… parahnya, tidak sedikit pula yang berani terang-terangan mengejar gadis itu dengan cara masing-masing. Entah itu dengan cara halus semacam lewat surat penuh rayuan memuakkan atau memberi hadiah-hadiah kecil atau yang nekad mengajak makan siang, kencan, juga mengungkapkan perasaan di depannya langsung. Dan Jongin pernah melihat bagaimana gadis itu menolak mereka semua dengan dingin, namjanamja yang mendekatinya itu. Sering malah. Padahal ia tidak sekelas dengan gadis itu –akan sebanyak apa yang ia lihat jika ia sekelas dengannya?

Sebagai seseorang yang baru sekali ini merasakan yang namanya menyukai orang lain, tentu Jongin tak punya pengalaman yang bisa dijadikan referensi. Tak ada dalam kamus hidupnya term bernama mendekati yeoja. Berinteraksi dengan gadis pun masuk kategori jarang baginya. Memang jika dilihat secara kasat mata ia tak kalah popular di kalangan gadis-gadis sekolah ini, layaknya kakak kembar beda enam menitnya itu –meski alasannya bisa dibilang sedikit berbeda–, tapi tetap saja…

Ini toh dua kasus yang sama sekali berbeda; didekati dan mendekati. Berpengalaman –tak langsung—di yang pertama, tapi sama sekali kosong dalam yang kedua.

Dan gadis itu sepertinya bukan tipe yeoja yang mudah bertekuk lutut seperti yeojayeoja biasa lain. Sial, harus bagaimana?

Namjanamja yang pernah ditolak olehnya tidak bisa dibilang berwajah jelek atau apa. Cenderung para manusia flamboyant —atau dalam kata lain, playboy sekolah—lah yang berani mendekati gadis itu, pun tak pantang menyerah meski ia selalu menampik dengan tatapan sedingin es dan kalimat setajam pisau. Bila mereka saja ditolak, lalu bagaimana dengan dirinya yang seperti ini?

Siapa yang bisa ia sumpahi hingga puas? Orang lain? Tapi siapa? Tak ada yang cukup pantas untuk ia layangkan gerutu yang bahkan tak mampu ia lukiskan dalam huruf dan kata. Lalu ke mana lagi ia harus berteriak marah? Dirinya sendiri? Cukup, dia sudah cukup muak oleh semua ini. Salahkan saja sesuatu yang menyelimuti tubuh dan pikirannya, menjadi sulur-sulur halus yang telah meliputinya sejak lama, menahannya agar stagnan di tempat. Lebih tepatnya, sisi protagonis nan innocent sialan yang menahannya dalam kurungan dunia introvert dan mungkin akan menjadi kekang terkutuknya hingga ia mati nanti.

Bahkan kematian manusia-manusia setipe Jongin telah teramalkan tanpa perlu payah-payah menatap bola kristal atau segala rupa alat milik ahli nujum lainnya, begitu pula dengan kehidupan monoton yang membosankan. Mereka akan mati dengan sama membosankannya jika tidak berusaha mengubah hidup yang serupa garis lurus bergradien 0.

Dan Jongin, anak itu baru saja mendapat asupan energi baru demi usahanya mengubah diri juga masa depan yang telah diprediksikan banyak orang.

“Rae, kau mau pulang kapan? Sekarang bagaimana? Sudah sore, nanti eomma ribut menungguku pulang.”

“Ng? Sekarang saja kalau begitu! Kaja!”

Aish, kau ini. Ke perpustakaan hanya untuk menumpang tidur, hmm? Sia-sia sekali~”

“Aku bosaaaaaaaaaaaaan~ kau sih, lebih mementingkan membaca buku daripada mengobrol denganku~ a, aku boleh main?”

“Ck, iya, dasar penghabis makanan. Coba pikirkan apa yang akan terjadi jika orang-orang di sekolah tahu porsi makanmu hampir empat kali porsi makan orang lain.”

“Ya paling-paling mereka hanya akan mengejekku saja, kan?”

“Tidak peduli dengan popularitasmu?”

“Persetan dengan itu~ aku toh tidak pernah meminta dan berusaha jadi populer, jadi ya sudah. Ah, ayolaaaah~ cepat pulaaaang~”

Jongin mengawasi kedua gadis yang berangsur menjauh dari tempatnya sekarang. Benaknya merangkum diam-diam sebuah ide baru –mungkin anak itu akan bisa membantunya mendekati gadisnya tersayang.

to be continued.

ah, mian baru update; baru selesai minggu neraka (baca: ujian akhir semester), hehe._. dan mian juga karena ini pendek (banget) dan mungkin nggak mutu ;_;

Advertisements

13 thoughts on “[Double-Trouble] #3 | Optimist’s If(s)”

        1. iyups, mbak bahasa. since you tend to get way-higher score than the others (dan ditinjau dari kemampuan berbahasa anda juga)

          NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!! ANDWAEYO ANDWAEYO geureohke kajimayooooo!! *lah

  1. *narik napas* JONGIIIIIIIIINN!!!! ADEEEEEEEKKK!!! *eh
    GAAAAAHHH SAYA SUKA CHAPTER ENEEEEEHHH!!!
    lanjutkan ff yang kayak gini–eh, maksud onnie, gaya bahasamu yang ini loh, keyen :3
    jadi onnie bacanya tu kayak bareng ikan paus yang ngelompat sampe langit ke tujuh trus ada pesawat lewat ternyara pilotnya Kai dan kita ditabrak, tamat *plak!

  2. wah, dilihat diraba diterawang(?) dari gelagat nya kkamjong, kayanya bakalan terjadi cinta persegi panjang nih.. *bosen cinta segitiga mulu-_- haha
    emm, author.. –yang aku tidak tahu umurnya berapa, jadi ragu mau panggil eonni– maaf ya, numpang baca T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s