[Double-Trouble] #4 | Second Side

Title: Second Side
Genre: slice of life
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, some OCs (either with name or not)
Length: 1399 words

Semua keputusan manusia pasti didasarkan pada sebuah alasan yang bisa saja berbeda bagi tiap orangnya. Alasan-alasan yang memotivasi, menjadi detonator yang melesatkan energi-energi dari keputusan-keputusan itu hingga berefek dahsyat –entah itu baik maupun buruk– bagi semua pihak yang terlibat. Suka tidak suka, mau tidak mau, pasti akan tetap terimbas meski hanya sepersekian persen saja.

Ponsel tipis warna hitam itu terus-menerus berbunyi tiap beberapa menit sekali, menandakan adanya pesan masuk dalam tempo yang cukup rutin. Entah sudah berapa belas pesan yang masuk dan belum ada yang terbaca mengingat pemiliknya sedang sibuk menggosok gigi di kamar mandi.

Lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi mengayun terbuka dan seseorang dengan kepala tertutup handuk putih melangkah keluar menuju satu di antara dua pintu lain yang berdampingan. Tangannya memutar handle pintu itu cepat sebelum kemudian ia menghempaskan badannya di atas kasur keras-keras. Ia berguling sekali ke kiri, menendangi benda-benda yang terserak berantakan dan mengusutkan selimut yang dihamparkan di atas kasur. Tangannya merambah di antara lipatan bantal, berusaha mencari benda kecil-keparat-berisik yang terus-menerus berbunyi sedari tadi. Ia bahkan mendengarnya terus dari kamar mandi –seandainya kembarannya sudah pulang pasti ia akan diomeli habis-habisan karena membuat berisik di rumah. Lawas sekali.

Ia mengeringkan rambutnya sambil membaca belasan pesan masuk. Dari gadis yang tempo hari mendekatinya, tipikal gadis populer-cerewet-centil-berisik itu. Ia ingat kalau beberapa waktu yang lalu gadis itu memberinya cokelat, bahasa halus untuk mengajak berkencan –dan hari ini ia mengonfirmasi ajakannya itu lewat SMS. Tidak sabaran sekali sepertinya.

“Ck, yeoja jaman sekarang… rela menjatuhkan martabat mereka dengan bertingkah genit pada namja, hmm?” ia tersenyum miring, mengetikkan balasan singkat pada gadis itu. Sama sekali tidak berniat menjual diri, tapi setidaknya dia tahu balas budi. Lebih-lebih cokelat kemarin lumayan enak… dan mahal, kalau dilihat dari price tag yang ia baca di toko grosir dekat rumah saat belanja snack di hari yang lain.

Ia bangkit dari posisi terlentangnya lalu berjalan ke lemari kayu yang tertutup rapat. Berganti pakaian dengan helai pertama yang terenggut oleh tangannya dari hanger, bibirnya meloloskan umpatan sekilas saat dering ponsel yang lebih panjang lagi-lagi mengganggunya. “Ne?” sapanya malas sambil mengancingkan celana jeans panjang. Refleks ia menjauhkan ponselnya dari telinga ketika mendengar suara gadis itu lagi, kali ini bicara dengan nada oh-yang-benar-saja-oppa-kau-mau-pergi-denganku? yang kelewat bersemangat, menanyakan di mana mereka perlu bertemu.

“Kujemput saja. Alamatmu?” ia balas bertanya, sebelah tangannya mengacak rambutnya yang telah diberi sedikit styling gel sambil menatap cermin. Berantakan tapi cukup rapi, harusnya.

Ne, ne, aku tahu. Ya, sampai bertemu nanti.” putusnya begitu gadis itu selesai menyebutkan alamat, tidak memberi kesempatan lebih jauh bagi manusia dengan frekuensi pita suara abnormal itu untuk menambahkan ceramahnya. Gila saja, sepertinya ia tidak bisa membuat suara yang lebih rendah dari babi menguik.

Kakinya melangkah dengan ogah-ogahan menuju pintu kamar yang tertutup rapat. Sekali lagi, beruntung kembarannya belum pulang karena ia tak perlu pamit dan mendapat tatapan dasar-playboy­-kurang-ajar yang biasanya dilontarkan oleh kembarannya tersayang tiap ia berkata akan berkencan dengan yeoja A hingga yeoja Z. Padahal hanya berkencan, tidak memacari, kan? Bukannya yang namanya playboy itu yang gonta-ganti pacar sesering musim pohon buah berbuah?

Baru saja ia akan meraih pegangan pintu ketika daun kayu tebal itu mengayun terbuka dan wajah kembarannya muncul tiba-tiba. Sedikit berjengit kaget, ia meninju pelan lengan saudaranya sambil mengangkat sebelah alis, “Baru pulang? Tumben. Biasanya pukul lima sudah pulang, atau…” ia memasang wajah dramatis, terperangah sambil menutupi mulut dengan ekspresi berlebihan. “Kau… akhirnya sadar kalau ada dunia di luar buku dan mulai mengeksplorasi?”

Kembarannya mendengus dan balas memukul bahunya, “Ck, kau. Tadi ada tugas kelompok…” ia mengamati dandanan kembarannya itu, “Tumben rapi. Ke mana? Ada kencan lagi?”

“Kau tahu.” ia mengangkat bahu sambil membenarkan letak kemeja luaran di badannya. “Nah, jaga rumah, jangan aneh-aneh, dan…”

“Masih belum puas menjadi playboy sekolah? Butuh berapa yeoja lagi, sih? Aku sampai bosan melihatmu mengencani gadis yang berbeda tiap minggunya.”

Ia kembali mengangkat bahunya, “Bukan playboy, Jongin sayang. Hanya menjadi orang yang tahu terima kasih dan tahu balas budi. Mereka memberi, ya aku beri balasannya. Bila mereka minta barang ya kuberikan, meminta pergi kencan juga kulakoni. Kan? Itu namanya keseimbangan. Kau harus bisa membedakan yang seperti itu, kembaranku tercinta.”

Jongin menatap Taemin dengan tatapan jijik, paling tidak suka bila Taemin mulai memanggilnya dengan embel-embel ‘sayang’. “Ara, sesukamu saja. Cepat pergi, kasihan kencanmu hari ini.” gumamnya bosan sambil melangkah masuk ke rumah, meninggalkan Taemin yang menggelengkan kepala sambil beranjak keluar dari rumah.

“Lagipula aku begini juga ada tujuannya, kok~”

—–

Oppa!”

Taemin menahan diri agar tidak mengerutkan hidungnya ketika mendengar suara nan menyebalkan itu dari gadis yang sekarang sudah bergelayutan dengan seenak jidat di lengannya. Oh, ayolah, dia tahu lengannya memang enak dipeluk –dan cukup berotot, meski hampir tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kembarannya yang diam-diam menghanyutkan itutapi kan tidak harus begini juga bisa, rutuknya dalam hati. “Ne? Ke mana hari ini?”

“Makan malam? Atau bioskop? Aku kira oppa sudah tahu kita akan kemana~” rengek gadis itu sambil sedikit memanyunkan bibirnya. Astaga, menjijikkan. Tolong selamatkan aku, Tuhan.

“Baiklah, kau mau yang mana? Aku terserah kau saja…” kata Taemin akhirnya. Gadis itu memberengut, kentara sekali sedang merajuk. “Oppa jahat!” katanya kemudian, membuat Taemin harus menahan keinginannya untuk mencakar wajah manusia di depannya.

Mall saja, eotte? Kita… bisa menonton lalu makan malam, bagaimana?”

“Ide bagus! Kaja, oppa!”

Taemin merutuk sekali lagi dalam hati sambil mengencangkan tali helmnya, Semakin menggerutu ketika ia merasakan lengan gadis sialan itu melingkari pinggangnya dalam pelukan yang begitu ketatnya sampai rasanya bisa saja ia tiba-tiba mati tercekik, kehabisan suplai oksigen yang masuk ke tubuh. Oh sial sial sial sial sial.

—–

Namja itu menutup mulutnya, berkali-kali menguap karena bosan. Matanya menatap kosong ke sekitar butik yang sepi, di sekitar puff kotak yang ia duduki tergeletak beberapa tas belanjaan milik gadis yang sekarang sedang sibuk memilih barang-barang dengan label sale di dalam butik. Yah, setidaknya ia tak harus membayar untuk semua barang yang dibeli oleh gadis centil menyebalkan itu.

“A! Ada diskon! Sungra~ ayo ke sini!”

Taemin tersentak, kepalanya refleks menoleh ke sumber suara yang sangat familier bagi telinganya. Dan seketika segala derita yang ia tanggung memudar, menguar sebelum kemudian menghilang tanpa jejak. Perasaannya segera berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi bersyukur karena sudah diseret-seret ke sini. Beruntung gadisnya itu juga berbelanja di sini… ah, tunggu, apakah ini bisa disebut takdir? Pasti bisa. Harus bisa, entah bagaimana caranya.

Ia sengaja berdiri, berlagak meluruskan kaki padahal perlahan melangkah mendekati tempat gadisnya berada, jauh di sayap kiri butik itu, berseberangan dengan tempatnya menunggu tadi dan dengan tempat si-cempreng-menyebalkan berada. Keuntungan lain.

Jemari tangannya bergerak menelusuri lembaran-lembaran bahan pakaian yang tergantung di hanger display, modus lain agar tak terlihat mencurigakan. Sebuah skenario kuno-nan-kacangan-tapi-biasanya-berhasil telah tersusun rapi dalam benaknya; ia akan datang, berpura-pura tak sengaja berpapasan lalu menyapa dan akhirnya berlanjut dalam obrolan. Setidaknya cukup membantu dalam mendekati gadis incarannya itu.

“Hai, yeppeo~ sedang belanja?” sapanya ketika jarak di antara mereka hanya tinggal tersisa semeter saja. Kedua gadis itu menoleh, satu dengan dandanan ala remaja jaman sekarang –rambut panjang yang sedikit diikal, pakaian semi-kasual, wedges dengan sol tak terlalu tebal– dan satu lagi, gadis dengan penampilan kutubuku, tak perlu dijelaskan, toh hanya rambut yang dikucir kuda, kacamata yang bertengger di hidung serta gaya pakaian biasa. Konvensional.

Gadis yang ia maksud itu, Raena, hanya menatap Taemin dengan tatapan jijik seolah namja itu adalah makhluk paling menjijikkan yang pernah ia lihat di dunia ini. Serta-merta ia menggamit lengan gadis berkacamata di sebelahnya, membisikkan sesuatu sebelum kemudian menarik gadis itu pergi dari butik tersebut secepatnya, meninggalkan Taemin yang masih berdiri di tempatnya, sikunya disandarkan di rak hanger yang ada. “Ck, kau ini.” gumamnya sambil tersenyum, tapi tidak sinis. Jenis senyum yang akan ditunjukkan oleh seseorang yang sangat tertarik pada sesuatu. Tentu saja objeknya gadis yang tadi itu.

“Kau tahu? Aku seperti ini juga karena kau, yeppeo~” gumamnya sambil menelisik pakaian yang tadi dilihat gadis itu. Tipe one-piece bermotif floral warna pastel yang manis, dan ia yakin akan sangat cocok di tubuh gadisnya. Selera yang bagus.

“A, oppa, kau memilihkan itu untukku? Seleramu bagus juga, aku suka~”

Suara itu lagi. Taemin menghela napas, memaksakan senyumnya lalu menggeleng. “Aniyo, hanya melihat-lihat saja. Sudah selesai?”

Tak ada tanggapan. Si manusia cempreng masih memperhatikan sepotong pakaian yang hendak dikembalikan oleh Taemin ke gantungannya itu, dan sebelum ia sempat mengaitkan kepala hangernya ke tempat semula gadis itu telah terlebih dahulu merebutnya dari tangan Taemin. “Sudah, dan aku mau beli ini~ cocok untukku, kan? Iya, kan, oppa?”

Tak ada yanglebih cocok dengan pakaian itu daripada Raena-ku, bodoh. Daripada gadisku tersayang.

to be ontinued

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #4 | Second Side”

  1. ada cewek genit deket-deket tae, dan dia ngeladenin *eh
    jago PHP nih si tae -3-
    sangatsangatsangat suka karakter raena disini *ehaks
    *baca lagi* yaampun, genit banget, sumpah, cara ngedeketinnya itu loh –> “Hai, yeppeo~ sedang belanja?” itu tuh….onnie ngebayanginnya taemin pake baju bungabunga dengan celana cutbray(?) sama rambut kribo ala roma irama taun kapan gitu *plak!
    OKE! akan lanjut komen ke ff laennya, tapi nyusul *winkwink *buingbuing *menghilang

    1. iya, jelek, nakal -_- jago bangets, bisa dapet rekor *eh
      oooooh karakter dinginpolosinosen itu? iya? itu? *eh
      *ngakak dulu *bergulingan* gak separah itu jugaaaaaaaaaaaaaaaaaa =______________________=
      dan kemudian menghilang beneran –“

  2. oke taemin –‘ image nya berubah banget sumpah… tapi suka juga sih, hahaha, secara mukanya juga memenuhi kok #lah
    haha lanjuuuut yaaa, kutungguin. fighting! ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s