[Double-Trouble] #5 | Cocoon

Title: Cocoon
Genre: friendship, slice of life
Rating: PG-13
Character: umm…
Length: 1404 words

Karena berubah tak pernah semudah membalik telapak tangan.

Gadis itu menatap lekat refleksi di depannya dalam cermin sederhana yang terpasang begitu saja di meja rias kamarnya. Terngiang dalam telinganya suara Raena yang mengusulkan padanya untuk mengubah penampilannya yang, menurut gadis itu, monoton. Ia pun akhirnya mengiyakan sekarang setelah mengamati dengan teliti setiap sudut dirinya dalam pantulan kaca cermin; kacamata dengan lensa ukuran minus tebal, rambut panjang yang biasanya dikucir kuda kalau tidak dijalin dalam sebuah kepang, wajah polos tanpa sapuan apapun bahkan bedak. Membosankan dan culun.

“Ayolah, mengganti penampilan kan bisa menambah rasa percaya dirimu!” Raena berkata sambil memain-mainkan rambut Sungra, membentuknya dalam berbagai gaya yang entah apa itu namanya. “Selain itu, kan bisa sekalian untuk menarik perhatian namja~ meski itu tidak selalu berarti baik, sih.”

Sisanya Sungra tak begitu jelas menangkap, karena kalimat terakhir Raena tadi berhasil menyihir pikirannya hingga ia menatap ‘mengubah penampilan’, ‘make-up’, dan ‘berdandan’ dengan cara yang berbeda. Bagaikan kalimat sim-salabim-abrakadabra yang seketika menghipnotisnya. Pemandangan rupa Raena yang tengah menceramahinya tak dapat lagi masuk dalam lobus parietalis otaknya –pendeknya, sejenak ia kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih dan lurus, seperti korban pencucian otak.

Salahkan juga Jongin yang sedikit memiringkan otaknya… oh, oh, lihat, terbayang wajah namja itu saja sudah cukup untuk membuat wajah Sungra memerah tak karuan. Terbentuk bayang-bayang kasar dalam benaknya soal bagaimana Jongin akan bereaksi pada penampilan barunya… yah, siapa tahu?

Beruntung Raena tak menyadari perubahan di wajah Sungra karena anak itu terlanjur sibuk sendiri dengan rencana akbarnya.

Biasanya Sungra menganggap bahwa memakai make-up hanya merepotkan diri sendiri saja. Cara hidupnya yang praktis tentu tak bisa diajak kompromi dengan duduk di depan meja rias barang beberapa menit saja untuk merias diri. Lagipula, baginya ia belum begitu membutuhkan sesuatu yang bernama make-up di wajahnya. Sudah cukup nyaman dengan keadaan dirinya yang sekarang, mungkin adalah deskripsi yang lebih tepat.

Ia bukan tipe manusia yang bisa menerima dan menampung perubahan, terutama yang terjadi pada dirinya dan di sekelilingnya. Padahal dalam setiap detik yang bergulir malas sesuatu pasti berubah –susunan elektron dalam sebuah atom, menit yang makin mendekati menit berikutnya, jam ke jam berikutnya, hari yang berganti dengan teratur. Kata-kata Raena tadi turut menjadi semacam pencerahan bagi otaknya yang kelam oleh fobia pada perubahan.

“Lalu, coba lihat ini!” Raena masih saja berceramah tanpa menyadari bahwa jiwa orang yang ia kuliahi tak lagi bercokol dalam raganya. Ia menunjuk kacamata tebal Sungra yang setia bertengger di hidung gadis itu, “Lihat, kan? Kacamata ini menutupi matamu, padahal bentuk matamu itu bagus~ bagaimana kalau diganti dengan lensa kontak?” repetnya sembari menarik perlahan bingkai biru tua tersebut. “Nah! Benar! Sayang kalau matamu tertutup terus, Sungra-ah~ kau setuju denganku, kan?”

“Ng? Eh? Apa? Oh, ah, ne, aku setuju…” jiwa gadis itu belum juga masuk sempurna ke badannya. Jawabannya terasa mengawang tapi toh Raena tak peduli. Semangat gadis modis itu kembali muncul, semangat untuk menjalankan rencana top dalam benaknya: me-make-over sahabatnya tersayang itu habis-habisan. Hingga tak ada lagi yang bisa mengenali gadis itu jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

“Sudah aku putuskan! Kita akan belanja, hari ini, sekarang juga!”

—–

Berbelanja, entah itu sekadar window shopping atau shopping dalam arti sebenarnya bukan termasuk kegemaran Sungra. Ia menolak dengan keras pemaksaan dalam bentuk eksploitasi kaki dalam rangka mengitari mall, berjalan keluar-masuk toko-toko untuk melihat barang yang dijual. Sebagai penganut mahzab anti-repot garis keras, tentu saja ia tak pernah mau bercapek-capek ria memilih seperti itu. Tiap kali membeli pakaian –itupun jika diajak oleh ibunya atau oleh Raena–, maka ia hanya akan memilih di toko pertama yang ia singgahi, jika ada yang sesuai dengan seleranya. Tidak ada istilah memilih di toko kedua, ketiga, dan seterusnya, karena saat itu ia pasti lebih suka duduk dan menunggu daripada ikut berputar-putar menghinggapi rak-rak yang ada. Bila pada akhirnya ada item yang ia beli, pasti itu adalah pilihan orang lain yang kemudian ia iyakan sambil lalu. Beruntung manusia-manusia yang sering mengajaknya belanja cukup beradab dalam hal fashion, sebagai contoh, ibunya dan Raena.

“Rae~ masih lama?” tanyanya setelah sekian kali menguap. Baru saja mereka memasuki toko ketiga dan gadis itu sudah menguap sebanyak lima kali –mungkin lebih, jika ada yang luput dari hitungannya. Padahal ini belum ada setengah dari program-belanja-untuk-makeover yang sudah disusun Raena sejak… mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Intinya, semua toko yang terjadwal untuk disambangi sudah termasuk toko pakaian, toko sepatu, toko tas, dan satu lagi yang tidak boleh terlewatkan, optik. Main item make-over hari ini adalah lensa kontak, bukan?

“Ck, kita baru saja masuk, Sungra sayang~ mana semangatmu untuk mengubah penampilan, huh?” Raena berkata sementara tatapannya tertuju pada barisan baju terusan yang dipajang di hanger. Sepertinya model yang akan in untuk beberapa masa ke depan adalah terusan selutut bermotif floral kecil-kecil dengan warna pastel. “A, kau suka yang ini? Ini bagus untukmu~” ia mengacungkan pakaian itu di sebelah Sungra yang diam. “Bagaimana? Bagaimana?” kicaunya antusias. Tentu saja, hobinya selain berdandan adalah mendandani orang lain.

Sungra menggeleng pelan, “Bukan seleraku, Rae-ya…” tolaknya. Menurut hemat pikirnya, pakaian seperti itu akan sia-sia saja jika berada di badannya. Berbeda jika Raena yang memakainya, pasti akan langsung terlihat sangat bagus bahkan meski ia memakainya tanpa aksesoris tambahan. Pun hanya akan menjadi pajangan yang menganggur di lemari pakaiannya, paling-paling hanya terpakai sekali seperti baju-baju manis lain yang dibelikan oleh ibunya.

“Bukan seleramu?” Raena mendesah kesal, sedikit berlebihan. “Ayolah, seleramu itu kan… bukannya bermaksud menghina, tapi seleramu itu membosankan, Ra—- ya! Jangan membantah! Aku tahu kemeja dan jeans itu tidak buruk, tapi isi lemari pakaianmu hanya itu! Monoton!”

Sesi ceramah yang lain.

Gadis itu menahan kuapnya, lebih memilih diam tanpa mendebat karena ia tahu persis bahwa segala hal yang diucapkannya hanya akan menjadi emisi karbon dioksida yang sia-sia, apalagi jika melawan Raena dan topiknya adalah masalah fashion. Lebih baik diam, mendengarkan, dan membiarkan Raena melakukan apapun yang ia inginkan, bahkan meski gadis itu akan memborong seluruh isi toko dengan dalih semua barang itu akan ia gunakan untuk me-make-over Sungra secara total, ditambah bonus beberapa potong artikel pakaian pilihannya sebagai ongkos ‘jasa’nya. Salahkan juga eomma Sungra yang telah mempercayakan kartu kreditnya pada Raena dalam hal ini –bukan kartu kredit biasa, pula. Platinum Unlimited. Siap dipakai sampai menguras rekening ke sen-sen terkecil.

Persekongkolan para wanita terkadang begitu mengerikan.

“Oke! Yang di sini sudah selesai!” benar saja, tahu-tahu Raena sudah kembali dengan sebuah paperbag bertuliskan nama toko yang sedang mereka kunjungi. Tiba-tiba saja membeli tanpa meminta persetujuan yang bersangkutan, sedikit seenaknya, tapi sudahlah. Tak ada gunanya jika digubris terus.

Malas-malasan Sungra menyeret langkahnya mengikuti Raena yang berderap semangat ke koridor mall yang dipenuhi lalu-lalang manusia. Matanya mencari-cari di tengah keramaian hingga tertumbuk ke toko lain dengan tulisan ‘SALE’ terpajang besar-besar dengan huruf yang dicetak tebal, kontras dengan warna latar tulisan tersebut.

“Berikutnya~” gadis itu mengumumkan pada Sungra yang telah lebih dulu mengutuk nasibnya dalam hati. Menyesal telah menyetujui rencana semi-gila Raena tadi.

—–

“Kardigan yang ini lucu!”

“A! Aku ingin punya yang seperti ini! Bagaimana menurutmu?”

Mati kutu untuk entah-kesekian-kali-nya bagi Sungra. Setidaknya kali ini Raena melibatkannya dengan penuh paksaan, jika tidak, mungkin sekarang ia sudah berlumut di atas kursi puff nun di sana.

“Mana yang lebih bagus? Aaaaa aku suka keduanya~”

Gadis itu menoleh, memperhatikan dua buah blus yang diacungkan Raena di depannya. “Dua-duanya bagus, ambil saja semuanya~” katanya cepat. Raena memanyunkan bibirnya, kentara sekali ia tak puas dengan kalimat Sungra barusan. “Ck, tidak ada usul lain?”

“Kau bisa beli semua, ambil yang paling kau sukai, satunya… katakan saja pada eomma kalau itu untukku, bagaimana?”

Raena mengangguk semangat, mendadak jadi sangat menyukai ide Sungra. “Bagus! Nanti kita bisa bertukar juga, ini cocok untukmu~” celotehnya, kemudian ia kembali sibuk dengan baju-baju lain yang terpajang di gantungan. Gadis di sebelahnya hanya menghela napas, berusaha menyabarkan diri agar tak lantas mengamuk karena capek di sini.

“Ini? Terusan femi—“

“Hai, yeppeo~ sedang belanja?”

Kedua gadis itu menoleh dan serta-merta Sungra mengerutkan ujung hidungnya tak suka. Ck, apa harus si playboy sekolah ini mengganggu mereka… dan terutama, Raena? Di saat seperti ini?

Sementara Raena… gadis itu hanya menatap Taemin dengan tatapan paling sinis yang ia punya, kemudian menarik lengan Sungra agar sesegera mungkin meninggalkan tempat itu dengannya. Jijik bukan main oleh apa yang dilakukan Taemin barusan.

“Memangnya dia pikir aku yeoja sembarangan yang bisa ia goda begitu?!” sembur Raena setelah mereka berhasil ‘kabur’. Sungra menahan senyumnya, lebih memilih menepuk-nepuk kepala Raena pelan. “Ne~ sudahlah, lupakan saja~ mau lanjut atau pulang?”

Sedetik kemudian, Sungra kembali menyesali perkataannya, segera saja merasa seperti menggali kuburannya sendiri ketika Raena –lagi-lagi– dengan bersemangat menariknya ke butik sepatu terdekat.

to be continued.

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #5 | Cocoon”

  1. ;;;A;;; kakakkkkkkkk ;^; kenapa kehidupan sungra-raena-taemin-kai itu sepertinya asik sekaliiii~~~ aku iri sama kartu kreditnya, platinum unlimited-_- *dalam masa stres kartu atm disita* huaaaa *seketika pundung* #eh :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s