[Double-Trouble] #6 | White Lies

Title: White Lies
Genre: angst, school life, friendship(?)
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OC(s)
Length: 1134 words

Sungra menyelipkan badannya di antara lemari-lemari perpustakaan, tempat paling aman di sekolah ini menurutnya –terutama jika kau teman dari seorang Kim Raena dan sering menjadi korban bully serta dicap penjilat. Yang benar saja.

Gadis itu menghela napas, tangannya meraih acak buku dari barisan punggung bertuliskan judul yang berada di depannya. Setidaknya keberuntungannya masih bersisa karena ia ternyata mengambil novel baru yang pasti belum terjamah tangan siapapun.

Dengan semangat yang kembali memuncak, Sungra melangkah ke area baca yang begitu-begitu saja, sepi dan lengang. Mengambil tempat di kursi terdekat yang bisa ia capai, bersiap membaca dan…

“Maaf, tapi… ini… kursiku, bisa tolong pakai kursi yang lain?”

Sungra mendongak, bersiap melontarkan argumen soal memangnya-kau-pikir-ini-kursi-nenek-moyangmu ke orang yang menegurnya barusan, tapi ia dikhianati oleh napasnya yang langsung tercekat karena wajah seorang Jongin tiba-tiba sudah berada di hadapannya.

—–

Jongin memberesi bukunya lima menit sebelum bel pulang berbunyi. Bersiap untuk langsung meninggalkan kelas begitu pelajaran sejarah yang membuat mata berat ini selesai. Tidak tahu mesti ke mana, sih… mungkin makan siang lalu ke perpustakaan, atau kebalikannya, atau langsung ke tujuan kedua, toh perutnya belum kosong-kosong amat. Hari ini dirinya sedang malas menginjakkan kaki di rumah kosong cepat-cepat.

Ia melirik ke kiri, tempat kakak kembar enam menitnya duduk. Ralat, tempatnya tidur. Taemin sudah mengumumkan bahwa ia amat-sangat-mengantuk sejak sebelum pelajaran sejarah dimulai, dan dalam lima menit pertama pelajaran kesadarannya telah hilang. Beruntung mereka duduk di belakang Chanyeol dan Minho, para raksasa itu, dan beruntung pula karena seonsaengnim yang mengajar sejarah lebih suka duduk sambil menerangkan daripada berjalan-jalan keliling kelas.

Bel berdering dan sebagian besar anak segera mengulas ekspresi lega di wajah masing-masing. Termasuk Jongin yang melepaskan kacamata dan menaruhnya di tempatnya, kemudian menoleh ke Taemin yang, secara ajaib, telah terbangun tanpa perlu dibangunkan. Mungkin telinganya memiliki sensor khusus yang sangat peka terhadap suara bel pulang sekolah.

“Jongin, kau langsung pulang?”

Jongin menggeleng. “Biasa.” jawabnya singkat. “Kau?”

“Aku? Ada acara sebentar, pulang setelah makan malam. Tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan untukku.” Taemin, seperti biasa, langsung melesat keluar kelas tanpa mempedulikan Jongin yang masih duduk di bangku. Sempat terlihat oleh Jongin sosok seorang gadis –kemungkinan adik kelas—yang tiba-tiba saja muncul di depan pintu dan langsung merengkuh lengan Taemin begitu kembarannya itu sampai di mulut pintu. Jongin bergumam pelan sambil berdiri, turut melangkah meninggalkan kelas yang mulai lengang.

—–

Sungra berusaha dengan keras untuk kembali mengambil-alih pergerakan saraf vagus-nya agar dapat berucap setidaknya satu kata maaf. Butuh usaha ekstra hingga akhirnya ia berhasil menggumamkan kata itu dengan sangat pelan sambil bergeser menjauh dari Jongin yang menatapnya keheranan. Lengkap sudah, Lee Sungra-ssi.

Salahkan Jongin yang tiba-tiba muncul. Salahkan pula wajahnya yang terlihat makin… sempurna dengan kacamata ber-frame hitam tipis yang hanya ia pakai saat membaca… kenapa aku malah memikirkan hal seperti itu?!

“T, tunggu, aku berkata begitu bukan berarti aku mengusirmu!” panik, Jongin mencekal pergelangan tangan Sungra, membuat gadis itu kembali membeku karena tak terbiasa melakukan kontak dengan laki-laki selain anggota keluarganya. Ditambah fakta bahwa Jongin-lah yang menahan tangannya, sama sekali tidak memperbaiki keadaan.

“A, anu, maaf, tapi… aku ingin menanyakan sesuatu padamu, bisakah?” laki-laki itu menarik Sungra pelan agar duduk di kursi yang terletak di sebelahnya. Mulut gadis itu terkatup, hanya anggukan yang hampir tak kasat mata-lah yang menjawab pertanyaan Jongin barusan. “Ah, baguslah, terima kasih… ng… Sungra-ssi.” Jongin melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Sungra setelah yakin bahwa gadis itu tak mungkin melarikan diri. Apakah perbuatannya barusan membuatnya takut? Sepertinya tidak.

Diam sebentar. Jongin sibuk memilah kata-kata yang akan ia lontarkan sementara Sungra sibuk mengendalikan diri. Tak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu sampai Sungra berdeham pelan dan membuka mulut, “Jadi… apa yang akan kau tanyakan?”

Jongin menoleh. Rona merah samar perlahan merayapi kulit pipinya sementara ia menerawang dan Sungra tak melewatkannya sama sekali. Tiba-tiba perutnya terasa aneh tanpa sebab yang jelas.

“Jong—“

“Kau… dekat dengan Raena, kan? Kim Raena?” Jongin merendahkan suaranya ketika menyebutkan nama lengkap Raena, kepalanya sedikit tertunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya. Gadis di sebelahnya tercenung, mulai memahami sesuatu yang telah terjadi di sini.

Boleh saja orang menyebutnya awam, tapi ia bisa meraba arah pembicaraan Jongin dengan baik.

Kali ini, Sungra bisa merasakan dengan jelas bahwa darah mulai mengalir menjauhi wajahnya. Ia bahkan bisa membayangkan dengan sangat presisi soal bagaimana wajahnya perlahan memucat tanpa ampun. Tak bisa dihentikan lagi.

—–

Halte bus di depan sekolah nyaris kosong. Hanya ada seseorang yang mencengkeram erat tali ranselnya sambil menatap lurus ke jalan yang sepi. Melamun sambil menunggu bus yang datang dan terasa lama sekali.

Orang itu menghela napas, sore ini rasanya berkali-kali lebih berat baginya, bahkan hanya untuk sekedar menarik napas saja. Matanya yang semula menuju jalan, tak jelas menatap apa, perlahan terpejam untuk menahan rasa panas dan pedih yang muncul dari pelupuk matanya.

Satu tetes meluncur turun. Sial.

—–

Laki-laki itu mengusap tengkuknya gugup. “Aku… hanya ingin bertanya sedikit—“

“Kau menyukainya?” potong Sungra cepat, nada suaranya sedikit naik karena emosi. Jongin langsung mendongak dan rona merah makin memenuhi wajahnya, meski tersamarkan oleh kulitnya yang matang karena sengatan matahari. “Aku… aku…”

“Katakan saja.” tuntut gadis itu tanpa ampun. Menyembunyikan rasa sakit yang mulai menyusupi perasaannya perlahan, mengantisipasi jawaban Jongin selanjutnya meski ia tahu probabilitas Jongin menjawab ‘tidak’ sangat rendah, belum termasuk bila ia berbohong. Tapi salahkah ia jika ia masih sedikit berharap?

“Aku… tidak… mungkin… ya…” racau Jongin, kentara sekali ia tengah menutupi kegugupannya. Semakin jelas saja. Dan Sungra menganggap itu sebagai jawaban positif dari Jongin dan masa depan negatif baginya. Selamat.

“Sudahlah, aku paham maksudku. Jadi?” Sungra kembali angkat bicara, berusaha memfokuskan mata ke barisan huruf yang tak lagi mengundang seleranya untuk membaca. “Kau ingin mendekatinya? Atau—”

Aish!” Jongin mengacak rambutnya kuat. “Dengar, kau… mau… membantuku? Membantuku untuk mendekatinya? Aku mohon~”

Sungra tak lagi mendengarkan kata-kata Jongin selanjutnya. Pikirannya terserap dalam semestanya sendiri, meneriakkan kalimat Jongin memintaku menolongnya mendekati Raena? Bukankah itu sama saja membunuhku perlahan? berulang kali. Segala hal yang terlintas dalam benaknya berkecamuk, tercampur aduk, rusak parah. Entah akan jadi apa hidupnya nanti, mungkin dia memang akan mengalami mati perlahan yang menyakitkan seperti korban pembunuhan yang dibunuh dengan tusuk gigi.

Ia tak tahu harus memihak siapa. Dirinya, perasaannya sendiri, atau pada perasaan Jongin? Jika menuruti perasaannya maka dia akan menjadi manusia paling egois di dunia sekaligus pelanggar hak asasi manusia dengan melarang seseorang menyukai orang lain. Tapi… menuruti Jongin…

“Baiklah. Tapi kau yang memikirkan caranya.”

Badan laki-laki itu sedikit terlonjak ke atas ketika ia menoleh ke Sungra dengan mata berbinar dan senyum lebar pertanda senang. “Kau akan membantuku? Jeongmal? A! Terima kasih!”

Aku akan senang jika ia bahagia, Sungra meyakinkan diri sambil menatap Jongin yang sekarang terlihat sangat bersemangat.

Ini untuk kebaikannya. Aku akan baik-baik saja. Mungkin… ini memang jauh lebih baik baginya. Lagipula siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan?

Bahkan gadis itu tahu pasti bahwa kata-katanya hanyalah kepalsuan semata. Setidaknya ia tahu bahwa Tuhan akan memberkati orang yang rela mengalah.

to be continued.

Advertisements

4 thoughts on “[Double-Trouble] #6 | White Lies”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s