[Double-Trouble] #7 | Rebellion

Title: Rebellion
Genre: family, friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin (SHINee), Kim Jongin (EXO-K)
Length: 1262 words

Ketika Jongin mencapai pintu perpustakaan yang lengang, telinganya langsung menangkap suara seseorang yang sangat familiar dengannya. Rasanya jelas sekali, padahal di sekitarnya sedang tidak ada orang –entah itu karena orang itu berbicara terlalu keras, atau ruangan ini yang terlalu sepi, atau karena telinganya saja yang terlalu peka pada suara itu.

Ia melangkah masuk, meragu. Berharap dirinya bukan sekedar mendengar fatamorgana telinga. Ketika ia menoleh ke kiri –sedikit–, matanya menemukan sumber suara yang membuat jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat.

Ah, dia datang.

Perlahan Jongin mengambil tempat di dekat kumpulan rak novel fiksi ilmiah. Tak terlalu jauh, tapi juga masih dalam batas aman bagi seorang stalker, batas yang sudah ia tetapkan –atau mungkin alam bawah sadarnya yang menetapkan. Setengah berlari ia menuju rak terdekat, mengambil sebuah buku secara acak, lalu kembali duduk dan mulai membaca. Disguise, sebenarnya, sementara tatapannya mengembara ke arah dua gadis yang duduk di meja seberang tiap beberapa menit sekali. Lebih tepatnya hanya menuju ke salah satu dari mereka, sih.

Lalu, tak ada yang lebih menyebalkan daripada kegiatanmu yang paling menyenangkan dan paling kau sukai di dunia ini terinterupsi oleh panggilan telepon.

Ne?” Jongin berkata, segera setelah ia menekan tombol untuk menerima panggilan di ponselnya. Sedikit merutuk dalam hati ketika mendengar suara Taemin yang menimpali dan menanyakan keberadaannya, menyebalkan. “Perpustakaan. Kenapa?”

“Jadi, belum pulang?”

“Menurutmu?”

“Ha, bercanda, kembaran sayang~”

“Ck. Kau mengganggu. Sangat mengganggu. Ada apa? Kau tidak pulang?”

“Ada latihan basket, sayangnya. Tunggu di perpustakaan, aku pulang denganmu. Jangan lupakan kalau motor kakak kembarmu yang tampan ini sedang menginap di bengkel” suara Taemin kembali menyahut. Jongin mengiyakan sekilas sebelum kemudian mengakhiri sambungan telepon, kembali fokus pada buku yang sedang –pura-pura- ia baca.

Jongin mulai bosan berlagak seperti orang bodoh yang hanya membalik-balik halaman buku tanpa arti ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang –Taemin. Nyengir lebar padanya seperti orang bodoh tanpa dosa. “Hai?” sapa kembarannya itu sembari menghempaskan badan di sebelahnya, menyeka keringat dengan sehelai handuk kecil yang kemudian ia lemparkan dengan semena-mena ke tasnya yang terbuka.

“Seka keringatmu dengan benar, baru boleh duduk di sini. Kau bau.” gerutu Jongin, sedikit mengerutkan ujung hidungnya tak suka melihat lelehan keringat yang membasahi wajah dan leher kembarannya –juga lengan dan mungkin tungkai–, membuat bagian-bagian itu berkilau ketika tertimpa cahaya lampu. Taemin terkekeh, “Ini keringat sehat, adik sayang~ kau itu yang harusnya memperbanyak olahraga, jangan hanya duduk diam begini di perpustakaan!”

Jongin tak menanggapi lebih lanjut. Lebih baik kembali ke kegiatan awalnya daripada berdebat kusir tidak penting dengan orang gila semacam Taemin.

“Ei, kau membaca atau mencuri lihat ke arah lain, hmm?” celetuk Taemin, menangkap gelagat mencurigakan dari Jongin yang tak terlampau pandai menutupi kesibukannya melirik ke arah tertentu. Jongin melengos, “Diamlah.” putusnya cepat. Kesal tentu saja karena ada yang memergokinya.

“Ck, melirik yeoja, hmm? Whoa~ akhirnya kau suka dengan seseorang, hmm?”

Seperti Jongin separah apa saja.

Dan Taemin tak pernah patah semangat, apalagi dalam masalah meledek Jongin –jika sudah menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengejek kembaran lebih kecilnya itu sampai setengah mati, ia akan menggunakannya terus hingga Jongin benar-benar kesal. “Mengaku saja~” katanya kemudian.

“Tidak.”

“Kau-mencuri-lihat, Jongin-ie~” desak Taemin lagi. Mungkin makin dewasa Jongin makin tidak bisa menahan kekesalannya karena ia langsung mengangguk kasar, “Ne! Bagaimana? Puas?!”

Taemin membiarkan tawa penuh aura iblis keluar dari bibirnya sebelum seseorang menyuruhnya diam. Bukan Jongin, dan serta-merta ia membungkam suaranya. “Oke, jadi?” ia kembali menuntut, membulatkan matanya sambil memasang sikap oh-ayolah-cepat-aku-sungguh-penasaran-dan-ini-sangat-menarik-Jongin-sayang, membuat Jongin bergidik sejenak sebelum kembali membuka mulutnya. “Kau lihat? Di sana…” Jongin mengarahkan telunjuknya dari balik buku ke arah dua gadis yang tengah duduk dan sibuk dengan kegiatan masing-masing; Sungra dengan tugasnya, dan Raena yang tengah membaringkan kepalanya di atas meja sambil memainkan ponselnya. “… nah, dia manis, kan?” katanya sambil menunjuk Raena yang kepalanya tertelungkup. Rona merah perlahan merayap naik ke kedua pipinya dan ia berharap Taemin tak melihat. Possible, Taemin juga sedang menatap ke arah yang ia tunjuk dengan penuh minat.

“Yang mana? Yang itu?” telunjuk Taemin ganti mengarah ke Sungra. Jongin menganggukkan kepala tanpa melihat ke mana jari Taemin menunjuk, matanya kembali menyusuri huruf-huruf yang tercetak pada lembaran kertas di tangannya. Ia sama sekali tak memperhatikan ulasan senyum lebar Taemin yang tiba-tiba muncul begitu saja di bibirnya, membuatnya terlihat seperti orang gila. “Dia? Wah! Cocok denganmu!” pujinya, sumringah. Jongin serta-merta mendongak, terkaget-kaget. “Benarkah? Kau pikir begitu? Aku cocok dengannya?”

Anggukan yakin Taemin membuat senyum bodoh Jongin –yang sangat jarang terlihat– muncul. Kasus langka yang hanya terjadi jika Jongin sedang merasa amat-sangat-senang hingga tak bisa mengontrol emosinya lagi. “Kau tidak sedang bercanda, kan?”

“Ck, kau ini sebegitu menyukainya, ya? Aigo~” Taemin kembali menatap ke arah dua orang itu, memainkan jemarinya di atas meja. “Kau tahu? Yang satunya juga manis, menurutku.”

—–

Taemin berjalan masuk kelas yang hanya terisi oleh kembarannya dengan langkah lebar dan senyum riang, membuat Jongin refleks mendongak dan menatap Taemin dengan tatapan apa-yang-terjadi-padamu-kenapa-kau-kelihatan-seperti-orang-gila-begitu. Tidak perlu membuka mulut karena toh Taemin langsung bercerita, “Tadi aku makan siang dengan gadisku, haha. Sekarang aku tahu apa makanan kesukaannya dan berapa porsi yang ia makan, a! Dia makan agak banyak, tapi badannya tetap bisa sehat begitu~ tipeku sekali~ setidaknya aku tidak perlu repot mendengarnya mengeluh karena kegemukan atau ingin diet, kan?”

Jongin menganggukkan kepalanya, menanggapi celotehan Taemin yang seolah tiada habisnya karena ia sedang sangat bersemangat. “Lalu?”

“Aku akan mengajaknya kencan sebentar lagi! Kau tunggu dan lihat saja bagaimana kembaranmu ini akan mendapatkan yeoja yang ia inginkan~”

Yang diajak bicara hanya membulatkan bibirnya sambil memberesi barang yang terserak di meja. “Bagaimana? Sudah selesai ceritanya? Mau pulang sekarang?”

Taemin mengangguk, segera menyandang postman bag-nya sambil membenarkan rambutnya yang acak-acakan, entah apa yang dibenarkan. “Ah, kau sendiri bagaimana? Ada progres?”

Jongin menggeleng singkat. “Tidak bertemu dengannya hari ini. Sudahlah, ayo pulang, aku lapar.”

—–

“A! Aku tahu!”

Jongin mengalihkan pandangannya dari televisi, menoleh ke arah Taemin yang baru saja memukulkan kepalan tangan ke telapak tangannya. “Apa?” tanyanya malas.

“Bagaimana kalau kita pergi double-date?” Taemin menampakkan cengiran lebarnya penuh semangat. “Kau mau kan? Mau?”

“Ng? Bukannya gadismu sepertinya bukan tipe orang yang suka berada di tengah banyak orang?” tukas Jongin, kembali menatap malas layar televisi yang berpendar membosankan di depannya. “Kau pergi sendiri saja, terima kasih.”

“Bukannya yeojamu yang begitu?”

Aniyo~ dia populer, jadi aku rasa dia sudah terbiasa dengan keramaian, dan—“

“Memangnya Sungra populer? Lee Sungra anak kelas kita itu, memangnya dia populer?”

Seiring dengan kedua belah pihak yang serentak memutar leher hingga wajah mereka berhadapan, baik Jongin maupun Taemin merasakan kejanggalan yang makin nyata. Jongin menjadi orang pertama yang kembali bicara, “Aku… menunjuk Raena kemarin, bukan Sungra, dan aku pikir gadis yang kau sukai itu Sungra, memangnya bukan dia?”

“Sungra? Kau bercanda. Dia bukan tipeku, bodoh.” Taemin menyentakkan kepalanya ke arah Jongin yang masih diam di tempatnya. “Gila saja, yeoja culun membosankan begitu. Kau yang lebih cocok dengannya, omong-omong. Sama-sama kutubuku. Sudah, jangan mendekati Raena, lebih baik kau dekati Sungra saja. Setidaknya kau harus tahu diri sedikit.”

Jongin berdiri, menatap Taemin berang. Seenaknya saja, memangnya kata siapa dia tidak cocok dengan orang yang ia sukai? Bagaimana kalau memang sudah digariskan begitu? Dan siapa dia, bisa dengan sesuka hatinya menyuruh Jongin mendekati siapa dan jangan mendekati siapa?

“Untuk hal seperti ini, aku tidak akan pernah mengalah, kakak tersayang.” Jongin menekankan sub-kalimat terakhirnya sebelum menutup rapat-rapat pintu menuju kamarnya, meninggalkan Taemin yang masih menatap pintu tak bersalah itu dengan tajam seolah tatapannya bisa menembus kayu padat tadi dan menusuk Jongin secara langsung, membunuhnya di tempat.

“Kau pikir aku akan mengalah? Ck, masih terlalu cepat seribu tahun bagimu untuk mengalahkanku.”

Di atas cinta, ikatan persaudaraan pun akan terlupakan, dionggokkan begitu saja di sudut medan perang; terimbas percikan darah yang timbul tiap terjadi bentrokan.

to be continued.

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #7 | Rebellion”

  1. E sumpah aku mau ketawa pas mereka ngomongin sungra -_- bayangin, dua-duanya liat-liatan pake acara slow motion gitu, trus ada ujan badai di belakangnya, trus marahan, trus berantem #lebay
    Issh jadi rumit kaaan -_- huaaa lanjut yaa, lanjut yaaa :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s