[Ficlet] Byun Baekhyun is Such a Disaster (3)

Title: Byun Baekhyun is Such a Disaster (3)
Genre: romance(?), friendship, school life
Rating: PG-13
Character: mm. I’m not gonna telling you.
Length: 1369 words

Suara berisik kaki meja yang bergesekan dengan lantai karena diseret membuat Sungra terbangun. Gadis itu bahkan tak ingat bahwa ia sempat tertidur, tapi itu sama sekali tak penting baginya. Ia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya, meyakinkan diri bahwa yang ia dengar bukanlah ilusi –bahkan ia tak sadar bahwa lampu ruangan itu telah kembali menyala. Hal pertama yang ia lihat adalah jam tangannya –pukul enam empat puluh, berarti sudah hampir dua jam ia tertidur dan badannya terasa sangat pegal.

“Halo?” panggilnya pelan, menyadari tenaganya hampir habis karena seharian ini perutnya hanya terisi sarapan berupa dua tangkup roti tawar dan segelas susu yang dimakan terburu-buru selama perjalanan dan di halte. “Ada orang di sana?” usahanya untuk mengeraskan suara gagal, tapi ia tahu siapapun itu yang sedang berada di luar sana pasti mendengarnya dengan cukup baik karena ia mendengar suara langkah yang sedikit tergesa menuju pintu biliknya yang masih terkunci. “To—“

“Sungra? Kau di dalam? Kau… tidak apa?” ada suara deritan lagi yang kemudian terganti oleh ketukan di pintu. Sungra sendiri bisa melihat bagaimana kaki meja yang terlihat dari kolong bawah pintu bergeser. “Sungra? Buka pintunya –kau bisa, kan?”

Gadis itu berdiri, ngeri mendengar bagaimana suara tulang-tulang dalam tubuhnya yang beradu menghasilkan bunyi ‘krek’ beberapa kali. Ia merasa mengenal suara orang itu, tapi otaknya sungguh kekurangan tenaga sampai ia tak bisa mengolah informasi yang ia dapat dengan baik. “Y, ya. Aku rasa… bisa.” gumamnya sembari menggeser kunci slot pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Lututnya lemas, hampir tak bisa menopang badannya, dan ia menumpukan beratnya pada pintu yang perlahan mengayun terbuka, hampir saja jatuh mengikuti gerakan pintu tersebut bila seseorang tidak menahan pundaknya.

“A! K, kau… benar baik-baik saja?”

Ketika Sungra mendongak, ia mendapati wajah Baekhyun yang tampak sangat panik saat menatapnya. Tangan laki-laki itu mencengkeram erat kedua bahunya, menyokongnya agar tetap berdiri dengan baik dan benar. Ia menyentuhkan jemarinya di pipi Sungra, bergidik ketika merasakan betapa dinginnya kulit gadis itu di ujung jarinya. “Sudah berapa lama mereka menahanmu di sini?” tanyanya, perlahan mendorong tubuh gadis itu agar kembali duduk di atas kloset yang tertutup. Ia mengernyit ketika sepatu mereka menimbulkan suara kecipak saat melangkah di lantai yang masih basah, dan saat itulah ia menyadari bahwa sebagian besar pakaian Sungra pun masih sedikit basah. “Mereka menyirammu dengan—“

“Air.” tukas Sungra cepat, memejamkan mata sambil bersandar di dinding, terlalu lemas untuk melakukan hal lain. “Hanya air, dan airnya bersih. Dingin. Harusnya segar, di saat yang tepat.”

Baekhyun melangkah ke belakang, mengambil tas yang ia geletakkan di atas wastafel dan membukanya. Mencari-cari hingga ia menarik sehelai kaus kering dari dalam tasnya –laki-laki itu punya kebiasaan untuk membawa kaus cadangan ke mana-mana– dan serta-merta meletakkannya di pangkuan Sungra. “Ganti bajumu, kutunggu di luar.” perintahnya singkat dan ia langsung menutup pintu bilik tanpa memperhatikan Sungra yang masih memejamkan mata untuk mengumpulkan kekuatannya.

—–

Baekhyun menendang-nendang udara dengan sepatunya. Yang ia maksudkan dari tindakannya saat pelajaran olahraga tadi bukan ini; ia sama sekali tak ingin Sungra celaka. Terlebih melihatnya dalam keadaan seperti itu sekarang –dan Baekhyun hanya bisa merutuk dalam hati ketika teringat saat Sehun memberitahunya soal keberadaan Sungra dan menyuruhnya mencari gadis itu di sini. Dirinya sedikit menyalahkan Jangmi yang baru membaca pesan Sungra satu setengah jam setelah ia menerima pesan itu –bagaimana ia bisa begitu cuek pada keadaan di sekelilingnya?

Pintu toilet sekali lagi mengayun terbuka dan Sungra melangkah keluar, perlahan, dalam balutan kaus yang dipinjamkan Baekhyun dan rok setengah basah. Lagi-lagi Baekhyun merasa bersalah; ia sangat benci merasa seperti itu, menyesal tapi tak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah keadaan.

“Maaf.” Baekhyun berkata lirih sambil menyampirkan jaketnya di pundak Sungra yang masih menggigil. Kaus kering yang ia pinjamkan pada gadis itu belum terlalu menunjukkan gunanya. Gadis itu hanya mengangguk pelan, tangannya perlahan merapatkan jaket, berusaha menambah kehangatan yang ia butuhkan. “Kau… bisa… pergi sekarang.” katanya kemudian. “Aku… akan pulang sendiri, jadi tidak apa-apa kalau kau pulang sekarang.”

Baekhyun menggeleng seraya merangkum telapak tangan gadis itu dalam genggamannya erat. “I’ll walk you home. Berhubung aku yang menyebabkan kau jadi seperti ini.”

Sungra hanya diam. Tidak mengatakan apa-apa sementara ia membiarkan Baekhyun menyeret langkahnya keluar dari toilet menuju koridor sekolah yang lengang.

—–

“Ada orang di rumah?”

Sungra melirik garasi lalu menggeleng. “Orang tuaku belum pulang.” jelasnya singkat. Tangannya saling menggenggam, gugup karena tak biasa berada dalam keadaan seperti ini. Sementara itu, Baekhyun menghela napas lega karena tak perlu berpikir akan menjelaskan dengan cara apa pada orangtua Sungra tentang kenapa anak gadis mereka pulang dalam keadaan basah kuyup begitu. Ditemani orang tak dikenal, pula.

“Ah, jaketmu…”

“Bawa saja.” potong Baekhyun cepat. “Kembalikan dengan kausnya saja, hehe. Tidak usah juga tidak apa.”

Sungra mengangguk kaku. Angin sore yang cukup dingin ditambah rok dan sepatu setengah basah bukanlah kombinasi yang bagus.

Baekhyun, menyadari Sungra tengah kedinginan, segera mendorong gadis itu perlahan ke arah pintu rumahnya. “Masuklah, lalu cepat ganti baju dan mandi air hangat sebelum kau sakit. Aku tidak mau jadi pihak yang disalahkan kalau kau tiba-tiba tidak masuk besok.”

Padahal sedikit banyak semua ini kan salahnya.

Sungra sudah akan beranjak masuk ketika suara Baekhyun menahannya. “Aku akan meneleponmu nanti malam.” janji Baekhyun sambil tersenyum kecil.

Respon gadis itu hanya anggukan pelan yang hampir tak terlihat mata sebelum Sungra menghilang di balik pintu depan rumahnya.

—–

Ketika suhu badannya terasa menghangat, Sungra sangat yakin bahwa itu murni bukan kesalahan mandi dengan air hangat. Ia meraba lehernya yang terasa nyeri. Perutnya lapar sementara nafsu makannya menghilang; gadis itu khawatir jika kerongkongannya dicekoki makanan paling enak sekalipun ia akan langsung memuntahkannya saat itu juga. Pasta gigi saja terasa sangat pahit di lidahnya tadi.

Perlahan Sungra merebahkan tubuhnya di kasur, menaikkan selimut setinggi leher sambil memejamkan mata dan berharap peningnya bisa sedikit hilang.

Gadis itu terlelap semalaman tanpa mendapati orang tuanya pulang, tanpa makan malam, dan tanpa menyadari tujuh belas missed call dari Baekhyun yang memenuhi ponselnya.

—–

Keadaan Sungra berbanding terbalik dengan Baekhyun yang sama sekali tak bisa memejamkan mata malam itu. Segera setelah ia selesai makan malam, mengucapkan selamat malam pada ayah-ibunya dan sesuadah menyelesaikan segala macam tugas yang harus dikumpulkan esok hari, laki-laki itu beranjak ke tempat tidur. Mencoba memejamkan mata, tapi tidak bisa. Masih terlalu ‘pagi’ baginya untuk tidur –lagipula ada sesuatu yang mengusik benaknya, seolah mengatakan bahwa ada hal yang belum ia lakukan.

Ah, menelepon Sungra.

Baekhyun bersyukur karena ia menyimpan kontak semua anak di kelasnya, selaku seorang ketua kelas pada umumnya. Ia menekan nomer telepon Sungra, menempatkan ponselnya di telinga, kemudian menunggu. Menunggu hingga nada sambung telepon berganti dengan nada sibuk, tak diangkat. Ia melirik jam digital di mejanya sambil mengerutkan kening; belum terlalu malam, menurutnya. Mungkin sedang makan malam, begitu pikir laki-laki itu sambil menggulingkan badan ke kiri, meraih guling dan mendekapnya selama menunggu hingga lima menit berlalu –waktu yang ia rasa bisa dijadikan patokan toleransi menunggu antar-panggilan.

Percobaan kedua. Baekhyun memicingkan mata ke arah bar penunjuk kekuatan sinyal di pojok layar ketika lagi-lagi teleponnya tidak diangkat. Penuh, kok. Lagipula tadi kan tersambung.

Ia kembali berguling, kesal dan frustasi bercampur dalam pikirannya. Apa dia sudah tidur? Aish, rasanya tidak mungkin. Menurut penuturan teman Sungra yang-juga-pacar-temannya, si Jangmi itu, ia biasa berkirim pesan singkat denga Sungra di waktu seperti ini. Kesimpulannya, biasanya jam segini Sungra belum tidur, kan?

Sekarang benaknya telah dipenuhi spekulasi tentang di mana kira-kira Sungra berada, sedang melakukan apa, sesibuk apa hingga lupa bahwa Baekhyun telah berpesan perihal ia akan menghubunginya malam ini. Ck.

Rasa penasarannya mungkin bila dijadikan energi akan dapat digunakan untuk menyalakan listrik sebuah kota kecil selama satu jam.

Kembali ia menghadap ponselnya. Menekan tombol call, menunggu, diam, kemudian cemberut. Terus berulang hingga mencapai hitungan percobaan ketujuh-belas dan ia menyerah. Perasaannya makin tak karuan, kali ini dibumbui khawatir –kenapa perasaannya harus seaneh ini.

Baekhyun tak pernah mengejar dan ia baru memahami bagaimana rasanya sekarang.

Ke mana? Sedang pergi? Ponsel tertinggal di rumah? Atau sedang belajar dan ponselnya dimatikan? Atau…

Sakit?

Baekhyun serta-merta terduduk. Lambat-lambat. Dengan perlahan, seolah dirinya dalam keadaan sangast lemah karena baru saja dihantam oleh sesuatu yang berkekuatan besar.

Sesuatu itu adalah pemahaman yang lantas disusul oleh rasa bersalah yang bertubi.

Malam itu, Baekhyun menghabiskan waktunya dengan berguling-guling di atas kasur, perasaan tak nyaman menyeruak di tiap inci tubuhnya, membuatnya tak fokus berpikir dan tak bisa terlelap.

Jiwa yang kesepian pasti lebih labil dan lebih rentan galau.

end.

Byun Baekhyun is Such a Disaster (2) | Fixation

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet] Byun Baekhyun is Such a Disaster (3)”

  1. Jiwa yang kesepian pasti lebih labil dan lebih rentan galau. << Ra~ aku ngakak baca ini, hahahah, serasa Baekhyun kaya remaja-remaja yang suka galau malem-malem hahahah. Ihiiiiw suka deh scene yang pas Baekhyun nemuin Sungra di toilet. Unyu gimana itu #heaa
    Oiya, itu kan ditemuinnya 6.40 yah, kirain jam 6 besok paginya -_- kuat bener Sungra semaleman di toilet ckck. Taunya masih hari yang sama hahaha.
    Huaaa lanjutin yaak. Gimana akhirnya kegalauan Baekhyun haha
    Fighting ^o^

    1. dan kerjaan dia ngelamuuuun~ ditemani bintang maupun ditingkahi hujaaaaaaaaaaan~ *eh
      sayang nemunya ngenes :B semoga besok mereka bisa ketemu dalam keadaan lebih unyu, amin~
      kalau ketemu besok paginya udah tinggal nama sama jasad sungranya, mati kelaparan gitu *eh
      akhirnya? dia… makin galau! 😄 *bahagia
      gomawoooooooooooooo ^^

  2. Ya ampun greget bacanya. Dr Byun Baekhyun is Such a Disaster 1,2,3 endingnya gantung trus dibagian yg plg bkn greget 😀
    Ga tau sih mau komen apa soalnya udh rapi jg nulisnya, alurnya ga musingin dan penyampaian yg to the point bkn jd lbh menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s