[Ficlet] Fixation

Title: Fixation
Genre: ?
Rating: PG-13
Character: ?
Length: 1832 words

Rambut acak-acakan karena belum disisir sama sekali tak mengubah kenyataan bahwa ada banyak gadis yang menatapnya kagum ketika ia melintas. Hal itu sedikit-banyak menyebabkan Baekhyun merasa bangga, meski hanya sedikit. Setidaknya ia tahu bahwa pesonanya memang tak terkalahkan.

Bel masuk berbunyi tepat ketika Baekhyun mencapai mulut kelas, beruntung ia tak terlambat hari ini. Tidak bisa tidur semalaman membuatnya bangun ekstra-terlambat; ia bahkan tidak sempat mandi dan hanya makan apapun-yang-bisa-ia-raih dari meja makan.

“Kesiangan lagi?” tanya Sehun ketika Baekhyun menghempaskan badan di sebelahnya. Baekhyun hanya mengangguk malas, perlahan menyandarkan kepalanya di meja sambil memejamkan mata. “Tidak bisa tidur.”

“Tumben. Ada apa lagi hari ini? Masalah notulensi rapat?”

Baekhyun juga merangkap tugas sebagai sekretaris tiap pertemuan ketua kelas, omong-omong.

“Bukan.” Baekhyun mengerutkan keningnya, sedikit bingung mencari objek yang bisa ia salahkan selain Sungra. “Aku… tidak tahu.”

Sehun sudah siap melayangkan satu pertanyaan lagi jika guru Bahasa Inggris tak terlanjur masuk. Baekhyun memberi aba-aba untuk memberi salam sebelum pria paruh baya itu mengabsen seluruh siswa.

“Lee Sungra?”

“Absen, sakit.” kata satu suara. Baekhyun melirik sekilas ke arah orang yang baru saja bicara, dan ia melihat Jangmi yang sekarang sedang memelototi gadis lain yang menoleh ke arahnya, menyuruh mereka mengurus urusan mereka sendiri. Ketika ia mengedarkan mata, ia baru sadar bahwa ada satu bangku yang kosong, tak berpenghuni.

“Jangmi sangat marah ketika Sungra memberitahunya kalau ia sakit, tadi pagi.” Sehun berkata. “Moodnya jelek dari tadi dan begitu masuk kelas, hal pertama yang ia lakukan adalah memarahi gadis-gadis yang kemarin mengurung Sungra di toilet. Ah, Jangmi-ku itu memang teman yang baik~”

Baekhyun melengos pelan. “Memangnya dia tahu siapa yang mengurung Sungra kemarin?”

“Tahu. Kau pikir Sungra tidak akan bercerita padanya? Kalau ia tak berinisiatif cerita pun Jangmi akan memaksa sampai Sungra menyerah. Haha.” Sehun terkekeh pelan sebelum menyalin deretan kalimat berbahasa Inggris di papan tulis. “Kau akan memarahi mereka juga?”

Laki-laki yang lebih pendek mengangkat bahu tanda tak peduli.

—–

“Tiga puluh tujuh setengah derajat. Sudah sedikit turun. Habiskan buburnya, nanti eomma akan membantumu mandi.”

Sungra menatap tanpa minat mangkuk porselen putih yang berisi bubur dengan topping kecap asin dan sedikit potongan daging. Sisa-sisa pahit parasetamol dan antibiotik masih bersisa di mulutnya, masih ditambahi dengan rasa tak nyaman di lidah. Bagaimana ia bisa makan kalau begini ceritanya?

Gadis itu memejamkan mata ketika pening kembali menyeruak di kepalanya, sakit sekali. Tidak mampu menahan badannya lagi dan hanya bisa berbaring lemas di atas kasur. Mengangkat tangan pun rasanya sulit.

“Sung— aigo, kau tidak apa?”

Ia menggeleng. “Aku… tidak ingin makan.” gumamnya lirih sambil berguling ke sisi tubuhnya.

“Tapi kau harus makan, sayang… atau perlu eomma suapi? Ada makanan lain yang kau inginkan?”

“Tidur.” potong Sungra cepat. Rasanya hanya itu obat yang paling manjur baginya saat ini.

Ia mendengar helaan napas eommanya dan suara langkah yang menapaki jalan keluar dari kamarnya. Bukan maksud hatinya menyusahkan sang ibu, tapi sakitnya benar-benar tak bisa diajak kompromi lagi. Terlebih ketika sesuatu perlahan melintas di benaknya; potongan rekaman apa yang terjadi sehari sebelumnya. Rasanya semua itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Kesadarannya memudar perlahan seiring tenggelamnya keping-keping itu dalam gelap benaknya.

—–

“Baekhyun.”

Yang dipanggil menoleh. Jangmi berdiri di sebelah mejanya dengan dua buah buku tulis tebal dalam pelukan. “Ini. Titip untuk Sungra.”

“Kenapa kau menyerahkannya padaku? Kenapa tidak kau antar sendiri?”

“Karena—“

“— sepulang sekolah dia akan pergi denganku!” Sehun menyambar. “Dan kau harusnya berterimakasih pada Jangmi karena kau jadi punya alasan untuk mengunjunginya!”

“Hitung-hitung permintaan maaf karena kau yang membuatnya sakit, secara tidak langsung.” Jangmi menambahkan dengan nada datar. Baekhyun kadang tak habis pikir kenapa Sehun dan Jangmi bisa menjadi pasangan, karena selain faktor mereka paling piawai memasang wajah datar, tidak ada alasan lain yang membuat mereka bisa disebut cocok dan serasi.

“Halo? Kau bilang aku yang salah? Tolong jangan lupakan kalau kau juga bersalah karena melalaikan pesan Sungra.” sergah Baekhyun. “Kalau saja kau tidak se-ignorant itu, aku pasti bisa menemukannya lebih cepat, kan?”

“Hei, ada pacarnya di sini.” Sehun memotong segala luapan emosi Baekhyun. “Belajarlah untuk tidak membentak seorang gadis, Baekhyun-a. Bersikap gentle sedikit toh tidak akan merugikanmu.”

Laki-laki itu mengerucutkan bibirnya kesal. “Kau tahu apa soal masalah seperti ini?” desisnya sambil memasukkan buku Jangmi ke dalam tas. “Kalian memang merepotkan.”

“Merepotkan, tapi cukup membantumu. Akui saja~” Sehun bersiul singkat lalu bangkit berdiri, menyandang tasnya sebelum menarik tangan Jangmi, meninggalkan Baekhyun yang masih diam di tempatnya.

Tidak akan lucu kalau aku ke sana tiba-tiba, pikir Baekhyun. Ia membayangkan Sungra akan langsung mengusirnya begitu ia menginjakkan kaki di pekarangan rumah, mengingat reaksi gadis itu padanya kemarin. Ah, repot sekali.

Kali ini Baekhyun sungguh ingin memiliki kekuatan untuk membaca pikiran orang, atau untuk bertelepati, atau merasakan apa yang dirasakan orang lain, supaya ia bisa tahu apa yang sedang gadis itu rasakan dan bagaimana perasaan gadis itu padanya –belum termasuk untuk memperkirakan apa yang akan terjadi bila ia bertandang ke rumah Sungra.

—–

Ketika ibu Sungra membuka pintu –sedikit kaget melihat kedatangan Baekhyun yang jelas tak terduga meski kemudian mempersilahkannya masuk setelah Baekhyun mengaku bahwa ia merupakan ‘delegasi’ dari pihak sekolah selaku ketua kelas–, Baekhyun merasa bahwa urusannya dengan Sungra kali ini akan dimudahkan hingga ke akar-akar.

“Sungra… sepertinya sedang tidur, biar ajumma lihat sebentar.” ibu Sungra berkata setelah Baekhyun masuk. Laki-laki itu mengangguk patuh, mengucapkan terima kasih sambil tersenyum sopan sebelum kemudian duduk di sofa. Sehun pasti salah soal Baekhyun tak bisa bersikap gentle.

Ia memainkan jari sambil melihat ke sekeliling. Ada foto keluarga berukuran sedang yang terpajang di dinding, dan ia turut tersenyum sambil mengamati wajah Sungra di tengah kedua orang tuanya.

“Baek… hyun, ne?”

Refleks, Baekhyun menoleh, menemukan ibu Sungra yang berdiri di mulut tangga. “Y, ya?”

“Sungra sudah bangun, kau mau menemuinya?”

Tentu saja, benak Baekhyun berkata, tapi ia hanya mengangguk pelan kemudian bangkit untuk mengikuti ibu Sungra yang menunjukkan jalan ke kamar gadis itu. Sedikit tak percaya karena semuanya berjalan mulus, terlalu mulus. Ia mencubit lengannya; masih sakit. Dia masih sadar.

“Sungra? Ada temanmu, chagi. Duduk yang benar, jangan malas-malasan begitu.”

Baekhyun melangkah melewati pintu yang terbuka dan tatapan penasaran Sungra seketika berubah menjadi tak terdefinisikan begitu melihat laki-laki itu. Laki-laki itu, di rumahnya, di dalam kamar.

Begitu darah di wajah Sungra berebut mengalir turun dari kapiler-kapiler yang mengisi pipinya, Baekhyun bisa melihat bahwa wajah gadis itu yang awalnya pucat sekarang tampak seputih kertas buku yang berada di pangkuannya.

—–

Ibu Sungra meninggalkan Baekhyun dan Sungra di kamar setelah basa-basi singkat. Gadis itu sempat akan menahan ibunya, tapi ia tak berhasil memikirkan alasan yang tepat. Masa’ ia harus berkata ia-merasa-tak-aman-jika-ditinggal-dengan-Baekhyun-karena-lelaki-itu-pernah-seenaknya-menciumnya, begitu? Bisa-bisa ibunya mati di tempat kalau mendengar Sungra bicara seperti itu.

“Jadi,” Baekhyun buka suara. “Bagaimana keadaanmu?”

Sungra tak tahu harus memasang ekspresi sepert apa, maka ia hanya mengangguk kaku tanpa memaksa otot-otot di ujung bibirnya untuk bergerak. “Begitulah.” jawabnya singkat dan tidak jelas.

Baekhyun menempatkan setumpuk buku di meja rendah yang berada di sebelah tempat tidur. “Dari Jangmi. Dia ada kencan hari ini, jadi tidak bisa mengantarnya langsung. Ada salam untukmu juga.”

Gadis itu hanya menggumamkan kata terimakasih dalam bentuk jeondaetmal tanpa menatap Baekhyun. Sungguh kentara bahwa ia sedang canggung dan berusaha menjaga jarak.

“Dan besok kau akan masuk?”

Baekhyun masih belum menyerah untuk memulai pembicaraan panjang meski respon Sungra tak pernah lebih dari kata-kata pendek yang langsung menjadi titik buntu perbincangan. Atau anggukan, seperti yang dilakukan gadis itu sekarang. “Baguslah kalau begitu.”

Laki-laki itu tahu, sedikit-banyak sikap Sungra yang seperti ini disebabkan olehnya. Dulu –sebelum kejadian kemarin–, Sungra tidak pernah menghindarinya sampai separah ini; maksud Baekhyun, jika ia mengajak Sungra bicara, maka Sungra akan menanggapi tanpa ada kesan menarik diri. Bersikap biasa. Sekarang? Rasanya seperti bagi Sungra dirinya adalah virus ekstra-berbahaya yang sangat menjijikkan dan tak pantas didekati. Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya toh sudah terjadi, ia jelas tak bisa memutar-balikkan waktu ke saat pelajaran olahraga kemarin. Dirinya sendiri heran kenapa ia memilih cara mengungkapkan perasaan yang seperti itu. Bukannya ada cara lain yang lebih manusiawi dan bermoral?

Ia menatap Sungra yang memandang tak peduli ke arah jendela yang tertutup rapat, menampilkan biasan oranye matahari sore sebagai latar pemandangan rumah tetangga. Keinginannya agar mereka bisa mengobrol dengan baik dan benar tak jua padam, dan ia berdeham pelan untuk kembali menarik perhatian Sungra kepadanya.

“Umm… begini.” Baekhyun tahu bahwa sesuatu yang akan ia ucapkan ini bersifat sangat egois, bahkan ia meminta tanpa ada persetujuan dari Sungra terlebih dahulu. Tapi…

“Aku tidak mau tahu bagaimana caranya –bila terjadi sesuatu, kau harus menghubungiku lebih dulu, baru Jangmi atau orang lain. Aku,” Baekhyun mendekatkan wajahnya ke Sungra yang hanya diam sambil balas menatapnya. “Harus jadi orang pertama yang tahu kau berada di mana. Aku memaksa dan kau harus melakukannya. Kau tidak ingin yang seperti ini terulang lagi, kan?”

“Dan kenapa harus kau yang jadi manusia-tahu-segala, Tuan Byun?” Sungra beringsut mundur hingga punggungnya menyentuh headboard kasur. “Ini semua bukan urusanmu dan segalanya akan menjadi lebih baik bagiku kalau kau berhenti merecokiku. Setidaknya fans-fans gilamu tidak akan menerorku lagi.” ketusnya sambil menatap Baekhyun tak suka. Baekhyun-lah sumber dari segala sumber masalahnya. Menghilangnya laki-laki itu dari sekitarnya akan segera mengangkat beban yang ia tanggung sekarang.

“Menyuruhku berhenti merecokimu sama saja melanggar hak asasi manusia orang lain, Nona Lee. Hak tiap orang  untuk menyukai seseorang dan menjaga mereka.”

“Kalau begitu lakukan diam-diam, tanpa membawa-bawa namaku.” Sungra mendengus malas. “Aku tak peduli kau mau menyukai siapa, kau mau mengawasi siapa, kau mau melakukan apa, asalkan itu tidak mempengaruhiku hingga aku berada dalam kesulitan. Urusanmu adalah urusanmu dan urusanku adalah urusanku, jadi tolong berhenti dan pergilah.”

Kau adalah urusanku. Tak peduli kau mau atau tidak, tapi kau adalah urusanku, bagiku. Selesai masalah.”

Dunia pasti akan langsung hancur bila hanya ada manusia setipe mereka berdua di atasnya.

“Tapi—“ protes Sungra meluncur turun dari pangkal lidah ke kerongkongan ketika Baekhyun menangkupkan tangan di dagunya dan mengunci segala kata dengan bibirnya. Hanya sebentar, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat sesuatu nun di perutnya sana bereaksi dengan gila hingga rasanya sakit… dan aneh. Aneh sekali.

“Bisakah kau berhenti menolak? Bisakah kau diam sejenak? Bisakah kau memberiku kesempatan?” Baekhyun menyalak. “Hanya itu yang kubutuhkan darimu sekarang!”

“Dan kau bilang itu ‘hanya’. Aku bukan jin lampu ajaib yang bisa mengabulkan tiga permintaan.”

“Baiklah, permintaan ketiga saja.” Baekhyun segera menyambung kalimatnya. “Aku… ayolah, aku mohon. Otakku bisa gila sebentar lagi.”

Kalau gila ya gila saja, gumam Sungra dalam hati ketika matanya menatap Baekhyun tak berminat, menunggu kelanjutan semi-pidato Baekhyun.

“Aku tidak ingin terkena insomnia berkepanjangan lagi.”

“Aku masih ingin hidup normal tanpa harus berpikir soal bagaimana aku bersikap padamu, apakah gerak-gerikku wajar, akan jadi apa anggapanmu padaku tiap aku melakukan sesuatu, akan—“

“Diamlah.” Sungra menjejalkan berlembar-lembar tisu ke mulut Baekhyun yang terbuka lebar, membuat laki-laki itu tersedak dan hampir saja mati dengan cara paling konyol di dunia ini. “Biarkan aku berpikir.”

“Apa itu berarti kau akan memberiku kesempatan?” mata Baekhyun segera berubah, semacam personifikasi dari mata anak anjing yang memohon dengan amat-sangat. “Kau… mau? Aku tak pernah keberatan berada dalam friend-zone, omong-omong.”

“Ck. Seminggu. A, berhenti memaksa menciumku, kau pikir aku gadis murahan?” Sungra mendorong wajah Baekhyun sekeras yang ia bisa. “Dan kau pasti akan terkena flu besok. Aku tidak mau tahu soal itu.”

end.

Byun Baekhyun is Such a Disaster (3)

Advertisements

11 thoughts on “[Ficlet] Fixation”

      1. Okee jadi ini end beneran -_- abisan biasanya tulisannya end, maybe yg ini aku ga nyadar ‘maybe’nya ga ada wkwk. Maap, maap…. Yoweslaaa, ditunggu ff berikutnya ^^

        1. sebenernya dari awal tak kasih ‘end’ semua sih hehehe muup eaps :3 *plak!* jadi, soal bagaimana akhir kisah *tsaaah* baekhyun-sungra, semua diserahkan ke imajinasi para pembaca~

  1. authorrrr… aku suka sekaliiiii
    ini ada lanjutannya lagi ngga sih? sumpah pengen baca…
    aku suka banget sama alurnya, karakter nereka juga unyu, kirain si sungra bakal diem terus jawab singkat biasa aja eh ternyata ketus. kyaaaa
    mohon dilanjutkan 🙂

    1. ah, terima kasih~ /blushes/
      yah udah habis, udah baca depan-depannya belum tapi? dari damp hair sampai ini? 😀
      sungra itu… jual mahal. ehm. /dibunuh/
      thanks for reading and visiting ^^

  2. Aaaah suka. Endingnya manis menurut aku heheheh. Biarpun bukan yg romantis tp cara satu dan lainnya buat nyampein perasaannya dapet bgt. Btw ini end aja nih thor? Dilanjutin bisa bgt tuh heheheh, ga maksa sih. Pokonya suka dan happy ending.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s