[Double-Trouble] #8 | Killing Me Softly

Title: Killing Me Softly
Genre: angst, friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin (SHINee), Kim Jongin (EXO-K)
Length: 1183 words

Sungra tak pernah meniatkan diri untuk secara sengaja bertemu dan berbicara dengan Jongin. Dulu ia sangat berharap ia bisa melakukannya dan selalu bersyukur jika dapat bertemu dengan laki-laki itu –lebih-lebih bicara dengannya–, berbeda dengan sekarang. Minatnya hilang sudah.

Apalagi jika bertemu, mengobrol, lalu topik yang dibicarakan adalah bagaimana sebaiknya cara Jongin mendekati Raena. Atau Jongin yang sesekali menyelipkan pujian untuk Raena, semacam kalimat ‘Dia manis sekali, kan?’ atau ‘Kau beruntung bisa berteman dengannya. Boleh kita bertukar tempat?’ atau sesuatu yang lain, yang semacam itu.

Mendengarkan orang yang kau sukai memuji habis-habisan orang lain di depanmu rasa-rasanya bisa membuat keinginan bunuh diri di tempat melejit, terlebih bila orang lain itu temanmu sendiri.

“Kau harus tahu kalau Taemin ternyata juga menyukai Raena.” kata Jongin pada suatu titik. “Dan itu membuatku frustasi! Ck. Dia terus-terusan menyombongkan diri bahwa dialah yang akan mendapatkan Rae– ah, maksudku, menjadi pacar Raena. Pokoknya begitu.”

Laki-laki itu masih ingat bahwa Sungra pernah berkata ia paling tidak suka bila ada orang yang memperlakukan orang lain seperti barang. Dan menurutnya, penggunaan kata ‘mendapatkan’ itu membendakan seseorang.

“Bukannya memang sudah sangat jelas kalau kembaranmu itu menyukai Raena? Bukan hanya kembaranmu, aku yakin kalau sekitar sembilan puluh persen laki-laki di sekolah ini menyukai Raena, meski ia sangat hobi menolak mereka.” tentu saja, siapa yang tidak tahu akan hal itu? Semua orang juga tahu kalau Raena selalu dingin tiap berhadapan dengan laki-laki; merobek surat cinta menjadi serpihan kecil atau membuang buket bunga ke tempat sampah tanpa perlu berpikir dua kali. Bila diberi makanan seperti cokelat atau kue-kue manis, Raena akan memberikannya ke Sungra dan menyuruh temannya itu memakannya atau membaginya dengan teman-teman di kelasnya. “Kupikir kau yang terlalu buta soal itu, Jongin-ssi.”

Jongin mengerutkan kening dari balik kacamatanya, mendadak merasa kesal.

“Aku sedang berpikir untuk mengajaknya kencan. Kau punya saran soal itu?”

Sungra menggeleng singkat.

“Tapi… bagaimana kalau ia tidak mengenalku?” Jongin mengacak rambutnya dengan sebelah tangan, sekali ini dirinya tak keberatan sisi lain dari kehidupan introvert-nya dilihat oleh orang lain. Toh ia juga sudah mempercayai Sungra –hanya gadis itu yang ia ajak berdiskusi masalah ini, dan ia senang gadis itu mau membantunya meski tanpa mengatakan motifnya. Yah, mungkin Sungra menganggap Jongin pantas menjadi kekasih Raena, atau sesuatu seperti itu.

“Aku rasa dia mengenalmu. Tahu namamu, setidaknya.” gadis itu memainkan jemarinya di atas layar sentuh tablet-nya. “Lagipula, siapa, sih, yang tidak tahu soal si kembar yang kelakuannya sama sekali tidak bisa dibilang kembar?”

Terkenal juga karena Taemin banyak berulah, gumam Jongin dalam hati, memainkan jemarinya di atas meja, mengikuti serat kayu yang berwarna cokelat gelap. “Kau yakin soal itu?” sergahnya. Manusia yang baru memasuki masa labil sepertinya memang tidak bisa diyakinkan dalam sekali jalan.

Sekali lagi, tanggapan yang diberikan Sungra hanyalah anggukan. Lagipula pertanyaan Jongin sama sekali bukan jenis pertanyaan yang butuh jawaban lisan –bahkan sebenarnya sama sekali tidak perlu dijawab, mengingat Sungra sudah mengatakan bahwa pernyataannya adalah kemungkinan.

“Baiklah, baiklah, terima kasih~” Jongin berkata lagi, senyumnya mengembang senang. Tak sabar mewujudkan rencana besarnya, entah kapan. Yang ia tahu, ia masih perlu sedikit waktu untuk mematangkan segalanya.

—–

“Oh, jadi mereka itu benar-benar kembar ya?”

Akhir-akhir ini Sungra menjadi sangat sensitif dengan kata ‘kembar’ hingga ia hampir saja menjatuhkan sandwich jatah makan siangnya. “E, eh? Siapa?”

Raena mengarahkan tangannya ke arah Jongin dan Taemin yang, entahlah apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan. Berebut kentang goreng, sepertinya. “Ternyata memang mirip, haha. Hanya… beda di kelakuan, kan? Jongin lebih tenang, dan Taemin… sebaliknya. Tapi otaknya sama-sama pintar.” Raena kembali mengunyah yakiniku dalam wadah styrofoam di depannya, memastikan tiap daging yang tersaji benar-benar tergiling rata oleh gigi serinya. Makan daging merupakan salah satu guilty pleasure baginya –tak sepenuhnya membuatnya bersalah karena ia bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan dan punya banyak pantangan.

“Ah, ne… memang, kan?” Sungra sendiri tak mengerti kenapa ia harus terbata dan merasakan pipinya memanas saat itu. “… kenapa?”

“Bukan apa-apa…” Raena mengangkat bahu, menyeruput sedikit teh dingin dalam gelas yang sedang ia minum. Tidak mempedulikan perubahan mimik wajah Sungra yang begitu ekstrim, sekarang wajahnya semerah kepiting rebus.

Bagi Sungra, sulit melupakan bagaimana rasanya ketika jantungnya melompat-lompat mengikuti suatu ritme ketika ia berbicara dengan Jongin. Ketika ia berada di dekat laki-laki itu. Ketika laki-laki itu tersenyum dengan sangat manis di depannya, membuatnya diam-diam mendamba sesuatu yang lebih. Menginginkan sesuatu yang mungkin tak akan pernah tergapai rengkuhannya, seberapapun jauhnya ia merentangkan tangan untuk menggapai. Intuisinya yang mengatakan ini dan ia tak pernah salah.

“Pantas saja populer, mereka manis, sih.”

“A, apa?” Sungra kembali tergagap. Raena menoleh, menatapnya datar. “Kenapa kaget sekali? Kau tidak setuju kalau aku bilang mereka manis?” tanyanya sebelum kembali mengalihkan tatapan ke arah kedua orang itu. “Tapi kelakuan Taemin itu menjijikkan. Membuat risih saja. Bila disuruh memilih, maka aku akan memilih Jongin di antara mereka berdua. Bagaimana menurutmu?”

Hati Sungra mencelos. Mengempis perlahan lalu jatuh ke jurang perasaannya yang paling dalam dan gelap.

—–

Ketika Jongin meletakkan tas di bangku di depannya dan duduk, Sungra refleks mendongak untuk menatap ke arah laki-laki itu. Dan ketika Jongin berbalik menghadapnya, serta-merta ia mengubah tatapan inginnya menjadi tatapan biasa, lalu bertanya, “Jadi?”

“Jadi?” Jongin balik bertanya, kemudian, seolah teringat sesuatu yang sangat penting, ia merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan dua lembar tiket pertunjukan teater di akhir pekan nanti. “Apa dia suka teater? Kalau dia tidak suka, ini untukmu saja. Aku mendapatkannya gratis dari pamanku yang bekerja di gedung pertunjukan ini dan Taemin tak berminat, ia bilang semua tiketnya boleh kuambil. Jadi ya sudah.” katanya, menatap Sungra penuh tanya seolah jawaban gadis itu akan menentukan hidup dan matinya esok hari.

“Memangnya cerita apa?” rasa iri perlahan mengumpul dalam benak Sungra. Betapa beruntungnya Raena, jika saja gadis itu tahu. Jongin begitu khawatir hingga memperhatikan segala hal sampai ke detilnya demi menarik perhatian Raena, dan Sungra sungguh berharap Jongin melakukan itu padanya, bukan pada temannya.

“Ng… sebentar, aku lupa. Sepertinya remake sebuah cerita dongeng, sih. Bagaimana menurutmu?”

Pertanyaan rutin yang tak pernah berhasil Sungra jawab secara mulus. Sisi iblisnya menyuruhnya mengatakan bahwa Raena membenci cerita-cerita seperti itu, tapi sisi malaikatnya mengingatkan bahwa Raena adalah penggemar fanatik segala macam cerita dongeng dengan akhir happily-ever-after.

Dan ia mengangguk. Sisi malaikatnya berpesta, tapi hatinya tak senang.

Jongin tersenyum lega, menatap kedua lembar tiket di tangannya seolah mereka adalah tiket-tiket bypass menuju surga. “Sekarang, bagaimana caranya aku mengajaknya pergi? Maksudku… ia pasti akan menolak seperti ia menolak laki-laki lain jika aku hanya menghampirinya sambil menyodorkan tiket ini, kan?”

Jongin berkata benar. Sungra pun tahu bagaimana Raena terobsesi dengan cokelat, dan ia juga tahu bahwa Raena selalu menolak bila diberi hadiah cokelat oleh laki-laki tak dikenal. Besar kemungkinan tiket Jongin akan berakhir di tempat sampah jika ia langsung mengkonfrontasi dengan frontal, tanpa basa-basi. “Berkenalan dengannya. Ajak dia mengobrol soal topik-topik yang ia sukai. Ini hari…” Sungra berpura-pura mengecek ponselnya, padahal ia hanya sedang menghindari tatapan mata Jongin yang memohon seperti seekor anjing kecil. “… Senin, dan tiketmu untuk hari Sabtu. Masih ada waktu.”

“Dan kau akan tetap menolongku, kan?”

Sendi-sendi di leher Sungra terasa berkarat ketika ia gerakkan untuk mengangguk. Senyum Jongin menohok ulu hatinya keras. Ngilu. Terasa seperti bisa ular yang perlahan meresap dan menggerogoti setiap sel tubuhnya, mematikannya seiring waktu yang berlalu.

to be continued.

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #8 | Killing Me Softly”

  1. Ah sumpah ah, nyesek banget kalo jadi Sungra. Sungra-ya sabar yaaaa huhu. Hrrrrr gemes liat Jongin, sadar gitu lhoooo perubahan mimik mukanya Sungra -_-
    Waaa, Raena mantep ya. Main buang aja kalo ga suka hahahaha….
    Okelaaaah. Lanjutannya ditunggu yooow ^o^

    1. karakter sungra sudah ditakdirkan untuk jadi forever-ngenes di sini soalnya 😄
      maklum, jongin dibutakan raena(?) hahaha. yang lain juga sih :3
      ya kan tegas gitu hehe :B nah, kesannya dia kayak cewek di machine(?) itu kaaan~
      okeyoooow~ makasiiih ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s