[Double-Trouble] #9 | The Stepping Stone

Title: The Stepping Stone
Genre: romance, friendship~
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OC(s)
Length: 924 words

Posisi Jongin mirip tentara tak berpengalaman yang baru pertama kali diterjunkan di medan perang.

“Raena suka musik. Musik apapun. Dan jangan ajak dia bicara soal buku kalau tidak mau membuatnya menguap lebar.”

Bekal Jongin hanya berupa sedikit hint soal hal-hal yang disukai Raena. Bahkan, menurut Jongin, itu sangat sedikit. Ketika ia meminta Sungra memberi tahunya lebih banyak lagi, gadis itu langsung menggeleng. Tidak seru kalau Jongin langsung mendapat semuanya tanpa berusaha, katanya, karena bagian mencari tahu itu yang paling menyenangkan dalam proses mendekati seseorang.

Sedikit banyak merupakan kode dari apa yang selama ini dilakukan Sungra terhadap Jongin, hanya saja laki-laki itu sama sekali tak menyadarinya.

Di hari yang lain, setelah lewat jam pulang sekolah, Jongin menangkap sosok Raena di pintu kelasnya. Mencari Sungra, tentu saja. Kemudian Jongin baru sadar bahwa ia sudah melewatkan dua hari dengan sia-sia, hari ini sudah hari Kamis. Besok hari terakhir masuk sekolah dan berarti ia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

“Mencari… Sungra?” Jongin bertanya, terbata. Sedikit bersyukur karena kelas sedang sepi. Raena mengangguk, menatap Jongin curiga seolah laki-laki itu sama seperti yang lain, yang hobi mencari kesempatan untuk mendekatinya. “Ne. Terima kasih. Maaf mengganggu.”

Dan sebelum Raena sempat melangkah lebih jauh dari mulut pintu, Jongin membuka mulutnya demi menahan langkah gadis itu, “Dia sedang ke toilet. Tidak mau menunggunya dulu di sini?”

Jongin hampir saja menampar mulutnya karena sudah bicara seperti itu. “A, aku tidak akan mengganggumu kalau kau mau menunggu di sini. Duduk saja di kursi dekat pintu, pokoknya buat dirimu senyaman mungkin.” kalimatnya makin tak berpola dan bila mental-slapping benar-benar bisa dilakukan, Jongin pasti sudah melakukannya dari tadi.

Laki-laki itu segera menarik kata-katanya mengenai menampar dirinya sendiri setelah melihat senyum kecil muncul di wajah Raena sebelum gadis itu duduk di bangku yang paling dekat dengan pintu kelas.

“Kim Raena. Kau?”

—–

Sungra mengurungkan langkahnya masuk ke kelas ketika mendengar dua suara familiar bicara bersahutan dari dalam. Jongin. Raena. Mengobrol berdua di kelas. Dan Sungra tak suka itu.

Ia berhenti, menyembunyikan badan di balik loker yang ditempatkan di sebelah pintu masuk dan mendengarkan. Ia bisa mendengar dengan jelas gelak tawa Raena ketika Jongin bercerita soal kehidupannya dengan seorang saudara kembar atau soal kesialan-kesialan yang ia alami ketika orang salah mengenalinya dengan Taemin. Jongin pun sama sekali tak terdengar canggung dalam bercerita, Sungra curiga laki-laki itu berbohong padanya ketika mengaku ia tak pandai bicara dengan orang yang belum akrab dengannya.

Atau mungkin, ini adalah salah satu adaptasi modern dari roman-roman lama di mana ketika dua orang yang memang berjodoh akhirnya bertemu, maka mereka akan langsung cocok dan terkesan seperti sudah saling mengenal sejak lama, meski baru lima menit yang lalu mereka menyebutkan nama masing-masing. Segala hal yang ada dalam diri mereka seolah memang saling melengkapi satu sama lain, seperti kunci dengan lubang kunci dan bolpoin dengan tutupnya.

Kenyataan terlalu menyakitkan untuk dihadapi sementara Sungra hanya mampu menahan kecamuk benaknya dalam hati saja. Selalu begitu. Sungra tak pernah merasa nyaman dalam membagi isi pikirannya dengan orang lain.

“Sungra lama sekali, kau yakin dia sedang ke kamar mandi?”

“Sepertinya begitu. Kenapa kau tidak mencoba meneleponnya?”

Sungra buru-buru berdiri, berusaha bersikap sewajar mungkin sambil kembali melangkah menuju pintu. Tidak lucu kalau ketika ponselnya berbunyi dan Raena mendengar ia kemudian terpergok sedang ‘bersembunyi’ di samping loker. Sama sekali tidak lucu, desisnya dalam hati sambil mendorong daun pintu hingga terbuka, pura-pura terkejut ketika melihat Raena ada di dalam.

“Eh? Kau kenapa tidak memberitahuku kalau kau berada di sini? Aku mencarimu ke kelas, babo!” Sungra mengulurkan tangannya untuk menggelitik pinggang Raena dari belakang, membuat gadis itu tertawa lalu refleks memukul punggung tangan Sungra. “A! A! Berhenti! Sungraaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” teriak gadis itu. Jongin hanya bisa menatap takjub pemandangan di depannya, soal bagaimana dua orang bisa menunjukkan sifat yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Sungra membenarkan sikapnya setelah memberi Raena jitakan di puncak kepala. “Kau mau pulang sekarang?” tanyanya kemudian, merujuk pada pesan singkat dari ibunya yang menyuruhnya segera pulang. “Sudah sore. Keburu tidak ada bus.”

Ne~ pulang sekarang~ a, aku mau bertemu ajumma, boleh?”

Jongin mengunci mulutnya sambil memperhatikan kedua gadis yang tengah berbicara. Memperhatikan Raena, lebih tepatnya. Kemudian tiba-tiba ia teringat sesuatu, tujuan awalnya mengajak Raena bicara, modal untuk masa depannya. Berlebihan, tapi itu yang dirasakan Jongin sekarang dan ia tahu ia akan sangat menyesal jika menyia-nyiakan kesempatannya.

“A! Raena-ssi!” Jongin memanggil Raena dengan suara beratnya, membuat Raena segera menoleh dan menatap laki-laki itu kebingungan. “Ne?”

“Itu…” Jongin tergesa meraih jaketnya yang teronggok di atas meja, mengambil dua lembaran tipis dari kantung jaket. Sungra menahan napas, berlagak sibuk dengan ponselnya meski sebenarnya ia hanya sedang mencari pengalihan perhatian agar tak melihat adegan paling menyakitkan baginya yang sebentar lagi akan terjadi.

Jongin menghela napas, menatap Raena canggung. Perlahan rona merah mulai menyelubungi pipinya. “Kau… suka teater?” tanyanya kemudian. “Aku… punya dua tiket gratis, promosi, sih, hehehe. Kalau kau tidak keberatan… mau pergi denganku akhir pekan ini?”

Sisi jahat paling gelap Sungra berharap Raena menolak Jongin seperti yang biasa ia lakukan pada namja-namja lain, tapi sisi malaikat paling suci darinya tak tega bila harus melihat Jongin patah hati. Dan, ah, betapa sulit rasanya memiliki dua sisi yang saling menjatuhkan, timbul-tenggelam.

Ia melirik Raena yang tampak sedang berpikir. Tidak. Sejahat apapun dia, dia tak akan bisa bersikap jahat pada Raena. Jongin mungkin bisa masuk hitungan, tapi Sungra masih bisa berlatih membenci laki-laki itu, jika ia mau. Sementara tidak membenci maupun iri pada Raena adalah harga mati baginya, tak bisa ditawar lagi.

“Hanya berdua?” Raena mengerutkan kening. “Ah, kau, kan, hanya punya dua tiket. Cerita apa? Kalau menarik, aku mau~”

Sebelum terjadi keputusan, Sungra sudah undur diri lebih dulu dari ruangan.

to be continued.

Advertisements

4 thoughts on “[Double-Trouble] #9 | The Stepping Stone”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s