[Double-Trouble] #10 | Enchantée

Title: Enchantée
Genre: friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin (SHINee), Kim Jongin (EXO-K)
Length: 1844 words

“Jongin itu seperti apa?”

Sungra mengangkat tatapannya dari lembaran buku yang ada di pangkuannya. Pertanyaan Raena barusan segera saja menyalakan alarm bahaya dalam otaknya. “Y, ya? Kau tanya apa tadi?”

Raena menatap tiket yang tergenggam di tangannya. “Jongin. Apa dia baik? Maksudku, apa dia… seperti yang lain? Yah, kalau menurut pendapatku, dia bisa jadi teman yang baik…”

Teman. Hanya teman. Te-man, ulang Sungra dalam hati, berkali-kali sampai ia merasa dungu dan kata ‘teman’ itu hanya berupa susunan huruf tak bermakna. Tapi, lagi-lagi, ada bagian hitam dalam hatinya yang kembali menusuk keras. Perasaan orang siapa yang tahu? Jangan naif begitu. Waktu, toh, bisa mengubah segalanya.

Sekali lagi ia melirik Raena yang tengah membaca majalah dengan tenang. Ia bersyukur Raena tak diberkahi kemampuan membaca pikiran karena entah akan se-awkward apa keadaannya bila Raena tahu isi pikiran Sungra. Lebih parah lagi bila gadis itu bersikap sok tahu dan malah berniat mencomblangkan Sungra dengan Jongin –mimpi buruk baginya karena Jongin pasti akan berbalik membencinya sebab ia jadi tidak bisa mendekati Raena. Oke, tamatlah riwayatnya.

“Mungkin aku perlu bersiap sekarang, hehe. Titip ini, ne?” Raena meletakkan ponsel dan tiket teater keparat itu di depan Sungra yang hanya diam.

Begitu pintu kamar mandi menutup, Sungra melirik ke arah kertas tipis tadi sebal. Betapa inginnya Sungra mengambil tiket itu dan merobeknya menjadi serpihan kecil yang tak teridentifikasi lagi.

—–

Raena mematut diri di depan kaca, “Bagaimana menurutmu?”

”Aku rasa kau salah memilih orang untuk kautanyai soal pakaian.” Sungra berguling untuk melihat seperti apa rupa Raena sekarang. Ia tahu Raena tidak pernah tampak tidak cantik, tak peduli apa yang gadis itu kenakan –bahkan ia yakin Raena akan tetap kelihatan menarik meski memakai baju sejelek apapun–, dan rasanya ia selalu bisa menemukan sisi-sisi baru di tiap penampilan Raena. Intinya, gadis itu tak pernah tampil monoton, entah bagaimana caranya.

“Sungraaaaaaaaaaa? Kau masih di bumi, kan?”  suara Raena memecah konsentrasi Sungra sementara gadis itu masih sibuk menarik-narik ujung terusannya yang menjuntai hingga beberapa sentimeter di bawah lutut. “Apa… tidak terlalu… ck, apa istilahnya? A, manis? Tidak terlalu manis, kan?”

Sungra menggeleng, menunduk ketika ia mulai membayangkan Jongin sedang berdiri di sebelah Raena, terlihat sangat serasi satu sama lain. Sebanyak apapun ia menyanggah bahwa mereka tak serasi, kenyataan tetap saja berkata lain.

Lagipula, tak ada yang bisa lari dari kenyataan yang menghadang di depan mata.

Sentuhan keras Raena di pundak Sungra membuatnya berjengit sekaligus memecah berantakan lamunannya sekaligus hampir menendang Raena keras. “Y, ya! Kau mengagetkanku!”

“Kau, sih, aku tanya malah melamun. Bagaimana penampilan—“

“Bagus. Kau manis. Tidak berlebihan. Dan…” Sungra menggigit bibirnya. Jongin pasti menyukai penampilanmu. Ia masih ingat Jongin pernah bercerita padanya soal bagaimana ia suka melihat gadis yang memakai baju terusan, sesuatu yang sangat jarang Sungra pakai dalam hidupnya sekaligus menjadi kontranya dengan Raena.

Raena menatap jam di layar ponselnya. “Sebentar lagi pukul tujuh. Kau yakin akan pulang sekarang? Tidak mau ikut denganku?”

“Tidak enak pada Jongin.” tolak Sungra, perlahan mulai mengemasi barang-barangnya yang berserakan di atas tempat tidur Raena. “Lagipula pukul tujuh Jongin akan menjemputmu, kan? Untuk apa aku tinggal di sini kalau kau akan pergi?”

“Kau tahu, kalau kau tidak suka aku pergi dengan Jongin… aku bisa membatalkan—“

“Jangan! Jangan batalkan!” Sungra hampir saja berteriak tepat di depan wajah Raena bila tidak ingat soal keadaannya sekarang. Jangan sampai Raena curiga. “Aku tidak apa-apa, kok~ lagipula kasihan Jongin kalau kau membatalkan janjimu dengannya, ehehe, hehe.”

“Kau yakin?” Raena mengusap tengkuknya, memasang raut kecewa pada Sungra yang tengah berusaha membuat dirinya kebal pada ‘ancaman’ semacam itu.

“Aku pulang dulu. Nanti jangan pulang terlalu larut, ara?” Sungra berpesan sambil memakai sepatunya, kemudian berdiri dan melambai sekilas ke Raena sebelum melangkah pergi. Masih terdengar olehnya teriakan Raena bahkan ketika ia sudah melewati dua rumah. “Hati-hati di jalan! Setelah pulang nanti aku akan langsung meneleponmu!”

Jongin berhutang banyak padanya hari ini.

—–

Kaus? Jangan, terlalu santai. Kemeja? Jas?

Jongin memutar otaknya berulang-kali. Berusaha me-recall pembicaraan gadis-gadis di kelasnya soal betapa mereka menyukai laki-laki yang berdandan dengan gaya tertentu, tapi nihil. Tidak ada yang berhasil masuk ke otaknya selain ucapan Sehun bahwa kemeja akan cocok untuk segala suasana, bergantung pada cara pemakaiannya.

Kenapa tidak dari tadi?

Ia mencoba mereka-reka seperti apa sebaiknya ia mengenakan kemeja. Dengan kaus di dalamnya, lalu membiarkan kancingnya terbuka? Terlalu kasual. Dimasukkan ke celana, ditambah ikat pinggang? Nanti bisa-bisa ia disangka lebih tua dari umur sebenarnya. Maka, Jongin memutuskan bahwa paduan yang  paling masuk akal adalah memakai kemeja yang dikeluarkan, lengkap dengan celana jeans plus sepatu yang… sedikit formal. Dia tak paham definisinya dan tak tahu pasti bahwa ia punya sepatu berjenis itu atau tidak, rasanya Taemin tak akan keberatan jika satu dari sekian pasang sepatunya menghilang dari peredaran untuk sementara.

Laki-laki itu mematut diri di depan cermin. Tidak ingin terlihat aneh di depan Raena, tentu saja. Kesan pertama adalah hal penting yang harus diusahakan semaksimal mungkin, begitu pula dengan kesan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Prinsip yang tak bisa terelakkan bagi seorang Kim Jongin yang diam-diam mengidap penyakit perfeksionis skala akut.

Ia mengambil ponselnya yang sempat terlupakan di atas meja, bermaksud menghubungi Raena untuk mengingatkannya supaya bersiap. “Kim… Kim… Kim Rae… a! Aku lupa meminta nomornya! Dasar bodoh!” Jongin mengumpat keras sambil mengacak rambutnya hingga berantakan. Ia bangkit berdiri, berjalan keluar kamar sambil menggerutu, tak lupa menyambar kunci mobil sebelum memakai sepatu. Sempat dilihatnya pesan yang tertempel di pintu kulkas, Taemin, berkata bahwa ada acara malam ini. Entah itu hang-out dengan teman-temannya atau kencan yang lain, Jongin tak mau tahu. Ia mengunci pintu dan berjalan-setengah-berlari menuju lift, perhatiannya terkonsentrasi pada apa yang akan ia lakukan nanti. Segalanya harus berjalan sempurna, harus, karena ini mungkin adalah kesempatan pertama sekaligus terakhir baginya.

—–

Jongin berulangkali mengecek ponsel, menyamakan alamat yang disebutkan Raena padanya dengan identitas rumah yang baru saja ia capai. Sama, berarti memang benar ini rumahnya.

Ia mematikan mesin mobil, sempat ragu sejenak untuk turun meski kemudian tetap saja ia lakukan. Langkahnya membawanya ke depan pintu rumah Raena tanpa ia sadari, tahu-tahu saja ia sudah berdiri di depan daun pintu yang menutup rapat. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh kurang sedikit, ia tidak terlambat.

Ne, sebentar!” terdengar suara Raena dari dalam rumah begitu Jongin menekan bel yang menempel di sebelah pintu, disusul suara langkah yang berisik dan besi-besi kunci pintu yang saling berbenturan tanda Raena sedang membukanya. Tak sampai semenit kemudian, gadis itu memunculkan kepalanya dari balik pintu, “Maaf membuat Anda me– a, Jongin? Kau sudah datang? Kenapa tidak menelepon?”

“A, aku tidak tahu nomor teleponmu, hehe. Maaf.” Jongin menggaruk kepalanya pelan. “Kau… sudah siap? Berangkat sekarang?”

“Ng. Tapi tasku masih di dalam, tidak apa-apa kalau kau menunggu sebentar?” dan dengan sebuah anggukan dari Jongin, Raena segera melesat ke kamarnya, meninggalkan Jongin yang masih berdiri diam di depan pintu rumahnya. Ia melongok sedikit ke dalam, melihat interior rumah yang cukup luas itu… dan merasa aneh, seperti ada yang mengganjal. Tempat ini… terlalu sepi. Mungkin lebih tepat dibilang terlalu besar untuk gadis itu tinggal sendirian.

“Aku sudah siap!” suara Raena membuyarkan benak Jongin dan refleks laki-laki itu menggelengkan kepala untuk mengembalikan pikirannya ke alam sadar. “Ah, n… ne. Sekarang?” tanya Jongin ketika menunggu Raena mengunci pintu rumahnya. “Kau tidak berpamitan dengan orang tuamu?”

Raena terdiam sejenak; tangannya membeku di atas pegangan pintu untuk beberapa detik sebelum nyawanya seolah kembali dalam raganya dan ia kembali bergerak, meski perlahan. “Aku… sendirian di rumah.” gumamnya nyaris tak terdengar. “Jadi… tidak perlu pamit, hehe. Kaja!” langkah-langkah ringan Raena mendului Jongin menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya. Jongin masih terdiam di tempatnya, hanya bisa menatap Raena dari belakang, menatap bahu gadis itu yang kecil bila dibandingkan dengannya –ah, tunggu, dia, kan, laki-laki. Tapi lebih dari itu, sepertinya Raena menanggung beban yang terlalu berat untuk bahu kecilnya… entahlah, mungkin hanya perasaannya saja.

“Jongin-a! Kita jadi pergi, kan?”

Senyum Raena saat itu sedikit banyak dipaksa. Jongin tahu pasti.

—–

Perjalanan pulang terasa sepi, Jongin fokus pada jalanan di depannya dan pada bagaimana sebaiknya ia bersikap sekarang agar tak terlihat memalukan di hadapan Raena, sementara Raena sendiri hanya diam sambil sesekali menguap jika kantuknya telah tak tertahankan lagi. Meski Jongin selalu menyuruhnya tidur dan berjanji akan membangunkannya begitu sampai di rumah, Raena tetap bergeming dan memaksakan matanya agar terbuka lebar. Tidak enak bila ia tidur sementara Jongin lelah menyetir.

Waktu berjalan cukup cepat –setidaknya untuk perjalanan ke restoran terdekat, makan malam, lalu perjalanan dua puluh hingga tiga puluh menit dari gedung teater sampai rumah Raena.

Ia baru tahu bahwa Raena bisa tertawa lepas lalu menjadi berkaca-kaca hanya dalam hitungan menit, mengikuti pergantian adegan. Raena sangat hobi memulai pembicaraan dan hampir tidak bisa diam, membuat Jongin mulai curiga gadis itu diam-diam mengidap ADHD atau penyakit hiperaktivitas semacam itu. Di sisi lain, Raena akan jadi sangat serius bila membicarakan sesuatu yang ia sukai, entah itu hobinya, satu-satunya buku yang ia suka, film favoritnya akhir-akhir ini, maupun soal selera musiknya. Entah bagaimana caranya, dalam satu malam ini Jongin langsung merasa bahwa ia dan Raena telah mengenal sejak lama, bukannya baru dari dua hari yang lalu. Sensasi yang sama seperti yang timbul saat ia pertama kali berkenalan dengan gadis itu.

Kondisi rumah Raena masih sama ketika mereka sampai; lengang dan gelap. Air muka Raena sempat berubah sejenak ketika Jongin menghentikan mobilnya dan Jongin tahu persis soal hal itu. Apa karena ia harus sendirian lagi di rumah? Memangnya orang tuanya masih belum pulang juga?

“Kau sendirian? Sampai nanti… eh, besok pagi?” tanya Jongin pelan. Raena menoleh, tersenyum kecil dan mengangguk. Lagi-lagi senyum palsu. “Sudah biasa, kok.”

Tapi jelas itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa disebut biasa.

”Kau tidak kesepian?”

“Tidak, aku sudah biasa.” Raena kembali melontarkan jawaban yang sama sambil membereskan barang-barangnya, mulai bersiap turun sementara Jongin mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang sudah mengumpul di pangkal lidahnya, sulit sekali. “Kalau begitu, boleh aku meneleponmu… nanti?”

Kali ini Raena terdiam sebentar sebelum mengiyakan, “Tentu saja boleh. Setelah kau sampai rumah, jangan lupa kabari aku, ya?” pintanya sebelum membuka pintu mobil, tak memperhatikan Jongin yang segera terkena serangan frost-bite setelah Raena mengiyakan tawarannya.

“Kau teman yang baik, Jongin-a~” Raena tersenyum lebar pada Jongin yang masih membeku di belakang roda kemudi. “Terima kasih untuk hari ini, hehe. Ng… kau mau berteman denganku, kan?”

“Dengan senang hati.” Jongin ikut menarik ujung-ujung bibirnya ke atas, “Dan terima kasih juga sudah mau pergi denganku. Lain kali?”

Raena mengangguk, melepas sabuk pengaman lalu melangkah turun dari mobil. “Kabari aku kalau ada pertunjukan lain atau apapun, oke?” dan dengan satu lambaian dan ucapan salam, Raena melangkah ke pintu rumahnya dan segera menghilang begitu daun pintu kayu itu menutup, tanpa menyadari Jongin yang sedang tersenyum lebar seperti seorang idiot. Senang karena ia berhasil melompati satu pembatas antara dirinya dengan Raena dan senang karena akan jadi lebih mudah baginya untuk mengajak Raena pergi di lain hari. Bukankah gadis itu malah memintanya mengabari, tadi?

Laki-laki itu menyalakan kembali radio di dashboard mobilnya, perlahan menjalankan kembali kendaraannya seiring suara mendayu yang mengalun pelan dari sebuah lagu berirama ballad yang diputar oleh salah satu stasiun radio. Pas dengan perasaan Jongin saat ini. Tiga jam yang baru saja berlalu terasa bagaikan mimpi baginya. Mimpi yang membuatnya tidak ingin bangun untuk selamanya, bila ia bisa.

to be continued

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #10 | Enchantée”

  1. Ketika sisi lain Kim Raena diungkapkan._. Hm, menjadi seorang Lee Sungra di fic ini ituuuuuuuuuuuu perasaannya antara ‘terpaksa sakit’ sama ‘nyakit’ gitu ya.-. Eniwei, Rii masih ngidam ke korday lho~ kalo mau nemenin… Boleh kok 😉

  2. Masih ngga bisa bayangin perasaan Sungra huhu, daaaaan penasaran sama Raena.. Apa dia broken home atau apaaa. Sedih bgt abisaaan.
    Huaa.. Next chapter ditungguuu. Semangat faa~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s